LOGINCaius tidak merasa salah, dan malah tertawa melihat sikap polos itu.
"Apa kau benar-benar kekasih Raven? Biasanya dia memilih wanita yang berada dalam sisi dewasa. Seharusnya ciuman di tangan tidak mengejutkanmu."
Ellie bisa merasakan rasa hangat mengalir ke atas karena amarah. "Aku bukan kekasih Raven!" bentaknya.
"Oh? Tapi..." Caius memandang ruang yang tadi ditunjuk Ellie. Dia salah paham, mengira kekasih yang disebut Ellie berada di dalam sana adalah Raven.
"Lonan? Kau kekasih Lonan? Hoo... Kau lebih cocok untuk Lonan. Dia selalu menyukai gadis mungil dan polos."
Siapapun Caius itu, Ellie membencinya. Tubuhnya memang mungil, tapi dia gadis dewasa berumur 24. Tapi Caius menebak dengan tepat, karena Ellie bisa dikatakan polos dalam hal percintaan.
Diusianya yang kedua puluh empat, Ellie masih mempertahankan status perawan. Bukan kesengajaan, tapi perjuangannya untuk belajar dan bekerja tidak pernah menyisakan waktu untuk bersenang- senang.
Bahkan Lonan juga belum menyentuhnya lebih jauh, mereka hanya sekedar berciuman dan bercumbu. Kali ini bukan seratus persen salah Ellie, Lonan juga ikut andil. Lonan sama sibuknya dengan Ellie. Dia sering berkeliling Eropa untuk mengurus pekerjaan di samping kuliah.
"Well.. karena kau milik Lonan, maka aku tidak tertarik. Selamat tinggal gadis manis." Caius mencoba untuk mengelus pipi Ellie, tapi Ellie berhasil menepis tangan itu sebelum terlambat.
"Fierce! Kau ternyata lumayan." Dengan tawa menyebalkan, Caius meninggalkan Ellie.
"Maaf, Miss Harken. Mr. Wycliff menunggu Anda."
Baru saja Ellie hendak menarik nafas lega karena terlepas dari pengalaman menyebalkan, salah satu pelayan mendekatinya. Dia menunjuk ruang tempat Lonan berada.
"Terima kasih."
Setelah mengangguk sopan, pelayan itu mengantar Ellie sampai di depan pintu tempat Lonan berada. Selama berjalan, Ellie mulai bertanya-tanya apa yang terjadi. Tadi Lonan berjanji akan kembali keluar.
"Mr. Wycliff, Miss Harken sudah datang."
Gumaman tidak jelas menyahut dari dalam, pelayan itu lalu membuka pintu. "Silahkan masuk, Miss."
Baru berjarak sekitar dua meter dari pintu, Ellie menghentikan langkah, sadar jika pria yang menunggunya bukan Lonan, tapi Raven.
"Di mana Lonan?" tanya Ellie.
Tetapi Raven hanya memberi jawaban dengan tatapan tajam. Dia lalu beranjak mendekatinya.
Tanpa disadari Ellie, kakinya mundur dua langkah. Raven terlihat jauh lebih mengintimidasi, padahal ukuran tubuhnya tidak jauh berbeda dengan Lonan.
"Berapa uang yang kau inginkan?" tanyanya, tanpa berkedip pertanda keseriusan.
"Ap... apa maksudmu?" Ellie sebenarnya sudah mengerti apa yang dibicarakan Raven. Tapi dia berharap telinganya salah mendengar. Hal ini yang sejak tadi ditakutkannya semenjak Raven menatapnya dengan penuh penilaian.
"Apa kau masih ingin menikmati permainan menjadi Cinderella ini lebih lama lagi? Atau mungkin kau berencana menempel seumur hidup pada Lonan, seperti lintah yang haus darah?" Raven menyeringai, menghina.
"Tinggalkan Lonan, aku akan memberi berapapun jumlah uang yang kau minta." Raven melanjutkan hinaan.
Ellie sudah sangat ingin menangis mendengar tuduhan Raven. Dia berhasil menyerang titik rawan Ellie dengan tepat.
Ellie sudah merasa menjadi Cinderella hari ini, dengan segala gaun dan perhiasan mahal yang menempel di tubuhnya. Tapi dongengnya tidak akan berakhir indah. Pria yang berdiri di hadapannya itu, berusaha memastikannya.
Dengan suara bergetar Ellie mencoba melawan. "Aku tidak serendah apa yang kau tuduhkan! Aku mencintai Lonan."
"Ha..ha..ha.. Cinta?" Tawa Raven terdengar sumbang dan menyakitkan. Perlahan air mata Ellie turun, tapi dia cepat-cepat menghapusnya.
"Tidak ada gadis yang mendekati Wycliff dengan cinta." Suara Raven bahkan terdengar lebih dingin dari sebelumnya.
"AKU MENCINTAI LONAN! Dan aku tidak butuh uangmu! Permisi." Setelah menyerukan kemarahan, Ellie berbalik menuju pintu. Menurutnya tidak akan berguna meneruskan perbincangan menyiksa ini.
"Ahh!" Tubuhnya limbung, saat tiba-tiba tangannya merasakan tarikan yang cukup kuat.
Ellie sudah bersiap terjerembab ke lantai, tapi ternyata ada yang menyambar perutnya. Punggungnya menabrak tubuh liat, yang terasa keras. Belum sempat mengambil nafas, Raven memutar tubuh Ellie menghadapnya.
"Aku belum bilang kau boleh pergi."
Raven nyaris berbisik saat mengucapkannya, karena jarak mereka memang sangat dekat. Seluruh tubuh Ellie meremang saat mendengar suara itu.
"Lepaskan aku!" Ellie berusaha mendorong Raven menjauh, tapi tenaganya hanya terasa seperti tiupan angin sepoi-sepoi bagi Raven.
"Kau ternyata cukup menarik." Raven menarik dagu Ellie ke atas, mempersempit jarak wajah mereka. Ellie sudah ingin menepis tangan itu, tapi tatapan mata gelap Raven seolah melumpuhkan tangannya.
"Kau mencintai Lonan? Baiklah, buktikan cintamu sekarang."
Dan otak Ellie membeku, juga seluruh tubunya, saat bibir Raven tiba-tiba mendarat sempurna di bibirnya.
Raven dengan rakus melumat seluruh bibir mungil Ellie. Menjelajah setiap sudutnya, tanpa memberi kesempatan pada Ellie untuk mengambil napas.
Rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuh Ellie, saat tangan Raven yang tidak tinggal diam, mulai mengembara ke punggungnya, terus membelai pelan, turun ke pinggang.
Ellie mencoba bernapas, tapi bibir Raven tidak memberinya kesempatan. Saat lidah Raven mulai mengambil alih, Ellie tidak kuasa lagi menahan desahan.
"Cinta omong kosong. Kau bahkan tidak menolakku. Atau kau berpikir Wycliff mana saja tidak menjadi masalah?"
Desahan Ellie seolah menghancurkan mantra ajaib yang melingkupi mereka. Suara Raven memecahkan gelembung hangat yang melingkupi Ellie, melemparnya dalam badai salju dingin yang kejam.
"KURANG AJAR!" Tangan Ellie terangkat, tapi Raven dengan mudah menangkap tangan itu, lalu menarik Ellie mendekat kembali.
"Kau menikmatinya, Manis. Aku bisa merasakan hangat nafsu saat kau menggeliat dalam pelukanku tadi. Dan jujur, aku juga menikmatinya." Tanpa permisi, untuk kedua kalinya, Raven melumat bibir Ellie. Kali ini bahkan dengan lebih intens.
"EL?!" Pekikan lain terdengar, keras dan murka.
"Apa yang kau lakukan? Apa karena Raven kau terlihat gundah malam ini!" Lonan berdiri di pintu dengan mata melotot.
Raven sendiri hanya berdiri dengan wajah datar, setelah melepas tubuh Ellie. Dia tidak berusaha menjelaskan apapun.
Berbeda dengan Ellie yang sudah pucat dan menggeleng dengan mata berlinang. "Ini tidak seperti yang kau bayangkan... Aku..."
Tapi Ellie lalu terdiam. Dalam hati, merasa bersalah. Raven benar, dia menikmati cumbuan itu. Dengan mudahnya menyerah.
"Dan aku sempat mengira kau berbeda dengan perempuan lain!" Tanpa menoleh lagi, Lonan keluar sambil membanting pintu. Meninggalkan Ellie yang jatuh terduduk sambil menutup wajah yang bersimbah air mata.
"Apa kau ingin melanjutkannya?" Raven berjongkok di depan Ellie, sambil tersenyum puas. Tujuannya telah tercapai, dia berhasil memisahkan Ellie dan Lonan.
PLAKK!
Kali ini tamparan Ellie tepat sasaran. Pipi Raven memerah.
"Kalian orang kaya memang menjijikkan! Apa kau begitu menikmati kegiatan menyiksa orang lain?" Ellie bangkit, lalu menyambar vas bunga yang ada di atas meja.
BYUR!
Dia menyiramkan seluruh air yang ada di dalam vas ke tubuh Raven. Air itu dengan telak menyiram wajah Raven, karena posisinya belum berdiri sempurna. Ellie lalu membanting vas itu ke lantai.
"Dasar laki-laki brengsek yang sombong! Selama ini kau mungkin terbiasa mendapat segala yang kau mau, tapi ada sesuatu di dunia ini yang tak bisa kau beli dengan uang. Bawa seluruh uangmu ke neraka sana!"
Ellie menarik putus kalung, dan juga seluruh perhiasan yang ada di tubuhnya, lalu melemparnya ke lantai. Ellie bisa merasakan daun telinganya pedih dan basah. Sobek mungkin, karena dia merenggut antingnya dengan kasar
Jika bisa, Ellie juga ingin melepas gaun pemberian Lonan, tapi itu adalah perbuatan nekat yang bodoh. Maka Ellie melepas sepatu indah yang baru dilihatnya tadi siang, lalu juga melemparnya ke tubuh Raven. Sepatu itu melenting jauh, saat Raven menepisnya.
"Ambil itu kembali. Aku juga tidak sudi menjadi Cinderella." Dengan nafas memburu, Ellie berlari keluar.
Mimpinya sudah selesai. Seharusnya dia mengikuti kata hatinya untuk berbalik pergi, saat melihat kemegahan rumah ini. Dunia itu bukan untuknya.
Dan mulai hari ini dia juga tidak akan sudi melirik ke dunia itu lagi. Ellie lebih memilih untuk menjadi gadis penjual korek api dari pada Cinderella, jika semua pangeran hidup dalam dunia yang mengerikan dan bertindak seperti Raven.
LIMA TAHUN KEMUDIAN
Ivy mengangkat kepala, saat merasakan terang dibalik pelupuk mata. Sedikit kebingungan, karena begitu sekelilingnya jelas terlihat, dia ternyata tidak sedang terbaring di ranjang.Dia ada di sofa yang dulu dipakai Matteo saat terapi. Ivy akhirnya ingat, dia tertidur saat memeluk punggung Matteo, mendengarnya berbicara.Sepertinya Matteo memindahkannya ke sofa, tapi kini Ivy tidak bisa melihat dimana dia.Suara goresan dari pojok ruangan, menarik Ivy untuk menoleh. Dan wajah Ivy tersenyum, saat melihat Matteo berdiri, di hadapan kanvas, menggoreskan warna pada lembar putih itu.Melihat kanvas yang sudah hampir penuh dengan warna, Ivy menduga Matteo sama sekali tidak tidur. Bukan hanya kanvas, jari dan baju Matteo telah penuh dengan cipratan aneka warna ,yang bercampur sampai terlihat hitam.Terdapat cipratan warna merah di ujung hidung Matteo, pada pipinya ada sedikit warna hijau. Peralatan lukis yang kemarin bersih tanpa noda, sekarang terlihat kotor dan tidak beraturan.Ivy biasanya t
Matteo menatap Ivy yang telah tertidur pulas.Seperti biasa, dia tertidur terlebih dahulu, karena Matteo harus mengerjakan beberapa dokumen. Lagi pula hari ini melelahkan. Pantas jika dia tertidur lebih cepat tadi.Mata Matteo bergulir menatap tangan Ivy yang terbuka di samping tubuhnya. Tangan itu masih menyisakan cat warna ungu di sudut kukunya. Warna yang menjadi lambang tekad Ivy, untuk terus berjuang merawatnya.Ivy mungkin memintanya untuk tidak merasa bersalah, tapi Matteo tidak bisa menghapus perasaan itu dengan mudah. Dirinyalah yang menjadi sumber masalah disini.Matteo menyentuh pipi Ivy sekali lagi lalu perlahan berjalan keluar kamar. Kantuk dan lelahnya menghilang, saat melihat warna ungu itu.Langkah kaki yang tadi mantap saat menuruni tangga, perlahan meragu dan melambat, begitu mendekati sudut tempat alat lukis itu berada.Matteo akhirnya kembali berdiri diam, pada jarak aman seperti tadi siang. Easel dan kanvas yang mencetak tangan ungu Ivy, berdiri diam di bawah sorot
Tapi Matteo menggeleng tak setuju. "Kau tahu cat minyak tidak bisa terhapus dengan mudah dari kulit bukan?""Oh.. NO!"Ivy kini benar-benar panik, memandang tangannya yang berwarna ungu merata. Dia tidak berpikir sejauh itu tadi. Ivy tadi hanya ingin menarik perhatian Matteo, agar rasa khawatir dan ketakutannya terhadap peralatan lukis itu menghilang.Hanya mungkin sekarang caranya terlalu ekstrem. Dengan lesu Ivy menatap kedua tangannya itu. Cat minyak yang tertoreh di sana, mulai kering mengeras."Apa yang tidak bisa dihilangkan dengan air dan sabun?" tanya Ivy."Tidak bisa. Itu hanya berlaku untuk cat air. Ini cat minyak."Matteo mengangkat tangan Ivy, dan tersenyum saat melihat mulut yang berwarna merah jambu itu cemberut."Ayo."Matteo menyambar botol thinner, lalu menarik tangan Ivy menuju ke dapur.Ivy membeli botol itu karena menuruti anjuran dari pemilik toko tanpa tahu apa fungsinya."Letakkan tanganmu di sini."Matteo menyuruh untuk meletakkan tangannya di atas lubang wasta
Mereka tiba di Alba hanya dalam waktu dua puluh menit. Seharusnya tidak selama itu, tapi lalu lintas hari minggu cukup padat merayap.Luigi menjalankan mobilnya perlahan sesuai dengan arahan dari Ivy. Dia menolak memberikan alamat persisnya dimana toko yang menjadi tujuannya. Alih-alih Ivy menggunakan GPS mulut untuk memberi tahu Luigi tikungan yang harus diambil.Petunjuk arah tidak biasa itu juga, yang mungkin membuat perjalanan mereka menjadi lebih lama."Seratus meter lagi, menepi. Lalu berhenti saja di situ."Luigi setelah mendapat persetujuan dari Matteo tadi menuruti setiap perintah yang keluar dari mulut Ivy.Dia menepikan mobil parkir ruang kosong yang tersisa. Jalan itu cukup ramai melihat banyaknya mobil yang berjejer. Penyebabnya tentu saja karena banyak deretan toko di jalan itu. Tapi semua hanya toko kecil, tidak sesuai dengan selera Ivy yang biasa menghabiskan ribuan dollar dalam sekali belanja."Ayo!"Dengan tidak sabar, Ivy menarik tangan Matteo mengikutinya berjalan.
"Dan aku tidak tahu berapa lama," lanjut Aria. Dia akan butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan segala rutinitas baru. Rutinitas untuk tidak lagi mencintai Matteo."Aku mengerti. Aku juga mengerti jika kau tidak ingin lagi bekerja di Viaggio," ujar Matteo. Setenang mungkin. Meski dalam hati dia akan kecewa bila Aria benar-benar keluar. Sangat sulit mendapat karyawan sepintar Aria. Apalagi dia termasuk satu diantara orang langka yang tidak bersikap takut berlebihan pada Ranallo.Aria mendecak. "Apa kau mau memecatku?"Matteo langsung kembali menggeleng panik. "Tidak...tidak seperti itu."Dalam hati, Aria geli karena bisa melihat Matteo dalam keadaan panik seperti itu. Dia belum pernah melihat Matteo panik."Aku hanya ingin memberimu kelonggaran jika memang kau tidak ingin bekerja lagi padaku," jelas Matteo."Aku tidak sepicik itu. Aku akan tetap bekerja. Gaji yang kau tawarkan cukup tinggi. Sebentar lagi, aku akan bisa pindah ke tempat yang lebih bagus dari ini."Aria menunjuk aparte
Dia terlalu nyaman, bersama dengan Matteo tanpa ikatan yang jelas. Padahal pada kenyataannya, apa yang Aria bayangkan, tidak sama dengan apa yang Matteo rasakan.Aria selama ini takut untuk mengambil jalan maju, karena tidak ingin hubungan mereka rusak atau terganggu dengan ungkapan rasa cintanya. Dan sejuta alasan lain yang mencegahnya mengambil langkah ke depan, termasuk bayangan tentang dunia hitam Notte, dunia yang tidak mungkin dipisahkan dari Matteo."Terima kasih, karena telah peduli padaku. Aku ingin mengucapkan ini sejak lama, ketika tahu kau membiayai seluruh kuliahku, tapi Dante melarangku untuk mengatakannya, sadar seharusnya fakta itu rahasia," kata Aria.Matteo menggeleng. "Aku membiayai kuliahmu karena tahu kau berhak mendapatkan itu. Aku tahu seberapa pintar dirimu, jadi bukan hanya karena rasa kasihan. Tidak perlu berterima kasih secara berlebihan padaku. Apa yang diambil oleh ayahku dari keluargamu, lebih dari apa yang aku berikan kepadamu."Aria kembali melihat sisi







