Partager

Bab 3

Auteur: Lyla Veil
last update Date de publication: 2026-03-24 16:21:26

“Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.

 

“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”

 

“Metrojaya, Mas...”

 

“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil mengernyit saat menoleh sejenak ke arahku, “Di Dusun Mertangi untuk apa? Maaf Mbak, kalau nggak mau jawab nggak apa...”

 

“Mau berkunjung ke rumah Eyang saya...”

 

“Alamatnya di mana? Boleh saya lihat, nanti saya antar sampai depan pintu rumah eyangnya.” Ujarnya ramah.

 

Aku mengambil kertas alamat Eyang Gun dari dalam tas selempangku, lalu memberikannya pada Bara. Bara menerima kertas itu, membacanya sambil tetap fokus pada jalanan yang sepi.

 

Ia agak tersentak saat membaca alamat itu, “Lho ini... Mbak cucunya ya?”

 

Aku mengangguk, “Iya, Mas...”

 

Lalu ia menyerahkan kembali kertas alamat itu, aku menerimanya kembali.

“Mas, tahu alamat ini di mana?” tanyaku memastikan.

 

“Iya, Mbak. Saya akan antarkan, sampai rumahnya.” Ujar Bara sambil tersenyum, “Oh ya, nama saya... Bara. Dari tadi kita belum kenalan.”

 

“Iya, Mas sudah tahu... suara pria tadi yang di terminal keras saat menyebut nama Mas sambil ketakutan.” Ujarku, “Tapi apa saya harus takut juga ya?”

 

“Jangan dong Mbak, saya keras pada orang-orang macam tadi aja.” Jawabnya sambil becanda.

 

Aku tersenyum kecil, jujur ada rasa yang nyaman dengan pemuda ini. Sepertinya dia memang jujur dan baik, tapi keras sama orang-orang yang jahat. Walaupun masih ada rasa curiga sedikit, ya lima puluh persennyalah... kalau benar ia mengantarku tanpa kurang apapun sampai rumah Eyang baru aku bisa percaya.

 

“Hmm... nama Mbak siapa?” tanyanya lagi.

 

“Tara...” jawabku berbohong, hanya itu satu-satunya nama yang terlintas. Nama sahabatku di kampus. Aku tidak mau, dia tahu nama asliku. Takut disalahgunakan.

 

“Mbak Tara kalau mau tidur, silakan... bisa di cabin belakang. Kalau di belakang bisa meluruskan kaki.”

 

Mana bisa aku tidur dalam kondisi tegang begini, “Terima kasih Mas, saya nggak ngantuk...”

 

Baru berkata begitu, tiba-tiba saja aku sudah terlelap.

 

Aku tersentak bangun saat ban Hilux ini menghantam lubang yang cukup dalam. Mataku mengerjap, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya matahari pagi yang mulai menerobos rimbunnya pepohonan pinus. Ternyata benar-benar sudah siang.

 

“Maaf Mbak, tadi ada lubang. Mbak jadi terbangun,” ujar Bara tak enak hati, tapi tetap fokus pada jalanan tanah yang makin menyempit.

 

Aku buru-buru membetulkan posisi duduk dan mendekap tas selempangku. “Nggak apa-apa Mas, tadinya malah nggak mau tidur eh malah ketiduran...”

 

“Nggak apa-apa, Mbak. Perjalanan memang panjang jadi bikin ngantuk,” Bara memutar kemudi dengan lincah, melewati tanjakan terjal yang membuat jantungku menciut. “Sebentar lagi, kita masuk Dusun Mertangi Mbak...”

 

“Akhirnya...” celetukku.

 

Aku menatap ke luar jendela. Dusun itu terlihat sangat asri, dikelilingi kabut tipis dan hamparan sawah hijau yang tertata rapi. Sangat kontras dengan Kota Metrojaya yang berisik dan penuh polusi.

 

Mobil Hilux ini berhenti tepat di depan sebuah rumah joglo besar yang terlihat sangat klasik namun terawat. Halamannya luas, dipenuhi tanaman dan bunga-bunga yang mekar. Di halamannya tumbuh pohon duren. Tidak ada suara bising kendaraan, hanya suara gemericik air sungai dan kicauan burung.

 

“Sampai,” ujar Bara. Ia mematikan mesin, membuat suasana seketika menjadi sangat sunyi.

 

Aku turun dari mobil dengan kaki yang agak lemas. Meregangkan tubuh sejenak, terasa pegal-pegal sudah melewati perjalanan panjang ini.

 

Baru saja aku melangkah menuju halaman, seorang pria tua dengan rambut putih yang tertutup peci hitam keluar dari pintu kayu ukiran itu. Ia menggunakan tongkat kayu, tapi tatapan matanya sangat teduh. Aku langsung mengenalinya.

 

“Nah, itu Eyang Gun...” ujar Bara setelah turun dari mobil.

 

“Eyang...” bisikku. Suaraku tercekat di tenggorokan.

 

“Mari, Mbak...” ajak Bara.

 

Aku melangkah di belakang Bara, menuju teras.

 

Pria tua itu tertegun. Ia memicingkan mata, menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu beralih menatap Bara yang berdiri di sampingku.

 

“Bara, siapa yang kamu bawa?” tanya Eyang dengan suara yang masih berwibawa.

Tentu saja Eyang tidak mengenaliku, kini aku sudah dewasa. Kami hampir tidak pernah bertemu, tapi aku tahu Eyang sangat sayang padaku karena sewaktu kecil Eyang selalu bilang "Silvi cucu kesayangan Eyang". Kesibukan Papa membuat kami tidak pernah lagi mengunjungi Eyang. Dan kini karena usaha Papa yang bangkrut, membuatku harus mengunjungi Eyang.

 

“Katanya cucu Eyang dari kota. Namanya Mbak Tara, Tara siapa ya panjangnya?” Bara balik tanya, sengaja menekankan nama palsu yang kuberikan tadi. Ia melirikku.

 

Eyang mendekat, setiap ketukan tongkatnya di lantai kayu membuat jantungku berdebar. Saat ia sudah berdiri tepat di depanku, ia mengamati wajahku lama sekali.

 

“Tara?” Eyang mengernyitkan dahi. “Wajahmu ini... persis sekali dengan ibumu saat muda. Tapi seingat Eyang, namanya bukan Tara. Eyang nggak punya cucu bernama Tara."

 

Aku menunduk malu, merasa bodoh karena sudah berbohong pada orang sebaik Bara. “Maaf, Eyang... Aku... Silvia...”

 

Bara menganga terkejut tak percaya, “Lho?” ia menggeleng pelan. Tapi sepertinya mengerti kenapa aku berbohong. Kini ia cuma tersenyum tanpa protes.

 

Eyang langsung menarikku ke dalam pelukannya. Aroma minyak kayu putih dan tembakau dari bajunya membuatku merasa benar-benar pulang.

“Ya ampun Silvia cucu kesayangan Eyang... kamu kok bisa sampai sini, Nduk?”

 

Eyang menoleh ke arah Bara.

“Bara, kamu kok bisa ketemu Silvia dimana?”

 

“Di terminal Argosari...” jawab Bara.

 

Aku hanya bisa terdiam melihat interaksi mereka yang tampak sangat akrab, bahkan sepertinya Eyang sangat mengandalkan Bara. Siapa sebenarnya pria berkemeja kotak-kotak yang punya mobil mahal ini?

 

***

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Ellailaist
si Bara ini kayaknya baik sih
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 48

    Begitu Bara meninggalkanku di kamar. Spontan aku bangkit dari kasur, mencari sesuatu di balik kasur. Tanganku menggapai bawah kasur tapi...Obat itu!Pikiranku langsung terlempar pada kenyataan bahwa tadi Bara sempat membongkar sudut ranjang ini sebelum kami bercinta. Dengan gerakan terburu-buru, aku langsung turun dari tempat tidur. Persetan dengan pakaian, aku hanya menyambar selimut seadanya, lalu langsung menjatuhkan diri berlutut di lantai kamar.Dengan jantung yang berdegup kencang, aku menyisipkan tanganku lebih dalam ke celah bawah kasur, meraba-raba area gelap tempat aku menyembunyikan strip pil KB.Kosong.Dahiku mengernyit. Aku menggeser posisiku, meraba lebih jauh ke sela-sela kayu dipan. Rasa dingin langsung menjalar dari ujung jari hingga ke ubun-ubun. Aku menarik tanganku, lalu beralih menyingkap seluruh seprai baru yang dipasang Bara dengan rapi, memeriksa setiap sudut kasur, bahkan sampai membungkuk dalam-dalam untuk mengintip kolong ranjang yang berdebu. Kemasan pera

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 47

    Aku terbangun saat fajar baru saja masuk dari balik celah ventilasi. Aku melirik ke samping, mendapati Bara masih tertidur dengan napas teratur. Tangan kekarnya yang semalam memelukku kini terkulai santai di atas kasur. Jarang-jarang dia kesiangan seperti ini, mungkin karena kelelahan setelah aktivitas kemarin.Dengan gerakan pelan agar kasur tidak berderit, aku bangkit, menyambar handuk, dan bergegas melangkah keluar kamar menuju kamar mandi belakang. Namun, baru saja kakiku menginjak lantai dapur, perutku mendadak melilit. Rasa mulas yang tiba-tiba membuatku harus mempercepat langkah masuk ke kamar mandi.Gara-gara urusan perut yang terganggu ini, aku menghabiskan hampir empat puluh menit di kamar mandi. Aku sengaja tidak terburu-buru, berharap saat aku keluar nanti, Capybara sudah pergi.Begitu selesai, aku hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhku dengan rambut yang masih setengah basah terurai begitu saja. Aku melangkah kembali ke dalam kamar, dan langsung tertegun di ambang

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 46

    Kami tiba di rumah saat benar-benar gelap. Aku menggigil sudah kedinginan sejak tadi, bahkan jemariku keriput.Begitu pintu terbuka, aku langsung melangkah masuk dengan menghentakkan kaki lebar-lebar, meninggalkan jejak-jejak air yang menetes dari ujung rokku ke atas ubin.Penampilanku saat ini sudah tidak ada bedanya dengan hantu penunggu hulu sungai. Bajuku yang robek akibat keganasan badai cemburu Bara tadi sore terpaksa kutinggalkan di hutan. Sebagai gantinya, sekarang aku memakai kaus oblong hitam polos milik Bara yang ukurannya tiga kali lebih besar dari badanku, tenggelam sampai ke paha, berpadu dengan rok panjangku yang masih basah kuyup dan melekat dingin di kaki.Rambutku? Jangan ditanya. Acak-acakan kering seadanya, dengan beberapa helai daun kering yang terselip di sela-selanya.“Pria gila! Egois! Capybara tidak punya perasaan!” omelku berapi-api sambil melempar sandal jepitku ke sudut ruang tamu dengan kesal. Aku berbalik, menunjuk muka Bara yang berjalan santai di belaka

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 45

    Bahu Aditya akhirnya sudah jauh lebih baik. Beruntung itu hanya otot yang tiba-tiba menegang karena nekat mengangkat beban berat tanpa pemanasan, bukan cedera serius. Namun, drama hari ini ternyata belum selesai. Dalam perjalanan pulang kami menggunakan mobil, di dalam kabin terasa begitu pekat dan membisu. Bara menyetir dengan rahang mengeras rapat tanpa mengucapkan satu patah kata pun.Hingga di pertengahan jalan yang sepi, Bara mendadak membanting setir dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Hari sudah sore, matahari hampir tenggelam sepenuhnya, dan siluet pepohonan di sekitar kami mulai meremang gelap.“Lho, kok berhenti di sini, Mas?” tanyaku heran, menatap sekeliling yang hanya berupa vegetasi liar.“Turun!” perintah Bara pendek. Ia tidak menunggu jawabanku dan langsung melompat turun lebih dulu dari mobil.Aku mengernyitkan dahi, membuka pintu mobil dengan perasaan waswas. “Mas Bara mau ngapain di sini? Ini sudah mau gelap, lho.”“Turun, Silvia.” Kali ini ia berbalik, m

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 44

    “Ah, Pak Bara bisa saja. Saya nggak sampai dehidrasi kok, cuma agak haus,” sanggah Aditya cepat, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sedikit tercoreng.Melihat situasi yang canggung, Asih segera bergerak gesit. Ia mengambil teko berisi air putih dingin, lalu meletakkannya di atas nampan bersama dua buah gelas kosong untuk Bara dan Aditya.Kami berempat pun keluar dari kantor guru menuju selasar depan sekolah yang agak teduh. Sembari duduk melepas lelah di lantai selasar, Asih dengan telaten menuangkan air putih ke dalam dua gelas tersebut. Satu gelas pertama diserahkannya kepada Aditya yang langsung menerimanya dengan anggukan lega. Namun, saat Mbak Asih hendak menyerahkan gelas kedua kepada Bara, suamiku itu tiba-tiba menoleh menatapku tajam.“Silvi, sini!” panggil Bara, suaranya berat dan mutlak.Aku mengernyitkan dahi bingung, tapi kaki ini tetap melangkah menuruti panggilannya. Begitu aku sudah berdiri dekat di hadapannya, aku bertanya, “Ada apa, Mas?”Tanpa menjawab, tangan

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 43

    Aku berjalan dengan langkah canggung menyusuri koridor selasar. Mau kembali ke toilet lagi jelas tidak mungkin, bisa-bisa dikira aku sedang diare. Tapi kalau bertahan di halaman depan, mataku benar-benar diuji oleh pemandangan yang luar biasa ajaib. Dokter Aditya ternyata sudah mulai kewalahan. Baru mengangkat dua sak semen yang masing-masing beratnya 40 kilogram itu, nafasnya sudah tersengal-sengal. Kulitnya yang putih bersih langsung berubah merah padam, dan tubuhnya kini basah kuyup oleh keringat. Otot gym-nya yang estetik itu ternyata langsung menyerah begitu berhadapan dengan realita semen proyek yang berdebu dan kasar. Melihat lawannya sudah ngos-ngosan, Bara mendengkus geli sebuah ejekan tanpa suara yang sangat menyebalkan. “Biar saya yang urus semennya, Dok. Dokter angkat batako saja,” ujar Bara dengan nada meremehkan yang sangat kentara. Tanpa babibu, si Capybara itu langsung memosisikan tubuhnya di dekat truk. Dengan gerakan yang terlihat begitu terlatih dan enteng, ia me

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 21

    Maisaroh muncul sambil membawa kotak jarum dan benang. Aku melihat ke dalam kotak, mencari jarum yang agak panjang lalu benang.“Mai tolong nyalakan lilin di meja,” pintaku.Maisaroh melakukan semua itu tanpa banyak tanya.Berikutnya Bara sudah kembali dengan membawa kotak p3k berwarna merah. Ia me

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 20

    Aku pun fokus mencari kunci koper ini. Aku mulai meraba bagian atas lemari, mengecek di balik bingkai foto Eyang, bahkan sampai merogoh saku-saku pakaian yang tergantung. Aku harus menemukannya sekarang, sebelum Bara pulang dari ladang dan memergokiku menggeledah barang peninggalan Eyang.Aku terus

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 19

    Wajah Bara berubah suram mendengar perkataanku. Ia menatapku tajam, lalu bergerak mendekatiku. Tangannya meraih rahangku dengan tegas.“Mas!” pekikku tertahan sambil memegangi tangan yang mencengkram rahangku.“Tidak akan!” ucapnya penuh penekanan, “aku sudah terlanjur menyukai setiap inci tubuhmu

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 18

    “Aarrgghh...” desahan maskulin menggema di dalam kamar, tanda Bara telah mencapai puncak kenikmatannya.Sedangkan tubuhku rasanya remuk, setiap inci kulitku seolah masih merekam sentuhan kasar yang memabukkan dari Bara. Aku mencoba bergerak, tapi rasa linu di pinggang dan sisa lemas di perut akibat

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status