LOGINAneh, ada yang aneh. Wanita yang duduk di hadapannya itu asing baginya tapi entah kenapa suaranya begitu mirip dengan Elise. Tidak saja suaranya, tapi postur tubuhnya pun sangat mirip dengan Elise.Seorang wanita gila, apakah mungkin bisa melakukan sampai sejauh itu?Mengubah wajahnya menyerupai orang lain dan memalsukan kematiannya, tidak ada satu orang gila pun yang bisa melakukannya.Tidak mungkin Axel yang membantu. Dia tahu pria itu pun sedih karena kematian adiknya. Tapi bagaimana mungkin orang tidak waras sepertinya bisa melakukan semua itu?“Axel, kenapa mantan istrimu memandangi aku seperti itu? Dia tidak gila, kan?” ucapan Elise membuatnya tersentak.Alicia mengepalkan tangannya. Tidak, wanita itu tidak mungkin Elise. Dia harus memastikan kalau wanita itu bukan Elise.“Abaikan saja, habiskan makananmu!” ucap Axel. Elise memberanikan diri buka suara, pasti sengaja supaya Alicia mengenalnya.Entah apa yang dia rencanakan, dia tidak akan melarang. Karena bisa saja Elise ingin
Tanpa sengaja, sahabat Alicia melihat Axel saat makan siang bersama Elise dan keluarganya. Dia tahu Axel dan Alicia telah bercerai, dan wanita yang bersama Axel cukup mengejutkan.Melihat perlakuan Axel pada wanita itu, dia menebak kekasih barunya atau bisa saja istri barunya. Alicia harus mengetahui hal itu, karena dia tahu selama ini sahabatnya sangat ingin mengetahui bagaimana dengan keadaan mantan suaminya sebab Alicia belum rela hubungan mereka berakhir.Hidup Alicia tidak jelas. Bergantung dari satu lelaki ke lelaki yang lain. Dia bekerja di sebuah butik berkat koneksi sahabatnya. Tapi gaji yang didapatkan tidak cukup untuk membiayai hidup glamornya.Mendapat telepon dari sahabatnya membuatnya sedikit bersemangat. Mungkin ada kabar baik, karena dia sedang mencari pekerjaan tambahan. Dia ingin segera keluar dari situasi hidup yang semakin sulit itu. Tidak saja harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya, tapi dia juga harus membiayai ibunya yang sakit-sakitan.Hidup mereka yan
Mereka berdua berada di Kantor Catatan Sipil untuk mendaftarkan pernikahan mereka.Semua dokumen disiapkan dalam waktu yang cukup singkat, tidak ada yang kurang satu pun. Dan yang paling penting, Elise tidak lagi menyandang nama keluarganya. Elise resmi memakai nama Axel, resmi menjadi bagian dari mereka dan sudah tidak menjadi seorang pengganti yang bisa ditendang kapan saja.Elise memandangi surat pernikahan mereka cukup lama. Itu hanya surat yang terlambat didapatkan tapi itu juga surat yang menegaskan dan menjelaskan apa hubungan mereka berdua.Dia tidak pernah berpikir akan sampai sejauh itu.“Kenapa?” Axel memegangi tangannya, “Apa ada yang kurang atau ada yang kau tambahkan?”“Tidak,” Elise menggeleng, “Aku hanya tidak menduga akan berakhir seperti ini.”“Itu berarti kita berdua memang ditakdirkan untuk bersama. Hubungan kita sudah jelas sekarang. kau telah menjadi istri sahku, bukan penggangti lagi. Kau hanya perlu menikmati hidup mulai sekarang.”Elisa tersenyum, dia memang
Semua masih tampak sama. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Bahkan barang-barang miliknya yang dia tinggalkan masih berada di tempatnya.Kalung mahal itu, hadiah pertama yang diberikan Axel untuknya, masih tersimpan rapi dalam kotak seolah tidak ada yang menyentuhnya.Benda itu seharusnya milik Alicia. Waktu melihat kalung itu, Alicia memarahinya dan memintanya untuk tidak menggunakannya. Dia ingat betul setiap kata yang mereka ucapkan waktu itu.Axel menjaga semua barang-barang itu. Perhiasan kecil yang sering dia pakai pun masih berada di tempatnya. Dia tidak menyangka kalau dirinya begitu berarti bagi pria itu padahal waktu yang mereka lewati begitu singkat.Tapi setelah melihat barang-barang itu Elise tidak bertanya. Dia memilih tidur, dengan alasan sudah larut dan lelah. Axel pun tidak memaksanya. Dia tidak mengganggu Elise, dan membiarkan istrinya itu beristirahat. Dia tahu, butuh waktu bagi Elise untuk kembali seperti dulu.Pagi itu terasa lebih damai dibandingkan biasanya. Axe
Elise hanya diam, tidak banyak bicara. Rasanya menjadi canggung, dia tidak bisa bersikap seperti dulu lagi meski ibu dan adik Axel tidak berubah.Mereka benar-benar menyiapkan makanan untuknya. Bahkan, piringnya sudah dipenuhi makanan padahal dia tidak lapar.“Kenapa tidak makan?” tanya ibu Axel padanya, “Apa sudah tidak suka dengan makanan yang Mommy buat lagi?”Elise menggeleng, “Bukan begitu.”Selain gugup dengan situasi itu, dia juga tidak enak hati pada ayah Axel. Pria itu memang tidak bicara, tapi sikapnya itu membuatnya harus menerka apakah ayah Axel menyukai keberadaannya atau tidak?Atau, dia sedang marah karena telah ditipu olehnya?“Elise,” Axel memegangi tangannya, “Apa ada yang kurang? Atau kau tidak enak badan?”“Tidak,” Elise menggeleng dan berusaha tersenyum. Sebaiknya tidak menghancurkan suasana apalagi ibu dan adik Axel sudah begitu baik padanya.“Kalau begitu makanlah, setelah ini aku akan mengajakmu beristirahat.”“Aku ingin pulang, boleh?”“Kenapa tidak? Kita akan
Harmoni telah mendapat kabar kalau putranya telah kembali bersama Elise. Itu kabar baik yang dia tunggu sekian lama. Entah bagaimana Axel bisa bertemu dengan istrinya itu, tapi keberadaannya telah membuktikan kalau menantunya itu masih hidup.Axel juga sudah memberitahu, Elise memakai rupa orang lain. Dia telah mengirimkan foto pada ibunya supaya mereka tidak salah mengenali saat tiba nanti.Banyak yang ingin dia tahu, sebab itu Harmoni telah menunggu bersama putrinya yang juga sudah tidak sabar menyambut kepulangan kakak iparnya.Sambil menunggu, Harmoni menyiapkan begitu banyak makanan hanya untuk menyambut kepulangan menantunya. Kali ini tidak akan dibiarkan pergi lagi, dan mulai hari ini wajah muram putranya tidak akan terlihat lagi.“Mom, jam berapa Kakak akan sampai?” Violet menghampiri ibunya yang sedang sibuk menata makanan.“Mungkin sebentar lagi. Kakakmu bilang mereka akan langsung ke sini.”“Aku dengar kakak ipar sudah berganti wajah, apakah kakak tidak keberatan?”“Kakakmu
Pintu kamar utama tertutup perlahan.Suara tepuk tangan, musik, dan ucapan selamat yang memenuhi pesta pernikahan beberapa jam lalu kini telah menghilang. Elise melangkah masuk, berjalan pelan menuju jendela besar yang menghadap ke arah bukit.Dari sana, dia dapat melihat lampu kota seperti bintan
Elise bergerak pelan di atas tubuhnya. Tangannya bergerak pelan, di atas otot dada suaminya begitu juga dengan bibirnya.Axel membiarkannya, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Setiap kali bibir Elise mendarat di atas tubuhnya, membuat Axel bergetar. Dia dapat merasakan bibir lembu
Mobil yang dibawa oleh ayahnya melesat dengan cepat. Elis duduk di belakang, tertawa pelan dan menggumamkan sesuatu. Melihat itu membuat Diana sedikit cemas. Dia takut mereka salah mengambil keputusan lalu membuat kekacauan. “Edward,” dia berpaling ke arah suaminya, “Apakah keputusan kita sudah b
Lorong panjang itu dipenuhi suara-suara samar. Bisikan, tawa, dan jeritan yang bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni kegilaan yang tak pernah benar-benar berhenti.Para pasien pria dan wanita berlalu lalang, tertawa dan berbicara sendiri. Dan beberapa wanita terlihat menangis.Aroma obat-obat







