تسجيل الدخول“Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.
“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?” “Metrojaya, Mas...” “Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil mengernyit saat menoleh sejenak ke arahku, “Di Dusun Mertangi untuk apa? Maaf Mbak, kalau nggak mau jawab nggak apa...” “Mau berkunjung ke rumah Eyang saya...” “Alamatnya di mana? Boleh saya lihat, nanti saya antar sampai depan pintu rumah eyangnya.” Ujarnya ramah. Aku mengambil kertas alamat Eyang Gun dari dalam tas selempangku, lalu memberikannya pada Bara. Bara menerima kertas itu, membacanya sambil tetap fokus pada jalanan yang sepi. Ia agak tersentak saat membaca alamat itu, “Lho ini... Mbak cucunya ya?” Aku mengangguk, “Iya, Mas...” Lalu ia menyerahkan kembali kertas alamat itu, aku menerimanya kembali. “Mas, tahu alamat ini di mana?” tanyaku memastikan. “Iya, Mbak. Saya akan antarkan, sampai rumahnya.” Ujar Bara sambil tersenyum, “Oh ya, nama saya... Bara. Dari tadi kita belum kenalan.” “Iya, Mas sudah tahu... suara pria tadi yang di terminal keras saat menyebut nama Mas sambil ketakutan.” Ujarku, “Tapi apa saya harus takut juga ya?” “Jangan dong Mbak, saya keras pada orang-orang macam tadi aja.” Jawabnya sambil becanda. Aku tersenyum kecil, jujur ada rasa yang nyaman dengan pemuda ini. Sepertinya dia memang jujur dan baik, tapi keras sama orang-orang yang jahat. Walaupun masih ada rasa curiga sedikit, ya lima puluh persennyalah... kalau benar ia mengantarku tanpa kurang apapun sampai rumah Eyang baru aku bisa percaya. “Hmm... nama Mbak siapa?” tanyanya lagi. “Tara...” jawabku berbohong, hanya itu satu-satunya nama yang terlintas. Nama sahabatku di kampus. Aku tidak mau, dia tahu nama asliku. Takut disalahgunakan. “Mbak Tara kalau mau tidur, silakan... bisa di cabin belakang. Kalau di belakang bisa meluruskan kaki.” Mana bisa aku tidur dalam kondisi tegang begini, “Terima kasih Mas, saya nggak ngantuk...” Baru berkata begitu, tiba-tiba saja aku sudah terlelap. Aku tersentak bangun saat ban Hilux ini menghantam lubang yang cukup dalam. Mataku mengerjap, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya matahari pagi yang mulai menerobos rimbunnya pepohonan pinus. Ternyata benar-benar sudah siang. “Maaf Mbak, tadi ada lubang. Mbak jadi terbangun,” ujar Bara tak enak hati, tapi tetap fokus pada jalanan tanah yang makin menyempit. Aku buru-buru membetulkan posisi duduk dan mendekap tas selempangku. “Nggak apa-apa Mas, tadinya malah nggak mau tidur eh malah ketiduran...” “Nggak apa-apa, Mbak. Perjalanan memang panjang jadi bikin ngantuk,” Bara memutar kemudi dengan lincah, melewati tanjakan terjal yang membuat jantungku menciut. “Sebentar lagi, kita masuk Dusun Mertangi Mbak...” “Akhirnya...” celetukku. Aku menatap ke luar jendela. Dusun itu terlihat sangat asri, dikelilingi kabut tipis dan hamparan sawah hijau yang tertata rapi. Sangat kontras dengan Kota Metrojaya yang berisik dan penuh polusi. Mobil Hilux ini berhenti tepat di depan sebuah rumah joglo besar yang terlihat sangat klasik namun terawat. Halamannya luas, dipenuhi tanaman dan bunga-bunga yang mekar. Di halamannya tumbuh pohon duren. Tidak ada suara bising kendaraan, hanya suara gemericik air sungai dan kicauan burung. “Sampai,” ujar Bara. Ia mematikan mesin, membuat suasana seketika menjadi sangat sunyi. Aku turun dari mobil dengan kaki yang agak lemas. Meregangkan tubuh sejenak, terasa pegal-pegal sudah melewati perjalanan panjang ini. Baru saja aku melangkah menuju halaman, seorang pria tua dengan rambut putih yang tertutup peci hitam keluar dari pintu kayu ukiran itu. Ia menggunakan tongkat kayu, tapi tatapan matanya sangat teduh. Aku langsung mengenalinya. “Nah, itu Eyang Gun...” ujar Bara setelah turun dari mobil. “Eyang...” bisikku. Suaraku tercekat di tenggorokan. “Mari, Mbak...” ajak Bara. Aku melangkah di belakang Bara, menuju teras. Pria tua itu tertegun. Ia memicingkan mata, menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu beralih menatap Bara yang berdiri di sampingku. “Bara, siapa yang kamu bawa?” tanya Eyang dengan suara yang masih berwibawa. Tentu saja Eyang tidak mengenaliku, kini aku sudah dewasa. Kami hampir tidak pernah bertemu, tapi aku tahu Eyang sangat sayang padaku karena sewaktu kecil Eyang selalu bilang "Silvi cucu kesayangan Eyang". Kesibukan Papa membuat kami tidak pernah lagi mengunjungi Eyang. Dan kini karena usaha Papa yang bangkrut, membuatku harus mengunjungi Eyang. “Katanya cucu Eyang dari kota. Namanya Mbak Tara, Tara siapa ya panjangnya?” Bara balik tanya, sengaja menekankan nama palsu yang kuberikan tadi. Ia melirikku. Eyang mendekat, setiap ketukan tongkatnya di lantai kayu membuat jantungku berdebar. Saat ia sudah berdiri tepat di depanku, ia mengamati wajahku lama sekali. “Tara?” Eyang mengernyitkan dahi. “Wajahmu ini... persis sekali dengan ibumu saat muda. Tapi seingat Eyang, namanya bukan Tara. Eyang nggak punya cucu bernama Tara." Aku menunduk malu, merasa bodoh karena sudah berbohong pada orang sebaik Bara. “Maaf, Eyang... Aku... Silvia...” Bara menganga terkejut tak percaya, “Lho?” ia menggeleng pelan. Tapi sepertinya mengerti kenapa aku berbohong. Kini ia cuma tersenyum tanpa protes. Eyang langsung menarikku ke dalam pelukannya. Aroma minyak kayu putih dan tembakau dari bajunya membuatku merasa benar-benar pulang. “Ya ampun Silvia cucu kesayangan Eyang... kamu kok bisa sampai sini, Nduk?” Eyang menoleh ke arah Bara. “Bara, kamu kok bisa ketemu Silvia dimana?” “Di terminal Argosari...” jawab Bara. Aku hanya bisa terdiam melihat interaksi mereka yang tampak sangat akrab, bahkan sepertinya Eyang sangat mengandalkan Bara. Siapa sebenarnya pria berkemeja kotak-kotak yang punya mobil mahal ini? ***Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk dari sela gorden tebal menyengat wajahku. Kepalaku terasa sangat berat, pening, mual, dan seluruh persendianku ngilu. Saat kesadaranku perlahan terkumpul, rasa dingin dari sprei sutra di bawah tubuhku seketika memicu kesadaranku.Aku menyibak selimut dengan panik. Tubuh polosku tanpa sehelai kain. Ingatan tentang bentakan Yudistira di balkon, rasa pusing akibat alkohol, hingga kehangatan sentuhan pria yang sangat kuyakini sebagai Mas Bara mendadak berputar di kepala.“Sudah bangun, Lavender?” sapanya seperti biasa, memakai bahasa Inggris.Suara berat dan dingin itu mengejutkanku, refleks kutarik selimut menutupi sampai leher.Tanpa kusadari Tuan Muda Sinyo duduk di sudut kamar, berbalut kemeja satin hitam dan topengnya. Tanpa membuang waktu, ia berdiri melangkah mendekati ranjang dan melempar sebuah map berkas tepat ke pangkuanku.“Tanda tangani ini!” perintahnya singkat.Jemariku yang gemetar membuka lembaran kertas itu. Mataku membelalak mem
Akal sehatku sepenuhnya runtuh. Pria berkuasa yang menindihku ini bukanlah Tuan Muda Sinyo sang penguasa Ananta. Pria ini adalah suamiku. Mas Bara, pria sederhana yang kutinggalkan di Desa Mertangi demi kesombongan dan ketakutanku sendiri.“Ini benar-benar kamu, kan, Mas?” suaraku bergetar, dipenuhi rasa bersalah yang lama kupendam. Mataku mulai berkaca-kaca. “Maafkan aku... Maaf atas kebodohanku selama ini. Aku sudah menyakitimu dan meninggalkanmu, tapi hatiku tidak pernah berpaling...”Aku menarik wajahnya mendekat, menyatukan napas kami yang berpacu kencang. Aku memberanikan diri mencium bibirnya lebih dulu. Ia sempat membeku sejenak sebelum akhirnya membalas ciumanku dengan menyapu rongga mulutku secara mendalam. Perasaan ini persis seperti saat kami bercinta dulu, gaya dominannya yang begitu akrab. Jika dulu aku sering berpura-pura menahannya, kini aku menyerahkan seluruh diriku dan menikmati setiap sentuhannya."Aku mencintaimu, Mas Bara... Sangat mencintaimu," tumpah seluruh pe
Sensasi dingin dari besi pagar balkon menembus gaun tipisku saat Yudistira mengunci pergerakanku dari belakang. Bau alkohol menyengat bertiup dari napasnya yang terengah. Pandanganku yang kabur dan kepala yang berputar hebat membuat seluruh tenagaku kian menguap.“T-Tuan... lepas...” bisikku parau, berusaha mendorongnya dengan sisa kekuatan yang tersisa.“Kenapa? Tadi di lantai dansa kamu kelihatan menikmati, My lavender,” kekeh Yudistira rendah, memajukan wajahnya sembari menyusupkan jemari kasarnya ke wajahku. “Malam ini kamu milikku. Bunga lotere itu sudah memilihku.”“Lepas!” pekikku menahan mual, menepis tangannya meski gerakanku sudah menyimpang jauh karena pengaruh alkohol.Yudistira berdecak sebal, cengkeramannya di perutku makin mengetat kasar. Namun, sebelum wajahnya menyentuh kulit leherku, sebuah tangan tegap berbalut sarung tangan kulit hitam mendadak menyambar kerah jas Yudistira dari belakang dan menyentakkannya menjauh secara brutal.Brak!Yudistira tersungkur menghant
Aula utama Mansion Ananta disulap menjadi ruang pesta yang megah. Lampu-lampu kristal memancarkan kilau keemasan, membalut riuh rendah para tamu VIP berbusana glamor. Demi menghormati Tuan Muda Sinyo yang konsisten menyembunyikan parasnya, Tuan Ananta menggelar pesta ini sebagai masquerade party yang penuh misteri.Aku datang belakangan karena sengaja, sejak awal juga aku enggan datang. Aku datang karena menghormati Ibu Diana. Aku mengenakan gaun malam berpotongan seksi warna hitam pekat, gaun dengan belahan dada sweetheart yang anggun dan bagian punggung terbuka, dipadukan dengan topeng ukir renda tipis dengan bulu hitam di area mata. Penampilanku benar-benar berubah total. Tanpa perhiasan mencolok, riasan tipis dan rambut yang kusanggul sederhana justru memancar begitu kontras di antara kerumunan wanita bergaun mewah.Begitu aku melangkah masuk ke aula, seorang penerima tamu memberikanku gelang dari bunga lavender yang cantik.Setiap pasang mata di aula menoleh, bisik-bisik kagum me
Malam ini, pesta topeng megah untuk menyambut kepulangan Tuan Muda Sinyo digelar di mansion utama. Atmosfer bangunan raksasa itu begitu sibuk dan hiruk-pikuk dari pagi. Meski pekerjaanku sudah selesai, aku sengaja tak segera berdandan karena memang sama sekali enggan menghadiri pesta tersebut.Setelah pamit pada Bu Diana, aku memilih melangkahkan kaki menuju dapur utama untuk menawarkan bantuan. Sejujurnya, ini hanya alasanku saja untuk menjauh dari Tuan Muda Sinyo. Hatiku benar-benar tak sedang baik-baik saja semenjak kehadiran pria bertopeng itu di Paviliun Lavender. Sosoknya sangat mengingatkanku pada Capybara-ku di desa.Dapur besar mansion menyambutku dengan kesibukan yang luar biasa. Bi Surti yang sedang memegang papan daftar kebutuhan malam itu mendadak menghentikan kesibukannya saat mendapatiku hanya berdiri kaku di samping pintu.“Nona Silvia, ngapain di sini?” tegurnya terkejut. “Bu Diana kemarin pesan ke saya, Nona tidak boleh bantu-bantu di dapur. Di sini pelayannya sudah
Tubuhku gemetar dingin. Napasku tertahan di tenggorokan, sementara jantungku berdegup terlalu kencang memukul dada.“Tu... Tuan Sinyo, tolong...” bisikku parau, berusaha memanggil sisa keberanian yang ada. “Jangan seperti ini...”Pria di belakangku sama sekali tak bergeming. Ia justru makin merapatkan tubuh tegapnya, mengurungku sepenuhnya di antara dada bidangnya dan daun pintu kayu. Tangannya yang hangat merayap perlahan dari pangkal leher, menyusuri garis punggung, hingga berhenti di pinggang. Ia lalu menunduk, mendaratkan kecupan hangat di atas kulit punggungku yang terbuka.Ujung topeng hitamnya menyapu leherku yang dingin, disusul bisikan rendah dalam bahasa Inggris yang terdengar asing dan tajam di dekat telinga."Why? Aren't you here to serve the master of this house?"Tubuhku tersentak. Cengkeraman jemariku pada gagang pintu kayu memutih karena panik."Saya... saya pelayan di sini, tapi bukan..." suaraku terbata, mencoba menggeser tubuh untuk meloloskan diri."What?" potongny
‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus
Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it
“Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk
Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa







