Share

Bab 8

Author: Adyari
Aku menjauhkan ponsel dari telingaku dan menekan tombol mengakhiri panggilan. Layar seketika menjadi gelap.

Aku mengira aku tidak akan bisa tidur. Tak disangka, aku langsung tertidur begitu kepalaku menyentuh bantal. Ketika aku bangun, waktu sudah menunjukkan lewat pukul 2 dini hari.

Aku bangun karena haus. Musim dingin di utara kering dan dingin. Aku masih sedikit belum terbiasa karena baru saja kembali.

Aku pun turun ke lantai bawah untuk minum air. Namun, tepat saat aku hendak kembali ke atas, aku tiba-tiba mendengar suara samar dari kamar mandi.

Rumahku kemalingan! Seluruh tubuhku menegang dan bulu kudukku berdiri!

Jantungku berdebar kencang dan aku tidak berani bernapas kuat-kuat. Setelah berdiri diam untuk sejenak, aku dengan ragu melangkah tanpa alas kaki di lantai. Ponselku ada di atas. Aku harus naik dan menelepon polisi!

Namun, tepat saat aku hampir mencapai tangga di sebelah kamar mandi, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka!

Aku sangat takut sampai seluruh tubuhku merinding. Secara refleks, aku meraih payung dan hendak memukul kepala orang itu. Akan tetapi, dia merebut payungku. Sebelum aku sempat berteriak, dia menarikku dan membekap mulutku.

Aku baru menyadari bahwa pencuri itu tidak mengenakan pakaian. Punggungku yang tidak tertutup gaun tidur menempel pada tubuh bagian atasnya yang telanjang. Tubuhnya menyerbakkan aroma samar verbena bercampur dengan kelembapan.

Sialan, pencuri ini bukan hanya membobol rumah kami, tetapi juga tidak mengenakan pakaian! Berhubung takut dia mencekikku, aku menoleh dan menggigit lengannya sambil meronta-ronta dengan panik!

Namun, pria itu terlalu kuat dan mendekapku erat-erat. Ketika menyadari aku tidak bisa bergerak, aku langsung menyerah.

Aku merasa ketakutan, marah, dan cemas. Aku takut dia akan membunuhku untuk membuatku bungkam karena sudah menemukannya. Selain itu, orang tuaku ada di lantai atas!

Aku memohon dengan gemetar dan suaraku terdengar tercekat, "Tolong ampuni aku! Ada tabungan pribadi ayahku di lemari samping jendela. Mungkin ada sekitar 4 juta. Kalau menurutmu itu nggak cukup, aku bisa transfer uangnya ke kamu. Tapi, aku nggak punya banyak uang, cuma puluhan juta."

"Lepaskanlah aku. Aku akan beri kamu uangnya, lalu kita anggap semua ini nggak pernah terjadi dan aku nggak pernah melihatmu hari ini. Aku masih muda, belum pernah pacaran, juga belum menikah. Aku belum mau mati. Aku mohon .... "

Kemudian, tawa lembut terdengar dari sampingku. Selanjutnya, lampu ruang tamu dinyalakan.

Setelah mataku terbiasa dengan cahaya putih yang menyilaukan, aku melihat seorang pemuda yang bertelanjang dada berdiri di depanku. Tetesan air mengalir dari tubuhnya yang berotot indah hingga ke pinggangnya sebelum jatuh ke lantai.

Dia sangat tinggi, lebih tinggi satu kepala dariku. Tingginya paling tidak mencapai 188 sentimeter. Berdiri di sampingnya, aku terlihat sangat pendek.

Aku menatapnya sejenak, lalu berkata dengan perasaan campur aduk. "Bro, dengan wajah yang kamu miliki, kamu bisa dengan mudah hasilkan 60-100 juta per malam kalau kerja di dunia malam. Kenapa kamu begitu bodoh sampai-sampai mencuri dari rumahku? Keluargaku sangat miskin."

Bibir tipis pria yang semerah ceri itu melengkung membentuk senyum tipis. Saat ini, aku baru menyadari bahwa suaranya sebenarnya sangat merdu.

"Kamu pasti putri Bibi Leila, 'kan? Aku orang yang sewa rumah sebelah. Pemanas air di sana rusak, jadi Bibi Leila menyuruhku mandi di sini. Maaf sudah mengejutkanmu."

Aku tertegun sesaat, lalu teringat bahwa dalam perjalanan pulang tadi, ibuku menyebutkan bahwa rumah di sebelah telah disewakan.

Keluargaku membeli dua rumah tepi laut yang bersebelahan. Meskipun rumah-rumah di kota kecil seperti ini tidak terlalu berharga, pemandangannya indah dan balkonnya menghadap langsung ke laut. Selama bertahun-tahun, pariwisata telah berkembang secara bertahap. Orang-orang mulai menyewa rumah-rumah tersebut.

Aku sangat malu dan berharap bisa langsung ditelan bumi. Aku menyahut dengan wajah semerah tomat, "Maaf. Aku ...."

Pria itu melambaikan tangannya. "Itu salahku. Tadi, aku juga kaget ... Aduh."

Ada bekas gigitan bulat di lengannya yang sudah berdarah.

Aku sangat malu dan merasa bersalah. "Maaf banget. Aku akan ambil antiseptik dan bantu kamu bersihkan lukanya."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 20

    Ashley juga menyuruhku pergi dan aku benar-benar pergi.Sesampainya di rumah, aku menemukan setelan piama Snoopy itu di lemari. Aku tahu dia membelikan piama couple untuk kami, tetapi aku tidak mengatakan apa pun saat itu dan bahkan memakainya beberapa kali. Dia selalu sangat senang ketika melihatku mengenakan piama itu. Dia akan diam-diam tertawa, juga mengambil foto.Sebelum pergi, dia menyuruhku membuang piama itu. Namun, entah kenapa aku tidak melakukannya dan malah menyimpannya di lemari.Aku mengeluarkan piama itu dan hanya menatapnya sambil termenung. Kemudian, aku baru menyadari bahwa aku sebenarnya sudah menyukai Ashley sejak lama. Sebenarnya, akulah yang lebih bergantung padanya. Hanya saja, dalam alam bawah sadarku, aku merasa aku tidak seharusnya menyukainya.Aku ingat apa yang dikatakan ibuku sebelum meninggal. Jangan terlalu menyukai seseorang, cinta bisa membunuh.Cinta sudah membunuhnya. Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk satu pria, tetapi pada akhirnya, dia malah k

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 19

    "Tapi sekarang, aku mengerti bahwa siapa pun bisa tetap bisa melanjutkan hidup meski kehilangan orang tertentu. Pada akhirnya, perasaanmu juga akan pudar," ucapku.Aku melirik jam tanganku. Sudah hampir lima menit. Jika aku terlambat, Bastien yang pencemburu itu pasti akan menyindirku.Aku berbalik dan melambaikan tangan. "Ashton, aku masuk dulu, ya." Setelah berjalan cukup jauh, aku tiba-tiba mendengar tangisan yang memilukan dari belakang."Ashley, aku nggak bisa lupakan kamu! Aku nggak akan pernah bisa lupakan kamu!"Aku tidak menghentikan langkahku."Haih, Ashley ... aku nggak bisa lupakan kamu ...."Ketika aku sedang melepas sepatu, Bastien bersandar di dinding dan tidak berhenti menyindirku sambil melirikku.Aku berpura-pura santai dan berkata, "Ibuku suruh kita pergi makan pangsit nanti. Kamu mau ikut?"Dia langsung melupakan kejadian tadi dan menjawab, "Ikut!"...Kabar tentang Bastien, sang pelukis jenius yang akan mengadakan pameran menjadi viral di internet.Temanku sangat

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 18

    "Ada lagi?" tanya BastienAku tidak bisa menahan rasa perih di hidungku dan menunduk untuk menyembunyikan air mata."Nggak ada lagi."Bastien menyeringai nakal. "Ops, ada yang mau nangis."Mataku sudah berkaca-kaca, tetapi dia malah mencondongkan tubuhnya untuk menatapku dari bawah dan bertanya dengan usil, "Nangis? Benar-benar nangis?" Pria ini benar-benar gila! Kali ini, aku tidak bisa menangis lagi. Aku mendorongnya menjauh dengan marah. "Kamu gila?" Namun, Bastien malah tertawa. Sudut matanya melengkung dengan tajam. "Aku tahu kamu nggak rela aku pergi. Aku akan kembali lusa. Jangan lupa menjemputku di bandara."Aku bertanya dengan terkejut, "Hah? Kamu akan kembali?""Omong kosong." Dia memutar matanya, lalu menyeka air mata dari sudut mataku. "Aku sudah bayar sewa setahun."Aku bertanya tanpa berpikir, "Gimana setelah setahun?"Bastien mengelus dagunya sambil berpikir. "Setelah setahun, kurasa Ibu nggak akan minta uang sewa lagi dari menantunya."Wajahku seketika memerah. Aku me

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 17

    "Kita bersama, ya. Aku tahu kamu menyukaiku. Mulai sekarang, aku akan berikan apa pun yang kamu inginkan. Aku nggak akan bersama orang lain lagi. Kembalilah, Ashley," ujar Ashton.Aku menatapnya sejenak dan tak bisa menahan diri untuk berpikir, betapa bahagianya aku jika dia mengucapkan kata-kata itu beberapa bulan yang lalu. Aku telah menyukainya selama bertahun-tahun. Dalam sepuluh tahun ini, aku pernah lelah, menangis, dan menderita. Namun, aku tak pernah berhenti mencintainya sekali pun. Akhirnya, aku mendapatkan apa yang selalu kuimpikan. Ashton membalas perasaanku.Namun, aku hanya merasa absurd. Kelelahan yang tak terlukiskan muncul dalam hatiku.Aku menggeleng dan menjawab, "Nggak."Ashton meraih bahuku dengan kening berkerut. Secercah amarah melintasi matanya."Kenapa? Ashley, kamu berani bilang kamu nggak menyukaiku?"Aku menatap matanya. Orang yang kucintai selama sepuluh tahun ini telah tumbuh dari seorang anak laki-laki menjadi seorang pria. Penampilannya tidak banyak ber

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 16

    "Oh begitu. Sayang sekali. Tapi, nanti kamu harus hadir di pernikahanku dan Ashton, ya!" ucap Isabelle.Aku terlalu malas untuk bermain-main dengannya. Jadi, aku hanya menjawab dengan asal, "Ya, kalau aku punya waktu." Sepanjang makan, Ashton tidak berhenti memamerkan kemesraan. Dia terus menaruh makanan di piring Isabelle, menggantikannya minum alkohol, juga saling berpelukan dengan sangat mesra.Jika itu dulu, aku pasti akan merasa sakit hati. Sekarang, yang kupikirkan hanyalah ciuman Bastien. Apa sebenarnya maksudnya? Apa dia menyukaiku? Jika begitu, apa yang harus kulakukan? Apakah aku ... menyukainya?Ashton memamerkan kemesraannya dengan makin gencar. Isabelle yang awalnya tersenyum lebar tiba-tiba mengubah ekspresinya setelah Ashton menaruh sepotong daging sapi di piringnya.Dia berkata dengan kaku, "Ashton, aku alergi daging sapi. Kamu lupa?"Gerakan Ashton terhenti. Baru saja dia hendak berbicara, tiba-tiba terjadi keributan di meja sebelah.Meja sebelah adalah meja khusus un

  • Meninggalkan Orang yang Kucintai Sejak Masa Mudaku   Bab 15

    Selama beberapa hari terakhir, aku juga telah mencari tahu tentang Bastien. Dia sebenarnya adalah pelukis yang sangat terkenal dan berbakat di industri. Harga lukisannya paling tidak ratusan juta sampai miliaran. Salah satu lukisannya bahkan terjual lebih dari 6 miliar di acara lelang."Apa yang lagi kamu gambar akhir-akhir ini? Aku belum pernah melihatmu menggambar."Bastien menunduk dan melirikku. "Rahasia.""Cih, ya sudah kalau nggak mau kasih tahu. Kamu kira aku begitu ingin tahu? Kamu memang sok banget!" cibirku sambil memutar bola mata.Angin laut yang dingin dan lembap meresap ke tulang-tulangku. Setelah tinggal di area selatan sekian lama, aku sudah tidak terbiasa dengan cuaca dingin seperti ini. Aku menggosok-gosokkan tanganku dan mengembusnya.Bastien malah berkata dengan usil, "Sudah kubilang, pakai baju yang lebih tebal. Tapi kamu cuma fokus sama penampilan. Kedinginan, 'kan?"Aku memelototinya. "Laki-laki normal zaman sekarang akan melepas pakaian mereka dan memberikannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status