Share

Bab 7 

Author: Adyari
Aku menjawab, "Oke."

"Jangan terlalu menolak. Ibu tahu kamu menyukai pria bernama Ashton itu, tapi .... Apa katamu?"

Aku menundukkan, lalu berkata, "Oke, nanti kenalin saja dia padaku."

Setelah makan malam, aku memainkan ponselku seperti biasa. Tak disangka, aku menerima panggilan WhatsApp dari Ashton.

Aku telah membuat akun WhatsApp baru, tetapi ada banyak kontak temanku di akun lama. Jadi, aku masih akan membuka WhatsApp lamaku sesekali.

Ashton sepertinya sudah sepenuhnya lupa tentang apa yang terjadi beberapa hari terakhir dan bertanya dengan santai, "Kenapa aku nggak bisa hubungi nomormu?"

Sebelum aku sempat berbicara, dia melanjutkan, "Lupakan saja. Ngomong-ngomong, aku sudah siapkan segala sesuatu untuk Tahun Baru Imlek. Ada yang mau kamu tambahkan? Aku akan minta asistenku untuk membelinya."

Tiba-tiba, aku teringat tahun ketika ibu Ashton meninggal dunia. Tahun itu, aku pulang kampung untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Pada malam Tahun Baru Imlek, aku melakukan panggilan video dengan Ashton untuk terlebih dahulu mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek kepadanya.

Namun, dia tidak menjawab untuk sekian lama. Setelah menjawab, yang terlihat adalah kegelapan di ujung layar. Hanya ada setitik cahaya berwarna merah kejinggaan yang perlahan meredup.

Suara Ashton terdengar serak saat bertanya, "Ada apa?"

Setelah layarnya secara otomatis disesuaikan dengan cahaya, aku menyadari Ashton sedang duduk sendirian di balkon dengan dikelilingi botol-botol alkohol dan puntung rokok yang berserakan.

Di luar jendela, banyak lampu menyala dan kembang api menerangi langit. Namun, semua kegembiraan itu sepertinya tidak ada hubungannya dengannya. Dia hanya duduk di samping jendela sambil menyaksikan kebahagiaan orang lain dan merokok sendirian di malam hari.

Pada saat itu, aku tiba-tiba merasakan sakit hati yang mendalam untuknya. Mataku terasa perih, tetapi aku memaksakan senyum dan menjawab, "Aku mau ucapin Selamat Tahun Baru ke kamu! Apa aku akan dapat angpau?"

Dia terkekeh pelan, lalu ponselku menunjukkan notifikasi menerima uang. Dia mentransfer 200 juta kepadaku.

Aku pun tercengang. Setelah beberapa saat, Ashton tiba-tiba berbisik, "Ashley, cepat pulang. Aku sangat ...."

Suaranya terbawa angin dan aku tidak mendengar beberapa patah kata terakhirnya. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakannya. Apakah "aku sangat kesepian" atau "aku sangat merindukanmu".

Aku tidak peduli dengan hal lain lagi. Setelah terburu-buru memberi tahu orang tuaku bahwa ada keadaan darurat di tempat kerja, aku membeli tiket pesawat tercepat kembali ke Sarhai.

Pukul 3 dini hari, suasana di Sarhai masih ramai. Jalannya terang benderang dan dipenuhi mobil. Namun, semua lampu di rumah Ashton padam.

Aku naik dengan terengah-engah dan mengetuk pintu dengan kuat. "Ashton, buka pintunya!"

Aku pikir Ashton sudah tidur. Tak disangka, dia segera membuka pintu dan menatapku lekat-lekat. Dia terlihat sangat terkejut.

"Kamu ...." Dia berdiri terpaku di tempat. "Kok kamu sudah balik?"

Aku tersenyum lebar dan menjawab, "Aku datang untuk temani kamu."

Ashton tidak berbicara, hanya terus menatapku. Tepat ketika aku merasa agak canggung karena tatapannya, dia tiba-tiba memelukku dengan erat. Pelukannya sangat erat, seolah-olah dia ingin menyatukan tubuh kami.

Sejak saat itu, setiap tahun, aku akan menghabiskan Tahun Baru Imlek bersama Ashton sebelum pulang ke rumah orang tuaku. Sepertinya, itu telah menjadi kebiasaan tak terucapkan di antara kami. Aku hanya tidak menyangka bahwa meskipun sudah bersama Isabelle tahun ini, dia masih akan memintaku untuk menghabiskan Tahun Baru Imlek bersamanya.

Aku melirik ke luar jendela dan berbisik, "Aku sudah kembali ke rumah orang tuaku."

Ashton pun tertegun. Dia sepertinya sangat terkejut dengan jawabanku. Setelah beberapa saat, dia menggumamkan "oh", lalu menambahkan dengan pura-pura santai, "Benar juga, sudah lama kamu nggak pulang untuk melewati Tahun Baru Imlek dengan keluargamu. Sudah seharusnya kamu pulang."

"Emm," jawabku sambil memegang ponsel.

Keheningan menyelimuti kami untuk sesaat. Kemudian, aku samar-samar mendengar suara Isabelle.

"Ashton, cepat kemari! Gimana cara atur air panasnya?"

"Sebentar," jawab Ashton.

"Kalau begitu, sudah dulu ya." Aku menggigit bibirku.

"Emm." Suara Ashton terdengar tanpa emosi.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 20

    Ashley juga menyuruhku pergi dan aku benar-benar pergi.Sesampainya di rumah, aku menemukan setelan piama Snoopy itu di lemari. Aku tahu dia membelikan piama couple untuk kami, tetapi aku tidak mengatakan apa pun saat itu dan bahkan memakainya beberapa kali. Dia selalu sangat senang ketika melihatku mengenakan piama itu. Dia akan diam-diam tertawa, juga mengambil foto.Sebelum pergi, dia menyuruhku membuang piama itu. Namun, entah kenapa aku tidak melakukannya dan malah menyimpannya di lemari.Aku mengeluarkan piama itu dan hanya menatapnya sambil termenung. Kemudian, aku baru menyadari bahwa aku sebenarnya sudah menyukai Ashley sejak lama. Sebenarnya, akulah yang lebih bergantung padanya. Hanya saja, dalam alam bawah sadarku, aku merasa aku tidak seharusnya menyukainya.Aku ingat apa yang dikatakan ibuku sebelum meninggal. Jangan terlalu menyukai seseorang, cinta bisa membunuh.Cinta sudah membunuhnya. Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk satu pria, tetapi pada akhirnya, dia malah k

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 19

    "Tapi sekarang, aku mengerti bahwa siapa pun bisa tetap bisa melanjutkan hidup meski kehilangan orang tertentu. Pada akhirnya, perasaanmu juga akan pudar," ucapku.Aku melirik jam tanganku. Sudah hampir lima menit. Jika aku terlambat, Bastien yang pencemburu itu pasti akan menyindirku.Aku berbalik dan melambaikan tangan. "Ashton, aku masuk dulu, ya." Setelah berjalan cukup jauh, aku tiba-tiba mendengar tangisan yang memilukan dari belakang."Ashley, aku nggak bisa lupakan kamu! Aku nggak akan pernah bisa lupakan kamu!"Aku tidak menghentikan langkahku."Haih, Ashley ... aku nggak bisa lupakan kamu ...."Ketika aku sedang melepas sepatu, Bastien bersandar di dinding dan tidak berhenti menyindirku sambil melirikku.Aku berpura-pura santai dan berkata, "Ibuku suruh kita pergi makan pangsit nanti. Kamu mau ikut?"Dia langsung melupakan kejadian tadi dan menjawab, "Ikut!"...Kabar tentang Bastien, sang pelukis jenius yang akan mengadakan pameran menjadi viral di internet.Temanku sangat

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 18

    "Ada lagi?" tanya BastienAku tidak bisa menahan rasa perih di hidungku dan menunduk untuk menyembunyikan air mata."Nggak ada lagi."Bastien menyeringai nakal. "Ops, ada yang mau nangis."Mataku sudah berkaca-kaca, tetapi dia malah mencondongkan tubuhnya untuk menatapku dari bawah dan bertanya dengan usil, "Nangis? Benar-benar nangis?" Pria ini benar-benar gila! Kali ini, aku tidak bisa menangis lagi. Aku mendorongnya menjauh dengan marah. "Kamu gila?" Namun, Bastien malah tertawa. Sudut matanya melengkung dengan tajam. "Aku tahu kamu nggak rela aku pergi. Aku akan kembali lusa. Jangan lupa menjemputku di bandara."Aku bertanya dengan terkejut, "Hah? Kamu akan kembali?""Omong kosong." Dia memutar matanya, lalu menyeka air mata dari sudut mataku. "Aku sudah bayar sewa setahun."Aku bertanya tanpa berpikir, "Gimana setelah setahun?"Bastien mengelus dagunya sambil berpikir. "Setelah setahun, kurasa Ibu nggak akan minta uang sewa lagi dari menantunya."Wajahku seketika memerah. Aku me

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 17

    "Kita bersama, ya. Aku tahu kamu menyukaiku. Mulai sekarang, aku akan berikan apa pun yang kamu inginkan. Aku nggak akan bersama orang lain lagi. Kembalilah, Ashley," ujar Ashton.Aku menatapnya sejenak dan tak bisa menahan diri untuk berpikir, betapa bahagianya aku jika dia mengucapkan kata-kata itu beberapa bulan yang lalu. Aku telah menyukainya selama bertahun-tahun. Dalam sepuluh tahun ini, aku pernah lelah, menangis, dan menderita. Namun, aku tak pernah berhenti mencintainya sekali pun. Akhirnya, aku mendapatkan apa yang selalu kuimpikan. Ashton membalas perasaanku.Namun, aku hanya merasa absurd. Kelelahan yang tak terlukiskan muncul dalam hatiku.Aku menggeleng dan menjawab, "Nggak."Ashton meraih bahuku dengan kening berkerut. Secercah amarah melintasi matanya."Kenapa? Ashley, kamu berani bilang kamu nggak menyukaiku?"Aku menatap matanya. Orang yang kucintai selama sepuluh tahun ini telah tumbuh dari seorang anak laki-laki menjadi seorang pria. Penampilannya tidak banyak ber

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 16

    "Oh begitu. Sayang sekali. Tapi, nanti kamu harus hadir di pernikahanku dan Ashton, ya!" ucap Isabelle.Aku terlalu malas untuk bermain-main dengannya. Jadi, aku hanya menjawab dengan asal, "Ya, kalau aku punya waktu." Sepanjang makan, Ashton tidak berhenti memamerkan kemesraan. Dia terus menaruh makanan di piring Isabelle, menggantikannya minum alkohol, juga saling berpelukan dengan sangat mesra.Jika itu dulu, aku pasti akan merasa sakit hati. Sekarang, yang kupikirkan hanyalah ciuman Bastien. Apa sebenarnya maksudnya? Apa dia menyukaiku? Jika begitu, apa yang harus kulakukan? Apakah aku ... menyukainya?Ashton memamerkan kemesraannya dengan makin gencar. Isabelle yang awalnya tersenyum lebar tiba-tiba mengubah ekspresinya setelah Ashton menaruh sepotong daging sapi di piringnya.Dia berkata dengan kaku, "Ashton, aku alergi daging sapi. Kamu lupa?"Gerakan Ashton terhenti. Baru saja dia hendak berbicara, tiba-tiba terjadi keributan di meja sebelah.Meja sebelah adalah meja khusus un

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 15

    Selama beberapa hari terakhir, aku juga telah mencari tahu tentang Bastien. Dia sebenarnya adalah pelukis yang sangat terkenal dan berbakat di industri. Harga lukisannya paling tidak ratusan juta sampai miliaran. Salah satu lukisannya bahkan terjual lebih dari 6 miliar di acara lelang."Apa yang lagi kamu gambar akhir-akhir ini? Aku belum pernah melihatmu menggambar."Bastien menunduk dan melirikku. "Rahasia.""Cih, ya sudah kalau nggak mau kasih tahu. Kamu kira aku begitu ingin tahu? Kamu memang sok banget!" cibirku sambil memutar bola mata.Angin laut yang dingin dan lembap meresap ke tulang-tulangku. Setelah tinggal di area selatan sekian lama, aku sudah tidak terbiasa dengan cuaca dingin seperti ini. Aku menggosok-gosokkan tanganku dan mengembusnya.Bastien malah berkata dengan usil, "Sudah kubilang, pakai baju yang lebih tebal. Tapi kamu cuma fokus sama penampilan. Kedinginan, 'kan?"Aku memelototinya. "Laki-laki normal zaman sekarang akan melepas pakaian mereka dan memberikannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status