ログインMalam berikutnya, luka fisik dan lebam emosional di tubuhku belum sepenuhnya reda. Rasa nyeri di area intim akibat hukuman Sinyo semalam masih menyisakan rasa ketat setiap kali aku melangkah.Sekitar pukul satu malam, keheningan Paviliun Lavender menyelimuti seluruh sudut bangunan. Perutku yang perih akibat belum sempat makan malam memaksa langkahku mengayun pelan menuju dapur di lantai bawah. Suasana dapur amat hening dan remang, hanya diterangi lampu kecil di atas meja konter.Aku berharap, malam ini Tuan Sinyo memberiku hari libur dulu dari aktivitas panas di ranjang. Aku merasa sangat lelah, bukan fisik saja tapi juga jiwaku.Saat aku sedang mengunyah segigit semangka, sebuah bayangan tinggi besar mendadak melingkupi belakang tubuhku.Sebelum sempat aku berbalik, sepasang lengan tegap mencengkeram pinggangku dari belakang, memutar tubuhku dengan kasar hingga punggungku terbentur tepian konter dapur yang dingin. Aroma parfum mahal itu langsung menyergap indraku.“T-Tuan Sinyo...” c
Bekas tamparan di pipi kiriku masih menyisakan rasa panas yang menjalar hingga ke dada. Seharian ini aku melayani kebutuhan Ibu Diana dengan wajah tertunduk, malu jika beliau melihat merah bekas tangan di pipiku.Namun, rasa sakit di pipiku tak sebanding dengan rasa hancur saat mendengar bentakan Tuan Muda Sinyo malam tadi.“Kuasai dirimu, Silvia! Aku bukan Bara!”Kalimat itu terus bergema di kepalaku sepanjang hari, meremukkan sisa-sisa keberanianku. Aku sadar telah melakukan kesalahan fatal dengan menyerukan nama Capybara-ku di puncaknya penyatuan kami. Bagi Sinyo, aku hanyalah istri kontrak yang bertugas memuaskan hasratnya, dan menyebut nama pria lain di peraduan adalah bentuk penghinaan bagi dominasinya.Malam dengan cepat melingkupi Paviliun Lavender. Sesuai perintah dinginnya sebelum pergi semalam, aku duduk kaku di tepi peraduan, menunggu kedatangannya. Tubuhku terbalut gaun tidur tipis berwarna merah marun berbahan sutra licin, gaun seksi yang memperlihatkan lekuk bahu dan pu
Setelah dokumen nikah kontrak itu resmi kutandatangani, seluruh jalan hidupku berubah. Kamar sempitku di area pelayan bawah resmi kutinggalkan. Atas perintah Tuan Muda Sinyo, kamarku dipindahkan ke lantai atas Paviliun Lavender. Berada di area yang sama dengan kamar utama Tuan Muda Sinyo, hanya berselisih beberapa langkah dari kamar miliknya.Di depan Bu Diana dan para penghuni paviliun, Sinyo menyampaikan alasan yang dibuat-buatnya. “Supaya Silvia bisa sigap menyiapkan segala keperluan pribadiku kapan pun dibutuhkan,” ucapnya datar pagi itu. Tak ada dari mereka yang mempertanyakan keputusan itu. Bu Diana mengangguk memahami, sementara aku hanya diam, menahan getaran di tanganku.Namun di balik semua itu, kami berdua tau alasan sebenarnya. Kepindahan kamar ini dibuat agar Tuan Muda Sinyo bisa dengan mudah mendatangiku setiap malam. Setiap kali hasratnya sedang memuncak.Malam ini tidak terkecuali.Begitu pintu kamarku terbuka pelan di tengah kesunyian malam, aroma parfum mahalnya se
Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk dari sela gorden tebal menyengat wajahku. Kepalaku terasa sangat berat, pening, mual, dan seluruh persendianku ngilu. Saat kesadaranku perlahan terkumpul, rasa dingin dari sprei sutra di bawah tubuhku seketika memicu kesadaranku.Aku menyibak selimut dengan panik. Tubuh polosku tanpa sehelai kain. Ingatan tentang bentakan Yudistira di balkon, rasa pusing akibat alkohol, hingga kehangatan sentuhan pria yang sangat kuyakini sebagai Mas Bara mendadak berputar di kepala.“Sudah bangun, Lavender?” sapanya seperti biasa, memakai bahasa Inggris.Suara berat dan dingin itu mengejutkanku, refleks kutarik selimut menutupi sampai leher.Tanpa kusadari Tuan Muda Sinyo duduk di sudut kamar, berbalut kemeja satin hitam dan topengnya. Tanpa membuang waktu, ia berdiri melangkah mendekati ranjang dan melempar sebuah map berkas tepat ke pangkuanku.“Tanda tangani ini!” perintahnya singkat.Jemariku yang gemetar membuka lembaran kertas itu. Mataku membelalak mem
Akal sehatku sepenuhnya runtuh. Pria berkuasa yang menindihku ini bukanlah Tuan Muda Sinyo sang penguasa Ananta. Pria ini adalah suamiku. Mas Bara, pria sederhana yang kutinggalkan di Desa Mertangi demi kesombongan dan ketakutanku sendiri.“Ini benar-benar kamu, kan, Mas?” suaraku bergetar, dipenuhi rasa bersalah yang lama kupendam. Mataku mulai berkaca-kaca. “Maafkan aku... Maaf atas kebodohanku selama ini. Aku sudah menyakitimu dan meninggalkanmu, tapi hatiku tidak pernah berpaling...”Aku menarik wajahnya mendekat, menyatukan napas kami yang berpacu kencang. Aku memberanikan diri mencium bibirnya lebih dulu. Ia sempat membeku sejenak sebelum akhirnya membalas ciumanku dengan menyapu rongga mulutku secara mendalam. Perasaan ini persis seperti saat kami bercinta dulu, gaya dominannya yang begitu akrab. Jika dulu aku sering berpura-pura menahannya, kini aku menyerahkan seluruh diriku dan menikmati setiap sentuhannya."Aku mencintaimu, Mas Bara... Sangat mencintaimu," tumpah seluruh pe
Sensasi dingin dari besi pagar balkon menembus gaun tipisku saat Yudistira mengunci pergerakanku dari belakang. Bau alkohol menyengat bertiup dari napasnya yang terengah. Pandanganku yang kabur dan kepala yang berputar hebat membuat seluruh tenagaku kian menguap.“T-Tuan... lepas...” bisikku parau, berusaha mendorongnya dengan sisa kekuatan yang tersisa.“Kenapa? Tadi di lantai dansa kamu kelihatan menikmati, My lavender,” kekeh Yudistira rendah, memajukan wajahnya sembari menyusupkan jemari kasarnya ke wajahku. “Malam ini kamu milikku. Bunga lotere itu sudah memilihku.”“Lepas!” pekikku menahan mual, menepis tangannya meski gerakanku sudah menyimpang jauh karena pengaruh alkohol.Yudistira berdecak sebal, cengkeramannya di perutku makin mengetat kasar. Namun, sebelum wajahnya menyentuh kulit leherku, sebuah tangan tegap berbalut sarung tangan kulit hitam mendadak menyambar kerah jas Yudistira dari belakang dan menyentakkannya menjauh secara brutal.Brak!Yudistira tersungkur menghant
Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it
“Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk
Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa
Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d







