LOGINTubuh Zahra langsung memegang. Aku bisa merasakan bagaimana dia menelan ludah dengan susah payah. Napasnya tercekat, dadanya naik turun tak beraturan. Tubuhnya gemetar hebat.
Ketakutan di matanya begitu nyata—dan itu memberiku kepuasan. “Pak Veer ... apa yang Bapak lakukan? Bukankah tindakan ini sangat—” “Diam, kau!” Aku menyentak marah, memotong ucapan Pak Penghulu. Tatapanku nyalang, penuh ancaman. “Bapak tidak berhak mencampuri urusanku. Bapak disini hanya dibayar, dan kalau Bapak keberatan ... pintu ruangan ini terbuka lebar untuk Bapak!” Tio segera bergerak cepat menuju pintu, lalu membukakannya lebar-lebar. Suara engsel pintu terdengar nyaring di tengah keheningan yang mencekam. Pria berpeci yang usianya tak jauh dari Papa itu langsung menggelengkan kepala. Senyum kecil terpaksa terukir di wajahnya. Aku yakin dia tak mungkin berniat pergi dari sini, karena bayaran yang akan dia terima menjadi penghuluku bernilai fantastis. Lima kali lipat dari harga biasanya. “Maafkan saya, Pak. Baiklah ... ayok kita mulai sekarang, jika semua persiapannya sudah lengkap.” Aku mengangguk pelan. Korek api kumatikan, nyala apinya lenyap seketika. Cengkeramanku di leher Zahra kulepaskan. Namun tatapanku masih menancap padanya—dingin, penuh janji penderitaan. “Saya terima nikah dan kawinnya Zahra Raihana binti Maulana Fikri dengan mas kawin uang seratus ribu rupiah dibayar tunai!!” Kalimat itu meluncur dari bibirku dengan sekali tarikan napas. Tegas. Tanpa ragu. “SAH!” Suara Pak Penghulu dan para saksi bersorak hampir bersamaan. Kata itu menggema di ruang tengah apartemen, menandai sebuah ikatan yang lahir bukan dari cinta, melainkan dari kebencian. Akhirnya... Aku dan Zahra kini resmi menjadi suami istri. Pernikahan ini diwalikan oleh wali hakim—semua sudah kuatur sejak awal. Selain itu, dalam informasi yang aku dapatkan Papanya Zahra kebetulan memang sudah almarhum. Baguslah. Ternyata semudah itu menikahi selingkuhan Papa. Dan ini baru permulaan. Awal dari kehancuran hidup Papa dan Zahra. Aku bahkan sudah bisa membayangkan wajah Papa nanti akan terkejut, terpukul bahkan patah hati—saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini dia sembunyikan kini resmi menjadi menantunya sendiri. “Apakah tidak ada cincin, yang akan dipakai untuk Bapak dan istri Anda, Pak?” Pertanyaan dari Pak Penghulu membuatku tersentak. Pikiranku sempat melayang terlalu jauh, menikmati bayangan balas dendam yang akan segera terjadi. “Pak Veer maafkan saya, saya lupa membeli cincin untuk Anda,” kata Tio dengan wajah bersalah. “Tidak perlu risau ....” Aku tersenyum tipis. Tanganku merogoh saku bagian dalam jas, lalu mengeluarkan sebuah kotak cincin kecil. “Cincin sudah ada, aku punya. Dan apa kau tau Zahra ....” Aku menyentuh dagu Zahra, memaksanya menatap wajahku. “Cincin ini adalah pemberian dari Papaku. Dia dulu mengatakan bahwa ingin melihatku segera menikah dan memakai sepasang cincin ini bersama istriku. Aku jadi penasaran ... bagaimana, ya, reaksi Papa nanti, jika tau ternyata menantunya adalah selingkuhannya? Pasti dia kaget dan kecewa, bukan?” Setiap kata kuucapkan dengan nada pelan, namun penuh racun. Aku ingin dia merasakan ironi pahit itu—bahwa cincin yang kini akan melingkar di jarinya adalah simbol kehancuran bagi pria yang dia sebut Om. “Aku bukan selingkuhan Papamu!” Zahra tiba-tiba berseru. Aku sedikit terkejut. Kupikir dia akan terus diam sampai semua selesai. Tapi ternyata, dibalik ketakutannya, masih ada keberanian yang tersisa. “Kalau bukan selingkuhan terus apa dong? Bukankah memiliki hubungan dengan suami orang itu namanya selingkuhan, ya? Apa aku salah mengatakan hal itu?” Aku tersenyum miring, menatap Zahra dengan pandangan meremehkan, seolah apa pun pembelaan yang keluar dari mulutnya tak lebih dari lelucon murahan. Tanganku segera meraih tangannya, memaksanya menerima cincin dariku. Cincin itu melingkar sempurna di jarinya. Pas. Bahkan sangat pas, seperti ditunjukkan untuk dirinya. Dadaku berdesir aneh. Sekilas, pikiranku melintas pada kemungkinan yang membuat perutku bergejolak—apa mungkin dulu, saat membeli cincin ini, Papa meminjam tangan Zahra untuk mengukur ukurannya? Karena mustahil sebuah cincin bisa sepas ini tanpa pernah dicoba. “Aku bisa jelaskan, Pak. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini.” “Aku tidak butuh penjelasan darimu. Sekarang ayok pakaikan cincin satunya ke jari manisku.” Aku menyodorkan kotak cincin itu. Dengan tangan gemetar, Zahra mengambilnya dan memakaikan cincin ke jariku. Sentuhannya singkat, kaku, penuh keterpaksaan. “Aku dan Om Dendi memang berpacaran, tapi aku sama sekali tidak tau kalau ternyata dia masih memiliki istri. Jika aku tau dari awal ... aku pasti sudah meninggalkannya sejak dulu.” Aku terpaku sesaat. Bukan karena percaya—melainkan karena muak. Apa yang baru saja dia katakan terdengar seperti pembelaan murahan. Seolah-olah dia ingin tampil sebagai korban. Wanita ular seperti dia mana mungkin bisa dipercaya. “Kalau Bapak nggak percaya, Bapak bisa tanya langsung kepada Om Dendi. Aku ini berkata jujur.” “CK!” Aku berdecak keras, tak peduli lagi. Aku berdiri, lalu melangkah pergi menuju kamar tanpa menoleh sedikit pun. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat kepalaku semakin panas. Aku benar-benar muak mendengar suaranya. Sangat muak. Lebih baik aku menghubungi Papa sekarang. Pasti pria tua itu sedang panik. Karena dilayar, deretan panggilan tak terjawab darinya berjejer rapi. Sengaja kuabaikan sejak tadi. “Halo, Veer ... akhirnya kamu menelepon balik Papa.” Suara Papa terdengar lega dari seberang. "Kamu ini kenapa sih, Veer? Apa salah Papa padamu, sampai kamu nonjok Papa di rumah sakit dan mencegah Papa untuk mengikuti prosesi pemakaman Mama? Kamu kok tega sih sama Papa. Papa juga mau melihat Mama untuk yang terakhir kalinya, Veer.” Aku mendengarnya dengan rahang mengeras. Aku tega? Apa tidak terbalik, ya? “Veer ... tolong jawab Papa. Kamu juga sekarang ada di mana? Papa ingin bertemu. Kita bisa obrolkan masalah ini secara langsung.” Suara Papa terdengar melemah. Aku menyandarkan tubuh di dinding kamar, memejamkan mata sejenak. Bibirku melengkung tipis, senyum dingin perlahan muncul. “Nanti malam saja ya, Pa, sekalian makan malam. Aku juga ada kejutan spesial untuk Papa.” Nada suaraku dibuat setenang mungkin. Di kepalaku, bayangan wajah Papa yang akan hancur nanti terasa begitu jelas, begitu memuaskan. “Kejutan spesial?! Apa itu, Veer??” Papa langsung tersentak. “Ada lah pokoknya, Pa. Nanti kita ketemuan di restoran favorit Papa dan Mama, ya? Jangan lupa Papa dandan yang rapi. Yang ganteng juga tentunya,” sahutku sedikit bercanda. “Oke deh. Kita ketemu di sana ya, Veer. Ya sudah... Papa tutup teleponnya. Assalamualaikum.” “Wa’alaikum salam.” Panggilan berakhir. Aku tersenyum kecil sebelum menyelipkan kembali ponsel ke saku dalam jas. Tok! Tok! Tok! Ketukan pintu terdengar pelan namun ragu. Aku menoleh ke arah pintu, merasa jengkel. “Pak ... boleh kita bicara?” Suara Zahra terdengar dari balik pintu. Bersambung....Tubuh Zahra langsung memegang. Aku bisa merasakan bagaimana dia menelan ludah dengan susah payah. Napasnya tercekat, dadanya naik turun tak beraturan. Tubuhnya gemetar hebat. Ketakutan di matanya begitu nyata—dan itu memberiku kepuasan.“Pak Veer ... apa yang Bapak lakukan? Bukankah tindakan ini sangat—”“Diam, kau!” Aku menyentak marah, memotong ucapan Pak Penghulu. Tatapanku nyalang, penuh ancaman. “Bapak tidak berhak mencampuri urusanku. Bapak disini hanya dibayar, dan kalau Bapak keberatan ... pintu ruangan ini terbuka lebar untuk Bapak!”Tio segera bergerak cepat menuju pintu, lalu membukakannya lebar-lebar. Suara engsel pintu terdengar nyaring di tengah keheningan yang mencekam.Pria berpeci yang usianya tak jauh dari Papa itu langsung menggelengkan kepala. Senyum kecil terpaksa terukir di wajahnya.Aku yakin dia tak mungkin berniat pergi dari sini, karena bayaran yang akan dia terima menjadi penghuluku bernilai fantastis. Lima kali lipat dari harga biasanya.“Maafkan saya, Pak
Aku berdiri tegak di depan cermin, menatap pantulan diriku sendiri.Stelan jas putih yang membalut tubuhku membuat penampilanku tampak rupawan—bahkan terlalu sempurna untuk sebuah pernikahan yang lahir dari amarah dan dendam. Rambutku tersisir rapi, wajahku bersih, seolah aku benar-benar akan melangkah menuju hari paling bahagia dalam hidup.Ironis.Di ruang tengah, Pak penghulu dan para saksi yang sudah kubayar duduk menunggu dengan raut canggung. Mereka saling bertukar pandang, mungkin bertanya-tanya mengapa prosesi sakral ini terasa begitu dingin dan janggal.Namun satu hal yang membuatku kesal—sejak tadi Zahra tak kunjung sadar.Tubuhnya terbaring di atas ranjang, kini sudah mengenakan gaun pengantin sederhana berwarna putih. Wajahnya dipoles make up tipis oleh MUA yang kubayar mahal. Jika dilihat sekilas, dia tampak seperti pengantin pada umumnya.“Pak, Nona Zahra belum sadar juga,” kata Tio yang sejak tadi sibuk mengusap minyak angin ke hidung dan leher Zahra. Gerakannya terliha
Aku mendengus keras.Dasar gatal!Aku yakin Zahra bukan mencintai Papa. Tidak mungkin. Yang dia incar pasti harta. Pria tua itu hanya dompet berjalan baginya. Atau jangan-jangan… dia memang sekadar sugar baby?Pikiranku semakin dipenuhi rasa muak.“Pak Veer ... maaf saya ingin bertanya,” kata Tio yang sejak tadi fokus menyetir.“Katakan.”“Setelah wanita itu diculik, kira-kira nanti mau Bapak apakan? Apa Bapak ingin menyiksanya? Atau mau Bapak perkos ....” Tio tiba-tiba menghentikan ucapannya. Dari kaca depan, kulihat sorot matanya ragu, seolah menimbang apakah kalimat itu pantas dilanjutkan atau tidak.“Kenapa nggak dilanjut?”“Maaf, saya hanya penasaran saja, Pak. Tapi saya harap ... Bapak tidak melakukan tindakan yang membuat Bapak dalam bahaya. Saya hanya takut.” Nada suaranya tulus. Bukan menentang—lebih seperti khawatir.“Dalam bahaya gimana maksudmu?”“Melakukan tindakan kriminal. Seperti pemerko*saan, misalnya.”Aku terkekeh pelan, bukan karena lucu, melainkan karena pikiran T
“Pak! Tahan, Pak!!”Dua orang satpam datang dengan cepat. Mereka menarik tubuhku sekuat tenaga, memisahkanku dari Papa.Aku meronta, tapi genggaman mereka terlalu kuat. Sedikit lagi… sedikit lagi aku mungkin sudah merenggut nyawa Papa, karena wajahnya sudah hampir membiru saat lehernya kucekik.Tidak.Papa tidak boleh mati sekarang.Dan bukan oleh tanganku.Jika aku membunuhnya, aku akan masuk penjara. Itu terlalu mudah baginya. Papa harus tetap hidup. Dia harus hidup cukup lama untuk merasakan semua balasan atas rasa sakit yang Mama derita.“Bapak tidak boleh masuk lagi ke dalam rumah sakit! Sekarang Bapak pulang!” Salah satu satpam menunjuk wajahku dengan tegas. Bersama rekannya, dia menyeret tubuhku keluar dari rumah sakit.Aku masih sempat memberontak, tapi tenagaku terkuras oleh amarah dan duka yang menumpuk.“Aku akan pulang bersama Mamaku! Dan harusnya yang Bapak usir tadi adalah pria tua yang aku cekik, karena dialah penyebab Mamaku meninggal!” Aku murka. Tatapanku tajam menel
“Papa di mana sekarang? Cepat datang ke rumah sakit!”Aku berusaha mengontrol diri saat akhirnya berhasil menghubungi Papa. Tapi rasanya sia-sia. Tanganku sudah sangat gatal. Begitu dia tiba nanti, aku yakin, tinjuku akan lebih dulu mendarat di wajahnya sebelum kata-kata keluar dari mulutku.“Veer ... apakah ini kamu? Kamu sudah pulang ke Indonesia?”Suara Papa terdengar antusias. Hangat. Seolah tidak ada dosa yang sedang dia sembunyikan.Wajar dia terkejut. Aku memang tidak memberi tahu siapa pun soal kepulanganku hari ini. Rencananya, aku ingin memberi kejutan. Untuk Papa dan Mama. Tapi justru akulah yang dibuat terkejut—oleh kelakuan beja*t Papa sendiri.“Eh, tadi kamu bilang apa? Papa harus ke rumah sakit, ya? Memangnya siapa yang sakit? Apakah kamu baik-baik saja, Veer?”Nada khawatir itu terdengar begitu tulus, dan entah kenapa justru membuat dadaku semakin panas.“Mama yang sakit,” jawabku dengan suara berat.Ada jeda di seberang sana.“Astaghfirullah ... di rumah sakit mana? P
“Aaawww!! Sakiiitttt!!”Jeritan itu menggema di ruang apartemen. Wanita itu menggeliat liar saat aku merobek lakban di mulutnya tanpa ampun.Air matanya langsung mengalir, napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Rambutnya yang kusut menempel di wajah pucatnya saat dia menatapku—heran dan kebingungan bercampur jadi satu.“Bapak siapa? Lepaskan akuuu!! Sakit rambutkuuuu, Pak!!”Aku mencengkeram rambutnya lebih keras, menarik kepalanya ke belakang hingga lehernya teregang paksa. Dia meringis, menjerit semakin histeris tampak kesakitan.Tapi rasa sakit itu tidak ada artinya dibanding apa yang telah dia lakukan padaku.Dia telah merenggut nyawa Mama. Wanita yang melahirkanku, membesarkanku, cinta pertamaku—satu-satunya perempuan yang kucintai tanpa syarat. Dan sekarang, tepat di hadapanku, duduk terikat Zahra. Wanita jal*ng. Selingkuhan Papaku.“Apa kau bilang? Sakit?? Ini kau bilang sakit??”Amarahku meledak. Tanganku semakin kasar, jari-jariku mencengkeram rambutnya tanpa s







