LOGINViola tertegun beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk. "Ya. Aku ingin bercerai!"
"Boleh saya tahu alasannya?" Kiev sangat heran, bagaimana bisa Viola yang tergila-gila pada bosnya dan sangat mencintai, tiba-tiba saja memutuskan bercerai. Leon salah satu saksi bagaimana Viola terus mengejar Kiev, bagaimana Viola berjuang mendapatkan hati Kiev yang sekeras es batu, Pada akhirnya memang sangat sulit dicairkan, sebab Kiev tidak pernah menghiraukannya, menutup hatinya rapat-rapat. Viola berjalan duduk, terlalu lama berdiri membuat kepalanya sedikit pusing, efek dari kecelakaan yang belum sepenuhnya sembuh. "Apa aku harus menjelaskan alasannya? Aku nggak bisa selamanya mencintai Kiev yang nggak mencintaiku, Leon!" sahut Viola meraih majalah diatas meja dan membuka sampulnya. Leon sangat mengerti, dari dulu dia kasihan terhadap Viola yang selalu ditolak Kiev. "Nona, kalau kamu bercerai nggak mendapatkan apapun dari tuan Kiev." "Aku tidak membutuhkan uangnyal Sahut Viola acuh tak acuh. "Meskipun Kiev kaya tapi dia sangat pelit." Leon tidak bisa berkomentar, Kiev menyuruhnya mengatakan itu lantaran berharap Viola akan protes dan mengulur rencana cerainya. "Baik kalau begitu. Saya akan membantu mengurus prosesnya, besok malam adalah pertemuan keluarga besar Arron, acara ini dilaksanakan tiga tahun sekali. Nona besok datang jam 7 malam, ini perintah langsung dari tuan Kiev." Kiev tidak pernah membawanya keacara keluarga, bahkan dengan kerabat-kerabat lainnya. Namun, Viola pernah memaksa datang dan akhirnya dia yang malu karena. Kiev membawa Aliecal. Alieca yang berpendidikan tinggi tentu saja. lebih unggul dari Viola. Banyak yang memuji Alieca kecantikannya yang natural dan dia seperti gadis suci yang tidak sembarang disentuh. Mengingat itu, Viola justru heran akan sikap Kiev yang tiba-tiba saja memberinya undangan keacara keluarga. Meraih undangannya dari uluran tangan Leon, membolak-balikkannya tanpa berniat membaca isinya, "Sebelumnya Kiev selalu menolakku... "Viola berkata dengan tenang, lalu meletakkan undangan diatas meja dan meraih jus jeruk yang diantar pelayan. "Katakan pada bosmu. Aku nggak datang!" Leon sungguh terkejut akan jawaban Viola. Viola yang sekarang sangat berbeda dan bukan seperti Violet yang mencintai Kiev sampai tergila-gila padanya. Biasanya Viola akan memaksa datang meski tidak diundang, karena merasa dia adalah nyonya muda Arron. "Nona... Tapi ini perintah langsung dari, tuan Kiev!" "memiliki banyak urusan yang lebih penting dari pada menghadiri acara yang tidak penting. Lagi pula, tumben sekali bosmu mengajakku?" Viola melirik Lea dengan ekor matanya. Seumur hidup, Leon baru menghadapi sikap Viola yang seperti ini. "Karena anda istrinya." Violet tertawa. Bahkan didepan keluarga saja, Kiev enggan mengakuinya sebagai istri. Kiev berusaha menyembunyikannya. dari publik, namun Viola yang memaksa menampilkan dirinya sebagai Nyonya muda Arton. Viola malas menanggapi Leon lagi, dia berdiri lalu berkata tegas, 'Sudahlah, aku mau istirahat. Katakan saja pada Kiev aku nggak akan datang! Aku tunggu surat cerainyal Lalu melanjutkan langkahnya menuju tangga. "Tapi nona... "Protesan Leon hanya melayang diudara. Dia lalu menghubungi Kiev segera. ••••••• Didalam kamar, Viola merasa sesak. Dia melihat didinding bercat gold itu banyak sekali Kiev dan foto mereka. Namun, mereka bukan seperti pengantin pada umumnya, Viola tersenyum bahagia tetapi Kiev sangat dingin, dan Viola sungguh menyadari bahwa Kiev memang sangat terpaksa menikahinya. "Aku yang sangat bodoh terus saja mencintaimu, memaksamu untuk hidup bersamaku, Kiev!" Viola menurunkan foto dirinya bersama Kiev didepan sebuah menara Eiffel saat Honeymoon. Bodohnya Viola, dia pernah mengira Kiev saat pertama kali menyentuhnya. Namun waktu itu, Nenek yang sengaja menjebak Kiev supaya meniduri Viola dimalam pesta ulangtahun Nenek Foto-foto yang sanggup Viola turunkan sendiri telah berada diatas meja. Tinggal yang besar dan tinggi diatas, salah satunya foto pernikahannya. ••••••• Pagi hari, Viola telah sampai di Mutyara boutique. Dia memiliki banyak sekali gaun rancangan miliknya, dan koleksi-koleksi baju kelas dunia yang harganya ratusan juta. Tidak banyak dari kalangan biasa yang datang ke Mutyara Boutique, Kalangan berani membayar mahal untuk sepotong bajunya. Meski telah berdiri selama Lima tahun, tidak ada yang pernah tahu siapa desainer Mutyara Boutique. Bahkan banyak sekali orang-orang penting dan berpengaruh difinshoom ingin bertemu dengan sang pemilik tangan ahli. Saat masuk, Viola melihat seorang karyawan membungkus koleksi dress barunya yang baru selesai satu minggu lalu. "Siapa yang membelinya?" Dress itu belum memiliki sertifikat, seharusnya bisa ikut pelelangan. "Seorang Pengusaha dari perusahaan besar Nyonya. Dia memaksa membeli gaun ini dan membayar sangat mahal." "Aku belum ingin menjualnya! Siapa yang menyuruh mu menyujualnya?" "Umm... Nona Rachel !" "Rachel?" Viola mengerutkan keningnya. Semua orang memang mengira, Rachel adalah pemilik Mutyara boutique. Namun desainernya identitasnya sangat dirahasiakan Viola memang sengaja menyembunyikan. diri dan tidak mau menjadi perhatian publik, apalagi setelah dia fokus mengejar cinta Kiev. Namun bisa-bisanya Rachel bertindak bodoh dan melakukan sesuatu tanpa izin darinya. "lya. Aku yang mengizinkannya menjual dress itu! "Rachel menyahut dengan ekspresi tenang, berjalan dari arah pintu masuk. Gadis itu tersenyum tanpa beban seolah tidak melakukan kesalahan apapun. "Violet, itu hanya sebuah dress yang memang dijual bukan?" "Tapi dress ini akan aku daftarkan dipameran minggu depan "Protes Viola. "Kau tau berapa orang itu membayarnya?" Viola diam. Dia kesal karena sikap Rachel yang seenaknya. "950 juta! Kau mau menolak uang sebanyak itu untuk satu gaun? "Rachel melipatkan tangannya didada. Viola kaget dengan harga yang disebutkan Rachel. 950 juta terlalu kemahalan untuk sebuah baju, siapa yang berani membayarnya? "Kau serius?" "Tentu saja. Tanya saja langsung pada karyawanmu!" "Sialan kau menaikkan harganya dua kali lipat! Siapa yang berani membayarnya?" Violet penasaran. Dia tidak lagi kesal setelah mendengar harganya. Rachel justru tersenyum tipis, Ini adalah tak-tik penjual." Karena barangnya cuma satu, jadi kita harus membandingkan harganya dengan mahal." "Kau cerdas juga rupanya." "Hey, kalau aku tidak cerdas, mana mungkin aku bisa membantu temanku yang bodoh ini?" Viola melotot kesal karena merasa tersinggung. "Aku hanya bercanda..." Rachel menepuk pundaknya pelan. •••••••• Perusahaan grup Arron telah didirikan sendiri oleh Kiev sejak lima belas tahunyang lalu. Perjuangan yang tidak mudah bagi Kiev sampai akhirnya bisa menduduki peringkat pertama sebagai perusahaan terbesar difinshdom Saat ini, Leonardo masuk kedalam ruangan. sambil membawa Ipad, Pria yang selalu jas hitam rapi itu membungkuk sambil menyapa dengan hormat. "Selamat siang Tuan muda Kiev" Kiev yang duduk didepan layar laptop hanya berdehem sebagai jawaban. "Mohon maaf tuan, hari ini, ada pengeluaran sebesar sembilan ratus lima Puluh juta dari nomer rekening pribadi nona Alieca." Kiev yang terlalu Royal memang memberikan Kartu Kredit Ekseklusif yang jumlahnya terbatas untuk Alieca Namun Alieca jarang memakainya untuk kebutuhan yang tidak penting. "Untuk apa?" "Pihak bank mengatakan transaksinya bersama Mutyara boutique Nona membeli satu gaun." Kiev tidak mempermasalahkan uangnya digunakan untuk apa oleh Alieca. "Tuan, malam ini mengajak nona Alieca keacara keluarga?" Leon bertanya curiga. Padahal dia sudah membujuk Viola untuk datang. "Tidak!" Kiev menyahut singkat. Leon bernafas lega, dia berfikir Kiev akan kembali membawa Alieca, maka dari itu Alieca membeli dari boutique ternama difinshdom. ••••••• Sore hari telah tiba. Kiev dan Leon sampai dikediaman Arron. Namun saat Kiev masuk kedalam kamar milik Viola, rupanya masih kosong. Tanpa ragu, dia menghubungi istrinya yang sudah memutuskan akan bercerai. Kiev terus mengumpat karena sampai ketiga, Viola tak kunjung menjawabnya. Baru kali ini, seorang Kiev merasa dipermainkan oleh seorang gadis. Disisi lain, Viola memang tidak berniat menjawab teleponnya usai melihat siapa yang menghubunginya. "Mau apa lagi dia?" Gerutunya, Viola membiarkannya dan terus melanjutkan Gaun barunya yang sebentar lagi sudah siap. Gaun Long Sleeve evening perpaduan warna gold and Peach, kali ini Viola merancangnya dengan semangat yang tinggi. Gaun yang belum ada dipasaran, nilai jualnya sangat tinggi, Viola akan membawanya kepameran yang diadakan dipusat kota. Para gadis hedon pasti akan jatuh cinta pada gaunnya dan menawar dengan harga tinggi. Setelah lima belas menit, akhirnya Viola bernafas tenang. Dia Salah satu karyawan Mutyara boutique untuk memajangnya didepan, Viola ingin melihat apakah ada yang kurang atau tidak. "Wawwww... Perfectt!!" Rachel sangat kagum dengan hasil tangan temannya. Meski Viola tidak lulus kuliah, namun dia membuktikan bahwa meski tidak kuliah masa depan juga bisa kita raih. "Jangan lagi membuat kesalahan." Sindir Viola. Rachel tertawa lantaran merasa bersalah. Para pengunjung Boutique pun nampak kagum dan bertanya-tanya, siapa perancang gaun cantik itu. "Nona, siapakah Perancangnya? Kami baru melihat gaun seindah ini "Rachel yang ingin menjawab tiba-tiba saja memekik karena kakinya diinjak high heels yang dipakai Viola. Saat para pengunjung penasaran siapa yang merancang gaun di Mutyara boutique, tiba-tiba saja pusat perhatian mereka tertuju kemobil Rolls-Royce Droptail warna putih yang berhenti didepan pintu masuk. "Waahhh... Siapa dia? Mereka semua bertanya-tanya" Kiev turun dari mobil usai dibukakan pintu oleh Leon. Kiev berjalan masuk dengan kaca mata hitam dan satu tangan disaku celana. Dia berdiri tepat dihadapan Viola yang tercengang. BersambungSeperti biasa, saat tidur Viola selalu tidur dibagian tepi ranjang memberikan jarak untuk dirinya dan Kiev.Kali ini, Kiev tidak tidur diranjang. Justru pria itu hanya mengambil bantal dan selimut didalam lemari walk in closet lalu berjalan menuju sofa.Jujur saja, sebenarnya Kiev ingin tidur diranjang bersama Viola, tapi, Kiev tidak ingin membuat Viola merasa tidak nyaman dan gelisah.Viola merasa tidak ada pergerakan disebelahnya, hingga beberapa saat kemudian, barulah Viola mengintip sedikit dan ternyata disampingnya kosong."Kemana Kiev?" gumamnya, dia tidak bisa melihat dengan jelas karena pencahayaan yang kurang.Hanya lampu tidur yang menyala, Kiev tidak bisa tidur kalau lampu utama menyala.Viola bangun dari tidurnya lalu melihat kesana kemari kesetiap penjuru kamar. Barulah dia melihat sosok bertubuh tinggi dan besar itu tidur disofa panjang yang pas seukuran Kiev.Viola sedih, karena berfikir Kiev memang berusa
"Em ngomong-ngomong Kamu masih single?"Viola menjawab dengan santai, "Aku sudah menikah"Uhuk uhukFelix tersedak saat menyeruput Americano coffenya karena jawaban Viola yang seperti mematahkan hati dan semangatnyTapi, Felix rasanya tidak percaya."Sungguh? Kenapa aku melihat kamu seperti gadis?" Sahut Felix.Viola mengaduk-aduk hazelnut lattenya, sembari berfikir, apa benar dia memang seperti gadis yang belum menikah.Sepertinya memang sedikit benar, lagi pula usianya masih muda dan belum pernah hamil dan melahirkan."Aku nggak memaksa kamu percaya. Tapi memang itu kenyataannya!""Ah, kenapa gadis yang cantik seperti kamu harus sudah laku?" Celetuk felix memasang wajah putus asanya.Viola menahan senyumnya, bisa-bisanya Felix menyamakan dirinya dengan barang jualan. Tapi Viola sama sekali tidak tersinggung"Hidup itu maju, dan tidak berhenti. Masih banyak gadis yang berkeliaran." Sahut Viola.
Apapun yang terjadi dirumah tangganya, Viola tetap berusaha bersikap profesional di boutique dan berusaha melupakan pembicaraannya dengan Kiev. Tapi tetap saja, dia wanita normal yang segala sesuatu pasti selalu dipikirkan. Begitu pula Kiev yang tidak bisa fokus dengan pekerjaannya di perusahaan. Dia selalu memikirkan Viola, dan kelanjutan pernikahan mereka. Kalau dia dan Viola bercerai, bagaimana dengan Nenek dan ibunya mereka pasti akan marah besar. Bahkan nenek dulu selalu mengancamnya, kalau seandainya dia melepaskan Viola, maka Kiev akan dicoret dari daftar warisan. Untuk warisan, Kiev tidak terlalu perduli. Semua harta dan aset yang dia miliki sendiri lebih dari cukup untuk menghidupinya dan keturunannya kelak. "Leon, menurutmu aku harus bagaimana?" Tanya Kiev. Saat ini, dia memang membutuhkan Leon untuk membantunya memecahkan masalahnya. Leon memang salah sa
Pagi yang sangat cerah, Viola sudah berada didalam kamar nek ratu. Membantu wanita paruh baya itu membersihkan diri.Setelah itu, Viola juga kedapur dan mengecek para juru masak wanita yang sedang membuat makanan untuk anggota keluarga."Untuk sup nya nenek, pastikan daginya harus matang sempurna. Jangan terlalu banyak garam dan micin." Titah Viola seperti ahli gizi.Para juru masak mengangguk paham, "Baik Nyonya.""Oh ya, tolong buatkan salad sayur untukku." Tiba-tiba saja, Violet menginginkan makanan itu.Para juru masak pun mengabulkannya. Mereka terus bekerja meski diawasi Viola yang memang sangat teliti untuk masakan keluarga.Tidak merasa risih atau canggung, karena mereka sudah terbiasa disaat ada nenek dirumah, karena Viola selalu ingin memastikan makanan nenek mengandung. gizi dan nutrisi yang seimbang dan terpenuhi.Tanpa Viola sadari, sepasang mata dari tadi terus memperhatikannya dari tangga.Kiev te
Saat matahari sudah mulai terbenam, Viola sampai dirumah keluarga Arron. Baru masuk dari pagar, dia melihat nenek Ratuliu tengah duduk ditaman bersama Clara.Viola pun menghampiri mereka, "Nenek, mama. Sudah mau malam, kenapa masih disini?""Nenek kamu, pengen cari udara segar sebentar." Jawab Clara."Sayang, kamu masih bekerja? Bukankah nenek sudah bilang, jangan lagi bekerja di boutique itu? Nama kamu bisa tercemar." Nek ratu menasehati.Viola tidak bisa menjawab. Tentu saja Viola tidak bisa berhenti bekerja disana, karena dia adalah pendirinya. Namun Nek ratu dan Mama Clara tidak tau, mereka hanya taunya Viola bekerja sebagai Maneger di Mutyara boutique."Emm, begini nek. Viola nggak enak sama teman Viola, kalau nanti dia sudah mendapatkan pengganti Viola, Viola pasti Resign." Jawab Viola berusaha meyakinkan.Dalam diri Viola yang Clara sukai, bukan hanya cantik, dan dari keluarga terpandang, namun Viola memiliki hati yang lem
Setelah gagal menemui Kiev dirumah, Aliec kini sampai di perusahaan grup Arron. Aliec sangat takut kalau Kiev marah dan tidak mau kalau Kiev terus mengacuhkannya.."Permisi, saya mau bertemu dengan tuan Kiev." Ucap Aliec kepada resepsionis"Baik, Nona Aliec. Saya akan menghubungi tuan muda Kiev." Jawab Resepsionis lalu menghubungi Secretaris Kiev untuk mengabarkan kalau Aliec datang.Hampir semua pegawai memang tau siapa Aliec, karena Aliec sering datang ke perusahaan grup Arron ketika pulang Kuliah. Dan Kiev juga memang terlihat sering bersamanya dibandingkan bersama Viola.Bahkan para karyawan juga kebanyakan. menyukai Aliec daripada Viola, dan mereka juga mendukung hubungan Aliec dan Kiev.Viola sudah terkenal buruk dimata pegawai karena merusak hubungan Kiev dan membuat Kiev tidak bahagia. Mereka lebih menyukai Aliec, terlebih Aliec gadis yang dicintai Kiev."Nona, silahkan masuk. Tuan muda Kiev. mengizinkan anda masuk." Ucap







