LOGINRantang makanan yang diberikan ibunya masih berada di atas meja. Elise tidak menyentuhnya, juga tidak melihat isinya.Entah kenapa dia enggan melakukannya tapi dia tidak juga membuang makanan itu.Setelah bertemu dengan ibunya, Elise malah terlihat murung. Dia tidak sedih, perasaan itu masih belum ada. Tapi dia tidak mengerti pada dirinya sendiri, tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan.Saat Axel kembali, dia mendapati Elise sedang memandangi rantang makanan itu dan menghela nafasnya. Dia menghampiri, duduk di samping Elise.“Apa yang kau lakukan? Kenapa memandangi rantang makanan itu?”“Entahlah,” jawab Elise singkat, “Aku juga tidak mengerti.”“Kenapa? Siapa yang memberikannya?”“Ibuku, dia baru saja datang.”“Apa dia datang untuk memohon lagi? Atau—”“Berpamitan,” dia kembali menghela nafas, “Dia bilang Alicia membencinya gara-gara keputusannya itu, begitu juga dengan ayahku. Mereka tidak mau menemuinya lagi, sebab itu dia mau pergi.”“Tidak heran. Alicia pasti begitu terpukul
Lagi, Diana sudah berdiri di depan rumah Axel. Dia memeluk sebuah rantang makanan, berjalan mondar mandir dan terlihat gelisah.Kedatangannya kali ini bukan untuk memohon, melainkan untuk meminta maaf dan mengucapkan kata perpisahan pada Elise.Tidak menyangka keputusannya untuk melindungi suaminya justru menjadi bumerang baginya. Alicia begitu membencinya, tidak mau bertemu dengannya lagi bahkan tidak mau mengakui dirinya sebagai seorang ibu. Dia sangat terpukul, hatinya begitu sakit. Suami yang dia bela pun begitu kecewa. Suaminya hanya menemuinya sebentar, memintanya menjaga diri baik-baik lalu pergi tanpa banyak bicara lagi.Keinginanmu untuk menjalani masa tua bersama, kini harus dia bayar dengan harga yang mahal. Semua itu tinggal Khayalan. Sekarang tidak ada yang menginginkan dirinya lagi.Dia sudah berada di sana hampir lima belas menit lamanya. Tapi dia tidak memanggil penjaga, dia hanya melihat sebentar lalu melangkah mundur.“Hei,” penjaga memanggilnya sambil memukul pagar
Keputusan telah diambil. Sidang pun berakhir. Para hakim dan pengacara telah meninggalkan tempat, begitu juga Elise dan Arthur. Dia tidak mau berada di tempat itu terlalu lama, karena tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan. Hanya tinggal Alicia dan kedua orang tuanya. Mereka diberi waktu selama lima menit untuk berbicara sebelum Alicia dan ayahnya dibawa ke dalam penjara. Diana langsung menghampiri suaminya, memeluknya sambil menangis. Tak ada yang tahu bagaimana perasaannya saat ini, dia harus mengambil sebuah keputusan sulit di sepanjang hidupnya. Demi menyelamatkan suaminya, dia harus mengorbankan masa depan putrinya. Dan sekarang, Alicia pasti sangat marah dan membencinya. “Apa yang terjadi?" Hary bertanya sepelan mungkin, “Bukankah sebelumnya kita sudah sepakat untuk memberi kesaksian kalau akulah pelakunya? Tapi kenapa kau menikam Putri kita dengan begitu keji?” Selama di persidangan dia tidak banyak bicara. Dia sangat ingin tahu, kenapa istrinya tiba-tiba saja menga
Kesaksian itu membuat persidangan berjalan cukup lama. Pengacara yang sudah disiapkan untuk meringankan hukuman Alicia kini harus mempersiapkan berkas baru. Sidang itu pun ditunda untuk beberapa saat.Seluruh tubuh Alicia terasa lemas. Tidak menyangka ibunya justru menjerumuskan dirinya. Dengan kesaksiannya itu, hukuman yang harus dia tanggung akan semakin berat.Padahal ibunya telah memberi tahu kalau ayahnya yang akan menanggung sebagian. Tapi kenapa sekarang Ibunya mengucapkan perkataan yang dapat semakin menghancurkan dirinya?Hary memandangi istrinya, tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka baru menyepakatinya, tapi istrinya sendiri yang mengingkari.“Diana, apa yang kau lakukan?” dia bertanya dengan pelan, “Mengapa kau mengucapkan kesaksian palsu seperti itu?”“Hary, aku mengatakan kebenarannya. Aku melakukan hal ini karena aku memikirkan keadaanmu dan memikirkan kesalahan yang telah kita lakukan.”“Mom, Kenapa kau jadi seperti ini?” Alicia memandangi Elise. Tidak mungkin ibunya
Diana sudah duduk di pojokan, seolah bersembunyi dari dunia agar tidak ada satupun yang menyadari keberadaannya. Persidangan belum dimulai, tapi dia datang lebih cepat. Hari ini dia harus menyaksikan Putri dan suaminya mendapatkan hukuman. Rasanya berat, apalagi setelah ini dia akan hidup sendirian. Rasanya tidak sanggup untuk mengikuti persidangan itu. Meski suaminya bersedia menanggung semua dosa itu, tapi bagaimana suaminya bisa menjalani hidup? Tak hentinya dia menyeka air mata setiap kali memikirkan hal itu. Sesungguhnya dia tidak tega suaminya menghabiskan sisa hidupnya dalam penjara. Satu persatu, ruangan itu mulai terisi. Diana menyeka air matanya dengan terburu-buru, agar tidak ada yang melihat. Dan tidak lama kemudian, Elise datang bersama Axel. Penampilan putrinya sederhana. Tidak seperti Elise yang selalu glamour. Tas yang dia bawa sudah pasti mahal, apalagi pakaiannya. Tapi semua itu tidak terlihat berlebihan. Dia tidak pernah tahu Kalau Putri keduanya itu lebi
Pagi telah datang, tapi hujan masih mengguyur. Udara terasa begitu dingin, membuat suasana hati Elise terasa aneh.Dia duduk di depan jendela, memeluk kedua lututnya dan memandangi tetesan air hujan yang mengenai jendela.Entah kenapa hari ini dia tidak begitu bersemangat. Mungkin karena hari ini adalah hari persidangan, atau karena dia harus melihat kehancuran kakaknya itu.Dia malas berpikir, hanya ingin menikmati ketenangan sambil mendengarkan suara air hujan.Axel mendekatinya. Membawa selimut tebal dan memakaikannya di bahu Elise.“Apa yang kau lakukan di sini? Lebih baik duduk di depan perapian, di sana jauh lebih hangat.”“Tidak apa-apa. Aku ingin menikmati waktuku di sini. Meski dingin, tapi suara air hujan membuat aku tenang.“Sayang, kau sedang tidak enak badan?” Axel duduk di sampingnya, “Kalau tidak sedang enak badan, lebih baik beristirahat saja. Aku akan memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu.”“Tidak perlu, Axel. Aku baik-baik saja. Temani aku sebentar, aku hanya
Elise bergerak pelan di atas tubuhnya. Tangannya bergerak pelan, di atas otot dada suaminya begitu juga dengan bibirnya.Axel membiarkannya, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Setiap kali bibir Elise mendarat di atas tubuhnya, membuat Axel bergetar. Dia dapat merasakan bibir lembu
Pintu kamar utama tertutup perlahan.Suara tepuk tangan, musik, dan ucapan selamat yang memenuhi pesta pernikahan beberapa jam lalu kini telah menghilang. Elise melangkah masuk, berjalan pelan menuju jendela besar yang menghadap ke arah bukit.Dari sana, dia dapat melihat lampu kota seperti bintan
Kedua orang tuanya sangat puas, karena makan malam yang dilakukan oleh Elise berjalan dengan lancar.Axel mengantarnya pulang, pria itu tidak terlihat curiga sama sekali dengan sandiwara yang dimainkan oleh Elise.Wanita gila itu berakting dengan cukup sempurna. Dan mereka pun semakin percaya kalau
Musik mengalun pelan. Lembut, dan mengisi ruangan yang dipenuhi ketegangan.Perlahan, Elise merasa suasana lebih tenang meski di bawah tekanan aura gelap dan tatapan tajam Axel yang sedang menilai dirinya.Elisa duduk dengan anggun di kursinya. Bersikap tenang dan menjaga kewarasan. Jemarinya menye







