Beranda / Romansa / Menipu Sang CEO Buta / #003 Tugas Biasa Tapi Mengejutkan

Share

#003 Tugas Biasa Tapi Mengejutkan

Penulis: aisakurachan
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-12 08:39:26

"Tahan sebentar. Bernafas pelan..." Ellie menekuk kaki kanan pasiennya, selama sepuluh detik, lalu beralih ke kaki kiri.

"Bagaimana Beth? Apakah masih sakit?"

Ellie bertanya dengan senyum lebar. Beth sudah mengalami banyak kemajuan. Dia masih belum bisa berdiri, tapi gerakan kakinya sudah lebih luwes.

"Tidak. Kau memang terapis jempolan, El. Terima kasih." Beth mengelus pipi Ellie dengan sayang.

Wanita itu sudah menjadi pasien Ellie hampir tiga tahun. Wajar jika mereka akrab meski usia mereka jauh berbeda. Ellie 29 tahun, sedangkan Beth sudah hampir tujuh puluh.

"Apa Mr. Norad akan datang sebentar lagi?" Ellie mendorong kursi roda Beth keluar dari ruang terapi, menuju ruang tunggu rumah sakit.

"Iya. Dia sedang membeli kopi di cafetaria." Beth membaca pesan yang masuk dari suaminya, sambil menjauhkan ponsel dari mata. Dia lupa membawa kacamata baca.

"Kenapa kau masih memanggilnya Mr. Norad? Dia menyuruhmu memanggil Luke saja. Kau bisa memanggilku Beth, kenapa tidak untuk Luke?" tanya Beth dengan nada menuntut.

Dia kesal karena menurutnya Ellie terlalu kaku. Butuh tiga bulan sebelum Ellie memanggilnya Beth, dan setelah tiga tahun Ellie masih memanggil suaminya dengan nama keluarga.

"Baik...Baiklah, Beth. Jangan marah-marah. Kau tahu itu tidak baik, untuk tekanan darahmu."

Dengan panik, Ellie menepuk pelan bahu Beth, menenangkan. Alasan Beth duduk di kursi roda adalah karena hipertensi yang memicu stroke. Akan lebih baik jika dia tidak marah-marah seperti itu.

Wajah Beth yang menghadap ke depan tersenyum puas. Amarah itu hanyalah sandiwara saja, agar Ellie bisa lebih santai di depan Luke.

"Nah... Jadilah gadis manis, dan turuti perempuan tua ini," kata Beth.

Nadanya serius, tapi mulutnya tersenyum. Ellie yang ada di belakang mendorong kursi roda sama sekali tidak menyadari hal ini.

"Ellie! Maaf, tapi Dr. Stefan memanggilmu ke ruangan." Salah satu perawat yang bertugas di meja perawat, memanggilnya.

"Baik. Terima kasih." Ellie melambai mengerti. Dr. Stefan adalah direktur rumah sakit ini.

"Maaf, Beth. Aku tidak bisa mengantar..."

"Shh! Aku tahu promosi itu membuatmu sibuk." Beth tersenyum mengelus tangan Ellie, menyuruhnya pergi. Suaminya sebentar lagi akan datang.

"Jangan lupa jadwal baru kita ya." Ellie berpesan pada Beth sambil berjalan mendekati lift. Setelah dibalas lambaian tangan, Ellie memencet tombol lift agar terbuka.

Kantor Dr. Stefan ada di lantai sepuluh. Ellie bersyukur karena lift itu kosong, dengan begitu, dia bisa bersandar santai, sekadar beristirahat. Beth adalah pasien terakhirnya hari ini.

Jadwalnya padat sekali, karena rumah sakit ini memang memiliki fasilitas fisioterapi yang cukup terkenal di Inggris. Ellie selalu merasa beruntung bisa bekerja di situ, karena bisa menggunakan ketrampilannya secara lebih maksimal.

Pintu lift terbuka, mengagetkan Ellie yang sudah setengah mengantuk.

"Hai, Lea! Apa Dr. Stefan di dalam?" Ellie bertanya pada sekretaris yang ada di depan ruangan. Lea mengangguk dan kembali sibuk mengetik.

"Terima kasih." Tanpa membuang waktu, Ellie mengetuk pintu kaca berwarna putih hijau di depan Lea.

"MASUK!"

"Selamat sore, Dokter," sapa Ellie, ceria.

"Ellie! Kenapa Lea malah menemukanmu di ruang tunggu? Bukan tugasmu lagi untuk mengantar pasien ke depan. Apa pekerjaanmu sebagai Supervisor Rehabilitasi masih kurang sibuk?"

Dr. Stefan tidak repot-repot menjawab sapaan Ellie, langsung mengomel. Tapi itu adalah omelan sayang. Pria separuh baya itu memandang Ellie dengan mata menyipit yang main-main.

Ellie tersenyum mendengar teguran itu. "Saya hanya mengantar Beth ke bawah, Doc. Dan dia pasien terakhir saya hari ini," jelas Ellie.

Stefan mencibir. "Kau selalu pandai beralasan."

"Apa Anda memanggil saya hanya untuk mendengar alasan?" Ellie mengingatkan. Stefan direktur yang rajin, tapi kadang dia terlalu gampang terhanyut dalam percakapan. Jika dibiarkan Stefan bisa betah mengobrol berjam-jam dan belum membahas inti.

"Tidak... tentu saja tidak. Sebentar. Kau duduk dulu."

Ellie duduk di sofa untuk tamu yang ada di sudut ruangan, melihat Stefan mencari sesuatu di mejanya. Map hijau yang dicarinya, ternyata tertindih oleh jas dokter putih miliknya.

"Aku punya penawaran untukmu. Penawaran ini aku berikan padamu, karena aku tahu kau adalah fisioterapis paling handal di sini."

Mata Ellie sudah menancap pada map itu, tapi Stefan belum memberikannya. Dia duduk di depan Ellie, sambil menyodorkan sebotol air.

"Salah satu temanku mengalami kecelakaan tiga bulan lalu, dan kini dia sedang dalam proses pemulihan. Dia terluka cukup parah dibagian panggul dan kepala. Semua lukanya sudah hampir pulih, tapi masalahnya fungsi motorik kakinya belum kembali. Dia orangnya....sedikit sulit."

"Apa dia dirawat di sini?" tanya Ellie.

"Tidak, belum pernah. Dia mengalami kecelakaan di Belgia. Dan kini sedang memulihkan diri di rumahnya."

"Lalu?"

"Aku ingin kau yang melakukan terapi pemulihan fisik padanya, Ellie. Kemampuanmu cukup hebat."

"Saya bisa menjadwalkannya untuk hari selasa dan kamis. Hari lain sudah tidak bisa." Ellie setengah mengeluh saat mengatakannya.

Jadwalnya sudah benar-benar padat. Seharusnya dia tidak menerima pasien baru lagi, tapi Stefan menyebut ini temannya. Ellie tidak ingin mengecewakan. Ellie terlalu banyak berhutang budi pada Stefan.

"Bukan seperti itu. Temanku ini tidak mungkin pergi ke rumah sakit untuk mendapat terapi. Dia itu.... apa ya? Lumayan terkenal. Tidak ada yang boleh tahu tentang keadaannya. Saham perusahaannya bisa-bisa turun drastis kalau berita soal kelumpuhannya sampai bocor keluar."

Ellie mulai mengerti. Dia harus menjadwalkan panggilan rumah. Bukan hal aneh, rumah sakit ini menyediakan fasilitas untuk perawatan di rumah, bagi pasien yang kesulitan pergi ke rumah sakit.

"Di mana alamat rumahnya? Saya akan mengosongkan hari kamis, agar bisa ke sana."

Stefan tidak langsung menjawab pertanyaan sederhana itu. Dia memandang Ellie dengan mata bersalah.

"Dia tidak di London, maupun Inggris. Tapi di Swedia."

Gerakan Ellie membeku, saat mendengar nama negara itu. "Dimana?"

"Swedia." Stefan mengulang sambil tersenyum membujuk.

"Dengar...aku tahu ini mendadak. Tapi aku ingin kau ke sana dan membantunya pulih, mungkin sekitar enam atau tujuh bulan akan cukup. Semangatnya untuk sembuh cukup tinggi, aku yakin dia akan pulih dengan cepat."

Stefan mengira sikap diam Ellie karena penugasan ini mendadak. Tapi salah. Ellie diam karena negara itu membuatnya merasa mual.

"Dan Raven masih cukup muda, dia baru berusia tiga puluh enam. Dengan fisik......"

"SIAPA?! Siapa nama pasiennya?" Ellie memotong penjelasan Stefan dengan kasar, karena mendengar nama yang tidak pernah ingin didengarnya lagi.

"Raven. Raven Corbin Wycliff." 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menipu Sang CEO Buta   #045 Sikap Tapi Tidak Normal

    "Apa masih lama?" Ellie berdiri, sambil meremas kepalanya, yang pening berputar."Sebentar lagi. Sabar, duduk atau tidur saja. Berdiri hanya akan membuat keadaanmu semakin parah."Raven menarik tangannya, membuat tubuh Ellie terbanting di ranjang. Perjalanan yang awalnya menyenangkan, berubah menjadi petaka bagi Ellie.Bagian akhir dari perjalanan itu, harus ditempuh dengan kapal, karena Katastari ternyata terletak di sebuah pulau kecil di lepas pantai laut Ionian, Yunani.Ini adalah salah satu kelemahan yang baru diketahui oleh Ellie saat yacht yang mereka tumpangi, meluncur ke tengah laut.Pusing mual melandanya dengan amat sangat dan cepat. Ellie menyadari dengan terlambat, kalau dia ternyata tidak tahan menaiki alat transportasi air ini.Sebelum hari ini, pengalaman Ellie menaiki kapal adalah nol. Ellie merasa akan baik-baik saja karena tidak pernah mengalami masalah saat berkendara jauh dan naik pesawat, tapi ternyata kapal adalah kelemahannya. "Kau dingin sekali, Haze." Raven me

  • Menipu Sang CEO Buta   #044 Perhatian Tapi Terlalu Detail

    "Apa ini begitu mengejutkan?" tanya Raven. Yang memberi kejutan tidak merasa hal itu pantas dipermasalahkan."Tentu saja... Aku belum..."Ellie sebenarnya bermaksud mengatakan bahwa ini pertama kalinya dalam hidupnya ia berada di situasi di mana ia bisa memutuskan untuk pergi ke negara lain hanya dalam waktu sehari.Ellie hanya pernah sekali melakukan perjalanan lintas negara, dari Italia ke Inggris mengikuti ibunya. Itu pun di rencanakan dalam waktu berbulan-bulan dan rumit. Setelah itu, Ellie nyaris tidak pernah keluar dari London. Tentu saja pengetahuan Ellie tentang perjalan dan lainnya sangat sedikit.Namun, Ellie tidak akan mengaku begitu saja.“Maksudku… bagaimana dengan visa dan izin tinggal?” Ellie membelokkan arah pembicaraan, berusaha menyamarkan rasa kikuknya dengan alasan yang terdengar lebih berkelas.Raven meliriknya sekilas. Ada senyum kecil yang jelas tidak tulus karena mengandung ejekan. “Kau tidak butuh visa jika hanya ingin ke Yunani, Haze. Yunani masih masuk dalam

  • Menipu Sang CEO Buta   #043 Pindah Tapi Jauh

    Ellie terbangun dengan sentakan, dan kebingungan sesaat."Masih bermimpi buruk?" tanya Raven.Ellie menoleh, dan melihatnya duduk di sofa tunggal, yang ada di sebelah kiri. Raven terlihat seperti model, yang duduk dengan posisi kaki saling menumpang, dan tangannya mengangkat cangkir teh klasik.Anggun sekaligus misterius. Dia juga telah berganti dengan setelan jas rapi, lengkap dengan kaca mata hitam. Tadi malam bajunya kotor terkena cipratan darah Jasper."Kendalikan dirimu, El. Usap ludahmu." Ellie membatin sambil berkedip untuk menyingkirkan pemandangan memabukkan itu. "Apa dia sengaja?" Omelan dalam kepala Ellie semakin panjang."Bagaimana Jasper?" tanya Ellie. Sofa tempatnya tidur, sudah kosong."Di atas, membersihkan diri. Keadaannya baik. Tidak ada demam dan infeksi," jawab Raven."Tangannya butuh penyangga, agar bahunya tidak bergerak." Ellie tidak bisa menemukan kain tadi malam."Sudah. Dokter yang datang tadi malam, memberinya penyangga kain.""Dokter?" Ellie heran ada dokter

  • Menipu Sang CEO Buta   #042 Kebiasaan Tapi Aku Tidak Tahu

    "Aku harus membuka jas. Duduklah sebentar."Dengan cekatan Ellie membuka baju dan memulai perawatan untuk Jasper. Kotak obat itu cukup lengkap isinya. Tadi Ellie sempat khawatir tidak akan ada cukup alkohol untuk membersihkan luka, tapi ternyata ada.Ellie menyalakan senter di ponselnya untuk memeriksa luka itu. Tepinya bersih, dan ada luka di bagian depan. Karena Jasper tertembak dari belakang, itu berarti pelurunya tembus."Sepertinya tidak ada peluru di dalam. Tapi akan lebih baik kalau bisa melakukan X-Ray, memastikan tidak ada tulang yang retak, maupun kemungkinan pecahan peluru tertinggal."Ellie menyebut untuk Raven tentu, dengan nada lebih lega. Kalau seperti yang diperkirakan, Jasper tidak akan membutuhkan operasi ."Aku akan mengaturnya." Raven mengeluarkan ponsel kuno dari saku."Apa ini yang kau sebut pengamanan?!"Ellie hanya mendengar amukan Raven sekilas, karena setelah itu kembali menumpahkan perhatian pada luka Jasper. Dari suaranya, Raven tidak hanya menegur satu oran

  • Menipu Sang CEO Buta   #041 Rumah Tapi Yang Lain

    "Ke kiri, lalu berhenti di rumah dengan gerbang berwarna hitam," kata Jasper. Memberi petunjuk arah pada Ellie."Kita tidak pulang ke rumah?" Ellie tidak mengenali daerah itu.Rumah Raven yang kemarin masih terletak di daerah hunian. Masih ada rumah di sekitar meski sangat jarang.Tapi rumah yang ini sepertinya terletak di hutan, Ellie hanya melihat pohon dan gelap. Tidak ada sumber cahaya lain, kecuali lampu mobil mereka"Tidak. Terlalu beresiko." Raven yang menyahut. "Kita tidak akan kembali ke sana.""Bagaimana dengan Marlow?" tanya Raven, pada Jasper."Sudah saya kirim pesan. Mereka mengungsi," jawab Jasper. Meski bahunya terluka, Jasper masih bisa mengirim pesan sepanjang perjalanan tadi.Tidak perlu ditanya lagi. Ellie super penasaran mendengar percakapan yang terjadi diantara mereka. Dia ingin bertanya lebih lanjut, soal apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa mereka diserang?Tapi Ellie sadar, ini bukan saat yang tepat, apalagi telinganya menangkap jika suara Jasper tidak seten

  • Menipu Sang CEO Buta   #40 Kejadian tapi Paling Gila

    "Ada sesuatu yang mengganjal, aku tidak bisa..." "Tidak boleh. Kau seharusnya menghubungi dokter jika ada sesuatu, Raven." Ellie dengan lebih tegas melarang, masih sambil mencekal lengannya.Ellie menarik ponselnya keluar. "Jasper, bisa tolong hubungi dr. Reinhart? Ada gangguan di mata Raven."Sambil memutus panggilan, Ellie bisa mendengar langkah kaki Jasper yang meninggalkan pekerjaannya."Ini hanya gatal, tidak perlu berlebihan dan memanggil dokter!" protes Raven."Kau buta dan matamu sedang dalam masa penyembuhan. Apa saja bisa terjadi! Seperti kakimu tadi!" Ellie memuntahkan rasa kesalnya begitu saja. Untung saja Jasper cepat datang, sebelum Ellie mengomel lebih panjang."Ini, sudah tersambung." Jasper menyerahkan ponsel pada Ellie.Ellie menjelaskan keadaan mata Raven pada dr. Reinhart sedetail mungkin. Dan kali ini Ellie pemenangnya, karena Dokter itu juga menganggap kondisi mata Raven harus mendapat pemeriksaan lebih lanjut. Ellie menyerahkan ponsel itu kepada Jasper, karena

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status