LOGIN“Hari ini saya mungkin akan di luar seharian, Sus Anita. Tolong jaga Laksa, ya. Ini pertama kalinya saya tinggal karena biasanya saya akan bawa dia ke mana saja.”
Embun sengaja mengatakan itu di depan Raga saat mereka tengah sarapan. Untuk pertama kalinya, Laksa makan dengan disuapi oleh orang lain selain Embun. Tadinya batita itu menolak, tetapi Embun meneguhkan hatinya untuk tidak mengambil alih. Sakit memang melihat putranya menangis, tetapi dia harus kuat. “Baik, Bu.” Begitu jawab Sus Anita. “Kalau ada sesuatu, Sus Anita telepon papa Laksa aja, ya. Soalnya saya hari ini benar-benar nggak bisa diganggu.” Ketika Embun mengatakan itu, tatapan Raga langsung menyorot lurus pada sang istri. Kernyitan dahinya tajam seolah dia tengah berpikir keras. Embun tahu, tetapi dia mengabaikannya. Jawaban Sus Anita lagi-lagi sama. Dia paham dan dia akan melakukannya. Mulai hari ini, Embun akan mengikuti permainan suaminya. Raga ingin Embun pelan-pelan menjauhi Laksa, ‘kan? Dia akan melakukannya meskipun itu sangat menyakitkan untuk dilakukan. Sarapan selesai. Lebih tepatnya, Embun yang selesai lebih dulu. Dia beranjak, menyandang tasnya, lalu mencium pipi Laksa dengan gemas. “Mama pergi dulu, ya, Nak. Adek sama Sus Anita mulai hari ini.” Reaksi Laksa berbeda. Melihat ibunya dalam mode rapi membawa tas, batita itu tahu jika ibunya pasti akan pergi. Laksa lantas menangis. Memanggil Embun dengan keras sambil berteriak. Dia mencoba turun dari baby chair-nya untuk menyusul ibunya. Teriakan tangis itu tak mampu dicegah. Terlebih lagi ketika dia mendengar deruan mesin mobil yang lambat laun menghilang. “Mama!” teriakan itu menggema. Kekacauan terjadi. Raga langsung bertindak. Dia menggendong Laksa dan berusaha untuk menenangkannya. Sayangnya, sampai dia harus pergi ke kantor pun, tangis Laksa tak bisa dihentikan. Sus Anita sudah mencoba membujuknya, tetapi sama sekali tidak mempan. “Mama ... Laksa mau Mama.” “Laksa sama Papa dulu, ya,” bujuk Raga. Namun, Laksa terus berteriak, menangis, dan memberontak untuk dilepaskan dari gendongan. Raga hampir kacau karena menghadapi putranya sendiri. Selama ini yang menangani Laksa hanyalah Embun. Yang selalu Raga tahu, Laksa tidak pernah seemosional ini. Sayangnya hari ini berbeda. Batita itu memberontak dan terus menangis tanpa berhenti. “Laksa ikut Papa ke kantor, ya. Kita cari Mama.” Mendengar itu, tangis Laksa berangsur pelan. “Mama,” bisiknya di antara sedu sedannya. “Iya. Kita cari Mama.” Menatap Sus Anita, Raga langsung memberikan perintah. “Tolong siapkan barang-barang yang perlu dibawa, Sus. Kita ke kantor sekarang.” “Baik, Pak.” Sus Anita naik ke lantai dua untuk mengambil beberapa barang yang diperlukan untuk Laksa, sedangkan Raga membawa putranya itu keluar dari rumah. Mobil istrinya sudah tidak ada di sana dan Embun benar-benar pergi. Ini baru hari pertama, dan dia yakin Laksa akan terbiasa nantinya. Raga tidak akan terburu-buru menghubungi Embun karena kalau dia melakukannya, maka dia yang akan kalah. Sayangnya sampai sore, Embun tidak menghubungi siapa pun. Dia benar-benar menghilang tanpa kabar. Laksa yang sudah tidak bisa dibujuk saat pulang ke rumah tidak mendapati ibunya di rumah, dia terus berteriak. Dia tak mau makan, bahkan tidur saja tidak nyenyak. Hampir jam delapan malam, Embun pulang dan mendapati Laksa memanggil dirinya. “Mama!” panggil Laksa saat Embun muncul di depannya. Tubuhnya memberontak dari gendongan Raga dan langsung beralih ke pelukan Embun. “Laksa cari Mama?” tanya Embun dengan lembut saat membawa batita itu duduk di sofa. “Iya.” “Laksa udah makan, Sus?” “Belum, Bu. Adek dari pagi tadi terus cari Ibu.” Sus Anita mengadu. “Maaf, ya, Sus. Sehari - dua hari mungkin akan seperti ini. Nanti lama-lama pasti akan terbiasa tanpa saya.” Sus Anita tampak bingung dan Embun justru tersenyum. “Sus Anita bisa istirahat. Malam ini biar saya yang ambil alih jaga Laksa.” Sus Anita hanya mengangguk dan pergi dari ruang keluarga. Raga sejak tadi tidak mengatakan apa pun dan hanya menjadi pihak pendengar. Jika dilihat dari ekspresi wajahnya, lelaki itu tampak kesal, tetapi dia tak bisa melakukan banyak hal. Ini kan yang dia inginkan? Ini kan keputusan terbaik yang sudah dia atur? Maka dia juga harus mendapatkan konsekuensinya. Raga mungkin menganggap kalau keadaan seperti ini akan bertahan beberapa hari saja, tetapi bagi Embun, dia tak akan membiarkan Laksa lepas darinya. Nanti siapa yang akan menang, biar waktu yang akan menjawab. *** “Kamu sudah mulai kerja?” Pertanyaan Raga menghentikan langkah Embun yang hampir keluar dari kamar. Laksa sudah tidur dan seperti biasa, dia akan tidur di kamar ayahnya. “Ya. Aku udah mulai kerja,” jawabnya singkat. “Aku tadi membawa Laksa ke kantor.” Raga mengutuk dirinya sendiri karena mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Namun, sudah kepalang tanggung. “Oh ... ya. Akan lebih baik begitu sembari dia bisa dekat dengan susternya.” “Kamu nggak tanya kenapa aku bawa dia ke kantor?” Embun diam. Dia membalikkan tubuhnya untuk menatap Raga yang tengah duduk di sofa kamarnya. “Kenapa aku harus tanya? Mungkin Mas Raga ingin lebih dekat dengan Laksa. Itu bagus.” “Tapi bukan karena itu, Embun.” Raga berdiri. Dia melangkah maju untuk mendekati istrinya. Ekspresi wajahnya kaku seolah ada tumpukan emosi di sana. “Kamu sepertinya nggak peduli dengannya sampai kamu meninggalkannya pun kamu nggak mencoba tanya keadaannya.” “Bukannya nggak peduli, aku harus membiasakan diriku untuk itu.” Embun tenang seolah dia benar-benar tidak terpancing oleh ucapan Raga. “Selain Laksa yang harus mulai membiasakan diri tanpa aku, aku juga harus membiasakan diri tanpa Laksa. Ini kan yang harus kami lakukan agar rencana Mas bisa berjalan?” Raga diam. Menatap Embun dengan lekat seolah dia tengah menghadapi lawan yang sepadan. “Untuk beberapa hari ke depan, mungkin lebih baik kalau Laksa memang harus Mas bawa ke kantor. Setidaknya kalau tanpa aku, dia harus dekat dengan ayahnya.” Melihat jam di nakas, sudah menunjukkan jam sepuluh malam. “Aku ke kamarku dulu. Aku harus istirahat.” Embun kali ini benar-benar keluar dari kamar suaminya menuju kamarnya sendiri. Langkahnya berat, dadanya sesak, air matanya hampir merebak. Namun, dia mencoba menguatkan dirinya. Sampai di kamar, mengunci pintunya, barulah dia mengeluarkan tangis yang tak lagi dia tahan. Semoga saja dengan begini, Laksa justru tidak bisa jauh darinya. Tarik ulur untuk seorang batita itu memang agak riskan, tetapi dia harus melakukannya. Belum juga Embun tidur, ketukan pintu terdengar. Tangis Laksa terdengar begitu dekat dan itu pasti Raga yang membawa anaknya untuk bertemu Embun. “Mama!” Ketika Embun baru membuka pintu, Laksa langsung maju ke depan agar sang ibu bisa segera memeluknya. “Mama di sini, Sayang. Mama di sini.” Embun membiarkan Raga berdiri di ambang pintu dan dia memilih naik ke atas ranjang dan memberikan ASI untuk Laksa. Raga tiba-tiba masuk ke dalam kamar Embun, tetapi Embun langsung menegur. “Nggak perlu ditungguin. Setelah Laksa tidur, aku akan langsung membawanya ke kamar kamu, Mas.” Pergerakan Raga terhenti membuat kecanggungan yang luar biasa. ***Raga mengernyit ketika pagi ini, Embun sibuk di dapur. Yang menjadi pertanyaan besar di dalam kepalanya adalah saat ada kotak bekal di atas kitchen island. Beberapa sarapan sudah tersaji di atas meja makan dan kopi Raga pun sudah siap diminum. Raga masih masih belum mengatakan apa pun dan terus menebak-nebak. Sayangnya dia tak tahan untuk tidak bertanya. Secara kebetulan, Bibi sedang meletakkan ayam kecap di atas meja. “Mau ada acara, Bik?” tanya Raga setelah menyeruput kopinya. “Embun sepertinya sibuk banget.” Setiap pagi, Embun memang selalu menyiapkan sarapan untuknya. Namun, hari ini sepertinya berbeda. “Ibu sedang masak untuk makan siang, Pak.” “Makan siang?” Raga tentu heran. Selama ini dia tak pernah memiliki permintaan untuk dibawakan bekal oleh Embun. Sekarang pun sama. Lantas, untuk siapa Embun membuatkan makan siang? Satu nama terlintas di kepalanya dan wajah laki-laki asing yang ditemuinya hari itu terbayang di matanya. Raga mengetatkan rahangnya. Ekspresi dingin l
Malam itu terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Embun tidak terbiasa tidur dengan orang lain di sebelahnya setelah suaminya meninggal. Pasca menikah kembali dengan Raga pun, mereka tidak tinggal di kamar yang sama. Jadi, sekarang terasa asing dengan situasi seperti ini. Raga berbaring di sisi lain ranjangnya dengan Laksa berada di tengah-tengah mereka. Embun praktis tidak bisa tidur meskipun dia memejamkan matanya dan berusaha terlihat sudah terlelap. “Kamu sudah tidur, Embun?” Tiba-tiba saja suara itu terdengar. Tidak keras, hanya terdengar rendah bak bisikan. Mata Embun terbuka. Dia menatap Raga yang ternyata sedang menatapnya. “Ada apa, Mas?” tanya Embun tak kalah lirihnya. Takut kalau-kalau suaranya akan membangunkan Laksa. Untuk beberapa waktu, Raga tidak mengatakan apa pun. Dia hanya terus menatap Embun dalam keremangan lampu kamar. “Kalau ada yang mau dibicarakan, silakan bicarakan, Mas. Aku mau tidur.” Raga pada akhirnya menggeleng. “Nggak jadi. Tidur saja.” Lalu
“Harusnya kamu nggak perlu nganterin aku sampai ke rumah.” Embun tidak mengizinkan Samuel mampir ke rumahnya. Samuel pun juga tetap berada di dalam mobil dengan membuka jendelanya, sehingga dia masih bisa berbicara dengan Embun. “Sekarang aku udah sampai dengan selamat dan kamu sudah boleh pergi.” Samuel tersenyum kecil. “Kalau ada sesuatu yang nggak menyenangkan, kamu bisa hubungi aku. Aku akan membawamu pergi ke tempat di mana nggak akan ada orang yang menyakitimu.” Setiap kata yang disampaikan oleh Samuel, seperti ada arti besar yang tersembunyi. Namun, Embun tidak ingin terlalu banyak membahas hal tersebut.Dia hanya mengangguk tanda setuju. Atau sebenarnya agar segalanya cepat selesai. “Aku pulang. Salam buat Laksa.” “Akan aku sampaikan.” Samuel belum pernah melihat batita itu secara langsung dan hanya dari foto yang terkadang Embun kirimkan kepadanya. Mungkin suatu saat nanti dia bisa bertemu dengan bocah menggemaskan itu. Mobil Samuel pergi meninggalkan rumah besar yang d
Jauh di dalam hati Embun, sebenarnya dia tidak ingin menjadi janda untuk kedua kalinya. Namun, perpisahan dengan Raga juga sudah ada di depan mata. Setidaknya selama beberapa bulan kedepan setelah Laksa berusia 2 tahun, dia dan Raga akan berpisah. Lantas, setelah perceraiannya dengan Raga, apa yang akan dilakukan? Menikah lagi dan menjalani hubungan baru? Memiliki anak sendiri dengan suami yang mencintainya, atau dia akan berharap tetap bisa bersama Laksa meskipun dia sudah tidak lagi menjadi istri Raga? “Embun!” Samuel memecah semua bayangan yang bergerombol di dalam kepalanya. Embun tampaknya sedang melamun terlalu jauh. “Sorry, Sam. Aku melamun.” “Kamu sepertinya terkejut dengan ucapanku.” Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Embun, tapi dia mengangguk setelahnya. “Iya. Tiba-tiba banget kamu bicara soal nikah.” “Karena aku nggak mau ketikung lagi." Begitu katanya dengan sedikit bercanda. “Aku nggak mau ada yang ketiga kalinya, Embun. Setelah Ricky, lalu sekarang kakak i
Embun tidak bisa menahan kekesalannya kepada Raga. Tidak ada manusia mana pun yang mau dibandingkan dengan manusia lainnya. Terlebih lagi, dibandingkan dengan saudaranya sendiri yang mana, saudaranya bahkan sudah tidak ada lagi di dunia ini.Setelah perdebatan itu, mereka tampak bersikap dingin satu sama lain sampai keesokan paginya. Embun tampak tidak peduli dengan Raga yang duduk tepat di depannya. Dia hanya peduli dengan Laksa dan sesekali tersenyum melihat putranya. “Sus Anita, nanti saya pergi sebentar. Tolong bawa Laksa ke belakang dulu biar nggak lihat saya pergi.” Pasalnya, kalau Laksa tahu ibunya akan pergi tanpa dia, batita itu akan menangis. Embun tahu diri untuk tidak lagi meminta izin kepada Raga agar bisa membawa Laksa. “Iya, Bu.” Raga tidak mengatakan apa pun, tetapi tampak sekali ekspresi tidak senangnya. Dia sudah melarang Embun pergi, tetapi istrinya itu sama sekali tidak mengindahkannya. “Kamu mau tetap pergi?” Pada akhirnya Raga bersuara. “Bukannya aku sudah n
Malam ini Embun tidak bisa tidur. Tentu ini bukan pertama kalinya Laksa demam, itulah kenapa dia tidak begitu gugup membawanya ke dokter. Dia terus memantau demam putranya dan memastikan plester penurun panasnya berfungsi dengan baik. Sesekali dia akan ketiduran dan terbangun kembali saat ada pergerakan dari Laksa. Di sisi ranjang yang lain, Raga tengah tidur. Lelaki itu pasti kelelahan setelah seharian bekerja. Jadi, Embun membiarkan. “Mama.” Sedikit rengekan dari Laksa membuat Embun lagi-lagi membuka matanya. Padahal dia baru saja hampir tidur. “Mama di sini, Laksa.” Sepertinya batita itu butuh asupannya. Oleh karena itu, dia memberikannya asi dan Laksa langsung menerimanya. Sedikit demi sedikit, Embun sudah mulai menjauhkan Laksa dari asinya. Jadi, batita itu sudah tidak begitu ketergantungan. Hanya saja, keberadaan Embun tetap saja masih sangat dibutuhkan oleh Laksa. Wacana Raga untuk menjauhkan Laksa dengan Embun tentu bukanlah hal yang seharusnya. Tanpa terasa, Embun akhir







