Share

Lelah

last update Petsa ng paglalathala: 2024-01-24 08:11:01

"Gayatri!!! Bangun!!! Mau sampai kapan kamu tidur terus, hah?! Jadi orang gak guna banget!"

Gayatri membuka matanya dengan perlahan. Kepalanya sangat pusing hingga pandangannya pun berkunang-kunang. Dengan sekuat tenaga dan memang memaksakan diri, Gayatri bangun dari tidurnya. Matanya melirik ke arah jam dinding berwarna cokelat kehitaman itu, ternyata sudah pukul lima pagi.

Ghifari yang juga terbangun karena suara teriakan dari neneknya itu langsung berlari ke luar kamar, memberitahukan keadaan ibunya yang sekarang sedang sakit. Ghifari tahu karena tadi dirinya menyentuh pipi Gayatri yang suhunya cukup panas.

Bu Nining masuk ke kamar, dengan wajah yang terlihat kesal, dirinya memarahi Gayatri meskipun tahu kalau menantunya itu katanya kurang enak badan.

"Kamu itu tidak usah manja. Jangan sakit! Ibu tidak mau mengurus kamu dan anak-anak kamu. Nyusahin aja!" Sebelum Bu Nining angkat kaki dari kamar, beliau menambahkan. "Sana pergi ke warung beli obat biar cepat sembuh. Kalau sakit itu jangan dirasa."

Mencoba turun dari tempat tidur, tetapi kepalanya benar-benar berat membuat tubuh Gayatri terjatuh. Ghifari yang kebingungan itu melirik ke arah luar pintu dan ke arah ibunya. "Ibu tidur lagi. Ibu sakit, kan?" tanyanya pelan.

Dengan sigap Ghifari membuka laci dan mengambil satu lembar uang lima ribu kemudian ia berlari menuju warung terdekat. Meskipun Ghifari takut keluar karena masih gelap, tetapi ia akan berpapasan dengan orang-orang yang pulang dari mesjid. Jadi dirinya tidak takut akan bertemu hantu atau penculik.

"Lho? Ghifari? Mamanya mana?" tanya Alin, anak pemilik warung.

"Ibu lagi sakit, Mbak. Badannya panas. Tadi juga pas bangun jatuh dari kasur."

"Sakit? Ghifari ke sini sendirian?"

Ghifari mengangguk pelan. "Iya."

"Nenek sama Damilah ke mana?"

"Nenek marah, suruh ibu beli obat sendiri. Katanya ibu jangan sakit."

Alin memberikan obat pada Ghifari. Setelah memberikan uang kembalian, Alin pamit pada ibunya yang baru saja datang ke warung. Alin akan mengantarkan Ghifari pulang dan sekalian menjenguk Gayatri.

Bu Nining sedang sibuk di dapur, tidak menyadari kalau Alin datang ke rumah sambil menenteng kantong plastik kecil berisi bubur.

"Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot, Lin. Ibu juga bisa sendiri," ucap Bu Nining merasa tidak enak.

"Tidak apa-apa kok, Bu. Lagipula tadi sekalian saya antar Ghifari pulang soalnya kasihan dia takut nanti takut pulang sendiri apalagi sekarang masih gelap."

"Anak ini dasar, padahal nanti bisa Damilah yang pergi ke warung buat beli obat, tapi malah dia duluan yang pergi gak bilang-bilang."

"Saya ijin ke kamar Gayatri dulu, Bu Nining." Setelah memindahkan bubur ke piring, Alin langsung pergi ke kamar Gayatri dan memberikannya makan dan menyuruhnya untuk cepat meminum obat.

"Maafin aku nyusahin kamu ya, Lin," ucap Gayatri lirih.

"Gak apa-apa, Tri. Justru aku itu kasihan sama kamu, makanya aku datang. Tuh, Ghifari sampai bela-belain beliin obat buat kamu. Katanya dia gak mau kamu dimarahin terus sama Bu Nining." Alin menempelkan kain kompresan pada kening Gayatri. "Kamu mau ke dokter?"

Gayatri menggeleng. "Gak usah, Lin. Nanti juga sembuh."

"Nanti anak-anak kamu titipin lagi ke aku, ya. Kayaknya ibu mertua kamu mau pergi ke kebun lagi."

"Iya. Kemarin bilang mau petik kapulaga. Nanti kalau aku udah mendingan mau nyusul ke sana."

"Kamu gak perlu pergi ke sana, Tri. Kamu lagi sakit. Biarin aja mertua kamu ke kebun sendiri, toh hari ini hari Minggu, anaknya pasti libur, kan?" Alin terlihat kesal mendengar Gayatri yang selalu bela pada mertua menyebalkan itu.

"Damilah mana mau diajak kerja di kebun, Lin."

Alin mengembuskan napas. Dirinya memilih untuk pergi karena tidak mau nanti penghuni rumah curiga dan menguping pembicaraan mereka. Alin juga tahu sedari tadi Damilah berdiri di balik tembok kamar. Untung saja Alin berbicara berbisik-bisik, jadi Damilah tidak akan bisa laporan kepada ibunya.

***

Pukul sepuluh pagi Gayatri sudah menyelesaikan pekerjaan rumah. Sedikit memaksakan diri meskipun pusing di kepalanya belum juga hilang, tetapi jika Gayatri terlihat bekerja itu akan cukup baik, mengingat di rumah masih berantakan karena jam enam pagi Bu Nining langsung pergi ke kebun sementara jam tujuh pagi Damilah sudah pergi main entah ke mana dan dengan siapa.

Tukang sayur keliling juga sudah datang membawa pesanan Gayatri. Uang belanjaannya kurang dan terpaksa Gayatri mengutang, mengatakan pada tukang sayur itu jangan bilang-bilang ke Bu Nining kalau Gayatri punya utang.

Setelah semua pekerjaan selesai, Gayatri langsung tidur. Dia tidak mencari Ghifari dan Baiq karena kedua anaknya itu tadi terlihat sedang bermain bersama Bu Mina, guru PAUD, yang meskipun hari Minggu, di rumahnya tetap ada aktifitas mengajar kala anak-anak didiknya ingin bermain atau belajar. Jadi terserah mereka mau yang mana. Seharusnya Ghifari juga sudah masuk PAUD, tetapi Bu Nining tidak mengijinkannya.

"Gayatri! Gayatri!"

Suara ibu, batin Gayatri.

Gayatri bangun dari tidurnya. Suara Bu Nining masih jelas terdengar. Ternyata sekarang sudah hampir pukul satu, Bu Nining sudah datang dari kebun sementara Gayatri belum masak nasi.

"Gayatri cepat angkat jemuran mau hujan! Jangan tidur terus! Bangun!!!"

Hujan?

Dengan tergopoh-gopoh, Gayatri berlari ke luar rumah dan membantu Bu Nining mengangkat jemuran. Hujan belum turun, baru saja mendung dan suara guntur terdengar dari kejauhan.

"Bisanya tidur mulu! Tidur terus! Sudah tahu mau hujan, malah enak-enakan tidur. Dasar, gak punya pikiran." Bu Nining melemparkan jemuran ke teras depan. "Ibu, kan, sudah bilang, kalau sakit itu jangan dirasa. Harus dilawan. Manja banget, sih, jadi orang. Sana pergi petik kapulaga. Ibu mau mandi dulu."

Belum ada lima menit Bu Nining masuk ke rumah, Bu Nining berteriak karena Gayatri belum memasak nasi.

"Gayatri!!!"

Gayatri menghela napas. "Iya, Bu? Ada apa?"

"Ada apa, ada apa. Cepat sini masak nasi! Sudah siang belum ada nasi juga. Sudah tahu ibu cape harusnya kamu masak, jangan semua pekerjaan ibu yang ngurus."

Gayatri meninggalkan pekerjaannya. Ia berlari ke dapur untuk menanak nasi.

Selesai mandi, Bu Nining kembali berteriak karena Gayatri tidak kunjung ke halaman depan membantunya memetik kapulaga.

"Gayatri! Kamu ini orangnya males banget. Kamu dari tadi ngapain aja? Kenapa kapulaga ini malah ditinggal bukannya dipetik, hah?"

"Kan saya lagi masak nasi, Bu. Ibu tadi yang nyuruh saya buat cepat-cepat masak nasi."

Bu Nining terdiam. Malu mungkin karena sudah memarahi Gayatri.

Tidak berapa lama Damilah datang, hujan juga mulai turun. Damilah pergi ke dapur untuk makan karena lapar, tetapi di dapur belum ada makanan sama sekali.

Bu Nining yang tadi sempat tenang kembali marah dan meluapkan kekesalannya pada Gayatri.

"Cepat masak sana! Dari tadi kamu ngapain aja, sih? Anak-anak kamu ke mana? Kalau nitipin anak ke orang itu jangan lama-lama. Sana pergi jemput anak kamu sambil beli makanan sana. Nanti kita makan sama apa? Makan batu?"

Gayatri mengambil payung dua. Tubuhnya mulai panas dingin lagi. Gayatri mencoba menguat-nguatkan tubuhnya supaya bisa sampai ke warung Alin. Tapi sayangnya, karena tubuhnya terlalu lemah dan lelah soalnya dari tadi pagi hanya makan bubur dan belum makan apa-apa lagi, tubuh Gayatri jatuh ke jalanan yang mulai becek. Gayatri pingsan akibat kelelahan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Cinderella Karena Mertua   Bersanding

    Mata Gayatri menatap jam dinding di kamarnya. Sekarang jam menunjukkan pukul setengah lima pagi dan Gayatri sudah terbangun gara-gara perutnya lapar. Dengan berjalan mengendap-endap supaya tidak membangunkan tamu yang sedang tertidur lelap di rumahnya.Gayatri makan roti tawar dan menyeduh susu cokelat. Ia tidak bisa memasak karena kemarin tidak belanja, orang-orang yang ada di rumah membeli nasi dan lauk dari luar.Hari ini sepertinya warung kupat tahu Gayatri harus tutup kembali karena tidak ada bahan-bahan dan tubuh Gayatri belum sepenuhnya pulih."Sudah bangun, Tri?" Bram tiba-tiba ikut duduk di dapur, menemani Gayatri."Saya bikin gaduh, ya? Maaf kalau saya ngebangunin Pak Bram.""Nggak, kok. Saya kebetulan memang sudah bangun.... Kamu lapar? Biar saya yang beli sarapan kamu tunggu di sini.""Nggak usah, Pak. Biar saya saja yang belanja." Gayatri mencegah. Gayatri merasa tidak enak juga tiga hari ini Bram dan Cindy direpotkan olehnya."Kondisi tubuh kamu, kan, belum terlalu fit.

  • Menjadi Cinderella Karena Mertua   Membuka Hati?

    Sesuai janji, Bram mengajak Gayatri dan kedua anaknya jalan-jalan setelah kemarin seharian main ke Mall. Hari ini mereka pergi ke kebun binatang, itu permintaan Baiq karena dirinya ingin melihat gajah yang besar dan jerapah yang tinggi. Setelah puas berkeliling kebun binatang, mereka pergi ke water boom soalnya Ghifari ingin renang. Ia belum pernah ke kolam renang, dulu ia sering renang di sungai. Ah iya, waktu mereka di Tanggerang, mereka belum sempat pergi ke rumah orang tuanya Bram, padahal di sana ada kolam renang.Baiq dan Ghifari pindah-pindah berenangnya. Sebentar-sebentar di tempat mandi bola kemudian pindah ke tempat mandi busa. Baiq paling senang saat main perosotan. Gayatri sudah was-was saja melihat Baiq yang sudah beberapa kali naik ke perosotan. Takutnya pas melesat ke bawah, Baiq tenggelam. Meskipun kolamnya tidak dalam karena kolam khusus anak kecil, tetap saja Gayatri harus sigap dengan situasi apapun yang akan terjadi."Kenapa kamu nggak ikut berenang aja? Tuh ibu-ib

  • Menjadi Cinderella Karena Mertua   Kembali Melangkah

    Ghifari memerkirakan sepedanya di depan rumah kontrakan bercat kuning gading. Di teras depan terdapat gerobak, meja dan kursi. Ada beberapa orang yang sedang duduk-duduk santai sambil mengobrol banyak hal."Bu, aku pulang," ucap Ghifari sambil mencium tangan Gayatri yang tengah mengulek bumbu kupat tahu."Kalau mau makan, lauk sama nasinya ada di meja makan ya. Jangan lupa ganti baju dulu.""Baik, Bu." Ghifari mengangguk patuh. Ia makan bersama adiknya yang sedang bermain mobil-mobilan sendiri. Biasanya jam segini Baiq sedang bermain di luar bersama anak-anak kontrakan yang lain."Jadi gimana, Mbak Tri? Mau ndak?" tanya Mbak Iim."Buat Mbak Diajeng saja," jawab Gayatri singkat.Orang-orang yang sedang di sana tertawa terbahak."Mbak Tri ini piye to? Dikasih lanang kok ndak mau?" Mbak Iim menggelengkan kepalanya. "Mbak Diajeng kan sukanya sama Mas Danang ya jelas nggak bakal milih Mas Adi."Gayatri hanya tersenyum kecil.Kini Gayatri tinggal di kota Semarang. Sudah hampir lima bulan ia

  • Menjadi Cinderella Karena Mertua   Kesadaran Hendar part 2

    Sakit. Hendar merasakan rasa sakit yang teramat hebat pada tubuhnya. Ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Rasanya sangat berat dan kaku. Hendar tersadar tetapi matanya enggan terbuka. Telinganya juga mendengar suara-suara yang berada di sekitarnya.Aku kenapa? Hendar bertanya-tanya dalam hatinya."Ma! Mas Hendar gerak! Ia sudah sadar!"Sebuah suara yang tak asing itu membuat mata Hendar yang terpejam terbuka. Hal pertama yang Hendar lihat adalah cahaya putih yang menyilaukan matanya.Gayatri!Ketika teringat dengan Gayatri, Hendar sekuat tenaga mencoba bangun tetapi hasilnya tetap nihil. Ia masih tidak bisa bergerak.Gayatri, aku harus bertemu dengan Gayatri sekarang!Dalam hatinya Hendar terus menggumamkan nama Gayatri. Betapa menyesal hatinya atas apa yang telah ia lakukan selama ini.Dokter dan para perawat datang dan segera memeriksa Hendar sementara Hita dan ibunya disuruh keluar supaya tidak mengganggu pemeriksaan.***Gayatri membereskan dagangannya kare

  • Menjadi Cinderella Karena Mertua   Kesadaran Hendar part 1

    Akhir-akhir kepala Hendar selalu pusing, pusing yang benar-benar berat dan kepalanya seperti berputar-putar. Hendar sempat memeriksakannya ke dokter dan kata dokter Hendar sehat-sehat saja tidak ada masalah yang serius. Ketika tertidur, mimpi Hendar pun tidak pernah indah. Ia sering bermimpi yang abstrak dan seram. Ia selalu memimpikan Gayatri, setiap hari mau itu ketika ia tidur di malam hari maupun saat tidur siang, Gayatri selalu hadir dalam mimpinya.Bahkan sudah dua minggu ini ia tidur terpisah dari Hita soalnya kata Hita Hendar kalau tidur sering teriak-teriak bahkan menangis meraung. Saat Hendar bermimpi rasanya seperti nyata."Mas, ayo makan!" Hita berteriak dari dapur.Hendar yang sedang berada di ruang kerjanya segera menghampiri. Perutnya yang sedang keroncongan menghirup aroma masakan yang dibuat oleh pembantu rumah tangganya itu seketika cacing-cacing di perut menjerit-jerit, lapar minta makan."Nih, Mas, cobaih deh. Tadi Bi Uun beli keong sawah. Aku penasaran sama rasany

  • Menjadi Cinderella Karena Mertua   Hampa

    "Tri, tolong buatkan saya kopi."Cindy menoleh sambil mengerutkan kening kemudian ia tertawa kecil. "Kakak ini emang susah dibilangin ya, pengurus Citra sekarang kan Mbak Ela bukan Mbak Gayatri lagi."Bram mengangkat kepalanya. Ia menatap ke arah Ela yang sedang mengelap meja dapur.Sudah hampir dua bulan lamanya Gayatri tidak bekerja lagi di rumah Bram. Setelah kejadian pengusiran Bu Nining, Hendar memberikan modal usaha untuk Gayatri dan meminta Gayatri untuk tidak lagi bekerja pada Bram. Meskipun Hendar hilang ingatan dan sudah bercerai, tetapi di lubuk hatinya yang paling dalam, Hendar merasakan sebuah kecemburuan saat melihat Bram bersama dengan Gayatri.Bram setuju-setuju saja, tapi ia meminta waktu pada Hendar untuk mencari pengganti Gayatri, barulah jika sudah ada, Gayatri diperbolehkan berhenti bekerja di rumahnya."Mau ke mana, Kak?" tanya Cindy."Keluar dulu sebentar.""Gak jadi ngopi?""Nggak." Bram mengambil jaket dan kunci mobilnya.Cindy tidak lagi bertanya lebih. Toh

  • Menjadi Cinderella Karena Mertua   Gara-gara Kucing

    Gayatri menaburkan bunga ke atas air laut dermaga, ini sudah ke empat puluh harinya Hendar. Waktu memang tak terasa cepat berlalu, rasa-rasanya baru saja kemarin Hendar masih berada di sisinya, bermain dengan kedua anaknya, mengajaknya jalan-jalan dan lain sebagainya. Tapi, semua itu hanya tinggal

  • Menjadi Cinderella Karena Mertua   Akikah Cucu Kesayangan

    Sudah beberapa hari ini Baiq sering sekali menangis tiba-tiba, apalagi setiap malam hari sampai subuh Baiq tidak pernah berhenti menangis dan sulit untuk tidur lagi. Dibujuk dengan berbagai cara tetap tidak mempan. Bu Nining yang terganggu dengan suara tangisan dari Baiq itu selalu marah-marah dan

  • Menjadi Cinderella Karena Mertua   Berhemat yang Menyiksa

    Piring makan keramik itu terbang melayang kemudian jatuh ke atas lantai dapur dan pecahannya berhamburan ke mana-mana. Bu Nining sengaja melemparkan piring tersebut karena kesal pada Gayatri, pasalnya Gayatri tidak memasak masakan kesukaan Bu Nining dan Damilah. Hari ini Gayatri tidak masak karena

  • Menjadi Cinderella Karena Mertua   Menghilangnya Hendar

    Gayatri menangis tersedu sambil menaburkan bunga ke atas permukaan air laut pelabuhan Bakauheni. Mengelap air mata yang membasahi pipinya, Gayatri mencium puncak kepala anak keduanya yang baru berusia dua tahun, sementara tangan kanannya mengusap kepalanya yang berdiri di sampingnya yang baru berus

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status