Se connecterMelihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”
“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya. “Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepat, namun nihil hanya ada perban dan minyak kayu putih. Sial, nyawa Eyang dipertaruhkan tanpa alat medis satu pun! “Mas, berhenti sekarang!” perintahku tajam saat melihat Eyang mulai kehilangan kesadaran. Bara menginjak rem mendadak. “Kenapa? Klinik masih jauh!” “Nggak akan sempat!” bentakku. Memoriku tentang prosedur darurat jantung, mendadak muncul. Aku segera membaringkan Eyang di jok belakang. “Mbak mau ngapain?” tanya Bara bingung. Aku tak menjawab, sibuk meraba nadi leher Eyang. Nafasnya pendek-pendek, gasping. Tanganku membuka kancing baju Eyang agar dadanya tidak sesak, lalu melakukan teknik yang kutahu untuk membuka jalan nafas. Eyang berusaha mengikuti instruksiku untuk batuk, namun tiba-tiba matanya membalik dan tubuhnya melemas total. Refleks, aku mengepalkan tangan dan menghantamkan sisi bawah kepalanku tepat di tengah tulang dada Eyang, sebuah teknik darurat untuk menghentikan aritmia mematikan. DUG! “Mbak! Jangan gila!” teriak Bara, hampir melompat ke belakang karena mengira aku menyakiti Eyang. “Diam, Mas! Aku Dokter!” bentakku dingin hingga ia mematung tak percaya. Tanpa membuang waktu, aku berlutut dan melakukan kompresi dada seirama standar medis. Peluh membasahi wajahku yang kaku dengan tangan yang gemetaran. “Jalankan mobilnya! Cepat!” Bara tak lagi membantah. Ia memacu mobil dengan sangat hati-hati namun tetap melesat. Di dalam kabin yang tegang, hanya terdengar suara nafas Eyang yang mulai tersengal tanda jantungnya merespon dan instruksi pendek yang terus keluar dari mulutku. Beberapa saat kemudian, akhirnya kami sampai di klinik desa. Sebuah bangunan kecil yang nampak sepi. Setidaknya di sana ada tabung oksigen dan obat darurat yang dibutuhkan. Hampir saja kecerobohanku merenggut nyawa Eyang Gun. Aku terduduk lemas di bangku tunggu kayu yang keras. Nafasku baru bisa teratur setelah melihat Eyang tertangani di ruang tindakan. Sebuah tangan tiba-tiba saja menyodorkan botol air mineral. “Nih, Mbak minum dulu.” Ujar Bara. Aku menerimanya, “Terima kasih, Mas...” Lalu ia duduk di sampingku hanya jeda satu bangku dariku. “Untung saja Mbak Silvi dokter jadi Eyang bisa selamat...” ujar Bara membuka pembicaraan. “Enggak Mas, aku justru hampir mencelakakan Eyang... tadi butuh jeda lama sampai aku ingat kalau aku mahasiswi kedokteran. Tapi...” “Tapi usaha Mbak tadi harus dibanggakan juga, kalau enggak, mungkin sampai sini sudah...” Bara tak meneruskan ucapannya. “Aku bukan dokter, Mas,” potongku lirih. Suaraku gemetar. Kening Bara berkerut. Ia menatapku bingung. “Maksudnya? Tadi Mbak bilang sendiri kalau...” “Aku sudah lulus semua ujian, seharusnya minggu depan wisuda, selaku cepat, “tapi aku nggak bisa ikut wisuda. Ijazahku masih tertahan di kampus. Secara hukum, aku belum punya hak melakukan tindakan medis apa pun.” Aku menunduk, air mata akhirnya jatuh. “Tadi itu ilegal. Kalau terjadi sesuatu pada Eyang, aku bisa dipenjara. Aku tadi sempat... panik, Mas. Aku takut kehilangan Eyang.” Hening sejenak. Aku bersiap jika Bara akan menghakimiku, namun ia justru menghela nafas tenang dan menepuk pundakku singkat. Ingin menguatkan tapi aku terlalu lemah dan lelah. “Ijazah itu cuma kertas, yang Mbak lakukan di mobil tadi adalah menyelamatkan nyawa,” ujarnya pelan, menatapku lebih lembut. “Di mata saya, Mbak tetap dokter, dengan atau tanpa wisuda.” Aku menoleh, terpaku pada ketulusannya. “Jangan pikirkan legalitas. Di desa ini, kami butuh orang yang bisa menolong, bukan yang punya ijazah tapi cuma diam saat ada yang sekarat. Rahasiamu aman sama saya.” Aku menghapus sisa air mata dan tersenyum kecil. Beban di dadaku terasa jauh lebih ringan. “Terima kasih ya, Mas...” “Sama-sama, Mbak,” jawabnya tenang sambil meneguk air mineralnya. Seorang perawat muda muncul dari balik tirai hijau. “Keluarga Pak Gunawan?” Aku tersentak dan langsung berdiri. “Saya cucunya.” Bara juga ikut tegak dan melangkah di belakangku. Perawat itu mengangguk pelan, mengantar kami menemui Eyang yang kini terkulai lemah di pembaringan dengan selang oksigen dan infus yang sudah terpasang. Aku terisak melihat kondisi Eyang yang tampak begitu rapuh. Aku duduk di sisi ranjang, menggenggam tangannya yang dingin, dan mengecup punggung tangannya dengan takzim. “Maafkan Silvi, Eyang... Gara-gara Silvi, Eyang begini,” bisikku penuh penyesalan. Aku benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan keluarga lagi. Eyang membuka matanya sedikit, menatapku sayu. “Silvi...” ***Lampu merah di atas pintu ruang operasi darurat (Emergency Operating Theater) menyala terang. Di dalam sana, tim dokter spesialis tengah bertarung melawan maut untuk menyelamatkan nyawa Mas Bara. Operasi thoracotomy darurat harus segera dilakukan untuk menghentikan pendarahan hebat di rongga dada akibat luka tembak tembus dari dada depan hingga punggung belakangnya.Aku berdiri mematung di dekat jendela kaca lorong, masih mengenakan piyama yang kotor berbercak noda darah kering milik suamiku. Jemariku yang saling bertaut tak berhenti bergetar, sementara air mata terus mengalir tanpa suara.Di sana juga menunggu Ibu Diana, Yumna, Nyonya Salma dan beberapa pengawalnya. Ruang tunggu itu hanya diisi keluarga Ananta saja. Nyonya Salma dan Yumna menggunakan beberap kursi untuk bisa duduk dengan lebih santai. Mengingat traumatis mereka yang sedang mengandung. Ibu Diana juga disediakan kursi yang panjang agar beliau bisa istirahat. Operasi ini akan memakan waktu yang panjang, dan mereka bersi
Langkah sepatu lars berat itu kian dekat, bergema mengintimidasi di sepanjang lorong lantai atas Paviliun Lavender. Setiap pintu kamar yang terlewati ditendang paksa dari luar, disusul suara barang-barang berjatuhan dan kaca pecah yang makin menambah mencekamnya suasana malam.Mas Bara merangkul bahu ibunya, menuntun Ibu Diana ke arah kamar mandi dengan gerakan tanpa suara. Namun saat ia berpaling hendak memintaku ikut bersembunyi, aku menahan lengannya dan menggeleng tegas. Aku tidak ingin meninggalkannya sendirian menghadapi bahaya di luar.Melihat bantahanku, Mas Bara menatapku tajam seraya menggenggam erat kedua bahuku. "Tolong aku, Silvia... temani Mama. Jangan buat aku terdistrak," bisiknya kekeh dengan suara bergetar namun penuh penekanan.Tatapannya yang sarat permohonan membuat dadaku sesak. Demi tak memecah fokusnya, aku akhirnya menuruti permintaannya. Aku mencium bibirnya, memberinya semangat untuk tetap bertahan, Mas Bara membalas ciuman itu di depan ibunya sebagai penguk
Pukul dua dini hari, ketenangan di Paviliun Lavender pecah menjadi neraka.JEGLEK!Seluruh aliran listrik mendadak mati total. Kegelapan pekat menyergap seketika. Belum sempat aku bangkit dari tempat tidur di kamar pelayan, suara rentetan tembakan senjata api otomatis bergema tajam dari arah pintu gerbang Mansion Utama, disusul suara dentuman keras pecahan kaca."Semua tiarap! Jangan ada yang menyalakan cahaya!" suara Hans terdengar membentak dalam kegelapan lorong.Suara jeritan Salma dan Yumna pecah di ruang tengah. Aku segera berlari keluar kamar, mengusap perut empat bulanku yang bergetar hebat. Dalam remang cahaya bulan yang menembus jendela, kulihat Hans bergerak cepat mematikan sisa sakelar darurat dan mengunci pintu-pintu utama."Hans, apa yang terjadi?!" pekik Nyonya Salma histeris seraya memeluk erat kotak perhiasannya."Kelompok bersenjata mendobrak Mansion Utama! Tuan Ananta dan Nyonya Rika sudah disekap!" napas Hans memburu, jarinya berada tegas di atas picu senjata api.
Aku mengiringi Nyonya Salma saat melangkah keluar dari Mansion. Nyonya Salma terlihat begitu ceria sepanjang jalan bahkan bercerita kepadaku soal rencana merenovasi kamar bayi di Mansion hanya untuk cucu dari Tuan Sinyo. Sungguh aku tidak cemburu hanya... entahlah ini terlalu banyak dibumbui kepentingan pribadi.Pelayan termasuk aku membawa beberapa kotak pemberian Nyonya Rika. Wajah wanita itu berseri-seri, memancarkan kepuasan yang tak lagi disembunyikannya. Baginya, penerimaan Nyonya Rika atas kehamilannya adalah kemenangan telak untuk mengamankan statusnya di keluarga Ananta."Lihat ini, Silvia," ujar Salma dengan nada sombong saat kami menyusuri jalan setapak taman menuju Paviliun Lavender. "Ibu Rika tahu mana menantu yang benar-benar membawa keberuntungan untuk keluarga ini. Kamu simpan semua kotak ini di kamarku ya...""Baik, Nyonya," balasku singkat, menundukkan kepala seraya memeluk erat sebuah kotak di dadaku.Mas Bara telah memilih melarikan diri ke kantor dan apartemennya,
Langkah kami terhenti di ambang ruang keluarga utama yang megah. Nyonya Rika sudah menyambut kedatangan Salma dengan senyum lebar yang begitu antusias. Ibu tiri Mas Bara itu melangkah cepat, memeluk Salma dengan kehangatan yang tak pernah kulihat sebelumnya, lalu menuntunnya untuk duduk di sofa beludru."Selamat, Salma! Ibu senang sekali saat mendengar kabar kehamilanmu kemarin," ujar Nyonya Rika seraya menggenggam erat kedua tangan menantunya. “Ibu jadi cepat-cepat mempersiapkan semua yang terbaik untuk cucu.”"Terima kasih banyak, Ibu Rika. Cucunya masih harus menunggu lama, dan maaf Salma baru bisa main ke sini," jawab Salma lembut, menampilkan senyum santun yang tampak begitu sempurna.Ia seakan lupa bagaimana perlakuan kejam Ibu Rika yang sempat membuatnya kaku dan takut.Aku melangkah perlahan ke meja samping, meletakkan bingkisan yang kubawa dengan kepala tetap menunduk dalam-dalam. Diikuti beberapa pelayan yang meletakkan bingkisan juga. Sebagai pelayan, aku berusaha sebisa mu
Keluarnya Mas Bara dari kamarku malam itu menjadi awal dari jarak yang kian membentang lebar di antara kami. Pria itu benar-benar tidak kembali ke Paviliun Lavender setelah perdebatan dingin kami. Dari desas-desus yang kudengar dari Hans saat ia membereskan beberapa berkas di ruang kerja, Mas Bara memilih menghabiskan seluruh waktunya di kantor Ananta Group atau menginap di apartemen pribadinya di pusat kota. Ia sengaja menarik diri sepenuhnya, menjauh dari jangkauanku dan juga dari Salma. Pria itu meninggalkan rumah ini dalam ketegangan yang menggantung, seolah melarikan diri dari kerumitan rumah tangga yang tak sanggup ia urai atau sengaja ia gantung.Satu hari berlalu tanpa kabar, disusul hari berikutnya yang terasa kian sunyi di paviliun. Ketidakhadiran Mas Bara menciptakan canggung yang nyata di antara para penghuni. Salma lebih banyak mengurung diri di kamar, sesekali keluar hanya untuk makan dengan wajah pias. Tanpa perlindungan Mas Bara di sisinya, posisi Salma sebenarnya sang
“Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk
Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d
“Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge
Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.







