Share

Bab 7

Author: Lyla Veil
last update publish date: 2026-03-24 16:51:57

Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi.

“Kamu mau kemana, Mas?”

 

“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.

 

“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria itu yang sudah menuju masjid desa ini yang tak jauh dari klinik.

 

‘Apa aku harus berakhir menjadi istrinya?’ batinku tak percaya.

 

Hanya dalam hitungan jam, hidupku bisa berubah begini.

 

Siang menjelang sore. Bara datang membawa seorang Ustadz, ketua RT dan istri RT. Mereka siap menjadi penghulu dan saksi.

 

“Kita nikah siri dulu, besok-besok baru saya urus dokumen resminya.” Ujar Bara santai seolah ini hal yang wajar.

 

Aku tidak bisa mencerna masalah yang datang bertubi-tubi seperti ini, kini aku hanya bisa pasrah menjalani permintaan Eyang. Dan entah kenapa aku merasa ini adalah permintaannya yang terakhir.

 

Untuk beberapa saat, aku duduk sendirian di bangku klinik. Hingga Bara menghampiriku, mengulurkan tangannya. “Mbak, ayo... semua sudah siap. Tinggal menunggu Mbak saja...”

 

Aku mendongak padanya dan berdiri sendiri, mengabaikan tangannya yang mengulur lalu berjalan menuju ruang rawat Eyang. Di sana sudah ada orang-orang tadi yang dijemput Bara. Serta perawat dan dokter yang juga akan menjadi saksi pernikahan ini.

 

Aku duduk di kursi di antara ranjang Eyang dan Bara. Di depanku sudah tersedia meja dengan taplak putih dan penghulu yang sudah mengulurkan tangannya. Penghulu meminta izin Eyang untuk menikahkan aku, Eyang mengangguk lemah.

 

Kalimat akad meluncur dari mulut Bara dengan tegas dan tanpa ragu, “Saya terima nikahnya Silvia Gunawan Pramono binti Adiguna Pramono dengan maskawin cincin emas 24 karat dibayar tunai.”

 

“Sah!” seru para saksi kompak.

 

Semua orang bernafas lega, kecuali aku. Hatiku riuh oleh rasa yang tak menentu. Aku menyentuh tangan Eyang yang sudah keriput, berniat memberikan penghormatan sebagai cucu, namun tangannya terasa begitu dingin dan lemah. Aku mengira beliau tertidur karena lega, tapi saat insting dokterku bergerak mengecek nadinya... jantungku seolah berhenti.

 

“Eyang?! Mas Bara... Eyang!” teriakku histeris. “Denyutnya nggak ada!”

 

Ruangan mendadak kacau. Semua orang diminta keluar sementara dokter klinik memeriksa kondisi Eyang. Aku luruh, menangis histeris dalam pelukan Bara yang kokoh.

 

Dokter perlahan menggelengkan kepala. Itu adalah tanda bahwa Eyang telah pergi untuk selamanya. Hancur sudah pertahananku, aku baru saja bertemu kembali dengannya, dan kini harus kehilangan satu-satunya pelindungku. Aku memukul dada Bara dalam tangis yang pecah, namun ia tetap memelukku erat, menopang tubuhku agar tidak jatuh ke lantai klinik yang dingin.

 

Setelah pemakaman sore itu juga, dengan sisa tenaga yang ada, aku dan Bara kembali ke rumah dalam keheningan yang menyesakkan.

 

Dengan langkah gontai, aku melangkah masuk ke dalam rumah. Mengecek kamar Eyang yang kosong, aroma minyak kayu putih masih menguar walau kamar itu bersih. Sepertinya Maisaroh tadi datang dan membersihkannya.

 

“Dek, kamar kita di sebelah ya... sudah rapi. Silakan kalau mau istirahat. Kalau mau mandi, air hangat sudah Mas siapkan. Handuk bersih juga sudah ada di kamar mandi.”

 

Aku hanya diam, melangkah ke kamar mandi. Ingin membersihkan diri dari luka fisik dan hati yang selama dua hari ini datang bertubi tanpa jeda. Air hangat mungkin bisa meredakannya. Setelah mandi, aku baru sadar tidak punya baju lalu hanya membungkus tubuhku dengan handuk lebar yang disiapkan Bara. Aku keluar begitu saja dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan tubuh hanya terbalut handuk.

 

Bara yang sedang minum di meja makan, tersentak melihatku berjalan begitu saja tanpa rasa sungkan.

 

Aku masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. Bara yang melihat itu, hendak menutup pintu kamar berniat memberiku ruang untuk menyendiri. Bara melangkah mendekat, tangannya sudah memegang gagang pintu, berniat menutupnya dengan sopan agar aku bisa beristirahat. Namun, sebelum daun pintu itu rapat, aku berbalik dan menatapnya. Handuk yang melilit tubuhku merosot menampakan tubuhku yang polos, namun aku tak peduli.

 

“Mas... jangan ditutup,” Suaraku parau, sisa dari tangisan di pemakaman tadi.

 

Bara tertegun, tangannya mematung di gagang pintu. Matanya yang tajam menatapku, lalu turun sejenak ke bahuku lalu ke dadaku yang penuh hingga ke bagian intiku. Ia menelan saliva, jakunnya naik turun. “Dek Silvi, kamu butuh istirahat. Hari ini sangat berat untukmu.”

 

“Buat aku lupa, Mas,” lirihku pelan. “Tolong, buat aku merasa kalau aku masih hidup.”

 

Bara mematung. Rahangnya mengeras dan tatapannya menggelap melihatku dalam kondisi serapuh ini. Namun, ia tidak langsung menerjang. Ia terdiam, bahkan sempat menunduk seolah sedang berperang dengan logikanya sendiri.

 

Aku melangkah mendekat, meraih tangannya yang berurat dan kasar. Kutarik tangannya untuk melingkar di pinggangku, sementara tangannya yang lain kubawa menempel tepat di dadaku. Satu desahan lolos dari mulutku saat merasakan hangat telapak tangannya.

 

“Remas, Mas...” pintaku lirih, memancingnya untuk memulai.

 

Ia meremasnya dan itu membuatku mendesah kembali.

 

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 221 Selesai

    Suasana di lorong lantai tiga RS Medika Utama mendadak tegang. Mas Bara mendorong sendiri kursi roda yang kukenakan dengan hati-hati, didampingi dokter Diandra dan Hans yang berlari lebih dulu untuk membuka jalan. Keringat dingin membahasahi pelipis suamiku, raut wajahnya yang biasa tenang kini memancarkan kepanikan luar biasa.Perawat yang sudah bersiap di depan pintu bersalin segera membukakannya lebar-lebar."Napasnya diatur, Sil! Kita sudah sampai di kamar bersalin," seru dokter Diandra memberi instruksi tegas seraya bergerak cepat mengecek kesiapan peralatan."Pindah ke kasur ya, Sil..." ujar Dokter Diandra memandu.Mas Bara dengan sigap mengangkat tubuhku ke kasur bersalin dengan mudah."Mas... sakit sekali, Mas!" ringisku memegangi erat kemeja Mas Bara hingga kainnya kusut. Kontraksi yang makin rapat membuat seluruh persendianku bergetar hebat."Sabar ya, Sayang, Mas di sini. Pegang tangan Mas yang kuat," bisik Mas Bara dengan suara bergetar. Ia menggenggam erat jemariku, membi

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 220

    Memasuki usia kehamilan sembilan bulan, aktivitas sehari-hariku belum sepenuhnya surut. Aku masih nekat bekerja di RS Medika Utama. Mas Bara sebenarnya tidak mau mengambil risiko sedikit pun dan bersikap jauh lebih protektif. Sesuai kesepakatan awal kami, begitu kehamilan masuk usia delapan bulan, aku seharusnya sudah istirahat dari seluruh kegiatan rumah sakit. Namun, dasar aku yang keras kepala, aku terus merajuk meminta kelonggaran hingga usia kehamilanku genap sembilan bulan.Selama tiga bulan belakangan ini, aku memang giat belajar kembali menjadi dokter yang utuh. Aku terjun dalam praktik penuh bersama dokter-dokter di RS Medika Utama. Aku ingin memahami seluruh seluk-beluk pekerjaan medis dari dokter yang kupimpin, bukan sekadar duduk di kursi direksi tanpa tahu dinamika lapangan. Ijazahku pun sudah berhasil diurus kembali, dan aku resmi mengantongi izin praktik. Aku punya impian besar untuk mengambil spesialisasi dokter anak kelak, walau tentu membutuhkan proses dan waktu yang

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 219

    Kondisi fisik Mas Bara kini sudah jauh lebih bugar. Bekas luka operasi di dadanya tak lagi membatasi geraknya, dan stamina suamiku itu telah pulih hampir sempurna. Hanya bekas garis jahitan operasi yang tentu masih terlihat jelas jika ia membuka kemejanya. Ia tak lagi merasa minder dengan penampilan baru tubuhnya itu, terlebih setelah aku memujinya berkali-kali dan membiasakan diri menyapa dadanya dengan kecupan-kecupan hangat setiap kami bercinta. Pria itu tampak jauh lebih percaya diri saat hanya berdua denganku.Pagi itu, udara di sekitar pendopo utama Mansion Ananta terasa sejuk. Mas Bara berdiri tegak di tengah ruangan, meninjau langsung penataan dekorasi didampingi Hans, sekaligus memberikan arahan pengamanan utama saat prosesi berlangsung nanti.Pernikahan Dwi dan Yumna hari ini akan menjadi penutup manis seluruh kenangan di Mansion ini, sebelum bangunan megah tersebut benar-benar dilepas ke pembeli. Proses penataan tempat tinggal para selir pun sudah tuntas dipantau langsung o

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 218

    Sudah satu bulan berlalu sejak malam pengakuan di ruang tunggu rumah sakit itu. Dalam perhitungan hari, ini adalah hari ke-30 sejak dokter Diandra tiba-tiba memintaku menjadi kekasihnya.Meskipun kami sudah beberapa kali bertemu, lidahku yang kaku ini masih saja sering keliru memanggilnya. Di luar jam tugas, saat kami hanya berdua, aku masih kerap keceplosan memanggilnya "Dokter" alih-alih Diandra. Wanita itu tentu saja akan langsung mendengus kesal, meski setelah itu ia kembali tersenyum.Aku sendiri terkadang masih merasa tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang pria kaku sepertiku, yang hidupnya hanya berputar di sekitar instruksi pengamanan dan pengawalan Tuan Sinyo, bisa memiliki kekasih secantik dan sehebat Diandra. Tuan dan Nyonya tentunya tidak mengetahui hubungan ini. Diandra ternyata sangat pintar menyimpan rahasia. Ia bisa bersikap begitu biasa saja saat bertemu Nyonya Silvia atau berbicara dengan Tuan Muda, padahal sesekali ia kerap mencuri pandang penuh arti ke arahku di

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 217

    Tugas utamaku sangat sederhana, namun menuntut kesetiaan, menjaga keselamatan Tuan Muda Sinyo dan Nyonya Silvia dalam situasi apa pun.Bagi seorang pria sepertiku yang besar dalam kedisiplinan tinggi, hidup ini berjalan dengan garis-garis instruksi yang sangat jelas. Selama Tuan Bara menjalani perawatan intensif pascaoperasi di ruang VVIP RS Medika Utama, seluruh fokus dan indra saya tercurah penuh pada lorong tempat beliau beristirahat. Baru ketika malam melarut sekitar pukul sepuluh, saat Nyonya Silvia sudah berada di dalam kamar dan pintu kayu tebal itu terkunci dari dalam, aku bisa menurunkan sedikit ketegangan di bahuku dan duduk di kursi ruang tunggu.Aku sengaja membuat shift pagi dan malam bergantian, agar ruangan rawat Tuan Muda selalu terjaga maksimal. Semenjak Nyonya mengambil alih, perhatianku pun beralih pada Nyonya Silvia. Wanita yang kunikahi atas perintah Tuan Muda Sinyo. Padahal aku tau, Tuan Muda sangat mencintainya.Aku menghormati Nyonya Silvia, pernikahan itu hany

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 216

    Gina terisak di kemeja Mas Bara. Mas Bara menoleh padaku, mataku sempat terbelalak melihat tingkah gadis remaja itu. Selama ini, Gina sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan Mas Bara ataupun keluarga Paviliun Lavender. Sikap tertutup dan jarak yang membentang di antara kami selama ini meluruh begitu saja di momen perpisahan ini.“Kak...” disela isak tangisnya yang tertahan, Gina menatap suamiku. “Terima kasih...”Mas Bara memegang kedua bahu Gina, memberi jarak lembut di antara mereka. Pria itu kemudian sedikit berjongkok agar posisi pandangannya sejajar dengan mata adik tirinya.“Gina, Kakak yang terima kasih karena Gina selama ini sudah menjadi anak yang baik. Maafkan Kakak ya karena jarang bermain sama Gina,” ujar Mas Bara dengan nada suara yang begitu lembut.Aku tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Ada kepuasan dan haru tersendiri melihat bagaimana luka-luka lama di keluarga ini perlahan terobati secara alami di akhir masa tinggal kami di Mansion.Gina memeluk sang kakak

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 1

    ‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 6

    “Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 5

    Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 4

    Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status