Mag-log inSebastian menghampiri, tanpa sepatah kata. Ia memeluk tubuh Moira yang gemetar.“Lepaskan aku, jangan sentuh aku.”Namun, Sebastian semakin memeluknya erat. Tidak peduli, meskipun Moira meronta-ronta dan takut padanya. Saat itu juga, Moira kehilangan kesadaran.Sebastian menatap wajah letih Moira, ia menyentuh dahi Moira yang berkeringat.“Maaf, membuatmu melihat semua ini.”Sementara itu, orang-orang Sebastian sudah berhasil mengalahkan orang-orang suruhan istri Julian. Sebastian meraih tubuh Moira dan memangkunya. Sebelum dia pergi, dia sempat melirik ke arah Christopher yang tergeletak di lantai.“Bawa dia ke rumah sakit,” ucap Sebastian kepada ajudannya. “Sisanya bereskan dengan rapi.”“Baik Tuan.”Sebastian mengayunkan kakinya membawa Moira keluar gedung. Dan dengan hati-hati menurunkan Moira di dalam mobil, saat itu juga Sebastian membawa Moira dan Christopher di mobil yang berbeda menuju rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut.***Dua hari berlalu begitu saja. Perlahan Moira
Istri Julian terkejut. Wajahnya mendadak pucat.“Apa dia datang sendiri?”“Saya melihatnya sendiri, dan sedang melawan orang kita di bawah.”“Cek lagi. Pastikan dia datang sendiri, tanpa bantuan.”Pria itu langsung pergi mengeceknya. Moira yang mendengar itu bertanya-tanya apakah seseorang datang menolong mereka?“Nyonya, tolong lepaskan kami,” pinta Moira terisak.BRUG!Pria yang sebelumnya diminta oleh istri Julian mengecek kondisi di luar, tersungkur ke belakang. Pria itu memegang perut dan hendak bangkit. Orang-orang yang semula memukul Christopher, kini menghentikan aksinya menatap lurus ke depan. Istri Julian cemas.Sosok Sebastian perlahan muncul. Sorot matanya dingin dan tajam. Mereka ketakutan, karena Sebastian benar-benar datang. Christopher menyentuh wajah Moira, tatapannya sendu.“Kamu baik-baik saja?”Air mata Moira semakin deras. “Maaf! Maafkan aku, Chris!”Christopher menggelengkan kepala. Memeluk Moira. “Jangan menangis, aku baik-baik saja.”Moira tahu itu bohong. Waja
Moira melihat istri Julian gugup. Jelas ia tahu, Christopher bukanlah orang biasa. Namun, tetap menantangnya. Istri Julian kembali menjambak rambut Moira, tanpa perasaan. Chris melihat wajah Moira pucat.“Beritahu orangmu untuk melepaskan Belle sekarang. Atau kamu menyesal!” seru Christopher marah. “Menyakiti dia, sama mencari masalah denganku!” bentak Chris.Istri Julian menarik semakin erat rambut Moira.“Aku sudah melangkah sejauh ini. Aku tidak bisa kembali, sekarang aku sudah tidak takut lagi menyinggungmu Tuan Christopher. Tidak peduli sekalipun kamu mengancamku, aku tidak akan melepaskan perempuan ini. Sekalipun harus berakhir di sini, kalian harus ikut bersamaku.”Tekad istri Julian sangat kuat. Christopher mengepal tangan karena marah“Aku pinta padamu sekali lagi, tolong lepaskan Belle sebelum kamu menyesal!”“Tidak akan pernah.”Moira melirik istri Julian. “Nyonya semua ini hanyalah kesalahpahaman. Tolong percaya padaku sekali saja.”Istri Julian mengabaikannya. Ia lebih t
Moira terkejut. Ia mengangkat wajah, matanya terbuka lebar. Rasanya tidak percaya Sebastian datang menolongnya. Mata Moira tertuju ke depan sana, sebelum akhirnya menatap istri Julian yang kini tersenyum penuh kemenangan.“Sudah kubilang, dia akan datang menolongmu.”“Lepaskan ikatan di kakinya. Aku tidak sabar ingin melihat reaksi Sebastian. Pegangi dia, jangan sampai dia kabur.”Dua orang pria yang tadi menculiknya, sedang memegangi lengan Moira yang masih terikat. Moira dipaksa berdiri meskipun tubuhnya lemah.“Aku akan membuatmu melihat kematian Sebastian. Agar kamu mengeri seperti apa rasanya kehilangan pria yang kau cintai.”Moira menggelengkan kepala. Moira takut Sebastian terluka, dan mati di tangan istri Julian. Moira tahu, wanita itu datang dengan persiapan. Dia tidak datang dengan tangan kosong, ia membawa orang-orang bersamanya.“Jika Anda sampai melukai dan membunuh Sebastian. Anda akan berurusan dengan keluarganya, seharusnya Anda tahu Sebastian siapa.”Istri Julian tert
Waktu telah banyak berlalu. Saat Moira tersadar dari obat bius, ia berada di sebuah bangunan tua bertingkat. Bangunan yang sudah lama terbengkalai. Ia melirik ke sekelilingnya, lembap dan membuat bulu kuduknya naik. Di satu sisi kepalanya terasa sakit.“Hallo, apa ada orang di sini?” teriaknya dengan suara yang letih.Tidak ada jawaban, Moira yang masih sakit lemas. Saat berusaha berdiri, Moira baru menyadari kalau kedua tangan dan kakinya diikat. Dengan hati-hati Moira berusaha berdiri, tetapi ia kembali terjatuh. Moira mengingat transaksi antara dirinya dengan pelanggan. Hingga seseorang datang menculiknya sampai kemari. Sontak matanya melotot.“Apa mungkin mereka komplotan untuk menipuku?” gumamnya pelan.Moira tidak diam saja, dia berusaha melepaskan ikatan tangannya. Namun, tetap saja tidak terlepas. Ikatan itu terikat sangat kuat. Dan sesosok pria muncul memperhatikan Moira.“Nona, kau tidak bisa kabur kemanapun.”“Kalian siapa? Kenapa kalian menculik aku?” tanya Moira. “Lepask
Saat Moira membuka matanya, dia sudah berada di rumah sakit. Orang yang pertama Moira lihat adalah Christopher.“Kamu sudah bangun.”“Chris, klub malam—“ Moira berusaha bangun, tetapi di tahan oleh Christopher.“Tetap berbaring. Aku sudah tahu masalahnya dari Belinda, aku akan mencari cara agar klub malam bisa kembali beroperasional.”Air mata Moira kembali menetes. Kenapa di saat ia mendapati masalah, masalah baru kembali datang secara tiba-tiba. Christopher menyeka air mata Moira penuh kehati-hatian.“Jangan sedih. Aku pasti mengusahakan agar klub malam bisa kembali. Namun, kasus ini cukup berat. Jadi, kemungkinan akan memakan waktu cukup lama.”Moira diam, menurunkan pandangannya. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Ia menatap Chris, suaranya tercekat.“Ada apa? Kamu butuh sesuatu?” tanya Chris terdengar lembut.Moira mengatupkan bibirnya. Ingin sekali rasanya meminjam uang pada Christopher, tetapi Moira malu. Chris sudah banyak membantunya. Apalagi uang 2 miliar, bukanlah uang







