Accueil / Romansa / Menipu Sang CEO Buta / #004 Orang Yang Sama Tapi Sudah Berbeda

Share

#004 Orang Yang Sama Tapi Sudah Berbeda

Auteur: aisakurachan
last update Dernière mise à jour: 2025-12-12 08:45:00

Ellie terhenyak berdiri dari duduknya. Firasat buruk yang melandanya saat Stefan menyebut kata Swedia, seolah menjadi nyata.

"Kecelakaan? Bagaimana keadaannya?"

"Kau mengenalnya?" Stefan heran mendengar pertanyaan Ellie, apalagi sampai terlihat terguncang.

Untung saja Ellie cepat menyadari kesalahannya. "Ah... tidak. Saya hanya pernah membaca soal dirinya beberapa kali. Sepertinya berita soal kecelakaan itu tidak dimuat dimanapun."

Ellie berhasil menghindar. Dia duduk kembali sambil berpura-pura merapikan baju. Menutupi kegelisahan.

"Demi menjaga stabilitas saham perusahaannya, dia memang harus merahasiakan kecelakaan ini. Dia cukup terkenal, seperti yang aku sebut tadi." Stefan akhirnya meraih map hijau itu, lalu menyerahkannya pada Ellie.

"Ini catatan medisnya. Aku sudah memeriksanya dengan detail, dan meninggalkan beberapa catatan tambahan untuk kau tindaklanjuti ketika menyusun daftar latihan fisiknya."

Ellie berusaha keras membaca tulisan di atas kertas itu, tapi matanya perlahan mengabur. Ingatan buruk soal kejadian lima tahun lalu, menerornya tanpa ampun.

Hanya dengan keajaiban dan tekat kuat, Ellie berhasil menahan air matanya. Stefan tidak menyadari kegundahannya. Dia terus menjelaskan detail kondisi Raven.

"Apa harus saya yang mengambil pekerjaan ini?" Ellie akhirnya berani mengajukan keberatan, setelah berhasil menenangkan diri.

"Sebenarnya tidak. Tapi kau lihat sendiri, terapis yang bertugas paling tidak harus meninggalkan London selama berbulan-bulan. Dan hanya kau terapis senior yang belum berkeluarga di sini. Aku tidak tega menyuruh terapis lain berpisah begitu lama dengan keluarga mereka."

Alasan Stefan sangat tepat. Yang dia tidak tahu, alasan Ellie masih melajang sampai sekarang adalah pria yang sedang mereka bicarakan.

"Aku mohon, Ellie. Dia teman lamaku, dan harus merahasiakan keadaannya. Bisa dikatakan rumah sakit ini bisa berdiri karena kebaikannya."

Ellie melemparkan pandangan bertanya. Dia tidak pernah tahu jika rumah sakit ini ber-affliasi dengan Wycliff. Jika tahu Ellie akan menghindar.

"Rumah sakit ini milikku. Tapi Wycliff membantu membangunnya. Tidakkah kau heran kenapa aku bisa memiliki gedung sebagus ini dalam waktu singkat?" Stefan menunjuk tembok secara acak.

Ellie tahu rumah sakit ini memang milik Stefan. Karena itu dia melamar ke sini setelah lulus. Stefan adalah salah satu dosen pengampu di kampus tempatnya kuliah, saat dia mengambil studi fisioterapi.

Stefan baik dan sangat peduli terhadap pasiennya. Karena itu Ellie gembira saat empat tahun lalu, Stefan akhirnya mampu membuka rumah sakit sendiri. Siapa yang menyangka jika Raven ada di baliknya.

Stefan sendiri juga senang saat Ellie melamar ke sini, karena Ellie termasuk dalam murid yang cerdas, menerimanya dengan tangan terbuka.

Kini setelah tiga tahun bekerja di sini, Ellie menjabat sebagai Supervisor fisioterapi, yang membawahi paling tidak lima belas terapis junior. Dan jabatan itu yang membuat Stefan memilihnya. Selain karena status lajang, dia tidak mungkin mengirim terapis junior ke sana.

"Akan ada bonus khusus jika kau menerima pekerjaan ini, " tambah Stefan. Mencoba meyakinkan Ellie dengan alasan lain.

"Anda tahu saya melakukan pekerjaan ini bukan untuk uang." desis Ellie.

"Ini hanya bonus Ellie. Jangan dianggap sebagai penghinaan." Stefan mengangkat kedua tangan, mencegah amarah Ellie. Dia tahu Ellie akan menjadi kabar buruk jika marah. Semua pegawai rumah sakit mengerti jika Ellie penyabar hanya terhadap pasien saja.

"Bagaimana dengan pasienku?" Ellie mengeluarkan senjata terakhir. Tapi Stefan menepisnya dengan mudah.

"Jangan khawatir. Aku sudah berbicara dengan terapis senior lain. Mereka tidak keberatan membagi semua pasienmu diantara jadwal mereka."

Ellie mengeluh dalam hati. Dia menyesal telah berharap. Tentu saja tidak akan ada yang keberatan. Semua penghuni rumah sakit ini akan dengan sukarela menolong siapapun yang disebut teman oleh Stefan.

"Kapan saya harus kesana?" Ellie hanya bisa pasrah. Kalau menolak tanpa alasan Stefan akan curiga.

"Dalam beberapa hari ini? Tapi aku ingin kau membuat daftar latihan dan jadwal untuk Raven sebelum berangkat. Aku ingin memeriksanya dulu."

Ellie mengangguk. Itu rutinitas biasa. Saat menerima pasien, dia memang harus bisa menyusun terapi jenis apa saja yang dibutuhkan pasien, dan segala kelengkapannya, berdasarkan cacatan medik.

Setelah mengambil nafas dalam-dalam, Ellie mulai membaca isi map hijau itu dengan teliti.

"Dia buta?" Ellie terkesiap. Dia melewatkan kalimat itu tadi. 

"Benar. Buta dan lumpuh saat ini. Dalam proses penyembuhan juga. Ada sedikit gumpalan darah di kepala akibat benturan saat kecelakaan. Gumpalan itu mengganggu syaraf mata." Stefan kembali terlihat heran, Ellie sekali lagi tampak terlalu terkejut.

"Sebenarnya operasi bisa mengembalikan daya penglihatan dengan cepat. Tapi letak gumpalan itu, sangat tidak strategis. Jika terjadi kesalahan sedikit saja, resikonya dia akan buta selamanya. Dokter mencoba untuk mencairkan gumpalan itu dengan obat. Mudah-mudahan saja berhasil. Tapi seperti fisioterapi, hasilnya baru akan terlihat berbulan-bulan lagi."

Penjelasan itu menyapu seperti angin segar untuk Ellie. Jika Raven buta, berarti dia tidak perlu tahu siapa Ellie.

"Apa Anda sudah mengirim data diri saya kepada Mr. Wycliff?" tanya Ellie dengan hati-hati.

"Untuk apa? Raven tidak berhak menentukan siapa yang aku kirim ke sana. Dia tinggal menerima siapa yang aku kirim. Aku dokternya. Aku hanya harus mengirim foto dan namamu pada sekretarisnya, sekedar untuk membuat kontrak pembayaran gaji. Memang kenapa?" Stefan mengerutkan kening, herannya sudah menumpuk.

"Tidak apa-apa. Hanya penasaran saja. Tidak perlu dipikirkan." Ellie menggeleng panik.

Rencana mulai tersusun di kepalanya. Ellie tidak bisa mengecewakan Stefan, jadi terpaksa menerima, tapi bukan berarti akan maju saja tanpa persiapan.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Yanti
dan balas dendam pun dimulai.
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Menipu Sang CEO Buta   #026 Sadar Tapi Berharap Tidak

    "Aaaaghhh!" Ellie menjerit kaget, sambil berguling menjauh dari Raven. Dia duduk sambil mencengkeram bajunya erat-erat."Kenapa... Kenapa kau ada di sini? Bukan di ranjangmu sendiri?" Ellie duduk, sambil menunjuk Raven dengan galak."Ranjang? Apa benar kau sudah bangun?" Raven duduk. "Lihat di sekelilingmu dulu! Kau tidak tiba-tiba berubah buta juga bukan?" Ia menunjuk sekitar.Ellie menolehkan kepala cepat, dan menyadari jika mereka masih berada di depan perapian."Aww!" Ellie mencengkeram kepalanya, yang tiba-tiba berdenyut menyakitkan saat bergerak."Aku sarankan sup yang mengandung jahe. Itu akan mengurangi sakit kepala. Lalu mandi air hangat dan kau akan kembali segar," kata Raven. Dia sudah berhasil merambat, dan menarik dirinya ke atas kursi roda.Ellie menekan pelipis, sambil berusaha menarik ingatannya yang berkabut. Dia hanya ingat saat dimana dia mengambil puding dan mengobrol."Kau tak ingat?" Raven kini mulai menyandarkan kepala ke tangan, bersiap untuk kejadian yang past

  • Menipu Sang CEO Buta   #025 Puding Tapi Beralkohol

    "Tapi tadi kau bilang aku tidak beralasan, karena telah membuang perasaan untuk terus bekerja mencari uang. Tapi kau sendiri juga sibuk bekerja setiap liburan!" Raven memprotes karena pernyataan Ellie tidak sesuai dengan tegurannya tadi."Aku bekerja sesuai kewajiban. Bukan untuk mengejar uang. Saat mengambil shift pada masa liburan seperti ini, aku bisa mengurangi beban bagi rekan kerja lain yang memang butuh waktu untuk keluarga. Mereka bisa menggunakan waktu libur dengan lebih baik, dari pada aku yang hanya akan memakainya untuk bergelung di sofa, menonton netflix dengan es krim di tangan. Aku... "Kali ini Ellie mencapit mulutnya dengan jari. Sangat yakin kalau ada yang salah dengan dirinya. Mulutnya terlalu ringan berbicara. Ini tidak normal. Bukan itu saja, kepalanya juga mulai terasa ringan.Raven bertanya tentang sesuatu hal lagi, tapi Ellie tidak mendengarnya dengan jelas, suaranya terasa jauh sekali."Hazel? Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau diam?""Aku baik!" Ellie menjawa

  • Menipu Sang CEO Buta   #024 Puding Tapi Tidak Normal

    "Aku menang apa?" Ellie bertanya heran. Tapi Raven tidak menjawab, dia hanya menggeleng sambil melanjutkan makannya."Kau tidak bisa mengatakan sesuatu yang membingungkan, lalu setelah itu menolak untuk menjelaskan!" Ellie kesal.Raven jelas tidak ingin lagi menjelaskan, tapi Ellie masih penasaran. Sifat Ellie yang paling menonjol adalah terlalu mudah ingin tahu.Dia masih bisa menahan diri, jika sadar rasa ingin tahunya sudah melampaui batas, atau mungkin sudah melewati batas hal pribadi orang lain.Seperti saat dia menahan diri untuk tidak mencari tahu atau bertanya soal hubungan Willow dan Raven yang aneh itu. Meski setengah mati penasaran, Ellie masih bisa bersikap dewasa dan mengunci mulut setiap kali rasa ingin tahu melanda.Tapi situasi yang sekarang sedikit berbeda. Raven menyembunyikan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya."Apa kau marah?" Telinga Raven yang tajam menangkap hembusan nafas Ellie yang memburu."Ya! Kau menyembunyikan sesuatu soal diriku!" dengus Ellie.Raven

  • Menipu Sang CEO Buta   #023 Berdua Tapi Damai

    "Done. Aku akan mengantarmu ke kamar."Ellie mendorong kursi roda itu menuju kamar. Tidak ada Marlow, Sophie maupun Jasper untuk seminggu ke depan. Mereka sedang berlibur untuk menghabiskan liburan akhir tahun bersama keluarga masing-masing.Jasper mengambil liburan yang memang sudah menjadi haknya dengan tenang, tapi Sophie dan Marlow pada awalnya menolak meninggalkan Raven.Mereka justru menyuruh Ellie untuk mengambil liburan seperti Jasper. Tapi Ellie menolak dengan tegas. Dia menjelaskan panjang lebar soal keadaan Raven yang tidak mungkin menghentikan latihan selama seminggu.Bisa-bisa ototnya kembali mengalami penurunan kekuatan lagi. Ini adalah saat-saat di mana Raven harus terus berlatih secara rutin, tanpa jeda seharipun.Ellie juga menjelaskan jika mobilitas Raven sudah cukup lumayan baik, jadi tidak akan ada masalah yang timbul dalam hal memindahkan tubuh Raven. Dengan bantuan Ellie, Raven bisa turun dan naik ke kursi roda sendiri.Penolakan Ellie soal mengambil liburan itu

  • Menipu Sang CEO Buta   #022

    "Aku pergi!" Dengan lelehan air mata di pipi, Willow berlari keluar, hampir menabrak Sophie yang berdiri di depan pintu sedari tadi.BRAK!Kali ini, buih hangat yang menjalari tubuh Ellie, larut karena suara pintu yang ditutup oleh SophieEllie melompat bangun dari pangkuan Raven, dengan nafas terengah. "Kau... Kau!"Dia hanya bisa menunjuk Raven dan mengulang kata itu, Ellie kebingungan memilih ribuan kata umpatan yang berlomba menyerbu lidahnya."Maaf."Raven mengucapkan kata itu dengan lirih. Kata itu menghapus amarah Ellie hampir seketika. Kalau mengakui kesalahan saja terlihat sulit bagi Raven, maka meminta maaf itu terdengar terlalu ajaib lagi. Ellie benar-benar ternganga saat mendengarnya.Perlahan, Raven membalik kursinya ke arah dinding kaca, yang sekarang hanya menampakkan pemandangan gelap. Raven hanya sedang menghindar."Aku tahu kau melakukannya hanya untuk mengusir Willow... Tapi...." Ellie mengusap bibirnya pelan. Separuh dirinya ingin menghapus jejak bibir Raven, tapi s

  • Menipu Sang CEO Buta   #021 Mengerti Tapi Tetap Salah

    "Tunggu, Miss Gilbert! Anda tidak boleh masuk!"Ellie baru saja membuka pintu kamar, ingin mengambil minum di dapur, saat terdengar keributan dari arah tangga. Dan sumber masalah yang membuat Sophie berteriak, terlihat dua detik kemudian.Gadis boneka itu berlari, dengan Sophie di belakangnya mencoba mengejar, juga Marlow. Hanya mereka berdua karena Jasper tidak ada.Maka faktor umur menentukan pemenang. Dengan mudah gadis itu mencapai pintu terlebih dulu meski dengan napas terengah. Ia berlari sekuat tenaga dari lantai bawah sampai ke atas.Baru berhenti, karena ada Ellie menghalangi pintu. "Siapa kau?!" tanyanya, kasar. "Minggir!"Ellie dilanda dilema. Ingin menyingkir, tapi dia juga tahu, gadis itu termasuk dalam orang yang tidak diijinkan oleh Raven untuk melihat keadaannya. "Minggir kataku!""HAZEL! Biarkan Willow masuk, dan kau juga masuk." Suara Raven membuat gadis itu tersentak.Tapi dengan gerakan cepat, dia mendorong tubuh Ellie ke samping, membuat Ellie nyaris terjerembab.

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status