共有

4. Sugar baby

作者: Rossy Dildara
last update 公開日: 2026-01-27 22:00:35

Aku mendengus keras.

Dasar gatal!

Aku yakin Zahra bukan mencintai Papa. Tidak mungkin. Yang dia incar pasti harta. Pria tua itu hanya dompet berjalan baginya. Atau jangan-jangan… dia memang sekadar sugar baby?

Pikiranku semakin dipenuhi rasa muak.

“Pak Veer ... maaf saya ingin bertanya,” kata Tio yang sejak tadi fokus menyetir.

“Katakan.”

“Setelah wanita itu diculik, kira-kira nanti mau Bapak apakan? Apa Bapak ingin menyiksanya? Atau mau Bapak perkos ....” Tio tiba-tiba menghentikan ucapannya. Dari kaca depan, kulihat sorot matanya ragu, seolah menimbang apakah kalimat itu pantas dilanjutkan atau tidak.

“Kenapa nggak dilanjut?”

“Maaf, saya hanya penasaran saja, Pak. Tapi saya harap ... Bapak tidak melakukan tindakan yang membuat Bapak dalam bahaya. Saya hanya takut.” Nada suaranya tulus. Bukan menentang—lebih seperti khawatir.

“Dalam bahaya gimana maksudmu?”

“Melakukan tindakan kriminal. Seperti pemerko*saan, misalnya.”

Aku terkekeh pelan, bukan karena lucu, melainkan karena pikiran Tio melompat terlalu jauh. "Kamu tenang saja. Semuanya aman. Nanti setelah sampai apartemen ... kamu cari seorang penghulu dan bayar dia untuk datang ke apartemen, ya?”

Tio refleks mengerutkan kening. "Cari penghulu? Untuk apa, Pak?”

“Tentu saja untuk menikah. Memangnya ... gunanya penghulu apa lagi kalau bukan untuk menikahkan orang?” jawabku santai.

“Tapi ... siapa yang akan menikah nantinya? Apakah Bapak mau, wanita itu menikah dengan Papa Anda?”

“Kok jadi Papa yang menikah? Tentu saja aku.”

“Bapak?!” Tio terkejut. Dari pantulan kaca, kulihat matanya membulat, jelas tak menyangka dengan jawabanku. "Maksudnya, Bapak ingin menikahi selingkuhan Papa Anda?”

“Tentu saja.”

“Lho, Pak. Jangaaannn!!” Tio menggeleng cepat, wajahnya tampak panik.

“Kenapa jangan?”

“Kan Bapak tau, wanita itu adalah wanita nggak bener. Kalau memang dia bener ... nggak mungkin dia jadi pelakor, Pak. Jadi untuk apa menikahi wanita nggak bener? Itu namanya buang-buang waktu saja, Pak.”

“Justru karena dia nggak bener, mangkanya mau aku nikahi.”

“Bapak ini konyol.” Tio menghembuskan napas berat, tampak frustrasi. “Dimana-mana menikah itu cari wanita yang bener, Pak. Bukan nggak bener. Almarhumah Bu Retno pasti nggak setuju.”

“Mama pasti setuju. Udah kamu nggak perlu khawatirkan soal ini.” Aku kembali menatap ke depan, membiarkan lampu-lampu jalan berlalu satu per satu.

Tio tidak tahu saja, apa yang sebenarnya ada di kepalaku.

Pernikahan ini bukan tentang cinta. Bukan tentang masa depan.

Ini tentang ikatan. Tentang menjebak seseorang dalam konsekuensi yang tak mudah dilepaskan. Tentang membuat Papa merasakan sakit yang tidak bisa disentuh dengan tangan, tapi menghantam tepat ke harga dirinya.

Dan Zahra dengan segala pilihan hidupnya—akan menjadi bagian dari permainan itu.

*

*

Beberapa menit kemudian, mobil akhirnya berhenti di area parkir apartemen. Aku langsung melangkah menuju salah satu unit yang sejak awal sudah kusiapkan. Jantungku berdetak tak beraturan, entah karena amarah yang belum surut atau karena bayangan wajah Papaku yang terus terlintas di kepala.

Pintu unit itu dibuka oleh Tio.

Di dalam kamar, seorang wanita berambut panjang tergeletak di atas kasur. Kedua tangan dan kakinya terikat, mulutnya tertutup lakban tebal. Tubuhnya terlihat kaku, jelas dalam keadaan takut dan tertekan.

Pandangan kami pin bertemu.

Dia tampak terkejut—matanya membesar, napasnya tersengal. Namun, justru akulah yang seketika terpaku.

Matanya…

Sangat cantik. Cantik sekali.

Bening, tajam, dan hidup—seolah menyimpan ribuan emosi dalam satu tatapan. Rasanya aku belum pernah melihat mata seindah itu sebelumnya. Dan di saat yang sama, aku yakin, mata inilah senjata utamanya. Mata yang sama yang pasti digunakan untuk menggoda Papaku.

Sungguh bia*dab memang wanita satu ini.

Tanpa ragu, aku melangkah cepat menghampirinya. Tanganku langsung menarik tubuhnya dengan kasar hingga dia terhempas dari atas kasur.

Bugh!!

Tubuhnya terbentur lantai. Suara benturan itu memuaskan telingaku. Aku tidak merasa bersalah—justru ada kepuasan yang menyusup di dadaku. Rambut panjangnya segera kujambak, kutarik sekuat tenaga tanpa peduli jeritannya yang teredam.

“Eemmmppptt!!”

Matanya mendelik, wajahnya memerah, jelas menahan rasa sakit yang luar biasa. Tapi bagiku, itu belum seberapa. Tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit yang Mamaku tanggung selama ini… rasa sakit yang perlahan membunuhnya.

Tanganku merobek lakban di mulutnya dengan kasar.

“Aaawww!! Sakitttt!!” Dia langsung menjerit. “Bapak siapa? Lepaskan akuuu!! Sakit rambutkuuuu, Pak!!”

“Apa kau bilang? Sakit?? Ini kau bilang sakit??”

Amarahku meledak. Aku semakin keras menarik rambutnya, melampiaskan semua dendam yang selama ini kupendam. Namun tiba-tiba, Tio memegang lenganku, menghentikanku.

“Sudah, Pak! Nanti kepala dia botak.”

“Justru aku ingin dia botak,” jawabku kesal. Dadaku naik turun. Emosiku mendidih, membakar nalar sehatku.

Melihat wanita ja*lang ini membuat seluruh kesabaran yang kupunya lenyap seketika. Kalau saja aku mau, kalau saja aku menuruti dorongan paling gelap dalam diriku—dia sudah tidak bernapas sekarang.

Tapi tidak.

Aku tidak ingin dia mati cepat.

Aku ingin dia merasakan setiap detik penderitaan. Aku ingin hidupnya runtuh perlahan… hingga pada akhirnya, dia sendirilah yang menyerah.

“Apa salahku, Pak? Kenapa Bapak melakukan hal ini padaku? Hikkss ....” Dia menangis.

Cih.

Air mata itu sama sekali tidak melunakkan hatiku. Justru membuat rasa jijikku semakin menjadi. Dia pikir tangisan murahan seperti itu akan membuatku iba?

“Salahmu karena telah membu*nuh Mamaku!”

Aku berteriak tepat di dekat telinga kanannya. Aku yakin suara itu pasti masih berdengung di kepalanya.

“Mama?! Memang siapa Mama Bapak?” Dia menatapku dengan dahi berkerut, benar-benar terlihat tidak mengerti.

“Dasar wanita ular! Kamu pikir bisa mengelak dariku? Tentu tidak akan bisa!”

Tanganku merogoh saku celana, mengambil ponsel milik Mama—ponsel yang sejak kepergiannya tak pernah lepas dari genggamanku. Dengan gerakan kasar, layar lebar itu kusodorkan tepat di depan wajah Zahra.

“Lihat foto ini Ja*lang! Tidak mungkin kau tidak mengenal pria bangkotan di sampingmu, kan?” barangku marah.

Zahra terdiam sesaat. Tatapannya berpindah dari layar ponsel ke wajahku. Bola matanya bergetar, seolah sedang mencoba mencerna kenyataan yang baru saja menghantamnya.

“Om Dendi ... dia Om Dendi, Pak.”

Matanya beralih menatapku bingung.

Kalimat itu justru membuat darahku semakin mendidih.

“Aku adalah anaknya. Dan apa kau tau ... Mamaku meregang nyawa, saat mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Papa dan kau, Wanita Sialan!”

Tanganku terangkat, lalu menoyor keras kepalanya. Tubuhnya terhuyung dan kepalanya membentur tembok dengan suara yang cukup keras. Detik berikutnya, tubuhnya lunglai dan jatuh ke lantai—tak bergerak.

Dia pingsan.

"Ck!" Aku mendecak kesal. Dadaku naik turun, napasku masih berat oleh emosi yang belum sepenuhnya terlampiaskan. Kurang ajar sekali. Aku bahkan belum selesai bicara, belum sempat mengorek informasi tentang sejauh apa hubungan menjijikkannya dengan Papa. Tapi dia sudah keburu tumbang.

Dasar lemah.

“Dia pingsan, Pak. Apakah kita perlu membawanya ke rumah sakit?” tanya Tio khawatir. Pandangannya tertuju pada tubuh Zahra yang tergeletak tak berdaya. Tangannya sempat terangkat, seolah ingin memeriksa, tapi urung karena ragu.

Aku jongkok, lalu menempelkan jari telunjuk ke hidung Zahra, memastikan napasnya masih ada. Jangan sampai dia mati sekarang.

“Biarkan saja, Tio. Lagian dia masih bernapas. Aku mau mandi dulu, gerah.”

“Baik, Pak.”

Aku bangkit dan melangkah menuju kamar mandi yang berada di sudut ruangan. Di sana, aku melepaskan seluruh pakaian, satu per satu.

Air dingin yang nantinya akan membasahi tubuhku mungkin bisa menurunkan panas di kepalaku.

Tapi dendam di hatiku?

Tidak.

Itu baru saja dimulai.

Bersambung....

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   42. Meninggal dunia

    "Bu Niah Raihana, Pak."Jawaban singkat dari dokter itu seperti sambaran petir di siang bolong yang menghantam dadaku hingga terasa sesak dan bergetar hebat.Kedua kakiku seketika terasa lemas tak bertulang. Secara refleks tanganku langsung meraba dan menumpukan tubuh pada dinding putih di sampingku agar tidak jatuh."Bapak yang sabar dan tabah ya, Pak. Kalau tentang Nona Zahra... kondisinya sudah agak membaik dan sebentar lagi bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Namun Bapak harap menunggu sekitar setengah jam lagi," tambah dokter itu lembut sebelum akhirnya berbalik masuk kembali ke ruang perawatan.Aku hanya bisa mengangguk lemah sebagai tanda jawaban. Sesaat setelah sosok dokter itu menghilang, Bi Leha perlahan melangkah mendekat ke arahku dengan raut wajah sedih."Pak ... Bundanya Nona Zahra meninggal dunia, dan semua ini gara-gara Bapak. Bagaimana kalau nantinya—""Enggak!! Itu bukan karena aku!!" Aku segera memotong ucapan Bi Leha dengan penyangkalan tegas sambil menggele

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   41. Terlalu kejam

    Malam semakin larut hingga menembus tengah malam, namun kelopak mataku rasanya berat untuk terpejam.Aku terus berguling di atas kasur, pikiranku sepenuhnya tertambat pada sosok Zahra yang sejak tadi kukurung rapat di dalam ruang gudang yang pengap dan gelap itu.Rasa gelisah dan cemas tiba-tiba menyergap relung hatiku, membuat butiran keringat dingin bermunculan membasahi seluruh pelipis dan punggung.'Apa aku bertindak terlalu kejam padanya? Mengurungnya bersama ibunya dalam keadaan kelaparan dan kehausan?' Batinku bertanya ragu. Namun benakku segera menangkis keraguan itu. 'Tapi Zahra juga sudah terlalu jahat dan menyakiti. Nggak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya yang bisa kupercaya sepenuhnya.'Aku berusaha keras untuk memejamkan mata dan memaksakan diri terlelap. Namun sia-sia saja. Rasa cemas yang mencekam itu justru semakin memuncak, membuatku tidak mampu lagi berbaring dengan tenang.Dengan perasaan terpaksa sekaligus gelisah, aku pun akhirnya bangkit dari peradua

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   40. Tes DNA

    Aku mendekat perlahan ke arah Bunda Niah. Jari telunjukku kuletakkan tepat di bawah kedua lubang hidungnya, ingin memastikan apakah dia masih bernapas atau nyawanya sudah melayang. Dan hembusan napas hangat masih terasa, artinya dia masih hidup. Padahal ini sudah mau masuk hari kedua. Aku tidak menyangka, orang gila seperti dia ini ternyata masih punya kekuatan untuk bertahan tanpa makan dan minum. "Mas aku mohon ...," pinta Zahra merintih pilu."Kalau kamu kasihan pada Bundamu, kamu ikut saja dengannya di sini. Kamu akan ikut dikurung juga," ucapku dingin tanpa rasa iba. Segera aku mendorong tubuhnya agar menjauh, lalu berbalik badan dan melangkah cepat keluar dari kamar gudang itu. "Tapi, Mas ... Aku ...." Suara Zahra terputus saat pintu berat itu aku tutup rapat dan kunci dengan kuat. Baru saja beberapa langkah, aku sedikit tersentak kaget saat menyadari ada sosok yang sudah berdiri tepat di belakang punggungku. Ternyata itu Bi Leh

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   39. Hukum saja aku

    "Mas ... Lebih baik kita tinggal berdua saja, nggak perlu di rumah Papa," ucap Zahra lembut, suaranya terdengar begitu memohon sambil menatap lekat ke arahku yang duduk di sampingnya. Kini kami telah kembali menapakkan kaki di tanah air, mesin mobil yang dikendarai Tio menuju kediaman Papa. Namun, ucapan manis itu tak sedikit pun mendapatkan respon dariku. Aku hanya diam mematung, menatap lurus ke depan dengan perasaan yang masih campur aduk, malas rasanya untuk sekadar membalas satu patah kata. "Oh ya, Mas... Bagaimana kalau sebelum kita pulang, kita mampir dulu untuk menjenguk Bunda? Terakhir kali itu kan kita sudah ada niat untuk pergi bersama menemui Bunda," tambahnya lagi, berusaha mencairkan suasana yang terasa begitu membeku ini. Lagi-lagi aku memilih untuk membungkam mulutku. Kepala ini terlalu pening, hati ini masih terlalu sakit untuk sekadar basa-basi. Biarlah aku diam saja. "Mas ... kok Mas diam aja, sih?? Mas denger aku nggak sebenarnya??" Rasa penasarannya membu

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   38. Sakit tapi enak

    Dengan satu gerakan keras dan cepat, kutancapkan milikku masuk, namun.... "Aakkhh!!" Aku mendesis keras tertahan, keringat dingin langsung keluar di dahi. Susah sekali masuknya. Di sana terasa ada hambatan yang tebal dan sangat ketat, seolah ada dinding yang menolakku masuk dengan kasar. Pikiranku langsung bertanya-tanya. Jangan-jangan apa yang Zahra katakan itu benar? Tapi tidak mungkin... dia sudah pergi dengan Papa dan sebelumnya mereka juga sudah pacaran selama satu tahun. Namun fisik tidak bisa berbohong. Rasanya begitu rapat dan begitu padat sehingga membuatku harus mengerahkan tenaga untuk menembus pertahanan di dalam sana. "Ahhkk!! Sakit, Mas!! Sakit sekali...!! jerit Zahra melengking tinggi, tubuhnya tersentak dan kakinya gemetar hebat. "Sialan... kenapa rasanya sesempit dan sekeras ini?!!" geramku napasku me

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   37. Lakukan denganku

    Kepala Zahra langsung mendongak kaget, matanya membelalak menatapku dengan penuh ketakutan. Dia hendak membuka mulutnya mungkin untuk berteriak atau meminta tolong, tapi aku langsung menyela dengan tatapan tajam. "Jangan banyak bicara, sekarang bangun dan ikutlah denganku kalau memang kamu nggak ingin cutter ini menusuk perutmu," titahku dengan nada rendah namun penuh ancaman mematikan. Zahra hanya bisa mengangguk patuh, wajahnya seketika pucat pasi. Dengan tangan gemetar, perlahan dia berdiri mengikutiku. Aku berjalan cepat membawanya keluar dari restoran, memastikan tidak ada yang menyadari apa yang sedang terjadi di tengah keramaian pagi itu. Tak lama setelah aku berhasil membawa Zahra masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahku, wanita itu tiba-tiba saja menarik masker yang menutupi wajahku. "Mas Veer... Ternyata benar Mas Veer!!" serunya dengan nada yang terdengar lega.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status