ログインAku mendengus keras.
Dasar gatal! Aku yakin Zahra bukan mencintai Papa. Tidak mungkin. Yang dia incar pasti harta. Pria tua itu hanya dompet berjalan baginya. Atau jangan-jangan… dia memang sekadar sugar baby? Pikiranku semakin dipenuhi rasa muak. “Pak Veer ... maaf saya ingin bertanya,” kata Tio yang sejak tadi fokus menyetir. “Katakan.” “Setelah wanita itu diculik, kira-kira nanti mau Bapak apakan? Apa Bapak ingin menyiksanya? Atau mau Bapak perkos ....” Tio tiba-tiba menghentikan ucapannya. Dari kaca depan, kulihat sorot matanya ragu, seolah menimbang apakah kalimat itu pantas dilanjutkan atau tidak. “Kenapa nggak dilanjut?” “Maaf, saya hanya penasaran saja, Pak. Tapi saya harap ... Bapak tidak melakukan tindakan yang membuat Bapak dalam bahaya. Saya hanya takut.” Nada suaranya tulus. Bukan menentang—lebih seperti khawatir. “Dalam bahaya gimana maksudmu?” “Melakukan tindakan kriminal. Seperti pemerko*saan, misalnya.” Aku terkekeh pelan, bukan karena lucu, melainkan karena pikiran Tio melompat terlalu jauh. "Kamu tenang saja. Semuanya aman. Nanti setelah sampai apartemen ... kamu cari seorang penghulu dan bayar dia untuk datang ke apartemen, ya?” Tio refleks mengerutkan kening. "Cari penghulu? Untuk apa, Pak?” “Tentu saja untuk menikah. Memangnya ... gunanya penghulu apa lagi kalau bukan untuk menikahkan orang?” jawabku santai. “Tapi ... siapa yang akan menikah nantinya? Apakah Bapak mau, wanita itu menikah dengan Papa Anda?” “Kok jadi Papa yang menikah? Tentu saja aku.” “Bapak?!” Tio terkejut. Dari pantulan kaca, kulihat matanya membulat, jelas tak menyangka dengan jawabanku. "Maksudnya, Bapak ingin menikahi selingkuhan Papa Anda?” “Tentu saja.” “Lho, Pak. Jangaaannn!!” Tio menggeleng cepat, wajahnya tampak panik. “Kenapa jangan?” “Kan Bapak tau, wanita itu adalah wanita nggak bener. Kalau memang dia bener ... nggak mungkin dia jadi pelakor, Pak. Jadi untuk apa menikahi wanita nggak bener? Itu namanya buang-buang waktu saja, Pak.” “Justru karena dia nggak bener, mangkanya mau aku nikahi.” “Bapak ini konyol.” Tio menghembuskan napas berat, tampak frustrasi. “Dimana-mana menikah itu cari wanita yang bener, Pak. Bukan nggak bener. Almarhumah Bu Retno pasti nggak setuju.” “Mama pasti setuju. Udah kamu nggak perlu khawatirkan soal ini.” Aku kembali menatap ke depan, membiarkan lampu-lampu jalan berlalu satu per satu. Tio tidak tahu saja, apa yang sebenarnya ada di kepalaku. Pernikahan ini bukan tentang cinta. Bukan tentang masa depan. Ini tentang ikatan. Tentang menjebak seseorang dalam konsekuensi yang tak mudah dilepaskan. Tentang membuat Papa merasakan sakit yang tidak bisa disentuh dengan tangan, tapi menghantam tepat ke harga dirinya. Dan Zahra dengan segala pilihan hidupnya—akan menjadi bagian dari permainan itu. * * Beberapa menit kemudian, mobil akhirnya berhenti di area parkir apartemen. Aku langsung melangkah menuju salah satu unit yang sejak awal sudah kusiapkan. Jantungku berdetak tak beraturan, entah karena amarah yang belum surut atau karena bayangan wajah Papaku yang terus terlintas di kepala. Pintu unit itu dibuka oleh Tio. Di dalam kamar, seorang wanita berambut panjang tergeletak di atas kasur. Kedua tangan dan kakinya terikat, mulutnya tertutup lakban tebal. Tubuhnya terlihat kaku, jelas dalam keadaan takut dan tertekan. Pandangan kami pin bertemu. Dia tampak terkejut—matanya membesar, napasnya tersengal. Namun, justru akulah yang seketika terpaku. Matanya… Sangat cantik. Cantik sekali. Bening, tajam, dan hidup—seolah menyimpan ribuan emosi dalam satu tatapan. Rasanya aku belum pernah melihat mata seindah itu sebelumnya. Dan di saat yang sama, aku yakin, mata inilah senjata utamanya. Mata yang sama yang pasti digunakan untuk menggoda Papaku. Sungguh bia*dab memang wanita satu ini. Tanpa ragu, aku melangkah cepat menghampirinya. Tanganku langsung menarik tubuhnya dengan kasar hingga dia terhempas dari atas kasur. Bugh!! Tubuhnya terbentur lantai. Suara benturan itu memuaskan telingaku. Aku tidak merasa bersalah—justru ada kepuasan yang menyusup di dadaku. Rambut panjangnya segera kujambak, kutarik sekuat tenaga tanpa peduli jeritannya yang teredam. “Eemmmppptt!!” Matanya mendelik, wajahnya memerah, jelas menahan rasa sakit yang luar biasa. Tapi bagiku, itu belum seberapa. Tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit yang Mamaku tanggung selama ini… rasa sakit yang perlahan membunuhnya. Tanganku merobek lakban di mulutnya dengan kasar. “Aaawww!! Sakitttt!!” Dia langsung menjerit. “Bapak siapa? Lepaskan akuuu!! Sakit rambutkuuuu, Pak!!” “Apa kau bilang? Sakit?? Ini kau bilang sakit??” Amarahku meledak. Aku semakin keras menarik rambutnya, melampiaskan semua dendam yang selama ini kupendam. Namun tiba-tiba, Tio memegang lenganku, menghentikanku. “Sudah, Pak! Nanti kepala dia botak.” “Justru aku ingin dia botak,” jawabku kesal. Dadaku naik turun. Emosiku mendidih, membakar nalar sehatku. Melihat wanita ja*lang ini membuat seluruh kesabaran yang kupunya lenyap seketika. Kalau saja aku mau, kalau saja aku menuruti dorongan paling gelap dalam diriku—dia sudah tidak bernapas sekarang. Tapi tidak. Aku tidak ingin dia mati cepat. Aku ingin dia merasakan setiap detik penderitaan. Aku ingin hidupnya runtuh perlahan… hingga pada akhirnya, dia sendirilah yang menyerah. “Apa salahku, Pak? Kenapa Bapak melakukan hal ini padaku? Hikkss ....” Dia menangis. Cih. Air mata itu sama sekali tidak melunakkan hatiku. Justru membuat rasa jijikku semakin menjadi. Dia pikir tangisan murahan seperti itu akan membuatku iba? “Salahmu karena telah membu*nuh Mamaku!” Aku berteriak tepat di dekat telinga kanannya. Aku yakin suara itu pasti masih berdengung di kepalanya. “Mama?! Memang siapa Mama Bapak?” Dia menatapku dengan dahi berkerut, benar-benar terlihat tidak mengerti. “Dasar wanita ular! Kamu pikir bisa mengelak dariku? Tentu tidak akan bisa!” Tanganku merogoh saku celana, mengambil ponsel milik Mama—ponsel yang sejak kepergiannya tak pernah lepas dari genggamanku. Dengan gerakan kasar, layar lebar itu kusodorkan tepat di depan wajah Zahra. “Lihat foto ini Ja*lang! Tidak mungkin kau tidak mengenal pria bangkotan di sampingmu, kan?” barangku marah. Zahra terdiam sesaat. Tatapannya berpindah dari layar ponsel ke wajahku. Bola matanya bergetar, seolah sedang mencoba mencerna kenyataan yang baru saja menghantamnya. “Om Dendi ... dia Om Dendi, Pak.” Matanya beralih menatapku bingung. Kalimat itu justru membuat darahku semakin mendidih. “Aku adalah anaknya. Dan apa kau tau ... Mamaku meregang nyawa, saat mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Papa dan kau, Wanita Sialan!” Tanganku terangkat, lalu menoyor keras kepalanya. Tubuhnya terhuyung dan kepalanya membentur tembok dengan suara yang cukup keras. Detik berikutnya, tubuhnya lunglai dan jatuh ke lantai—tak bergerak. Dia pingsan. "Ck!" Aku mendecak kesal. Dadaku naik turun, napasku masih berat oleh emosi yang belum sepenuhnya terlampiaskan. Kurang ajar sekali. Aku bahkan belum selesai bicara, belum sempat mengorek informasi tentang sejauh apa hubungan menjijikkannya dengan Papa. Tapi dia sudah keburu tumbang. Dasar lemah. “Dia pingsan, Pak. Apakah kita perlu membawanya ke rumah sakit?” tanya Tio khawatir. Pandangannya tertuju pada tubuh Zahra yang tergeletak tak berdaya. Tangannya sempat terangkat, seolah ingin memeriksa, tapi urung karena ragu. Aku jongkok, lalu menempelkan jari telunjuk ke hidung Zahra, memastikan napasnya masih ada. Jangan sampai dia mati sekarang. “Biarkan saja, Tio. Lagian dia masih bernapas. Aku mau mandi dulu, gerah.” “Baik, Pak.” Aku bangkit dan melangkah menuju kamar mandi yang berada di sudut ruangan. Di sana, aku melepaskan seluruh pakaian, satu per satu. Air dingin yang nantinya akan membasahi tubuhku mungkin bisa menurunkan panas di kepalaku. Tapi dendam di hatiku? Tidak. Itu baru saja dimulai. Bersambung....Duuggg… Duuggg … Duuggg. Suara ketukan palu hakim bergema keras di seluruh ruang sidang, memecah keheningan yang menegangkan. Saat itulah, vonis hukuman pun dijatuhkan dengan tegas, terdengar jelas dan berat memenuhi ruangan: "Berdasarkan segala pembuktian, keterangan saksi, serta barang bukti yang sah di mata hukum, Majelis Hakim memutuskan dan menjatuhkan vonis kepada terdakwa, Dendo, atas kesalahan yang terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pencurian identitas, penyekapan, penganiayaan berat, penyanderaan, serta tindakan yang mengakibatkan kematian orang lain. Maka dari itu, terdakwa dihukum dengan pidana penjara seumur hidup, dikurangi masa tahanan yang telah dijalani, serta wajib membayar denda sebesar lima miliar rupiah kepada negara dan ganti rugi sebesar sepuluh miliar rupiah kepada korban atas segala kerugian materiil maupun moril yang telah ditimbulkan. Putusan ini adalah sah dan berkekuatan hukum tetap." Seharusnya, mendengar keputusan itu, hatiku
Ada jeda panjang. Papa menunduk dalam, rasa bersalah tampak jelas terpancar dari wajah tuanya yang penuh luka itu. "Itu mungkin adalah kesalahan Papa, Veer ...." suaranya terdengar parau dan lemah, masih disertai isak tangis yang sesekali kembali pecah. "Papa nggak pernah bercerita padamu, juga kepada Mama. Papa menyimpannya sendirian selama puluhan tahun." "Kenapa, Pa?" tanyaku, rasa heran bercampur kecewa tak bisa kututupi sepenuhnya. "Kita ini keluarga. Harusnya di antara kita nggak ada hal yang perlu ditutup-tutupi, kan? Hal sebesar ini... seharusnya kita saling tau." Papa menghela napas panjang, napas yang terdengar berat dan penuh penyesalan. "Bukan karena Papa bermaksud ingin menutupi atau menyembunyikan sesuatu dari kalian, Nak. Tapi... itu adalah pesan dan permintaan dari mendiang Papa dan Mama-nya Papa, opa dan omamu. Dulu mereka berpesan keras agar hal ini tidak boleh diketahui siapa pun. Dan jujur saja... sampai detik ini pun, Papa sendiri nggak pernah tau apa alasan s
Satu bulan kemudian… Waktu berlalu begitu cepat. Sudah sebulan lamanya Papa berjuang melawan maut dan menjalani perawatan intensif di ruang ICU. Dan hari ini, kabar gembira itu akhirnya datang juga. Kondisi kesehatan Papa perlahan namun membaik, hingga dokter memutuskan beliau sudah cukup kuat untuk dipindahkan ke kamar rawat inap biasa. Rasa bahagia dan lega begitu besar memenuhi dadaku, seolah beban berat yang selama ini menindihku perlahan terangkat. Harapanku kini hanya satu: melihat Papa pulih sepenuhnya, agar kami bisa kembali berkumpul dan hidup bersama seperti dulu. Karena bagiku, di dunia ini sekarang, hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki. Aku duduk di samping ranjang rumah sakit, sesekali membaca buku untuk mengisi waktu, sambil terus mengawasi setiap pergerakan kecil pada diri Papa yang masih berbaring lemah. Ruangan itu hening, hanya terdengar suara detak jantung dari alat pemantau di s
"Halo, Tio, tolong kamu ambilkan semua pakaian dan barang-barang milik Zahra di rumahku besok, bawa dan antarkan padanya ke rumah sakit. Sekalian dengan tas miliknya, yang dari awal aku simpan. Minta Bi Leha ambilkan, ada di dalam laci lemariku yang paling besar," ucapku berbicara dengan Tio dari sambungan telepon. Hening sejenak terdengar dari seberang sana, sebelum suara Tio terdengar. "Kok diambil semua? Kenapa memangnya, Pak?" Aku menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak. "Aku akan menyudahi hubunganku dengan Zahra." "Menyudahi??" Suara Tio meninggi tak percaya, kaget yang dirasakannya begitu jelas terdengar. "Maksudnya, Bapak dan Nona Zahra ingin bercerai?" "Iya." Jawabku singkat dan tegas, tak ada keraguan sedikit pun. "Kenapa??" tanyanya lagi, seolah belum bisa menerima keputusan itu. Aku diam sejenak, menatap kosong ke arah dinding di hadapanku, pikiranku melayang kembali pada semua fakta
"Apa ... Apa setelah ini kamu akan melaporkanku ke polisi? Kamu ingin memenjarakan aku?" tanyaku dengan suara bergetar. Rasa cemas dan keraguan seketika berkecamuk di dalam dada.Kemungkinan itu memang bisa saja terjadi, apalagi dia sudah menegaskan bahwa kami harus berpisah."Enggak, Mas." Zahra menggeleng pelan, tangannya terangkat untuk mengusap air mata yang masih menetes deras di pipinya. Tatapannya terlihat lemah. "Tenang aja, aku nggak akan melakukan apa pun yang akan membuat Mas Veer semakin tersakiti. Tolong ambil benda-benda ini, lalu pergilah dan tinggalkan aku sekarang. Aku ingin istirahat, Mas. Kepalaku sakit."Dengan rasa ragu, aku perlahan meraih ponsel serta kartu hitam yang disodorkannya itu dari genggaman tangannya. Tanganku terasa berat, seolah sedang mengambil bukan benda biasa, melainkan memutuskan sisa-sisa ikatan yang masih tersisa di antara kami."Apa perlu aku panggilkan dokter untuk memeriksamu lagi?" tanyaku lagi dengan nada khawatir."Nggak usah, Mas. Aku h
Zahra menoleh kembali ke arahku, matanya berkaca-kaca namun sorotnya penuh dengan kesedihan mendalam yang bercampur dengan api kemarahan yang meluap-luap dan terpendam. "Kenapa harus Bunda yang Mas bunuh? Kenapa nggak aku saja yang Mas bunuh?? Kenapa??" Dia tiba-tiba berteriak histeris.Aku sontak terkejut, tubuhku menegang. Dan seketika aku tersadar akan sesuatu yang menyakitkan. Bundanya Zahra telah meninggal dunia pagi tadi. Bagaimana bisa aku begitu lupa dan tak peka akan hal yang begitu menyakitkan baginya? "Aku sama sekali nggak berniat membunuh Bundamu, Zahra." Aku mencoba menenangkan, suaraku terdengar berat dan penuh penyesalan. "Tapi kenyataannya Bunda sudah meninggal, Mas! Dan Mas pasti seneng, kan?" tuduhnya lagi, air mata mulai menetes membasahi pipi pucatnya. "Enggak!" Aku menggelengkan kepala dengan cepat, menatapnya tajam namun berusaha tetap tenang dan meyakinkan. "Ohhh... jadi Mas belum puas, ya? Kalau begi
Tubuh Zahra langsung memegang. Aku bisa merasakan bagaimana dia menelan ludah dengan susah payah. Napasnya tercekat, dadanya naik turun tak beraturan. Tubuhnya gemetar hebat. Ketakutan di matanya begitu nyata—dan itu memberiku kepuasan.“Pak Veer ... apa yang Bapak lakukan? Bukankah tindakan ini s
Aku berdiri tegak di depan cermin, menatap pantulan diriku sendiri.Stelan jas putih yang membalut tubuhku membuat penampilanku tampak rupawan—bahkan terlalu sempurna untuk sebuah pernikahan yang lahir dari amarah dan dendam. Rambutku tersisir rapi, wajahku bersih, seolah aku benar-benar akan melan
“Pak! Tahan, Pak!!” Dua orang satpam datang dengan cepat. Mereka menarik tubuhku sekuat tenaga, memisahkanku dari Papa. Aku meronta, tapi genggaman mereka terlalu kuat. Sedikit lagi… sedikit lagi aku mungkin sudah merenggut nyawa Papa, karena wajahnya sudah hampir membiru saat lehernya kucekik.
“Papa di mana sekarang? Cepat datang ke rumah sakit!”Aku berusaha mengontrol diri saat akhirnya berhasil menghubungi Papa. Tapi rasanya sia-sia. Tanganku sudah sangat gatal. Begitu dia tiba nanti, aku yakin, tinjuku akan lebih dulu mendarat di wajahnya sebelum kata-kata keluar dari mulutku.“Veer







