Share

5. Tidak berhak

Author: Rossy Dildara
last update Last Updated: 2026-01-27 22:01:02

Aku berdiri tegak di depan cermin, menatap pantulan diriku sendiri.

Stelan jas putih yang membalut tubuhku membuat penampilanku tampak rupawan—bahkan terlalu sempurna untuk sebuah pernikahan yang lahir dari amarah dan dendam. Rambutku tersisir rapi, wajahku bersih, seolah aku benar-benar akan melangkah menuju hari paling bahagia dalam hidup.

Ironis.

Di ruang tengah, Pak penghulu dan para saksi yang sudah kubayar duduk menunggu dengan raut canggung. Mereka saling bertukar pandang, mungkin bertanya-tanya mengapa prosesi sakral ini terasa begitu dingin dan janggal.

Namun satu hal yang membuatku kesal—sejak tadi Zahra tak kunjung sadar.

Tubuhnya terbaring di atas ranjang, kini sudah mengenakan gaun pengantin sederhana berwarna putih. Wajahnya dipoles make up tipis oleh MUA yang kubayar mahal. Jika dilihat sekilas, dia tampak seperti pengantin pada umumnya.

“Pak, Nona Zahra belum sadar juga,” kata Tio yang sejak tadi sibuk mengusap minyak angin ke hidung dan leher Zahra. Gerakannya terlihat gelisah. “Apa kita bawa dia ke rumah sakit saja, ya, Pak? Takutnya dia terkena gegar otak.”

Aku menoleh dengan alis terangkat. Kekhawatiran Tio menurutku berlebihan.

“Kenapa juga dia bisa gegar otak? Kamu pikir dia mengalami kecelakaan?” jawabku ketus. Situasi sudah cukup kacau, dan dia malah melontarkan hal-hal yang menurutku mengada-ada.

“Tapi 'kan tadi Bapak membenturkan kepalanya ke tembok.”

“Masa cuma kepala terbentur tembok bisa langsung gegar otak? Jangan ngarang kamu, Tio! Lagian niatku cuma menoyor kepalanya doang, bukan mau membenturkannya ke tembok!”

Tio menghela napas, jelas tidak sependapat denganku. “Tapi itu bisa saja, Pak. Namanya kepala ... kan memang sensitif. Jadi lebih baik kita bawa saja dulu ke rumah sakit, takutnya bisa fatal.”

Tangannya hendak meraih tubuh Zahra, namun refleks aku menghentikannya.

“Nggak perlu, Tio! Nanti yang ada buang-buang waktu¡ Sekarang kamu pergi ke kamar mandi saja, ambilkan air.”

“Air untuk apa, Pak?” Tio menatapku bingung.

“Udah nggak perlu banyak tanya. Ambilkan saja! Masukkan ke dalam ember!”

Aku mendorong pelan tubuhnya agar segera bergerak. Dengan ragu, dia mengangguk dan berlari menuju kamar mandi.

Tak lama kemudian, Tio kembali dengan membawa ember kecil berwarna putih yang terisi air hingga penuh. Ember itu diserahkan kepadaku.

“Apa Bapak ingin menciprati air ke wajahnya, supaya Nona Zahra segera bangun?”

Aku melirik Zahra sekilas. Tubuhnya masih tak bergerak, wajahnya pucat di balik riasan.

“Ngapain menciprati? Itu terlalu ribet. Lebih baik kuguyur saja!” Tanpa ragu, aku mengangkat ember itu dan menyiramkan airnya tepat ke wajah Zahra.

Efeknya seketika.

“Uhuk! Uhuk!!” Zahra tersentak, tubuhnya menegak dengan kasar. Dia terbatuk-batuk hebat, tangannya refleks mengusap wajah berkali-kali, napasnya terengah seolah baru saja ditarik paksa dari alam yang berbeda.

Aku menatapnya dingin. “Cepat bangun. Aku membawamu ke sini bukan untuk tidur!”

“Bapak tega sekali, apa Bapak mengguyurku?” Suara Zahra bergetar. Rambutnya basah menempel di wajah dan leher, napasnya belum sepenuhnya stabil. Air masih menetes dari ujung dagunya, membuatnya terlihat rapuh—namun bagiku, pemandangan itu sama sekali tidak membangkitkan belas kasihan.

“Kelihatannya?” Mataku melotot tajam. Tanpa memberi kesempatan sedikit pun padanya untuk pulih, tanganku langsung mencengkeram lengannya. Sekali tarik, tubuh Zahra terangkat dari atas ranjang.

Dia tersentak.

Tubuhnya oleng saat kakiku melangkah maju, menariknya keluar kamar dengan kasar. Kakinya sempoyongan, langkahnya terseret, nyaris terjatuh beberapa kali.

“Kita mau ke mana? Kenapa Bapak menarikku? Kepalaku masih pusing, Pak!” Zahra meringis sambil memegangi dahinya, wajahnya pucat di balik riasan yang mulai luntur karena air. Namun aku sama sekali tidak melambat. Aku terus menariknya hingga akhirnya tiba di ruang tengah.

Di sanalah semua orang menunggu.

Pak penghulu, dua orang saksi, dan Tio yang berdiri di belakang—semuanya menatap kami dengan raut canggung. Suasana mendadak terasa berat, tegang, dan tidak wajar.

“Apa sudah siap Pak Veer?” Pak Penghulu tiba-tiba berdiri begitu melihat kedatanganku. “Kita bisa mulai sekarang, proses ijab kabulnya?”

“Bisa, Pak.” Aku mengangguk cepat, lalu kembali menarik Zahra dan memaksanya duduk di sofa di sampingku. Tubuhnya kaku, matanya bergerak liar, jelas tak memahami apa yang sedang terjadi.

“Bapak bilang apa tadi? Ijab kabul? Siapa yang mau ijab kabul, Pak?” Zahra menoleh ke arah Pak Penghulu dengan wajah penuh kebingungan, lalu perlahan menatapku. Matanya membesar, seolah mulai menangkap potongan kenyataan yang mengerikan.

“Nggak usah banyak bertanya bo*doh! Kan sudah jelas kau sendiri memakai gaun pengantin, sementara aku memakai jas!” Nada suaraku tajam, dingin, tanpa ruang untuk perdebatan.

“Maksudnya, Bapak dan aku menikah?” Zahra menunjuk wajahnya sendiri, terkejut, hampir tidak percaya. Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. “Enggak! Aku nggak mau, Pak! Kenapa juga kita harus menikah?”

Penolakannya membuat dadaku semakin panas.

“Kenapa nggak mau?!” sentakku marah. Amarah itu kembali membara, menjalar ke seluruh tubuhku.

“Bapak ini orang asing. Aku tidak mengenal Bapak.”

“Orang asing katamu? Apakah kau lupa ingatan?? Baru tadi aku memberitahumu, bahwa aku ini adalah anak dari pria yang merangkulmu di foto! Anak si Dendi!!”

“Meskipun begitu, tapi tetap saja aku tidak mengenal Bapak. Om Dendi juga tidak pernah bercerita tentang anaknya.”

“Persetan dengan semua itu!! Aku tidak peduli!! Yang jelas ... mau tidak mau, suka maupun tidak suka ... kau harus menikah denganku sekarang!” Aku berteriak murka. Suaraku menggema di seluruh ruangan, membuat para saksi terdiam kaku.

“Aku bilang tidak ya, tidak!! Aku tidak mau, Pak!" Zahra tiba-tiba berdiri. Dengan keberanian nekat, dia melotot ke arahku. “Bapak juga tidak berhak memaksaku!”

Keberaniannya itu seperti menyiram bensin ke api.

“Tidak berhak katamu?” Aku langsung menarik kasar tangannya, memaksanya kembali duduk. Tubuhnya terhempas ke sofa. Dalam satu gerakan cepat, korek api di dalam kantong celanaku sudah berada di tanganku. Aku menyalakannya, nyala api kecil itu berkedip tepat di depan wajah Zahra. “Lihat ini!! Aku bisa membakar wajahmu sekarang juga, kalau kau berani membantah perintahku!”

Api itu bergetar seirama dengan amarahku. Tidak sampai di situ, tanganku yang lain langsung mencengkeram leher Zahra. Tidak terlalu keras—tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa hidupnya kini ada di tanganku.

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   6. Kejutan spesial

    Tubuh Zahra langsung memegang. Aku bisa merasakan bagaimana dia menelan ludah dengan susah payah. Napasnya tercekat, dadanya naik turun tak beraturan. Tubuhnya gemetar hebat. Ketakutan di matanya begitu nyata—dan itu memberiku kepuasan.“Pak Veer ... apa yang Bapak lakukan? Bukankah tindakan ini sangat—”“Diam, kau!” Aku menyentak marah, memotong ucapan Pak Penghulu. Tatapanku nyalang, penuh ancaman. “Bapak tidak berhak mencampuri urusanku. Bapak disini hanya dibayar, dan kalau Bapak keberatan ... pintu ruangan ini terbuka lebar untuk Bapak!”Tio segera bergerak cepat menuju pintu, lalu membukakannya lebar-lebar. Suara engsel pintu terdengar nyaring di tengah keheningan yang mencekam.Pria berpeci yang usianya tak jauh dari Papa itu langsung menggelengkan kepala. Senyum kecil terpaksa terukir di wajahnya.Aku yakin dia tak mungkin berniat pergi dari sini, karena bayaran yang akan dia terima menjadi penghuluku bernilai fantastis. Lima kali lipat dari harga biasanya.“Maafkan saya, Pak

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   5. Tidak berhak

    Aku berdiri tegak di depan cermin, menatap pantulan diriku sendiri.Stelan jas putih yang membalut tubuhku membuat penampilanku tampak rupawan—bahkan terlalu sempurna untuk sebuah pernikahan yang lahir dari amarah dan dendam. Rambutku tersisir rapi, wajahku bersih, seolah aku benar-benar akan melangkah menuju hari paling bahagia dalam hidup.Ironis.Di ruang tengah, Pak penghulu dan para saksi yang sudah kubayar duduk menunggu dengan raut canggung. Mereka saling bertukar pandang, mungkin bertanya-tanya mengapa prosesi sakral ini terasa begitu dingin dan janggal.Namun satu hal yang membuatku kesal—sejak tadi Zahra tak kunjung sadar.Tubuhnya terbaring di atas ranjang, kini sudah mengenakan gaun pengantin sederhana berwarna putih. Wajahnya dipoles make up tipis oleh MUA yang kubayar mahal. Jika dilihat sekilas, dia tampak seperti pengantin pada umumnya.“Pak, Nona Zahra belum sadar juga,” kata Tio yang sejak tadi sibuk mengusap minyak angin ke hidung dan leher Zahra. Gerakannya terliha

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   4. Sugar baby

    Aku mendengus keras.Dasar gatal!Aku yakin Zahra bukan mencintai Papa. Tidak mungkin. Yang dia incar pasti harta. Pria tua itu hanya dompet berjalan baginya. Atau jangan-jangan… dia memang sekadar sugar baby?Pikiranku semakin dipenuhi rasa muak.“Pak Veer ... maaf saya ingin bertanya,” kata Tio yang sejak tadi fokus menyetir.“Katakan.”“Setelah wanita itu diculik, kira-kira nanti mau Bapak apakan? Apa Bapak ingin menyiksanya? Atau mau Bapak perkos ....” Tio tiba-tiba menghentikan ucapannya. Dari kaca depan, kulihat sorot matanya ragu, seolah menimbang apakah kalimat itu pantas dilanjutkan atau tidak.“Kenapa nggak dilanjut?”“Maaf, saya hanya penasaran saja, Pak. Tapi saya harap ... Bapak tidak melakukan tindakan yang membuat Bapak dalam bahaya. Saya hanya takut.” Nada suaranya tulus. Bukan menentang—lebih seperti khawatir.“Dalam bahaya gimana maksudmu?”“Melakukan tindakan kriminal. Seperti pemerko*saan, misalnya.”Aku terkekeh pelan, bukan karena lucu, melainkan karena pikiran T

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   3. Zahra Raihana

    “Pak! Tahan, Pak!!”Dua orang satpam datang dengan cepat. Mereka menarik tubuhku sekuat tenaga, memisahkanku dari Papa.Aku meronta, tapi genggaman mereka terlalu kuat. Sedikit lagi… sedikit lagi aku mungkin sudah merenggut nyawa Papa, karena wajahnya sudah hampir membiru saat lehernya kucekik.Tidak.Papa tidak boleh mati sekarang.Dan bukan oleh tanganku.Jika aku membunuhnya, aku akan masuk penjara. Itu terlalu mudah baginya. Papa harus tetap hidup. Dia harus hidup cukup lama untuk merasakan semua balasan atas rasa sakit yang Mama derita.“Bapak tidak boleh masuk lagi ke dalam rumah sakit! Sekarang Bapak pulang!” Salah satu satpam menunjuk wajahku dengan tegas. Bersama rekannya, dia menyeret tubuhku keluar dari rumah sakit.Aku masih sempat memberontak, tapi tenagaku terkuras oleh amarah dan duka yang menumpuk.“Aku akan pulang bersama Mamaku! Dan harusnya yang Bapak usir tadi adalah pria tua yang aku cekik, karena dialah penyebab Mamaku meninggal!” Aku murka. Tatapanku tajam menel

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   2. Aku hancur

    “Papa di mana sekarang? Cepat datang ke rumah sakit!”Aku berusaha mengontrol diri saat akhirnya berhasil menghubungi Papa. Tapi rasanya sia-sia. Tanganku sudah sangat gatal. Begitu dia tiba nanti, aku yakin, tinjuku akan lebih dulu mendarat di wajahnya sebelum kata-kata keluar dari mulutku.“Veer ... apakah ini kamu? Kamu sudah pulang ke Indonesia?”Suara Papa terdengar antusias. Hangat. Seolah tidak ada dosa yang sedang dia sembunyikan.Wajar dia terkejut. Aku memang tidak memberi tahu siapa pun soal kepulanganku hari ini. Rencananya, aku ingin memberi kejutan. Untuk Papa dan Mama. Tapi justru akulah yang dibuat terkejut—oleh kelakuan beja*t Papa sendiri.“Eh, tadi kamu bilang apa? Papa harus ke rumah sakit, ya? Memangnya siapa yang sakit? Apakah kamu baik-baik saja, Veer?”Nada khawatir itu terdengar begitu tulus, dan entah kenapa justru membuat dadaku semakin panas.“Mama yang sakit,” jawabku dengan suara berat.Ada jeda di seberang sana.“Astaghfirullah ... di rumah sakit mana? P

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   1. Foto wanita muda di ponsel Papa

    “Aaawww!! Sakiiitttt!!”Jeritan itu menggema di ruang apartemen. Wanita itu menggeliat liar saat aku merobek lakban di mulutnya tanpa ampun.Air matanya langsung mengalir, napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Rambutnya yang kusut menempel di wajah pucatnya saat dia menatapku—heran dan kebingungan bercampur jadi satu.“Bapak siapa? Lepaskan akuuu!! Sakit rambutkuuuu, Pak!!”Aku mencengkeram rambutnya lebih keras, menarik kepalanya ke belakang hingga lehernya teregang paksa. Dia meringis, menjerit semakin histeris tampak kesakitan.Tapi rasa sakit itu tidak ada artinya dibanding apa yang telah dia lakukan padaku.Dia telah merenggut nyawa Mama. Wanita yang melahirkanku, membesarkanku, cinta pertamaku—satu-satunya perempuan yang kucintai tanpa syarat. Dan sekarang, tepat di hadapanku, duduk terikat Zahra. Wanita jal*ng. Selingkuhan Papaku.“Apa kau bilang? Sakit?? Ini kau bilang sakit??”Amarahku meledak. Tanganku semakin kasar, jari-jariku mencengkeram rambutnya tanpa s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status