Share

Tunangan Sebastian

Penulis: Caramelly
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-19 22:03:21

Moira membeku, ia tersentuh mendengarnya. Bibirnya melukis senyuman manis. Chris membalas senyumannya. Setelah itu mobil yang dikendarai oleh Chris menepi di kawasan elit. Tidak banyak mobil yang terparkir, karena mereka lebih banyak diantarkan oleh sopir pribadi.

Mereka turun dari mobil, saat yang sama, Chris ragu-ragu menggandeng tangan Moira. Moira yang terkejut mendadak berhenti dan melepaskan diri. Chris menatap Moira.

“Malam ini, kamu adalah pendamping wanitaku. Jadi, sudah seharusnya kit
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Candu Sang Penguasa   Kamu Sakit?

    Hari itu, tubuh Moira terasa lemas.Ia berjalan pelan, seperti kehilangan separuh tenaganya. Pikirannya terus berputar, mencari jalan keluar yang tidak ada. Dua miliar. Tiga hari. Ia tidak tahu harus mencari uang sebanyak itu dari mana.Kenapa masalah datang tanpa henti? Sejak kapan Ares membuntutinya? Bagaimana pria itu tahu ia tinggal di hotel ini? Bagaimana Ares tahu tentang Sebastian? Moira merasa diawasi. Tubuhnya bergidik membayangkan Ares menguntitnya dari kejauhan, menunggu waktu yang tepat untuk muncul.Moira resah. Namun, ia harus menyembunyikan kegelisahan itu. Moira turun dari taksi yang mengantarnya ke rumah sakit. Kakinya terasa berat saat melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Ia menarik napas panjang, berusaha mengatur ekspresi wajahnya.Saat tiba di depan pintu kamar rawat Alena, ia berhenti sejenak. Menutup mata, menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Lalu ia menarik pintu. Ekspresi di wajahnya sudah berubah. Seolah tidak ada beban pikiran.Di dalam kam

  • Menjadi Candu Sang Penguasa   Dua Miliar Dalam Tiga Hari

    Siang itu, Moira berdiri di depan cermin kamar mandi. Jemarinya bergerak perlahan, mengoleskan concealer di lehernya. Menutupi tanda merah yang tersebar di sana. Lalu beralih ke dada, menutupi jejak yang sama. Moira menahan napas. Sebastian sangat ganas tadi malam. Jangan sampai ia melewatkannya dan akhirnya dilihat ibunya.“Sebastian, kamu sangat merepotkan.”Bayangan malam itu masih menguasai pikirannya. Sentuhan Sebastian, ciuman Sebastian, cara Sebastian memandangnya dengan mata penuh hasrat. Cara tubuhnya merespons setiap gerakan pria itu tanpa bisa ia tahan. Wajah Moira memerah.Ia harus mengakuinya. Ia menyukai setiap kali bercinta dengan Sebastian. Menyukai cara pria itu menyentuhnya, cara Sebastian membuatnya melupakan segalanya. Moira menggelengkan kepala pelan, berusaha mengusir pikiran itu. Ia harus pergi menjenguk ibu dan Alena. Tidak bisa terus-terusan memikirkan hal seperti ini.Setelah selesai bersolek, Moira mengenakan pakaiannya dari brand ternama. Ia meraih tas mewa

  • Menjadi Candu Sang Penguasa   Peringatan Sebastian untuk Viella

    Moira menatap Sebastian dengan tatapan teduh."Sayangnya," katanya pelan. "Aku tidak memiliki hasrat untuk melayanimu malam ini."Sebastian terdiam. Tangannya yang berada di pinggang Moira tidak bergerak.Moira melanjutkan ucapannya dengan tenang. "Potong saja dari hasil melayanimu nanti. Anggap aku tidak hadir malam ini."Wajah Sebastian berubah dingin. Lebih dingin dari es yang membeku di tengah musim salju.Moira merasakan perubahan itu. Udara di sekitar mereka berubah berat, mencekik. Tangan Sebastian yang tadinya hanya memegang kini menekan ke meja di samping tubuh Moira. Suara benturan pelan terdengar saat telapak tangannya mendarat dengan keras."Seperti inikah caramu menganggapku, Moira?"Moira membeku. Matanya menatap mata Sebastian yang kini menggelap, tidak ada lagi kehangatan di wajahnya. Sebastian meraih rahangnya, jemarinya kuat namun tidak menyakiti. Ia membuat Moira menengadah, memaksanya menatap matanya."Aku tidak tahu cara menyenangkanmu lagi," katanya, suaranya ter

  • Menjadi Candu Sang Penguasa   Ingin Memakanmu Moira

    Wajah Sebastian menggelap. Rahangnya mengeras, kesabarannya berada di ujung tanduk. Ia melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke telinga Viella. Suaranya terdengar rendah, hampir tidak terdengar."Enyah!"Namun, Viella bergeming dan perlahan mengukir senyuman. Tangannya bergerak perlahan, jemarinya meraih kerah jas Sebastian dengan pelan."Aku tidak akan pergi sebelum kamu pulang bersamaku." Suara Viella terdengar lembut. "Jangan lupa, Sebastian. Aku tetap tunanganmu."Viella melirik sekilas ke arah Moira, lalu kembali menatap Sebastian."Aku bisa mengizinkanmu menikahi dia. Selama kamu membuat kesepakatan denganku. Aku janji, akan membantumu menutupi hubunganmu dengan Moira."Moira menatap keduanya dari tempatnya berdiri. Dadanya sesak, ia berusaha bersikap setenang mungkin dan berbicara. "Terima kasih," katanya datar. "Tidak perlu."Viella menoleh ke arahnya. Senyumnya tidak berubah. Moira berbalik, kakinya melangkah menuju pintu. "Aku tunggu di luar.""Tidak perlu,” kata Sebastian sa

  • Menjadi Candu Sang Penguasa   Mempercepat Tanggal Pernikahan

    Moira menatap mata Sebastian, ia melihat ketulusan. Sorot matanya terlihat berbeda, dari biasanya. Mengingat Sebastian selalu bersikap dingin dan penuh misteri itu.Moira menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan."Aku memaafkanmu," bisiknya.Sebastian tersenyum tipis. Senyum yang jarang ia tunjukkan, senyum yang membuat wajahnya terlihat lebih lembut. Tangannya menggenggam tangan Moira sebentar, lalu melepaskannya."Terima kasih," katanya pelan. “Aku pergi dulu.”“Apa kamu akan lama di luar?” tanya Moira.Sebastian menggeleng. “Setelah kamu pulang, pasti aku akan segera di sana.”Setelah itu, Sebastian berbalik dan pergi meninggalkan koridor rumah sakit. Moira berdiri di tempatnya, menatap punggung Sebastian yang menjauh hingga hilang. Moira berpikir tidak seharusnya ia marah pada Sebastian, meskipun Sebastian menyebalkan. Tetapi dia sudah banyak menolong Moira dan keluarganya. Meskipun dengan cara menahan dirinya.***Malam itu, Moira kembali ke kamar hotel dengan perasaan lelah.

  • Menjadi Candu Sang Penguasa   Kamu Terlalu Posesif

    Malam itu, Moira tidak kembali menjenguk adiknya. Ia memilih tinggal di kamar hotel, berbaring dengan pikiran yang kacau. Sebastian masih duduk di sofa, menatap keluar jendela dengan wajah tanpa ekspresi.Ponsel Moira berdering. Ia meraihnya dari meja nakas, melihat nama panggilan berasal dari ibunya. Moira menarik napas, lalu mengangkat telepon."Halo, Bu.""Moira, Nak. Kamu sudah makan?" suara Mauren terdengar lembut di seberang sana."Sudah, Bu. Aku sudah makan." Moira terpaksa berbohong."Syukurlah. Ibu khawatir kamu belum makan karena terlalu lelah.""Ibu tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja.""Besok kamu akan datang lagi, kan?""Ya, Bu. Besok pagi aku akan ke rumah sakit."Mauren terdiam sebentar, lalu berkata lembut. "Ibu senang kamu datang, Nak. Tapi, jangan terlalu mencemaskan Ibu dan Alena. Kami baik-baik saja. Kamu juga harus menjaga kesehatanmu."Moira mengangguk pelan."Iya, Bu.""Kamu harus lebih memperhatikan Sebastian. Dia sudah banyak membantumu. Jangan sampai dia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status