เข้าสู่ระบบGuncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.
“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu. “Itu Bara... kabur!” Dua orang yang menjaga pintu sudah kabur entah kemana, sebelum pria itu turun. Pria yang membekapku pun terhenti. “Mas Bara... ini cuma urusan kecil, Mas. Jangan ikut campur!” serunya dengan nada yang tidak lagi berani, melainkan gemetar. “Aku bilang keluar!” seru pria yang mereka sebut Bara. BRAK! Pintu mobil ditarik paksa dari luar oleh seorang pria bertubuh tegap. Dia hanya memakai kemeja kotak-kotak setengah lengannya digulung asal menonjolkan otot lengannya, tapi auranya sangat mendominasi. Pria itu yang disebut bernama Bara, mencengkeram kerah baju pria yang menindihku tadi dan melemparkannya keluar seperti membuang tumpukan sampah. Di tangan kanannya, ia menggenggam tongkat seperti pemukul baseball. “Pergi, atau kuseret kalian semua ke polsek sekarang,” ancam Bara dingin. Tanpa banyak argumen, pria jahil itu lari kocar-kacir menembus kegelapan terminal. Aku terduduk lemas di jok mobil yang apek, nafasku memburu. Aku hampir saja kehilangan segalanya. Bara menoleh ke arahku. Matanya tajam, mengintimidasi, namun ada ketenangan di sana. Ia melirik kearah rok selututku yang berantakan dan wajahku yang sembab. “Mbak, baik-baik saja kan?” tanyanya pendek. Aku tertegun sesaat. “I-iya Mas... terima kasih... hampir saja saya...” ujarku tercekat, aku mengusap air mata yang sempat meleleh di pipi saking takutnya. Lalu aku merapikan bajuku yang sempat terkoyak di bagian dada. Kancing-kancing bagian atas terlepas entah kemana. Bagian lengannya bahkan sobek menampakkan sebagian bahuku. “Mbak mau kemana?” tanyanya. “Ke Dusun Mertangi...” jawabku masih gemetaran. “Ayo, saya antar ke sana...” Aku ragu, takut pria yang bernama Bara ini sama jahatnya dengan tiga pria tadi. “Ayo, Mbak...” ia menatapku, tahu aku meragu. “Saya pria baik-baik, Mbak. Tenang saja...” ujarnya sambil tersenyum, logat khasnya baru kusadari. Aku pun melangkah menuju mobilnya, pelukanku makin erat pada tas sekaligus menutupi dada yang terbuka karena baju terkoyak. Bara membukakan pintu di sisi depan, aku naik perlahan dan duduk dengan rasa yang campur aduk. Kemudian Bara masuk ke bagian kemudi. Sebelum menjalankan mobil, ia mengambil jaket denim yang tersampir di sandaran joknya. Ia mengulurkan jaket itu padaku, “Ini Mbak, dipakai... baju Mbak sudah robek begitu... nanti orang bisa salah sangka. Di pikir, saya yang melakukannya.” Aku menerimanya lalu mengenakannya, “Terima kasih...” Jaket ini jatuh kebesaran di badanku, tapi cukup untuk menutupi pundak dan dadaku yang terbuka walaupun agak bau. Bara pun melajukan mobilnya di jalan raya. Sepanjang perjalanan aku berdoa dalam hati agar dijauhkan dari orang jahat macam orang-orang seperti tadi dan tidak jatuh di lubang yang sama. Tapi Bara ini jelas auranya berbeda, ia tak sedikit pun menoleh padaku, seperti tidak tertarik. Selama ini, tidak ada pria yang menolakku. Sampai mafia Bahlil yang memanfaatkan kelengahan Papa karena awalnya juga melihatku. Sedangkan pria ini sangat fokus dalam menyetir mobilnya. Tampilan Bara seperti pemuda kampung pada umumnya, bajunya dekil, kulitnya kecoklatan karena paparan sinar matahari setiap hari dan badan yang kekar bukan karena ngegym tapi kebiasaan sehari-hari bertani. Tapi yang membuatku heran, pemuda desa seperti Bara, bisa punya mobil Hilux double cabin yang nyaman begini untuk mengantar hasil pertaniannya. Harga mobil macam ini saja sudah hampir setengah milyar. Mana mungkin ia bisa membeli mobil ini secara tunai? Apalagi kredit, bisa mencicil seumur hidup mungkin... tanpa sadar aku tersenyum kecil. “Kenapa Mbak? Kok senyum-senyum sendiri?” tanya Bara, sepertinya ia melihatku tersenyum dari sudut matanya. “Hmm... ini masih jauh ya, Mas?” tanyaku mengalihkan. Jalanan sudah terang, di sepanjang perjalanan ini aku menikmati pemandangan yang indah. Sawah, pegunungan, sungai, perumahan penduduk, pertokoan yang melaju sejalan Bara membawa mobil. “Ini setengah perjalanan aja belum, Mbak...” jawabnya tanpa menoleh padaku. Aku membelalak, “Hah? Ini belum setengah perjalanan?” Rasanya sudah sangat lama. ***Malam ini, pesta topeng megah untuk menyambut kepulangan Tuan Muda Sinyo digelar di mansion utama. Atmosfer bangunan raksasa itu begitu sibuk dan hiruk-pikuk dari pagi. Meski pekerjaanku sudah selesai, aku sengaja tak segera berdandan karena memang sama sekali enggan menghadiri pesta tersebut.Setelah pamit pada Bu Diana, aku memilih melangkahkan kaki menuju dapur utama untuk menawarkan bantuan. Sejujurnya, ini hanya alasanku saja untuk menjauh dari Tuan Muda Sinyo. Hatiku benar-benar tak sedang baik-baik saja semenjak kehadiran pria bertopeng itu di Paviliun Lavender. Sosoknya sangat mengingatkanku pada Capybara-ku di desa.Dapur besar mansion menyambutku dengan kesibukan yang luar biasa. Bi Surti yang sedang memegang papan daftar kebutuhan malam itu mendadak menghentikan kesibukannya saat mendapatiku hanya berdiri kaku di samping pintu.“Nona Silvia, ngapain di sini?” tegurnya terkejut. “Bu Diana kemarin pesan ke saya, Nona tidak boleh bantu-bantu di dapur. Di sini pelayannya sudah
Tubuhku gemetar dingin. Napasku tertahan di tenggorokan, sementara jantungku berdegup terlalu kencang memukul dada.“Tu... Tuan Sinyo, tolong...” bisikku parau, berusaha memanggil sisa keberanian yang ada. “Jangan seperti ini...”Pria di belakangku sama sekali tak bergeming. Ia justru makin merapatkan tubuh tegapnya, mengurungku sepenuhnya di antara dada bidangnya dan daun pintu kayu. Tangannya yang hangat merayap perlahan dari pangkal leher, menyusuri garis punggung, hingga berhenti di pinggang. Ia lalu menunduk, mendaratkan kecupan hangat di atas kulit punggungku yang terbuka.Ujung topeng hitamnya menyapu leherku yang dingin, disusul bisikan rendah dalam bahasa Inggris yang terdengar asing dan tajam di dekat telinga."Why? Aren't you here to serve the master of this house?"Tubuhku tersentak. Cengkeraman jemariku pada gagang pintu kayu memutih karena panik."Saya... saya pelayan di sini, tapi bukan..." suaraku terbata, mencoba menggeser tubuh untuk meloloskan diri."What?" potongny
Hingga akhirnya, hari yang begitu dinantikan oleh Bu Diana pun tiba. Tuan Muda Sinyo resmi memindahkan seluruh barang dan kepentingannya, secara sah tinggal di lantai atas Paviliun Lavender. Namun, alih-alih tercipta interaksi yang hangat antara majikan dan pekerja, sebuah jembatan yang begitu dingin justru terbentang di antara kami.Tuan Muda Sinyo bersikap sangat dingin dan penuh jarak. Pria itu amat irit bicara, terutama jika situasi memaksanya untuk berhadapan langsung denganku. Ia mempertahankan wibawa dan posisinya sebagai Tuan Muda yang tak tersentuh. Bila ada hal yang perlu disampaikan, ia lebih banyak membisu, memberi gestur tangan yang singkat, secarik kertas catatan atau hanya merespon menggunakan bahasa Inggris yang formal dan bernada perintah.Setiap kali kami tak sengaja berpapasan, atau saat aku mendapat tugas membawakan nampan berisi kopi hitam ke ruang kerjanya, aura dominan yang memancar dari balik kemeja hitam dan topengnya selalu berhasil membuatku menunduk. Langk
Sudah beberapa hari berlalu sejak malam yang menggegerkan di lantai atas itu, tetapi keberadaan Tuan Muda Sinyo kembali menjadi teka-teki yang menggantung di udara. Pria bertopeng itu seolah lenyap entah kemana, tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di area Paviliun Lavender. Setiap kali aku melintasi anak tangga menuju lantai atas untuk mengantar kelengkapan kamar atau sekadar membersihkan, ruangan itu selalu diliputi kesunyian yang menekan. Pintu kamar utama di ujung sana berdiri kokoh, tertutup rapat tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan.Meski raga pria itu tak terlihat, sosok Sinyo seolah tak pernah benar-benar pergi dari paviliun ini. Namanya selalu bergema saban hari di ruang tamu, dibawa oleh Bu Diana yang wajahnya kian hari kian berseri-seri. Wanita tua yang tadinya murung dan sering terbaring lemas itu kini tampak memiliki rona kehidupan yang baru. Setiap kali aku mengurus kebutuhan harian beliau, Bu Diana selalu antusias dan berbunga-bunga membagikan kabar terbaru
Denting jam dinding samar-samar menandakan malam sudah melewati pukul dua dini hari. Cengkeraman tanganku pada gagang tongkat baseball kayu itu awalnya terasa amat erat, tetapi perlahan-lahan kelelahan yang menumpuk seharian mulai menggerogoti pertahananku. Kelopak mataku terasa makin berat, hingga akhirnya rasa kantuk hebat melumpuhkan kesadaranku total. Aku tertidur pulas di atas sofa dingin itu.Silau cahaya matahari yang menerobos dari jendela mendadak menusuk mataku. Aku tersentak bangun dengan napas memburu, panik karena menyadari posisi tubuhku. Rasa aneh langsung menyergapku begitu kesadaranku terkumpul sepenuhnya. Sofa yang semalam kutarik rapat menutupi depan pintu kamar kini sudah bergeser rapi kembali ke posisi semula. Lebih mengejutkannya lagi, tubuhku terbungkus rapat oleh sebuah selimut tebal yang amat hangat. Tongkat baseball yang semalam kupeluk erat kini tergeletak manis di lantai samping sofa.Aku menelan saliva. Kehangatan selimut ini... siapa yang meletakkannya?“
Tidak ada pergerakan seketika, tetapi beberapa saat kemudian terdengar suara beratnya dari balik pintu rapat itu.“Back to your room, I need a rest. We talk tomorrow,” (Kembali ke kamarmu, saya butuh istirahat. Kita bicara besok) ujarnya dingin, mencoba mengusirku tanpa perlu bertatap muka.Namun, aku yang sudah terlanjur emosi dan bingung mulai merasa kesal karena ia terus mengabaikanku. Aku tidak beranjak secenti pun dari depan pintu.Mungkin menyadari keberadaanku yang tak kunjung pergi dan pijakan kakiku yang masih tertahan di luar, terdengar helaan napas panjang dari dalam. Gagang pintu berputar, dan pintu itu terbuka sedikit menampilkan sosoknya yang masih mengenakan topeng hitam, bersandar santai di ambang pintu.“You want to join with me to sleep?” (Apa kamu mau masuk ke kamarku, kita bisa tidur bersama?) godanya dengan nada suara yang sengaja dibikin tengil, menyadari aku masih berdiri kaku di sana.Mendengar gurauan tak sopan itu, alisku terangkat tajam. “Kamu siapa?!” tega
Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it
“Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk
Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa
‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus







