LOGINSuasana di rumah duka Mansion Ananta berubah menjadi begitu kelam dan mencekam. Kain hitam membentang di sepanjang pilar-pilar megah, sementara karangan bunga belasungkawa berukuran raksasa terus berdatangan menutupi seluruh halaman depan. Semua anggota keluarga besar Ananta, kerabat, hingga relasi bisnis kelas atas hadir mengenakan pakaian serba hitam, berkumpul memberi penghormatan terakhir.Isak tangis memenuhi ruang utama saat peti kayu jati berukir disemayamkan di tengah ruangan. Ibu Diana terduduk lemas di kursi roda dengan wajah pucat tanpa rona, dirangkul erat oleh Yumna yang terus meneteskan air mata.Di sudut lain, ruang duka itu juga memancarkan ketegangan yang pekat. Ibu Rika berdiri bersama Salma dan jajaran keluarga dari para selir Tuan Ananta. Mereka tampil anggun dan penuh percaya diri di hadapan para tamu, seolah-olah tampuk kepemimpinan tertinggi sudah otomatis berada di genggaman mereka.Hanya Kayla, s
Pernyataan Ibu Diana melayang di udara ruang tunggu operasi rumah sakit bagaikan petir. Nyonya Salma terpaku, matanya membelalak lebar menatap Ibu Diana, lalu beralih padaku dengan pendar kebingungan yang perlahan berubah menjadi kemarahan membara."Maksud Mama apa?!" jerit Salma tertahan. "Istri pertama?! Perempuan ini cuma pelayan di rumah kita, Ma! Dia ini orang digaji! Kenapa Mama malah mengada-ada di saat Sinyo sedang bertaruh nyawa di dalam?!"Ibu Diana menarik napas panjang, menatap Salma dengan raut kelelahan yang teramat sangat. "Mama tidak mengada-ada, Salma. Mama juga baru tau tadi pagi buta saat situasi Mansion mencekam. Sinyo dan Silvia sudah menikah sah secara hukum dan agama sejak satu tahun yang lalu di desa. Silvia adalah istri pertama Bara.""Bohong! Ini pasti akal-akalan perempuan ini buat menguasai harta Ananta!" Salma membuang kotak emas yang sejak semalam didekapnya. Ia melangkah maju menuding mukak
Lampu merah di atas pintu ruang operasi darurat (Emergency Operating Theater) menyala terang. Di dalam sana, tim dokter spesialis tengah bertarung melawan maut untuk menyelamatkan nyawa Mas Bara. Operasi thoracotomy darurat harus segera dilakukan untuk menghentikan pendarahan hebat di rongga dada akibat luka tembak tembus dari dada depan hingga punggung belakangnya.Aku berdiri mematung di dekat jendela kaca lorong, masih mengenakan piyama yang kotor berbercak noda darah kering milik suamiku. Jemariku yang saling bertaut tak berhenti bergetar, sementara air mata terus mengalir tanpa suara.Di sana juga menunggu Ibu Diana, Yumna, Nyonya Salma dan beberapa pengawalnya. Ruang tunggu itu hanya diisi keluarga Ananta saja. Nyonya Salma dan Yumna menggunakan beberap kursi untuk bisa duduk dengan lebih santai. Mengingat traumatis mereka yang sedang mengandung. Ibu Diana juga disediakan kursi yang panjang agar beliau bisa istirahat. Operasi ini akan memakan waktu yang panjang, dan mereka bersi
Langkah sepatu lars berat itu kian dekat, bergema mengintimidasi di sepanjang lorong lantai atas Paviliun Lavender. Setiap pintu kamar yang terlewati ditendang paksa dari luar, disusul suara barang-barang berjatuhan dan kaca pecah yang makin menambah mencekamnya suasana malam.Mas Bara merangkul bahu ibunya, menuntun Ibu Diana ke arah kamar mandi dengan gerakan tanpa suara. Namun saat ia berpaling hendak memintaku ikut bersembunyi, aku menahan lengannya dan menggeleng tegas. Aku tidak ingin meninggalkannya sendirian menghadapi bahaya di luar.Melihat bantahanku, Mas Bara menatapku tajam seraya menggenggam erat kedua bahuku. "Tolong aku, Silvia... temani Mama. Jangan buat aku terdistrak," bisiknya kekeh dengan suara bergetar namun penuh penekanan.Tatapannya yang sarat permohonan membuat dadaku sesak. Demi tak memecah fokusnya, aku akhirnya menuruti permintaannya. Aku mencium bibirnya, memberinya semangat untuk tetap bertahan, Mas Bara membalas ciuman itu di depan ibunya sebagai penguk
Pukul dua dini hari, ketenangan di Paviliun Lavender pecah menjadi neraka.JEGLEK!Seluruh aliran listrik mendadak mati total. Kegelapan pekat menyergap seketika. Belum sempat aku bangkit dari tempat tidur di kamar pelayan, suara rentetan tembakan senjata api otomatis bergema tajam dari arah pintu gerbang Mansion Utama, disusul suara dentuman keras pecahan kaca."Semua tiarap! Jangan ada yang menyalakan cahaya!" suara Hans terdengar membentak dalam kegelapan lorong.Suara jeritan Salma dan Yumna pecah di ruang tengah. Aku segera berlari keluar kamar, mengusap perut empat bulanku yang bergetar hebat. Dalam remang cahaya bulan yang menembus jendela, kulihat Hans bergerak cepat mematikan sisa sakelar darurat dan mengunci pintu-pintu utama."Hans, apa yang terjadi?!" pekik Nyonya Salma histeris seraya memeluk erat kotak perhiasannya."Kelompok bersenjata mendobrak Mansion Utama! Tuan Ananta dan Nyonya Rika sudah disekap!" napas Hans memburu, jarinya berada tegas di atas picu senjata api.
Aku mengiringi Nyonya Salma saat melangkah keluar dari Mansion. Nyonya Salma terlihat begitu ceria sepanjang jalan bahkan bercerita kepadaku soal rencana merenovasi kamar bayi di Mansion hanya untuk cucu dari Tuan Sinyo. Sungguh aku tidak cemburu hanya... entahlah ini terlalu banyak dibumbui kepentingan pribadi.Pelayan termasuk aku membawa beberapa kotak pemberian Nyonya Rika. Wajah wanita itu berseri-seri, memancarkan kepuasan yang tak lagi disembunyikannya. Baginya, penerimaan Nyonya Rika atas kehamilannya adalah kemenangan telak untuk mengamankan statusnya di keluarga Ananta."Lihat ini, Silvia," ujar Salma dengan nada sombong saat kami menyusuri jalan setapak taman menuju Paviliun Lavender. "Ibu Rika tahu mana menantu yang benar-benar membawa keberuntungan untuk keluarga ini. Kamu simpan semua kotak ini di kamarku ya...""Baik, Nyonya," balasku singkat, menundukkan kepala seraya memeluk erat sebuah kotak di dadaku.Mas Bara telah memilih melarikan diri ke kantor dan apartemennya,
Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d
“Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge
Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.
‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus







