LOGINSudah hampir satu jam berlalu, Alex masih mengintai Revan yang tampak mondar mandir.Pemuda itu berdiri di pinggir jalan, naik ke trotoar, menyender di sebuah pot besar sekitar situ. Sempat masuk ke salah satu mini market dekat situ, dan keluar dengan air mineral di tangan. Kemudian dia mulai mengulangi perilakunya. Berdiri, menyender, naik ke trotoar… gestur tubuhnya terlihat sedang menunggu seseorang.Meski memakan waktu lama, Alex tetap duduk tenang di belakang kemudi. Sesekali dia berkomunikasi dengan Miranda, untuk menginstruksikan beberapa pekerjaan. Entah mengapa, lelaki itu yakin sekali bahwa Revan tengah menunggu Faya.Dan, penantiannya benar-benar berakhir ketika mata Alex menangkap mobil yang sangat dia kenal. Mobil Faya. Melintas mulus, melewati tempat Revan berdiri begitu saja.Alex menahan napas. Apalagi saat Revan berjalan cepat ke arah barat, lalu terlihat menyeberang jalan, dan masuk ke sebuah supermarket yang tidak terlalu besar di situ.Sejenak Alex bimbang. Apakah
Alex menelan ludah. Itu benar-benar Revan. Foto profilnya sama dengan nomor yang biasa dia hubungi. Jadi Faya dan Revan selama ini berhubungan di belakangnya?Rahang Alex mengeras. Kemarahannya cepat mengisi kepala. Tangannya pun terkepal spontan. Namun dia tidak akan merendahkan dirinya dengan menerima panggilan itu.Beberapa detik kemudian ponsel Faya telah senyap kembali. Layarnya pun menjadi gelap. Tampaknya Revan juga tidak mencoba menelepon lagi.“Dasinya sekalian ganti ya, Pap. Kayaknya lebih cocok yang ini.” Faya keluar dari walk-in closet. Berangsur mendekat sambil membawa kemeja biru muda dan sebuah dasi.Wajah istrinya itu terlihat berseri, menampilkan senyum cantik serta pipi merona segar alami. Tampak amat kalem, tipe-tipe istri penurut…. Tangan Alex lebih erat mengepal. Harga dirinya laksana rontok seketika. Sudah berapa lama Faya dan Revan berhubungan di luar jadwal yang seharusnya?“Yang ini? Cocok kan?” Faya sudah berdiri di hadapan Alex. Menempelkan dasi dan kemeja y
“Mama, apa-apaan!” Alex spontan berseru.Mama Vero tertawa. Tampaknya dia akan mengucapkan sesuatu, tetapi dua pelayan telah masuk membawakan hidangan. Menata dan menyuguhkan ke masing-masing piring dengan cepat.Sementara Faya tersenyum santai. Dia menatap pada Alex dengan wajah biasa saja. Seakan pertanyaan Mama Vero bukan sesuatu hal yang mengagetkan hatinya.“Mari kita makan dengan tenang.” Papa Agusto berkata begitu para pelayan selesai menghidangkan makanan. Lalu mengangguk sambil mengundurkan diri.Mama Vero tertawa lagi. Seakan dia tahu bahwa ucapan sang suami tertuju pada dirinya. Semacam peringatan kecil agar dia tidak meneruskan pertanyaan yang sempat dia ajukan pada Faya.Beberapa detik setelah tawa Mama Vero mereda, ganti Faya yang tiba-tiba berderai lirih. Sehingga ketiga orang lainnya serempak menoleh pada perempuan berambut panjang tersebut.Faya perlahan menghentikan tawanya. Lalu berkata, “Maaf, Pa. Bukan ingin membuat gaduh, tapi alangkah baiknya kalau Mas Alex menj
“Kalau kamu boong, aku bakalan marah beneran!” cicit Faya. Dia sengaja bermanja, dan itu membuat dia nyaman. Sesuatu yang tidak bisa Alex berikan dengan konsisten. Kadang suaminya itu memang dapat memperlakukannya dengan manis, tetapi lain hari watak kerasnya membuatnya merasa tidak berharga.“Sekarang bobo dulu, sudah malam, Sayang. Bayi cantik kita juga perlu bobo kan?” Suara lembut Revan menyapu syaraf pendengaran Faya.“Cantik? Berarti bayinya perempuan?” Faya terkikik.“Iya, biar cantik seperti mamanya.”“Tapi bayi perempuan biasanya mirip Papa.” Faya kembali terkikik.Suara tawa Revan terdengar renyah sekali. “Ya, sudah, bobo ya. Sampai ketemu besok.”Dan hati perempuan itu seketika merasai udara mengalir hangat di sekujur sendinya. Faya sampai mengecup ponsel tersebut, saking terbawa suasana.***“Bu Faya.”Faya menoleh. Dan menemukan Puput di sebelah pot besar. Perempuan muda itu merekahkan senyum tipis.“Saya mau klarifikasi, Bu,” ujar Puput sembari mendekat.Faya mengernyit.
Faya menarik napas dalam-dalam. “Semua itu kan bisa saja terjadi. Seandainya aku—”“Kalau begitu nggak perlu berandai-andai!” Alex menatap Faya tajam. “Kamu akan melahirkan anak itu, merawatnya dengan benar, dan kita kembali hidup seperti biasa.”Faya membalas tatapan Alex. Mata perempuan itu melebar. Kata ‘anak itu’ yang diucapkan Alex, sungguh membuat hatinya tertohok. Meski sebenarnya bukan yang pertama kali Faya dengar, sebab sebelumnya Alex pun memilih kata ‘anak itu’ pada janin yang tengah dikandungnya.“Apa Pap bisa mencintai anakku kalau dia lahir nanti?” Kali ini Faya sengaja menekankan kata ‘anakku’.Rahang Alex tampak kembali mengeras. “Jadi kamu benar-benar pengen berdebat?” Lelaki itu tersenyum sinis.Faya membuang muka. Ingin sekali dia mengeluarkan kata-kata yang mengganjal di hatinya. Namun sepertinya Alex memang akan menganggapnya sebagai perdebatan. Dan berdebat dengan Alex yang maunya menang sendiri itu percuma!Setelah beberapa detik terdiam dan terpaku di tempatn
Vero bangkit. Mengambil ponselnya, mulai meneliti nomor kontak teman-teman yang dia punya. Sembari mengingat-ingat, siapa saja yang dulu pernah secara samar-samar menawarkan anak gadisnya, sebelum akhirnya dia memilih Sofia.Klek. Agusto keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah, setengah telanjang. Hanya menggunakan celana dalam saja.“Anak bungsu keluarga Santo kayaknya masih single loh, Pa,” kata Vero. Suaranya nyaring, seperti sudah menemukan solusi.Lelaki itu terlihat menghela napas. Terdengar sedikit menghentak.“Kenapa? Papa nggak suka ya? Cantik kok, masih muda juga, lulusan luar negeri. Bentar kucari sosial medianya.” Jari Vero lincah bergerak. Dia benar-benar niat sekali mencari pengganti Sofia.Agusto berangsur mendekat. Merangkul istrinya, memberi kecupan kecil. “Ma, jangan terburu-buru begitu. Kita ini keluarga terhormat. Apa kata orang-orang kalau tau Alex baru saja menikah, lalu tiba-tiba bercerai, dan sekarang mendadak mencari kandidat istri baru.”Antusias Vero sek
Mama Vero menatap Sofia. Kelopak matanya melebar dengan cepat. Tampak tidak menyangka kalimat itu keluar dari bibir Sofia sendiri.Sofia tertawa. “Liciknya sudah pasti hanya untuk orang yang licik juga dong. Pernah dengar istilah buaya kok dikadalin… nah, kita ad
Mulut Sofia membuka perlahan. Semakin lama semakin lebar. Lalu dua tangannya bergerak, menutup mulutnya sendiri dalam keadaan mata melebar.Sofia ingat betul, si bibi itu berlari ke arahnya, dan… ah iya! Pelayan itu langsung duduk dekat dirinya, bersiap memapah, tetapi
Nina akhirnya diantar ke sebuah kamar. Perempuan enam puluh empat tahun yang masih cukup enerjik itu, tersenyum. Kemudian terkekeh sendiri, saat pintu kamar ditutup, dan pelayan meninggalkannya seorang diri.Dia mengambil ponsel. Menghubungi Emilio, cucu pertamanya, yang ada
Dokter Felisha terkekeh panjang. “Tuh, kan… tidak sabaran lagi.”“Jangan main-main kamu—”Ces! Dokter Felisha menampik tangan Sofia yang mencengkeram lengannya. Dia berdiri. Melotot pada Sofia. Namun beberapa detik kem







