LOGINkenapa tuh 😌😌
"Ke kiri, lalu berhenti di rumah dengan gerbang berwarna hitam," kata Jasper. Memberi petunjuk arah pada Ellie."Kita tidak pulang ke rumah?" Ellie tidak mengenali daerah itu.Rumah Raven yang kemarin masih terletak di daerah hunian. Masih ada rumah di sekitar meski sangat jarang.Tapi rumah yang ini sepertinya terletak di hutan, Ellie hanya melihat pohon dan gelap. Tidak ada sumber cahaya lain, kecuali lampu mobil mereka"Tidak. Terlalu beresiko." Raven yang menyahut. "Kita tidak akan kembali ke sana.""Bagaimana dengan Marlow?" tanya Raven, pada Jasper."Sudah saya kirim pesan. Mereka mengungsi," jawab Jasper. Meski bahunya terluka, Jasper masih bisa mengirim pesan sepanjang perjalanan tadi.Tidak perlu ditanya lagi. Ellie super penasaran mendengar percakapan yang terjadi diantara mereka. Dia ingin bertanya lebih lanjut, soal apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa mereka diserang?Tapi Ellie sadar, ini bukan saat yang tepat, apalagi telinganya menangkap jika suara Jasper tidak seten
"Ada sesuatu yang mengganjal, aku tidak bisa..." "Tidak boleh. Kau seharusnya menghubungi dokter jika ada sesuatu, Raven." Ellie dengan lebih tegas melarang, masih sambil mencekal lengannya.Ellie menarik ponselnya keluar. "Jasper, bisa tolong hubungi dr. Reinhart? Ada gangguan di mata Raven."Sambil memutus panggilan, Ellie bisa mendengar langkah kaki Jasper yang meninggalkan pekerjaannya."Ini hanya gatal, tidak perlu berlebihan dan memanggil dokter!" protes Raven."Kau buta dan matamu sedang dalam masa penyembuhan. Apa saja bisa terjadi! Seperti kakimu tadi!" Ellie memuntahkan rasa kesalnya begitu saja. Untung saja Jasper cepat datang, sebelum Ellie mengomel lebih panjang."Ini, sudah tersambung." Jasper menyerahkan ponsel pada Ellie.Ellie menjelaskan keadaan mata Raven pada dr. Reinhart sedetail mungkin. Dan kali ini Ellie pemenangnya, karena Dokter itu juga menganggap kondisi mata Raven harus mendapat pemeriksaan lebih lanjut. Ellie menyerahkan ponsel itu kepada Jasper, karena
"Aku tahu itu....." Caius tersenyum lebar."Hm?" Ini tanggapan yang diluar angan Ellie sampai membuat matanya melebar. Caius tidak terlihat tersinggung."Aku tahu kau tidak tertarik padaku, El. Tapi bukan berarti aku harus berhenti bersikap baik padamu bukan? Ajakanku tadi termasuk dalam sikap baik" Caius mengucapkannya dengan ringan dan senyum lebar. Ellie bisa melihat jika itu tulus."Kau tahu?" Ellie masih heran di bagian ini.Caius mengangkat bahu. "Pengalamanku sudah cukup banyak untuk tahu kapan gadis tertarik padaku atau tidak. Kau ramah, tapi hanya itu. Aku kecewa tentu saja, karena kau termasuk gadis langka yang tidak tertarik pada uangku. Tapi.... aku terlambat selangkah. Seandainya saja kau bertemu denganku lebih cepat."Caius menjelaskan panjang lebar, sambil menghembuskan nafas penyesalan."Terlambat?" Ellie sedikit bingung."Ya, aku terlambat. Hatimu telah terisi pria lain. Aku pengamat yang cukup jitu, El." Caius menyesap tehnya, sambil memandang Ellie dari balik cangkir
Dan tidak ada perlawanan sengit, Ellie yang semula terkejut, terlarut dengan sangat mudah, seakan tubuhnya telah menunggu Raven.Akal sehat yang selalu dibanggakannya, hilang pada detik yang sama, saat bibir Raven menyentuhnya."Haze, bagaimana bisa kau begitu manis?" desah Raven, sambil menghirup aroma tubuh Ellie dari lehernya."Lepaskan aku!" Secercah kesadaran Ellie, berjuang sekuat tenaga, melawan nafsu yang telah menguasai tubuhnya."Kau menginginkanku, Haze!"Ellie mengingkari dengan gelengan "Lepaskan aku!"Mendengar tangis permohonan dalam suara Ellie, Raven seolah tertampar. Apapun yang mereka sedang lakukan, tidak bisa dibenarkan.Perlahan. Raven bergeser dari atas tubuh Ellie, dan duduk bersandar pada kursi rodanya dengan kepala menunduk. Ellie bangkit berlari keluar, dengan air mata memenuhi wajah. Tapi itu bukan air mata kemarahan atau murka. Seperti Raven, Ellie menyesal telah tergoda dengan begitu mudahnya.Mengesampingkan masa lalu mereka, saat ini Raven adalah pria y
Dari tiga hari mengenal Caius, mungkin ini adalah kali pertama Ellie melihatnya berpikir dengan sedikit serius."Cerita lengkapnya akan sangat panjang, dan melibatkan banyak pihak, jadi aku akan menyampaikan versi sederhananya saja."Ellie mengangkat alis heran. Sepertinya Caius ingin bercerita dengan jujur, tapi dia terbentur oleh suatu hal yang tidak bisa diceritakan dengan bebas."Aku mendekatimu, karena tahu jika wanita yang bersama Raven biasanya palsu.""Palsu? Wanita palsu?! Transgender maksudmu?" Ellie tidak bisa menyembunyikan kekagetan. Ellie tidak akan menghakimi apapun, tapi Raven seharusnya sangat normal. Apalagi dengan jelas menciumnya dengan nafsu dulu."Apa? Ha...ha...ha..."Caius tertawa hebat, sampai terbit air mata, mendengar tebakan Ellie yang terlalu jauh. Ellie juga akhirnya tersenyum kecil. Sadar dia berlebihan."Bukan palsu seperti itu, El!" Caius mengusap air matanya. "Aku ingin tahu bagaimana reaksi Raven, jika tahu kau baru saja meragukan kejantanannya.""Tid
Ellie merapatkan jaket tebal dan sarung tangannya, karena di luar lebih dingin dari bayangannya. Volume hujan salju sudah mulai berkurang, tapi rambut Ellie masih terasa basah, saat butiran salju perlahan mencair. Dia menyesal tidak memakai topi.Perkiraan Ellie, rumah Caius bisa dicapai dengan cepat, tapi ternyata mereka harus berjalan kurang lebih sepuluh menit.Raven dan Caius bertetangga dengan rumah berjejer, tapi luasnya lahan masing-masing rumah, membuat jarak tempuh menjadi cukup panjang untuk bisa sampai di pintu depan."Apa kau membiarkan sistem penghangat sentral menyala?"Ellie bertanya dengan heran, karena merasakan hembusan udara hangat, saat Caius membuka pintu."Tentu saja. Rumahku akan membeku jika kutinggal dalam keadaan mati." Caius menjawab seolah tindakannya adalah wajar.Tapi sebagai warga dalam tingkat ekonomi normal, Ellie mengeluh dalam hati, karena membayangkan banyaknya listrik yang terbuang percuma dan juga tagihan.Namun Ellie menahan teguran itu. Percuma m







