ログインAku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi.
“Kamu mau kemana, Mas?” “Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu. “Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria itu yang sudah menuju masjid desa ini yang tak jauh dari klinik. ‘Apa aku harus berakhir menjadi istrinya?’ batinku tak percaya. Hanya dalam hitungan jam, hidupku bisa berubah begini. Siang menjelang sore. Bara datang membawa seorang Ustadz, ketua RT dan istri RT. Mereka siap menjadi penghulu dan saksi. “Kita nikah siri dulu, besok-besok baru saya urus dokumen resminya.” Ujar Bara santai seolah ini hal yang wajar. Aku tidak bisa mencerna masalah yang datang bertubi-tubi seperti ini, kini aku hanya bisa pasrah menjalani permintaan Eyang. Dan entah kenapa aku merasa ini adalah permintaannya yang terakhir. Untuk beberapa saat, aku duduk sendirian di bangku klinik. Hingga Bara menghampiriku, mengulurkan tangannya. “Mbak, ayo... semua sudah siap. Tinggal menunggu Mbak saja...” Aku mendongak padanya dan berdiri sendiri, mengabaikan tangannya yang mengulur lalu berjalan menuju ruang rawat Eyang. Di sana sudah ada orang-orang tadi yang dijemput Bara. Serta perawat dan dokter yang juga akan menjadi saksi pernikahan ini. Aku duduk di kursi di antara ranjang Eyang dan Bara. Di depanku sudah tersedia meja dengan taplak putih dan penghulu yang sudah mengulurkan tangannya. Penghulu meminta izin Eyang untuk menikahkan aku, Eyang mengangguk lemah. Kalimat akad meluncur dari mulut Bara dengan tegas dan tanpa ragu, “Saya terima nikahnya Silvia Gunawan Pramono binti Adiguna Pramono dengan maskawin cincin emas 24 karat dibayar tunai.” “Sah!” seru para saksi kompak. Semua orang bernafas lega, kecuali aku. Hatiku riuh oleh rasa yang tak menentu. Aku menyentuh tangan Eyang yang sudah keriput, berniat memberikan penghormatan sebagai cucu, namun tangannya terasa begitu dingin dan lemah. Aku mengira beliau tertidur karena lega, tapi saat insting dokterku bergerak mengecek nadinya... jantungku seolah berhenti. “Eyang?! Mas Bara... Eyang!” teriakku histeris. “Denyutnya nggak ada!” Ruangan mendadak kacau. Semua orang diminta keluar sementara dokter klinik memeriksa kondisi Eyang. Aku luruh, menangis histeris dalam pelukan Bara yang kokoh. Dokter perlahan menggelengkan kepala. Itu adalah tanda bahwa Eyang telah pergi untuk selamanya. Hancur sudah pertahananku, aku baru saja bertemu kembali dengannya, dan kini harus kehilangan satu-satunya pelindungku. Aku memukul dada Bara dalam tangis yang pecah, namun ia tetap memelukku erat, menopang tubuhku agar tidak jatuh ke lantai klinik yang dingin. Setelah pemakaman sore itu juga, dengan sisa tenaga yang ada, aku dan Bara kembali ke rumah dalam keheningan yang menyesakkan. Dengan langkah gontai, aku melangkah masuk ke dalam rumah. Mengecek kamar Eyang yang kosong, aroma minyak kayu putih masih menguar walau kamar itu bersih. Sepertinya Maisaroh tadi datang dan membersihkannya. “Dek, kamar kita di sebelah ya... sudah rapi. Silakan kalau mau istirahat. Kalau mau mandi, air hangat sudah Mas siapkan. Handuk bersih juga sudah ada di kamar mandi.” Aku hanya diam, melangkah ke kamar mandi. Ingin membersihkan diri dari luka fisik dan hati yang selama dua hari ini datang bertubi tanpa jeda. Air hangat mungkin bisa meredakannya. Setelah mandi, aku baru sadar tidak punya baju lalu hanya membungkus tubuhku dengan handuk lebar yang disiapkan Bara. Aku keluar begitu saja dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan tubuh hanya terbalut handuk. Bara yang sedang minum di meja makan, tersentak melihatku berjalan begitu saja tanpa rasa sungkan. Aku masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. Bara yang melihat itu, hendak menutup pintu kamar berniat memberiku ruang untuk menyendiri. Bara melangkah mendekat, tangannya sudah memegang gagang pintu, berniat menutupnya dengan sopan agar aku bisa beristirahat. Namun, sebelum daun pintu itu rapat, aku berbalik dan menatapnya. Handuk yang melilit tubuhku merosot menampakan tubuhku yang polos, namun aku tak peduli. “Mas... jangan ditutup,” Suaraku parau, sisa dari tangisan di pemakaman tadi. Bara tertegun, tangannya mematung di gagang pintu. Matanya yang tajam menatapku, lalu turun sejenak ke bahuku lalu ke dadaku yang penuh hingga ke bagian intiku. Ia menelan saliva, jakunnya naik turun. “Dek Silvi, kamu butuh istirahat. Hari ini sangat berat untukmu.” “Buat aku lupa, Mas,” lirihku pelan. “Tolong, buat aku merasa kalau aku masih hidup.” Bara mematung. Rahangnya mengeras dan tatapannya menggelap melihatku dalam kondisi serapuh ini. Namun, ia tidak langsung menerjang. Ia terdiam, bahkan sempat menunduk seolah sedang berperang dengan logikanya sendiri. Aku melangkah mendekat, meraih tangannya yang berurat dan kasar. Kutarik tangannya untuk melingkar di pinggangku, sementara tangannya yang lain kubawa menempel tepat di dadaku. Satu desahan lolos dari mulutku saat merasakan hangat telapak tangannya. “Remas, Mas...” pintaku lirih, memancingnya untuk memulai. Ia meremasnya dan itu membuatku mendesah kembali. ***Silvia akhirnya selesai membersihkan diri setelah hampir satu jam lebih bergelut di dalam kamar mandi. Lumpur hitam dari sawah itu benar-benar pekat dan sulit sekali dihilangkan, hingga aroma tanah masih terasa menempel di kulitnya. Pakaian yang tadi ia kenakan sudah tidak tertolong lagi, penuh noda yang mustahil bersih, sehingga ia memutuskan untuk membuangnya saja ke tempat sampah.Sesaat kemudian, terdengar deru mesin mobil Hilux dan suara langkah kaki yang berat di ruang tamu. Bara telah kembali. Dari derap langkahnya, pria itu terdengar sangat terburu-buru, seolah ada penjelasan atau amarah yang ingin segera ia tumpahkan pada Silvia.Silvia yang sedang dalam suasana hati yang sangat buruk, merasa sangat malas jika harus berhadapan dengan Bara sekarang. Ia tidak ingin mendengar ceramah soal harga diri atau alasan-alasannya mengenai Maisaroh. Sebelum Bara sempat mencapai pintu kamar, Silvia segera menyelinap keluar melalui pintu belakang. Ia harus pergi dari rumah ini, setidaknya s
Maisaroh hari itu benar-benar tidak menjengukku ke kamar. Sikapnya seolah tidak peduli lagi padaku, dan aku pun terlalu malas untuk berteriak memanggil namanya. Akhirnya, aku memutuskan untuk rebahan seharian di ranjang—sebuah pengorbanan kecil agar Bara tidak menaruh curiga pada kepura-puraanku.Namun, di balik sandiwara ini, Bara justru menunjukkan sisi yang sangat manis dan lembut. Sepulang dari ladang, ia membawakanku berbagai macam buah-buahan segar; ada alpukat, pisang, dan kelapa. Ia bahkan dengan telaten menyuapiku alpukat mentega yang rasanya sangat enak. Katanya, itu adalah hasil panen terbaiknya hari ini.Malam itu aku sengaja tidur lebih cepat. Aku ingin hari esok segera tiba supaya aku bisa lepas dari jeratan "sakit" ini. Sungguh, aku sudah sangat bosan terkurung di kamar yang mulai terasa bau apak ini.Begitu pagi menjelang, aku bangun dengan semangat yang meluap. Saat menuju dapur, aku mendapati Bara sedang sibuk di depan kompor.“Lho, Mai belum datang?” tanyaku heran.
Pertanyaanku tadi sukses membuat Bara terdiam sepanjang jalan. Suasana di dalam mobil Hilux ini mendadak jadi sangat kaku. Aku yakin, ada sesuatu yang sangat besar yang sedang ia rahasiakan dariku.“Kalau kamu memang ingin tahu soal itu, aku bisa mengantarkanmu dan memberitahumu sekarang. Tapi... kamu sedang sakit,” ujar Bara akhirnya, memecah keheningan. “Kalau terlalu lama di perjalanan, nanti kamu malah tambah sakit, dan ujung-ujungnya kamu akan menyalahkanku lagi.”Lagi?Darahku berdesir. Maksudnya, setelah malam pertama itu, aku akan menyalahkannya lagi? Ini kan, urusannya berbeda. Sekarang aku tidak sedang sakit, aku hanya sedang mencari jawaban! Namun, aku tersadar. Jika aku memaksanya sekarang, Bara yang waspada ini pasti akan semakin mencurigaiku. Aku harus bermain cantik. Aku harus sangat hati-hati agar rahasia tentang Aditya tidak ikut terbongkar. Tidak untuk saat ini.“Ya sudah, pulang saja sekarang,” pintaku akhirnya sambil membuang muka ke arah jendela.Bara tidak menyah
“Mas! Mas Bara!” panggilku lantang saat melihat pria itu baru saja melangkah masuk ke dalam puskesmas. Ia langsung membalikkan badan begitu mengenali suaraku.“Silvia?” Ia menghampiriku dengan langkah lebar.“Ayo, kita pulang. Aku sudah lelah,” ujarku cepat, berusaha memutus percakapan sebelum dimulai. Aku langsung berjalan mendahuluinya menuju mobil Hilux miliknya yang terparkir di depan.Bara mengikutiku dari belakang. Ia segera naik ke kursi kemudi dengan raut wajah yang tampak sedikit bingung. Namun, setelah mesin menyala, ia tidak kunjung menjalankan mobilnya. Ia hanya diam sambil terus memandangiku dengan tatapan menyelidik.Hal itu membuatku mulai salah tingkah. Apa yang sebenarnya sedang ia perhatikan? Apa ia bisa tahu apa yang baru saja dilakukan Aditya hanya dengan menatapku seperti ini? Ah, tidak mungkin. Dia bahkan tidak tahu kalau Aditya adalah dokter baru di puskesmas ini.Aku menoleh padanya, mencoba memecah keheningan. “Kenapa tidak jalan?”Bara justru balik bertanya d
“Apa saja keluhannya?” tanya dokter muda tampan itu saat mulai memeriksa perutku. Aku tahu, ia setengah mati mempertahankan profesionalitasnya di depan pasien.Sentuhannya yang tenang membuat jantungku berdebar tak karuan. Bukan sekadar karena pemeriksaan medis, tapi karena sejarah yang tertinggal di antara kami berdua. Rasa pusing di kepalaku kini tak lagi karena akting sakit perut, tapi karena kenyataan bahwa duniaku yang lama mendadak muncul tepat di hadapanku.Kenapa di saat aku sedang berupaya mendapatkan kendali atas hidupku dari Bara, pria ini yang harus muncul?“Mas... maaf,” lirihku akhirnya.Dokter itu menghentikan gerakannya seketika. “Maaf? Maksudnya?”“Sebenarnya... aku tidak benar-benar sakit,” jawabku jujur, suaraku nyaris hilang tertelan sunyi ruangan.Ia mengernyitkan dahi, ekspresinya berubah menjadi bingung sekaligus sedikit kesal. “Maksudnya bagaimana? Maaf, Silvia, tapi pasien saya masih banyak menunggu di luar.” Ia segera menarik stetoskopnya dari perutku dan mer
Keesokan harinya, aku pun berakting sakit perut supaya Bara mau mengantarkanku ke puskesmas.“Kamu makan apa sampai sakit perut begitu?” tanya Bara. Aku tidak tahu dia benar-benar cemas atau hanya sekadar bertanya, tapi suaranya terdengar lebih dalam dari biasanya.“Nggak tahu, Mas. Ini sakit banget. Tolong antar aku ke puskesmas,” pintaku sambil meringkuk di ranjang. Aku terus memegangi perutku yang sebenarnya tidak sakit sama sekali, berusaha meyakinkannya dengan raut wajah seolah sedang menahan nyeri yang hebat.Bara tidak banyak bertanya lagi. Ia segera mengangkat tubuhku dengan sangat protektif menuju mobil. Di sepanjang jalan, aku hanya bisa berdoa dalam hati agar rencanaku mendapatkan pil itu berjalan lancar tanpa membuat Bara menaruh curiga sedikit pun.Setibanya di puskesmas, suasana agak sepi.‘Bagus,’ batinku, ‘berarti tidak banyak orang yang harus kuhindari.’Bara menggendongku langsung ke dalam puskesmas, langkahnya setengah berlari.“Lho, Mas Bara, ada apa dengan Mbak Si
Aku menutup tubuhku menggunakan handuk itu. Lalu sejenak mendengarkan, di luar sepi sepertinya Bara sudah tidak ada atau mungkin tertidur. Akhirnya Silvia keluar kamar mandi dengan perlahan, khawatir terlihat Bara.“Sepi... kosong...” gumam Silvia, ia pun langsung masuk ke kamar.Ternyata Bara bera
Bu Dirman mengangguk lemah, wajahnya sudah basah karena peluh dan air mata. Aku segera ke dapur mencuci tangan dengan bersih, lalu segera kembali ke kamar bersalin.Aku berlutut di antara kedua kaki Ibu Dirman. Tanganku gemetar saat melakukan pemeriksaan dalam, namun aku berusaha tetap tenang.“Pe
“Apa sih?” aku mengerling padanya dengan wajah kesal.“Jangan khawatir, aku sedang tidak berminat...” ujarnya enteng.“Lagipula, kamu sepertinya butuh waktu untuk mengembalikan fungsi bagian intimu agar bisa normal lagi,” tambah Bara dengan nada yang sangat menyebalkan. Ia berdiri di ambang pintu,
Aku pun bangkit dari ayunan, hendak menghampiri suara tersebut. Aku menyusuri kebun belakang, di sana tampak dua orang anak. Salah satunya duduk di tanah terisak, penamilannya benar-benar kumal seolah tidak takut kotoran. Aku mendekati mereka perlahan, khawatir aku yang akan terjatuh di tanah basah







