LOGINEllie terhenyak berdiri dari duduknya. Firasat buruk yang melandanya saat Stefan menyebut kata Swedia, seolah menjadi nyata.
"Kecelakaan? Bagaimana keadaannya?"
"Kau mengenalnya?" Stefan heran mendengar pertanyaan Ellie, apalagi sampai terlihat terguncang.
Untung saja Ellie cepat menyadari kesalahannya. "Ah... tidak. Saya hanya pernah membaca soal dirinya beberapa kali. Sepertinya berita soal kecelakaan itu tidak dimuat dimanapun."
Ellie berhasil menghindar. Dia duduk kembali sambil berpura-pura merapikan baju. Menutupi kegelisahan.
"Demi menjaga stabilitas saham perusahaannya, dia memang harus merahasiakan kecelakaan ini. Dia cukup terkenal, seperti yang aku sebut tadi." Stefan akhirnya meraih map hijau itu, lalu menyerahkannya pada Ellie.
"Ini catatan medisnya. Aku sudah memeriksanya dengan detail, dan meninggalkan beberapa catatan tambahan untuk kau tindaklanjuti ketika menyusun daftar latihan fisiknya."
Ellie berusaha keras membaca tulisan di atas kertas itu, tapi matanya perlahan mengabur. Ingatan buruk soal kejadian lima tahun lalu, menerornya tanpa ampun.
Hanya dengan keajaiban dan tekat kuat, Ellie berhasil menahan air matanya. Stefan tidak menyadari kegundahannya. Dia terus menjelaskan detail kondisi Raven.
"Apa harus saya yang mengambil pekerjaan ini?" Ellie akhirnya berani mengajukan keberatan, setelah berhasil menenangkan diri.
"Sebenarnya tidak. Tapi kau lihat sendiri, terapis yang bertugas paling tidak harus meninggalkan London selama berbulan-bulan. Dan hanya kau terapis senior yang belum berkeluarga di sini. Aku tidak tega menyuruh terapis lain berpisah begitu lama dengan keluarga mereka."
Alasan Stefan sangat tepat. Yang dia tidak tahu, alasan Ellie masih melajang sampai sekarang adalah pria yang sedang mereka bicarakan.
"Aku mohon, Ellie. Dia teman lamaku, dan harus merahasiakan keadaannya. Bisa dikatakan rumah sakit ini bisa berdiri karena kebaikannya."
Ellie melemparkan pandangan bertanya. Dia tidak pernah tahu jika rumah sakit ini ber-affliasi dengan Wycliff. Jika tahu Ellie akan menghindar.
"Rumah sakit ini milikku. Tapi Wycliff membantu membangunnya. Tidakkah kau heran kenapa aku bisa memiliki gedung sebagus ini dalam waktu singkat?" Stefan menunjuk tembok secara acak.
Ellie tahu rumah sakit ini memang milik Stefan. Karena itu dia melamar ke sini setelah lulus. Stefan adalah salah satu dosen pengampu di kampus tempatnya kuliah, saat dia mengambil studi fisioterapi.
Stefan baik dan sangat peduli terhadap pasiennya. Karena itu Ellie gembira saat empat tahun lalu, Stefan akhirnya mampu membuka rumah sakit sendiri. Siapa yang menyangka jika Raven ada di baliknya.
Stefan sendiri juga senang saat Ellie melamar ke sini, karena Ellie termasuk dalam murid yang cerdas, menerimanya dengan tangan terbuka.
Kini setelah tiga tahun bekerja di sini, Ellie menjabat sebagai Supervisor fisioterapi, yang membawahi paling tidak lima belas terapis junior. Dan jabatan itu yang membuat Stefan memilihnya. Selain karena status lajang, dia tidak mungkin mengirim terapis junior ke sana.
"Akan ada bonus khusus jika kau menerima pekerjaan ini, " tambah Stefan. Mencoba meyakinkan Ellie dengan alasan lain.
"Anda tahu saya melakukan pekerjaan ini bukan untuk uang." desis Ellie.
"Ini hanya bonus Ellie. Jangan dianggap sebagai penghinaan." Stefan mengangkat kedua tangan, mencegah amarah Ellie. Dia tahu Ellie akan menjadi kabar buruk jika marah. Semua pegawai rumah sakit mengerti jika Ellie penyabar hanya terhadap pasien saja.
"Bagaimana dengan pasienku?" Ellie mengeluarkan senjata terakhir. Tapi Stefan menepisnya dengan mudah.
"Jangan khawatir. Aku sudah berbicara dengan terapis senior lain. Mereka tidak keberatan membagi semua pasienmu diantara jadwal mereka."
Ellie mengeluh dalam hati. Dia menyesal telah berharap. Tentu saja tidak akan ada yang keberatan. Semua penghuni rumah sakit ini akan dengan sukarela menolong siapapun yang disebut teman oleh Stefan.
"Kapan saya harus kesana?" Ellie hanya bisa pasrah. Kalau menolak tanpa alasan Stefan akan curiga.
"Dalam beberapa hari ini? Tapi aku ingin kau membuat daftar latihan dan jadwal untuk Raven sebelum berangkat. Aku ingin memeriksanya dulu."
Ellie mengangguk. Itu rutinitas biasa. Saat menerima pasien, dia memang harus bisa menyusun terapi jenis apa saja yang dibutuhkan pasien, dan segala kelengkapannya, berdasarkan cacatan medik.
Setelah mengambil nafas dalam-dalam, Ellie mulai membaca isi map hijau itu dengan teliti.
"Dia buta?" Ellie terkesiap. Dia melewatkan kalimat itu tadi.
"Benar. Buta dan lumpuh saat ini. Dalam proses penyembuhan juga. Ada sedikit gumpalan darah di kepala akibat benturan saat kecelakaan. Gumpalan itu mengganggu syaraf mata." Stefan kembali terlihat heran, Ellie sekali lagi tampak terlalu terkejut.
"Sebenarnya operasi bisa mengembalikan daya penglihatan dengan cepat. Tapi letak gumpalan itu, sangat tidak strategis. Jika terjadi kesalahan sedikit saja, resikonya dia akan buta selamanya. Dokter mencoba untuk mencairkan gumpalan itu dengan obat. Mudah-mudahan saja berhasil. Tapi seperti fisioterapi, hasilnya baru akan terlihat berbulan-bulan lagi."
Penjelasan itu menyapu seperti angin segar untuk Ellie. Jika Raven buta, berarti dia tidak perlu tahu siapa Ellie.
"Apa Anda sudah mengirim data diri saya kepada Mr. Wycliff?" tanya Ellie dengan hati-hati.
"Untuk apa? Raven tidak berhak menentukan siapa yang aku kirim ke sana. Dia tinggal menerima siapa yang aku kirim. Aku dokternya. Aku hanya harus mengirim foto dan namamu pada sekretarisnya, sekedar untuk membuat kontrak pembayaran gaji. Memang kenapa?" Stefan mengerutkan kening, herannya sudah menumpuk.
"Tidak apa-apa. Hanya penasaran saja. Tidak perlu dipikirkan." Ellie menggeleng panik.
Rencana mulai tersusun di kepalanya. Ellie tidak bisa mengecewakan Stefan, jadi terpaksa menerima, tapi bukan berarti akan maju saja tanpa persiapan.
Musim panas di Italia tahun ini, mulai mencapai puncak. Udara yang hangat hanya tinggal kenangan saja.Hanya ada panas menyiksa, yang hanya bisa dilawan dengan segelas es teh dan pohon rindang. Kegiatan favorit semua orang di Genoa, saat ini adalah berpiknik, di sekitar tempat yang sejuk. Karena itu tidaklah mengherankan, melihat sekelompok keluarga bersantai di tepi sungai, siang itu.Yang mengherankan, suara ribut pertengkaran yang terdengar, justru berat dan dalam. Bukan lengkingan ceria atau pun teriakan lucu, yang biasa dikeluarkan saat anak-anak bertengkar.Pertengkaran justru terjadi antara dua pria yang jelas berusia paling tua, dalam rombongan itu. Mereka duduk di atas batu yang ada di tepi sungai, dengan es teh di tangan.Tidak terlihat kalau mereka berdua adalah penyumbang pajak yang terhitung sangat besar pada negara masing-masing tempat mereka tinggal. Perdebatan dan omelan seperti itu, membuat mereka tampak seperti pria paruh baya keras kepala, yang sifat bijak-nya belum
"Apa ini?" Ivy menatap takjub, ke sekeliling apartemen Matteo. Unit apartemen itu tentu saja sama persis dengan miliknya. Semua tatanan interior persis sama. Berwarna putih bersih dan rapi.Tapi jika Ivy mempertahankan tatanan seperti saat membeli, Matteo membuat perubahan mencolok di ruang tengah.Ruang yang seharusnya berisi sofa, dengan TV dan perapian elektrik, berganti rupa menjadi studio lukis. Sofa dan yang lain telah di pindahkan ke tepi. Ada tiga buah easel yang berdiri di depan jendela, menampung kanvas separuh penuh. Aroma thinner danDi sekitarnya, tergantung beberapa lukisan, ada juga kanvas yang sudah selesai dilukis, bersandar pada tembok. Ada juga yang bergantung di dinding.Ivy seakan berada dalam lautan warna yang berpadu memanjakan mata."Kau mencoba melukis manusia?" Ivy menunjuk salah satu kanvas yang ada di easel. Dan menjadi satu-satunya kanvas yang tergambar sosok manusia.Matteo mengangguk. "Tapi sulit."Bagian wajah lukisan itu belum sempurna, meski rambut gel
Raven mengikuti Ellie sambil menunduk dalam-dalam, kembali ke lantai paling atas. Ellie tidak mengucap satu patah kata pun, semenjak keluar dari apartemen Ivy. Dia hanya memandang galak pada Matteo, yang menunggunya dengan cemas, lalu berbalik pergi.Menimbang Ivy masih tenang berada dalam apartemennya, maka itu berarti dugaan Raven amat sangat benar. Ellie mungkin berniat mengatakan semua pada Ivy, tapi tak mampu, setelah menimbang resiko.Raven menarik nafas panjang, dengan galau. Kini dia harus mencari jalan agar Ellie mau memaafkannya. Raven mulai merasa kehidupan Matteo dan Ivy menyebalkan, karena sampai membuatnya bersusah payah seperti ini.Dulu Raven menyelesaikan masalah salah paham Lonan dengan mengajak Ellie menikah, tapi tak mungkin mengadakan pernikahan dua kali, jadi cara itu tak bisa lagi dipakai.Ellie menghenyakkan tubuh ke sofa, lalu melipat tangan di depan dada, menyilangkan kaki, dan masih dilengkapi oleh palingan wajah, yang menolak untuk memandang Raven. Ellie mun
Sumpah serapah diteriakan Matteo dalam hatinya, saat mendengar Ivy menyambut hangat dan menerima bunga itu. Bunga itu buruk sekali seharusnya, karena sama sekali tidak ada warna ungu di sana, tapi Ivy tetap ramah menyambut hadiah itu.Matteo mengeratkan genggaman pada pintunya, saat melihat mereka berdua masuk. Ini adalah ujian terbesar dalam masa pengintaian itu. Matteo ingin sekali menendang pintu apartemen Ivy, dan menyeret pria itu keluar."Berpikir! Berpikir!" Matteo bergumam gelisah, sementara kakinya mondar-mandir tak bisa diam, seakan memaksa otaknya bekerja mencari solusi. Namun kemudian Matteo malah mendesis kesal, saat menemukan jawaban. Karena jawaban itu bukan pilihan menyenangkan. Pilihan pintar, tapi tidak menyenangkan.Matteo menyambar ponsel dengan wajah enggan. Dia tidak ingin melakukan ini, tapi hanya ini satu-satunya jalan yang bisa ditempuh saat ini, sementara dia tidak mungkin muncul di hadapan Ivy. Dan Matteo tahu dia ada di rumah, karena melihatnya masuk ke gedu
Mungkin terdengar sinting, tapi Matteo sungguh merasa iri kepada bangku taman. Dia iri karena bangku itu bisa berada dekat dengan Ivy, sementara dirinya harus puas hanya dengan memandang saja.Saat ini dia merasa lebih sial dari bangku taman yang sedang diduduki Ivy, dan juga kesal luar biasa, karena melihat Ivy tersenyum saat menatap ponselnya.Matteo bersedia membayar mahal, untuk tahu siapa yang sedang mengirim pesan pada Ivy, dan membuatnya tersenyum seperti itu. Matteo bersungguh-sungguh berharap pesan itu bukan dari laki-laki lain.Kemarin Matteo hampir saja kehilangan kendali, dan menyerbu ke dalam Westwood, karena melihat Sean berada di sana. Untung saja Matteo ingat, jika Ivy masih menganggap Sean sebagai anak-anak. Dia tidak perlu mengkhawatirkan soal Sean. Pemuda itu boleh beredar di sekeliling Ivy, dan Ivy tetap tidak akan memiliki perasaan lebih padanya.Matteo menyesal karena sempat melupakan kemampuan Ivy untuk menarik banyak pria saat Dante menjelaskan rencana ini. Dia
Tapi belum cukup bagi Marion. Dia melepaskan genggaman Matteo, lalu mengelus pipi Matteo dengan tangan gemetar."Tapi tidak seharusnya aku meninggalkanmu. Aku tahu apa yang dilakukan iblis itu padamu di ruangan gelap itu. Seharusnya aku membawamu pergi. Tapi aku terlalu takut saat itu. Kalau pergi seorang diri, aku berharap dia tidak akan terlalu marah. Jika membawamu serta, aku yakin dia akan berusaha sangat keras mencariku, meski harus menggali ke dalam lubang yang paling dalam sekalipun. Aku membuatmu menjadi tameng, dengan meninggalkanmu di sana."Sangat jelas terlihat, Marion memendam perasaan itu berulang kali. Tangannya yang mengelus pipi Matteo bergetar dengan sangat hebat, dan wajahnya kini basah kuyup.Matteo meraup tangan yang kini terasa dingin itu, dan memandangnya."Aku sebelum hari ini, mungkin akan marah mendengar ini, tapi aku yang sekarang tidak akan marah maupun membencimu..... Mom." Lidah Matteo sedikit kaku saat mengucapkan kata yang sudah puluhan tahun tidak perna
Ivy menelan makanannya sudah dengan sangat hati-hati, tapi tetap saja lehernya kembali sakit. Bubur yang ada di mangkuk baru berkurang separuh. Tadi pagi padahal tidak senyeri ini."Tidak enak?" tanya Matteo, saat melihat Ivy meletakkan sendok.Ivy menggeleng. "Sakit." Ivy mengucapkannya tanpa suara
[Aku tidak bisa keluar seperti ini]"Kenapa?"Matteo memandang Ivy, menurutnya tidak ada yang salah dengan penampilan Ivy. Dia baik-baik saja.Ivy mengayunkan tangan di depan wajah. Tapi Matteo masih tidak bereaksi, tidak mengerti. Ivy dengan sabar mengambil buku catatan.[Make up. I need a make up]
Ivy menyapu air dari tubuhnya dengan sangat hati-hati. Mempunyai luka memang menyebalkan. apalagi saat mandi seperti ini. Sangat tidak nyaman, karena harus berhati-hati sekali.Padahal Ivy menyukai kegiatan mandi biasanya. Dia betah berlama-lama di dalam di dalam bath up. Namun kini dia harus cukup
Ivy menolak menjawab dengan lambaian tangan. Kalau Vero mencari tahu, dengan mudah dia akan menemukan skandalnya itu."Oke, tidak masalah." Vero pun tidak mendesak.[Aku masih bisa berbicara normal bukan?] Ivy sedikit panik membayangkan dia akan bisu. Namun lega saat melihat Vero tersenyum."Masih,







