Beranda / Romansa / Menikahi Pewaris Dingin / Bab 6: Makan Malam Pertama

Share

Bab 6: Makan Malam Pertama

Penulis: SolaceReina
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-15 16:49:27

Tiga hari berlalu seperti kabut tebal yang tidak pernah hilang. Clara menghabiskan waktunya membaca ulang kontrak itu berkali-kali, mencari celah yang mungkin bisa dia manfaatkan. Tapi tidak ada. Kontrak itu disusun dengan sangat ketat, seolah Alex sudah memperhitungkan setiap kemungkinan Clara akan memberontak.

Hasil tes kesehatannya keluar di hari ketiga. Sebuah amplop cokelat tebal diantar langsung ke apartemennya oleh kurir. Clara membukanya dengan tangan gemetar.

Semua hasil normal. Tidak ada penyakit. Tidak ada masalah kesehatan.

Clara seharusnya lega. Tapi yang dia rasakan hanya kekosongan.

Dia memang bersih. Layak. Tidak cacat.

Seperti barang dagangan yang lolos quality control.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari nomor yang sama. Alex.

*"Driver akan menjemput Anda pukul 18:00. Kenakan pakaian formal. Jangan terlambat."*

Tidak ada sapaan. Tidak ada pertanyaan bagaimana kabarnya. Hanya instruksi.

Clara menatap jam dinding. Pukul tiga sore. Dia punya tiga jam untuk bersiap.

Tapi bersiap untuk apa? Bertemu keluarga Alex? Berpura-pura mencintai pria yang memperlakukannya seperti kontrak bisnis yang bisa dibatalkan kapan saja?

Clara bangkit dari sofa. Kakinya terasa berat saat berjalan ke kamar. Dia membuka lemari kecilnya, menatap deretan pakaian yang terbatas.

Tidak ada yang cocok untuk makan malam dengan keluarga konglomerat.

Akhirnya Clara memilih dress hitam sederhana yang dulu dia pakai untuk acara wisuda. Potongannya simpel, tidak terlalu mewah tapi tidak murahan. Dia menyetrika dress itu dengan hati-hati, memastikan tidak ada kerutan.

Pukul lima sore, Clara mulai bersiap. Mandi. Mengeringkan rambut. Merias wajah dengan makeup tipis yang dia punya. Dia tidak pandai berdandan, tapi setidaknya dia terlihat rapi.

Clara berdiri di depan cermin kamar mandi yang sudah buram di beberapa bagian. Menatap pantulannya.

Wanita di cermin itu terlihat lelah. Matanya tidak bersinar. Senyumnya dipaksakan.

Tapi Clara tidak punya pilihan selain berpura-pura baik-baik saja.

Tepat pukul enam sore, ponselnya berbunyi. Pesan singkat.

*"Driver sudah di depan."*

Clara mengambil tas kecilnya dan keluar dari apartemen. Di parkiran, sebuah mobil sedan hitam mengilap menunggu. Sopir berseragam rapi membukakan pintu belakang untuknya.

"Selamat malam, Nona Wijaya."

"Selamat malam," jawab Clara pelan sambil masuk ke dalam mobil.

Interior mobil itu bersih dan berbau pewangi mahal. Kursi kulit yang empuk. AC yang dingin. Sangat berbeda dengan bus yang biasa Clara naiki.

Perjalanan memakan waktu hampir empat puluh menit karena jalanan macet. Clara duduk diam, menatap keluar jendela. Gedung-gedung tinggi. Lampu-lampu kota yang mulai menyala. Orang-orang pulang kerja dengan wajah lelah.

Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah di kawasan Senayan. Gedung klasik dengan lampu-lampu kuning hangat. Valet parking yang ramai.

Sopir membukakan pintu untuk Clara. "Tuan Alex sudah menunggu di dalam, Nona."

Clara turun dari mobil dengan kaki yang sedikit gemetar. Dia merapikan dressnya, menarik napas dalam.

Ini bukan hanya makan malam. Ini ujian.

Clara masuk ke dalam restoran. Suasananya tenang dan elegan. Musik klasik lembut. Meja-meja yang berjauhan untuk privasi. Pelayan berseragam rapi hilir mudik dengan nampan berisi makanan yang terlihat mahal.

Seorang pelayan menghampirinya. "Anda Nona Clara Wijaya?"

"Ya."

"Silakan ikut saya."

Clara mengikuti pelayan itu ke ruang VIP di lantai dua. Pintu kayu besar dibukakan untuknya.

Di dalam ruangan itu, Clara melihat Alex duduk di sofa dengan postur tubuh yang tegak. Di sampingnya duduk seorang pria tua dengan rambut putih rapi. Wajahnya keras tapi matanya tajam, menilai.

Kakek Alex. Tuan Besar Adam Anggara.

Alex menoleh saat Clara masuk. Ekspresinya datar seperti biasa. Tidak ada senyum. Tidak ada sambutan hangat.

Tapi dia berdiri. Itu saja sudah mengejutkan Clara.

"Clara," kata Alex dengan suara yang sedikit lebih lembut dari biasanya. Tapi Clara tahu itu hanya akting. "Akhirnya kau datang."

Clara memaksa senyum di wajahnya. "Maaf kalau agak lama. Jalanan macet."

Alex melangkah mendekat. Terlalu dekat untuk ukuran pria yang melarang kontak fisik dalam jarak lima puluh sentimeter. Dia meraih tangan Clara.

Tangannya dingin. Sentuhan yang kaku dan tidak nyaman.

Tapi Alex menarik Clara mendekat, seolah mereka memang pasangan yang akrab.

"Kakek, kenalkan. Ini Clara. Tunanganku."

Tuan Adam berdiri, tersenyum lebar. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata. "Akhirnya Alex memperkenalkan calon istrinya. Senang bertemu denganmu, Clara."

Clara mengulurkan tangan. Tuan Adam menjabatnya dengan erat. Terlalu erat. Seperti sedang mengukur kekuatannya.

"Senang bertemu dengan Anda juga, Tuan Adam."

"Panggil saja Kakek." Tuan Adam melepaskan jabatan tangannya. "Kita akan jadi keluarga, kan?"

Clara tersenyum, meski perutnya mual. "Tentu... Kakek."

Mereka duduk di meja bundar yang sudah disiapkan. Alex duduk di samping Clara, jarak yang cukup dekat untuk terlihat akrab tapi cukup jauh untuk tetap menjaga batas.

Pelayan mulai menyajikan makanan. Sup krim dengan aroma rich. Salad dengan sayuran segar. Steak yang dipotong sempurna. Semua terlihat indah dan berbau lezat.

Tapi Clara tidak lapar. Perutnya terasa penuh dengan kecemasan.

"Jadi, Clara," Tuan Adam memulai percakapan sambil memotong steaknya, "ceritakan tentang dirimu. Alex jarang sekali bercerita tentang kehidupan pribadinya."

Clara melirik Alex. Pria itu menatap piringnya, tidak memberi bantuan apa pun.

"Saya... bekerja di Arta Group," jawab Clara pelan. "Perusahaan keluarga."

"Arta Group?" Tuan Adam mengerutkan dahi. "Perusahaan Wijaya yang dulu rival kita?"

Clara menelan ludah. "Ya, Kakek."

"Menarik." Tuan Adam menatap Clara dengan pandangan yang membuat Clara merasa telanjang. "Saya dengar perusahaan itu sedang mengalami masalah finansial."

Clara merasakan wajahnya memanas. "Kami sedang... merestrukturisasi."

"Tentu." Tuan Adam tersenyum tipis. Tidak percaya. "Dan bagaimana kau bertemu dengan Alex?"

Clara terdiam. Mereka tidak pernah membahas cerita latar belakang mereka. Tidak ada skenario yang disepakati.

Alex tiba-tiba bicara. "Kami bertemu di lelang amal enam bulan lalu."

Clara menoleh ke Alex, terkejut. Tapi wajah pria itu tetap datar.

"Clara tertarik pada lukisan yang sama dengan saya," Alex melanjutkan tanpa menatap Clara. "Kami akhirnya berbagi meja dan... saling tertarik."

Kebohongan yang halus. Disusun dengan rapi.

"Enam bulan?" Tuan Adam menaikkan alis. "Kenapa baru sekarang kau memberitahuku?"

"Kami ingin memastikan dulu," jawab Alex, kali ini menatap Clara dengan tatapan yang terasa aneh. Tidak dingin seperti biasa. Ada sesuatu di sana yang membuat Clara tidak nyaman. "Bahwa ini serius."

Tuan Adam menatap mereka berdua dalam diam. Mengukur. Menilai.

Lalu dia tersenyum. "Kalian terlihat cocok. Alex, kau membuat pilihan yang bagus."

Clara memaksa senyum. "Terima kasih, Kakek."

Makan malam berlanjut dengan percakapan yang canggung. Tuan Adam mengajukan berbagai pertanyaan. Tentang keluarga Clara. Tentang pendidikannya. Tentang rencana masa depan mereka.

Alex menjawab sebagian besar pertanyaan dengan jawaban singkat dan dingin. Clara mencoba mengikuti, tapi dia merasa seperti sedang berjalan di atas es tipis yang bisa pecah kapan saja.

Di tengah makan malam, Tuan Adam berkata, "Alex, aku ingin kalian menikah bulan depan."

Clara hampir tersedak minumannya.

"Bulan depan?" Alex menatap kakeknya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Ya. Tidak ada gunanya menunda-nunda. Kalian sudah enam bulan bersama. Sudah waktunya untuk menikah." Tuan Adam menatap mereka berdua. "Atau ada yang kalian sembunyikan dariku?"

Keheningan tegang melanda meja.

Clara merasakan jantungnya berdetak cepat. Bulan depan. Itu terlalu cepat. Dia bahkan belum menandatangani kontrak. Belum siap secara mental.

"Kami akan membahasnya," kata Alex akhirnya, suaranya tetap tenang.

"Tidak ada yang perlu dibahas." Suara Tuan Adam menjadi keras. "Kau sudah menunda cukup lama, Alex. Aku tidak akan menerima penolakan lagi."

Alex menatap kakeknya tanpa ekspresi. Lalu dia mengangguk pelan. "Baik, Kakek."

Clara terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa. Dunianya seperti berputar terlalu cepat.

Bulan depan. Dia akan menikah dengan pria yang bahkan tidak menganggapnya sebagai manusia.

Makan malam berakhir dengan atmosfer yang tegang. Tuan Adam pamit lebih dulu, meninggalkan Alex dan Clara sendirian di ruang VIP itu.

Begitu pintu tertutup, Alex berdiri. Ekspresinya kembali dingin.

"Driver akan mengantarmu pulang," katanya tanpa menatap Clara.

"Tunggu," Clara berdiri, tangannya gemetar. "Bulan depan? Itu terlalu cepat. Saya belum—"

"Itu masalahmu," potong Alex, suaranya keras. "Kau yang datang padaku. Kau yang minta pertolongan. Jadi sekarang terima konsekuensinya."

Clara menatap punggung Alex yang berbalik menjauhinya.

"Kontraknya akan saya kirim besok. Tanda tangani dan kembalikan dalam dua hari. Atau lupakan semua ini."

Alex berjalan keluar, meninggalkan Clara sendirian di ruangan itu.

Clara duduk kembali di kursi, merasakan kakinya lemas. Tangannya gemetar.

Bulan depan.

Semuanya terjadi terlalu cepat. Terlalu di luar kendali.

Dan Clara tidak tahu apakah dia bisa bertahan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 131: PENGKHIANATAN DI ATAS PENGKHIANATAN

    Asap granat memenuhi ruangan, mengubah aula mewah itu menjadi labirin abu-abu yang mencekam. Broto Sudiro, yang baru saja merasakan kemenangan psikologis atas Alex, tiba-tiba merasakan cengkeraman tangan yang sekeras baja di kerah bajunya."Alex? Apa yang kau lakukan? Helikopter sudah di atas!" Broto terbatuk di tengah asap."Helikopter itu tidak akan menjemputmu, Broto," bisik Alexandre tepat di telinganya. "Clara sudah membajak frekuensi pilotmu. Saat ini, mereka sedang mendarat di markas tim taktis kami."Wajah Broto yang tenang mulai retak. "Kau... kau sudah tahu?""Aku tahu bahwa kau hanyalah parasit yang mencoba mencuri nama ayahku," Alexandre menyentakkan Broto ke tengah lantai marmer yang terbuka. "Selamat datang di akhir permainanmu."Tiba-tiba, pintu depan meledak. Unit Centurions masuk dengan formasi tempur penuh. Namun, mereka tidak menembak Alexandre. Mereka berhenti dan membuka jalan bagi seorang pria yang mengenakan jubah sutra hitam—Target Ke-5 dalam daftar: Hadi Sasmi

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 130: BADAI DI ISTANA MENTENG

    Ruangan yang tadinya mewah kini menjadi labirin asap dan pecahan kristal. Broto Sudiro, meski sudah berumur, bergerak dengan efisiensi seorang predator yang sudah sering melewati upaya pembunuhan. Di sampingnya, Alexandre bertarung dengan amarah yang terpendam—setiap peluru yang ia lepaskan adalah bentuk pelarian dari kenyataan pahit tentang asal-usulnya."Sektor barat ditembus!" teriak pengawal Broto melalui radio sebelum suara tembakan mengakhiri kalimatnya.Tujuh orang tersisa dari daftar 'The Resurrection' telah mengirimkan unit gabungan paling mematikan mereka: The Centurions. Mereka bukan tentara biasa, melainkan tentara bayaran internasional yang dilengkapi dengan penglihatan malam canggih."Alex, ke kiri!" teriak Broto sembari melepaskan tembakan presisi ke arah penyerang yang mencoba masuk lewat jendela balkon.Alexandre berguling di balik pilar marmer, melepaskan dua tembakan yang melumpuhkan lawan di depannya. "Jangan memberi perintah padaku!" geram Alex."Kau punya insting

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 129: Pakta Perang dan Pengkhianatan Ganda

    Markas rahasia Alex di Berlin terasa dingin dan mencekam. Kekalahan di altar meninggalkan bekas luka yang dalam, bukan hanya di lantai gereja, tetapi juga di harga diri Alex. Kehilangan Elang dan Biarawati Marta, aset terpenting mereka, membuat Alex berada di titik terendah. Alex berdiri di depan peta Mediterania yang terpampang di layar besar. Pulau Triton hanya terlihat sebagai titik kecil, tetapi bagi Clara, itu adalah rumah masa lalunya dan sarang bahaya terbesar. "Pulau Triton," desis Alex, menunjuk koordinat. "Markas besar Sindikat Kriminal Ayahmu. Kau yakin bisa membawaku masuk?" Clara berdiri di sampingnya, mengenakan pakaian taktis yang dikirimkan Ben. Gaun pengantinnya sudah menjadi abu. "Saya mendesain sistem keamanannya," jawab Clara, suaranya mantap. "Saya tahu pintu belakangnya. Vega tidak akan menduga saya mengkhianati Ayah saya sendiri." Alex menoleh, matanya menatap Clara dalam. "Kau akan menjadi pengkhianat ganda. Mengkhianati Ayahmu untuk menyelamatkan adikku.

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 128: Harga Kegagalan di Altar

    Kekacauan di dalam gedung gereja baru saja berakhir . Tim keamanan Alex sibuk mengurus korban dan membersihkan area. Alex berdiri di altar, di tengah pecahan kaca dan noda darah yang berceceran di tempat seharusnya mereka mengucapkan janji suci mereka kembali untk bersama. Dia gagal. Alex kehilangan kendali atas segalanya: pernikahannya hancur, dan adiknya, satu-satunya aset moralnya, diculik oleh musuh terbesarnya, Vega.Clara mendekati Alex. Alex masih mematung, menatap pintu tempat Vega menyeret Elang."Alex," panggil dengan suara nya yang lembut Clara, suara nya yang ter dendengar sangat lembut.Alex tidak bergerak. Dia kemudian berbalik, matanya merah, dipenuhi kegagalan dan amarah."Ini adalah harga kegagalanmu," desis Alex, menatap Clara. "Kau memancingnya ke sini. Kau yang memberinya kesempatan. Kau yang ingin membuktikan diri di hari pernikahanku."Clara tahu dia benar, tetapi dia tidak akan mundur. "Saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Dia tidak akan menyentuh El

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 127: Altar sebagai Jebakan Berdarah

    Gereja tua di Berlin telah dihias mewah, tetapi suasana di ruang ganti Alex terasa seperti bunker militer. Alex mengenakan tuksedo hitam, tetapi di bawahnya, ia mengenakan rompi anti peluru dan pistol tersembunyi."Vega tidak akan datang ke pernikahan," ujar Ben, suaranya dipenuhi keraguan. "Dia akan mengirim anak buahnya.""Vega tahu kendaliku atas Clara adalah inti dari Warisan," desis Alex, menatap pantulan dirinya di cermin. "Dia harus melihat kehancuranku. Dia akan datang."Alex menoleh kepada Gerry, kepala tim keamanannya. "Pastikan setiap sudut gereja diawasi. Jangan biarkan siapa pun menyentuh Clara. Aku akan menjadi targetnya."Alex tahu, dengan mengumumkan pernikahan ini secara global, dia telah menjadikan dirinya target utama Vega. Namun, dia ingin Vega melihat **betapa posesifnya dia terhadap Clara, bahkan di tengah bahaya.Sementara itu, di ruang ganti Clara.Clara mengenakan gaun pengantin putih yang sederhana, memilih gaun yang mencerminkan kesepakatan polos mereka (cin

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 126: Cincin Polos dan Bayangan di Berlin

    Clara menatap cincin emas putih polos di telapak tangannya . Ini bukan cincin berlian, melainkan simbol jujur dari hukuman Alex: pernikahan tanpa klausul pelepasan, ikatan selamanya."Kita akan menikah di Berlin," ujar Alex, nadanya final. "Gereja kecil, hanya kita, Elang, dan Ben. Sisanya akan melihat pernikahan kita di berita. Pemberitahuan formal kepada dunia bahwa kau adalah Nyonya Anggara sejati."Clara mengangguk. "Dan setelah itu, kita bawa Ayahmu dan Elang ke tempat yang aman. Kita perlu rehabilitasi penuh untuk Tuan Anggara. Hanya Elang yang bisa membantunya memulihkan diri dari trauma yang dipaksakan Ibunya."Alex memeluk Clara. Pelukannya kini terasa berbeda, ada unsur kelegaan dan rasa terima kasih yang mendalam, meskipun posesifnya tidak pernah hilang."Kau menyelamatkan keluargaku," bisik Alex, mencium kening Clara. "Aku tidak akan pernah melupakan itu. Tapi ingat, Nyonya Anggara. Aku Jangkar-mu. Kau akan selalu kembali padaku."Seminggu kemudian, Berlin.Suasana tenang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status