Home / Romansa / Menikahi Suami Kakakku / Part 4. Langkah Awal

Share

Part 4. Langkah Awal

Author: Loyce
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-21 06:53:57

“Hari ini saya mungkin akan di luar seharian, Sus Anita. Tolong jaga Laksa, ya. Ini pertama kalinya saya tinggal karena biasanya saya akan bawa dia ke mana saja.” 

Embun sengaja mengatakan itu di depan Raga saat mereka tengah sarapan. Untuk pertama kalinya, Laksa makan dengan disuapi oleh orang lain selain Embun. 

Tadinya batita itu menolak, tetapi Embun meneguhkan hatinya untuk tidak mengambil alih. Sakit memang melihat putranya menangis, tetapi dia harus kuat. 

“Baik, Bu.” Begitu jawab Sus Anita. 

“Kalau ada sesuatu, Sus Anita telepon papa Laksa aja, ya. Soalnya saya hari ini benar-benar nggak bisa diganggu.” 

Ketika Embun mengatakan itu, tatapan Raga langsung menyorot lurus pada sang istri. Kernyitan dahinya tajam seolah dia tengah berpikir keras. Embun tahu, tetapi dia mengabaikannya. 

Jawaban Sus Anita lagi-lagi sama. Dia paham dan dia akan melakukannya. Mulai hari ini, Embun akan mengikuti permainan suaminya.

Raga ingin Embun pelan-pelan menjauhi Laksa, ‘kan? Dia akan melakukannya meskipun itu sangat menyakitkan untuk dilakukan. 

Sarapan selesai. Lebih tepatnya, Embun yang selesai lebih dulu. Dia beranjak, menyandang tasnya, lalu mencium pipi Laksa dengan gemas. 

“Mama pergi dulu, ya, Nak. Adek sama Sus Anita mulai hari ini.” 

Reaksi Laksa berbeda. Melihat ibunya dalam mode rapi membawa tas, batita itu tahu jika ibunya pasti akan pergi. Laksa lantas menangis. Memanggil Embun dengan keras sambil berteriak. 

Dia mencoba turun dari baby chair-nya untuk menyusul ibunya. Teriakan tangis itu tak mampu dicegah. Terlebih lagi ketika dia mendengar deruan mesin mobil yang lambat laun menghilang.

“Mama!” teriakan itu menggema. Kekacauan terjadi. Raga langsung bertindak. Dia menggendong Laksa dan berusaha untuk menenangkannya. 

Sayangnya, sampai dia harus pergi ke kantor pun, tangis Laksa tak bisa dihentikan. Sus Anita sudah mencoba membujuknya, tetapi sama sekali tidak mempan. 

“Mama ... Laksa mau Mama.” 

“Laksa sama Papa dulu, ya,” bujuk Raga. Namun, Laksa terus berteriak, menangis, dan memberontak untuk dilepaskan dari gendongan.

Raga hampir kacau karena menghadapi putranya sendiri. Selama ini yang menangani Laksa hanyalah Embun. Yang selalu Raga tahu, Laksa tidak pernah seemosional ini. 

Sayangnya hari ini berbeda. Batita itu memberontak dan terus menangis tanpa berhenti. 

“Laksa ikut Papa ke kantor, ya. Kita cari Mama.” Mendengar itu, tangis Laksa berangsur pelan.

“Mama,” bisiknya di antara sedu sedannya.

“Iya. Kita cari Mama.” Menatap Sus Anita, Raga langsung memberikan perintah. “Tolong siapkan barang-barang yang perlu dibawa, Sus. Kita ke kantor sekarang.” 

“Baik, Pak.” 

Sus Anita naik ke lantai dua untuk mengambil beberapa barang yang diperlukan untuk Laksa, sedangkan Raga membawa putranya itu keluar dari rumah. Mobil istrinya sudah tidak ada di sana dan Embun benar-benar pergi. 

Ini baru hari pertama, dan dia yakin Laksa akan terbiasa nantinya. Raga tidak akan terburu-buru menghubungi Embun karena kalau dia melakukannya, maka dia yang akan kalah. 

Sayangnya sampai sore, Embun tidak menghubungi siapa pun. Dia benar-benar menghilang tanpa kabar. Laksa yang sudah tidak bisa dibujuk saat pulang ke rumah tidak mendapati ibunya di rumah, dia terus berteriak. 

Dia tak mau makan, bahkan tidur saja tidak nyenyak. Hampir jam delapan malam, Embun pulang dan mendapati Laksa memanggil dirinya.

“Mama!” panggil Laksa saat Embun muncul di depannya. 

Tubuhnya memberontak dari gendongan Raga dan langsung beralih ke pelukan Embun. 

“Laksa cari Mama?” tanya Embun dengan lembut saat membawa batita itu duduk di sofa. 

“Iya.” 

“Laksa udah makan, Sus?” 

“Belum, Bu. Adek dari pagi tadi terus cari Ibu.” Sus Anita mengadu. 

“Maaf, ya, Sus. Sehari - dua hari mungkin akan seperti ini. Nanti lama-lama pasti akan terbiasa tanpa saya.” 

Sus Anita tampak bingung dan Embun justru tersenyum. “Sus Anita bisa istirahat. Malam ini biar saya yang ambil alih jaga Laksa.” 

Sus Anita hanya mengangguk dan pergi dari ruang keluarga. Raga sejak tadi tidak mengatakan apa pun dan hanya menjadi pihak pendengar. 

Jika dilihat dari ekspresi wajahnya, lelaki itu tampak kesal, tetapi dia tak bisa melakukan banyak hal. Ini kan yang dia inginkan? Ini kan keputusan terbaik yang sudah dia atur? 

Maka dia juga harus mendapatkan konsekuensinya. Raga mungkin menganggap kalau keadaan seperti ini akan bertahan beberapa hari saja, tetapi bagi Embun, dia tak akan membiarkan Laksa lepas darinya. 

Nanti siapa yang akan menang, biar waktu yang akan menjawab. 

*** 

“Kamu sudah mulai kerja?” 

Pertanyaan Raga menghentikan langkah Embun yang hampir keluar dari kamar. Laksa sudah tidur dan seperti biasa, dia akan tidur di kamar ayahnya. 

“Ya. Aku udah mulai kerja,” jawabnya singkat. 

“Aku tadi membawa Laksa ke kantor.” Raga mengutuk dirinya sendiri karena mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Namun, sudah kepalang tanggung. 

“Oh ... ya. Akan lebih baik begitu sembari dia bisa dekat dengan susternya.” 

“Kamu nggak tanya kenapa aku bawa dia ke kantor?” 

Embun diam. Dia membalikkan tubuhnya untuk menatap Raga yang tengah duduk di sofa kamarnya. 

“Kenapa aku harus tanya? Mungkin Mas Raga ingin lebih dekat dengan Laksa. Itu bagus.” 

“Tapi bukan karena itu, Embun.” Raga berdiri. Dia melangkah maju untuk mendekati istrinya. Ekspresi wajahnya kaku seolah ada tumpukan emosi di sana. “Kamu sepertinya nggak peduli dengannya sampai kamu meninggalkannya pun kamu nggak mencoba tanya keadaannya.” 

“Bukannya nggak peduli, aku harus membiasakan diriku untuk itu.” Embun tenang seolah dia benar-benar tidak terpancing oleh ucapan Raga. 

“Selain Laksa yang harus mulai membiasakan diri tanpa aku, aku juga harus membiasakan diri tanpa Laksa. Ini kan yang harus kami lakukan agar rencana Mas bisa berjalan?” 

Raga diam. Menatap Embun dengan lekat seolah dia tengah menghadapi lawan yang sepadan. 

“Untuk beberapa hari ke depan, mungkin lebih baik kalau Laksa memang harus Mas bawa ke kantor. Setidaknya kalau tanpa aku, dia harus dekat dengan ayahnya.” 

Melihat jam di nakas, sudah menunjukkan jam sepuluh malam. “Aku ke kamarku dulu. Aku harus istirahat.” 

Embun kali ini benar-benar keluar dari kamar suaminya menuju kamarnya sendiri. Langkahnya berat, dadanya sesak, air matanya hampir merebak. Namun, dia mencoba menguatkan dirinya.

Sampai di kamar, mengunci pintunya, barulah dia mengeluarkan tangis yang tak lagi dia tahan. Semoga saja dengan begini, Laksa justru tidak bisa jauh darinya. Tarik ulur untuk seorang batita itu memang agak riskan, tetapi dia harus melakukannya. 

Belum juga Embun tidur, ketukan pintu terdengar. Tangis Laksa terdengar begitu dekat dan itu pasti Raga yang membawa anaknya untuk bertemu Embun. 

“Mama!” Ketika Embun baru membuka pintu, Laksa langsung maju ke depan agar sang ibu bisa segera memeluknya. 

“Mama di sini, Sayang. Mama di sini.” Embun membiarkan Raga berdiri di ambang pintu dan dia memilih naik ke atas ranjang dan memberikan ASI untuk Laksa.

Raga tiba-tiba masuk ke dalam kamar Embun, tetapi Embun langsung menegur. 

“Nggak perlu ditungguin. Setelah Laksa tidur, aku akan langsung membawanya ke kamar kamu, Mas.” 

Pergerakan Raga terhenti membuat kecanggungan yang luar biasa. 

*** 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 6. Perasaan yang Berat

    “Aku sedang mendukung setiap keputusan yang kamu ambil.” Kalimat itu terdengar sangat manis untuk seorang istri baik hati yang penuh dukungan untuk sang suami. Namun, tentu itu seperti tamparan tak kasat mata yang Raga rasakan. Untuk keputusan besarnya, dia harus mengorbankan putranya sendiri. Batita yang masih bergantung pada ibunya itu diam-diam harus dijauhkan dari sosok yang selalu melindunginya. “Kemarin kamu nggak ke kantor.” Satu kalimat itu memecah hening yang beberapa saat lalu melingkupi mereka. Pernyataan Raga itu cukup mengejutkan untuk Embun. Dia bisa menebak kalau Raga mungkin sudah pergi ke kantornya untuk mencari tahu. Sayangnya, dia tidak merasa perlu panik atau menjelaskan apa pun kepada suaminya. Embun hanya perlu mengakui. “Aku kemarin memang nggak ke kantor. Lalu apa masalahnya?” “Kalau nggak ke kantor, lalu kamu ke mana?” tanya Raga penasaran.“Kenapa Mas ingin tahu?” Embun menatap Raga tanpa rasa takut. Ke mana pun Embun pergi, tidak ada hubungannya denga

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 5. Kekacauan

    Raga memilih tidak peduli dengan pengusiran halus yang diberikan Embun kepadanya. Lelaki itu memilih tetap masuk ke dalam kamar Embun dan duduk di sofa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Embun pun lantas memilih diam. Dia hanya fokus pada Laksa yang tengah menerima ASI darinya. Keheningan itu mencekam. Tidak ada obrolan seperti pasangan normal pada umumnya. “Mama.” Laksa menggenggam baju Embun dengan erat seolah dia takut ditinggal. Tidurnya pun tampak gelisah meskipun dia ada di dalam gendongan ibunya. Embun sadar kalau hal ini terjadi karena kejadian siang tadi. Yang Embun khawatirkan adalah bagaimana kalau ini menjadi trauma untuk Laksa? “Biar aku yang coba bawa.” Raga yang melihat itu pun langsung bertindak. Lelaki itu beranjak, kemudian dengan pelan mencoba mengambil alih Laksa ke dalam gendongannya. Namun, mata batita itu terbuka dan dia langsung menjerit. “Mama!” Dan dengan cepat menyambar baju yang dipakai Embun untuk berpegangan. “Mama di sini, Nak. Mama di sini.” Em

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 4. Langkah Awal

    “Hari ini saya mungkin akan di luar seharian, Sus Anita. Tolong jaga Laksa, ya. Ini pertama kalinya saya tinggal karena biasanya saya akan bawa dia ke mana saja.” Embun sengaja mengatakan itu di depan Raga saat mereka tengah sarapan. Untuk pertama kalinya, Laksa makan dengan disuapi oleh orang lain selain Embun. Tadinya batita itu menolak, tetapi Embun meneguhkan hatinya untuk tidak mengambil alih. Sakit memang melihat putranya menangis, tetapi dia harus kuat. “Baik, Bu.” Begitu jawab Sus Anita. “Kalau ada sesuatu, Sus Anita telepon papa Laksa aja, ya. Soalnya saya hari ini benar-benar nggak bisa diganggu.” Ketika Embun mengatakan itu, tatapan Raga langsung menyorot lurus pada sang istri. Kernyitan dahinya tajam seolah dia tengah berpikir keras. Embun tahu, tetapi dia mengabaikannya. Jawaban Sus Anita lagi-lagi sama. Dia paham dan dia akan melakukannya. Mulai hari ini, Embun akan mengikuti permainan suaminya.Raga ingin Embun pelan-pelan menjauhi Laksa, ‘kan? Dia akan melakukann

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 3. Keputusan Menyesakkan

    “Ibu, ada tamu yang ingin bertemu dengan Ibu." Embun yang sedang fokus pada Laksa itu menoleh menatap Bibi. Keningnya mengernyit karena merasa tidak sedang membuat janji dengan siapa pun. “Siapa, Bik?” tanyanya ingin tahu. “Seorang baby sitter, Bu.” Jantung Embun langsung berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Untuk beberapa waktu, Embun hanya diam, lalu mengangguk mengerti. “Saya turun setelah ini.” Begitu katanya yang membuat Bibi meninggalkan ruangan bermain Laksa.Embun mencoba untuk tenang meskipun dia merasa dunianya berguncang. Raga mewujudkan ucapannya. Laki-laki itu benar-benar merekrut pengasuh untuk Laksa tanpa pertimbangan apa pun. Tidak ingin berlarut pada pikirannya, Embun menggendong Laksa dan membawanya ke lantai satu untuk menemui baby sitter Laksa.“Maaf menunggu.” Masih dengan Laksa di gendongannya, Embun duduk tepat di depan seorang perempuan berseragam baby sitter. “Tidak apa-apa, Bu. Saya juga baru sampai.” Mereka berjabat tangan. Setelah itu saling mengen

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 2. Derai Tangis

    “Mama!” Panggilan bersamaan dengan derap langkah kecil membuat Embun menoleh. Aroma minyak telon bercampur parfum anak menguar tiada ampun. Sumbernya ada di belakangnya. Sudah memberikan senyum kecil menunjukkan gigi-gigi mungilnya. Embun mengernyit ketika tatapannya mengarah pada Laksa yang dengan sangat manis mendongak menatapnya. “Laksa udah mandi.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan untuk dirinya sendiri. Tak lama, derap langkah besar terdengar. Raga muncul, dengan pakaian kantornya. Mengelus ujung kepala Laksa sebelum duduk di kursi makan. Seperti biasanya, tidak ada sapaan untuk sang istri meskipun hanya sekedar basa-basi. “Mulai hari ini, biarkan aku saja yang memandikan Laksa setiap pagi.” Raga berucap datar. Embun sama sekali tidak tersinggung. Memang seperti inilah kehidupan rumah tangganya. Dingin luar biasa. Memasang senyum tulusnya, perempuan itu kini fokus pada Laksa. “Laksa wangi banget. Mandi sama Papa, ya?” Dengan sekali hentakan mengangkat Laksa ke dal

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 1. Perdebatan Malam

    Langkah kaki Embun sempoyongan ketika mendekati kamar yang letaknya hanya beberapa langkah dari kamarnya. Kepalanya pening luar biasa akibat tidurnya yang baru lima menit lalu terganggu oleh jerit tangis yang menyesakkan.Tanpa permisi, dia membuka pintu kamar tersebut dan mendapati Raga tengah mencoba menenangkan putranya. Tatapan mereka bertemu untuk sejenak sebelum Embun melanjutkan langkahnya mendekati lelaki itu.“Sini sama Mama,” katanya sambil meraih tubuh kecil Laksa yang sudah menggapai tangannya seolah meminta pertolongan.Raga menyerahkan bayi itu kepada Embun tanpa mengatakan sepatah kata pun. Embun bermaksud membawa pergi Laksa ke kamarnya ketika Raga menahannya.“Kamu bisa mengAsihi Laksa di sini,” katanya pelan. “Setelahnya dia akan tetap tidur denganku.”Embun hendak memprotes, tetapi urung saat dia mengingat bayi yang ada di gendongannya. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah menenangkan Laksa. Memberinya asi agar bayi itu bisa kembali tidur.Maka dia telan semua pro

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status