Masuk"Tahan sebentar. Bernafas pelan..." Ellie menekuk kaki kanan pasiennya, selama sepuluh detik, lalu beralih ke kaki kiri.
"Bagaimana Beth? Apakah masih sakit?"
Ellie bertanya dengan senyum lebar. Beth sudah mengalami banyak kemajuan. Dia masih belum bisa berdiri, tapi gerakan kakinya sudah lebih luwes.
"Tidak. Kau memang terapis jempolan, El. Terima kasih." Beth mengelus pipi Ellie dengan sayang.
Wanita itu sudah menjadi pasien Ellie hampir tiga tahun. Wajar jika mereka akrab meski usia mereka jauh berbeda. Ellie 29 tahun, sedangkan Beth sudah hampir tujuh puluh.
"Apa Mr. Norad akan datang sebentar lagi?" Ellie mendorong kursi roda Beth keluar dari ruang terapi, menuju ruang tunggu rumah sakit.
"Iya. Dia sedang membeli kopi di cafetaria." Beth membaca pesan yang masuk dari suaminya, sambil menjauhkan ponsel dari mata. Dia lupa membawa kacamata baca.
"Kenapa kau masih memanggilnya Mr. Norad? Dia menyuruhmu memanggil Luke saja. Kau bisa memanggilku Beth, kenapa tidak untuk Luke?" tanya Beth dengan nada menuntut.
Dia kesal karena menurutnya Ellie terlalu kaku. Butuh tiga bulan sebelum Ellie memanggilnya Beth, dan setelah tiga tahun Ellie masih memanggil suaminya dengan nama keluarga.
"Baik...Baiklah, Beth. Jangan marah-marah. Kau tahu itu tidak baik, untuk tekanan darahmu."
Dengan panik, Ellie menepuk pelan bahu Beth, menenangkan. Alasan Beth duduk di kursi roda adalah karena hipertensi yang memicu stroke. Akan lebih baik jika dia tidak marah-marah seperti itu.
Wajah Beth yang menghadap ke depan tersenyum puas. Amarah itu hanyalah sandiwara saja, agar Ellie bisa lebih santai di depan Luke.
"Nah... Jadilah gadis manis, dan turuti perempuan tua ini," kata Beth.
Nadanya serius, tapi mulutnya tersenyum. Ellie yang ada di belakang mendorong kursi roda sama sekali tidak menyadari hal ini.
"Ellie! Maaf, tapi Dr. Stefan memanggilmu ke ruangan." Salah satu perawat yang bertugas di meja perawat, memanggilnya.
"Baik. Terima kasih." Ellie melambai mengerti. Dr. Stefan adalah direktur rumah sakit ini.
"Maaf, Beth. Aku tidak bisa mengantar..."
"Shh! Aku tahu promosi itu membuatmu sibuk." Beth tersenyum mengelus tangan Ellie, menyuruhnya pergi. Suaminya sebentar lagi akan datang.
"Jangan lupa jadwal baru kita ya." Ellie berpesan pada Beth sambil berjalan mendekati lift. Setelah dibalas lambaian tangan, Ellie memencet tombol lift agar terbuka.
Kantor Dr. Stefan ada di lantai sepuluh. Ellie bersyukur karena lift itu kosong, dengan begitu, dia bisa bersandar santai, sekadar beristirahat. Beth adalah pasien terakhirnya hari ini.
Jadwalnya padat sekali, karena rumah sakit ini memang memiliki fasilitas fisioterapi yang cukup terkenal di Inggris. Ellie selalu merasa beruntung bisa bekerja di situ, karena bisa menggunakan ketrampilannya secara lebih maksimal.
Pintu lift terbuka, mengagetkan Ellie yang sudah setengah mengantuk.
"Hai, Lea! Apa Dr. Stefan di dalam?" Ellie bertanya pada sekretaris yang ada di depan ruangan. Lea mengangguk dan kembali sibuk mengetik.
"Terima kasih." Tanpa membuang waktu, Ellie mengetuk pintu kaca berwarna putih hijau di depan Lea.
"MASUK!"
"Selamat sore, Dokter," sapa Ellie, ceria.
"Ellie! Kenapa Lea malah menemukanmu di ruang tunggu? Bukan tugasmu lagi untuk mengantar pasien ke depan. Apa pekerjaanmu sebagai Supervisor Rehabilitasi masih kurang sibuk?"
Dr. Stefan tidak repot-repot menjawab sapaan Ellie, langsung mengomel. Tapi itu adalah omelan sayang. Pria separuh baya itu memandang Ellie dengan mata menyipit yang main-main.
Ellie tersenyum mendengar teguran itu. "Saya hanya mengantar Beth ke bawah, Doc. Dan dia pasien terakhir saya hari ini," jelas Ellie.
Stefan mencibir. "Kau selalu pandai beralasan."
"Apa Anda memanggil saya hanya untuk mendengar alasan?" Ellie mengingatkan. Stefan direktur yang rajin, tapi kadang dia terlalu gampang terhanyut dalam percakapan. Jika dibiarkan Stefan bisa betah mengobrol berjam-jam dan belum membahas inti.
"Tidak... tentu saja tidak. Sebentar. Kau duduk dulu."
Ellie duduk di sofa untuk tamu yang ada di sudut ruangan, melihat Stefan mencari sesuatu di mejanya. Map hijau yang dicarinya, ternyata tertindih oleh jas dokter putih miliknya.
"Aku punya penawaran untukmu. Penawaran ini aku berikan padamu, karena aku tahu kau adalah fisioterapis paling handal di sini."
Mata Ellie sudah menancap pada map itu, tapi Stefan belum memberikannya. Dia duduk di depan Ellie, sambil menyodorkan sebotol air.
"Salah satu temanku mengalami kecelakaan tiga bulan lalu, dan kini dia sedang dalam proses pemulihan. Dia terluka cukup parah dibagian panggul dan kepala. Semua lukanya sudah hampir pulih, tapi masalahnya fungsi motorik kakinya belum kembali. Dia orangnya....sedikit sulit."
"Apa dia dirawat di sini?" tanya Ellie.
"Tidak, belum pernah. Dia mengalami kecelakaan di Belgia. Dan kini sedang memulihkan diri di rumahnya."
"Lalu?"
"Aku ingin kau yang melakukan terapi pemulihan fisik padanya, Ellie. Kemampuanmu cukup hebat."
"Saya bisa menjadwalkannya untuk hari selasa dan kamis. Hari lain sudah tidak bisa." Ellie setengah mengeluh saat mengatakannya.
Jadwalnya sudah benar-benar padat. Seharusnya dia tidak menerima pasien baru lagi, tapi Stefan menyebut ini temannya. Ellie tidak ingin mengecewakan. Ellie terlalu banyak berhutang budi pada Stefan.
"Bukan seperti itu. Temanku ini tidak mungkin pergi ke rumah sakit untuk mendapat terapi. Dia itu.... apa ya? Lumayan terkenal. Tidak ada yang boleh tahu tentang keadaannya. Saham perusahaannya bisa-bisa turun drastis kalau berita soal kelumpuhannya sampai bocor keluar."
Ellie mulai mengerti. Dia harus menjadwalkan panggilan rumah. Bukan hal aneh, rumah sakit ini menyediakan fasilitas untuk perawatan di rumah, bagi pasien yang kesulitan pergi ke rumah sakit.
"Di mana alamat rumahnya? Saya akan mengosongkan hari kamis, agar bisa ke sana."
Stefan tidak langsung menjawab pertanyaan sederhana itu. Dia memandang Ellie dengan mata bersalah.
"Dia tidak di London, maupun Inggris. Tapi di Swedia."
Gerakan Ellie membeku, saat mendengar nama negara itu. "Dimana?"
"Swedia." Stefan mengulang sambil tersenyum membujuk.
"Dengar...aku tahu ini mendadak. Tapi aku ingin kau ke sana dan membantunya pulih, mungkin sekitar enam atau tujuh bulan akan cukup. Semangatnya untuk sembuh cukup tinggi, aku yakin dia akan pulih dengan cepat."
Stefan mengira sikap diam Ellie karena penugasan ini mendadak. Tapi salah. Ellie diam karena negara itu membuatnya merasa mual.
"Dan Raven masih cukup muda, dia baru berusia tiga puluh enam. Dengan fisik......"
"SIAPA?! Siapa nama pasiennya?" Ellie memotong penjelasan Stefan dengan kasar, karena mendengar nama yang tidak pernah ingin didengarnya lagi.
"Raven. Raven Corbin Wycliff."
Musim panas di Italia tahun ini, mulai mencapai puncak. Udara yang hangat hanya tinggal kenangan saja.Hanya ada panas menyiksa, yang hanya bisa dilawan dengan segelas es teh dan pohon rindang. Kegiatan favorit semua orang di Genoa, saat ini adalah berpiknik, di sekitar tempat yang sejuk. Karena itu tidaklah mengherankan, melihat sekelompok keluarga bersantai di tepi sungai, siang itu.Yang mengherankan, suara ribut pertengkaran yang terdengar, justru berat dan dalam. Bukan lengkingan ceria atau pun teriakan lucu, yang biasa dikeluarkan saat anak-anak bertengkar.Pertengkaran justru terjadi antara dua pria yang jelas berusia paling tua, dalam rombongan itu. Mereka duduk di atas batu yang ada di tepi sungai, dengan es teh di tangan.Tidak terlihat kalau mereka berdua adalah penyumbang pajak yang terhitung sangat besar pada negara masing-masing tempat mereka tinggal. Perdebatan dan omelan seperti itu, membuat mereka tampak seperti pria paruh baya keras kepala, yang sifat bijak-nya belum
"Apa ini?" Ivy menatap takjub, ke sekeliling apartemen Matteo. Unit apartemen itu tentu saja sama persis dengan miliknya. Semua tatanan interior persis sama. Berwarna putih bersih dan rapi.Tapi jika Ivy mempertahankan tatanan seperti saat membeli, Matteo membuat perubahan mencolok di ruang tengah.Ruang yang seharusnya berisi sofa, dengan TV dan perapian elektrik, berganti rupa menjadi studio lukis. Sofa dan yang lain telah di pindahkan ke tepi. Ada tiga buah easel yang berdiri di depan jendela, menampung kanvas separuh penuh. Aroma thinner danDi sekitarnya, tergantung beberapa lukisan, ada juga kanvas yang sudah selesai dilukis, bersandar pada tembok. Ada juga yang bergantung di dinding.Ivy seakan berada dalam lautan warna yang berpadu memanjakan mata."Kau mencoba melukis manusia?" Ivy menunjuk salah satu kanvas yang ada di easel. Dan menjadi satu-satunya kanvas yang tergambar sosok manusia.Matteo mengangguk. "Tapi sulit."Bagian wajah lukisan itu belum sempurna, meski rambut gel
Raven mengikuti Ellie sambil menunduk dalam-dalam, kembali ke lantai paling atas. Ellie tidak mengucap satu patah kata pun, semenjak keluar dari apartemen Ivy. Dia hanya memandang galak pada Matteo, yang menunggunya dengan cemas, lalu berbalik pergi.Menimbang Ivy masih tenang berada dalam apartemennya, maka itu berarti dugaan Raven amat sangat benar. Ellie mungkin berniat mengatakan semua pada Ivy, tapi tak mampu, setelah menimbang resiko.Raven menarik nafas panjang, dengan galau. Kini dia harus mencari jalan agar Ellie mau memaafkannya. Raven mulai merasa kehidupan Matteo dan Ivy menyebalkan, karena sampai membuatnya bersusah payah seperti ini.Dulu Raven menyelesaikan masalah salah paham Lonan dengan mengajak Ellie menikah, tapi tak mungkin mengadakan pernikahan dua kali, jadi cara itu tak bisa lagi dipakai.Ellie menghenyakkan tubuh ke sofa, lalu melipat tangan di depan dada, menyilangkan kaki, dan masih dilengkapi oleh palingan wajah, yang menolak untuk memandang Raven. Ellie mun
Sumpah serapah diteriakan Matteo dalam hatinya, saat mendengar Ivy menyambut hangat dan menerima bunga itu. Bunga itu buruk sekali seharusnya, karena sama sekali tidak ada warna ungu di sana, tapi Ivy tetap ramah menyambut hadiah itu.Matteo mengeratkan genggaman pada pintunya, saat melihat mereka berdua masuk. Ini adalah ujian terbesar dalam masa pengintaian itu. Matteo ingin sekali menendang pintu apartemen Ivy, dan menyeret pria itu keluar."Berpikir! Berpikir!" Matteo bergumam gelisah, sementara kakinya mondar-mandir tak bisa diam, seakan memaksa otaknya bekerja mencari solusi. Namun kemudian Matteo malah mendesis kesal, saat menemukan jawaban. Karena jawaban itu bukan pilihan menyenangkan. Pilihan pintar, tapi tidak menyenangkan.Matteo menyambar ponsel dengan wajah enggan. Dia tidak ingin melakukan ini, tapi hanya ini satu-satunya jalan yang bisa ditempuh saat ini, sementara dia tidak mungkin muncul di hadapan Ivy. Dan Matteo tahu dia ada di rumah, karena melihatnya masuk ke gedu
Mungkin terdengar sinting, tapi Matteo sungguh merasa iri kepada bangku taman. Dia iri karena bangku itu bisa berada dekat dengan Ivy, sementara dirinya harus puas hanya dengan memandang saja.Saat ini dia merasa lebih sial dari bangku taman yang sedang diduduki Ivy, dan juga kesal luar biasa, karena melihat Ivy tersenyum saat menatap ponselnya.Matteo bersedia membayar mahal, untuk tahu siapa yang sedang mengirim pesan pada Ivy, dan membuatnya tersenyum seperti itu. Matteo bersungguh-sungguh berharap pesan itu bukan dari laki-laki lain.Kemarin Matteo hampir saja kehilangan kendali, dan menyerbu ke dalam Westwood, karena melihat Sean berada di sana. Untung saja Matteo ingat, jika Ivy masih menganggap Sean sebagai anak-anak. Dia tidak perlu mengkhawatirkan soal Sean. Pemuda itu boleh beredar di sekeliling Ivy, dan Ivy tetap tidak akan memiliki perasaan lebih padanya.Matteo menyesal karena sempat melupakan kemampuan Ivy untuk menarik banyak pria saat Dante menjelaskan rencana ini. Dia
Tapi belum cukup bagi Marion. Dia melepaskan genggaman Matteo, lalu mengelus pipi Matteo dengan tangan gemetar."Tapi tidak seharusnya aku meninggalkanmu. Aku tahu apa yang dilakukan iblis itu padamu di ruangan gelap itu. Seharusnya aku membawamu pergi. Tapi aku terlalu takut saat itu. Kalau pergi seorang diri, aku berharap dia tidak akan terlalu marah. Jika membawamu serta, aku yakin dia akan berusaha sangat keras mencariku, meski harus menggali ke dalam lubang yang paling dalam sekalipun. Aku membuatmu menjadi tameng, dengan meninggalkanmu di sana."Sangat jelas terlihat, Marion memendam perasaan itu berulang kali. Tangannya yang mengelus pipi Matteo bergetar dengan sangat hebat, dan wajahnya kini basah kuyup.Matteo meraup tangan yang kini terasa dingin itu, dan memandangnya."Aku sebelum hari ini, mungkin akan marah mendengar ini, tapi aku yang sekarang tidak akan marah maupun membencimu..... Mom." Lidah Matteo sedikit kaku saat mengucapkan kata yang sudah puluhan tahun tidak perna
Ivy menekan tombol lift dengan terburu-buru, karena mendengar getaran ponsel yang ada di dalam tas.Sambil lift sampai di lantai atas, Ivy menjawab panggilan itu. Dia tahu apa yang akan dikatakan oleh si penelpon itu, namun dia tetap harus menjawabnya. Penelpon itu sangat gigih. Dia hampir bisa dika
Keputusan untuk kembali ke apartemen Park Avenue, sepulangnya dari rumah sakit, mungkin bukan hal yang tepat untuk mengembalikan semangat Ivy. Tapi Ivy tidak bisa menghindar, karena Ellie terus mengatakan jika semua sempurna.Ini mengajuk tentang keadaan mereka kini akan kembali bertetangga. Ellie t
Ivy tidak menyukai suasana sunyi di sekitarnya. Dia ingin ada suara yang memanggil namanya saat nanti membuka mata. Bertanya apakah keadaannya baik-baik saja.Ivy juga ingin ada yang menggenggam tangannya, mengelus kepalanya perlahan. Lalu dalam bisikan lembut, mengabarkan jika keadaan dunia baik-ba
Ivy seolah sedang melihat adegan film dalam gerak lambat, menolak jika keadaan yang ada di depannya saat ini adalah nyata. Tidak mungkin dia baru saja melihat Dante menembak Matteo.Tapi semua itu kenyataan. Ivy menatap Matteo perlahan meraba perutnya, lalu mengangkat tangan dengan heran, karena tan







