Home / Romansa / Menikahi Pewaris Dingin / Bab 7: Tanda Tangan yang Mengikat

Share

Bab 7: Tanda Tangan yang Mengikat

Author: SolaceReina
last update Last Updated: 2025-10-15 18:34:12

Clara pulang ke apartemennya malam itu dengan pikiran yang kacau. Begitu masuk, dia langsung melempar tasnya ke sofa dan berdiri di tengah ruangan yang sempit. Lampu bohlam tunggal yang menyala terasa redup, seolah ikut lelah dengan hidupnya.

Bulan depan.

Kata-kata itu terus berputar di kepalanya seperti lagu yang tidak bisa berhenti.

Clara berjalan ke kamar mandi kecilnya. Membuka keran air. Mencuci wajahnya dengan air dingin berkali-kali. Tapi rasa sesak di dadanya tidak hilang.

Dia menatap pantulannya di cermin yang buram. Wajah pucat. Mata lelah. Bibir yang gemetar menahan tangis.

"Kamu bisa," bisik Clara pada pantulannya sendiri. "Kamu harus bisa."

Tapi suaranya tidak meyakinkan. Bahkan untuk dirinya sendiri.

---

Keesokan paginya, Clara bangun dengan tubuh yang sakit-sakitan. Lehernya kaku. Kepalanya berdenyut. Dia hampir tidak tidur semalam.

Ponselnya berbunyi. Notifikasi email.

Clara membukanya dengan tangan yang masih setengah sadar. Sebuah email dari alamat yang tidak dia kenal. Subjeknya singkat: *Kontrak Final*.

Clara mengklik attachment-nya. File P*F yang sama tebalnya dengan yang pertama. Tapi kali ini ada tambahan di halaman terakhir.

Tanggal Pernikahan: 15 Desember

Tiga minggu lagi.

Clara menatap tanggal itu dengan perasaan mual yang naik ke tenggorokan. Tiga minggu. Bahkan lebih cepat dari yang dia kira.

Dia scroll ke bawah. Ada tambahan pasal baru.

**Pasal 15: Jadwal dan Kewajiban Publik**

Pihak Kedua wajib hadir dalam setiap acara publik yang melibatkan Pihak Pertama, termasuk namun tidak terbatas pada:

a. Pertemuan keluarga

b. Acara bisnis perusahaan

c. Gala dan acara amal

d. Pertemuan dengan media

Pihak Kedua harus berperilaku sebagai istri yang mencintai Pihak Pertama. Kegagalan dalam akting akan berakibat pemutusan kontrak sepihak.

Clara menutup ponselnya. Tangannya gemetar. Dia berjalan ke dapur kecilnya, mencoba membuat kopi dengan tangan yang tidak stabil. Air panas tumpah sedikit ke tangannya. Perih. Tapi Clara tidak peduli.

Dia duduk di lantai dapur, punggung bersandar pada lemari bawah yang catnya sudah mengelupas. Memegang cangkir kopi panas dengan kedua tangan.

Tiga minggu.

Tiga minggu lagi dia akan menikah dengan Alex Anggara. Pria yang bahkan tidak mau menyentuhnya kecuali untuk akting. Pria yang memperlakukannya seperti kontrak bisnis yang bisa dibatalkan kapan saja.

Ponselnya berbunyi lagi. Kali ini panggilan. Nomor Alex.

Clara mengangkatnya dengan ragu. "Halo?"

"Sudah baca kontraknya?" suara Alex dingin seperti biasa. Tidak ada basa-basi.

"Sudah."

"Bagus. Cetak, tanda tangani, scan, kirim kembali ke email saya sebelum jam lima sore hari ini."

Clara menarik napas. "Ini terlalu cepat. Saya butuh waktu—"

"Tidak ada waktu," potong Alex. "Kakek saya sudah mengumumkan pernikahan kita ke dewan direksi. Undangan sudah mulai dicetak. Kau tidak bisa mundur sekarang."

"Tapi—"

"Dengar, Nona Wijaya." Suara Alex menjadi lebih keras. "Kau yang meminta ini. Kau yang datang padaku dengan tawaran gila. Sekarang kakek saya sudah tahu. Keluargaku sudah tahu. Kalau kau mundur sekarang, aku akan pastikan nama Arta Group tidak hanya bangkrut, tapi juga tercoreng di seluruh industri. Tidak ada perusahaan yang akan mau berbisnis dengan keluarga Wijaya lagi."

Clara merasakan tenggorokannya tercekat. "Anda... mengancam saya?"

"Bukan ancaman. Janji." Alex terdiam sebentar. "Jam lima sore. Jangan terlambat."

Telepon terputus.

Clara menatap ponselnya dengan tangan yang gemetar. Amarah dan ketakutan bercampur menjadi satu di dadanya.

Dia tidak punya pilihan. Lagi.

---

Siang itu Clara pergi ke warnet terdekat. Apartemennya tidak punya printer. Dia mencetak kontrak itu halaman demi halaman. Lima puluh tiga halaman. Biayanya hampir seratus ribu rupiah. Uang yang sebenarnya Clara butuhkan untuk makan seminggu.

Tapi dia tidak punya pilihan.

Clara duduk di sudut warnet yang berisik. Suara game online dari komputer-komputer lain. Bau rokok yang menyeruak dari luar. Tapi Clara tidak peduli.

Dia membaca kontrak itu sekali lagi. Perlahan. Memastikan dia memahami setiap kata.

Setiap halaman terasa seperti belenggu yang semakin mengencang di lehernya.

Pasal 18: Larangan Hamil

Clara berhenti di pasal ini. Matanya membaca ulang.

Pihak Kedua dengan ini menyatakan tidak akan hamil selama masa kontrak. Pihak Kedua wajib menggunakan kontrasepsi yang disetujui Pihak Pertama. Kehamilan yang tidak direncanakan akan berakibat pemutusan kontrak dan denda sebesar 50 juta dolar.

Clara merasakan perutnya bergejolak. Ini bukan hanya kontrol. Ini penghinaan total terhadap tubuhnya. Hidupnya.

Tapi apa yang bisa dia lakukan?

Clara mengambil pulpen dari tasnya. Tangannya gemetar saat menempelkan ujung pulpen di kolom tanda tangan halaman terakhir.

Ini adalah momen terakhir dia bisa mundur. Momen terakhir dia masih punya kendali atas hidupnya sendiri.

Tapi bayangan Tuan Hendra muncul di pikirannya. Tangan dinginnya. Senyum serakahnya. Dan cincin ayahnya yang sekarang ada di tangan pria itu.

Clara menutup matanya. Menarik napas dalam.

Lalu dia menandatangani.

Satu coretan tinta hitam di atas kertas putih. Nama lengkapnya. Clara Wijaya.

Selesai.

Clara menatap tanda tangannya itu. Terasa seperti baru saja menandatangani hukuman matinya sendiri.

Dia men-scan semua halaman dengan tangan yang masih gemetar. Mengirimnya ke email Alex. Menekan tombol send.

Tidak ada jalan kembali sekarang.

---

Malam itu Clara duduk di lantai apartemennya yang dingin. Lampu sudah dimatikan. Hanya cahaya rembulan dari jendela kecil yang menerangi ruangan.

Ponselnya berbunyi. Email balasan dari Alex.

"Diterima. Driver akan menjemputmu besok pukul 10:00 untuk fitting gaun pengantin. Jangan terlambat."

Gaun pengantin.

Kata-kata itu terasa asing di kepala Clara. Seharusnya gaun pengantin adalah simbol kebahagiaan. Awal dari kehidupan baru yang indah.

Tapi bagi Clara, itu hanya kostum untuk sandiwara yang harus dia mainkan.

Clara menatap langit malam dari jendela kecilnya. Bulan purnama bersinar terang. Indah. Tenang.

Sangat berbeda dengan kekacauan di dalam dirinya.

"Ayah," bisik Clara pelan ke kegelapan. "Aku harap kamu tidak melihat ini. Aku harap kamu tidak tahu anakmu harus melakukan hal seperti ini."

Air matanya jatuh. Perlahan. Diam-diam.

Clara menangis sendirian di apartemen gelap itu. Tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang peduli.

Hanya bulan yang menjadi saksi kehancurannya.

---

Pagi datang terlalu cepat. Clara bangun dengan mata bengkak dan kepala yang berdenyut. Tapi dia memaksa dirinya bangkit. Mandi. Berganti pakaian.

Tepat pukul sepuluh, mobil sedan hitam yang sama berhenti di depan apartemennya. Sopir yang sama membukakan pintu.

"Selamat pagi, Nona Wijaya. Kita akan ke butik."

Clara masuk ke dalam mobil tanpa berkata apa-apa. Perjalanan memakan waktu hampir satu jam. Mereka berhenti di depan sebuah butik mewah di kawasan Kemang. Gedung putih elegan dengan jendela-jendela besar.

Begitu Clara masuk, dia disambut oleh seorang wanita paruh baya dengan senyum lebar.

"Nona Clara! Selamat datang! Saya Ibu Sari, pemilik butik ini. Tuan Alex sudah memberitahu saya tentang Anda."

Clara hanya mengangguk kecil.

"Ayo, mari saya tunjukkan koleksi gaun kami."

Clara mengikuti Ibu Sari ke ruangan belakang yang luas. Dinding-dindingnya dipenuhi gaun pengantin. Putih. Krem. Dengan berbagai model dan detail yang rumit.

Semuanya indah. Sempurna.

Tapi Clara tidak merasakan apa-apa saat melihatnya.

"Tuan Alex sudah memilihkan beberapa gaun untuk Anda coba," kata Ibu Sari sambil menunjuk tiga gaun yang digantung terpisah. "Silakan pilih yang paling Anda suka."

Clara menatap tiga gaun itu. Semuanya simpel. Elegan. Tidak berlebihan.

Tentu saja Alex yang memilih. Bahkan untuk gaun pengantinnya sendiri, Clara tidak punya hak memilih.

"Yang tengah," kata Clara pelan, memilih yang paling sederhana.

"Pilihan yang bagus!" Ibu Sari bertepuk tangan. "Mari kita coba."

Clara digiring ke ruang ganti. Dua asisten membantu dia mengenakan gaun itu. Kain sutra putih yang lembut. Potongan yang pas di tubuhnya.

Begitu selesai, Clara berdiri di depan cermin besar.

Wanita di cermin itu terlihat cantik. Gaun putihnya sempurna. Rambutnya ditata rapi oleh asisten.

Tapi matanya kosong.

Seperti boneka yang dirias untuk dipajang.

"Cantik sekali!" seru Ibu Sari. "Tuan Alex pasti akan terpesona!"

Clara tidak menjawab. Dia hanya menatap pantulannya dengan perasaan hampa.

Ini bukan pernikahan impiannya.

Ini adalah penjualan dirinya yang dikemas dengan pita putih dan bunga-bunga indah.

Dan tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghentikannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 131: PENGKHIANATAN DI ATAS PENGKHIANATAN

    Asap granat memenuhi ruangan, mengubah aula mewah itu menjadi labirin abu-abu yang mencekam. Broto Sudiro, yang baru saja merasakan kemenangan psikologis atas Alex, tiba-tiba merasakan cengkeraman tangan yang sekeras baja di kerah bajunya."Alex? Apa yang kau lakukan? Helikopter sudah di atas!" Broto terbatuk di tengah asap."Helikopter itu tidak akan menjemputmu, Broto," bisik Alexandre tepat di telinganya. "Clara sudah membajak frekuensi pilotmu. Saat ini, mereka sedang mendarat di markas tim taktis kami."Wajah Broto yang tenang mulai retak. "Kau... kau sudah tahu?""Aku tahu bahwa kau hanyalah parasit yang mencoba mencuri nama ayahku," Alexandre menyentakkan Broto ke tengah lantai marmer yang terbuka. "Selamat datang di akhir permainanmu."Tiba-tiba, pintu depan meledak. Unit Centurions masuk dengan formasi tempur penuh. Namun, mereka tidak menembak Alexandre. Mereka berhenti dan membuka jalan bagi seorang pria yang mengenakan jubah sutra hitam—Target Ke-5 dalam daftar: Hadi Sasmi

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 130: BADAI DI ISTANA MENTENG

    Ruangan yang tadinya mewah kini menjadi labirin asap dan pecahan kristal. Broto Sudiro, meski sudah berumur, bergerak dengan efisiensi seorang predator yang sudah sering melewati upaya pembunuhan. Di sampingnya, Alexandre bertarung dengan amarah yang terpendam—setiap peluru yang ia lepaskan adalah bentuk pelarian dari kenyataan pahit tentang asal-usulnya."Sektor barat ditembus!" teriak pengawal Broto melalui radio sebelum suara tembakan mengakhiri kalimatnya.Tujuh orang tersisa dari daftar 'The Resurrection' telah mengirimkan unit gabungan paling mematikan mereka: The Centurions. Mereka bukan tentara biasa, melainkan tentara bayaran internasional yang dilengkapi dengan penglihatan malam canggih."Alex, ke kiri!" teriak Broto sembari melepaskan tembakan presisi ke arah penyerang yang mencoba masuk lewat jendela balkon.Alexandre berguling di balik pilar marmer, melepaskan dua tembakan yang melumpuhkan lawan di depannya. "Jangan memberi perintah padaku!" geram Alex."Kau punya insting

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 129: Pakta Perang dan Pengkhianatan Ganda

    Markas rahasia Alex di Berlin terasa dingin dan mencekam. Kekalahan di altar meninggalkan bekas luka yang dalam, bukan hanya di lantai gereja, tetapi juga di harga diri Alex. Kehilangan Elang dan Biarawati Marta, aset terpenting mereka, membuat Alex berada di titik terendah. Alex berdiri di depan peta Mediterania yang terpampang di layar besar. Pulau Triton hanya terlihat sebagai titik kecil, tetapi bagi Clara, itu adalah rumah masa lalunya dan sarang bahaya terbesar. "Pulau Triton," desis Alex, menunjuk koordinat. "Markas besar Sindikat Kriminal Ayahmu. Kau yakin bisa membawaku masuk?" Clara berdiri di sampingnya, mengenakan pakaian taktis yang dikirimkan Ben. Gaun pengantinnya sudah menjadi abu. "Saya mendesain sistem keamanannya," jawab Clara, suaranya mantap. "Saya tahu pintu belakangnya. Vega tidak akan menduga saya mengkhianati Ayah saya sendiri." Alex menoleh, matanya menatap Clara dalam. "Kau akan menjadi pengkhianat ganda. Mengkhianati Ayahmu untuk menyelamatkan adikku.

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 128: Harga Kegagalan di Altar

    Kekacauan di dalam gedung gereja baru saja berakhir . Tim keamanan Alex sibuk mengurus korban dan membersihkan area. Alex berdiri di altar, di tengah pecahan kaca dan noda darah yang berceceran di tempat seharusnya mereka mengucapkan janji suci mereka kembali untk bersama. Dia gagal. Alex kehilangan kendali atas segalanya: pernikahannya hancur, dan adiknya, satu-satunya aset moralnya, diculik oleh musuh terbesarnya, Vega.Clara mendekati Alex. Alex masih mematung, menatap pintu tempat Vega menyeret Elang."Alex," panggil dengan suara nya yang lembut Clara, suara nya yang ter dendengar sangat lembut.Alex tidak bergerak. Dia kemudian berbalik, matanya merah, dipenuhi kegagalan dan amarah."Ini adalah harga kegagalanmu," desis Alex, menatap Clara. "Kau memancingnya ke sini. Kau yang memberinya kesempatan. Kau yang ingin membuktikan diri di hari pernikahanku."Clara tahu dia benar, tetapi dia tidak akan mundur. "Saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Dia tidak akan menyentuh El

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 127: Altar sebagai Jebakan Berdarah

    Gereja tua di Berlin telah dihias mewah, tetapi suasana di ruang ganti Alex terasa seperti bunker militer. Alex mengenakan tuksedo hitam, tetapi di bawahnya, ia mengenakan rompi anti peluru dan pistol tersembunyi."Vega tidak akan datang ke pernikahan," ujar Ben, suaranya dipenuhi keraguan. "Dia akan mengirim anak buahnya.""Vega tahu kendaliku atas Clara adalah inti dari Warisan," desis Alex, menatap pantulan dirinya di cermin. "Dia harus melihat kehancuranku. Dia akan datang."Alex menoleh kepada Gerry, kepala tim keamanannya. "Pastikan setiap sudut gereja diawasi. Jangan biarkan siapa pun menyentuh Clara. Aku akan menjadi targetnya."Alex tahu, dengan mengumumkan pernikahan ini secara global, dia telah menjadikan dirinya target utama Vega. Namun, dia ingin Vega melihat **betapa posesifnya dia terhadap Clara, bahkan di tengah bahaya.Sementara itu, di ruang ganti Clara.Clara mengenakan gaun pengantin putih yang sederhana, memilih gaun yang mencerminkan kesepakatan polos mereka (cin

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 126: Cincin Polos dan Bayangan di Berlin

    Clara menatap cincin emas putih polos di telapak tangannya . Ini bukan cincin berlian, melainkan simbol jujur dari hukuman Alex: pernikahan tanpa klausul pelepasan, ikatan selamanya."Kita akan menikah di Berlin," ujar Alex, nadanya final. "Gereja kecil, hanya kita, Elang, dan Ben. Sisanya akan melihat pernikahan kita di berita. Pemberitahuan formal kepada dunia bahwa kau adalah Nyonya Anggara sejati."Clara mengangguk. "Dan setelah itu, kita bawa Ayahmu dan Elang ke tempat yang aman. Kita perlu rehabilitasi penuh untuk Tuan Anggara. Hanya Elang yang bisa membantunya memulihkan diri dari trauma yang dipaksakan Ibunya."Alex memeluk Clara. Pelukannya kini terasa berbeda, ada unsur kelegaan dan rasa terima kasih yang mendalam, meskipun posesifnya tidak pernah hilang."Kau menyelamatkan keluargaku," bisik Alex, mencium kening Clara. "Aku tidak akan pernah melupakan itu. Tapi ingat, Nyonya Anggara. Aku Jangkar-mu. Kau akan selalu kembali padaku."Seminggu kemudian, Berlin.Suasana tenang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status