ANMELDEN
Langkah kaki Embun sempoyongan ketika mendekati kamar yang letaknya hanya beberapa langkah dari kamarnya. Kepalanya pening luar biasa akibat tidurnya yang baru lima menit lalu terganggu oleh jerit tangis yang menyesakkan.
Tanpa permisi, dia membuka pintu kamar tersebut dan mendapati Raga tengah mencoba menenangkan putranya. Tatapan mereka bertemu untuk sejenak sebelum Embun melanjutkan langkahnya mendekati lelaki itu.
“Sini sama Mama,” katanya sambil meraih tubuh kecil Laksa yang sudah menggapai tangannya seolah meminta pertolongan.
Raga menyerahkan bayi itu kepada Embun tanpa mengatakan sepatah kata pun. Embun bermaksud membawa pergi Laksa ke kamarnya ketika Raga menahannya.
“Kamu bisa mengAsihi Laksa di sini,” katanya pelan. “Setelahnya dia akan tetap tidur denganku.”
Embun hendak memprotes, tetapi urung saat dia mengingat bayi yang ada di gendongannya. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah menenangkan Laksa. Memberinya asi agar bayi itu bisa kembali tidur.
Maka dia telan semua protesnya dan berjalan mendekati sofa single yang menghadap ke balkon. Kemudian melakukan hal yang seharusnya dia lakukan. MengAsihi Laksa.
“Adek haus, ya?” gumamnya sambil menatap mata Laksa yang tampak mengantuk. Mengusap sisa air mata yang memenuhi wajahnya. “Nangisnya kenceng banget. Mama sampai kaget, lho.”
Kemudian ruangan itu kembali diliputi keheningan. Deruan AC, samar terdengar. Embun dengan penuh kasih sayang memberikan asupan kepada Laksa, memandanginya dengan penuh cinta.
Tak butuh waktu lama, bayi berusia 18 bulan itu sudah tenang dan kembali mengarungi mimpinya. Embun tersenyum, menciumi bayi itu dengan lembut, lalu mengembalikannya di box bayi setelah mengelus rambutnya dengan sayang.
Menatap Raga yang duduk di pinggir kasur, Embun memutus hening yang tercipta. “Biarkan Laksa tidur denganku lagi, Mas,” katanya meminta izin. “Kasihan dia kalau setiap malam harus terbangun dan menangis seperti itu. Tidurnya pasti terganggu.”
Sejak Raga memutuskan untuk membawa Laksa tidur di kamarnya, tidak ada semalam pun dilewati Laksa tanpa tangisan. Di waktu-waktu tertentu, bayi itu akan menjeritkan tangis seolah dia tak tahan berada di kamar sang ayah.
Jawaban tak langsung datang dari mulut Raga. Lelaki itu hanya diam sambil menatap Embun yang masih berdiri. Namun, selanjutnya suara beratnya terdengar.
“Kita nggak perlu membahas ini lagi. Sudah malam dan aku butuh istirahat.”
“Tolong pertimbangkan lagi, Mas.” Embun enggan menyerah. “Laksa masih membutuhkanku dan akan terus membutuhkanku. Bagaimanapun aku adalah ibunya.”
“Tapi aku ayahnya. Ayah kandungnya. Aku lebih berhak dari siapa pun.”
Ketegasan itu membuat Embun seketika terdiam. Hatinya nyeri luar biasa. Raga bersikap seolah Embun tidak memiliki hak atas Laksa dan itu sangat menyakitkan.
“Jadi kini kamu ingin membahas siapa yang lebih berhak atas Laksa?” tanyanya dengan suara serak. “Hanya karena aku bukan ibu yang melahirkannya, lalu kamu menganggap aku hanya orang lain untuk laksa. Begitu maksud kamu, Mas?”
“Aku tidak bicara seperti itu. Tapi, seharusnya kamu tidak perlu memprotes apa pun yang sudah aku putuskan untuk putraku.”
“Kita memang sudah sepakat untuk tidak melibatkan hidup kita untuk satu sama lain. Tapi Laksa tentu beda urusan.”
Mereka menikah karena keadaan yang rumit. Penolakan sudah diberikan, tetapi tak benar-benar mampu untuk dihindari.
Tidak ada cinta, tidak ada perasaan yang mengikat. Yang ada hanya kekosongan yang hakiki.
“Aku juga menginginkan yang terbaik untuk Laksa,” lanjut Embun.
“Dari keputusanku, mana yang tidak baik untuknya?” tanya Raga dengan dingin. “Aku hanya membawa Laksa tidur di kamarku saat malam hari. Apa yang salah dengan itu?”
“Memang tidak ada yang salah. Tapi harusnya kamu tahu, sejak kamu memindahkan dan membawanya tidur di kamar ini, nggak ada semalam pun dia nggak terbangun dan nangis.”
“Dan menangis itu wajar karena dia masih bayi, Embun”
Raga terus membantah ucapan istrinya meskipun dia sangat menyadari jika ucapan perempuan itu memang benar. Laksa sangat nyaman dengan keberadaan Embun di sisinya. Namun, Raga menolak pemikiran tersebut. Baginya, dia yang lebih daripada Embun.
Embun melangkah mendekati Raga, tetapi mengambil jarak yang cukup aman agar bisa berhadapan dengan lelaki itu secara langsung. “Laksa masih terlalu kecil untuk dipisahkan denganku, Mas.”
“Kamu mengatakan itu seolah kamu perlu menempuh puluhan kilometer untuk bertemu dengannya. Kamu tidak perlu menggunakan mobil untuk menemuinya, tidak juga perlu membeli tiket pesawat agar bisa melihatnya. Seharusnya kamu tidak perlu protes berlebihan seperti itu.”
Ingin rasanya Embun berteriak atau kalau bisa membuka tempurung kepala Raga agar ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki itu.
Mencoba mengais kesabarannya, Embun kembali bersuara, “Semua yang kamu lakukan ini jelas-jelas membuat pergerakanku terbatas, Mas. Aku bukan penculik yang akan membawa Laksa kabur malam-malam saat kamu tidur.”
“Membatasi pergerakan kamu? Kita berada di satu atap yang sama. Hanya perlu beberapa langkah kamu sudah bisa melihat Laksa saat mendengar dia menangis. Kenapa kamu harus mempersoalkan hal ini, Embun?”
Di hari pertama mereka menikah, keduanya sepakat untuk pisah kamar. Namun, saat itu Raga sama sekali tidak mempermasalahkan jika Laksa terus bersama dengan Embun.
Kemudian beberapa bulan yang lalu, Raga berulah. Malam itu dia mengetuk pintu kamar Embun dan membawa Laksa tidur di kamarnya. Sejak saat itu, setiap malam setelah Embun berhasil menidurkan Laksa, Raga akan memboyong putranya ke kamar pribadinya.
“Aku hadir bukan untuk menggantikan Mbak Senja, Mas,” ucap Embun dengan tegas. “Aku ada untuk melengkapi perannya yang tidak bisa dia jalankan.”
Kali ini Raga berdiri. Menampilkan ekspresi tidak senang karena Embun membawa nama mendiang istrinya. Di kamar yang temaram itu, Embun bisa melihat wajah tidak bersahabat suaminya.
“Sudah cukup membahas masalah yang tidak akan pernah mendapatkan titik temu. Dan mari kita sudahi pembahasan ini. Aku udah lelah dan butuh istirahat.”
Lelaki itu membuka pintu kamarnya lebar mengatakan secara nonverbal kepada Embun jika perempuan itu boleh keluar. Demi Tuhan, menghadapi Raga terlalu melelahkan untuk Embun.
Alih-alih bergerak dari tempatnya berdiri, Embun justru melanjutkan debat malam yang sepatutnya diakhiri.
Pernikahan mereka baru berjalan selama satu tahun terakhir dengan masa depan yang abu-abu. Namun, lelahnya sudah luar biasa.
“Laksa adalah permata indah yang ditinggalkan Mbak Senja untukku, Mas ….”
“Pun denganku,” potong Raga dengan cepat. Matanya menatap Embun dengan tajam seolah dia mampu menguliti istrinya dengan tatapannya. “Dia satu-satunya simbol cinta kami yang ditinggalkan Senja untukku,” ucapnya menegaskan membuat Embun terpaku.
Raga mengusap wajahnya kasar, napasnya terasa berat seolah oksigen di dalam kamar tersebut tidak cukup memenuhi paru-parunya. Senja adalah separuh jiwanya. Ketika perempuan itu harus pergi saat melahirkan Laksa, sebagian jiwa Raga juga ikut terkubur bersama jasad mendiang istrinya.
Embun tidak membalas apa pun ketika memutuskan untuk keluar dari kamar Raga. Dadanya sesak luar biasa, air matanya meluncur begitu saja tanpa bisa dicegah. Ada satu hal yang dia sadari, dia mencintai, tapi tak bisa benar-benar memiliki.
***
Raga memilih tidak peduli dengan pengusiran halus yang diberikan Embun kepadanya. Lelaki itu memilih tetap masuk ke dalam kamar Embun dan duduk di sofa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Embun pun lantas memilih diam. Dia hanya fokus pada Laksa yang tengah menerima ASI darinya. Keheningan itu mencekam. Tidak ada obrolan seperti pasangan normal pada umumnya. “Mama.” Laksa menggenggam baju Embun dengan erat seolah dia takut ditinggal. Tidurnya pun tampak gelisah meskipun dia ada di dalam gendongan ibunya. Embun sadar kalau hal ini terjadi karena kejadian siang tadi. Yang Embun khawatirkan adalah bagaimana kalau ini menjadi trauma untuk Laksa? “Biar aku yang coba bawa.” Raga yang melihat itu pun langsung bertindak. Lelaki itu beranjak, kemudian dengan pelan mencoba mengambil alih Laksa ke dalam gendongannya. Namun, mata batita itu terbuka dan dia langsung menjerit. “Mama!” Dan dengan cepat menyambar baju yang dipakai Embun untuk berpegangan. “Mama di sini, Nak. Mama di sini.” Em
“Hari ini saya mungkin akan di luar seharian, Sus Anita. Tolong jaga Laksa, ya. Ini pertama kalinya saya tinggal karena biasanya saya akan bawa dia ke mana saja.” Embun sengaja mengatakan itu di depan Raga saat mereka tengah sarapan. Untuk pertama kalinya, Laksa makan dengan disuapi oleh orang lain selain Embun. Tadinya batita itu menolak, tetapi Embun meneguhkan hatinya untuk tidak mengambil alih. Sakit memang melihat putranya menangis, tetapi dia harus kuat. “Baik, Bu.” Begitu jawab Sus Anita. “Kalau ada sesuatu, Sus Anita telepon papa Laksa aja, ya. Soalnya saya hari ini benar-benar nggak bisa diganggu.” Ketika Embun mengatakan itu, tatapan Raga langsung menyorot lurus pada sang istri. Kernyitan dahinya tajam seolah dia tengah berpikir keras. Embun tahu, tetapi dia mengabaikannya. Jawaban Sus Anita lagi-lagi sama. Dia paham dan dia akan melakukannya. Mulai hari ini, Embun akan mengikuti permainan suaminya.Raga ingin Embun pelan-pelan menjauhi Laksa, ‘kan? Dia akan melakukann
“Ibu, ada tamu yang ingin bertemu dengan Ibu." Embun yang sedang fokus pada Laksa itu menoleh menatap Bibi. Keningnya mengernyit karena merasa tidak sedang membuat janji dengan siapa pun. “Siapa, Bik?” tanyanya ingin tahu. “Seorang baby sitter, Bu.” Jantung Embun langsung berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Untuk beberapa waktu, Embun hanya diam, lalu mengangguk mengerti. “Saya turun setelah ini.” Begitu katanya yang membuat Bibi meninggalkan ruangan bermain Laksa.Embun mencoba untuk tenang meskipun dia merasa dunianya berguncang. Raga mewujudkan ucapannya. Laki-laki itu benar-benar merekrut pengasuh untuk Laksa tanpa pertimbangan apa pun. Tidak ingin berlarut pada pikirannya, Embun menggendong Laksa dan membawanya ke lantai satu untuk menemui baby sitter Laksa.“Maaf menunggu.” Masih dengan Laksa di gendongannya, Embun duduk tepat di depan seorang perempuan berseragam baby sitter. “Tidak apa-apa, Bu. Saya juga baru sampai.” Mereka berjabat tangan. Setelah itu saling mengen
“Mama!” Panggilan bersamaan dengan derap langkah kecil membuat Embun menoleh. Aroma minyak telon bercampur parfum anak menguar tiada ampun. Sumbernya ada di belakangnya. Sudah memberikan senyum kecil menunjukkan gigi-gigi mungilnya. Embun mengernyit ketika tatapannya mengarah pada Laksa yang dengan sangat manis mendongak menatapnya. “Laksa udah mandi.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan untuk dirinya sendiri. Tak lama, derap langkah besar terdengar. Raga muncul, dengan pakaian kantornya. Mengelus ujung kepala Laksa sebelum duduk di kursi makan. Seperti biasanya, tidak ada sapaan untuk sang istri meskipun hanya sekedar basa-basi. “Mulai hari ini, biarkan aku saja yang memandikan Laksa setiap pagi.” Raga berucap datar. Embun sama sekali tidak tersinggung. Memang seperti inilah kehidupan rumah tangganya. Dingin luar biasa. Memasang senyum tulusnya, perempuan itu kini fokus pada Laksa. “Laksa wangi banget. Mandi sama Papa, ya?” Dengan sekali hentakan mengangkat Laksa ke dal
Langkah kaki Embun sempoyongan ketika mendekati kamar yang letaknya hanya beberapa langkah dari kamarnya. Kepalanya pening luar biasa akibat tidurnya yang baru lima menit lalu terganggu oleh jerit tangis yang menyesakkan.Tanpa permisi, dia membuka pintu kamar tersebut dan mendapati Raga tengah mencoba menenangkan putranya. Tatapan mereka bertemu untuk sejenak sebelum Embun melanjutkan langkahnya mendekati lelaki itu.“Sini sama Mama,” katanya sambil meraih tubuh kecil Laksa yang sudah menggapai tangannya seolah meminta pertolongan.Raga menyerahkan bayi itu kepada Embun tanpa mengatakan sepatah kata pun. Embun bermaksud membawa pergi Laksa ke kamarnya ketika Raga menahannya.“Kamu bisa mengAsihi Laksa di sini,” katanya pelan. “Setelahnya dia akan tetap tidur denganku.”Embun hendak memprotes, tetapi urung saat dia mengingat bayi yang ada di gendongannya. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah menenangkan Laksa. Memberinya asi agar bayi itu bisa kembali tidur.Maka dia telan semua pro







