แชร์

Bab 20: Rindu

ผู้เขียน: Septiyan Wulandari
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-19 14:26:00

Namira menatap samping ranjangnya yang kosong. Elang sudah pergi karena ada masalah kerjaan di luar negeri bersama Arjuna. Dalam kesendirian itu, Namira mencoba abai dan bersikap seperti biasa. Karena pekerjaannya sedang kosong, Namira punya waktu luang lebih banyak hari ini, sedangkan Laura pergi berlibur ke kampung halaman.

Bel rumah berbunyi, Namira membuka pintu dan menemukan Zahra tengah berdiri sambil membawa beberapa camilan. Namira senang karena ada teman dan tidak merasa sendiri lagi.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Menikahi Tunangan Kakakku    Bab 21: Klaim

    Namira merasa dunianya runtuh, meski ia bingung kenapa ia harus sesakit ini. Rasanya tidak nyaman mengetahui Elang dan Rengganis keluar bersama, bahkan ada Arjuna bersama mereka. Entah kenapa firasatnya buruk. Apa mungkin mereka memiliki perasaan yang sudah lama terpendam? Namira mematikan ponselnya, ia memilih menenangkan pikiran dengan cara meminum whiski. Tanpa sadar air matanya turun, ia tidak tahu kenapa ia secengeng ini padahal ia tak punya perasaan apapun pada Elang. Ia tidak mungkin jatuh cinta pada pria itu, kan? Namira tidak menyalahkan Rengganis, tidak menyalahkan siapapun. Namira hanya berpikir bahwa dirinya hanya penghalang hubungan mereka. Terlepas dari hubungan Elang dan Zahra, mungkin saja sebelum itu Rengganis lebih dulu yang mengisi hati Elang.Matanya berkunang-kunang, Namira tak punya daya akhirnya ia jatuh pingsan di bar mini rumahnya. Esoknya, Namira bangun dan merasa pusing. Kepalanya terasa dihantam oleh benda tumpul, rasanya sakit sekali. Ia mengecek keadaa

  • Menikahi Tunangan Kakakku    Bab 20: Rindu

    Namira menatap samping ranjangnya yang kosong. Elang sudah pergi karena ada masalah kerjaan di luar negeri bersama Arjuna. Dalam kesendirian itu, Namira mencoba abai dan bersikap seperti biasa. Karena pekerjaannya sedang kosong, Namira punya waktu luang lebih banyak hari ini, sedangkan Laura pergi berlibur ke kampung halaman. Bel rumah berbunyi, Namira membuka pintu dan menemukan Zahra tengah berdiri sambil membawa beberapa camilan. Namira senang karena ada teman dan tidak merasa sendiri lagi. "Aku dengar Elang ke luar negeri, jadi aku memutuskan main ke sini." Zahra meletakkan camilan yang masih di dalam paperbag ke atas meja. "Aku beli banyak camilan buat stok kamu, sekalian kita makan sama-sama di sini." "Kemarin kakak ngobrol sama siapa waktu di pameran?" tanya Namira tanpa membalas ucapan Zahra beberapa detik lalu. "Oh, dia yang punya galeri itu. Namanya Hans," ujar Zahra penuh semangat. "Dia baik banget, Ra. Dia ngasih kontaknya ke aku," lanjutnya berarti. "Kakak jatuh cint

  • Menikahi Tunangan Kakakku    Bab 19 : Pameran Seni

    "Elang sangat sulit dipahami, Namira. Dia terlihat sayang sama kamu, tapi di balik itu dia juga keras. Dia tidak suka kalau miliknya diganggu, dan kamu sudah menembus batas itu," jelas Elena. "Maksud mama?" tanya Namira tidak mengerti. "Suatu saat nanti kamu akan mengetahui sisi gelap Elang yang dia sembunyikan," ujarnya. Kata-kata itu sangat membingungkan untuk Namira, namun saat ia ingin bertanya lebih lanjut, Elena keluar kamar lebih dulu. Beberapa hari kemudian keadaan Namira sudah membaik, ia rutin meminum obat dan sekarang ia bisa beraktivitas secara normal. Tubuhnya masih lemas, untuk itu Elang melarangnya untuk pergi bekerja. Beberapa hari setelah bertemu Elena, ia baru mengetahui kalau wanita itu sangat lembut. Meski terkesan mengintimidasi, tapi saat mengenalnya lebih jauh, Namira merasa nyaman dan seperti pulang ke rumah. "Saya pergi bekerja dulu, kamu baik-baik di rumah. Kalau bosan, kamu bisa pergi berbelanja," pamit Elang lalu mencium kening Namira seperti biasa. "H

  • Menikahi Tunangan Kakakku    Bab 18: Sesak

    "Kamu gila? Kamu serius dengan ucapan kamu? Namira masih hidup!" Ranum sedikit membentak Jonathan. Raut mukanya mulai tampak marah, karena bagaimanapun kesalahan Namira terhadap Zahra, hukuman seperti ini terlalu jahat. "Apa kamu nggak ada sedikit rasa sayang kepada Namira? Apa kamu seegois ini?" "Cukup, berhenti berdebat karena keputusanku sudah bulat, Ranum. Dia memang pantas dikeluarkan dari hak waris keluarga ini, dia adalah aib yang mencoreng nama baik Adiningrat." "Apa kamu tetap mengagungkan nama Adiningrat? Kamu bahkan tahu bagaimana bobobroknya keluarga ini." Jonathan diam, ia tak menatap Ranum. Baginya keputusan yang ia ambil bersifat mutlak dan tak bisa diganggu gugat. Tak peduli pada raut wajah Ranum yang tampak frustrasi, Jonathan memilih pergi. "Mau ke mana kamu?!" teriak Ranum kala melihat Jonathan keluar rumah. Ranum menangis, ia sangat sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa. Ia adalah seorang ibu yang gagal menjaga anak-anaknya, terutama Namira. Zahra datang da

  • Menikahi Tunangan Kakakku    Bab 17: Berita

    Elang membantu Namira mengompres dahi, lalu membantunya menyiapkan obat. Wanita itu hanya diam sepulang dari rumah sakit, ketika diajak bicara, sedikit tidak fokus. Sedangkan Namira hanya menikmati perhatian dari Elang. Namira bimbang akan ucapannya tadi, sanggupkah ia melepaskan pria seperti Elang? Meskipun dari keluarga kaya dan memiliki segalanya termasuk pelayan rumah, Elang memilih merawat sendiri istrinya yang sedang sakit tanpa memerlukan bantuan orang lain. "Kamu nggak bekerja? Aku bisa sendiri, Elang." Namira berusaha payah bicara meski suaranya terdengar amat pelan. "Kamu sakit, Sayang. Saya akan merawat kamu," jawabnya. Ia segera mengganti pakaian kerjanya dengan kaus dan celana pendek. "Kamu tanggung jawab saya," lanjutnya. "Kamu sudah tahu kalau kakakku tadi udah mulai kerja di rumah sakit?" tanya Namira. Elang diam sebelum akhirnya menjawab singkat. "Tahu." "Terus?" tanya Namira penasaran.Elang menghela napas panjang. "Ya nggak bagaimana-bagaimana, Sayang. Dia sud

  • Menikahi Tunangan Kakakku    Bab 16: Rumah Sakit

    "Aku..." Suara Elang tersendat di kerongkongan, ia menatap dalam-dalam mata Namira yang memancarkan sorot penasaran. "Kenapa kamu tanya itu? Kejadian apapun antara aku dan Rengganis, itu 'kan hanya masa lalu." Namira berdecih dalam hati, pria itu sangat menjengkelkan. Ia memilih berbalik dan tidur. Namira tidak peduli akan Elang yang kini semakin mempererat pelukan mereka. "Bisakah kamu melepaskan milikmu itu? Rasanya geli sekali, aku nggak bisa bebas bergerak," ujar Namira kesal. "Tapi saya suka dengan posisi ini," balas Elang lagi dan lagi terdengar menyebalkan bagi Namira. Setelah mendengar penolakan itu, Namira memilih tidur dan tak menggubris Elang. ****"Zahra, kamu sudah memutuskan untuk kembali bekerja?" Ranum menghampiri Zahra yang sekarang sudah rapi memakai pakaian kerjanya. Ia membantu Zahra duduk dan menyiapkan sarapan di meja makan. "Mama senang kamu memilih untuk bangkit, Sayang." Zahra mencoba tersenyum, ia memakan sarapannya hanya sedikit. Zahra tahu ia tidak bol

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status