Share

Bab 52

Author: Lyla Veil
last update publish date: 2026-07-02 16:29:36

Suara langkah kaki Bara yang berat terdengar mendekat dari teras. Pintu depan terbuka, menampilkan sosok tegapnya yang tampak lelah setelah seharian pergi. Aku meremas jemariku sendiri untuk menetralisir rasa gugup yang mendadak menyerang.

Namun, belum sempat aku membuka mulut untuk menyapa atau mengutarakan apa yang sudah kupersiapkan sejak pagi, Bara melangkah masuk melewati pintu dan berhenti tertegun di sana. Ia menatapku dalam diam, tatapannya tajam namun sedetik kemudian ia memalingkan wa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 56

    “Wah, senangnya... tentu saja aku mau. Terima kasih, Mbak Silvia...” ujar Adrian saat pertama kali kami berkenalan.“Silvia saja, nggak usah pakai ‘mbak’ kayaknya usia kita nggak jauh beda,” koreksiku.“Aku belum dua puluh lima tahun,” ujarnya.“Kan, aku malah masih dua puluh satu tahun. Aku bilang juga apa, kita nggak jauh beda.”“Ah iya... Silvia...” jawabnya sambil tersenyum canggung, menambah kesan polos pada dirinya.Itu adalah kali pertama pertemuanku dengan Adrian. Kini, beberapa hari telah berlalu, dan kehadiran pemuda kota itu benar-benar membawa warna baru di tengah ketegangan antara aku dan Bara. Adrian adalah sosok yang terlihat polos, santun, sekaligus energik. Dia sangat mudah akrab dengan siapa saja, termasuk denganku.Selama beberapa hari berturut-turut ini, kami sering menghabiskan waktu bersama di lokasi proyek. Aku menyukai semua idenya yang fresh, seolah aku dan dia memiliki passion yang sama dalam menata masa depan sekolah ini. Tidak hanya mendengarkan gagasan-gaga

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 55

    “Asih?” sapaku menyadarkannya.“Ma-af, saya tidak bermaksud menguping. Tapi tadi tidak sengaja terdengar. Maaf, ini bukan urusan saya. Eh... ini es teh buat Mbak Silvia dan Mas Bara,” ujar Asih dengan gugup, lalu langsung pergi setelah meletakkan es teh itu ke atas kursi dekat pohon Tabebuya.Bara masih berdiri mematung, menatap punggung Asih yang berjalan menjauh dengan langkah terburu-buru.Melihat perhatiannya tertuju pada perempuan itu, aku mendengus sinis. “Bu Asih sepertinya cocok untuk jadi istrimu, Mas, dia—”“Jangan mulai menjodohkanku dengan siapa pun!” sela Bara tajam. Suaranya rendah namun sarat akan penekanan yang membuatku bungkam. Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung membalikkan badan dan berjalan pergi meninggalkanku begitu saja.Aku menghela napas dalam, menatap punggung tegap pria itu dengan perasaan yang campur aduk. Kesal, gengsi, dan ada rasa sesak yang aneh. Namun kemudian perhatianku teralihkan. Suara deru mesin mobil yang keras memecah keheningan halaman seko

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 54

    Sesampainya di halaman sekolah dasar, suara deru motor yang kubawa langsung menyita perhatian beberapa pekerja. Mereka tampak pangling melihatku, perempuan kota yang biasanya melangkah anggun atau menggerutu menghindari lumpur, kini datang membelah debu dengan pakaian khas Bara, lengkap dengan sepatu boot dan motor hitam kokoh ini.Mobil Hilux hitam milik Bara sudah terparkir di sana. Aku menghentikan motor tepat di sisi mobil Bara dengan sekali sentakan standar samping. Pandanganku menyapu halaman. Dan Bara ada di sana, di sisi Asih, entah apa yang mereka bincangkan yang pasti mereka berdua menatapku dengan terkejut. Pria itu pasti tak menyangka aku seberani ini datang ke proyek, tapi aku tak peduli. Aku masuk saja, melambaikan tangan ke arah Asih bukan Bara, lalu menyapa pekerja dan ikut berdiri di antara para pekerja yang tadi sibuk.“Bu Silvi... apa kabar?” tanya seorang yang hampir tak kukenali.“Lho, Mas Jaka ya, gimana lengannya... aman?” tanyaku sumringah.“Oh, aman Bu. Terima

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 53

    Aku membalik lembar demi lembar dokumen itu dengan napas yang memburu. Lembar demi lembar kertas berstempel resmi itu justru memunculkan sejuta spekulasi di kepalaku. Apakah Bara sebenarnya sudah mempersiapkan semua ini sejak lama? Ataukah selama ini aku yang terlalu picik, menutup mata dari fakta bahwa pria desa itu memiliki kuasa atau jaringan yang tidak pernah kupahami sebelumnya?“Sialan, Bara. Sebenarnya apa yang kamu rencanakan?” bisikku frustrasi, melemparkan map cokelat itu kembali ke atas kasur.Aku mengacak rambutku frustrasi. Pikiranku bercabang. Di satu sisi, aku merasa menang karena seluruh aset ini akhirnya resmi jatuh ke tanganku, membuktikan bahwa aku, Silvia Gunawan, berhasil mengambil apa yang sudah menjadi hak keluargaku. Namun di sisi lain, bayangan sorot mata Bara yang dingin dan penuh antipati sore tadi terus menghantuiku. Mengapa dia melepaskan aset berharga ini dengan begitu mudah? Tanpa tuntutan, tanpa syarat, seolah-olah seluruh kekayaan Eyang Gun ini tidak a

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 52

    Suara langkah kaki Bara yang berat terdengar mendekat dari teras. Pintu depan terbuka, menampilkan sosok tegapnya yang tampak lelah setelah seharian pergi. Aku meremas jemariku sendiri untuk menetralisir rasa gugup yang mendadak menyerang.Namun, belum sempat aku membuka mulut untuk menyapa atau mengutarakan apa yang sudah kupersiapkan sejak pagi, Bara melangkah masuk melewati pintu dan berhenti tertegun di sana. Ia menatapku dalam diam, tatapannya tajam namun sedetik kemudian ia memalingkan wajahnya. Ekspresinya berubah dan sorot matanya yang tadi sempat teduh kini berubah menjadi dingin.Antipati. Pria itu benar-benar menunjukkan penolakan bahkan sebelum aku sempat bersuara.Ia meletakkan sebuah map cokelat tebal di atas meja dengan bunyi debukan pelan. “Semua dokumen aset milik Eyang Gun sudah aku urus pengalihannya atas namamu. Untuk berkas perceraian, pengacaraku di kota sedang menyiapkannya. Kamu tinggal tanda tangan kalau sudah jadi,” ucap Bara datar, suaranya sedingin es.Kali

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 51

    Jatuh cinta? Sama si Capybara kaku itu?Aku menggeleng kuat-kuat, mencoba menyangkal dugaan Maisaroh yang terdengar sangat tidak masuk akal bagiku. "Eng-enggak, Mai! Enggak mungkin!" sanggahku terbata-bata dengan sisa air mata yang masih mengalir di pipi.“Kalau nggak mungkin, ngapain Mbak sampai nangis begini?” tanya balik Maisaroh.“Aku... aku cuma kaget saja. Lagipula, dia egois banget semalam. Main pergi begitu saja tanpa diskusi lagi!” jawabku asal tapi jawabanku malah membuat Maisaroh tersenyum kecil.Maisaroh tidak mendebatku. Ia menghela napas panjang, menatapku dengan pandangan iba yang membuatku merasa semakin tersudut. Ia melepaskan pegangannya di bahuku, lalu duduk bersila di lantai, bersandar pada kaki kursi.“Mbak Silvi...” Maisaroh memulai, suaranya terdengar jauh lebih dewasa dari usianya. “Mbak Silvi mungkin bisa membohongi saya, atau membohongi diri Mbak sendiri. Tapi hati itu tidak bisa dipaksa bohong, Mbak. Kalau Mbak beneran senang mau cerai dan kembali ke kota, h

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 31

    Aku akhirnya selesai membersihkan diri setelah hampir satu jam lebih bergelut di dalam kamar mandi. Lumpur hitam dari sawah itu benar-benar pekat dan sulit sekali dihilangkan, hingga aroma tanah masih terasa menempel di kulitku. Pakaian yang tadi aku kenakan sudah tidak tertolong lagi, penuh noda ya

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 22

    ‘Masa aku harus bercinta dengan Bara lagi untuk bisa mengalihkan perhatiannya?’Hanya memikirkan itu saja sudah membuatku bergidik ngeri.‘Bisa-bisa dia salah paham, dipikirnya aku menyukai hal itu. Jatuh harga diriku...’ batinku lagi. Tidak, itu pilihan terakhir yang sangat tidak ingin kuambil.Ak

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 7

    Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 6

    “Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status