FAZER LOGIN
‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’
Aku turun dari bus malam, kondisi masih pagi buta. Di terminal Argosari, aku tidak tahu harus naik apalagi menuju tujuan berikutnya. Di pesan w******p, Papa hanya mengirim pesan singkat itu, dan alamat Eyang Gun. Aku menuliskan alamat lengkap Eyang Gun, di secarik kertas supaya lebih mudah untuk memperlihatkannya pada orang-orang di Argosari saat bertanya nanti. Ah... kadang aku menyalahkan Papa untuk masalah ini, kenapa diambil hutang jutaan dollar itu dari Bos Mafia Bahlil. Sekarang baru rasa, menyusahkan sekeluarga. Papa enak kabur sama Mama, setidaknya Papa nggak sendirian, sedangkan aku... sendirian di... entah dimana ini... rasanya aku ingin menangis. Tidak bawa persiapan apapun, hanya baju yang melekat di badanku saja serta uang tunai yang sempat aku tarik sebelum naik bus malam. Ponselku pun aku matikan, mereka juga bisa melacakku via ponsel. Mungkin akan kunyalakan lagi setelah membeli kartu baru. Sekarang aku harus naik apa ke Dusun Mertangi, aku masih buta daerah sini, Papa dan Mama pernah mengajakku tapi itu waktu kecil. Waktu itu juga naik mobil, bukan naik bus malam macam ini. Benar-benar jauh dari kata nyaman. Apalagi ketika sampai dan melihat bagaimana kondisi terminal yang kumuh. Sampah masih teronggok di setiap sudut terminal. Bus yang parkir hanya sedikit, benar-benar sepi. Aku pun duduk di salah satu bangku terminal, sendirian. Ada rasa takut yang merayap, bukan sama hantu tapi sama manusia karena keburukan manusia bisa melukai. Aku melihat beberapa kernet bis yang lagi main kartu di sana. Mau menanyakan alamat Eyang namun aku agak ragu. Tapi jika terus-terusan di sini akan membuatku makin mikir macam-macam. Jadi aku beranikan diri untuk menanyakan pada mereka. Aku pun mendekati mereka. “Permisi...” tegurku sopan. Tiga pria yang tadi sibuk mengobrol menoleh. “Ada apa Mbak?” tanya salah satunya, sedangkan yang lain menatap kakiku yang terbuka hanya beralaskan sepatu wedges. Dress selututku yang terkena angin pagi agak melambai-lambai sehingga pahaku terkadang terbuka. Aku harus memegangi rokku juga rambutku yang agak berantakan. “Dusun Mertangi apa masih jauh?” tanyaku cepat. “Wah, masih jauh Mbak... itu melewati hutan, sawah dan kuburan. Kira-kira sekitar empat puluhan kilometer lagi.” Jawab salah satu masih dengan logat khas Argosari. “Kira-kira satu jam lebihlah Mbak, jauh...” tambah yang lain. Aku mengangguk, “Harus naik apa ya ke sana?” Mereka bertiga saling pandang, entah apa yang mereka pikirkan. Seharusnya mereka tahu harus naik apa ke sana, kenapa harus saling memandang dalam diam? Bikin curiga saja. Salah satunya menunjuk mobil kecil, semacam colt. “Bisa naik itu Mbak... Ini supirnya...” ia menunjuk salah satu temannya. Aku menoleh, “Oh, gitu. Apa sekarang jalan?” “Nanti Mbak nunggu penumpang dulu, Mbak kalau mau nunggu di dalam juga bisa.” Ujarnya sang sopir. Aku mengangguk, “Baiklah, saya menunggu di dalam saja. Terima kasih...” Aku pun berjalan ke mobil itu, salah satunya menemaniku hingga aku masuk dan duduk di dalamnya. Sendirian. Lampu kabin dinyalakan satu tapi hanya remang saja. Aku bersandar, rasa kantuk langsung menerpaku. Berusaha tetap terjaga namun rasa kantuk mengalahkanku. Sesaat aku sudah memejamkan mata karena main ponsel pun tak bisa. Dengan mendekap erat tas selempangku yang berisi uang dua puluh juta tunai, ponsel mati dan alat make up minimalis. Aku baru saja memejamkan mata saat kurasakan mobil colt ini berguncang. Bukan guncangan mesin, melainkan guncangan dari langkah orang yang naik untuk masuk. Aku pikir itu penumpang lain. "Sstt... diam saja, Mbak. Tasnya berat ya? Sini, saya bantu bawakan," bisik sebuah suara serak yang membuat bulu kudukku berdiri. Tiga pria yang tadi bermain kartu kini sudah mengepung pintu mobil. Salah satunya sudah masuk dan mencoba menarik paksa tas selempang yang kudekap erat. Aku meronta, tenaga pria itu jauh lebih kuat. “Jangan! Lepaskan!” teriakku histeris. Aku mulai menendang-nendang asal, membuat mobil tua itu berguncang hebat. “Tolong! Tolong!!” “Sst! Tenang saja Mbak, saya akan pelan-pelan. Nggak bikin sakit...” lirihnya dengan mata sayu. Dua temannya yang berada di pintu tertawa cekikikan melihat temannya beraksi. “Ayo cepat, jangan lama-lama... gantian...” ujar salah satu pria yang berada di pintu. Pria yang menyentuhku sudah berhasil mendorongku ke jok mobil, ia hendak menindihku. Aku berteriak sekuat tenaga, detik berikutnya ia membekap mulutku. Baru saja aku hendak menggigit tangan pria yang membekap mulutku, ketika sebuah dentuman keras menghantam kap mesin mobil colt ini. BRAK! ***Aula utama Mansion Ananta disulap menjadi ruang pesta yang megah. Lampu-lampu kristal memancarkan kilau keemasan, membalut riuh rendah para tamu VIP berbusana glamor. Demi menghormati Tuan Muda Sinyo yang konsisten menyembunyikan parasnya, Tuan Ananta menggelar pesta ini sebagai masquerade party yang penuh misteri.Aku datang belakangan karena sengaja, sejak awal juga aku enggan datang. Aku datang karena menghormati Ibu Diana. Aku mengenakan gaun malam berpotongan seksi warna hitam pekat, gaun dengan belahan dada sweetheart yang anggun dan bagian punggung terbuka, dipadukan dengan topeng ukir renda tipis dengan bulu hitam di area mata. Penampilanku benar-benar berubah total. Tanpa perhiasan mencolok, riasan tipis dan rambut yang kusanggul sederhana justru memancar begitu kontras di antara kerumunan wanita bergaun mewah.Begitu aku melangkah masuk ke aula, seorang penerima tamu memberikanku gelang dari bunga lavender yang cantik.Setiap pasang mata di aula menoleh, bisik-bisik kagum me
Malam ini, pesta topeng megah untuk menyambut kepulangan Tuan Muda Sinyo digelar di mansion utama. Atmosfer bangunan raksasa itu begitu sibuk dan hiruk-pikuk dari pagi. Meski pekerjaanku sudah selesai, aku sengaja tak segera berdandan karena memang sama sekali enggan menghadiri pesta tersebut.Setelah pamit pada Bu Diana, aku memilih melangkahkan kaki menuju dapur utama untuk menawarkan bantuan. Sejujurnya, ini hanya alasanku saja untuk menjauh dari Tuan Muda Sinyo. Hatiku benar-benar tak sedang baik-baik saja semenjak kehadiran pria bertopeng itu di Paviliun Lavender. Sosoknya sangat mengingatkanku pada Capybara-ku di desa.Dapur besar mansion menyambutku dengan kesibukan yang luar biasa. Bi Surti yang sedang memegang papan daftar kebutuhan malam itu mendadak menghentikan kesibukannya saat mendapatiku hanya berdiri kaku di samping pintu.“Nona Silvia, ngapain di sini?” tegurnya terkejut. “Bu Diana kemarin pesan ke saya, Nona tidak boleh bantu-bantu di dapur. Di sini pelayannya sudah
Tubuhku gemetar dingin. Napasku tertahan di tenggorokan, sementara jantungku berdegup terlalu kencang memukul dada.“Tu... Tuan Sinyo, tolong...” bisikku parau, berusaha memanggil sisa keberanian yang ada. “Jangan seperti ini...”Pria di belakangku sama sekali tak bergeming. Ia justru makin merapatkan tubuh tegapnya, mengurungku sepenuhnya di antara dada bidangnya dan daun pintu kayu. Tangannya yang hangat merayap perlahan dari pangkal leher, menyusuri garis punggung, hingga berhenti di pinggang. Ia lalu menunduk, mendaratkan kecupan hangat di atas kulit punggungku yang terbuka.Ujung topeng hitamnya menyapu leherku yang dingin, disusul bisikan rendah dalam bahasa Inggris yang terdengar asing dan tajam di dekat telinga."Why? Aren't you here to serve the master of this house?"Tubuhku tersentak. Cengkeraman jemariku pada gagang pintu kayu memutih karena panik."Saya... saya pelayan di sini, tapi bukan..." suaraku terbata, mencoba menggeser tubuh untuk meloloskan diri."What?" potongny
Hingga akhirnya, hari yang begitu dinantikan oleh Bu Diana pun tiba. Tuan Muda Sinyo resmi memindahkan seluruh barang dan kepentingannya, secara sah tinggal di lantai atas Paviliun Lavender. Namun, alih-alih tercipta interaksi yang hangat antara majikan dan pekerja, sebuah jembatan yang begitu dingin justru terbentang di antara kami.Tuan Muda Sinyo bersikap sangat dingin dan penuh jarak. Pria itu amat irit bicara, terutama jika situasi memaksanya untuk berhadapan langsung denganku. Ia mempertahankan wibawa dan posisinya sebagai Tuan Muda yang tak tersentuh. Bila ada hal yang perlu disampaikan, ia lebih banyak membisu, memberi gestur tangan yang singkat, secarik kertas catatan atau hanya merespon menggunakan bahasa Inggris yang formal dan bernada perintah.Setiap kali kami tak sengaja berpapasan, atau saat aku mendapat tugas membawakan nampan berisi kopi hitam ke ruang kerjanya, aura dominan yang memancar dari balik kemeja hitam dan topengnya selalu berhasil membuatku menunduk. Langk
Sudah beberapa hari berlalu sejak malam yang menggegerkan di lantai atas itu, tetapi keberadaan Tuan Muda Sinyo kembali menjadi teka-teki yang menggantung di udara. Pria bertopeng itu seolah lenyap entah kemana, tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di area Paviliun Lavender. Setiap kali aku melintasi anak tangga menuju lantai atas untuk mengantar kelengkapan kamar atau sekadar membersihkan, ruangan itu selalu diliputi kesunyian yang menekan. Pintu kamar utama di ujung sana berdiri kokoh, tertutup rapat tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan.Meski raga pria itu tak terlihat, sosok Sinyo seolah tak pernah benar-benar pergi dari paviliun ini. Namanya selalu bergema saban hari di ruang tamu, dibawa oleh Bu Diana yang wajahnya kian hari kian berseri-seri. Wanita tua yang tadinya murung dan sering terbaring lemas itu kini tampak memiliki rona kehidupan yang baru. Setiap kali aku mengurus kebutuhan harian beliau, Bu Diana selalu antusias dan berbunga-bunga membagikan kabar terbaru
Denting jam dinding samar-samar menandakan malam sudah melewati pukul dua dini hari. Cengkeraman tanganku pada gagang tongkat baseball kayu itu awalnya terasa amat erat, tetapi perlahan-lahan kelelahan yang menumpuk seharian mulai menggerogoti pertahananku. Kelopak mataku terasa makin berat, hingga akhirnya rasa kantuk hebat melumpuhkan kesadaranku total. Aku tertidur pulas di atas sofa dingin itu.Silau cahaya matahari yang menerobos dari jendela mendadak menusuk mataku. Aku tersentak bangun dengan napas memburu, panik karena menyadari posisi tubuhku. Rasa aneh langsung menyergapku begitu kesadaranku terkumpul sepenuhnya. Sofa yang semalam kutarik rapat menutupi depan pintu kamar kini sudah bergeser rapi kembali ke posisi semula. Lebih mengejutkannya lagi, tubuhku terbungkus rapat oleh sebuah selimut tebal yang amat hangat. Tongkat baseball yang semalam kupeluk erat kini tergeletak manis di lantai samping sofa.Aku menelan saliva. Kehangatan selimut ini... siapa yang meletakkannya?“
Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d
“Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge
Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa
Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.







