Share

Bab 2

Author: Lyla Veil
last update publish date: 2026-03-24 16:04:48

Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.

 

“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.

 

“Itu Bara... kabur!”

 

Dua orang yang menjaga pintu sudah kabur entah kemana, sebelum pria itu turun.

 

Pria yang membekapku pun terhenti.

“Mas Bara... ini cuma urusan kecil, Mas. Jangan ikut campur!” serunya dengan nada yang tidak lagi berani, melainkan gemetar.

 

“Aku bilang keluar!” seru pria yang mereka sebut Bara.

 

BRAK!

 

Pintu mobil ditarik paksa dari luar oleh seorang pria bertubuh tegap. Dia hanya memakai kemeja kotak-kotak setengah lengannya digulung asal menonjolkan otot lengannya, tapi auranya sangat mendominasi. Pria itu yang disebut bernama Bara, mencengkeram kerah baju pria yang menindihku tadi dan melemparkannya keluar seperti membuang tumpukan sampah. Di tangan kanannya, ia menggenggam tongkat seperti pemukul baseball.

 

“Pergi, atau kuseret kalian semua ke polsek sekarang,” ancam Bara dingin.

 

Tanpa banyak argumen, pria jahil itu lari kocar-kacir menembus kegelapan terminal.

 

Aku terduduk lemas di jok mobil yang apek, nafasku memburu. Aku hampir saja kehilangan segalanya.

 

Bara menoleh ke arahku. Matanya tajam, mengintimidasi, namun ada ketenangan di sana. Ia melirik kearah rok selututku yang berantakan dan wajahku yang sembab.

 

“Mbak, baik-baik saja kan?” tanyanya pendek.

 

Aku tertegun sesaat.

“I-iya Mas... terima kasih... hampir saja saya...” ujarku tercekat, aku mengusap air mata yang sempat meleleh di pipi saking takutnya. Lalu aku merapikan bajuku yang sempat terkoyak di bagian dada. Kancing-kancing bagian atas terlepas entah kemana. Bagian lengannya bahkan sobek menampakkan sebagian bahuku.

 

“Mbak mau kemana?” tanyanya.

 

“Ke Dusun Mertangi...” jawabku masih gemetaran.

 

“Ayo, saya antar ke sana...”

 

Aku ragu, takut pria yang bernama Bara ini sama jahatnya dengan tiga pria tadi.

 

“Ayo, Mbak...” ia menatapku, tahu aku meragu.

 

“Saya pria baik-baik, Mbak. Tenang saja...” ujarnya sambil tersenyum, logat khasnya baru kusadari.

 

Aku pun melangkah menuju mobilnya, pelukanku makin erat pada tas sekaligus menutupi dada yang terbuka karena baju terkoyak. Bara membukakan pintu di sisi depan, aku naik perlahan dan duduk dengan rasa yang campur aduk.

 

Kemudian Bara masuk ke bagian kemudi. Sebelum menjalankan mobil, ia mengambil jaket denim yang tersampir di sandaran joknya.

 

Ia mengulurkan jaket itu padaku, “Ini Mbak, dipakai... baju Mbak sudah robek begitu... nanti orang bisa salah sangka. Di pikir, saya yang melakukannya.”

 

Aku menerimanya lalu mengenakannya, “Terima kasih...”

 

Jaket ini jatuh kebesaran di badanku, tapi cukup untuk menutupi pundak dan dadaku yang terbuka walaupun agak bau.

 

Bara pun melajukan mobilnya di jalan raya. Sepanjang perjalanan aku berdoa dalam hati agar dijauhkan dari orang jahat macam orang-orang seperti tadi dan tidak jatuh di lubang yang sama. Tapi Bara ini jelas auranya berbeda, ia tak sedikit pun menoleh padaku, seperti tidak tertarik. Selama ini, tidak ada pria yang menolakku. Sampai mafia Bahlil yang memanfaatkan kelengahan Papa karena awalnya juga melihatku. Sedangkan pria ini sangat fokus dalam menyetir mobilnya.

 

Tampilan Bara seperti pemuda kampung pada umumnya, bajunya dekil, kulitnya kecoklatan karena paparan sinar matahari setiap hari dan badan yang kekar bukan karena ngegym tapi kebiasaan sehari-hari bertani. Tapi yang membuatku heran, pemuda desa seperti Bara, bisa punya mobil Hilux double cabin yang nyaman begini untuk mengantar hasil pertaniannya. Harga mobil macam ini saja sudah hampir setengah milyar. Mana mungkin ia bisa membeli mobil ini secara tunai? Apalagi kredit, bisa mencicil seumur hidup mungkin... tanpa sadar aku tersenyum kecil.

 

“Kenapa Mbak? Kok senyum-senyum sendiri?” tanya Bara, sepertinya ia melihatku tersenyum dari sudut matanya.

 

“Hmm... ini masih jauh ya, Mas?” tanyaku mengalihkan.

 

Jalanan sudah terang, di sepanjang perjalanan ini aku menikmati pemandangan yang indah. Sawah, pegunungan, sungai, perumahan penduduk, pertokoan yang melaju sejalan Bara membawa mobil.

 

“Ini setengah perjalanan aja belum, Mbak...” jawabnya tanpa menoleh padaku.

 

Aku membelalak, “Hah? Ini belum setengah perjalanan?”

Rasanya sudah sangat lama.

 

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ellailaist
Bara jadi penolong
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 48

    Begitu Bara meninggalkanku di kamar. Spontan aku bangkit dari kasur, mencari sesuatu di balik kasur. Tanganku menggapai bawah kasur tapi...Obat itu!Pikiranku langsung terlempar pada kenyataan bahwa tadi Bara sempat membongkar sudut ranjang ini sebelum kami bercinta. Dengan gerakan terburu-buru, aku langsung turun dari tempat tidur. Persetan dengan pakaian, aku hanya menyambar selimut seadanya, lalu langsung menjatuhkan diri berlutut di lantai kamar.Dengan jantung yang berdegup kencang, aku menyisipkan tanganku lebih dalam ke celah bawah kasur, meraba-raba area gelap tempat aku menyembunyikan strip pil KB.Kosong.Dahiku mengernyit. Aku menggeser posisiku, meraba lebih jauh ke sela-sela kayu dipan. Rasa dingin langsung menjalar dari ujung jari hingga ke ubun-ubun. Aku menarik tanganku, lalu beralih menyingkap seluruh seprai baru yang dipasang Bara dengan rapi, memeriksa setiap sudut kasur, bahkan sampai membungkuk dalam-dalam untuk mengintip kolong ranjang yang berdebu. Kemasan pera

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 47

    Aku terbangun saat fajar baru saja masuk dari balik celah ventilasi. Aku melirik ke samping, mendapati Bara masih tertidur dengan napas teratur. Tangan kekarnya yang semalam memelukku kini terkulai santai di atas kasur. Jarang-jarang dia kesiangan seperti ini, mungkin karena kelelahan setelah aktivitas kemarin.Dengan gerakan pelan agar kasur tidak berderit, aku bangkit, menyambar handuk, dan bergegas melangkah keluar kamar menuju kamar mandi belakang. Namun, baru saja kakiku menginjak lantai dapur, perutku mendadak melilit. Rasa mulas yang tiba-tiba membuatku harus mempercepat langkah masuk ke kamar mandi.Gara-gara urusan perut yang terganggu ini, aku menghabiskan hampir empat puluh menit di kamar mandi. Aku sengaja tidak terburu-buru, berharap saat aku keluar nanti, Capybara sudah pergi.Begitu selesai, aku hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhku dengan rambut yang masih setengah basah terurai begitu saja. Aku melangkah kembali ke dalam kamar, dan langsung tertegun di ambang

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 46

    Kami tiba di rumah saat benar-benar gelap. Aku menggigil sudah kedinginan sejak tadi, bahkan jemariku keriput.Begitu pintu terbuka, aku langsung melangkah masuk dengan menghentakkan kaki lebar-lebar, meninggalkan jejak-jejak air yang menetes dari ujung rokku ke atas ubin.Penampilanku saat ini sudah tidak ada bedanya dengan hantu penunggu hulu sungai. Bajuku yang robek akibat keganasan badai cemburu Bara tadi sore terpaksa kutinggalkan di hutan. Sebagai gantinya, sekarang aku memakai kaus oblong hitam polos milik Bara yang ukurannya tiga kali lebih besar dari badanku, tenggelam sampai ke paha, berpadu dengan rok panjangku yang masih basah kuyup dan melekat dingin di kaki.Rambutku? Jangan ditanya. Acak-acakan kering seadanya, dengan beberapa helai daun kering yang terselip di sela-selanya.“Pria gila! Egois! Capybara tidak punya perasaan!” omelku berapi-api sambil melempar sandal jepitku ke sudut ruang tamu dengan kesal. Aku berbalik, menunjuk muka Bara yang berjalan santai di belaka

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 45

    Bahu Aditya akhirnya sudah jauh lebih baik. Beruntung itu hanya otot yang tiba-tiba menegang karena nekat mengangkat beban berat tanpa pemanasan, bukan cedera serius. Namun, drama hari ini ternyata belum selesai. Dalam perjalanan pulang kami menggunakan mobil, di dalam kabin terasa begitu pekat dan membisu. Bara menyetir dengan rahang mengeras rapat tanpa mengucapkan satu patah kata pun.Hingga di pertengahan jalan yang sepi, Bara mendadak membanting setir dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Hari sudah sore, matahari hampir tenggelam sepenuhnya, dan siluet pepohonan di sekitar kami mulai meremang gelap.“Lho, kok berhenti di sini, Mas?” tanyaku heran, menatap sekeliling yang hanya berupa vegetasi liar.“Turun!” perintah Bara pendek. Ia tidak menunggu jawabanku dan langsung melompat turun lebih dulu dari mobil.Aku mengernyitkan dahi, membuka pintu mobil dengan perasaan waswas. “Mas Bara mau ngapain di sini? Ini sudah mau gelap, lho.”“Turun, Silvia.” Kali ini ia berbalik, m

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 44

    “Ah, Pak Bara bisa saja. Saya nggak sampai dehidrasi kok, cuma agak haus,” sanggah Aditya cepat, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sedikit tercoreng.Melihat situasi yang canggung, Asih segera bergerak gesit. Ia mengambil teko berisi air putih dingin, lalu meletakkannya di atas nampan bersama dua buah gelas kosong untuk Bara dan Aditya.Kami berempat pun keluar dari kantor guru menuju selasar depan sekolah yang agak teduh. Sembari duduk melepas lelah di lantai selasar, Asih dengan telaten menuangkan air putih ke dalam dua gelas tersebut. Satu gelas pertama diserahkannya kepada Aditya yang langsung menerimanya dengan anggukan lega. Namun, saat Mbak Asih hendak menyerahkan gelas kedua kepada Bara, suamiku itu tiba-tiba menoleh menatapku tajam.“Silvi, sini!” panggil Bara, suaranya berat dan mutlak.Aku mengernyitkan dahi bingung, tapi kaki ini tetap melangkah menuruti panggilannya. Begitu aku sudah berdiri dekat di hadapannya, aku bertanya, “Ada apa, Mas?”Tanpa menjawab, tangan

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 43

    Aku berjalan dengan langkah canggung menyusuri koridor selasar. Mau kembali ke toilet lagi jelas tidak mungkin, bisa-bisa dikira aku sedang diare. Tapi kalau bertahan di halaman depan, mataku benar-benar diuji oleh pemandangan yang luar biasa ajaib. Dokter Aditya ternyata sudah mulai kewalahan. Baru mengangkat dua sak semen yang masing-masing beratnya 40 kilogram itu, nafasnya sudah tersengal-sengal. Kulitnya yang putih bersih langsung berubah merah padam, dan tubuhnya kini basah kuyup oleh keringat. Otot gym-nya yang estetik itu ternyata langsung menyerah begitu berhadapan dengan realita semen proyek yang berdebu dan kasar. Melihat lawannya sudah ngos-ngosan, Bara mendengkus geli sebuah ejekan tanpa suara yang sangat menyebalkan. “Biar saya yang urus semennya, Dok. Dokter angkat batako saja,” ujar Bara dengan nada meremehkan yang sangat kentara. Tanpa babibu, si Capybara itu langsung memosisikan tubuhnya di dekat truk. Dengan gerakan yang terlihat begitu terlatih dan enteng, ia me

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 42

    Semua ini bermula ketika jam menunjukkan pukul satu siang. Anak-anak sekolah sudah dipulangkan sejak tadi, dan tugas pemeriksaan kesehatan dokter Aditya pun sudah selesai sepenuhnya. Namun, alih-alih langsung pamit pulang naik motor dinasnya, pria kota itu malah memilih untuk tetap tinggal. Mataha

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 41

    Jantungku berdegup kencang hingga rasanya mau meledak. Itu benar-benar dia. Pria yang selama ini memenuhi isi hatiku, mau apa dia di sini?Aditya yang sedang mengedarkan pandangan ke arah bangunan sekolah yang sedang direnovasi, mendadak menghentikan tatapannya tepat di tempatku berdiri. Matanya me

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 3

    “Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 1

    ‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status