Войти“Yi Jiaojiao, berhenti membuat ulah!” Nada suara datar mengintimdasi membuat para pelayan bergetar takut.
Putri Yipeng mendengus keras, “Ulah apa? Aku hanya ingin membeli pelacur kecilmu secara sah!” “Aku tidak menjual orangku,” balasnya dingin. Paras tampannya sudah dipenuhi amarah sejak tadi, kesabarannya hampir habis. “Angkat kakimu dari sini atau aku hancurkan gerbang rumahmu!” Ancaman barusan jelas bukan omong kosong belaka. Alih-alih keras kepala, Putri Yipeng berhenti mengacau. Berbalik pergi bersama para dayang. Raja Yan menyentuh pelipisnya, menahan sakit kepala. Dari jendela kereta, Anqi menarik lengan hanfu sulam pria itu, “Yang Mulia ... anda baik-baik saja?” Melotot marah, Raja Yan beralih meremas tangan lembut Anqi. Rahang tegas sang Raja tampak mengetat akibat gejolak kemarahan. “Mei Anqi, kau masih berpikir untuk pergi dari Raja ini?” Tubuh Anqi seketika terjebak kaku oleh rasa takut. Bahkan meringis pun tak berani, terpaksa menelan rasa sakit jepitan Raja Yan pada tangannya. “Bu-bukan seperti itu, anda salah paham Yang Mulia!” Sanggahnya panik. “Ho?” Intimidasi Raja Yan semakin keras, memperpendek jarak keduanya. Hingga deru nafas segarnya menerpa kulit wajah Anqi. “Jelaskan dibagian mana aku salah paham.” “Saya—” “Yang Mulia,” salah satu prajurit pengawal menyela berani. “Mohon menahan diri, lingkungan sekitar terlalu ramai. Tidak bagus kalau Kaisar sampai mendengar masalah hari ini.” Mei Anqi bisa bernafas lega berkat tindakan prajurit tersebut. Refleks tersenyum suka cita ke arahnya sebagai tanda terima kasih. Sang prajurit lantas menunduk, terkejut ketika diberi senyuman. Sedangkan Raja Yan berasap lagi saat melihat Anqi tersenyum untuk pria lain. Sifat posesifnya terhadap sesuatu ‘miliknya’ seakan dipatik. “Bawa kudaku, aku akan naik kereta.” Titahnya sambil lalu pergi menaiki transportasi kuno itu. Alhasil, kereta yang semula terasa luas. Tiba-tiba menjadi sempit. Mei Anqi menahan cemberut, badan Raja Yan tinggi dan kekar setelah ditempa bertahun-tahun di medan perang. Sehingga menelan banyak ruang kosong begitu datang. “Apa? Tidak ingin aku naik satu kereta denganmu?” tanyanya santai, namun bertentangan dengan mata phoenix tajam pria itu. Merasa bahwa leluhur besarnya akan marah, Anqi lantas tersenyum lebar. “Mana mungkin? Tentu saja saya suka bisa bersama Yang Mulia!” Pria di sudut diam tak membalas. Namun terdengar deruan nafas puas. Untunglah, bujukan Mei Anqi berhasil. Kereta pun turut mulai bergerak kembali ke Mansion Yan. Rencana jalan-jalan pupus akibat gangguan Putri Yipeng. Sedih melanda hatinya, andai saja Putri Yipeng tidak datang, Anqi pasti akan mendapat kesempatan bagus. Kapan lagi dia bisa main keluar bersama Raja dan mempererat hubungan? “Turun.” Perintah tegas menarik kesadaran Mei Anqi, pupil caramelnya menatap kaget uluran tangan Raja Yan. Protagonis pria sebenarnya bersedia membantunya turun? “Lambat sekali,” sinis Zhen Ming, kehabisan rasa sabar. Langsung meraih pinggang gadis tersebut dan menggendongnya sepanjang memasuki Mansion Yan. Selama digendong, Mei Anqi terdiam. Lengannya melingkar erat ke sekitar leher Raja Yan. Dia takut salah bicara, jadi lebih baik diam tutup mulut. Jangan sampai menambah kemarahan sang Raja. “Hormat saya, Yang Mulia,” sapa Xiao Bai serta Xiao Yun bersamaan. Raja Yan mengangguk ringan, menurunkan Anqi. Sorot tajamnya masih dingin dan menekan. “Mulai sekarang, kau dilarang keluar halaman selama satu bulan!” Xiao Bai dan Xiao Yun terkejut mendengar hukuman yang tiba-tiba. Apakah nona membuat masalah? Mei Anqi pun tak kalah terkejut, mendongak menatap Raja Yan secepat kilat. “Bagaimana saya bisa melayani Yang Mulia kalau saya dihukum kurungan?!” serunya setengah merengek. Lirikan dingin Raja Yan kian mebekukan, “Siapa pemimpinnya?” tandasnya galak. Mei Anqi langsung berluntut usai diomeli, sadar bahwa dia baru saja melewati batas. Lupa sejenak, tempatnya berada saat ini bukanlah era modern. “Yang Mulia, Qiqi telah lancang karena menentang kebijaksaan Raja. Mohon jangan marah, Qiqi akan patuh menerima hukuman!” “Ketahuilah status rendahmu,” cibirnya, kemudian berbalik pergi meninggalkan halaman. Mei Anqi angguk patuh, takut untuk sekedar mengangkat kepala. Selepas Raja Yan pergi sepenuhnya, Mei Anqi duduk tegak dengan nafas cepat. Kakinya keram, nyaris jatuh karena rasa takut yang masih membekas. “Nona!” “Nona, hati-hati!” Dan begitulah akhirnya, Mei Anqi terpaksa dikurung selama satu bulan penuh. Dilarang keluar dari halaman pribadi barang selangkah kaki pun. Namun, meski terkurung di halaman, Mei Anqi tidak kekurangan apa pun. Ia juga memutar otak, merubah hukuman menjadi kesempatan. Mei Anqi menyibukkan diri untuk membaca buku sejarah setiap hari. Sehingga saat dia menunjukkan kecerdasannya, Raja Yan tidak akan curiga. Selama hampir satu minggu pula, Raja Yan sering berkunjung untuk bermalam karena efek racun timbul lebih sering. Selain itu, Putri Yipeng sesekali datang membawakan banyak hadiah. Sebagai balasan, Mei Anqi harus tunduk di bawah asuhan tangan Putri Yipeng yang memperlakukannya seperti merawat seekor anak kucing. “Nona, hadiahnya mau dibuka dulu?” Xiao Bai bertanya, menggendong dua kotak besar pemberian Putri Yipeng. “Tidak, akan aku buka dilain waktu. Taruh ke gudang penyimpanan, simpan dengan baik.” “Dimengerti!” Setelahnya Xiao Bai pergi bersama Xiao Yun, mengangkut banyak hadiah dari Putri Yipeng. Mei Anqi bersandar lelah ke sofa kayu panjang, bergumam lega, “Setidaknya plot berdarah antara aku dan putri berhasil dihindari.” Kelopak mata yang terasa berat, perlahan menutup. Belum sempat dia terlelap, suara kepala pelayan mengejutkannya. “Nona Mei, saya datang membawa desain gaun musim semi pemberian Yang Mulia.” Meski enggan, Mei Anqi terpaksa bangkit. Memberi salam sopan ke kepala pelayan, kemudian memilih sepuluh set gaun baru musim semi. “Terima kasih, nona. Pakaiannya akan dikirim ke halaman tiga hari lagi.” “Terima kasih kembali Bibi Chen. Oh iya, kapan Festival Chun Jie diadakan?” “Dua minggu lagi tepat dihari pertama bulan pertama sesuai kalender lunar. Ada apa, nona?” Tertawa polos, Mei Anqi menggeleng. “Aku hanya ingin bertanya saja, Bibi Chen.” “Baik, saya mengerti. Kalau begitu saya undur diri dulu.” Bibi Chen pamit, melenggang pergi. Seperginya Bibi Chen, warna kulit Mei Anqi berubah pucat. Bagaimana bisa dia lupa tentang salah satu tokoh antagonis lainnya? Itu adalah Raja Fei! Saudara yang dianggap baik oleh Raja Yan, padahal sejatinya Raja Fei ialah pion rahasia Permaisuri Kaisar! Apabila Putri Yipeng disebut antagonis wanita utama, maka Raja Fei adalah antagonis pria utamanya!Zhen Ming memberi penjelasan singkat mengenai situasi yang sedang terjadi saat ini. Ia turut membeberkan bagaimana Paman Su membujuknya bekerja sama dengan Suku Xiong Nu. Fu Huaicheng menggertakan gigi marah, “Bajingan sampah itu punya nyali melawan langit!” “Paman, sebenarnya apa alasan pecahnya kelompok pemberontak?” Gao Yan melontarkan pertanyaan yang mengganjal dihatinya. “Jika hanya karena lelah menunggu kepastian dari Yang Mulia, kedengarannya kurang masuk akal.”Berapa lama keluarga mereka mengabdi kepada Dinasti Qin? Dan berapa lama pula mereka, para pemberontak, berjuang bersama untuk mengacaukan pemerintahan awal Dinasti Han?“Aku juga ingin mendengarnya, Paman Fu.” Suara dingin Zhen Ming meruntuhkan pertahanan terakhir pria paruh baya itu. Helaan napas panjang dikeluarkan oleh Fu Huaicheng. Bibirnya mengerut benci sebelum mulai menjelaskan dengan teliti. “Selalunya, kami sangat akur satu sama lain dan patuh menunggu Yang Mulia menurunkan perintah kepada kami. Sampai su
“Apa!?” Zhen Xuan sedikit bangkit dari duduk, tangannya memukul keras permukaan meja. “Si maniak obat itu sungguhan terlibat dalam konflik Istana saat ini? Bahkan dalangnya adalah dia!” Dari semua pangeran Istana yang terlahir dengan berbagai latar belakang kuat, mungkin hanya Raja Rong— Zhen Molin yang paling tidak tertarik merebut takhta. Seorang pangeran terbuang seperti Zhen Xuan saja mengetahui rahasia umum tersebut. Ibu Selir dari Raja Rong sempat mengalami depresi sering memukuli putranya yang dianggap tidak berbakti. Para selir melahirkan seorang pangeran bertujuan untuk mendudukan putra mereka di singgasana naga. Hal itu berlaku pada Ibu Selir Raja Rong. Namun Raja Rong kecil keras kepala dan pendiam. Sifatnya yang dianggap aneh membuatnya dijauhi anak-anak bangsawan seumuran. Zhen Xuan sering mendengar para pelayan menggunjing Zhen Molin, menyebutnya sebagai Pangeran terkutuk. Seseorang sekelas Permaisuri Wei saja sampai melewatkan Selir Yong— Ibu Selir d
“Tuan, wanita suci datang.” Pelayan penjaga pintu memberi kabar sebelum mundur meninggalkan ruangan. Xiao Mi membantu melepaskan jubah hangat dari bahu Mei Anqi. Bahu rampingnya yang bulat dan proposional tampak indah dibalik selapis kain tipis transparan. Aroma wewangian bunga bercampur harum manis susu melayang semerbak memenuhi setiap sudut ruang. Dayang muda itu pamit undur diri membiarkan Mei Anqi berduaan dengan Lian Fengjue. “Ah Jue.” Suara lembut Mei Anqi memanggil lambat, bahkan dari suaranya saja hasrat Lian Fengjue langsung dibangkitkan. Pria di balik tirai mencengkeram erat cangkir teh ditangan kanan. Alis tajamnya yang panjang mengerut kesal. Lian Fengjue membenci nafsunya sendiri yang mudah terpatik ketika bersama wanita suci. “Apa lagi yang perlu kamu kerjakan di malam hari?” Omelan pendek Mei Anqi berikan, ia cemberut saat berjalan melintasi papan pembatas. “Ayo tidur. Kamu masih harus berangkat pagi besok.” Batuk canggung keluar dari bibir merah L
“Wanita suci...” Lian Fengjue menghentikan langkahnya, membentang jarak lebar antara ia dan wanita diayunan rotan. “Menungguku dari tadi siang?” Sendi tulang jemari putihnya menggulung, meremas di belakang punggung lurus tegaknya. Memikirkan wanita suci menunggunya pulang menimbulkan rasa senang karena kepulangannya dinantikan. Wanita diayunan rotan meminta dua dayang mundur pergi dari halaman tersebut. Lalu melambaikan tangannya meminta Lian Fengjue mendekat. “Iya, aku menunggu Ah Jue sedari siang tadi. Kemana saja kamu sampai baru pulang larut malam begini?” Jubah putih bersih Lian Fengjue bergerak ketika kaki panjangnya melangkah mantap mendekati ayunan di depan. Ia merelakkan wajahnya disentuh lembut oleh tangan halus wanita suci. “Maaf, sesuatu terjadi di Istana yang mengharuskan kehadiranku.” “Baiklah.” “Wanita suci marah?” “Coba tebak?” Mei Anqi mencubit keras pipi tipis Lian Fengjue diringi desahan berat pria itu. “Aku hampir mati bosan karena menunggumu pulang, tah
“Putri, surat datang dari Yang Mulia Raja Yan.” Xiao Mi berjalan cepat memasuki ruang kamar, menunduk sesaat lalu mengeluarkan kertas lipat dari lengan hanfu dan menyerahkannya. “Silahkan, Putri.” “Terima kasih, Xiao Mi.” Dayang muda itu mengulas senyuman patuh kemudian pergi berjaga di luar pintu. Mei Anqi fokus mengurai ikatan simpul pita berwarna merah menyala yang mengikat surat. Iris caramelnya berkilat geli tepat saat membaca baris pertama tulisan suaminya. [ Nyonya, jangan berselingkuh. ] Begitulah isi bait pertama pembuka surat. Mei Anqi tersenyum lucu membaca baris berikutnya. Suaminya kurang lebih memberitahunya untuk tetap setia dan tidak tergoda rubah jantan di luaran sana. Dengan bangganya Zhen Ming berkata dia bisa menjadi rubah jantan yang menggoda jika istrinya memang menginginkannya. “Rubah jantan? Pfttt.” Jemari indahnya membelai baris lucu tersebut. “Dasar tidak tahu malu,” gumamnya pelan. Ia menopang dagunya seraya meneruskan membaca curah
Mansion Lian, sore hari. “Wanita suci.” Kelembutan pria berjubah plum itu tertuju ke perempuan di atas ayunan rotan. “Apa kamu merindukan Raja Yan?” Serangan mendadaknya mengejutkan si perempuan. “Tidak.” Mei Anqi mengontrol ekspresi supaya sesuai dengan harapan Lian Fengjue. Bisa mengamuk pria itu kalau dia bilang merindukan suami jahilnya. Sapuan angin ringan di pucuk kepala Mei Anqi menandakan kelegaan Lian Fengjue. “Kenapa Ah Jue tiba-tiba membahas Raja Yan dan mengujiku?” Mei Anqi mengayunkan kedua kakinya yang jauh dari tapakan tanah. “Kamu curiga aku membohongimu, ya?” tekanan suaranya melirih. Lian Fengjue dilanda kecemasan usai melihat respon sedih Mei Anqi. “Aku tidak berani meragukanmu wanita suci.” Jelasnya secepat kilat. ”Aku—aku hanya takut....” “Takut?” Kaki panjang Mei Anqi terjulur ke bawah, menapak bumi sekaligus menghentikan tempo ayunan. Lantas ia menepuki atas pahanya. Seolah diberi aba-aba, sedetik kemudian Lian Fengjue berlutut dan menyandar
“Yang Mulia ...” tuturnya terengah-engah. Kedua lengannya meremas erat kepala ranjang, menahan diri agar tidak jatuh kala dihantam pria tersebut dari belakang. “Lebih lembut .... tolong— ngghh!” Raja Yan mengacuhkan rengekan budak kecilnya, malah sengaja bertindak lebih kasar hingga Mei Anqi tida
“Ke mana perginya semua orang?” bertanya bingung, Mei Anqi perhatikan lingkungan mansion tak seramai biasanya. Dua pelayan yang mengikuti dari belakang, saling menyenggol satu sama lain menggunakan siku. Mendesak, siapa yang akan menjelaskannya pada majikan mereka. “Kalian, ada apa?” Berbal
Malam harinya, Mei Anqi senantiasa terjaga demi memenuhi janji pertemuan dengan Raja Fei. Di sisi tubuhnya, tepat di atas bebatuan, terdapat panci kecil khusus yang mampu mengawetkan suhu makanan. Serta keranjang mini berisi kue dan tumisan. Bisa gawat kalau dia harus memanaskan ulang makanan ke
Seorang gadis ramping terlihat duduk sendiri, kesepian. Deruan angin kencang membawa suhu dingin nan menusuk. Mei Anqi terpaksa meraih mantelnya, memeluk diri sendiri lebih erat. Paras eloknya tertunduk emosional, menggigit bibir bawahnya demi menahan isakan memalukan. ‘Aku hampir saja mati m







