登入Raga memilih tidak peduli dengan pengusiran halus yang diberikan Embun kepadanya. Lelaki itu memilih tetap masuk ke dalam kamar Embun dan duduk di sofa seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Embun pun lantas memilih diam. Dia hanya fokus pada Laksa yang tengah menerima ASI darinya. Keheningan itu mencekam. Tidak ada obrolan seperti pasangan normal pada umumnya. “Mama.” Laksa menggenggam baju Embun dengan erat seolah dia takut ditinggal. Tidurnya pun tampak gelisah meskipun dia ada di dalam gendongan ibunya. Embun sadar kalau hal ini terjadi karena kejadian siang tadi. Yang Embun khawatirkan adalah bagaimana kalau ini menjadi trauma untuk Laksa? “Biar aku yang coba bawa.” Raga yang melihat itu pun langsung bertindak. Lelaki itu beranjak, kemudian dengan pelan mencoba mengambil alih Laksa ke dalam gendongannya. Namun, mata batita itu terbuka dan dia langsung menjerit. “Mama!” Dan dengan cepat menyambar baju yang dipakai Embun untuk berpegangan. “Mama di sini, Nak. Mama di sini.” Embun langsung mengambil alih kembali dan membawanya ke sudut ruangan. Menepuk pelan punggung Laksa dengan lembut memberikan kenyamanan. Pemandangan itu seharusnya cukup mampu menyadarkan Raga jika putranya masih sangat membutuhkan ibunya. Namun, bagi Raga tidak begitu. Seiring berjalannya waktu, Laksa pasti akan terbiasa dengan ketidakberadaan Embun di sisinya. “Kamu mending pindah ke kamar kamu aja, Mas.” Embun lagi-lagi mengusir Raga dari kamarnya. Bukannya apa-apa, laki-laki tidur sambil duduk dan itu terlihat sangat tidak nyaman. Raga membuka matanya dan melihat Embun masih menggendong Laksa. “Aku nunggu Laksa nyenyak biar dia bisa tidur sama aku.” Benar, ‘kan? Raga masih keras kepala tetap ingin Laksa bersama meskipun dia tahu batita itu butuh Embun dibandingkan dengannya. Embun tidak banyak bicara. Perempuan itu keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Raga. Meletakkan Laksa di box bayi, dan menepuk pelan kaki Laksa dengan lembut saat tidurnya mulai gelisah. Embun bahkan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuat Laksa benar-benar tenang dalam tidurnya. “Kalau Laksa mulai gelisah dan nangis, Mas harus bisa mencoba menenangkannya.” Embun mengonfrontasi. “Waktu kita nggak banyak untuk sampai perceraian. Sebagai ayah, Mas juga harus bisa menenangkan Laksa tanpa bantuan siapa pun termasuk aku. Jadi, kalau malam ini Laksa bangun lagi, cobalah untuk membuatnya diam tanpa mengetuk pintu kamarku.” Setelah mengatakan itu, Embun memilih pergi dari kamar Raga meninggalkan lelaki itu yang diam tanpa suara. Sebagai seorang ibu yang ingin dipisahkan dengan putranya, tentu hal itu sangat menyakitkan bagi Embun. Namun, sikap Raga juga sangat menjengkelkan. Sudah tahu putranya gelisah tanpa ibunya, dia masih bersikeras untuk tetap meminta Embun agar Laksa tidur di kamarnya. Maka dari itu, Embun juga harus memberinya peringatan keras. Keesokan harinya, kekacauan itu kembali terjadi. Embun pergi pagi-pagi sekali. Dia tak sarapan, tidak menyapa Laksa, seolah dia pergi tanpa jejak. “Kalian nggak ada yang tahu ke mana perginya ibunya Laksa?” Raga yang sudah lelah tidak mampu menghentikan rengekan Laksa itu langsung menyidang semua pekerjanya di rumah. Mulai dari ART sampai sopir dan tukang kebunnya. Mereka semua dipanggil hanya untuk mendapatkan ceramah pagi darinya. “Saya tahu Ibu keluar, Pak. Habis subuh tadi. Rapi banget seperti mau berangkat kerja.” Tukang kebunnya yang berbicara. Pasalnya, laki-laki itu juga bertugas membuka pintu pagar sehingga tahu pasti siapa yang keluar masuk dari rumah. “Kenapa dia harus pergi sepagi itu?” Raga kali ini benar-benar geram. “Bahkan OB pun masih tidur nyenyak di rumahnya.” Laksa ini benar-benar tidak bisa diatasi kalau bukan dengan Embun. Sus Anita pun sudah berusaha, tetapi itu hanya berhasil sebentar sebelum Laksa kembali ingat dengan ibunya dan menangis kencang. Raga memijat pelipisnya merasa denyutan di kepalanya. Dia tak bisa meninggalkan Laksa dalam keadaan seperti sekarang. Namun, dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. “Bapak ke kantor saja. Saya janji saya akan menjaga Laksa, Pak.” Sus Anita memberanikan diri untuk bicara. “Kalau Laksa diajak ke kantor, justru dia nggak tenang, Pak.” Kemarin saja, Sus Anita harus mengajak Laksa keluar dari ruangan Raga agar tidak merasa terkurung. Ini sungguh pekerjaan yang cukup sulit bagi Sus Anita untuk bisa ‘menaklukkan’ Laksa. “Suster yakin?” tanyanya sambil menatap Laksa yang kali ini ada di dekapan Sus Anita. Cukup tenang, tetapi dia tak tahu akan sampai kapan. “Iya, Pak.” Oleh karena itu, Raga pada akhirnya berangkat ke kantor dengan perasaan yang tidak tenang. Dia khawatir dengan Laksa dan itu mutlak. Untuk pertama kalinya, Laksa tidak mendapatkan pengawasan dari kedua orang tuanya secara langsung. Raga menyetir mobilnya dengan kecepatan yang lumayan. Alih-alih pergi ke kantornya sendiri, lelaki itu justru mengambil jalur lain untuk pergi ke tempat yang tidak seharusnya. “Ibu ada di ruangannya?” tanya Raga kepada satpam kantor keluarga istrinya. “Nggak ada, Pak. Beliau belum ada datang ke kantor.” “Belum ada?” Raga mengernyit heran. “Kemarin?” “Kemarin Ibu juga nggak ada datang ke kantor, Pak. Saya lihat Ibu datang ke kantor beberapa bulan lalu, itu pun nggak lama.” Raga otomatis diam. Sejak mereka menikah dan Embun fokus pada Laksa, perempuan itu memang jarang ke kantor. Dia memilih meminta stafnya untuk mengirimkan beberapa dokumen ke rumah. Lalu, ke mana perginya perempuan itu? Kira-kira begitulah Raga bertanya kepada dirinya sendiri. Memilih untuk tidak memperpanjang, Raga akhirnya pergi dari sana. Dia akan kembali ke kantornya karena masih ada banyak hal yang perlu dia kerjakan dibandingkan harus mencari tahu keberadaan istrinya. Akan tetapi, seakan semesta telah mempermainkannya, dia melihat Embun ada bersama dua orang laki-laki. Mereka tampak akrab dan bahkan saling bercanda. Raga melihat Embun di kedai bubur tak jauh dari kantornya. ‘Apa-apaan ini,’ katanya pada dirinya sendiri dan langsung menghentikan mobilnya. Mendekati Embun dan berdehem pelan untuk menarik perhatian istrinya. “Lho, Mas.” Embun bereaksi santai. “Kok ada di sini?” “Aku yang harusnya tanya. Kenapa kamu ada di sini sepagi ini?” “Oh ... aku lagi sarapan. Mas udah sarapan?” Raga mengetatkan rahangnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang, tetapi dia merasa tidak senang dengan sikap Embun. Terlebih lagi dia sekarang tidak sendirian. Dia bersama dengan dua laki-laki yang Raga bahkan tidak mengenal mereka siapa. Memangnya sejak kapan Raga tahu tentang Embun? Bahkan sekedar tahu warna kesukaannya saja tidak. “Mbun. Kalau gitu kami cabut deh. Udah waktunya masuk kantor juga. Entar kapan-kapan kita ketemu buat bahas yang ini.” Ketegangan Raga buyar ketika salah satu teman Embun bersuara. Embun langsung mengangguk cepat sebagai tanggapan. “Boleh-boleh. Gue punya banyak waktu kok. Entar lo hubungi gue aja gimana fix-nya.” “Oke. Kalau gitu kami balik. Mari.” Kata terakhir itu ditujukan kepada Raga yang masih berdiri bak patung hidup. Kepergian dua orang itu lantas membuat Raga fokus pada Embun. Dia tatap istrinya yang juga tengah menatapnya itu dengan ekspresi muram luar biasa. “Kamu pagi-pagi sekali pergi dari rumah hanya untuk bertemu dengan dua laki-laki itu?” tanyanya dengan nada menuduh. “Kamu nggak tahu kekacauan apa yang terjadi di rumah?” Embun tersenyum kecil. “Kekacauan apa, Mas? Laksa ngamuk lagi? Bukannya kamu harus membiasakannya tanpa aku? Aku sekarang sedang mendukung setiap keputusan yang kamu ambil. Jadi, ini memang harus terjadi.” ***Raga mengernyit ketika pagi ini, Embun sibuk di dapur. Yang menjadi pertanyaan besar di dalam kepalanya adalah saat ada kotak bekal di atas kitchen island. Beberapa sarapan sudah tersaji di atas meja makan dan kopi Raga pun sudah siap diminum. Raga masih masih belum mengatakan apa pun dan terus menebak-nebak. Sayangnya dia tak tahan untuk tidak bertanya. Secara kebetulan, Bibi sedang meletakkan ayam kecap di atas meja. “Mau ada acara, Bik?” tanya Raga setelah menyeruput kopinya. “Embun sepertinya sibuk banget.” Setiap pagi, Embun memang selalu menyiapkan sarapan untuknya. Namun, hari ini sepertinya berbeda. “Ibu sedang masak untuk makan siang, Pak.” “Makan siang?” Raga tentu heran. Selama ini dia tak pernah memiliki permintaan untuk dibawakan bekal oleh Embun. Sekarang pun sama. Lantas, untuk siapa Embun membuatkan makan siang? Satu nama terlintas di kepalanya dan wajah laki-laki asing yang ditemuinya hari itu terbayang di matanya. Raga mengetatkan rahangnya. Ekspresi dingin l
Malam itu terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Embun tidak terbiasa tidur dengan orang lain di sebelahnya setelah suaminya meninggal. Pasca menikah kembali dengan Raga pun, mereka tidak tinggal di kamar yang sama. Jadi, sekarang terasa asing dengan situasi seperti ini. Raga berbaring di sisi lain ranjangnya dengan Laksa berada di tengah-tengah mereka. Embun praktis tidak bisa tidur meskipun dia memejamkan matanya dan berusaha terlihat sudah terlelap. “Kamu sudah tidur, Embun?” Tiba-tiba saja suara itu terdengar. Tidak keras, hanya terdengar rendah bak bisikan. Mata Embun terbuka. Dia menatap Raga yang ternyata sedang menatapnya. “Ada apa, Mas?” tanya Embun tak kalah lirihnya. Takut kalau-kalau suaranya akan membangunkan Laksa. Untuk beberapa waktu, Raga tidak mengatakan apa pun. Dia hanya terus menatap Embun dalam keremangan lampu kamar. “Kalau ada yang mau dibicarakan, silakan bicarakan, Mas. Aku mau tidur.” Raga pada akhirnya menggeleng. “Nggak jadi. Tidur saja.” Lalu
“Harusnya kamu nggak perlu nganterin aku sampai ke rumah.” Embun tidak mengizinkan Samuel mampir ke rumahnya. Samuel pun juga tetap berada di dalam mobil dengan membuka jendelanya, sehingga dia masih bisa berbicara dengan Embun. “Sekarang aku udah sampai dengan selamat dan kamu sudah boleh pergi.” Samuel tersenyum kecil. “Kalau ada sesuatu yang nggak menyenangkan, kamu bisa hubungi aku. Aku akan membawamu pergi ke tempat di mana nggak akan ada orang yang menyakitimu.” Setiap kata yang disampaikan oleh Samuel, seperti ada arti besar yang tersembunyi. Namun, Embun tidak ingin terlalu banyak membahas hal tersebut.Dia hanya mengangguk tanda setuju. Atau sebenarnya agar segalanya cepat selesai. “Aku pulang. Salam buat Laksa.” “Akan aku sampaikan.” Samuel belum pernah melihat batita itu secara langsung dan hanya dari foto yang terkadang Embun kirimkan kepadanya. Mungkin suatu saat nanti dia bisa bertemu dengan bocah menggemaskan itu. Mobil Samuel pergi meninggalkan rumah besar yang d
Jauh di dalam hati Embun, sebenarnya dia tidak ingin menjadi janda untuk kedua kalinya. Namun, perpisahan dengan Raga juga sudah ada di depan mata. Setidaknya selama beberapa bulan kedepan setelah Laksa berusia 2 tahun, dia dan Raga akan berpisah. Lantas, setelah perceraiannya dengan Raga, apa yang akan dilakukan? Menikah lagi dan menjalani hubungan baru? Memiliki anak sendiri dengan suami yang mencintainya, atau dia akan berharap tetap bisa bersama Laksa meskipun dia sudah tidak lagi menjadi istri Raga? “Embun!” Samuel memecah semua bayangan yang bergerombol di dalam kepalanya. Embun tampaknya sedang melamun terlalu jauh. “Sorry, Sam. Aku melamun.” “Kamu sepertinya terkejut dengan ucapanku.” Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Embun, tapi dia mengangguk setelahnya. “Iya. Tiba-tiba banget kamu bicara soal nikah.” “Karena aku nggak mau ketikung lagi." Begitu katanya dengan sedikit bercanda. “Aku nggak mau ada yang ketiga kalinya, Embun. Setelah Ricky, lalu sekarang kakak i
Embun tidak bisa menahan kekesalannya kepada Raga. Tidak ada manusia mana pun yang mau dibandingkan dengan manusia lainnya. Terlebih lagi, dibandingkan dengan saudaranya sendiri yang mana, saudaranya bahkan sudah tidak ada lagi di dunia ini.Setelah perdebatan itu, mereka tampak bersikap dingin satu sama lain sampai keesokan paginya. Embun tampak tidak peduli dengan Raga yang duduk tepat di depannya. Dia hanya peduli dengan Laksa dan sesekali tersenyum melihat putranya. “Sus Anita, nanti saya pergi sebentar. Tolong bawa Laksa ke belakang dulu biar nggak lihat saya pergi.” Pasalnya, kalau Laksa tahu ibunya akan pergi tanpa dia, batita itu akan menangis. Embun tahu diri untuk tidak lagi meminta izin kepada Raga agar bisa membawa Laksa. “Iya, Bu.” Raga tidak mengatakan apa pun, tetapi tampak sekali ekspresi tidak senangnya. Dia sudah melarang Embun pergi, tetapi istrinya itu sama sekali tidak mengindahkannya. “Kamu mau tetap pergi?” Pada akhirnya Raga bersuara. “Bukannya aku sudah n
Malam ini Embun tidak bisa tidur. Tentu ini bukan pertama kalinya Laksa demam, itulah kenapa dia tidak begitu gugup membawanya ke dokter. Dia terus memantau demam putranya dan memastikan plester penurun panasnya berfungsi dengan baik. Sesekali dia akan ketiduran dan terbangun kembali saat ada pergerakan dari Laksa. Di sisi ranjang yang lain, Raga tengah tidur. Lelaki itu pasti kelelahan setelah seharian bekerja. Jadi, Embun membiarkan. “Mama.” Sedikit rengekan dari Laksa membuat Embun lagi-lagi membuka matanya. Padahal dia baru saja hampir tidur. “Mama di sini, Laksa.” Sepertinya batita itu butuh asupannya. Oleh karena itu, dia memberikannya asi dan Laksa langsung menerimanya. Sedikit demi sedikit, Embun sudah mulai menjauhkan Laksa dari asinya. Jadi, batita itu sudah tidak begitu ketergantungan. Hanya saja, keberadaan Embun tetap saja masih sangat dibutuhkan oleh Laksa. Wacana Raga untuk menjauhkan Laksa dengan Embun tentu bukanlah hal yang seharusnya. Tanpa terasa, Embun akhir







