LOGINRumah terasa terlalu besar saat Tama pergi.
Tama berangkat ke kantor pagi tadi tanpa banyak kata.Jasnya rapi, langkahnya mantap.Ia tak bisa berpura-pura lagi.
Tidak ada sandiwara tubuh lemah. Mulai hari ini, Adikara kembali dipimpin secara terbuka.“Aku akan pulang sebelum malam,” katanya singkat sebelum pergi.
Aku mengangguk. Hanya itu.
Setelah deru mobilnya menghilang dari halaman, aku berdiri beberapa saat di ruang tenga
Sudah seminggu sejak aku bertemu dengan Miranda.Pagi ini aku masih terbangun di atas ranjang yang sedikit berdecit setiap kali aku menggeser tubuh. Langit-langit kamar tampak kusam, dengan satu retakan tipis yang tak pernah kuperhatikan sebelumnya. Sepertinya Tante Ratna belum bangun. Tak terdengar suara dari dapur. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada dentingan alat makan.Hanya suara burung dari halaman depan—ringan, bebas, seolah dunia berjalan seperti biasa.Aku menatap cahaya pagi yang menembus sela tirai jendela. Cahaya itu jatuh miring ke lantai, membentuk garis panjang yang terasa asing. Untuk sesaat, tanpa sengaja, wajah yang biasanya pertama kali muncul di pikiranku setiap pagi melintas begitu saja.Tama.Tidak, aku tak memikirkannya karena rindu—setidaknya bukan itu yang ingin kuakui.Tapi di sini tak ada Tama.Tak ada ucapan selamat pagi darinya.Tak ada nada datar yang menyuruhku sarapan.Dan sampai saat ini tak ada… satu pun pesan darinya.Aku tetap berbaring beberapa
“Tak kusangka kau menghubungiku sepagi ini.”Miranda menarik kursi di hadapanku, duduk tanpa ragu. Tatapannya singgah sebentar di wajahku, lalu berpindah ke jam di pergelangan tangannya. “Bahkan memintaku bertemu di tempat seperti ini.”Aku mengangguk kecil.Kuhela napas panjang, menahan rasa cemas yang tiba-tiba muncul. “Terima kasih sudah datang,” jawabku. Aku berusaha terdengar tenang meski jantungku berdetak cepat.Miranda menyandarkan punggungnya.“Kudengar kau kabur dari rumah,” katanya datar.“Sudah kubilang, tau takkan bertahan lama, Anya.”Aku tidak membantah. Tidak ada gunanya.“Apa yang ingin kau bicarakan?” lanjutnya.“Aku tak punya banyak waktu.”Aku menarik napas pelan. Rasanya seperti berdiri di tepi sesuatu yang dalam—dan kali ini, aku tidak ingin mundur.“Sejak awal…” Suaraku tertahan sesaat. “Apakah aku dipilih karena aku mudah?”Miranda tidak terkejut. Tidak berpikir. Tidak mengernyit.“Jika kau bukan variabel termudah,” jawabnya cepat, “kau tidak akan berada di s
Pagi datang lagi.Cahaya matahari masuk dari sela jendela kayu, menyentuh lantai yang sudah memudar warnanya. Udara masih dingin, sisa dari hujan semalam. Aku duduk di tepi ranjang lama yang kasurnya sedikit berdecit setiap kali aku bergerak. Tidak empuk. Tidak sempurna. Di rumah ini, pagi dimulai lebih sederhana.Tidak ada suara langkah penjaga.Juga, tidak ada Tama.Perasaan itu menakutkan.Namun anehnya, melegakan.Aku bangkit perlahan, merapikan selimut seadanya. Cermin kecil di sudut kamar memantulkan bayanganku yang tampak berbeda. Wajahku masih sama, tapi sorot mataku tak seperti biasanya.Kali ini, aku tak sedang bersiap menjadi istri siapa pun. Tidak sedang mengingat peran apa yang harus kupakai hari ini.Tidak peduli pada skenario yang berjalan.Aku melangkah ke dapur.Tante Ratna sudah di sana, menuang air panas ke dalam teko.“Kau sudah bangun,” katanya, tanpa nada tanya.“Iya.”Ia mengangguk, lalu berjalan ke belakang rumah. Tidak ada basa-basi. Tidak ada pertanya
“Katakan padaku, Anya. Apa yang harus kulakukan… agar kau percaya padaku?”Aku tak menjawab. Tak menoleh. Jantungku berdetak cepat, tapi aku mencoba menahannya.Kata-kata itu menggantung di udara—berat, panas.Tama masih menatapku. Tatapan yang tak pernah kulihat sebelumnya– kosong, ada tekanan, tapi juga keraguan. Kami hanya terdiam. Langit sudah semakin gelap, udara semakin dingin.Bunyi katak bersahutan, mengisi ruang hampa diantara kami.“Jujur,” kataku akhirnya.“Kau hanya perlu jujur padaku, dan kau sudah janji.”Tama masih diam. Ia menunduk perlahan, memalingkan pandangan. “Bahkan setelah apa yang terjadi, kau masih tak mau jujur?” “Apa sesulit itu… untuk jujur padaku?” suaraku bergetar,“Atau… apa yang harus kulakukan agar kau mau jujur padaku, Tama?”Ia masih diam. Tapi kini diamnya berbeda—bukan seperti dinding yang menahan, melainkan pertimbangan yang perlahan membentuk bayangan keputusan.Aku menahan napas. Setiap detik terasa seperti seribu pertanyaan tanpa jawab
Suara gesekan ban mobil dengan aspal basah terdengar dari ujung jalan. Lampu sorot yang tajam membelah kegelapan, menyapu pagar besi yang berkarat, lalu berhenti tepat di depan gerbang. Cahayanya menyilaukan, membuat bayangan pagar jatuh memanjang di atas ubin teras, menyerupai jeruji besi.Mesin mobil mati. Hening sejenak.Pintu mobil dibanting. Langkah kaki itu tidak ragu, tidak melambat. Sepatu kulitnya menghantam genangan air di halaman dengan irama yang menuntut.Tama berdiri di ba
Semilir angin malam terasa dingin.Butiran air hujan turun perlahan, suara katak bersautan.Aku duduk di kursi tua di teras rumah, membiarkan ujung kakiku terkena cipratan air hujan.Di rumah Tama, semuanya berlapis marmer yang mahal dan dingin. Di sini, semuanya terasa nyata dan jujur."Minum ini dulu," Tante Ratna meletakkan secangkir cokelat panas di meja kayu kecil.Aku tidak langsung menyentuhnya. Mataku masih tertuju pada pagar besi yang catnya mulai mengelupas.“Tante tak akan bertanya?” tanyaku.Tante Ratna duduk di sampingku.“Tentang kau yang datang dengan basah kuyup?” ia menggenggam tangaku.Aku terdiam."Kenapa Ayah dulu membawaku, Tante? Apa Tante tahu alasannya?" tanyaku lagi, tanpa menjawab pertanyaan sebelumnya. "Tuan Ardian melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain, Anya. Dia selalu bilang, kau punya ketulusan yang tidak bisa dibeli dengan saham mana pun. Dia ingin ketulusan itu tetap ada di keluarga Adikara."Aku meringis.“Ternyata memang sejak awal, aku hany







