แชร์

Bab 8: Hari yang Semakin Dekat

ผู้เขียน: SolaceReina
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-20 14:32:58

Clara berdiri di depan cermin butik itu selama beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam. Gaun putih itu membalut tubuhnya dengan sempurna, tapi Clara merasa seperti sedang mengenakan kain kafan.

"Nona Clara, apa ada yang perlu disesuaikan?" suara Ibu Sari memecah lamunannya.

Clara menggeleng pelan. "Tidak. Ini sudah pas."

"Sempurna! Gaun ini akan siap seminggu sebelum pernikahan. Kami akan kirim langsung ke alamat yang diberikan Tuan Alex."

Tentu saja. Bahkan gaun pengantinnya sendiri tidak akan dikirim ke apartemennya, tapi ke tempat Alex. Karena Clara bukan pemilik apa pun dalam pernikahan ini. Bahkan bukan pemilik dirinya sendiri.

Clara berganti kembali ke pakaian biasanya. Keluar dari butik dengan perasaan hampa. Sopir sudah menunggu di mobil.

"Ke mana sekarang, Nona?"

Clara terdiam. Dia tidak tahu. Pulang ke apartemen yang dingin dan kosong? Atau ke kantor yang hampir tidak berfungsi lagi?

"Kantor Arta Group," jawabnya akhirnya.

Perjalanan ke kantornya memakan waktu empat puluh menit. Clara turun dari mobil di depan gedung tua yang semakin terlihat lusuh. Cat dindingnya mengelupas lebih parah dari terakhir kali dia perhatikan. Beberapa jendela retak.

Clara naik lift yang berbunyi keras ke lantai lima. Koridor sepi menyambutnya. Hanya ada satu dua orang yang masih bekerja di sana.

Ruang kerjanya sama seperti yang dia tinggalkan. Tumpukan dokumen. Tagihan yang belum dibayar. Laporan keuangan yang merah semua.

Clara duduk di kursinya, menatap kekacauan di mejanya. Ini semua untuk apa? Dia mengorbankan harga dirinya, menikahi pria yang memperlakukannya seperti sampah, demi menyelamatkan perusahaan yang sudah hampir mati.

Apa ayahnya akan bangga? Atau akan malu melihat anaknya menjual diri seperti ini?

Pintu terbuka tanpa ketukan. Paman Robert masuk dengan senyum lebar yang menjijikkan.

"Clara! Aku dengar kabar baik!" Paman Robert menutup pintu di belakangnya. "Kau benar-benar dapat tunangan? Dan bukan sembarang tunangan. Alex Anggara! Pewaris A&A Group!"

Clara menatapnya dingin. "Apa maunya, Paman?"

"Mauku?" Paman Robert tertawa. "Aku hanya ingin mengucapkan selamat. Meski aku heran, kenapa pria sekaliber Alex mau dengan wanita sepertimu."

Clara mengepalkan tangannya di bawah meja. Menahan amarah yang hampir meledak.

"Tapi bagus juga," Paman Robert melanjutkan, duduk di kursi tamu tanpa diundang. "Kalau kau menikah dengan Alex, mungkin dia bisa membantu Arta Group. Kau bisa minta uang darinya. Atau minta dia beli saham perusahaan ini."

"Tidak akan," kata Clara tegas. "Ini masalah pribadi saya dengan dia. Tidak ada hubungannya dengan Arta Group."

Paman Robert mengerutkan dahi. "Jangan bodoh, Clara. Ini kesempatanmu. Gunakan hubunganmu dengan Alex untuk—"

"Keluar." Suara Clara keras. "Keluar dari ruangan saya sekarang."

Paman Robert terdiam. Lalu dia tersenyum tipis. "Baiklah. Tapi ingat, kalau kau menikah dengannya dan punya akses ke kekayaan keluarga Anggara, aku punya banyak ide bisnis yang bisa kita—"

"KELUAR!"

Paman Robert bangkit dengan wajah merah. "Kau akan menyesal, Clara. Kau pikir Alex benar-benar mencintaimu? Pria seperti dia pasti punya alasan tersembunyi. Dan kalau dia buang kau nanti, kau akan kembali ke sini dengan tangan kosong."

Paman Robert keluar, membanting pintu.

Clara menyandarkan kepalanya di meja. Napasnya berat. Paman Robert benar. Alex tidak mencintainya. Tidak akan pernah.

Tapi setidaknya dengan menikahi Alex, Clara bisa membatalkan perjodohan dengan Tuan Hendra. Setidaknya cincin ayahnya bisa kembali.

Itu sudah cukup. Harus cukup.

---

Seminggu berlalu dengan cepat. Terlalu cepat untuk ukuran Clara yang merasa belum siap untuk apa pun.

Alex mengirim berbagai instruksi lewat email. Tidak pernah telepon. Tidak pernah bertemu langsung. Hanya email dingin dengan daftar hal-hal yang harus Clara lakukan.

Foto prewedding. Medical check-up tambahan. Pertemuan dengan wedding organizer. Fitting cincin. Semuanya dijadwalkan dengan ketat.

Clara menjalani semuanya seperti robot. Tersenyum saat harus tersenyum. Mengangguk saat harus mengangguk. Tapi di dalam, dia merasa kosong.

Hari ini Clara harus melakukan sesi foto prewedding. Lokasi di sebuah taman yang indah di kawasan Bogor. Pohon-pohon rindang. Danau kecil yang jernih. Cuaca cerah dengan awan putih tipis.

Sempurna untuk foto yang romantis.

Tapi Clara merasa seperti sedang menghadiri pemakamannya sendiri.

Alex sudah sampai lebih dulu. Dia berdiri di tepi danau dengan setelan putih yang membuatnya terlihat seperti pangeran dari dongeng. Tampan. Sempurna. Dingin.

Clara turun dari mobil dengan gaun putih panjang yang dipilihkan oleh wedding organizer. Rambutnya sudah ditata oleh makeup artist. Wajahnya dihias dengan riasan yang lebih tebal dari biasanya.

Alex menoleh saat Clara mendekat. Matanya menyapu Clara dari atas ke bawah. Tidak ada ekspresi. Tidak ada pujian. Hanya tatapan dingin yang menganalisis.

"Kau terlambat lima menit," katanya datar.

"Jalanan macet," jawab Clara pendek.

Fotografer menghampiri mereka dengan senyum lebar. "Selamat pagi! Kalian berdua terlihat sangat serasi! Mari kita mulai sesi foto."

Clara dan Alex diarahkan ke berbagai pose. Berdiri bersebelahan dengan tangan bergandengan. Duduk di bangku taman dengan Clara bersandar pada bahu Alex. Berjalan di tepi danau dengan jari-jari saling bertautan.

Semuanya terlihat romantis dari luar. Tapi Clara bisa merasakan ketegangan di setiap sentuhan Alex. Tangannya yang dingin dan kaku. Tubuhnya yang tegang setiap kali Clara mendekat.

"Tuan Alex, bisa sedikit lebih rileks? Senyum sedikit?" fotografer mencoba membuat suasana lebih nyaman.

Alex tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata. Seperti topeng yang dipasang untuk pertunjukan.

"Nona Clara, bisa menatap Tuan Alex dengan lebih... penuh cinta?" fotografer meminta lagi.

Clara menatap Alex. Mencoba membayangkan dia adalah pria yang dia cintai. Pria yang akan membahaginya. Pria yang akan melindunginya.

Tapi yang dia lihat hanya tembok es yang tidak bisa ditembus.

"Sempurna!" fotografer mengambil beberapa foto. "Sekarang untuk pose yang lebih intim. Tuan Alex, bisa peluk Nona Clara dari belakang?"

Alex terdiam sebentar. Clara bisa melihat rahangnya mengeras.

Tapi Alex melangkah mendekat. Tangannya melingkar di pinggang Clara dari belakang. Posisinya kaku. Tidak nyaman.

Clara merasakan tubuhnya menegang. Ini adalah sentuhan paling dekat yang mereka lakukan sejak bertemu. Dan rasanya seperti dipeluk oleh patung es.

"Bagus! Sekarang Tuan Alex, bisikkan sesuatu ke telinga Nona Clara. Buat momen terlihat lebih intim."

Alex mendekatkan wajahnya ke telinga Clara. Dari luar, itu terlihat seperti bisikan cinta yang manis.

Tapi kata-kata yang keluar dari bibir Alex dingin seperti silet.

"Jangan biasakan," bisiknya pelan, hanya untuk Clara dengar. "Ini hanya untuk foto. Setelah ini, jangan sentuh aku lagi."

Clara merasakan dadanya sesak. Tapi dia tetap tersenyum untuk kamera. Tersenyum seolah dia adalah wanita paling bahagia di dunia.

Sesi foto berlanjut selama hampir tiga jam. Berbagai pose. Berbagai ekspresi. Semuanya palsu. Semuanya sandiwara.

Begitu fotografer mengatakan mereka selesai, Alex langsung melepaskan pelukannya. Melangkah menjauh dari Clara tanpa sepatah kata.

"Foto-fotonya akan jadi dalam seminggu," kata fotografer. "Kalian pasangan yang sangat fotogenik!"

Alex tidak merespons. Dia berjalan menuju mobilnya.

"Tuan Alex, tunggu!" Clara berlari mengejarnya, gaun panjangnya hampir membuatnya tersandung.

Alex berhenti, tidak menoleh. "Ada apa?"

"Kita... kita perlu bicara. Tentang pernikahan ini. Tentang bagaimana kita akan—"

"Tidak ada yang perlu dibicarakan," potong Alex dingin. "Kau sudah tanda tangan kontrak. Tinggal jalani saja. Sederhana."

"Tapi—"

"Aku sibuk." Alex membuka pintu mobilnya. "Driver akan mengantarmu pulang."

Alex masuk ke mobilnya dan pergi, meninggalkan Clara berdiri sendirian di tengah taman yang indah.

Angin bertiup, membawa aroma bunga. Burung-burung berkicau di pohon. Matahari bersinar hangat.

Tapi Clara merasa dingin.

Sangat dingin.

---

Malam itu Clara duduk di lantai apartemennya. Menatap kalender kecil yang ditempel di dinding. Tanggal 15 Desember sudah dilingkari dengan spidol merah.

Tiga belas hari lagi.

Tiga belas hari sebelum hidupnya berubah selamanya.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari Dina.

"Bu Clara, saya dengar Ibu akan menikah? Selamat! Saya sangat senang untuk Ibu!"

Clara menatap pesan itu. Dina tidak tahu. Tidak ada yang tahu kebenaran di balik pernikahan ini.

Semua orang pikir Clara adalah wanita beruntung yang akan menikah dengan pewaris kaya.

Tapi tidak ada yang tahu Clara sebenarnya baru saja menjual dirinya dalam kontrak yang akan mengurungnya dalam sangkar emas.

Clara mengetik balasan.

" Terima kasih, Dina."

Singkat. Tidak ada kegembiraan di sana.

Clara meletakkan ponselnya dan menatap langit malam dari jendela kecilnya. Bintang-bintang bersinar redup, tertutup polusi kota.

"Ayah," bisiknya ke kegelapan. "Maafkan aku. Aku tidak tahu cara lain untuk menyelamatkan perusahaanmu. Aku harap ini keputusan yang benar."

Tapi di dalam hatinya, Clara tahu ini bukan keputusan yang benar.

Ini hanya keputusan yang harus dia buat karena tidak ada pilihan lain.

Dan dia harus menjalaninya, apa pun yang terjadi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 131: PENGKHIANATAN DI ATAS PENGKHIANATAN

    Asap granat memenuhi ruangan, mengubah aula mewah itu menjadi labirin abu-abu yang mencekam. Broto Sudiro, yang baru saja merasakan kemenangan psikologis atas Alex, tiba-tiba merasakan cengkeraman tangan yang sekeras baja di kerah bajunya."Alex? Apa yang kau lakukan? Helikopter sudah di atas!" Broto terbatuk di tengah asap."Helikopter itu tidak akan menjemputmu, Broto," bisik Alexandre tepat di telinganya. "Clara sudah membajak frekuensi pilotmu. Saat ini, mereka sedang mendarat di markas tim taktis kami."Wajah Broto yang tenang mulai retak. "Kau... kau sudah tahu?""Aku tahu bahwa kau hanyalah parasit yang mencoba mencuri nama ayahku," Alexandre menyentakkan Broto ke tengah lantai marmer yang terbuka. "Selamat datang di akhir permainanmu."Tiba-tiba, pintu depan meledak. Unit Centurions masuk dengan formasi tempur penuh. Namun, mereka tidak menembak Alexandre. Mereka berhenti dan membuka jalan bagi seorang pria yang mengenakan jubah sutra hitam—Target Ke-5 dalam daftar: Hadi Sasmi

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 130: BADAI DI ISTANA MENTENG

    Ruangan yang tadinya mewah kini menjadi labirin asap dan pecahan kristal. Broto Sudiro, meski sudah berumur, bergerak dengan efisiensi seorang predator yang sudah sering melewati upaya pembunuhan. Di sampingnya, Alexandre bertarung dengan amarah yang terpendam—setiap peluru yang ia lepaskan adalah bentuk pelarian dari kenyataan pahit tentang asal-usulnya."Sektor barat ditembus!" teriak pengawal Broto melalui radio sebelum suara tembakan mengakhiri kalimatnya.Tujuh orang tersisa dari daftar 'The Resurrection' telah mengirimkan unit gabungan paling mematikan mereka: The Centurions. Mereka bukan tentara biasa, melainkan tentara bayaran internasional yang dilengkapi dengan penglihatan malam canggih."Alex, ke kiri!" teriak Broto sembari melepaskan tembakan presisi ke arah penyerang yang mencoba masuk lewat jendela balkon.Alexandre berguling di balik pilar marmer, melepaskan dua tembakan yang melumpuhkan lawan di depannya. "Jangan memberi perintah padaku!" geram Alex."Kau punya insting

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 129: Pakta Perang dan Pengkhianatan Ganda

    Markas rahasia Alex di Berlin terasa dingin dan mencekam. Kekalahan di altar meninggalkan bekas luka yang dalam, bukan hanya di lantai gereja, tetapi juga di harga diri Alex. Kehilangan Elang dan Biarawati Marta, aset terpenting mereka, membuat Alex berada di titik terendah. Alex berdiri di depan peta Mediterania yang terpampang di layar besar. Pulau Triton hanya terlihat sebagai titik kecil, tetapi bagi Clara, itu adalah rumah masa lalunya dan sarang bahaya terbesar. "Pulau Triton," desis Alex, menunjuk koordinat. "Markas besar Sindikat Kriminal Ayahmu. Kau yakin bisa membawaku masuk?" Clara berdiri di sampingnya, mengenakan pakaian taktis yang dikirimkan Ben. Gaun pengantinnya sudah menjadi abu. "Saya mendesain sistem keamanannya," jawab Clara, suaranya mantap. "Saya tahu pintu belakangnya. Vega tidak akan menduga saya mengkhianati Ayah saya sendiri." Alex menoleh, matanya menatap Clara dalam. "Kau akan menjadi pengkhianat ganda. Mengkhianati Ayahmu untuk menyelamatkan adikku.

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 128: Harga Kegagalan di Altar

    Kekacauan di dalam gedung gereja baru saja berakhir . Tim keamanan Alex sibuk mengurus korban dan membersihkan area. Alex berdiri di altar, di tengah pecahan kaca dan noda darah yang berceceran di tempat seharusnya mereka mengucapkan janji suci mereka kembali untk bersama. Dia gagal. Alex kehilangan kendali atas segalanya: pernikahannya hancur, dan adiknya, satu-satunya aset moralnya, diculik oleh musuh terbesarnya, Vega.Clara mendekati Alex. Alex masih mematung, menatap pintu tempat Vega menyeret Elang."Alex," panggil dengan suara nya yang lembut Clara, suara nya yang ter dendengar sangat lembut.Alex tidak bergerak. Dia kemudian berbalik, matanya merah, dipenuhi kegagalan dan amarah."Ini adalah harga kegagalanmu," desis Alex, menatap Clara. "Kau memancingnya ke sini. Kau yang memberinya kesempatan. Kau yang ingin membuktikan diri di hari pernikahanku."Clara tahu dia benar, tetapi dia tidak akan mundur. "Saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Dia tidak akan menyentuh El

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 127: Altar sebagai Jebakan Berdarah

    Gereja tua di Berlin telah dihias mewah, tetapi suasana di ruang ganti Alex terasa seperti bunker militer. Alex mengenakan tuksedo hitam, tetapi di bawahnya, ia mengenakan rompi anti peluru dan pistol tersembunyi."Vega tidak akan datang ke pernikahan," ujar Ben, suaranya dipenuhi keraguan. "Dia akan mengirim anak buahnya.""Vega tahu kendaliku atas Clara adalah inti dari Warisan," desis Alex, menatap pantulan dirinya di cermin. "Dia harus melihat kehancuranku. Dia akan datang."Alex menoleh kepada Gerry, kepala tim keamanannya. "Pastikan setiap sudut gereja diawasi. Jangan biarkan siapa pun menyentuh Clara. Aku akan menjadi targetnya."Alex tahu, dengan mengumumkan pernikahan ini secara global, dia telah menjadikan dirinya target utama Vega. Namun, dia ingin Vega melihat **betapa posesifnya dia terhadap Clara, bahkan di tengah bahaya.Sementara itu, di ruang ganti Clara.Clara mengenakan gaun pengantin putih yang sederhana, memilih gaun yang mencerminkan kesepakatan polos mereka (cin

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 126: Cincin Polos dan Bayangan di Berlin

    Clara menatap cincin emas putih polos di telapak tangannya . Ini bukan cincin berlian, melainkan simbol jujur dari hukuman Alex: pernikahan tanpa klausul pelepasan, ikatan selamanya."Kita akan menikah di Berlin," ujar Alex, nadanya final. "Gereja kecil, hanya kita, Elang, dan Ben. Sisanya akan melihat pernikahan kita di berita. Pemberitahuan formal kepada dunia bahwa kau adalah Nyonya Anggara sejati."Clara mengangguk. "Dan setelah itu, kita bawa Ayahmu dan Elang ke tempat yang aman. Kita perlu rehabilitasi penuh untuk Tuan Anggara. Hanya Elang yang bisa membantunya memulihkan diri dari trauma yang dipaksakan Ibunya."Alex memeluk Clara. Pelukannya kini terasa berbeda, ada unsur kelegaan dan rasa terima kasih yang mendalam, meskipun posesifnya tidak pernah hilang."Kau menyelamatkan keluargaku," bisik Alex, mencium kening Clara. "Aku tidak akan pernah melupakan itu. Tapi ingat, Nyonya Anggara. Aku Jangkar-mu. Kau akan selalu kembali padaku."Seminggu kemudian, Berlin.Suasana tenang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status