Share

Bab 5

Author: Adyari
Bahkan setelah menikahi ibunya, ayah Ashton terus berselingkuh, bahkan mencoba memiliki beberapa putra lagi. Kehidupan ibunya sangat sengsara dan ibunya bertengkar dengan ayahnya setiap hari. Akhirnya, ibunya menderita depresi berat dan bunuh diri dengan melompat dari gedung.

Setelah itu, ayahnya sepertinya tiba-tiba berubah dan berhenti berhubungan dengan wanita lain. Namun, keretakan antara ayah dan anak itu tidak dapat diperbaiki lagi.

Ashton tidak pernah kembali ke rumah setelah insiden itu. Dia mulai mabuk-mabukan, balap mobil, dan menjadi perokok berat. Dia menjadi seperti anak orang kaya lainnya yang berpesta setiap malam.

Dulu, dia bersikap acuh tak acuh terhadap semua perempuan. Sekarang, dia telah menjadi seorang playboy berpengalaman.

Ashton yang bersih itu sepertinya telah lenyap dan terasa seperti hanyalah mimpi dalam ingatanku.

Malam itu, di acara kumpul-kumpul teman, aku bertemu pacar baru Ashton untuk yang pertama kalinya. Dia adalah seorang gadis berkulit putih dan terlihat rapi. Dia mengenakan mantel berwarna krem, sedangkan rambut keriting panjangnya yang berwarna cokelat terbungkus syal kasmir. Saat tersenyum, matanya menyipit. Dia memberi kesan manis dan tenang.

Dia tidak terlalu cantik, tetapi sangat polos. Ashton benar. Dia benar-benar berbeda dari pacar-pacar Ashton sebelumnya.

"Kamu Kak Ashley, 'kan?" Gadis itu menghampiriku dan meraih tanganku, lalu berujar sambil tersenyum, "Ashton sering ungkit soal kamu kepadaku. Dia itu pembohong besar! Dia bilang kamu nggak cantik, tapi nyatanya begitu cantik!"

Kami sama-sama adalah perempuan. Aku bisa dengan mudah melihat permusuhan di matanya. Sepertinya, intuisi seorang wanita benar-benar akurat. Dia mungkin tahu hubunganku dengan Ashton agak istimewa.

Baru saja aku hendak berbicara, Ashton menyela. Dia meraih tangan gadis itu dan berujar, "Dia Isabelle, kakak ipar kalian."

Orang yang lain bersorak.

"Ini kakak ipar pertama yang dikenalin Kak Ashton ke kami! Sepertinya, dia benar-benar serius kali ini!"

"Kakak Ipar benar-benar luar biasa! Ada begitu banyak wanita yang menyukai Kak Ashton selama ini, tapi nggak ada yang pernah berhasil memenangkan hatinya."

"Kapan kalian akan menikah? Aku pasti akan berikan angpau tebal!"

Isabelle tersipu dan bersandar pada Ashton. Dia tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.

Ashton menutupinya dan berujar, "Sudah cukup, ya. Isabelle agak penakut. Kalian jangan menakutinya."

Teman-temannya pun tertawa. "Protektif banget sih! Gawat, kita harus hadapi mereka yang pamer kemesraan hari ini!"

Kami menemukan tempat duduk. Ashton biasanya duduk di sebelahku di acara-acara seperti ini. Kali ini, mungkin karena kebiasaan, dia duduk di sebelah kiriku.

Saat aku hendak mengingatkannya, Isabelle menghampiriku. Dia menggigit bibir, lalu mengumpulkan keberaniannya dan berujar, "Kak Ashley, bisa nggak kamu pindah ke tempat lain? Gimanapun, kamu masih single. Lebih baik kamu jaga jarak sama pria yang sudah punya pacar, bukan?"

Aku mengerutkan kening. Aku jelas-jelas duduk duluan. Sekarang, mereka malah ingin aku pindah? Logika macam apa itu?

Ashton menyenggolku. "Jangan buat kakak iparmu kesal. Ashley, pindah saja ke tempat lain."

Aku meliriknya, lalu berdiri dan pindah ke tempat di seberang mereka.

...

Suasana malam ini sangat meriah. Entah ada berapa banyak alkohol yang disajikan.

Saat makan, Isabelle menyenggol tangan Ashton dan berkata, "Ashton, aku pengen makan ikan itu."

Ashton secara refleks menjawab, "Bukannya kamu alergi ikan?"

Isabelle terdiam, sedangkan gerakanku juga terhenti.

Setelah beberapa saat, Isabelle menjawab dengan ekspresi agak muram, "Ashton, aku nggak alergi ikan."

Gerakan Ashton terhenti sejenak sebelum menyahut, "Benarkah? Kalau begitu, mungkin aku salah ingat."

Isabelle menatapnya. "Siapa yang alergi ikan?"

Ashton dengan santai menjawab, "Aku lupa. Mungkin aku sudah minum kebanyakan."

Isabelle melirikku dengan ekspresi agak suram. Kemudian, dia meletakkan sepotong ikan di piringku. Matanya yang besar menatapku. "Kak Ashley, ikan ini enak. Kamu harus mencobanya!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 20

    Ashley juga menyuruhku pergi dan aku benar-benar pergi.Sesampainya di rumah, aku menemukan setelan piama Snoopy itu di lemari. Aku tahu dia membelikan piama couple untuk kami, tetapi aku tidak mengatakan apa pun saat itu dan bahkan memakainya beberapa kali. Dia selalu sangat senang ketika melihatku mengenakan piama itu. Dia akan diam-diam tertawa, juga mengambil foto.Sebelum pergi, dia menyuruhku membuang piama itu. Namun, entah kenapa aku tidak melakukannya dan malah menyimpannya di lemari.Aku mengeluarkan piama itu dan hanya menatapnya sambil termenung. Kemudian, aku baru menyadari bahwa aku sebenarnya sudah menyukai Ashley sejak lama. Sebenarnya, akulah yang lebih bergantung padanya. Hanya saja, dalam alam bawah sadarku, aku merasa aku tidak seharusnya menyukainya.Aku ingat apa yang dikatakan ibuku sebelum meninggal. Jangan terlalu menyukai seseorang, cinta bisa membunuh.Cinta sudah membunuhnya. Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk satu pria, tetapi pada akhirnya, dia malah k

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 19

    "Tapi sekarang, aku mengerti bahwa siapa pun bisa tetap bisa melanjutkan hidup meski kehilangan orang tertentu. Pada akhirnya, perasaanmu juga akan pudar," ucapku.Aku melirik jam tanganku. Sudah hampir lima menit. Jika aku terlambat, Bastien yang pencemburu itu pasti akan menyindirku.Aku berbalik dan melambaikan tangan. "Ashton, aku masuk dulu, ya." Setelah berjalan cukup jauh, aku tiba-tiba mendengar tangisan yang memilukan dari belakang."Ashley, aku nggak bisa lupakan kamu! Aku nggak akan pernah bisa lupakan kamu!"Aku tidak menghentikan langkahku."Haih, Ashley ... aku nggak bisa lupakan kamu ...."Ketika aku sedang melepas sepatu, Bastien bersandar di dinding dan tidak berhenti menyindirku sambil melirikku.Aku berpura-pura santai dan berkata, "Ibuku suruh kita pergi makan pangsit nanti. Kamu mau ikut?"Dia langsung melupakan kejadian tadi dan menjawab, "Ikut!"...Kabar tentang Bastien, sang pelukis jenius yang akan mengadakan pameran menjadi viral di internet.Temanku sangat

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 18

    "Ada lagi?" tanya BastienAku tidak bisa menahan rasa perih di hidungku dan menunduk untuk menyembunyikan air mata."Nggak ada lagi."Bastien menyeringai nakal. "Ops, ada yang mau nangis."Mataku sudah berkaca-kaca, tetapi dia malah mencondongkan tubuhnya untuk menatapku dari bawah dan bertanya dengan usil, "Nangis? Benar-benar nangis?" Pria ini benar-benar gila! Kali ini, aku tidak bisa menangis lagi. Aku mendorongnya menjauh dengan marah. "Kamu gila?" Namun, Bastien malah tertawa. Sudut matanya melengkung dengan tajam. "Aku tahu kamu nggak rela aku pergi. Aku akan kembali lusa. Jangan lupa menjemputku di bandara."Aku bertanya dengan terkejut, "Hah? Kamu akan kembali?""Omong kosong." Dia memutar matanya, lalu menyeka air mata dari sudut mataku. "Aku sudah bayar sewa setahun."Aku bertanya tanpa berpikir, "Gimana setelah setahun?"Bastien mengelus dagunya sambil berpikir. "Setelah setahun, kurasa Ibu nggak akan minta uang sewa lagi dari menantunya."Wajahku seketika memerah. Aku me

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 17

    "Kita bersama, ya. Aku tahu kamu menyukaiku. Mulai sekarang, aku akan berikan apa pun yang kamu inginkan. Aku nggak akan bersama orang lain lagi. Kembalilah, Ashley," ujar Ashton.Aku menatapnya sejenak dan tak bisa menahan diri untuk berpikir, betapa bahagianya aku jika dia mengucapkan kata-kata itu beberapa bulan yang lalu. Aku telah menyukainya selama bertahun-tahun. Dalam sepuluh tahun ini, aku pernah lelah, menangis, dan menderita. Namun, aku tak pernah berhenti mencintainya sekali pun. Akhirnya, aku mendapatkan apa yang selalu kuimpikan. Ashton membalas perasaanku.Namun, aku hanya merasa absurd. Kelelahan yang tak terlukiskan muncul dalam hatiku.Aku menggeleng dan menjawab, "Nggak."Ashton meraih bahuku dengan kening berkerut. Secercah amarah melintasi matanya."Kenapa? Ashley, kamu berani bilang kamu nggak menyukaiku?"Aku menatap matanya. Orang yang kucintai selama sepuluh tahun ini telah tumbuh dari seorang anak laki-laki menjadi seorang pria. Penampilannya tidak banyak ber

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 16

    "Oh begitu. Sayang sekali. Tapi, nanti kamu harus hadir di pernikahanku dan Ashton, ya!" ucap Isabelle.Aku terlalu malas untuk bermain-main dengannya. Jadi, aku hanya menjawab dengan asal, "Ya, kalau aku punya waktu." Sepanjang makan, Ashton tidak berhenti memamerkan kemesraan. Dia terus menaruh makanan di piring Isabelle, menggantikannya minum alkohol, juga saling berpelukan dengan sangat mesra.Jika itu dulu, aku pasti akan merasa sakit hati. Sekarang, yang kupikirkan hanyalah ciuman Bastien. Apa sebenarnya maksudnya? Apa dia menyukaiku? Jika begitu, apa yang harus kulakukan? Apakah aku ... menyukainya?Ashton memamerkan kemesraannya dengan makin gencar. Isabelle yang awalnya tersenyum lebar tiba-tiba mengubah ekspresinya setelah Ashton menaruh sepotong daging sapi di piringnya.Dia berkata dengan kaku, "Ashton, aku alergi daging sapi. Kamu lupa?"Gerakan Ashton terhenti. Baru saja dia hendak berbicara, tiba-tiba terjadi keributan di meja sebelah.Meja sebelah adalah meja khusus un

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 15

    Selama beberapa hari terakhir, aku juga telah mencari tahu tentang Bastien. Dia sebenarnya adalah pelukis yang sangat terkenal dan berbakat di industri. Harga lukisannya paling tidak ratusan juta sampai miliaran. Salah satu lukisannya bahkan terjual lebih dari 6 miliar di acara lelang."Apa yang lagi kamu gambar akhir-akhir ini? Aku belum pernah melihatmu menggambar."Bastien menunduk dan melirikku. "Rahasia.""Cih, ya sudah kalau nggak mau kasih tahu. Kamu kira aku begitu ingin tahu? Kamu memang sok banget!" cibirku sambil memutar bola mata.Angin laut yang dingin dan lembap meresap ke tulang-tulangku. Setelah tinggal di area selatan sekian lama, aku sudah tidak terbiasa dengan cuaca dingin seperti ini. Aku menggosok-gosokkan tanganku dan mengembusnya.Bastien malah berkata dengan usil, "Sudah kubilang, pakai baju yang lebih tebal. Tapi kamu cuma fokus sama penampilan. Kedinginan, 'kan?"Aku memelototinya. "Laki-laki normal zaman sekarang akan melepas pakaian mereka dan memberikannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status