Masuk“Mama!”
Panggilan bersamaan dengan derap langkah kecil membuat Embun menoleh. Aroma minyak telon bercampur parfum anak menguar tiada ampun. Sumbernya ada di belakangnya. Sudah memberikan senyum kecil menunjukkan gigi-gigi mungilnya. Embun mengernyit ketika tatapannya mengarah pada Laksa yang dengan sangat manis mendongak menatapnya. “Laksa udah mandi.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan untuk dirinya sendiri. Tak lama, derap langkah besar terdengar. Raga muncul, dengan pakaian kantornya. Mengelus ujung kepala Laksa sebelum duduk di kursi makan. Seperti biasanya, tidak ada sapaan untuk sang istri meskipun hanya sekedar basa-basi. “Mulai hari ini, biarkan aku saja yang memandikan Laksa setiap pagi.” Raga berucap datar. Embun sama sekali tidak tersinggung. Memang seperti inilah kehidupan rumah tangganya. Dingin luar biasa. Memasang senyum tulusnya, perempuan itu kini fokus pada Laksa. “Laksa wangi banget. Mandi sama Papa, ya?” Dengan sekali hentakan mengangkat Laksa ke dalam gendongannya. Menciumi pipi bayi itu dengan gemas. Menghempaskan segala pikiran aneh yang tiba-tiba menelusup di dalam kepalanya. Hari ini untuk pertama kalinya, Raga memadikan Laksa. Biasanya, Embun lah yang bertugas melakukannya. “Papa,” jawab Laksa dengan lantang sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Embun. “Mama, nen,” katanya setelah itu membuat Embun terkekeh kecil. “Jangan Asihi Laksa dulu. Dia harus sarapan terlebih dulu.” Raga menahan langkah Embun yang ingin meninggalkan meja makan. “Dia nggak jadi sarapan kalau udah kenyang.” “Aku hanya akan memberinya sedikit,” bantah Embun. “Duduk!” perintah Raga dengan tatapan tegasnya. “Kita sarapan sekarang.” Terlalu pagi untuk berdebat. Oleh karena itu, Embun memilih untuk menurut. Dia dudukkan Laksa di baby chair, lalu meletakkan sarapan di depannya. “Kita sarapan dulu, ya. Setelah itu, Laksa bisa nen Mama.” “No!” Laksa menggeleng tidak terima. “Mama nen.” “Laksa!” panggil Raga. “Kita sarapan dulu, oke!” “No, Papa! No!” tolak Laksa dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Meskipun dia masih terbatas dalam bicara, tetapi sudah tahu apa yang diinginkan. “Oke, Mama akan suapi Laksa. Kalau Laksa nggak mau sarapan, Laksa nggak akan dapat nen-nya.” Embun angkat bicara. Baginya, untuk mendidik Laksa, dia harus bekerja sama dengan Raga. Suara lembut Embun nan tegas itu membuat Laksa akhirnya bisa berdamai. Bocah itu bersedia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Embun. Sarapan berjalan dengan hening. Hanya dentingan sendok beradu dengan piring yang terdengar. Laksa pun dengan tenang menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh Embun. “Aku selesai. Aku berangkat dulu,” pamitnya. Lalu mendekati Laksa, dan mencium putranya itu dengan gemas. Tidak ada kecupan hangat untuk Embun. Bahkan ketika Raga mengulurkan tangannya kepada Laksa untuk bersalaman, tidak berlaku untuk Embun. Raga pergi begitu saja setelah itu tanpa meninggalkan basa-basi apa pun. Embun tidak sakit hati. Memang begitulah rumah tangganya berjalan, sebab tidak ada cinta di antara mereka. Mereka ada hanya untuk Laksa. *** “Tolong antar Laksa ke kamarku.” Embun yang mendengar suara suaminya itu menggeser tubuhnya dari depan kulkas. Tatapannya mengarah pada Raga yang tengah mengambil minuman cola dari dalam lemari pendingin itu sebelum menenggaknya. Laki-laki itu baru saja dari kamarnya dan menyelesaikan pekerjaan kantornya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan sudah waktunya laki-laki itu tidur. Itulah kenapa dia meminta Embun untuk mengantarkan Laksa ke kamarnya. Embun memilih tidak menjawab. Dia duduk dan membawa serta gelas yang baru saja digunakan untuk minum. Tatapannya fokus pada benda itu seolah dia baru saja melihatnya seumur hidup. Raga yang melihat itu ikut bergabung. Duduk di sisi meja yang lain, tetapi tidak benar-benar berhadapan dengan istrinya. “Kalau kamu ingin kembali kerja, kamu bisa melakukannya.” Kalimat itu membuat Embun menoleh menatap sang suami. Raga tidak membalas menatapnya dan hanya menatap depan seakan tidak ada orang lain di meja itu. “Aku sudah pikirkan ini matang-matang dan aku sudah mulai mencari baby sitter untuk Laksa. Dia harus terbiasa tanpa kamu.” Detik itu juga, kepalan tangan Embun menguat. Ada perasaan marah yang hampir meledak dari dalam kepalanya. Raga benar-benar melakukannya, tanpa berdiskusi apa pun dengannya. “Dan kamu nggak rundingkan apa pun dulu denganku, Mas?” Raga menoleh menatap Embun. Ekspresinya datar seperti biasa. “Tidak semua hal harus kita rundingkan, Embun. Terutama menyangkut Laksa.” “Justru karena menyangkut Laksa, kita harusnya berunding lebih dulu, Mas.” “Dan kamu harus ingat satu hal, Laksa putraku dan aku tahu yang terbaik untuknya.” “Termasuk memilihkan pengasuh sedangkan di sini aku berdiri sebagai istrimu dan ibu Laksa?” Raga diam. Tatapannya menghunus tajam. Kepalannya membulat kuat. “Kamu berpikir pengasuh di luar sana lebih baik dari aku sampai kamu memutuskan untuk menggantikan posisiku dengan mereka?” Mata Embun sudah memerah. Tangis itu seakan ingin merebak, tetapi dia tahan mati-matian. Berusaha untuk tidak terlihat lemah di depan suaminya. “Aku akan membebaskanmu dari tugas yang seharusnya tidak pernah kamu emban.” Kalimat itu menampar Embun dengan kuat. Tubuhnya bahkan terasa bergetar. Jantungnya bertalu kuat. “Jadi, selama hampir dua tahun ini, kamu menganggap aku hanya melakukan tugas, Mas? Aku nggak pernah minta kamu menganggapku istrimu, tapi Laksa, dia anakku. Aku yang merawatnya dari dia masih bayi, aku berusaha keras agar aku bisa menjadi ibu yang tidak mengecewakan. Dan kamu anggap semua ini hanya tugas?” Raga diam. Dia hanya menatap Embun dengan ekspresi datar meskipun rahangnya mengetat kuat. “Sekarang kamu diam-diam ingin menjauhkan aku dengan Laksa dengan cara seperti ini? Mengusirku secara terstruktur sebelum kamu menghubungi pengacara untuk menceraikanku?” Embun tak bisa lagi menahan tangisnya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil tergugu. Ini sangat menyakitkan. “Pernikahan ini cepat atau lambat memang harus berakhir, ‘kan?” kata Raga tanpa perasaan. “Nggak mungkin selamanya kita bersama meskipun kita melakukannya atas nama Laksa. Mulai sekarang kamu juga harus mulai bisa menjauh dari Laksa sebelum dia benar-benar tidak bisa berpisah denganmu.” “Laksa anakku, Mas. Laksa anakku!” Embun sedikit berteriak mengeluarkan sesak yang menembus jantungnya. “Kamu nggak berhak memintaku untuk meninggalkan dia.” “Tapi aku ayah biologisnya. Aku yang lebih berhak dari siapa pun termasuk kamu yang selalu menganggap dirimu sebagai ibu Laksa.” “Tapi ada darahku yang mengalir di tubuhnya. Ada asiku yang membuat dia bertumbuh sampai sekarang.” Embun kacau. Kata-kata yang dikeluarkan oleh Raga seperti pedang panjang yang menghunus dan merobek perasaannya. Tatapan mereka bertemu seolah siap untuk bertempur. Raga benar-benar keterlaluan. Selama ini Embun tidak pernah menuntut apa pun darinya karena dia tahu itu tidak mungkin. Namun, Laksa. Jelas ini beda cerita. “Aku akan membawa Laksa ke kamarku.” Raga memutus perdebatan itu dengan beranjak. Mengabaikan tangis istrinya yang berderai menyesakkan. “Selamat malam.” Ruangan itu seketika hening saat Raga meninggalkan meja makan. Menyisakan Embun yang masih meratapi kesedihannya seorang diri. Kenapa Tuhan memberikannya ujian semenyakitkan ini kepadanya? Keberadaannya tidak pernah benar-benar dianggap ada oleh suaminya sendiri, bahkan cepat atau lambat, dia akan terusir dari posisinya. ***Raga mengernyit ketika pagi ini, Embun sibuk di dapur. Yang menjadi pertanyaan besar di dalam kepalanya adalah saat ada kotak bekal di atas kitchen island. Beberapa sarapan sudah tersaji di atas meja makan dan kopi Raga pun sudah siap diminum. Raga masih masih belum mengatakan apa pun dan terus menebak-nebak. Sayangnya dia tak tahan untuk tidak bertanya. Secara kebetulan, Bibi sedang meletakkan ayam kecap di atas meja. “Mau ada acara, Bik?” tanya Raga setelah menyeruput kopinya. “Embun sepertinya sibuk banget.” Setiap pagi, Embun memang selalu menyiapkan sarapan untuknya. Namun, hari ini sepertinya berbeda. “Ibu sedang masak untuk makan siang, Pak.” “Makan siang?” Raga tentu heran. Selama ini dia tak pernah memiliki permintaan untuk dibawakan bekal oleh Embun. Sekarang pun sama. Lantas, untuk siapa Embun membuatkan makan siang? Satu nama terlintas di kepalanya dan wajah laki-laki asing yang ditemuinya hari itu terbayang di matanya. Raga mengetatkan rahangnya. Ekspresi dingin l
Malam itu terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Embun tidak terbiasa tidur dengan orang lain di sebelahnya setelah suaminya meninggal. Pasca menikah kembali dengan Raga pun, mereka tidak tinggal di kamar yang sama. Jadi, sekarang terasa asing dengan situasi seperti ini. Raga berbaring di sisi lain ranjangnya dengan Laksa berada di tengah-tengah mereka. Embun praktis tidak bisa tidur meskipun dia memejamkan matanya dan berusaha terlihat sudah terlelap. “Kamu sudah tidur, Embun?” Tiba-tiba saja suara itu terdengar. Tidak keras, hanya terdengar rendah bak bisikan. Mata Embun terbuka. Dia menatap Raga yang ternyata sedang menatapnya. “Ada apa, Mas?” tanya Embun tak kalah lirihnya. Takut kalau-kalau suaranya akan membangunkan Laksa. Untuk beberapa waktu, Raga tidak mengatakan apa pun. Dia hanya terus menatap Embun dalam keremangan lampu kamar. “Kalau ada yang mau dibicarakan, silakan bicarakan, Mas. Aku mau tidur.” Raga pada akhirnya menggeleng. “Nggak jadi. Tidur saja.” Lalu
“Harusnya kamu nggak perlu nganterin aku sampai ke rumah.” Embun tidak mengizinkan Samuel mampir ke rumahnya. Samuel pun juga tetap berada di dalam mobil dengan membuka jendelanya, sehingga dia masih bisa berbicara dengan Embun. “Sekarang aku udah sampai dengan selamat dan kamu sudah boleh pergi.” Samuel tersenyum kecil. “Kalau ada sesuatu yang nggak menyenangkan, kamu bisa hubungi aku. Aku akan membawamu pergi ke tempat di mana nggak akan ada orang yang menyakitimu.” Setiap kata yang disampaikan oleh Samuel, seperti ada arti besar yang tersembunyi. Namun, Embun tidak ingin terlalu banyak membahas hal tersebut.Dia hanya mengangguk tanda setuju. Atau sebenarnya agar segalanya cepat selesai. “Aku pulang. Salam buat Laksa.” “Akan aku sampaikan.” Samuel belum pernah melihat batita itu secara langsung dan hanya dari foto yang terkadang Embun kirimkan kepadanya. Mungkin suatu saat nanti dia bisa bertemu dengan bocah menggemaskan itu. Mobil Samuel pergi meninggalkan rumah besar yang d
Jauh di dalam hati Embun, sebenarnya dia tidak ingin menjadi janda untuk kedua kalinya. Namun, perpisahan dengan Raga juga sudah ada di depan mata. Setidaknya selama beberapa bulan kedepan setelah Laksa berusia 2 tahun, dia dan Raga akan berpisah. Lantas, setelah perceraiannya dengan Raga, apa yang akan dilakukan? Menikah lagi dan menjalani hubungan baru? Memiliki anak sendiri dengan suami yang mencintainya, atau dia akan berharap tetap bisa bersama Laksa meskipun dia sudah tidak lagi menjadi istri Raga? “Embun!” Samuel memecah semua bayangan yang bergerombol di dalam kepalanya. Embun tampaknya sedang melamun terlalu jauh. “Sorry, Sam. Aku melamun.” “Kamu sepertinya terkejut dengan ucapanku.” Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Embun, tapi dia mengangguk setelahnya. “Iya. Tiba-tiba banget kamu bicara soal nikah.” “Karena aku nggak mau ketikung lagi." Begitu katanya dengan sedikit bercanda. “Aku nggak mau ada yang ketiga kalinya, Embun. Setelah Ricky, lalu sekarang kakak i
Embun tidak bisa menahan kekesalannya kepada Raga. Tidak ada manusia mana pun yang mau dibandingkan dengan manusia lainnya. Terlebih lagi, dibandingkan dengan saudaranya sendiri yang mana, saudaranya bahkan sudah tidak ada lagi di dunia ini.Setelah perdebatan itu, mereka tampak bersikap dingin satu sama lain sampai keesokan paginya. Embun tampak tidak peduli dengan Raga yang duduk tepat di depannya. Dia hanya peduli dengan Laksa dan sesekali tersenyum melihat putranya. “Sus Anita, nanti saya pergi sebentar. Tolong bawa Laksa ke belakang dulu biar nggak lihat saya pergi.” Pasalnya, kalau Laksa tahu ibunya akan pergi tanpa dia, batita itu akan menangis. Embun tahu diri untuk tidak lagi meminta izin kepada Raga agar bisa membawa Laksa. “Iya, Bu.” Raga tidak mengatakan apa pun, tetapi tampak sekali ekspresi tidak senangnya. Dia sudah melarang Embun pergi, tetapi istrinya itu sama sekali tidak mengindahkannya. “Kamu mau tetap pergi?” Pada akhirnya Raga bersuara. “Bukannya aku sudah n
Malam ini Embun tidak bisa tidur. Tentu ini bukan pertama kalinya Laksa demam, itulah kenapa dia tidak begitu gugup membawanya ke dokter. Dia terus memantau demam putranya dan memastikan plester penurun panasnya berfungsi dengan baik. Sesekali dia akan ketiduran dan terbangun kembali saat ada pergerakan dari Laksa. Di sisi ranjang yang lain, Raga tengah tidur. Lelaki itu pasti kelelahan setelah seharian bekerja. Jadi, Embun membiarkan. “Mama.” Sedikit rengekan dari Laksa membuat Embun lagi-lagi membuka matanya. Padahal dia baru saja hampir tidur. “Mama di sini, Laksa.” Sepertinya batita itu butuh asupannya. Oleh karena itu, dia memberikannya asi dan Laksa langsung menerimanya. Sedikit demi sedikit, Embun sudah mulai menjauhkan Laksa dari asinya. Jadi, batita itu sudah tidak begitu ketergantungan. Hanya saja, keberadaan Embun tetap saja masih sangat dibutuhkan oleh Laksa. Wacana Raga untuk menjauhkan Laksa dengan Embun tentu bukanlah hal yang seharusnya. Tanpa terasa, Embun akhir







