بيت / Romansa / Menipu Sang CEO Buta / #002 Cinderella Tapi Sad Ending

مشاركة

#002 Cinderella Tapi Sad Ending

مؤلف: aisakurachan
last update تاريخ النشر: 2025-12-12 08:20:18

Caius tidak merasa salah, dan malah tertawa melihat sikap polos itu.

"Apa kau benar-benar kekasih Raven? Biasanya dia memilih wanita yang berada dalam sisi dewasa. Seharusnya ciuman di tangan tidak mengejutkanmu."

Ellie bisa merasakan rasa hangat mengalir ke atas karena amarah. "Aku bukan kekasih Raven!" bentaknya.

"Oh? Tapi..." Caius memandang ruang yang tadi ditunjuk Ellie. Dia salah paham, mengira kekasih yang disebut Ellie berada di dalam sana adalah Raven.

"Lonan? Kau kekasih Lonan? Hoo... Kau lebih cocok untuk Lonan. Dia selalu menyukai gadis mungil dan polos."

Siapapun Caius itu, Ellie membencinya. Tubuhnya memang mungil, tapi dia gadis dewasa berumur 24. Tapi Caius menebak dengan tepat, karena Ellie bisa dikatakan polos dalam hal percintaan.

Diusianya yang kedua puluh empat, Ellie masih mempertahankan status perawan. Bukan kesengajaan, tapi perjuangannya untuk belajar dan bekerja tidak pernah menyisakan waktu untuk bersenang- senang.

Bahkan Lonan juga belum menyentuhnya lebih jauh, mereka hanya sekedar berciuman dan bercumbu. Kali ini bukan seratus persen salah Ellie, Lonan juga ikut andil. Lonan sama sibuknya dengan Ellie. Dia sering berkeliling Eropa untuk mengurus pekerjaan di samping kuliah.

"Well.. karena kau milik Lonan, maka aku tidak tertarik. Selamat tinggal gadis manis." Caius mencoba untuk mengelus pipi Ellie, tapi Ellie berhasil menepis tangan itu sebelum terlambat.

"Fierce! Kau ternyata lumayan." Dengan tawa menyebalkan, Caius meninggalkan Ellie.

"Maaf, Miss Harken. Mr. Wycliff menunggu Anda."

Baru saja Ellie hendak menarik nafas lega karena terlepas dari pengalaman menyebalkan, salah satu pelayan mendekatinya. Dia menunjuk ruang tempat Lonan berada.

"Terima kasih."

Setelah mengangguk sopan, pelayan itu mengantar Ellie sampai di depan pintu tempat Lonan berada. Selama berjalan, Ellie mulai bertanya-tanya apa yang terjadi. Tadi Lonan berjanji akan kembali keluar.

"Mr. Wycliff, Miss Harken sudah datang."

Gumaman tidak jelas menyahut dari dalam, pelayan itu lalu membuka pintu. "Silahkan masuk, Miss."

Baru berjarak sekitar dua meter dari pintu, Ellie menghentikan langkah, sadar jika pria yang menunggunya bukan Lonan, tapi Raven.

"Di mana Lonan?" tanya Ellie.

Tetapi Raven hanya memberi jawaban dengan tatapan tajam. Dia lalu beranjak mendekatinya.

Tanpa disadari Ellie, kakinya mundur dua langkah. Raven terlihat jauh lebih mengintimidasi, padahal ukuran tubuhnya tidak jauh berbeda dengan Lonan.

"Berapa uang yang kau inginkan?" tanyanya, tanpa berkedip pertanda keseriusan.

"Ap... apa maksudmu?" Ellie sebenarnya sudah mengerti apa yang dibicarakan Raven. Tapi dia berharap telinganya salah mendengar. Hal ini yang sejak tadi ditakutkannya semenjak Raven menatapnya dengan penuh penilaian.

"Apa kau masih ingin menikmati permainan menjadi Cinderella ini lebih lama lagi? Atau mungkin kau berencana menempel seumur hidup pada Lonan, seperti lintah yang haus darah?" Raven menyeringai, menghina.

"Tinggalkan Lonan, aku akan memberi berapapun jumlah uang yang kau minta." Raven melanjutkan hinaan.

Ellie sudah sangat ingin menangis mendengar tuduhan Raven. Dia berhasil menyerang titik rawan Ellie dengan tepat.

Ellie sudah merasa menjadi Cinderella hari ini, dengan segala gaun dan perhiasan mahal yang menempel di tubuhnya. Tapi dongengnya tidak akan berakhir indah. Pria yang berdiri di hadapannya itu, berusaha memastikannya.

Dengan suara bergetar Ellie mencoba melawan. "Aku tidak serendah apa yang kau tuduhkan! Aku mencintai Lonan."

"Ha..ha..ha.. Cinta?" Tawa Raven terdengar sumbang dan menyakitkan. Perlahan air mata Ellie turun, tapi dia cepat-cepat menghapusnya.

"Tidak ada gadis yang mendekati Wycliff dengan cinta." Suara Raven bahkan terdengar lebih dingin dari sebelumnya.

"AKU MENCINTAI LONAN! Dan aku tidak butuh uangmu! Permisi." Setelah menyerukan kemarahan, Ellie berbalik menuju pintu. Menurutnya tidak akan berguna meneruskan perbincangan menyiksa ini.

"Ahh!" Tubuhnya limbung, saat tiba-tiba tangannya merasakan tarikan yang cukup kuat.

Ellie sudah bersiap terjerembab ke lantai, tapi ternyata ada yang menyambar perutnya. Punggungnya menabrak tubuh liat, yang terasa keras. Belum sempat mengambil nafas, Raven memutar tubuh Ellie menghadapnya.

"Aku belum bilang kau boleh pergi."

Raven nyaris berbisik saat mengucapkannya, karena jarak mereka memang sangat dekat. Seluruh tubuh Ellie meremang saat mendengar suara itu.

"Lepaskan aku!" Ellie berusaha mendorong Raven menjauh, tapi tenaganya hanya terasa seperti tiupan angin sepoi-sepoi bagi Raven.

"Kau ternyata cukup menarik." Raven menarik dagu Ellie ke atas, mempersempit jarak wajah mereka. Ellie sudah ingin menepis tangan itu, tapi tatapan mata gelap Raven seolah melumpuhkan tangannya.

"Kau mencintai Lonan? Baiklah, buktikan cintamu sekarang."

Dan otak Ellie membeku, juga seluruh tubunya, saat bibir Raven tiba-tiba mendarat sempurna di bibirnya.

Raven dengan rakus melumat seluruh bibir mungil Ellie. Menjelajah setiap sudutnya, tanpa memberi kesempatan pada Ellie untuk mengambil napas.

Rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuh Ellie, saat tangan Raven yang tidak tinggal diam, mulai mengembara ke punggungnya, terus membelai pelan, turun ke pinggang.

Ellie mencoba bernapas, tapi bibir Raven tidak memberinya kesempatan. Saat lidah Raven mulai mengambil alih, Ellie tidak kuasa lagi menahan desahan.

"Cinta omong kosong. Kau bahkan tidak menolakku. Atau kau berpikir Wycliff mana saja tidak menjadi masalah?"

Desahan Ellie seolah menghancurkan mantra ajaib yang melingkupi mereka. Suara Raven memecahkan gelembung hangat yang melingkupi Ellie, melemparnya dalam badai salju dingin yang kejam.

"KURANG AJAR!" Tangan Ellie terangkat, tapi Raven dengan mudah menangkap tangan itu, lalu menarik Ellie mendekat kembali.

"Kau menikmatinya, Manis. Aku bisa merasakan hangat nafsu saat kau menggeliat dalam pelukanku tadi. Dan jujur, aku juga menikmatinya." Tanpa permisi, untuk kedua kalinya, Raven melumat bibir Ellie. Kali ini bahkan dengan lebih intens.

"EL?!" Pekikan lain terdengar, keras dan murka.

"Apa yang kau lakukan? Apa karena Raven kau terlihat gundah malam ini!" Lonan berdiri di pintu dengan mata melotot.

Raven sendiri hanya berdiri dengan wajah datar, setelah melepas tubuh Ellie. Dia tidak berusaha menjelaskan apapun.

Berbeda dengan Ellie yang sudah pucat dan menggeleng dengan mata berlinang. "Ini tidak seperti yang kau bayangkan... Aku..."

Tapi Ellie lalu terdiam. Dalam hati, merasa bersalah. Raven benar, dia menikmati cumbuan itu. Dengan mudahnya menyerah.

"Dan aku sempat mengira kau berbeda dengan perempuan lain!" Tanpa menoleh lagi, Lonan keluar sambil membanting pintu. Meninggalkan Ellie yang jatuh terduduk sambil menutup wajah yang bersimbah air mata.

"Apa kau ingin melanjutkannya?" Raven berjongkok di depan Ellie, sambil tersenyum puas. Tujuannya telah tercapai, dia berhasil memisahkan Ellie dan Lonan.

PLAKK!

Kali ini tamparan Ellie tepat sasaran. Pipi Raven memerah.

"Kalian orang kaya memang menjijikkan! Apa kau begitu menikmati kegiatan menyiksa orang lain?" Ellie bangkit, lalu menyambar vas bunga yang ada di atas meja.

BYUR!

Dia menyiramkan seluruh air yang ada di dalam vas ke tubuh Raven. Air itu dengan telak menyiram wajah Raven, karena posisinya belum berdiri sempurna. Ellie lalu membanting vas itu ke lantai.

"Dasar laki-laki brengsek yang sombong! Selama ini kau mungkin terbiasa mendapat segala yang kau mau, tapi ada sesuatu di dunia ini yang tak bisa kau beli dengan uang. Bawa seluruh uangmu ke neraka sana!"

Ellie menarik putus kalung, dan juga seluruh perhiasan yang ada di tubuhnya, lalu melemparnya ke lantai. Ellie bisa merasakan daun telinganya pedih dan basah. Sobek mungkin, karena dia merenggut antingnya dengan kasar

Jika bisa, Ellie juga ingin melepas gaun pemberian Lonan, tapi itu adalah perbuatan nekat yang bodoh. Maka Ellie melepas sepatu indah yang baru dilihatnya tadi siang, lalu juga melemparnya ke tubuh Raven. Sepatu itu melenting jauh, saat Raven menepisnya.

"Ambil itu kembali. Aku juga tidak sudi menjadi Cinderella." Dengan nafas memburu, Ellie berlari keluar.

Mimpinya sudah selesai. Seharusnya dia mengikuti kata hatinya untuk berbalik pergi, saat melihat kemegahan rumah ini. Dunia itu bukan untuknya.

Dan mulai hari ini dia juga tidak akan sudi melirik ke dunia itu lagi. Ellie lebih memilih untuk menjadi gadis penjual korek api dari pada Cinderella, jika semua pangeran hidup dalam dunia yang mengerikan dan bertindak seperti Raven.

LIMA TAHUN KEMUDIAN

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Yanti
kurang banyak tuh air yg disiram
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Menipu Sang CEO Buta   #End - Suatu Tempat Di Masa Depan

    Musim panas di Italia tahun ini, mulai mencapai puncak. Udara yang hangat hanya tinggal kenangan saja.Hanya ada panas menyiksa, yang hanya bisa dilawan dengan segelas es teh dan pohon rindang. Kegiatan favorit semua orang di Genoa, saat ini adalah berpiknik, di sekitar tempat yang sejuk. Karena itu tidaklah mengherankan, melihat sekelompok keluarga bersantai di tepi sungai, siang itu.Yang mengherankan, suara ribut pertengkaran yang terdengar, justru berat dan dalam. Bukan lengkingan ceria atau pun teriakan lucu, yang biasa dikeluarkan saat anak-anak bertengkar.Pertengkaran justru terjadi antara dua pria yang jelas berusia paling tua, dalam rombongan itu. Mereka duduk di atas batu yang ada di tepi sungai, dengan es teh di tangan.Tidak terlihat kalau mereka berdua adalah penyumbang pajak yang terhitung sangat besar pada negara masing-masing tempat mereka tinggal. Perdebatan dan omelan seperti itu, membuat mereka tampak seperti pria paruh baya keras kepala, yang sifat bijak-nya belum

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 10 - Koleksi Dan Kerinduan

    "Apa ini?" Ivy menatap takjub, ke sekeliling apartemen Matteo. Unit apartemen itu tentu saja sama persis dengan miliknya. Semua tatanan interior persis sama. Berwarna putih bersih dan rapi.Tapi jika Ivy mempertahankan tatanan seperti saat membeli, Matteo membuat perubahan mencolok di ruang tengah.Ruang yang seharusnya berisi sofa, dengan TV dan perapian elektrik, berganti rupa menjadi studio lukis. Sofa dan yang lain telah di pindahkan ke tepi. Ada tiga buah easel yang berdiri di depan jendela, menampung kanvas separuh penuh. Aroma thinner danDi sekitarnya, tergantung beberapa lukisan, ada juga kanvas yang sudah selesai dilukis, bersandar pada tembok. Ada juga yang bergantung di dinding.Ivy seakan berada dalam lautan warna yang berpadu memanjakan mata."Kau mencoba melukis manusia?" Ivy menunjuk salah satu kanvas yang ada di easel. Dan menjadi satu-satunya kanvas yang tergambar sosok manusia.Matteo mengangguk. "Tapi sulit."Bagian wajah lukisan itu belum sempurna, meski rambut gel

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 9 - Sama Dan Beda

    Raven mengikuti Ellie sambil menunduk dalam-dalam, kembali ke lantai paling atas. Ellie tidak mengucap satu patah kata pun, semenjak keluar dari apartemen Ivy. Dia hanya memandang galak pada Matteo, yang menunggunya dengan cemas, lalu berbalik pergi.Menimbang Ivy masih tenang berada dalam apartemennya, maka itu berarti dugaan Raven amat sangat benar. Ellie mungkin berniat mengatakan semua pada Ivy, tapi tak mampu, setelah menimbang resiko.Raven menarik nafas panjang, dengan galau. Kini dia harus mencari jalan agar Ellie mau memaafkannya. Raven mulai merasa kehidupan Matteo dan Ivy menyebalkan, karena sampai membuatnya bersusah payah seperti ini.Dulu Raven menyelesaikan masalah salah paham Lonan dengan mengajak Ellie menikah, tapi tak mungkin mengadakan pernikahan dua kali, jadi cara itu tak bisa lagi dipakai.Ellie menghenyakkan tubuh ke sofa, lalu melipat tangan di depan dada, menyilangkan kaki, dan masih dilengkapi oleh palingan wajah, yang menolak untuk memandang Raven. Ellie mun

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 8 - Tahu Dan Marah

    Sumpah serapah diteriakan Matteo dalam hatinya, saat mendengar Ivy menyambut hangat dan menerima bunga itu. Bunga itu buruk sekali seharusnya, karena sama sekali tidak ada warna ungu di sana, tapi Ivy tetap ramah menyambut hadiah itu.Matteo mengeratkan genggaman pada pintunya, saat melihat mereka berdua masuk. Ini adalah ujian terbesar dalam masa pengintaian itu. Matteo ingin sekali menendang pintu apartemen Ivy, dan menyeret pria itu keluar."Berpikir! Berpikir!" Matteo bergumam gelisah, sementara kakinya mondar-mandir tak bisa diam, seakan memaksa otaknya bekerja mencari solusi. Namun kemudian Matteo malah mendesis kesal, saat menemukan jawaban. Karena jawaban itu bukan pilihan menyenangkan. Pilihan pintar, tapi tidak menyenangkan.Matteo menyambar ponsel dengan wajah enggan. Dia tidak ingin melakukan ini, tapi hanya ini satu-satunya jalan yang bisa ditempuh saat ini, sementara dia tidak mungkin muncul di hadapan Ivy. Dan Matteo tahu dia ada di rumah, karena melihatnya masuk ke gedu

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 7 - Menatap Dan Jauh

    Mungkin terdengar sinting, tapi Matteo sungguh merasa iri kepada bangku taman. Dia iri karena bangku itu bisa berada dekat dengan Ivy, sementara dirinya harus puas hanya dengan memandang saja.Saat ini dia merasa lebih sial dari bangku taman yang sedang diduduki Ivy, dan juga kesal luar biasa, karena melihat Ivy tersenyum saat menatap ponselnya.Matteo bersedia membayar mahal, untuk tahu siapa yang sedang mengirim pesan pada Ivy, dan membuatnya tersenyum seperti itu. Matteo bersungguh-sungguh berharap pesan itu bukan dari laki-laki lain.Kemarin Matteo hampir saja kehilangan kendali, dan menyerbu ke dalam Westwood, karena melihat Sean berada di sana. Untung saja Matteo ingat, jika Ivy masih menganggap Sean sebagai anak-anak. Dia tidak perlu mengkhawatirkan soal Sean. Pemuda itu boleh beredar di sekeliling Ivy, dan Ivy tetap tidak akan memiliki perasaan lebih padanya.Matteo menyesal karena sempat melupakan kemampuan Ivy untuk menarik banyak pria saat Dante menjelaskan rencana ini. Dia

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 6 - Kejutan Dan Kebetulan

    Tapi belum cukup bagi Marion. Dia melepaskan genggaman Matteo, lalu mengelus pipi Matteo dengan tangan gemetar."Tapi tidak seharusnya aku meninggalkanmu. Aku tahu apa yang dilakukan iblis itu padamu di ruangan gelap itu. Seharusnya aku membawamu pergi. Tapi aku terlalu takut saat itu. Kalau pergi seorang diri, aku berharap dia tidak akan terlalu marah. Jika membawamu serta, aku yakin dia akan berusaha sangat keras mencariku, meski harus menggali ke dalam lubang yang paling dalam sekalipun. Aku membuatmu menjadi tameng, dengan meninggalkanmu di sana."Sangat jelas terlihat, Marion memendam perasaan itu berulang kali. Tangannya yang mengelus pipi Matteo bergetar dengan sangat hebat, dan wajahnya kini basah kuyup.Matteo meraup tangan yang kini terasa dingin itu, dan memandangnya."Aku sebelum hari ini, mungkin akan marah mendengar ini, tapi aku yang sekarang tidak akan marah maupun membencimu..... Mom." Lidah Matteo sedikit kaku saat mengucapkan kata yang sudah puluhan tahun tidak perna

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #389 Kesombongan dan Kesalahan

    Matteo menatap bagian belakang kepala Ivy yang sedang menoleh ke kanan dan kiri. Mencari restoran yang cocok untuk mereka makan. Rasa penasaran Matteo masih menumpuk, jadi dia terus mengamati Ivy dengan seksama.Sifat Matteo yang ini sangat mirip dengan Ellie. Namun, ada sedikit perbedaan. Jika Elli

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #387

    "Apa harus seperti ini?"Matteo memandang ruang yang menjadi tempat sesi konsultasi mereka dengan heran. Ivy telah mengubah ruang baca di lantai bawah, menjadi persis seperti ruang konseling yang asli.Ivy memindahkan sofabed ke dekat jendela, sebagai tempat Matteo berbaring, dan kursi nyaman di dek

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #385 Sisi Lain Dan Kebiasaan

    "Apa mereka akan mengikuti kemana pun kau pergi?" Ivy menunjuk dua orang yang kini berdiri di depan rumah. Ivy bisa melihat mereka dengan jelas dari teras lantai dua.Ivy membawa Matteo kesana untuk menikmati pemandangan lembah Neive yang membentang di hadapan mereka. Tentu Ivy yang mengusulkan pik

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #384 Batas dan Waktu

    Ivy meletakkan kedua tangannya pada bahu Matteo."Meski kau tidak ingin menjadi pasienku, aku tetap akan melakukan sesi terapi demi kebahagiaanku. Kau sendiri mengatakan, jika kau tidak bisa membuatku bahagia, maka kini aku akan membantumu agar bisa membuatku bahagia. Sempurna bukan?""Apa kau selal

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status