Partager

Bab 4

Auteur: Lyla Veil
last update Date de publication: 2026-03-24 16:30:03

Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada di dekatnya aku merasa nyaman dan aman seperti pulang kampung.

 

Bara keluar dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hangat, segelas kopi hangat dan rebusan khas desa.

 

“Ayo sarapan dulu...” ujarnya sambil meletakkan nampan di meja jati.

 

“Nah... ini sarapan ala kampung, nggak apa kan, Nduk? Apa Silvi mau yang lain?” tawar Eyang Gun.

 

“Nggak Eyang, Silvi juga suka ini kok... lebih sehat” jawabku sambil menyeruput teh hangat yang terasa pas di hawa dingin begini, “ini Mas Bara yang buat?”

 

Eyang yang menjawab pertanyaanku, “Ya, siapa lagi, Eyang tinggal cuma sama Bara...”

 

Bara terlihat mengangguk dan tersenyum.

 

Aku tersentak, “Lho, Mas Bara tinggal di sini?”

 

Bara tersenyum, “Iya, Mbak... tapi kalau siang ada yang nemenin Mbah Gun. Namanya Maisaroh, dia yang beresin rumah. Saya yang ke sawah. Tapi sekarang ada Mbak Silvi pasti rumah makin ramai.”

 

Aku mengangguk, “Pantesan tadi nawarin antar sampai depan rumah, malah diantar sampai masuk rumah...”

 

Bara tertawa kecil. Eyang juga ikut tertawa.

 

“Bara, koper Silvi bawa masuk saja.. taruh di kamar sebelah Eyang.” ujar Eyang Gun.

 

Bara langsung menyahut, “Mbak Silvi nggak bawa koper kok Mbah...”

 

Eyang Gun langsung menoleh dan menatapku heran.

“Kok bisa, ke rumah Eyang tapi nggak bawa koper baju? Emangnya nggak niat nginep?”

 

Aku masih menyeruput teh hangat itu, gelasnya masih di bibirku untuk beberapa detik. Sambil berpikir bagaimana mengungkapkan semua yang terjadi pada keluargaku di kota sama Eyang Gun.

 

Bara juga menatapku, ia ikut menunggu cerita di balik kehadiranku yang mendadak ini.

 

Aku meletakkan gelas yang kupegang di meja, “Hmm... itu Eyang... hmm... Papa lagi ada masalah...” ujarku gugup.

 

“Masalah apa?” Eyang Gun terlihat panik.

 

Aku jadi serba salah, bagaimana ini menyampaikan nasib kami pada Eyang.

 

“Hmm, bukan masalah besar Eyang... tapi... Silvi izin tinggal di sini sampai... waktu yang lama...” izinku sekalian.

 

“Ya boleh Nduk, kamu mau tinggal selamanya di sini juga boleh. Tapi ada masalah apa, cerita sama Eyang...”

 

Aku melirik pada Bara, ragu bercerita karena ini masalah keluarga. Tapi detik berikutnya, ia seperti sadar harus segera pergi.

 

“Hmm, Mbah, Mbak Silvi... saya pamit dulu ya...”

 

“Bara mau kemana?” tanya Eyang Gun.

 

“Merah sapi, Mbah...” jawab Bara sambil berlalu.

 

Eyang Gun tidak menahannya, ia hanya mengangguk.

 

Setelah Bara pergi, baru aku mulai bercerita. Beberapa kali Eyang Gun terlihat terkejut dan menghela nafas dalam, gurat keprihatinan terpahat jelas di wajah tuanya yang renta.

 

“Lalu sekarang Papa dan mamamu ke mana, Nduk?” tanya Eyang lirih.

 

Aku menggeleng lemah, "Silvi nggak tahu, Eyang. Mereka nggak info apa-apa. Silvi juga nggak berani menyalakan ponsel, takut dilacak."

 

Tiba-tiba, Eyang terdiam. Beliau meraba dadanya dengan tangan gemetar, cengkeramannya pada baju batiknya terlihat begitu kuat. Nafasnya mulai terdengar seperti suara tarikan yang berat dan menyakitkan.

 

“Eyang... kenapa?” jantungku mulai berdegup kencang melihat wajah Eyang yang mendadak pucat pasi.

 

“Sa-kit...” gumamnya lirih.

 

“Dadanya sakit? Eyang... jangan buat Silvi takut!” teriakku panik. Aku memegangi tangan Eyang, tapi tanganku sendiri bergetar lebih hebat.

 

“I-iya... aduuh...” Wajah Eyang semakin menegang menahan sakit. Tubuhnya mulai limbung.

 

Dalam kondisi normal, aku seharusnya tahu apa yang sedang terjadi. Tujuh tahun aku belajar di fakultas kedokteran untuk menghadapi situasi seperti ini. Tapi saat ini, kepalaku mendadak kosong. Semua teori medis, diagnosis, dan prosedur darurat yang kupelajari seolah menguap begitu saja ditelan rasa takut. Aku bukan lagi seorang dokter, aku hanyalah seorang cucu yang ketakutan setengah mati akan kehilangan satu-satunya pelindungnya.

 

“Mas Bara! Mas Bara bantu Eyang!!” teriakku histeris, nyaris menjerit.

 

Bara entah dari mana langsung berlari menuju teras menghampiri kami. Ia melihatku yang sedang memegangi Eyang dengan air mata yang mulai bercucuran.

 

“Bantu bawa ke dokter! Cepat, Mas! Bawa Eyang ke dokter!!” seruku kacau. Aku bahkan tidak terpikir untuk melakukan pertolongan pertama paling sederhana sekalipun.

 

Tanpa banyak bicara, Bara segera menyambar tubuh Eyang. Ia menggendong Eyang dengan sangat mudah menuju mobil Hilux-nya. Ia meletakkan Eyang di kabin belakang, dan aku ikut melompat masuk, terus memegangi tangan Eyang yang terasa dingin.

 

Bara segera menyalakan mesin mobil. Raungan dieselnya memecah kesunyian desa saat mobil itu melesat melintasi jalanan tanah berbatu. Anehnya, meski aku tahu jalanan ini hancur, di dalam kabin Hilux ini hentakannya hampir tidak terasa. Mobil ini seolah melayang, mengimbangi detak jantungku yang berpacu liar tak menentu.

 

“Mas Bara, masih jauh ya? Kok nggak sampai-sampai?” suaraku melengking, nyaris histeris. Aku terus menekan-nekan telapak tangan Eyang, berharap kehangatan tubuhku bisa memicu denyut nadinya yang terasa semakin melemah.

 

Bara menatap tajam ke arah jalanan setapak yang hanya cukup untuk satu mobil. Tangannya bergerak lincah memutar kemudi, melibas semak-semak dan akar pohon yang mencuat.

 

“Klinik kesehatan di bawah sangat jauh, Mbak. Kalau lewat jalan aspal biasa, kita butuh satu jam lebih,” sahut Bara ikut panik, namun nada suaranya sangat serius.

 

“Satu jam?!” langsung terbayang perjalanan panjang seperti tadi, “Eyang nggak akan kuat kalau selama itu, Mas!” tangisku pecah.

 

***

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Ellailaist
silvi suka ya sama bara
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 178

    Lampu merah di atas pintu ruang operasi darurat (Emergency Operating Theater) menyala terang. Di dalam sana, tim dokter spesialis tengah bertarung melawan maut untuk menyelamatkan nyawa Mas Bara. Operasi thoracotomy darurat harus segera dilakukan untuk menghentikan pendarahan hebat di rongga dada akibat luka tembak tembus dari dada depan hingga punggung belakangnya.Aku berdiri mematung di dekat jendela kaca lorong, masih mengenakan piyama yang kotor berbercak noda darah kering milik suamiku. Jemariku yang saling bertaut tak berhenti bergetar, sementara air mata terus mengalir tanpa suara.Di sana juga menunggu Ibu Diana, Yumna, Nyonya Salma dan beberapa pengawalnya. Ruang tunggu itu hanya diisi keluarga Ananta saja. Nyonya Salma dan Yumna menggunakan beberap kursi untuk bisa duduk dengan lebih santai. Mengingat traumatis mereka yang sedang mengandung. Ibu Diana juga disediakan kursi yang panjang agar beliau bisa istirahat. Operasi ini akan memakan waktu yang panjang, dan mereka bersi

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 177

    Langkah sepatu lars berat itu kian dekat, bergema mengintimidasi di sepanjang lorong lantai atas Paviliun Lavender. Setiap pintu kamar yang terlewati ditendang paksa dari luar, disusul suara barang-barang berjatuhan dan kaca pecah yang makin menambah mencekamnya suasana malam.Mas Bara merangkul bahu ibunya, menuntun Ibu Diana ke arah kamar mandi dengan gerakan tanpa suara. Namun saat ia berpaling hendak memintaku ikut bersembunyi, aku menahan lengannya dan menggeleng tegas. Aku tidak ingin meninggalkannya sendirian menghadapi bahaya di luar.Melihat bantahanku, Mas Bara menatapku tajam seraya menggenggam erat kedua bahuku. "Tolong aku, Silvia... temani Mama. Jangan buat aku terdistrak," bisiknya kekeh dengan suara bergetar namun penuh penekanan.Tatapannya yang sarat permohonan membuat dadaku sesak. Demi tak memecah fokusnya, aku akhirnya menuruti permintaannya. Aku mencium bibirnya, memberinya semangat untuk tetap bertahan, Mas Bara membalas ciuman itu di depan ibunya sebagai penguk

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 176

    Pukul dua dini hari, ketenangan di Paviliun Lavender pecah menjadi neraka.JEGLEK!Seluruh aliran listrik mendadak mati total. Kegelapan pekat menyergap seketika. Belum sempat aku bangkit dari tempat tidur di kamar pelayan, suara rentetan tembakan senjata api otomatis bergema tajam dari arah pintu gerbang Mansion Utama, disusul suara dentuman keras pecahan kaca."Semua tiarap! Jangan ada yang menyalakan cahaya!" suara Hans terdengar membentak dalam kegelapan lorong.Suara jeritan Salma dan Yumna pecah di ruang tengah. Aku segera berlari keluar kamar, mengusap perut empat bulanku yang bergetar hebat. Dalam remang cahaya bulan yang menembus jendela, kulihat Hans bergerak cepat mematikan sisa sakelar darurat dan mengunci pintu-pintu utama."Hans, apa yang terjadi?!" pekik Nyonya Salma histeris seraya memeluk erat kotak perhiasannya."Kelompok bersenjata mendobrak Mansion Utama! Tuan Ananta dan Nyonya Rika sudah disekap!" napas Hans memburu, jarinya berada tegas di atas picu senjata api.

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 175

    Aku mengiringi Nyonya Salma saat melangkah keluar dari Mansion. Nyonya Salma terlihat begitu ceria sepanjang jalan bahkan bercerita kepadaku soal rencana merenovasi kamar bayi di Mansion hanya untuk cucu dari Tuan Sinyo. Sungguh aku tidak cemburu hanya... entahlah ini terlalu banyak dibumbui kepentingan pribadi.Pelayan termasuk aku membawa beberapa kotak pemberian Nyonya Rika. Wajah wanita itu berseri-seri, memancarkan kepuasan yang tak lagi disembunyikannya. Baginya, penerimaan Nyonya Rika atas kehamilannya adalah kemenangan telak untuk mengamankan statusnya di keluarga Ananta."Lihat ini, Silvia," ujar Salma dengan nada sombong saat kami menyusuri jalan setapak taman menuju Paviliun Lavender. "Ibu Rika tahu mana menantu yang benar-benar membawa keberuntungan untuk keluarga ini. Kamu simpan semua kotak ini di kamarku ya...""Baik, Nyonya," balasku singkat, menundukkan kepala seraya memeluk erat sebuah kotak di dadaku.Mas Bara telah memilih melarikan diri ke kantor dan apartemennya,

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 174

    Langkah kami terhenti di ambang ruang keluarga utama yang megah. Nyonya Rika sudah menyambut kedatangan Salma dengan senyum lebar yang begitu antusias. Ibu tiri Mas Bara itu melangkah cepat, memeluk Salma dengan kehangatan yang tak pernah kulihat sebelumnya, lalu menuntunnya untuk duduk di sofa beludru."Selamat, Salma! Ibu senang sekali saat mendengar kabar kehamilanmu kemarin," ujar Nyonya Rika seraya menggenggam erat kedua tangan menantunya. “Ibu jadi cepat-cepat mempersiapkan semua yang terbaik untuk cucu.”"Terima kasih banyak, Ibu Rika. Cucunya masih harus menunggu lama, dan maaf Salma baru bisa main ke sini," jawab Salma lembut, menampilkan senyum santun yang tampak begitu sempurna.Ia seakan lupa bagaimana perlakuan kejam Ibu Rika yang sempat membuatnya kaku dan takut.Aku melangkah perlahan ke meja samping, meletakkan bingkisan yang kubawa dengan kepala tetap menunduk dalam-dalam. Diikuti beberapa pelayan yang meletakkan bingkisan juga. Sebagai pelayan, aku berusaha sebisa mu

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 173

    Keluarnya Mas Bara dari kamarku malam itu menjadi awal dari jarak yang kian membentang lebar di antara kami. Pria itu benar-benar tidak kembali ke Paviliun Lavender setelah perdebatan dingin kami. Dari desas-desus yang kudengar dari Hans saat ia membereskan beberapa berkas di ruang kerja, Mas Bara memilih menghabiskan seluruh waktunya di kantor Ananta Group atau menginap di apartemen pribadinya di pusat kota. Ia sengaja menarik diri sepenuhnya, menjauh dari jangkauanku dan juga dari Salma. Pria itu meninggalkan rumah ini dalam ketegangan yang menggantung, seolah melarikan diri dari kerumitan rumah tangga yang tak sanggup ia urai atau sengaja ia gantung.Satu hari berlalu tanpa kabar, disusul hari berikutnya yang terasa kian sunyi di paviliun. Ketidakhadiran Mas Bara menciptakan canggung yang nyata di antara para penghuni. Salma lebih banyak mengurung diri di kamar, sesekali keluar hanya untuk makan dengan wajah pias. Tanpa perlindungan Mas Bara di sisinya, posisi Salma sebenarnya sang

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 1

    ‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 7

    Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 6

    “Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 5

    Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status