Home / Romansa / Menikahi Suami Kakakku / Part 5. Kekacauan

Share

Part 5. Kekacauan

Author: Loyce
last update publish date: 2026-08-21 06:54:42

Raga memilih tidak peduli dengan pengusiran halus yang diberikan Embun kepadanya. Lelaki itu memilih tetap masuk ke dalam kamar Embun dan duduk di sofa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. 

Embun pun lantas memilih diam. Dia hanya fokus pada Laksa yang tengah menerima ASI darinya. Keheningan itu mencekam. Tidak ada obrolan seperti pasangan normal pada umumnya. 

“Mama.” Laksa menggenggam baju Embun dengan erat seolah dia takut ditinggal. Tidurnya pun tampak gelisah meskipun dia ada di dalam gendongan ibunya. 

Embun sadar kalau hal ini terjadi karena kejadian siang tadi. Yang Embun khawatirkan adalah bagaimana kalau ini menjadi trauma untuk Laksa? 

“Biar aku yang coba bawa.” Raga yang melihat itu pun langsung bertindak. 

Lelaki itu beranjak, kemudian dengan pelan mencoba mengambil alih Laksa ke dalam gendongannya. Namun, mata batita itu terbuka dan dia langsung menjerit. 

“Mama!” Dan dengan cepat menyambar baju yang dipakai Embun untuk berpegangan. 

“Mama di sini, Nak. Mama di sini.” Embun langsung mengambil alih kembali dan membawanya ke sudut ruangan. Menepuk pelan punggung Laksa dengan lembut memberikan kenyamanan. 

Pemandangan itu seharusnya cukup mampu menyadarkan Raga jika putranya masih sangat membutuhkan ibunya. Namun, bagi Raga tidak begitu. Seiring berjalannya waktu, Laksa pasti akan terbiasa dengan ketidakberadaan Embun di sisinya. 

“Kamu mending pindah ke kamar kamu aja, Mas.” Embun lagi-lagi mengusir Raga dari kamarnya.

Bukannya apa-apa, laki-laki tidur sambil duduk dan itu terlihat sangat tidak nyaman. Raga membuka matanya dan melihat Embun masih menggendong Laksa. 

“Aku nunggu Laksa nyenyak biar dia bisa tidur sama aku.” Benar, ‘kan? Raga masih keras kepala tetap ingin Laksa bersama meskipun dia tahu batita itu butuh Embun dibandingkan dengannya. 

Embun tidak banyak bicara. Perempuan itu keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Raga. Meletakkan Laksa di box bayi, dan menepuk pelan kaki Laksa dengan lembut saat tidurnya mulai gelisah. 

Embun bahkan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuat Laksa benar-benar tenang dalam tidurnya. 

“Kalau Laksa mulai gelisah dan nangis, Mas harus bisa mencoba menenangkannya.” Embun mengonfrontasi. “Waktu kita nggak banyak untuk sampai perceraian. Sebagai ayah, Mas juga harus bisa menenangkan Laksa tanpa bantuan siapa pun termasuk aku. Jadi, kalau malam ini Laksa bangun lagi, cobalah untuk membuatnya diam tanpa mengetuk pintu kamarku.” 

Setelah mengatakan itu, Embun memilih pergi dari kamar Raga meninggalkan lelaki itu yang diam tanpa suara. Sebagai seorang ibu yang ingin dipisahkan dengan putranya, tentu hal itu sangat menyakitkan bagi Embun. Namun, sikap Raga juga sangat menjengkelkan.

Sudah tahu putranya gelisah tanpa ibunya, dia masih bersikeras untuk tetap meminta Embun agar Laksa tidur di kamarnya. Maka dari itu, Embun juga harus memberinya peringatan keras. 

Keesokan harinya, kekacauan itu kembali terjadi. Embun pergi pagi-pagi sekali. Dia tak sarapan, tidak menyapa Laksa, seolah dia pergi tanpa jejak. 

“Kalian nggak ada yang tahu ke mana perginya ibunya Laksa?” Raga yang sudah lelah tidak mampu menghentikan rengekan Laksa itu langsung menyidang semua pekerjanya di rumah.

Mulai dari ART sampai sopir dan tukang kebunnya. Mereka semua dipanggil hanya untuk mendapatkan ceramah pagi darinya. 

“Saya tahu Ibu keluar, Pak. Habis subuh tadi. Rapi banget seperti mau berangkat kerja.” Tukang kebunnya yang berbicara. Pasalnya, laki-laki itu juga bertugas membuka pintu pagar sehingga tahu pasti siapa yang keluar masuk dari rumah. 

“Kenapa dia harus pergi sepagi itu?” Raga kali ini benar-benar geram. “Bahkan OB pun masih tidur nyenyak di rumahnya.” 

Laksa ini benar-benar tidak bisa diatasi kalau bukan dengan Embun. Sus Anita pun sudah berusaha, tetapi itu hanya berhasil sebentar sebelum Laksa kembali ingat dengan ibunya dan menangis kencang. 

Raga memijat pelipisnya merasa denyutan di kepalanya. Dia tak bisa meninggalkan Laksa dalam keadaan seperti sekarang. Namun, dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.

“Bapak ke kantor saja. Saya janji saya akan menjaga Laksa, Pak.” Sus Anita memberanikan diri untuk bicara. “Kalau Laksa diajak ke kantor, justru dia nggak tenang, Pak.” 

Kemarin saja, Sus Anita harus mengajak Laksa keluar dari ruangan Raga agar tidak merasa terkurung. Ini sungguh pekerjaan yang cukup sulit bagi Sus Anita untuk bisa ‘menaklukkan’ Laksa. 

“Suster yakin?” tanyanya sambil menatap Laksa yang kali ini ada di dekapan Sus Anita. Cukup tenang, tetapi dia tak tahu akan sampai kapan. 

“Iya, Pak.” 

Oleh karena itu, Raga pada akhirnya berangkat ke kantor dengan perasaan yang tidak tenang. Dia khawatir dengan Laksa dan itu mutlak. Untuk pertama kalinya, Laksa tidak mendapatkan pengawasan dari kedua orang tuanya secara langsung. 

Raga menyetir mobilnya dengan kecepatan yang lumayan. Alih-alih pergi ke kantornya sendiri, lelaki itu justru mengambil jalur lain untuk pergi ke tempat yang tidak seharusnya. 

“Ibu ada di ruangannya?” tanya Raga kepada satpam kantor keluarga istrinya. 

“Nggak ada, Pak. Beliau belum ada datang ke kantor.” 

“Belum ada?” Raga mengernyit heran. “Kemarin?” 

“Kemarin Ibu juga nggak ada datang ke kantor, Pak. Saya lihat Ibu datang ke kantor beberapa bulan lalu, itu pun nggak lama.” Raga otomatis diam. 

Sejak mereka menikah dan Embun fokus pada Laksa, perempuan itu memang jarang ke kantor. Dia memilih meminta stafnya untuk mengirimkan beberapa dokumen ke rumah. 

Lalu, ke mana perginya perempuan itu? Kira-kira begitulah Raga bertanya kepada dirinya sendiri. 

Memilih untuk tidak memperpanjang, Raga akhirnya pergi dari sana. Dia akan kembali ke kantornya karena masih ada banyak hal yang perlu dia kerjakan dibandingkan harus mencari tahu keberadaan istrinya. 

Akan tetapi, seakan semesta telah mempermainkannya, dia melihat Embun ada bersama dua orang laki-laki. Mereka tampak akrab dan bahkan saling bercanda. Raga melihat Embun di kedai bubur tak jauh dari kantornya. 

‘Apa-apaan ini,’ katanya pada dirinya sendiri dan langsung menghentikan mobilnya. Mendekati Embun dan berdehem pelan untuk menarik perhatian istrinya. 

“Lho, Mas.” Embun bereaksi santai. “Kok ada di sini?” 

“Aku yang harusnya tanya. Kenapa kamu ada di sini sepagi ini?” 

“Oh ... aku lagi sarapan. Mas udah sarapan?” 

Raga mengetatkan rahangnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang, tetapi dia merasa tidak senang dengan sikap Embun. 

Terlebih lagi dia sekarang tidak sendirian. Dia bersama dengan dua laki-laki yang Raga bahkan tidak mengenal mereka siapa.

Memangnya sejak kapan Raga tahu tentang Embun? Bahkan sekedar tahu warna kesukaannya saja tidak. 

“Mbun. Kalau gitu kami cabut deh. Udah waktunya masuk kantor juga. Entar kapan-kapan kita ketemu buat bahas yang ini.” 

Ketegangan Raga buyar ketika salah satu teman Embun bersuara. Embun langsung mengangguk cepat sebagai tanggapan.

“Boleh-boleh. Gue punya banyak waktu kok. Entar lo hubungi gue aja gimana fix-nya.” 

“Oke. Kalau gitu kami balik. Mari.” Kata terakhir itu ditujukan kepada Raga yang masih berdiri bak patung hidup. 

Kepergian dua orang itu lantas membuat Raga fokus pada Embun. Dia tatap istrinya yang juga tengah menatapnya itu dengan ekspresi muram luar biasa.

“Kamu pagi-pagi sekali pergi dari rumah hanya untuk bertemu dengan dua laki-laki itu?” tanyanya dengan nada menuduh. “Kamu nggak tahu kekacauan apa yang terjadi di rumah?” 

Embun tersenyum kecil. “Kekacauan apa, Mas? Laksa ngamuk lagi? Bukannya kamu harus membiasakannya tanpa aku? Aku sekarang sedang mendukung setiap keputusan yang kamu ambil. Jadi, ini memang harus terjadi.” 

*** 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 6. Perasaan yang Berat

    “Aku sedang mendukung setiap keputusan yang kamu ambil.” Kalimat itu terdengar sangat manis untuk seorang istri baik hati yang penuh dukungan untuk sang suami. Namun, tentu itu seperti tamparan tak kasat mata yang Raga rasakan. Untuk keputusan besarnya, dia harus mengorbankan putranya sendiri. Batita yang masih bergantung pada ibunya itu diam-diam harus dijauhkan dari sosok yang selalu melindunginya. “Kemarin kamu nggak ke kantor.” Satu kalimat itu memecah hening yang beberapa saat lalu melingkupi mereka. Pernyataan Raga itu cukup mengejutkan untuk Embun. Dia bisa menebak kalau Raga mungkin sudah pergi ke kantornya untuk mencari tahu. Sayangnya, dia tidak merasa perlu panik atau menjelaskan apa pun kepada suaminya. Embun hanya perlu mengakui. “Aku kemarin memang nggak ke kantor. Lalu apa masalahnya?” “Kalau nggak ke kantor, lalu kamu ke mana?” tanya Raga penasaran.“Kenapa Mas ingin tahu?” Embun menatap Raga tanpa rasa takut. Ke mana pun Embun pergi, tidak ada hubungannya denga

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 5. Kekacauan

    Raga memilih tidak peduli dengan pengusiran halus yang diberikan Embun kepadanya. Lelaki itu memilih tetap masuk ke dalam kamar Embun dan duduk di sofa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Embun pun lantas memilih diam. Dia hanya fokus pada Laksa yang tengah menerima ASI darinya. Keheningan itu mencekam. Tidak ada obrolan seperti pasangan normal pada umumnya. “Mama.” Laksa menggenggam baju Embun dengan erat seolah dia takut ditinggal. Tidurnya pun tampak gelisah meskipun dia ada di dalam gendongan ibunya. Embun sadar kalau hal ini terjadi karena kejadian siang tadi. Yang Embun khawatirkan adalah bagaimana kalau ini menjadi trauma untuk Laksa? “Biar aku yang coba bawa.” Raga yang melihat itu pun langsung bertindak. Lelaki itu beranjak, kemudian dengan pelan mencoba mengambil alih Laksa ke dalam gendongannya. Namun, mata batita itu terbuka dan dia langsung menjerit. “Mama!” Dan dengan cepat menyambar baju yang dipakai Embun untuk berpegangan. “Mama di sini, Nak. Mama di sini.” Em

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 4. Langkah Awal

    “Hari ini saya mungkin akan di luar seharian, Sus Anita. Tolong jaga Laksa, ya. Ini pertama kalinya saya tinggal karena biasanya saya akan bawa dia ke mana saja.” Embun sengaja mengatakan itu di depan Raga saat mereka tengah sarapan. Untuk pertama kalinya, Laksa makan dengan disuapi oleh orang lain selain Embun. Tadinya batita itu menolak, tetapi Embun meneguhkan hatinya untuk tidak mengambil alih. Sakit memang melihat putranya menangis, tetapi dia harus kuat. “Baik, Bu.” Begitu jawab Sus Anita. “Kalau ada sesuatu, Sus Anita telepon papa Laksa aja, ya. Soalnya saya hari ini benar-benar nggak bisa diganggu.” Ketika Embun mengatakan itu, tatapan Raga langsung menyorot lurus pada sang istri. Kernyitan dahinya tajam seolah dia tengah berpikir keras. Embun tahu, tetapi dia mengabaikannya. Jawaban Sus Anita lagi-lagi sama. Dia paham dan dia akan melakukannya. Mulai hari ini, Embun akan mengikuti permainan suaminya.Raga ingin Embun pelan-pelan menjauhi Laksa, ‘kan? Dia akan melakukann

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 3. Keputusan Menyesakkan

    “Ibu, ada tamu yang ingin bertemu dengan Ibu." Embun yang sedang fokus pada Laksa itu menoleh menatap Bibi. Keningnya mengernyit karena merasa tidak sedang membuat janji dengan siapa pun. “Siapa, Bik?” tanyanya ingin tahu. “Seorang baby sitter, Bu.” Jantung Embun langsung berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Untuk beberapa waktu, Embun hanya diam, lalu mengangguk mengerti. “Saya turun setelah ini.” Begitu katanya yang membuat Bibi meninggalkan ruangan bermain Laksa.Embun mencoba untuk tenang meskipun dia merasa dunianya berguncang. Raga mewujudkan ucapannya. Laki-laki itu benar-benar merekrut pengasuh untuk Laksa tanpa pertimbangan apa pun. Tidak ingin berlarut pada pikirannya, Embun menggendong Laksa dan membawanya ke lantai satu untuk menemui baby sitter Laksa.“Maaf menunggu.” Masih dengan Laksa di gendongannya, Embun duduk tepat di depan seorang perempuan berseragam baby sitter. “Tidak apa-apa, Bu. Saya juga baru sampai.” Mereka berjabat tangan. Setelah itu saling mengen

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 2. Derai Tangis

    “Mama!” Panggilan bersamaan dengan derap langkah kecil membuat Embun menoleh. Aroma minyak telon bercampur parfum anak menguar tiada ampun. Sumbernya ada di belakangnya. Sudah memberikan senyum kecil menunjukkan gigi-gigi mungilnya. Embun mengernyit ketika tatapannya mengarah pada Laksa yang dengan sangat manis mendongak menatapnya. “Laksa udah mandi.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan untuk dirinya sendiri. Tak lama, derap langkah besar terdengar. Raga muncul, dengan pakaian kantornya. Mengelus ujung kepala Laksa sebelum duduk di kursi makan. Seperti biasanya, tidak ada sapaan untuk sang istri meskipun hanya sekedar basa-basi. “Mulai hari ini, biarkan aku saja yang memandikan Laksa setiap pagi.” Raga berucap datar. Embun sama sekali tidak tersinggung. Memang seperti inilah kehidupan rumah tangganya. Dingin luar biasa. Memasang senyum tulusnya, perempuan itu kini fokus pada Laksa. “Laksa wangi banget. Mandi sama Papa, ya?” Dengan sekali hentakan mengangkat Laksa ke dal

  • Menikahi Suami Kakakku   Part 1. Perdebatan Malam

    Langkah kaki Embun sempoyongan ketika mendekati kamar yang letaknya hanya beberapa langkah dari kamarnya. Kepalanya pening luar biasa akibat tidurnya yang baru lima menit lalu terganggu oleh jerit tangis yang menyesakkan.Tanpa permisi, dia membuka pintu kamar tersebut dan mendapati Raga tengah mencoba menenangkan putranya. Tatapan mereka bertemu untuk sejenak sebelum Embun melanjutkan langkahnya mendekati lelaki itu.“Sini sama Mama,” katanya sambil meraih tubuh kecil Laksa yang sudah menggapai tangannya seolah meminta pertolongan.Raga menyerahkan bayi itu kepada Embun tanpa mengatakan sepatah kata pun. Embun bermaksud membawa pergi Laksa ke kamarnya ketika Raga menahannya.“Kamu bisa mengAsihi Laksa di sini,” katanya pelan. “Setelahnya dia akan tetap tidur denganku.”Embun hendak memprotes, tetapi urung saat dia mengingat bayi yang ada di gendongannya. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah menenangkan Laksa. Memberinya asi agar bayi itu bisa kembali tidur.Maka dia telan semua pro

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status