Teilen

Bab 6

last update Veröffentlichungsdatum: 24.03.2026 16:45:55

“Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.

 

“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungkin... tidak banyak lagi buat Silvi.”

 

“Eyang, jangan bicara begitu,” lirihku, air mataku semakin meleleh.

 

“Ada satu permintaan Eyang... tolong turuti ya, Nduk...”

 

Aku mengangguk cepat tanpa pikir panjang. “Iya Eyang, Silvi janji akan penuhi apa pun maunya Eyang. Silvi akan jadi cucu yang paling nurut.”

 

Eyang tersenyum lemah, lalu menoleh ke arah Bara. “Bara...”

 

Bara melangkah mendekat, berdiri tepat di sampingku. “Ya, Eyang... Saya di sini.”

 

“Selama ini... kamu sudah jadi teman... yang baik buat Eyang. Kamu orang baik, Bara...” Eyang mengambil nafas berat sebelum melanjutkan, “Aku... serahkan Silvi sama... kamu. Jaga dia... dengan jiwa... dan ragamu. Nikahi Silvi... sekarang... sebelum aku pergi.”

 

Kata-kata itu menghantamku seperti godam. Aku menoleh pada Eyang dengan mata membelalak tak percaya. “Hah?! Eyang... apa maksudnya ini?”

 

“Hanya Bara... yang bisa menjagamu, Nduk. Dia... jodoh... yang terbaik... untukmu...” bisik Eyang dengan nafas satu-satu dan tatapan memohon yang sulit kuabaikan, membuatku tak berkutik.

 

“Iya, Eyang. Saya akan menikahi Silvi sekarang juga,” sahut Bara tiba-tiba dengan suara yang begitu tenang namun penuh otoritas.

 

“Hah?! Mas?!”

 

Aku menatapnya dengan mulut ternganga. Gila. Pria ini benar-benar serius mengiyakan permintaan mustahil itu di depanku. Bara sama sekali... bukan pria tipeku. Tipeku itu seperti Aditya, dia kakak kelas di kedokteran. Sekarang sedang mengambil spesialis kandungan, pria pintar dan kharismatik. Incaran semua perempuan seangkatanku. Kakak kelas favorit, sebelum kejadian Papa kabur seharusnya kami berencana berkencan. Tapi semua pupus bersamaan jatuhnya kerajaan Papa.

 

Setelah Bara membisikkan kata-kata penenang bahwa ia akan menyiapkan segalanya sekarang, nafas Eyang mulai teratur kembali. Beliau tampak sangat lega, seolah beban berat di pundaknya baru saja berpindah ke pundak pria di sampingku ini.

 

Bara menoleh padaku, ia memberi isyarat dengan tangannya ke arah pintu.

“Mbak, kita bicara di luar...” bisiknya.

 

Begitu pintu ruang rawat tertutup rapat, aku mengikuti Bara hingga keluar dari klinik. Setelah berada di luar, jauh dari orang-orang, Aku langsung menarik kemejanya dan menatap Bara dengan api kemarahan di mataku.

 

“Mas sudah gila, ya?!” serangku langsung. “Apa-apaan tadi itu? Menikah? Mas pikir ini sinetron? Kita bahkan baru kenal beberapa jam yang lalu di terminal! Mas bahkan nggak tahu siapa aku sebenarnya! Kenapa Mas terima, permintaan Eyang?!”

 

Bara tidak langsung menjawab. Ia melipat tangan di depan dada, menatapku dengan sorot mata yang datar seolah amukanku hanyalah angin lalu baginya.

 

“Sudah bicaranya?” tanya Bara pendek setelah aku terengah-engah karena marah.

 

“Mas?”

 

“Dengar, Mbak...” Bara melangkah mendekatiku, membuatku refleks mundur. “Tadi itu adalah permintaan seorang kakek yang baru saja nyaris kehilangan nyawanya. Kamu lihat sendiri kan, bagaimana kondisi jantungnya saat ini? Kamu mau saya bilang tidak lalu melihatnya kolaps lagi karena kecewa?”

 

Aku terbungkam. Lidahku mendadak kelu.

 

“Kedua,” lanjut Bara, “Eyang Gun adalah orang yang sangat saya hormati. Beliau meminta saya menjaga cucunya. Dan di desa ini, cara paling aman dan sah bagi saya untuk menjagamu dua puluh empat jam penuh adalah dengan status pernikahan. Saya tidak peduli siapa Mbak di kota atau masalah apa yang Mbak bawa.”

 

“Tapi Mas... ini pernikahan!” bisikku frustrasi.

 

“Bagi saya, ini soal tanggung jawab dan janji pada orang tua,” sahut Bara dingin. “Kecuali... kalau Mbak mau masuk lagi ke dalam, bilang ke Eyang kalau Mbak menolak, dan biarkan Eyangnya menanggung rasa sakit sendirian. Bagaimana, Mbak?”

 

Aku menatapnya dengan rasa tidak berdaya yang luar biasa. Dia menggunakan kartu kesehatan Eyang sebagai senjata yang membuatku benar-benar tak berkutik.

 

“Kenapa Mas mau melakukan ini?” tanyaku akhirnya, suaraku melemah.

 

Bara hanya menatapku sekilas sebelum berbalik. “Karena saya percaya dengan pilihan Eyang Mbak... saya hidup sama Eyang bukan baru kemarin tapi sudah tahunan.”

 

“Hah?! Eyang kok nggak pernah cerita tentang kamu?” tanyaku sambil berlari kecil mengikutinya.

 

“Mana saya tahu, mungkin hanya belum waktunya. Tapi...”

 

Bara terus berjalan.

 

“Tapi apa?” tanyaku lagi.

 

Ia menoleh padaku, “...Ah nanti saja saya ceritanya, nggak enak kalau cerita sekarang...”

 

***

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 46

    Kami tiba di rumah saat benar-benar gelap. Aku menggigil sudah kedinginan sejak tadi, bahkan jemariku keriput.Begitu pintu terbuka, aku langsung melangkah masuk dengan menghentakkan kaki lebar-lebar, meninggalkan jejak-jejak air yang menetes dari ujung rokku ke atas ubin.Penampilanku saat ini sudah tidak ada bedanya dengan hantu penunggu hulu sungai. Bajuku yang robek akibat keganasan badai cemburu Bara tadi sore terpaksa kutinggalkan di hutan. Sebagai gantinya, sekarang aku memakai kaus oblong hitam polos milik Bara yang ukurannya tiga kali lebih besar dari badanku, tenggelam sampai ke paha, berpadu dengan rok panjangku yang masih basah kuyup dan melekat dingin di kaki.Rambutku? Jangan ditanya. Acak-acakan kering seadanya, dengan beberapa helai daun kering yang terselip di sela-selanya.“Pria gila! Egois! Capybara tidak punya perasaan!” omelku berapi-api sambil melempar sandal jepitku ke sudut ruang tamu dengan kesal. Aku berbalik, menunjuk muka Bara yang berjalan santai di belaka

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 45

    Bahu Aditya akhirnya sudah jauh lebih baik. Beruntung itu hanya otot yang tiba-tiba menegang karena nekat mengangkat beban berat tanpa pemanasan, bukan cedera serius. Namun, drama hari ini ternyata belum selesai. Dalam perjalanan pulang kami menggunakan mobil, di dalam kabin terasa begitu pekat dan membisu. Bara menyetir dengan rahang mengeras rapat tanpa mengucapkan satu patah kata pun.Hingga di pertengahan jalan yang sepi, Bara mendadak membanting setir dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Hari sudah sore, matahari hampir tenggelam sepenuhnya, dan siluet pepohonan di sekitar kami mulai meremang gelap.“Lho, kok berhenti di sini, Mas?” tanyaku heran, menatap sekeliling yang hanya berupa vegetasi liar.“Turun!” perintah Bara pendek. Ia tidak menunggu jawabanku dan langsung melompat turun lebih dulu dari mobil.Aku mengernyitkan dahi, membuka pintu mobil dengan perasaan waswas. “Mas Bara mau ngapain di sini? Ini sudah mau gelap, lho.”“Turun, Silvia.” Kali ini ia berbalik, m

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 44

    “Ah, Pak Bara bisa saja. Saya nggak sampai dehidrasi kok, cuma agak haus,” sanggah Aditya cepat, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sedikit tercoreng.Melihat situasi yang canggung, Asih segera bergerak gesit. Ia mengambil teko berisi air putih dingin, lalu meletakkannya di atas nampan bersama dua buah gelas kosong untuk Bara dan Aditya.Kami berempat pun keluar dari kantor guru menuju selasar depan sekolah yang agak teduh. Sembari duduk melepas lelah di lantai selasar, Asih dengan telaten menuangkan air putih ke dalam dua gelas tersebut. Satu gelas pertama diserahkannya kepada Aditya yang langsung menerimanya dengan anggukan lega. Namun, saat Mbak Asih hendak menyerahkan gelas kedua kepada Bara, suamiku itu tiba-tiba menoleh menatapku tajam.“Silvi, sini!” panggil Bara, suaranya berat dan mutlak.Aku mengernyitkan dahi bingung, tapi kaki ini tetap melangkah menuruti panggilannya. Begitu aku sudah berdiri dekat di hadapannya, aku bertanya, “Ada apa, Mas?”Tanpa menjawab, tangan

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 43

    Aku berjalan dengan langkah canggung menyusuri koridor selasar. Mau kembali ke toilet lagi jelas tidak mungkin, bisa-bisa dikira aku sedang diare. Tapi kalau bertahan di halaman depan, mataku benar-benar diuji oleh pemandangan yang luar biasa ajaib. Dokter Aditya ternyata sudah mulai kewalahan. Baru mengangkat dua sak semen yang masing-masing beratnya 40 kilogram itu, nafasnya sudah tersengal-sengal. Kulitnya yang putih bersih langsung berubah merah padam, dan tubuhnya kini basah kuyup oleh keringat. Otot gym-nya yang estetik itu ternyata langsung menyerah begitu berhadapan dengan realita semen proyek yang berdebu dan kasar. Melihat lawannya sudah ngos-ngosan, Bara mendengkus geli sebuah ejekan tanpa suara yang sangat menyebalkan. “Biar saya yang urus semennya, Dok. Dokter angkat batako saja,” ujar Bara dengan nada meremehkan yang sangat kentara. Tanpa babibu, si Capybara itu langsung memosisikan tubuhnya di dekat truk. Dengan gerakan yang terlihat begitu terlatih dan enteng, ia me

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 42

    Semua ini bermula ketika jam menunjukkan pukul satu siang. Anak-anak sekolah sudah dipulangkan sejak tadi, dan tugas pemeriksaan kesehatan dokter Aditya pun sudah selesai sepenuhnya. Namun, alih-alih langsung pamit pulang naik motor dinasnya, pria kota itu malah memilih untuk tetap tinggal. Matahari siang itu sedang menyengat dengan sangat terik, aku dan Asih duduk di bawah pohon tabebuya sambil minum es teh manis.Sebuah truk engkel bermuatan batako dan beberapa sak semen baru saja tiba. Bara, yang sejak pagi memimpin renovasi, tampak menyeka keringat deras di pelipisnya menggunakan kaus oblong hitamnya. Mungkin karena gerah yang sudah tidak tertahankan di bawah jam satu siang, pria itu dengan santai mencengkeram ujung kausnya, lalu menariknya ke atas melewati kepala dalam satu gerakan lurus.Sret.Kaus hitam itu dilemparkan begitu saja ke atas pembatas selasar. Dan di sanalah dia, berdiri dengan gagah di bawah siraman cahaya matahari, memamerkan punggung lebar dan deretan perut kot

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 41

    Jantungku berdegup kencang hingga rasanya mau meledak. Itu benar-benar dia. Pria yang selama ini memenuhi isi hatiku, mau apa dia di sini?Aditya yang sedang mengedarkan pandangan ke arah bangunan sekolah yang sedang direnovasi, mendadak menghentikan tatapannya tepat di tempatku berdiri. Matanya membelalak, ia sama kagetnya denganku. Refleks, aku melangkah hendak menghampirinya, tetapi kepala sekolah lebih dulu muncul dan menyambut mereka. Aku pun buru-buru mengalihkan langkahku, berbalik arah dan berjalan cepat menuju toilet untuk menenangkan diri.Aku membasuh wajahku berkali-kali di wastafel toilet sambil berpikir keras. Mau apa dia di sekolah ini? Kenapa dia harus datang sekarang?Setelah merasa debaran jantungku agak terkendali, aku merapikan penampilan dan berjalan keluar. Namun, baru saja melewati pintu toilet yang sepi dan agak tersembunyi dari halaman utama, langkahku kembali terkunci. Aditya sudah berdiri di sana, menungguku.“Silvia?” panggilnya, suaranya terdengar tidak pe

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 17

    Aku menutup tubuhku menggunakan handuk itu. Lalu sejenak mendengarkan, di luar sepi sepertinya Bara sudah tidak ada atau mungkin tertidur. Akhirnya Silvia keluar kamar mandi dengan perlahan, khawatir terlihat Bara.“Sepi... kosong...” gumam Silvia, ia pun langsung masuk ke kamar.Ternyata Bara bera

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 16

    Bu Dirman mengangguk lemah, wajahnya sudah basah karena peluh dan air mata. Aku segera ke dapur mencuci tangan dengan bersih, lalu segera kembali ke kamar bersalin.Aku berlutut di antara kedua kaki Ibu Dirman. Tanganku gemetar saat melakukan pemeriksaan dalam, namun aku berusaha tetap tenang.“Pe

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 14

    “Apa sih?” aku mengerling padanya dengan wajah kesal.“Jangan khawatir, aku sedang tidak berminat...” ujarnya enteng.“Lagipula, kamu sepertinya butuh waktu untuk mengembalikan fungsi bagian intimu agar bisa normal lagi,” tambah Bara dengan nada yang sangat menyebalkan. Ia berdiri di ambang pintu,

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 12

    Aku pun bangkit dari ayunan, hendak menghampiri suara tersebut. Aku menyusuri kebun belakang, di sana tampak dua orang anak. Salah satunya duduk di tanah terisak, penamilannya benar-benar kumal seolah tidak takut kotoran. Aku mendekati mereka perlahan, khawatir aku yang akan terjatuh di tanah basah

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status