Masuk😏😏rasain tuh
Vero mengangkat jempol, begitu selesai memeriksa keadaan Amadea, menyatakan jika keadaannya yang baik-baik saja, tidak ada yang salah.Ivy mengangguk mengerti. "Terima kasih banyak. Maaf sudah mengganggumu dini hari begini.""Tidak perlu sesopan itu padaku!" Vero tersenyum lalu menyenggol lengan Ivy. "Ngomong-ngomong, kita sudah lama tidak bertemu," kata Vero, sambil memasukkan stetoskop ke dalam tas."Kau sibuk!" Ivy memandang Vero dengan mata menyipit.Beberapa kali sudah dia meminta Vero untuk datang, karena dia sendiri tidak mungkin pergi ke kota dengan mudah. Keharusan membawa pengawal membuart Ivy malas. Tapi jawaban Vero selalu sibuk, sampai Ivy menyerah bertanya.Vero tersenyum bersalah. "Kesibukanku memang gila. Mungkin musim panas dan musim gugur seperti sekarang adalah waktu bagi orang untuk melahirkan. Aku heran sekali di kota kecil ini ternyata banyak orang yang melahirkan," keluh Vero."Mereka membuatku kesepian." Ivy ikut mengeluh.Vero adalah satu-satunya temannya di si
"Bawa dia." Matteo menunjuk Stella, memberi isyarat pada Dom dengan kepalanya. Memintanya menjauh. Memberi kesempatan Leone untuk mendekat dengan aman."OK!" Leone mendekat ke arah Stella, begitu merasa jarak Dom dan ibunya itu sudah cukup jauh.Matteo sendiri berjalan mendekati Amadea, pertanda kepemilikan tawanan telah berganti. Saat bergerak, baik Matteo maupun Leone, tidak melepaskan pandangan. Waspada jika ada gerakan sekecil apapun.Tapi tidak ada gerakan mencurigakan. sampai Matteo berdiri di sebelah Amadea. Wanita itu memandangnya dengan mata nanar. Rasa takutnya belum berkurang. Tidak bisa menebak mana pihak baik dan mana yang buruk.Leone membantu ibunya berdiri, lalu tiba-tiba tangannya merogoh ke dalam mantel. Gerakan kecil yang segera ditangkap oleh mata tajam Matteo.Luar biasa cepat, Matteo menarik keluar dua senjata dari dalam jaket, dan menodongkan satu yang ada ditangan kiri ke arah Leone, yang kanan ke arah pengawalnya.Amadea yang ada di belakang Matteo, langsung me
Matteo tiba dengan rombongan di Saluzzo pada pukul sembilan malam, tepat sesuai janji temu, yaitu antara pukul sembilan dan sepuluh.Pertukaran itu akan terjadi di sebuah kamar hotel yang telah Dante pesan. Jenis hotel yang akan membiarkan tamu masuk dari pintu VVIP, asal bisa membayar mahal. Tanpa perlu identitas maupun tanda pengenal. Kamar itu sudah dibayar lunas oleh Dante.Beriringan mereka berjalan menyusuri lorong hotel yang kosong itu. Tidak terlihat siapapun. Situasi yang juga telah diatur Dante dengan uang."Berjalan yang benar." Matteo kesal karena Stella terus meronta dalam cengkeraman Dom. Stella membuat langkah mereka menjadi lebih pelan.Rontaan itu berlebihan, padahal Dom tidak melakukan apapun yang menyakitinya. Stella hanya menginginkan drama.Stella menjerit lagi, dengan mulut masih tertutup."Aku tidak akan membukanya."Matteo tidak mengerti apa maksud jeritan teredam itu, kemungkinan besar Stella ingin penutup mulutnya itu dibuka.Tidak bisa berbicara mungkin adala
"Dasar babi kejam tidak tahu diri! Anak durhaka!"Stella menumpahkan puluhan cacian yang lain, begitu Matteo memasuki ruangan tempat dia ditawan. Dia diperlakukan dengan baik sesuai dengan instruksi Matteo yang tidak ingin 'barang dagangannya' rusak. Baik dalam hal ini, hanya terikat di kursi, tanpa perlu siksaan."Kau bukan ibuku jadi simpan nafasmu," sahut Matteo santai."Aku sudah merawatmu sejak kecil sampai kau dewasa! Dan ini balasannya? Kau membunuh Luca, dasar makhluk keji!"Matteo sebenarnya ingin mengabaikan semua kata-kata Stella, penyebutan Luca dan membesarkan sampai dewasa, membuatnya terusik."Jika yang kau maksud merawatku sampai dewasa adalah terus mengadu domba antara aku dan ayahku, untuk memperburuk namaku di depannya, maka resmi aku katakan kau ibu yang busuk. Bukan seperti itu cara membesarkan anak. Soal Luca, jangan berpura-pura tidak gembira dia sudah mati. Kau sudah lama menganggapnya produk gagal.""Aku tidak pernah...""Tutup mulutnya." Matteo menunjuk, malas
Sepanjang perjalanan pulang yang durasinya tidak terlalu lama itu, Matteo sama sekali tidak menjawab pertanyaan Ivy.Saat melihat wajahnya yang sedang berpikir keras, Ivy juga akhirnya diam. Meski setengah mati penasaran, tapi dia tidak mungkin mengganggu Mateo.Ivy percaya Matteo pasti akan mengatakan masalahnya, begitu mereka sampai di rumah.Kejutan menanti Ivy begitu mereka memasuki gerbang rumah itu. Ada tiga mobil lain terparkir di halaman rumah itu. Ini semakin memperkuat dugaan Ivy jika ada sesuatu yang terjadi.Pemandangan tidak biasa kembali ditunjukkan saat mereka memasuki rumah.Ruang tamu yang biasa lengang itu, sekarang ke penuh orang. Ada empat orang asing, lima termasuk Dante. Bahkan Luigi dan Mauro yang sedari tadi mengikuti Ivy dan Matteo, juga ikut masuk ke dalam.Padahal biasanya mereka akan menuju ke paviliun belakang, jika Matteo sudah masuk ke rumahKelima orang yang tadi terlihat santai duduk, langsung bangun berdiri saat Matteo masuk. Mereka menyingkir ke tepi
Dengan gerak cekatan, Ivy menebarkan karpet tipis yang akan menjadi di tempat mereka berpiknik.Setelah memastikan karpet itu rapi, Ivy menata semua bekal yang dibawanya. Karena yang menyiapkan semuanya adalah Ivy, maka tidak mungkin dia hanya membawa satu keranjang piknik. Untung saja bukan dirinya sendiri yang harus membawa.Matteo yang mengusulkan mereka berpiknik, dan dengan senang hati membantu Ivy menyiapkan perbekalan itu. Namun Matteo tetap mengeluh dalam hati, saat merasakan beban kedua keranjang itu.Tempat piknik yang dia pilih, berada di puncak bukit kecil. Mereka bisa mencapai setengah perjalanan dengan mobil, tapi harus meneruskan dengan berjalan kaki untuk mencapai puncak bukit Meredith itu,Matteo sempat menyesal karena telah mengusulkan bukit itu sebagai tempat berpiknik. Bukit indah dan cocok sebagai tempat menikmati pemandangan. Kegiatan yang menyenangkan, jika saja tidak dibarengi dengan membawa dua keranjang piknik yang berat.Namun, begitu melihat senyum Ivy, saat







