แชร์

Menikahi Tuan Tanah Misterius
Menikahi Tuan Tanah Misterius
ผู้แต่ง: Lyla Veil

Bab 1

ผู้เขียน: Lyla Veil
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-24 15:55:31

‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’

 

Aku turun dari bus malam, kondisi masih pagi buta. Di terminal Argosari, aku tidak tahu harus naik apalagi menuju tujuan berikutnya. Di pesan w******p, Papa hanya mengirim pesan singkat itu, dan alamat Eyang Gun.

 

Aku menuliskan alamat lengkap Eyang Gun, di secarik kertas supaya lebih mudah untuk memperlihatkannya pada orang-orang di Argosari saat bertanya nanti.

 

Ah... kadang aku menyalahkan Papa untuk masalah ini, kenapa diambil hutang jutaan dollar itu dari Bos Mafia Bahlil. Sekarang baru rasa, menyusahkan sekeluarga. Papa enak kabur sama Mama, setidaknya Papa nggak sendirian, sedangkan aku... sendirian di... entah dimana ini... rasanya aku ingin menangis.

 

Tidak bawa persiapan apapun, hanya baju yang melekat di badanku saja serta uang tunai yang sempat aku tarik sebelum naik bus malam. Ponselku pun aku matikan, mereka juga bisa melacakku via ponsel. Mungkin akan kunyalakan lagi setelah membeli kartu baru.

 

Sekarang aku harus naik apa ke Dusun Mertangi, aku masih buta daerah sini, Papa dan Mama pernah mengajakku tapi itu waktu kecil. Waktu itu juga naik mobil, bukan naik bus malam macam ini. Benar-benar jauh dari kata nyaman.

 

Apalagi ketika sampai dan melihat bagaimana kondisi terminal yang kumuh. Sampah masih teronggok di setiap sudut terminal. Bus yang parkir hanya sedikit, benar-benar sepi. Aku pun duduk di salah satu bangku terminal, sendirian. Ada rasa takut yang merayap, bukan sama hantu tapi sama manusia karena keburukan manusia bisa melukai.

 

Aku melihat beberapa kernet bis yang lagi main kartu di sana. Mau menanyakan alamat Eyang namun aku agak ragu. Tapi jika terus-terusan di sini akan membuatku makin mikir macam-macam. Jadi aku beranikan diri untuk menanyakan pada mereka. Aku pun mendekati mereka.

 

“Permisi...” tegurku sopan.

 

Tiga pria yang tadi sibuk mengobrol menoleh.

 

“Ada apa Mbak?” tanya salah satunya, sedangkan yang lain menatap kakiku yang terbuka hanya beralaskan sepatu wedges. Dress selututku yang terkena angin pagi agak melambai-lambai sehingga pahaku terkadang terbuka. Aku harus memegangi rokku juga rambutku yang agak berantakan.

 

“Dusun Mertangi apa masih jauh?” tanyaku cepat.

 

“Wah, masih jauh Mbak... itu melewati hutan, sawah dan kuburan. Kira-kira sekitar empat puluhan kilometer lagi.” Jawab salah satu masih dengan logat khas Argosari.

 

“Kira-kira satu jam lebihlah Mbak, jauh...” tambah yang lain.

 

Aku mengangguk, “Harus naik apa ya ke sana?”

 

Mereka bertiga saling pandang, entah apa yang mereka pikirkan. Seharusnya mereka tahu harus naik apa ke sana, kenapa harus saling memandang dalam diam? Bikin curiga saja.

 

Salah satunya menunjuk mobil kecil, semacam colt. “Bisa naik itu Mbak... Ini supirnya...” ia menunjuk salah satu temannya.

 

Aku menoleh, “Oh, gitu. Apa sekarang jalan?”

 

“Nanti Mbak nunggu penumpang dulu, Mbak kalau mau nunggu di dalam juga bisa.” Ujarnya sang sopir.

 

Aku mengangguk, “Baiklah, saya menunggu di dalam saja. Terima kasih...”

 

Aku pun berjalan ke mobil itu, salah satunya menemaniku hingga aku masuk dan duduk di dalamnya. Sendirian. Lampu kabin dinyalakan satu tapi hanya remang saja.

 

Aku bersandar, rasa kantuk langsung menerpaku. Berusaha tetap terjaga namun rasa kantuk mengalahkanku. Sesaat aku sudah memejamkan mata karena main ponsel pun tak bisa. Dengan mendekap erat tas selempangku yang berisi uang dua puluh juta tunai, ponsel mati dan alat make up minimalis.

 

Aku baru saja memejamkan mata saat kurasakan mobil colt ini berguncang. Bukan guncangan mesin, melainkan guncangan dari langkah orang yang naik untuk masuk. Aku pikir itu penumpang lain.

 

"Sstt... diam saja, Mbak. Tasnya berat ya? Sini, saya bantu bawakan," bisik sebuah suara serak yang membuat bulu kudukku berdiri.

 

Tiga pria yang tadi bermain kartu kini sudah mengepung pintu mobil. Salah satunya sudah masuk dan mencoba menarik paksa tas selempang yang kudekap erat. Aku meronta, tenaga pria itu jauh lebih kuat.

 

“Jangan! Lepaskan!” teriakku histeris. Aku mulai menendang-nendang asal, membuat mobil tua itu berguncang hebat. “Tolong! Tolong!!”

 

“Sst! Tenang saja Mbak, saya akan pelan-pelan. Nggak bikin sakit...” lirihnya dengan mata sayu.

 

Dua temannya yang berada di pintu tertawa cekikikan melihat temannya beraksi.

 

“Ayo cepat, jangan lama-lama... gantian...” ujar salah satu pria yang berada di pintu.

 

Pria yang menyentuhku sudah berhasil mendorongku ke jok mobil, ia hendak menindihku. Aku berteriak sekuat tenaga, detik berikutnya ia membekap mulutku. Baru saja aku hendak menggigit tangan pria yang membekap mulutku, ketika sebuah dentuman keras menghantam kap mesin mobil colt ini.

 

BRAK!

 

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Ellailaist
bab satu langsung waaaww...
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 82

    Sudah beberapa hari berlalu sejak malam yang menggegerkan di lantai atas itu, tetapi keberadaan Tuan Muda Sinyo kembali menjadi teka-teki yang menggantung di udara. Pria bertopeng itu seolah lenyap entah kemana, tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di area Paviliun Lavender. Setiap kali aku melintasi anak tangga menuju lantai atas untuk mengantar kelengkapan kamar atau sekadar membersihkan, ruangan itu selalu diliputi kesunyian yang menekan. Pintu kamar utama di ujung sana berdiri kokoh, tertutup rapat tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan.Meski raga pria itu tak terlihat, sosok Sinyo seolah tak pernah benar-benar pergi dari paviliun ini. Namanya selalu bergema saban hari di ruang tamu, dibawa oleh Bu Diana yang wajahnya kian hari kian berseri-seri. Wanita tua yang tadinya murung dan sering terbaring lemas itu kini tampak memiliki rona kehidupan yang baru. Setiap kali aku mengurus kebutuhan harian beliau, Bu Diana selalu antusias dan berbunga-bunga membagikan kabar terbaru

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 81

    Denting jam dinding samar-samar menandakan malam sudah melewati pukul dua dini hari. Cengkeraman tanganku pada gagang tongkat baseball kayu itu awalnya terasa amat erat, tetapi perlahan-lahan kelelahan yang menumpuk seharian mulai menggerogoti pertahananku. Kelopak mataku terasa makin berat, hingga akhirnya rasa kantuk hebat melumpuhkan kesadaranku total. Aku tertidur pulas di atas sofa dingin itu.Silau cahaya matahari yang menerobos dari jendela mendadak menusuk mataku. Aku tersentak bangun dengan napas memburu, panik karena menyadari posisi tubuhku. Rasa aneh langsung menyergapku begitu kesadaranku terkumpul sepenuhnya. Sofa yang semalam kutarik rapat menutupi depan pintu kamar kini sudah bergeser rapi kembali ke posisi semula. Lebih mengejutkannya lagi, tubuhku terbungkus rapat oleh sebuah selimut tebal yang amat hangat. Tongkat baseball yang semalam kupeluk erat kini tergeletak manis di lantai samping sofa.Aku menelan saliva. Kehangatan selimut ini... siapa yang meletakkannya?“

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 80

    Tidak ada pergerakan seketika, tetapi beberapa saat kemudian terdengar suara beratnya dari balik pintu rapat itu.“Back to your room, I need a rest. We talk tomorrow,” (Kembali ke kamarmu, saya butuh istirahat. Kita bicara besok) ujarnya dingin, mencoba mengusirku tanpa perlu bertatap muka.Namun, aku yang sudah terlanjur emosi dan bingung mulai merasa kesal karena ia terus mengabaikanku. Aku tidak beranjak secenti pun dari depan pintu.Mungkin menyadari keberadaanku yang tak kunjung pergi dan pijakan kakiku yang masih tertahan di luar, terdengar helaan napas panjang dari dalam. Gagang pintu berputar, dan pintu itu terbuka sedikit menampilkan sosoknya yang masih mengenakan topeng hitam, bersandar santai di ambang pintu.“You want to join with me to sleep?” (Apa kamu mau masuk ke kamarku, kita bisa tidur bersama?) godanya dengan nada suara yang sengaja dibikin tengil, menyadari aku masih berdiri kaku di sana.Mendengar gurauan tak sopan itu, alisku terangkat tajam. “Kamu siapa?!” tega

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 79

    Pria bertopeng itu merapikan kerah kemeja hitamnya. Ia menatapku sekali lagi dari balik topengnya, lalu menjawab pelan dengan nada dingin dalam bahasa Inggris. “Go back to your room,” (Kembali ke kamarmu) ujarnya lagi. Tanpa menunggu balasan dariku, pria itu berbalik membelakangiku. Ia melangkah lebar meninggalkanku yang berdiri kaku sendirian di sana, terpaku dalam keraguan besar. Melihat pria itu melangkah menaiki tangga menuju lantai atas, naluriku ingin berteriak. Tanpa memedulikan rasa takut, aku langsung berlari kecil menyusulnya, memangkas jarak hingga akhirnya berhasil memotong jalannya tepat di depan pintu kayu besar kamar utama. Aku berdiri merentangkan tangan, memasang tubuhku rapat-rapat di depan pintu kamar itu. “Tunggu!” panggilku dengan napas terengah-engah dan mata menatapnya tajam. Pria bertopeng itu menghentikan langkahnya. Posisinya kini teramat dekat, menyisakan jarak tak sampai satu jengkal di antara kami. Auranya mengintimidasiku. “Kamu siapa dan mau

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 78

    Malam makin merambat jauh, sudah pukul sembilan. Suasana di Paviliun Lavender berubah menjadi sangat hening, hanya diselingi oleh derik jangkrik dan tiupan angin malam yang menggesek dedaunan. Yumna setelah membantuku mencuci piring, ia segera ke kamarnya untuk tidur lebih awal.Bu Diana baru saja tertidur pulas setelah meminum obatnya, napas beliau terdengar teratur dan tenang di atas ranjang.Aku membetulkan letak selimut Bu Diana hingga ke dada, lalu berbalik dan mundur perlahan. Saat tanganku menarik pintu kayu itu hingga rapat tanpa suara, aku memutar tubuhku. Namun, detik itu juga seluruh persendianku mendadak kaku.Tepat di hadapanku hanya berjarak dua langkah di depan pintu kamar Bu Diana, seorang pria tinggi tegap berdiri membisu. Ia mengenakan kemeja hitam yang membalut dada bidangnya serta celana kain hitam senada, memberi kesan misterius sekaligus dominan. Namun, yang paling membuat dadaku berdesir hebat adalah topeng hitam yang menutupi sebagian wajahnya.Kami berdua sam

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 77

    Yudistira melangkah makin mendekat. Hawa percintaannya yang belum sepenuhnya menguap menyengat hidungku. Ia mengulurkan tangan, ujung jemarinya yang lancang berniat menyentuh daguku.“Jual mahal juga, ya? Tatapan matamu sewaktu mengintipku di kamar tadi... tidak bisa bohong,” bisiknya serak dengan nada melecehkan yang begitu menjijikkan. “Harus kuakui, wajah manis dan tubuhmu ini jauh lebih menarik dari pelayan –”PLAK!Suara tamparan keras menggelegar, memecah keheningan koridor marmer itu.Kepala Yudistira terteleng ke kanan. Bekas telapak tanganku yang panas memerah seketika tercetak jelas di pipi mulusnya. Kesabaranku sudah habis total. Rasa rindu pada Mas Bara yang suci, dikotori oleh pelecehan murah dari pria liar ini, membuat dadaku meledak oleh amarah.Yudistira membeku. Matanya membelalak lebar, memegang pipinya dengan raut wajah penuh keterkejutan luar biasa seolah tak percaya ada seorang perempuan, apalagi yang dikiranya pelayan, berani mendaratkan tamparan di wajah tampann

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 7

    Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 6

    “Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 5

    Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 4

    Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status