登入Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada di dekatnya aku merasa nyaman dan aman seperti pulang kampung.
Bara keluar dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hangat, segelas kopi hangat dan rebusan khas desa. “Ayo sarapan dulu...” ujarnya sambil meletakkan nampan di meja jati. “Nah... ini sarapan ala kampung, nggak apa kan, Nduk? Apa Silvi mau yang lain?” tawar Eyang Gun. “Nggak Eyang, Silvi juga suka ini kok... lebih sehat” jawabku sambil menyeruput teh hangat yang terasa pas di hawa dingin begini, “ini Mas Bara yang buat?” Eyang yang menjawab pertanyaanku, “Ya, siapa lagi, Eyang tinggal cuma sama Bara...” Bara terlihat mengangguk dan tersenyum. Aku tersentak, “Lho, Mas Bara tinggal di sini?” Bara tersenyum, “Iya, Mbak... tapi kalau siang ada yang nemenin Mbah Gun. Namanya Maisaroh, dia yang beresin rumah. Saya yang ke sawah. Tapi sekarang ada Mbak Silvi pasti rumah makin ramai.” Aku mengangguk, “Pantesan tadi nawarin antar sampai depan rumah, malah diantar sampai masuk rumah...” Bara tertawa kecil. Eyang juga ikut tertawa. “Bara, koper Silvi bawa masuk saja.. taruh di kamar sebelah Eyang.” ujar Eyang Gun. Bara langsung menyahut, “Mbak Silvi nggak bawa koper kok Mbah...” Eyang Gun langsung menoleh dan menatapku heran. “Kok bisa, ke rumah Eyang tapi nggak bawa koper baju? Emangnya nggak niat nginep?” Aku masih menyeruput teh hangat itu, gelasnya masih di bibirku untuk beberapa detik. Sambil berpikir bagaimana mengungkapkan semua yang terjadi pada keluargaku di kota sama Eyang Gun. Bara juga menatapku, ia ikut menunggu cerita di balik kehadiranku yang mendadak ini. Aku meletakkan gelas yang kupegang di meja, “Hmm... itu Eyang... hmm... Papa lagi ada masalah...” ujarku gugup. “Masalah apa?” Eyang Gun terlihat panik. Aku jadi serba salah, bagaimana ini menyampaikan nasib kami pada Eyang. “Hmm, bukan masalah besar Eyang... tapi... Silvi izin tinggal di sini sampai... waktu yang lama...” izinku sekalian. “Ya boleh Nduk, kamu mau tinggal selamanya di sini juga boleh. Tapi ada masalah apa, cerita sama Eyang...” Aku melirik pada Bara, ragu bercerita karena ini masalah keluarga. Tapi detik berikutnya, ia seperti sadar harus segera pergi. “Hmm, Mbah, Mbak Silvi... saya pamit dulu ya...” “Bara mau kemana?” tanya Eyang Gun. “Merah sapi, Mbah...” jawab Bara sambil berlalu. Eyang Gun tidak menahannya, ia hanya mengangguk. Setelah Bara pergi, baru aku mulai bercerita. Beberapa kali Eyang Gun terlihat terkejut dan menghela nafas dalam, gurat keprihatinan terpahat jelas di wajah tuanya yang renta. “Lalu sekarang Papa dan mamamu ke mana, Nduk?” tanya Eyang lirih. Aku menggeleng lemah, "Silvi nggak tahu, Eyang. Mereka nggak info apa-apa. Silvi juga nggak berani menyalakan ponsel, takut dilacak." Tiba-tiba, Eyang terdiam. Beliau meraba dadanya dengan tangan gemetar, cengkeramannya pada baju batiknya terlihat begitu kuat. Nafasnya mulai terdengar seperti suara tarikan yang berat dan menyakitkan. “Eyang... kenapa?” jantungku mulai berdegup kencang melihat wajah Eyang yang mendadak pucat pasi. “Sa-kit...” gumamnya lirih. “Dadanya sakit? Eyang... jangan buat Silvi takut!” teriakku panik. Aku memegangi tangan Eyang, tapi tanganku sendiri bergetar lebih hebat. “I-iya... aduuh...” Wajah Eyang semakin menegang menahan sakit. Tubuhnya mulai limbung. Dalam kondisi normal, aku seharusnya tahu apa yang sedang terjadi. Tujuh tahun aku belajar di fakultas kedokteran untuk menghadapi situasi seperti ini. Tapi saat ini, kepalaku mendadak kosong. Semua teori medis, diagnosis, dan prosedur darurat yang kupelajari seolah menguap begitu saja ditelan rasa takut. Aku bukan lagi seorang dokter, aku hanyalah seorang cucu yang ketakutan setengah mati akan kehilangan satu-satunya pelindungnya. “Mas Bara! Mas Bara bantu Eyang!!” teriakku histeris, nyaris menjerit. Bara entah dari mana langsung berlari menuju teras menghampiri kami. Ia melihatku yang sedang memegangi Eyang dengan air mata yang mulai bercucuran. “Bantu bawa ke dokter! Cepat, Mas! Bawa Eyang ke dokter!!” seruku kacau. Aku bahkan tidak terpikir untuk melakukan pertolongan pertama paling sederhana sekalipun. Tanpa banyak bicara, Bara segera menyambar tubuh Eyang. Ia menggendong Eyang dengan sangat mudah menuju mobil Hilux-nya. Ia meletakkan Eyang di kabin belakang, dan aku ikut melompat masuk, terus memegangi tangan Eyang yang terasa dingin. Bara segera menyalakan mesin mobil. Raungan dieselnya memecah kesunyian desa saat mobil itu melesat melintasi jalanan tanah berbatu. Anehnya, meski aku tahu jalanan ini hancur, di dalam kabin Hilux ini hentakannya hampir tidak terasa. Mobil ini seolah melayang, mengimbangi detak jantungku yang berpacu liar tak menentu. “Mas Bara, masih jauh ya? Kok nggak sampai-sampai?” suaraku melengking, nyaris histeris. Aku terus menekan-nekan telapak tangan Eyang, berharap kehangatan tubuhku bisa memicu denyut nadinya yang terasa semakin melemah. Bara menatap tajam ke arah jalanan setapak yang hanya cukup untuk satu mobil. Tangannya bergerak lincah memutar kemudi, melibas semak-semak dan akar pohon yang mencuat. “Klinik kesehatan di bawah sangat jauh, Mbak. Kalau lewat jalan aspal biasa, kita butuh satu jam lebih,” sahut Bara ikut panik, namun nada suaranya sangat serius. “Satu jam?!” langsung terbayang perjalanan panjang seperti tadi, “Eyang nggak akan kuat kalau selama itu, Mas!” tangisku pecah. ***“Wah, senangnya... tentu saja aku mau. Terima kasih, Mbak Silvia...” ujar Adrian saat pertama kali kami berkenalan.“Silvia saja, nggak usah pakai ‘mbak’ kayaknya usia kita nggak jauh beda,” koreksiku.“Aku belum dua puluh lima tahun,” ujarnya.“Kan, aku malah masih dua puluh satu tahun. Aku bilang juga apa, kita nggak jauh beda.”“Ah iya... Silvia...” jawabnya sambil tersenyum canggung, menambah kesan polos pada dirinya.Itu adalah kali pertama pertemuanku dengan Adrian. Kini, beberapa hari telah berlalu, dan kehadiran pemuda kota itu benar-benar membawa warna baru di tengah ketegangan antara aku dan Bara. Adrian adalah sosok yang terlihat polos, santun, sekaligus energik. Dia sangat mudah akrab dengan siapa saja, termasuk denganku.Selama beberapa hari berturut-turut ini, kami sering menghabiskan waktu bersama di lokasi proyek. Aku menyukai semua idenya yang fresh, seolah aku dan dia memiliki passion yang sama dalam menata masa depan sekolah ini. Tidak hanya mendengarkan gagasan-gaga
“Asih?” sapaku menyadarkannya.“Ma-af, saya tidak bermaksud menguping. Tapi tadi tidak sengaja terdengar. Maaf, ini bukan urusan saya. Eh... ini es teh buat Mbak Silvia dan Mas Bara,” ujar Asih dengan gugup, lalu langsung pergi setelah meletakkan es teh itu ke atas kursi dekat pohon Tabebuya.Bara masih berdiri mematung, menatap punggung Asih yang berjalan menjauh dengan langkah terburu-buru.Melihat perhatiannya tertuju pada perempuan itu, aku mendengus sinis. “Bu Asih sepertinya cocok untuk jadi istrimu, Mas, dia—”“Jangan mulai menjodohkanku dengan siapa pun!” sela Bara tajam. Suaranya rendah namun sarat akan penekanan yang membuatku bungkam. Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung membalikkan badan dan berjalan pergi meninggalkanku begitu saja.Aku menghela napas dalam, menatap punggung tegap pria itu dengan perasaan yang campur aduk. Kesal, gengsi, dan ada rasa sesak yang aneh. Namun kemudian perhatianku teralihkan. Suara deru mesin mobil yang keras memecah keheningan halaman seko
Sesampainya di halaman sekolah dasar, suara deru motor yang kubawa langsung menyita perhatian beberapa pekerja. Mereka tampak pangling melihatku, perempuan kota yang biasanya melangkah anggun atau menggerutu menghindari lumpur, kini datang membelah debu dengan pakaian khas Bara, lengkap dengan sepatu boot dan motor hitam kokoh ini.Mobil Hilux hitam milik Bara sudah terparkir di sana. Aku menghentikan motor tepat di sisi mobil Bara dengan sekali sentakan standar samping. Pandanganku menyapu halaman. Dan Bara ada di sana, di sisi Asih, entah apa yang mereka bincangkan yang pasti mereka berdua menatapku dengan terkejut. Pria itu pasti tak menyangka aku seberani ini datang ke proyek, tapi aku tak peduli. Aku masuk saja, melambaikan tangan ke arah Asih bukan Bara, lalu menyapa pekerja dan ikut berdiri di antara para pekerja yang tadi sibuk.“Bu Silvi... apa kabar?” tanya seorang yang hampir tak kukenali.“Lho, Mas Jaka ya, gimana lengannya... aman?” tanyaku sumringah.“Oh, aman Bu. Terima
Aku membalik lembar demi lembar dokumen itu dengan napas yang memburu. Lembar demi lembar kertas berstempel resmi itu justru memunculkan sejuta spekulasi di kepalaku. Apakah Bara sebenarnya sudah mempersiapkan semua ini sejak lama? Ataukah selama ini aku yang terlalu picik, menutup mata dari fakta bahwa pria desa itu memiliki kuasa atau jaringan yang tidak pernah kupahami sebelumnya?“Sialan, Bara. Sebenarnya apa yang kamu rencanakan?” bisikku frustrasi, melemparkan map cokelat itu kembali ke atas kasur.Aku mengacak rambutku frustrasi. Pikiranku bercabang. Di satu sisi, aku merasa menang karena seluruh aset ini akhirnya resmi jatuh ke tanganku, membuktikan bahwa aku, Silvia Gunawan, berhasil mengambil apa yang sudah menjadi hak keluargaku. Namun di sisi lain, bayangan sorot mata Bara yang dingin dan penuh antipati sore tadi terus menghantuiku. Mengapa dia melepaskan aset berharga ini dengan begitu mudah? Tanpa tuntutan, tanpa syarat, seolah-olah seluruh kekayaan Eyang Gun ini tidak a
Suara langkah kaki Bara yang berat terdengar mendekat dari teras. Pintu depan terbuka, menampilkan sosok tegapnya yang tampak lelah setelah seharian pergi. Aku meremas jemariku sendiri untuk menetralisir rasa gugup yang mendadak menyerang.Namun, belum sempat aku membuka mulut untuk menyapa atau mengutarakan apa yang sudah kupersiapkan sejak pagi, Bara melangkah masuk melewati pintu dan berhenti tertegun di sana. Ia menatapku dalam diam, tatapannya tajam namun sedetik kemudian ia memalingkan wajahnya. Ekspresinya berubah dan sorot matanya yang tadi sempat teduh kini berubah menjadi dingin.Antipati. Pria itu benar-benar menunjukkan penolakan bahkan sebelum aku sempat bersuara.Ia meletakkan sebuah map cokelat tebal di atas meja dengan bunyi debukan pelan. “Semua dokumen aset milik Eyang Gun sudah aku urus pengalihannya atas namamu. Untuk berkas perceraian, pengacaraku di kota sedang menyiapkannya. Kamu tinggal tanda tangan kalau sudah jadi,” ucap Bara datar, suaranya sedingin es.Kali
Jatuh cinta? Sama si Capybara kaku itu?Aku menggeleng kuat-kuat, mencoba menyangkal dugaan Maisaroh yang terdengar sangat tidak masuk akal bagiku. "Eng-enggak, Mai! Enggak mungkin!" sanggahku terbata-bata dengan sisa air mata yang masih mengalir di pipi.“Kalau nggak mungkin, ngapain Mbak sampai nangis begini?” tanya balik Maisaroh.“Aku... aku cuma kaget saja. Lagipula, dia egois banget semalam. Main pergi begitu saja tanpa diskusi lagi!” jawabku asal tapi jawabanku malah membuat Maisaroh tersenyum kecil.Maisaroh tidak mendebatku. Ia menghela napas panjang, menatapku dengan pandangan iba yang membuatku merasa semakin tersudut. Ia melepaskan pegangannya di bahuku, lalu duduk bersila di lantai, bersandar pada kaki kursi.“Mbak Silvi...” Maisaroh memulai, suaranya terdengar jauh lebih dewasa dari usianya. “Mbak Silvi mungkin bisa membohongi saya, atau membohongi diri Mbak sendiri. Tapi hati itu tidak bisa dipaksa bohong, Mbak. Kalau Mbak beneran senang mau cerai dan kembali ke kota, h
“Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk
Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa
“Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge
Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.







