Share

Bab 6 

Author: Adyari
Teman-teman di sekitar yang tidak menyadari apa yang baru saja terjadi berkata dengan agak mabuk, "Kakak Ipar, Ashley nggak bisa makan ikan. Dia alergi."

Isabelle menjawab dengan santai, "Oh, benarkah?"

...

Setelah makan dan minum beberapa saat, semua orang sudah mabuk.

Seorang teman yang wajahnya sudah merah berujar, "Kak Ashton, kami semua bertaruh kamu nggak akan menikah di bawah 30 tahun. Tak disangka, kamu malah temukan cinta sejatimu secepat ini."

Teman lainnya yang juga sudah cukup mabuk menyipitkan mata dan tersenyum bodoh. "Benar, kami semua mengira kamu dan Ashley yang begitu dekat akan berakhir bersama."

Wajah Isabelle sudah sangat suram.

Ashton tiba-tiba menyeringai. "Benarkah? Mana mungkin kami bisa bersama? Kami itu sahabat, jangan bercanda!"

Dia benar-benar tertawa saat mengucapkan kata-kata itu, seolah-olah itu adalah lelucon paling konyol di dunia.

Teman-teman lainnya tertawa dan berujar, "Iya, sekarang kami tahu kalian berdua cuma murni teman platonis. Hahaha ...."

Aku juga tertawa dan menimpali, "Makanya. Mana mungkin aku bersama Ashton? Itu konyol banget."

Ashton datang dan merangkul bahuku. Dia mungkin sudah mabuk. Wajahnya memerah dan tatapannya agak linglung. Dia memiringkan kepalanya dan bertanya, "Ashley, jangan bilang kamu benar-benar menyukaiku?"

Pada saat ini, aku mencoba menemukan sesuatu di matanya. Namun, tidak ada apa-apa. Dia hanya menatapku dengan tatapan kosong, seolah-olah kami benar-benar hanyalah teman baik.

Aku tersenyum dan menjawab, "Mana mungkin?"

"Baguslah kalau begitu." Ashton mengangguk, lalu mengguncang bahuku. "Kita ini sahabat terbaik."

Meskipun sudah minum banyak, aku tidak pernah merasa sesadar ini. Aku mengulangi, "Ya, sahabat terbaik."

Keesokan paginya, aku membeli tiket pesawat pulang. Sebelum naik pesawat, aku melihat ponselku untuk yang terakhir kalinya.

Ashton memosting foto baru bersama Isabelle. Tidak ada keterangan, hanya dua tangan yang saling bertaut. Itu adalah pengumuman resmi. Di kolom komentar, terdapat banyak ucapan selamat dari teman-teman.

Aku melihatnya sejenak, lalu mencabut kartu SIM-ku dan membuangnya ke tong sampah.

...

Pulang ke rumah terasa lebih mudah dari yang kubayangkan. Orang tuaku menjemputku dengan mobil. Menjelang Tahun Baru Imlek, lampion merah bergelantungan di mana-mana. Toko-toko juga memutar lagu riang yang sesuai suasana.

Suasananya tidak seramai di Sarhai, tetapi aroma kembang api dan petasan yang masih tercium membuatku tiba-tiba merasa tenang. Ibuku sangat gembira karena aku sudah tidak pernah pulang untuk melewati Tahun Baru Imlek selama tiga tahun, demi menghabiskan waktu bersama Ashton.

Hanya saja, setelah bahagia sesaat, dia tak kuasa menahan diri untuk mengomel lagi. "Kamu sudah hampir 30 tahun, kenapa masih belum punya pacar juga? Putri tetangga kita yang setahun lebih muda darimu bahkan sudah punya anak yang lumayan besar. Duh, waktu aku mengunjunginya beberapa hari lalu, dia kelihatan montok dan gemesin banget."

"Para wanita muda di tempat kerja Ibu juga pada pergi kencan buta. Ngomong-ngomong, ada seorang pemuda yang baru pindah ke sebelah. Dia tampan banget, lho. Ibu akan kenalin dia ke kamu nanti ...."

Sambil berbicara, ibuku tidak berhenti mengamati ekspresiku.

Dulu aku sangat menolak kencan buta. Selama beberapa tahun terakhir, karena menyukai Ashton, aku sepenuhnya fokus padanya. Tindakan tidak bertanggung jawab setelah mabuk dulu sudah menyebabkan hubungan kami menjadi berantakan. Aku mengira aku punya kesempatan dan dia menjadi satu-satunya orang di hatiku.

Oleh karena itu, setiap kali ibuku membicarakan tentang kencan buta dan pernikahan, aku sangat kesal dan menolak untuk mendengar sepatah kata pun. Namun, kali ini, melihat confetti merah beterbangan dari petasan di luar jendela, aku tiba-tiba merasa sangat lelah.

Aku sudah lelah. Sebenarnya, menikah juga tidak seburuk itu.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 20

    Ashley juga menyuruhku pergi dan aku benar-benar pergi.Sesampainya di rumah, aku menemukan setelan piama Snoopy itu di lemari. Aku tahu dia membelikan piama couple untuk kami, tetapi aku tidak mengatakan apa pun saat itu dan bahkan memakainya beberapa kali. Dia selalu sangat senang ketika melihatku mengenakan piama itu. Dia akan diam-diam tertawa, juga mengambil foto.Sebelum pergi, dia menyuruhku membuang piama itu. Namun, entah kenapa aku tidak melakukannya dan malah menyimpannya di lemari.Aku mengeluarkan piama itu dan hanya menatapnya sambil termenung. Kemudian, aku baru menyadari bahwa aku sebenarnya sudah menyukai Ashley sejak lama. Sebenarnya, akulah yang lebih bergantung padanya. Hanya saja, dalam alam bawah sadarku, aku merasa aku tidak seharusnya menyukainya.Aku ingat apa yang dikatakan ibuku sebelum meninggal. Jangan terlalu menyukai seseorang, cinta bisa membunuh.Cinta sudah membunuhnya. Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk satu pria, tetapi pada akhirnya, dia malah k

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 19

    "Tapi sekarang, aku mengerti bahwa siapa pun bisa tetap bisa melanjutkan hidup meski kehilangan orang tertentu. Pada akhirnya, perasaanmu juga akan pudar," ucapku.Aku melirik jam tanganku. Sudah hampir lima menit. Jika aku terlambat, Bastien yang pencemburu itu pasti akan menyindirku.Aku berbalik dan melambaikan tangan. "Ashton, aku masuk dulu, ya." Setelah berjalan cukup jauh, aku tiba-tiba mendengar tangisan yang memilukan dari belakang."Ashley, aku nggak bisa lupakan kamu! Aku nggak akan pernah bisa lupakan kamu!"Aku tidak menghentikan langkahku."Haih, Ashley ... aku nggak bisa lupakan kamu ...."Ketika aku sedang melepas sepatu, Bastien bersandar di dinding dan tidak berhenti menyindirku sambil melirikku.Aku berpura-pura santai dan berkata, "Ibuku suruh kita pergi makan pangsit nanti. Kamu mau ikut?"Dia langsung melupakan kejadian tadi dan menjawab, "Ikut!"...Kabar tentang Bastien, sang pelukis jenius yang akan mengadakan pameran menjadi viral di internet.Temanku sangat

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 18

    "Ada lagi?" tanya BastienAku tidak bisa menahan rasa perih di hidungku dan menunduk untuk menyembunyikan air mata."Nggak ada lagi."Bastien menyeringai nakal. "Ops, ada yang mau nangis."Mataku sudah berkaca-kaca, tetapi dia malah mencondongkan tubuhnya untuk menatapku dari bawah dan bertanya dengan usil, "Nangis? Benar-benar nangis?" Pria ini benar-benar gila! Kali ini, aku tidak bisa menangis lagi. Aku mendorongnya menjauh dengan marah. "Kamu gila?" Namun, Bastien malah tertawa. Sudut matanya melengkung dengan tajam. "Aku tahu kamu nggak rela aku pergi. Aku akan kembali lusa. Jangan lupa menjemputku di bandara."Aku bertanya dengan terkejut, "Hah? Kamu akan kembali?""Omong kosong." Dia memutar matanya, lalu menyeka air mata dari sudut mataku. "Aku sudah bayar sewa setahun."Aku bertanya tanpa berpikir, "Gimana setelah setahun?"Bastien mengelus dagunya sambil berpikir. "Setelah setahun, kurasa Ibu nggak akan minta uang sewa lagi dari menantunya."Wajahku seketika memerah. Aku me

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 17

    "Kita bersama, ya. Aku tahu kamu menyukaiku. Mulai sekarang, aku akan berikan apa pun yang kamu inginkan. Aku nggak akan bersama orang lain lagi. Kembalilah, Ashley," ujar Ashton.Aku menatapnya sejenak dan tak bisa menahan diri untuk berpikir, betapa bahagianya aku jika dia mengucapkan kata-kata itu beberapa bulan yang lalu. Aku telah menyukainya selama bertahun-tahun. Dalam sepuluh tahun ini, aku pernah lelah, menangis, dan menderita. Namun, aku tak pernah berhenti mencintainya sekali pun. Akhirnya, aku mendapatkan apa yang selalu kuimpikan. Ashton membalas perasaanku.Namun, aku hanya merasa absurd. Kelelahan yang tak terlukiskan muncul dalam hatiku.Aku menggeleng dan menjawab, "Nggak."Ashton meraih bahuku dengan kening berkerut. Secercah amarah melintasi matanya."Kenapa? Ashley, kamu berani bilang kamu nggak menyukaiku?"Aku menatap matanya. Orang yang kucintai selama sepuluh tahun ini telah tumbuh dari seorang anak laki-laki menjadi seorang pria. Penampilannya tidak banyak ber

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 16

    "Oh begitu. Sayang sekali. Tapi, nanti kamu harus hadir di pernikahanku dan Ashton, ya!" ucap Isabelle.Aku terlalu malas untuk bermain-main dengannya. Jadi, aku hanya menjawab dengan asal, "Ya, kalau aku punya waktu." Sepanjang makan, Ashton tidak berhenti memamerkan kemesraan. Dia terus menaruh makanan di piring Isabelle, menggantikannya minum alkohol, juga saling berpelukan dengan sangat mesra.Jika itu dulu, aku pasti akan merasa sakit hati. Sekarang, yang kupikirkan hanyalah ciuman Bastien. Apa sebenarnya maksudnya? Apa dia menyukaiku? Jika begitu, apa yang harus kulakukan? Apakah aku ... menyukainya?Ashton memamerkan kemesraannya dengan makin gencar. Isabelle yang awalnya tersenyum lebar tiba-tiba mengubah ekspresinya setelah Ashton menaruh sepotong daging sapi di piringnya.Dia berkata dengan kaku, "Ashton, aku alergi daging sapi. Kamu lupa?"Gerakan Ashton terhenti. Baru saja dia hendak berbicara, tiba-tiba terjadi keributan di meja sebelah.Meja sebelah adalah meja khusus un

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 15

    Selama beberapa hari terakhir, aku juga telah mencari tahu tentang Bastien. Dia sebenarnya adalah pelukis yang sangat terkenal dan berbakat di industri. Harga lukisannya paling tidak ratusan juta sampai miliaran. Salah satu lukisannya bahkan terjual lebih dari 6 miliar di acara lelang."Apa yang lagi kamu gambar akhir-akhir ini? Aku belum pernah melihatmu menggambar."Bastien menunduk dan melirikku. "Rahasia.""Cih, ya sudah kalau nggak mau kasih tahu. Kamu kira aku begitu ingin tahu? Kamu memang sok banget!" cibirku sambil memutar bola mata.Angin laut yang dingin dan lembap meresap ke tulang-tulangku. Setelah tinggal di area selatan sekian lama, aku sudah tidak terbiasa dengan cuaca dingin seperti ini. Aku menggosok-gosokkan tanganku dan mengembusnya.Bastien malah berkata dengan usil, "Sudah kubilang, pakai baju yang lebih tebal. Tapi kamu cuma fokus sama penampilan. Kedinginan, 'kan?"Aku memelototinya. "Laki-laki normal zaman sekarang akan melepas pakaian mereka dan memberikannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status