Home / Romansa / Menikahi Pewaris Dingin / Bab 9: Malam Sebelum Hari Itu

Share

Bab 9: Malam Sebelum Hari Itu

Author: SolaceReina
last update Last Updated: 2025-10-20 14:43:26

Dua belas hari tersisa seperti pasir yang mengalir terlalu cepat dari celah jari Clara. Setiap hari terasa sama. Bangun pagi dengan perasaan hampa. Menjalani jadwal yang sudah diatur Alex. Pulang ke apartemen yang semakin terasa seperti penjara.

Clara bahkan tidak punya waktu untuk berpikir. Semuanya bergerak begitu cepat. Undangan sudah dikirim. Dekorasi sudah dipesan. Menu sudah dipilih. Semua tanpa Clara ditanya pendapatnya.

Wedding organizer hanya mengirim email konfirmasi. "Tuan Alex sudah menyetujui semua pilihan ini. Mohon konfirmasi jika Anda setuju."

Clara selalu membalas, "Setuju."

Karena apa bedanya? Ini bukan pernikahannya. Ini pernikahan Alex. Clara hanya boneka yang harus berdiri di altar dan mengatakan "Ya" saat ditanya.

Malam ini adalah malam terakhir sebelum besok, hari di mana Clara harus pindah ke apartemen Alex. Kontrak mengharuskan mereka tinggal bersama sejak dua hari sebelum pernikahan untuk "terlihat lebih meyakinkan di depan keluarga."

Clara duduk di lantai apartemennya yang hampir kosong. Sebagian besar barang-barangnya sudah dikemas dalam dua koper kecil. Tidak banyak yang dia miliki. Beberapa pakaian. Beberapa buku. Foto-foto keluarga.

Sisanya akan ditinggalkan. Seperti kehidupan lamanya.

Clara menatap foto ayahnya yang dipigura sederhana. Foto terakhir mereka bersama sebelum ayahnya meninggal. Mereka berdiri di depan kantor Arta Group. Ayahnya tersenyum lebar, tangannya memeluk bahu Clara.

"Suatu hari kau akan memimpin perusahaan ini, Clara," kata ayahnya waktu itu. "Dan aku tahu kau akan membuat kami bangga."

Clara merasakan air matanya jatuh. Dia mengusapnya dengan kasar.

Bagaimana ayahnya bisa bangga kalau melihat anaknya sekarang? Menikahi pria yang tidak mencintainya. Menjual diri demi menyelamatkan perusahaan yang hampir tidak bisa diselamatkan lagi.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari nomor Alex.

*"Driver akan menjemputmu besok pukul 09:00. Pastikan semua barangmu sudah siap. Jangan bawa barang yang tidak perlu."*

Clara menatap pesan itu dengan perasaan ganjil. Barang yang tidak perlu. Apa maksudnya? Semua yang Clara punya sudah sangat terbatas. Tidak ada yang tidak perlu.

Dia tidak membalas pesan itu.

Clara berdiri, berjalan ke jendela kecil apartemennya. Menatap kota di malam hari. Lampu-lampu gedung yang berkilauan. Jalanan yang masih ramai meski sudah hampir tengah malam.

Kehidupan terus berjalan. Orang-orang terus menjalani hari mereka. Sementara Clara merasa dunianya berhenti.

Besok, hidupnya akan berubah selamanya.

---

Pagi datang terlalu cepat. Clara hampir tidak tidur. Dia bangun pukul lima pagi dengan mata perih dan kepala berdenyut.

Dia mandi dengan air dingin. Mengenakan jeans dan kaos sederhana. Merapikan rambutnya dalam ikatan ekor kuda. Tidak ada riasan. Tidak ada usaha untuk terlihat cantik.

Untuk apa? Alex bahkan tidak peduli bagaimana penampilannya.

Pukul sembilan tepat, ponselnya berbunyi. Driver sudah tiba.

Clara menatap apartemen kecilnya untuk terakhir kali. Ruang tamu yang sempit. Sofa yang amblas. Dapur mungil. Kamar tidur dengan kasur tipis di lantai.

Ini adalah rumahnya selama tiga tahun terakhir. Bukan tempat yang nyaman. Tapi ini miliknya. Tempat di mana dia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura.

Dan sekarang dia harus meninggalkannya.

Clara mengambil dua kopernya dan keluar. Menutup pintu apartemen dengan perasaan seperti menutup bab dalam hidupnya.

Mobil sedan hitam yang sama menunggu di parkiran. Sopir membantu memasukkan kopernya ke bagasi.

"Selamat pagi, Nona Wijaya."

"Selamat pagi," jawab Clara pelan.

Perjalanan ke apartemen Alex memakan waktu hampir satu jam karena macet. Clara duduk diam di kursi belakang, menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun.

Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman. Gedung kaca yang menjulang tinggi dengan desain modern. Sangat berbeda dari gedung tua tempat apartemen Clara.

"Tuan Alex tinggal di penthouse lantai empat puluh lima," kata sopir sambil membukakan pintu untuk Clara.

Clara turun dari mobil. Menatap gedung itu dengan perasaan kecil. Sangat kecil.

Lobby gedung itu luas dan mewah. Marmer putih di lantai. Lampu kristal besar. Resepsionis yang tersenyum profesional.

"Selamat datang, Nona Wijaya. Tuan Alex sudah memberitahu kami tentang kedatangan Anda. Silakan langsung ke lantai empat puluh lima. Kode akses lift sudah diatur untuk Anda."

Clara mengangguk dan masuk ke lift khusus yang langsung menuju penthouse. Sopir membawa kopernya mengikuti.

Lift bergerak naik dengan mulus. Tidak ada bunyi berisik seperti lift di gedung apartemen lamanya. Hanya musik instrumental yang lembut.

Pintu lift terbuka langsung ke sebuah foyer luas. Dinding putih bersih. Lantai kayu mengkilap. Lukisan abstrak mahal tergantung di dinding.

Dan di tengah ruangan itu, berdiri Alex.

Dia mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung sampai siku. Celana bahan abu-abu. Rambutnya sedikit berantakan, tidak seperti biasanya yang selalu rapi. Tapi ekspresinya tetap sama. Dingin. Datar.

"Kau datang," katanya, bukan sambutan. Hanya pernyataan.

"Sesuai instruksi Anda," jawab Clara.

Alex menatap koper yang dibawa sopir. "Itu saja barangmu?"

"Ya."

Alex tidak berkomentar. Dia memberi isyarat pada sopir untuk menaruh koper di sudut. Lalu sopir itu pergi, meninggalkan Clara sendirian dengan Alex.

Keheningan menggantung di udara. Clara tidak tahu harus berkata apa. Alex juga tidak bicara. Dia hanya berdiri di sana, menatap Clara dengan tatapan yang tidak terbaca.

"Kamarmu di lantai atas," kata Alex akhirnya. "Ikut aku."

Clara mengikuti Alex naik tangga spiral yang elegan. Apartemen ini dua lantai. Lantai bawah untuk ruang tamu, dapur, dan ruang kerja. Lantai atas untuk kamar tidur.

Alex membuka pintu di ujung koridor. "Ini kamarmu."

Clara masuk dan terdiam.

Kamar itu besar. Sangat besar. Mungkin tiga kali lipat ukuran apartemen lamanya. Tempat tidur king size dengan sprei putih bersih. Lemari pakaian built-in yang luas. Jendela besar dengan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.

Kamar mandi dalam dengan bathub dan shower terpisah. Semua bersih. Steril. Seperti kamar hotel bintang lima.

"Semua yang kau butuhkan sudah ada," kata Alex dari ambang pintu. Dia tidak masuk. "Kalau ada yang kurang, beritahu asisten rumah tangga. Dia datang setiap hari jam delapan pagi."

Clara mengangguk pelan. Masih terpesona dengan ukuran kamar ini.

"Kamarku di lantai bawah," Alex melanjutkan. "Jangan pernah masuk tanpa izin. Dan jangan mengganggu kalau aku sedang bekerja."

"Mengerti."

Alex menatap Clara beberapa detik. Ada sesuatu di matanya yang Clara tidak bisa baca. Lalu dia berbalik dan pergi, meninggalkan Clara sendirian.

Begitu suara langkah kaki Alex menjauh, Clara duduk di tepi tempat tidur yang empuk. Tangannya gemetar.

Ini bukan rumah. Ini sangkar emas yang indah tapi tetap sangkar.

Clara berbaring di tempat tidur yang terlalu besar untuknya. Menatap langit-langit putih yang tinggi. Tidak ada retak. Tidak ada noda. Sempurna.

Tapi Clara merasa lebih sendirian dari sebelumnya.

---

Sore itu Clara tidak keluar dari kamarnya. Dia hanya duduk di dekat jendela, menatap kota di bawah sana. Orang-orang kecil seperti semut. Mobil-mobil yang bergerak lambat.

Dari atas sini, semuanya terlihat begitu jauh. Begitu tidak nyata.

Pintu kamarnya diketuk pelan. Clara menoleh.

"Ya?"

Suara wanita paruh baya terdengar dari luar. "Nona Clara, saya Bu Tari, asisten rumah tangga di sini. Makan malam sudah siap di meja makan. Tuan Alex sudah menunggu."

Clara terkejut. Alex menunggu? Kenapa?

Dia bangkit dan membuka pintu. Seorang wanita paruh baya dengan wajah ramah berdiri di sana.

"Silakan turun ke lantai bawah, Nona," kata Bu Tari dengan senyum.

Clara turun dengan perasaan aneh. Alex bilang mereka tidak akan makan bersama di rumah. Tapi kenapa sekarang?

Di ruang makan yang luas, Alex sudah duduk di ujung meja panjang. Di depannya ada berbagai hidangan yang terlihat mewah dan berbau harum.

Clara duduk di sisi lain meja. Jaraknya jauh. Seperti dua orang asing yang terpaksa berbagi meja.

"Mulai besok, makan malammu akan diantar ke kamar," kata Alex tanpa menatap Clara. "Tapi malam ini, aku butuh membicarakan beberapa hal denganmu."

Clara menunggu. Alex memotong steaknya dengan gerakan presisi.

"Pernikahan kita akan diliput media," kata Alex. "Kakek sudah mengundang beberapa wartawan dari media terpercaya. Kau harus bersiap untuk wawancara singkat."

Clara merasakan perutnya melilit. "Wawancara?"

"Ya. Mereka akan bertanya tentang bagaimana kita bertemu. Kapan kita mulai jatuh cinta. Rencana masa depan kita." Alex akhirnya menatap Clara. "Kau harus hafal cerita yang sudah kita buat. Jangan sampai ada yang janggal."

"Saya akan berusaha."

"Tidak cukup berusaha," suara Alex menjadi keras. "Kau HARUS sempurna. Satu kesalahan, dan semuanya akan hancur. Kakek akan curiga. Dan kalau dia curiga, dia akan menyelidiki. Kau tahu apa artinya?"

Clara mengangguk pelan. "Saya mengerti."

Alex kembali fokus pada makanannya. "Besok lusa adalah hari pernikahan. Kakek akan menginap di hotel dekat gedung resepsi. Dia ingin sarapan bersama kita besok pagi. Jam tujuh. Jangan terlambat."

"Baik."

Makan malam berlanjut dalam keheningan yang menyesakkan. Clara hampir tidak menyentuh makanannya. Perutnya terlalu mual untuk makan.

Setelah selesai, Alex bangkit tanpa sepatah kata dan pergi ke ruang kerjanya. Clara duduk sendiri di meja makan yang panjang itu.

Bu Tari datang membersihkan piring. "Nona Clara, apa tidak enak makanannya?"

"Enak," jawab Clara cepat. "Saya hanya... tidak terlalu lapar."

Bu Tari tersenyum simpati. "Saya mengerti. Besok lusa adalah hari besar Nona. Pasti deg-degan ya?"

Clara memaksa senyum. "Ya. Deg-degan."

Tapi bukan deg-degan karena senang. Deg-degan karena takut.

Clara kembali ke kamarnya. Berbaring di tempat tidur yang terlalu besar. Menatap langit-langit yang terlalu tinggi.

Besok lusa, dia akan berdiri di altar. Mengenakan gaun putih. Mengucapkan sumpah yang tidak berarti apa-apa.

Dan hidupnya sebagai Clara Wijaya akan berakhir.

Yang tersisa hanya Clara Anggara. Istri kontrak. Boneka yang harus menari sesuai keinginan majikannya.

Clara menutup matanya, tapi tidur tidak datang.

Hanya kegelapan. Dan ketakutan yang tidak ada habisnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 131: PENGKHIANATAN DI ATAS PENGKHIANATAN

    Asap granat memenuhi ruangan, mengubah aula mewah itu menjadi labirin abu-abu yang mencekam. Broto Sudiro, yang baru saja merasakan kemenangan psikologis atas Alex, tiba-tiba merasakan cengkeraman tangan yang sekeras baja di kerah bajunya."Alex? Apa yang kau lakukan? Helikopter sudah di atas!" Broto terbatuk di tengah asap."Helikopter itu tidak akan menjemputmu, Broto," bisik Alexandre tepat di telinganya. "Clara sudah membajak frekuensi pilotmu. Saat ini, mereka sedang mendarat di markas tim taktis kami."Wajah Broto yang tenang mulai retak. "Kau... kau sudah tahu?""Aku tahu bahwa kau hanyalah parasit yang mencoba mencuri nama ayahku," Alexandre menyentakkan Broto ke tengah lantai marmer yang terbuka. "Selamat datang di akhir permainanmu."Tiba-tiba, pintu depan meledak. Unit Centurions masuk dengan formasi tempur penuh. Namun, mereka tidak menembak Alexandre. Mereka berhenti dan membuka jalan bagi seorang pria yang mengenakan jubah sutra hitam—Target Ke-5 dalam daftar: Hadi Sasmi

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 130: BADAI DI ISTANA MENTENG

    Ruangan yang tadinya mewah kini menjadi labirin asap dan pecahan kristal. Broto Sudiro, meski sudah berumur, bergerak dengan efisiensi seorang predator yang sudah sering melewati upaya pembunuhan. Di sampingnya, Alexandre bertarung dengan amarah yang terpendam—setiap peluru yang ia lepaskan adalah bentuk pelarian dari kenyataan pahit tentang asal-usulnya."Sektor barat ditembus!" teriak pengawal Broto melalui radio sebelum suara tembakan mengakhiri kalimatnya.Tujuh orang tersisa dari daftar 'The Resurrection' telah mengirimkan unit gabungan paling mematikan mereka: The Centurions. Mereka bukan tentara biasa, melainkan tentara bayaran internasional yang dilengkapi dengan penglihatan malam canggih."Alex, ke kiri!" teriak Broto sembari melepaskan tembakan presisi ke arah penyerang yang mencoba masuk lewat jendela balkon.Alexandre berguling di balik pilar marmer, melepaskan dua tembakan yang melumpuhkan lawan di depannya. "Jangan memberi perintah padaku!" geram Alex."Kau punya insting

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 129: Pakta Perang dan Pengkhianatan Ganda

    Markas rahasia Alex di Berlin terasa dingin dan mencekam. Kekalahan di altar meninggalkan bekas luka yang dalam, bukan hanya di lantai gereja, tetapi juga di harga diri Alex. Kehilangan Elang dan Biarawati Marta, aset terpenting mereka, membuat Alex berada di titik terendah. Alex berdiri di depan peta Mediterania yang terpampang di layar besar. Pulau Triton hanya terlihat sebagai titik kecil, tetapi bagi Clara, itu adalah rumah masa lalunya dan sarang bahaya terbesar. "Pulau Triton," desis Alex, menunjuk koordinat. "Markas besar Sindikat Kriminal Ayahmu. Kau yakin bisa membawaku masuk?" Clara berdiri di sampingnya, mengenakan pakaian taktis yang dikirimkan Ben. Gaun pengantinnya sudah menjadi abu. "Saya mendesain sistem keamanannya," jawab Clara, suaranya mantap. "Saya tahu pintu belakangnya. Vega tidak akan menduga saya mengkhianati Ayah saya sendiri." Alex menoleh, matanya menatap Clara dalam. "Kau akan menjadi pengkhianat ganda. Mengkhianati Ayahmu untuk menyelamatkan adikku.

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 128: Harga Kegagalan di Altar

    Kekacauan di dalam gedung gereja baru saja berakhir . Tim keamanan Alex sibuk mengurus korban dan membersihkan area. Alex berdiri di altar, di tengah pecahan kaca dan noda darah yang berceceran di tempat seharusnya mereka mengucapkan janji suci mereka kembali untk bersama. Dia gagal. Alex kehilangan kendali atas segalanya: pernikahannya hancur, dan adiknya, satu-satunya aset moralnya, diculik oleh musuh terbesarnya, Vega.Clara mendekati Alex. Alex masih mematung, menatap pintu tempat Vega menyeret Elang."Alex," panggil dengan suara nya yang lembut Clara, suara nya yang ter dendengar sangat lembut.Alex tidak bergerak. Dia kemudian berbalik, matanya merah, dipenuhi kegagalan dan amarah."Ini adalah harga kegagalanmu," desis Alex, menatap Clara. "Kau memancingnya ke sini. Kau yang memberinya kesempatan. Kau yang ingin membuktikan diri di hari pernikahanku."Clara tahu dia benar, tetapi dia tidak akan mundur. "Saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Dia tidak akan menyentuh El

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 127: Altar sebagai Jebakan Berdarah

    Gereja tua di Berlin telah dihias mewah, tetapi suasana di ruang ganti Alex terasa seperti bunker militer. Alex mengenakan tuksedo hitam, tetapi di bawahnya, ia mengenakan rompi anti peluru dan pistol tersembunyi."Vega tidak akan datang ke pernikahan," ujar Ben, suaranya dipenuhi keraguan. "Dia akan mengirim anak buahnya.""Vega tahu kendaliku atas Clara adalah inti dari Warisan," desis Alex, menatap pantulan dirinya di cermin. "Dia harus melihat kehancuranku. Dia akan datang."Alex menoleh kepada Gerry, kepala tim keamanannya. "Pastikan setiap sudut gereja diawasi. Jangan biarkan siapa pun menyentuh Clara. Aku akan menjadi targetnya."Alex tahu, dengan mengumumkan pernikahan ini secara global, dia telah menjadikan dirinya target utama Vega. Namun, dia ingin Vega melihat **betapa posesifnya dia terhadap Clara, bahkan di tengah bahaya.Sementara itu, di ruang ganti Clara.Clara mengenakan gaun pengantin putih yang sederhana, memilih gaun yang mencerminkan kesepakatan polos mereka (cin

  • Menikahi Pewaris Dingin   BAB 126: Cincin Polos dan Bayangan di Berlin

    Clara menatap cincin emas putih polos di telapak tangannya . Ini bukan cincin berlian, melainkan simbol jujur dari hukuman Alex: pernikahan tanpa klausul pelepasan, ikatan selamanya."Kita akan menikah di Berlin," ujar Alex, nadanya final. "Gereja kecil, hanya kita, Elang, dan Ben. Sisanya akan melihat pernikahan kita di berita. Pemberitahuan formal kepada dunia bahwa kau adalah Nyonya Anggara sejati."Clara mengangguk. "Dan setelah itu, kita bawa Ayahmu dan Elang ke tempat yang aman. Kita perlu rehabilitasi penuh untuk Tuan Anggara. Hanya Elang yang bisa membantunya memulihkan diri dari trauma yang dipaksakan Ibunya."Alex memeluk Clara. Pelukannya kini terasa berbeda, ada unsur kelegaan dan rasa terima kasih yang mendalam, meskipun posesifnya tidak pernah hilang."Kau menyelamatkan keluargaku," bisik Alex, mencium kening Clara. "Aku tidak akan pernah melupakan itu. Tapi ingat, Nyonya Anggara. Aku Jangkar-mu. Kau akan selalu kembali padaku."Seminggu kemudian, Berlin.Suasana tenang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status