Share

BAB 6. Maafkan Saya

Penulis: Bayang Cermin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-01 12:56:09

Irenne diam sesaat, pikirannya masih gamang. Tapi akhirnya wanita itu menjawab.

"Tidak ... sa—saya tidak terima tawaran Bapak."

Mark terdiam. Matanya menunduk sesaat, lalu kembali menatap Irenne. Ada gurat kecewa yang jelas terbaca di wajah tampannya. Seolah penolakan itu menghantam harapannya yang sempat ia gantungkan pada wanita di hadapannya. Tawaran untuk menjadi ibu sambung Arley bukan sekadar formalitas baginya, melainkan sebuah jalan keluar yang ia yakini terbaik untuk anaknya. Namun kini, setelah Irenne menolak dengan halus, hatinya terasa hampa.

Melihat sorot mata Mark yang meredup, hati Irenne ikut terenyuh. Ia tidak bermaksud menyakiti, hanya saja tawaran itu terlalu berat untuk  diterima. Jari-jarinya meremas ujung rok yang ia kenakan, mencoba menahan rasa bersalah yang tiba-tiba muncul.

"Maafkan saya, Pak ..." ucapnya lirih, hampir tak terdengar. Ia menunduk, tak sanggup membalas tatapan Mark. Dalam hatinya, Irenne tahu bahwa lelaki itu sedang berjuang demi anaknya. Justru karena alasan itulah, penolakan itu terasa semakin menyesakkan.

"Walaupun saya akan memberimu gajih yang cukup besar?"

Suara Mark serak, seolah sulit mengeluarkan suara dari kerongkongannya.

'Pria ini baru saja bercerai dengan istrinya. Apa lagi Arley, anaknya mengidap Post-Traumatic Stress Disorder. Gangguan mental yang sulit untuk dipulihkan, pikirnya.

'Bagaimana kalau anak itu mengamuk? Aku takut disalahkan. Suatu gangguan yang sulit untuk dipulihkan. Lebih baik aku cari kerja yang lain saja,’ gumam hatinya.

Mark memandangnya dengan tatapan tajam dan dingin. "Kamu bisa bekerja di perusahaan ini sebagai sekretarisku sebagai imbalan, sambil mengasuh anakku. Bagaimana, Apa kamu setuju?"

Irenne menggeleng tetap pada pendirian. "Tidak Pak, untuk kali ini saya menolak. Tapi entah untuk lain waktu, siapa tahu pikiran saya berubah, saya akan menghubungi Bapak," jawab Irenne seolah tidak ingin mengecewakan Mark secara langsung.

Mark menghela nafasnya berat. "Baiklah, saya tunggu jawabanmu. Telpon saya bila kau berubah pikiran," ujar Mark sambil memberikan kartu nama, yang berstatus Presdir.

Irenne menunduk. "Terima kasih Pak. Kalau begitu saya permisi."

Dengan langkah pelan, Irenne bangkit dari duduknya. Ia keluar dari ruangan Mark, lalu berjalan menuju area parkir.

Hatinya masih bergejolak. Begitu masuk ke dalam mobil, ia melajukannya menuju apartemen yang disewanya. Satu-satunya tempat di mana ia bisa melepaskan semua beban pikirannya ditempat tinggalnya sekarang.

Begitu pintu apartemennya tertutup rapat, Irenne melangkah lesu ke kamar tidur. Tanpa mengganti pakaian, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Napasnya terhela berat, seolah ingin melepaskan semua beban yang menekan dadanya.

Tapi sia-sia, bayangan wajah Mark, dengan sorot mata tajam dan ucapan yang menusuk pikirannya, terus menghantui. Pria itu terlalu tampan, terlalu sempurna, dan justru itulah yang membuat hati Irenne semakin kacau.

"Sayang sekali, aku terlalu takut, takut tidak bisa mengurus anak. Apalagi Arley mengidap gangguan mental yang sulit disembuhkan." gumamnya pelan.

“Semoga aja aku bisa dapat pekerjaan yang lain. Besok aku akan terus mencari kerja.”

Ponsel Irenne bergetar. Layar ponsel itu menyala, menampilkan nama Edgar. Ayahnya. Seketika dada Irenne terasa sesak. Jemarinya enggan menyentuh tombol terima, sebab terlalu banyak kecewa yang sudah ia telan. 

Sejak dulu, Edgar selalu membela ibu tiri dan adik tirinya, seolah dirinya tak pernah cukup berharga di matanya. Ironis, warisan besar dari Berry Orlando, kakeknya, memang tercatat atas nama Irenne. Namun kini semua itu dikuasai oleh mereka. Ayahnya sendiri yang merampas haknya, menyerahkannya begitu saja kepada orang lain.

"Keterlaluan, Papa benar-benar keterlaluan. Aku ini anak kandungmu Pa. Tapi kenapa sepertinya aku dibuang gitu aja," pekiknya sambil mendengus.

Tidak lama, suara ketukan pintu terdengar begitu jelas, membuat Irenne tersentak. Ia segera bangkit dan melangkah cepat menuju ruang tamu. Begitu pintu terbuka, tampak seorang sahabat berdiri di ambang pintu dengan senyum hangat, seolah ingin menghapus resah yang sejak tadi menggelayuti hati Irenne.

"Andrea? Ayo, masuk," ucap Irenne sambil melangkah masuk, diikuti Andrea. Lalu mereka duduk di kursi sofa ruang tamu.

"Aku ambilin minum dulu buat kamu ya," ujar Irenne sambil Ingin melangkah ke dapur.

"Eh, gak usah, gak usah. Santai aja. Aku bisa ambil sendiri," sahut Andrea cepat sambil terkekeh. 

"Aku kan bukan tamu kehormatan, Ren. Lagi pula, kalau aku ke dapurmu, paling juga kulkasmu langsung protes karena isinya habis semua! Tapi kalau kamu mau buatkan aku minum, harus yang literan. Hahaha!"

Irenne ikut merasakan suasana dari Andrea, sahabatnya. Dia ikut tertawa sambil melangkah ke dapur, membuka kulkas mengambil air mineral dingin.

Setelah puas tertawa, lalu hening sejenak. Andrea menunduk. "Ada yang ingin aku bicarakan masalah keluarga kamu Ren, ini penting."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Anak Presdir   BAB 79. TAMAT

    Suara tangis bayi memenuhi kamar besar istana keluarga Mark—suara yang menggema lembut di antara dinding-dinding marmer, lampu kristal yang berpendar hangat, menyatu dengan tangisan bayi perempuan berusia 3 bulan. Irenne duduk di sisi tempat tidur besar, menggendong bayi perempuan mungil di pelukannya. Wajahnya tampak sedikit lelah, namun penuh cinta. "Kamu kenapa nangis terus, sayang?" bisiknya lembut, mengusap pipi si kecil yang kemerahan. "Kamu nunggu Papa pulang ya?" Arley, yang kini sudah terlihat lebih tinggi, berdiri di samping Irenne sambil memiringkan kepala memperhatikan adiknya. "Mungkin Dede mau susu, Ma," ucap Arley polos, senyumnya mengembang melihat bayi itu dengan gemas. Sebelum Irenne sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Pintu kamar terbuka pelan. Mark muncul dengan wajah lelah namun langsung berubah cerah saat mendengar suara tangis itu. "Hei, Sayang … anak Papa," ujar Mark sambil mendekat cepat. "Marlen, sini sama Papa." Tanpa

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Anak Presdir   BAB 78. Malam Pengantin

    "Oma, Aley mau sama Mama!" seru Arley bersiap berlari ke arah Irenne. Tapi Irish mencegahnya. "Sayang, Arley cucu Oma. Papa sama Mama kan sedang menikah. Biar Mama Irenne bisa urus Arley terus. Jadi Arley gak usah ganggu. Arley ikut Oma aja yah. Kita pulang. Besok juga Papa Mama sudah pulang kok." Arley tersenyum. "Jadi Mama akan sama-sama Aley terus? Asyiiik!" seru Arley sambil naik ke mobil bersama suster Ina. Di sisi lain, Laura akhirnya berkata pelan, "Tadi… Mark banyak bercanda tentang saya dan Bapak." Edgar refleks sambil batuk kecil. "Ah … itu Mark. Dia memang suka omong sembarangan." "Hmmm, begitu ya?" Laura menatapnya singkat, matanya jernih. "Ya, sudah ... jangan diambil hati." Laura hanya tersenyum, menatap kembali ke jalanan gelap yang diterangi lampu mobil. "Padahal saya … tidak keberatan kok, kalau dia mau atau tidak bercanda, terserah Mark aja." Mobil seketika terasa lebih sempit. Edgar menaikkan kerah kemejanya, yang seolah-seolah panas, tapi membuang rasa gugu

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Anak Presdir   BAB 77. Seusai acara

    Edgar.Gerakannya cepat, refleks, seperti ia sudah terbiasa melindungi tanpa berpikir. Laura terperangkap dalam pelukan yang tidak ia duga—dadanya menempel tipis ke dada pria itu.Mata mereka bertemu. Beberapa detik terasa seperti dunia berhenti berputar. Jarak wajah mereka hanya beberapa inci. Napas mereka hampir bersentuhan. Laura bisa merasakan dada Edgar naik turun dekat sekali dengan dirinya, terlalu dekat.Ada getaran halus, tapi terasa jelas—menyeruak dari dasar hatinya. Sesuatu yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam.Edgar juga tak bisa memalingkan tatapannya. Mata pria itu melembut. Waktu seolah membeku. Sampai akhirnya Laura tersadar."Oh, ma—maaf"Ia buru-buru berpegangan ke samping, melepaskan pelukan tangan Edgar dengan kikuk. Wajahnya memerah, bukan karena malu saja, tapi karena perasaan yang tiba-tiba menyerbu tanpa permisi."Terima kasih …" ucap Laura cepat, nyaris berbisik, tanpa berani menatap mata Edgar lagi.Wanita itu langsung membalikkan badan dan melangkah ce

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Anak Presdir   BAB 76. Pernikahan Berlangsung

    Seminggu kemudian, di sebuah gedung pencakar langit yang hampir menyentuh awan, pernikahan Mark dan Irenne berlangsung dengan sangat megah. Lantai ballroom dibuat seolah berada di langit, dilengkapi kaca besar menghadap panorama kota malam yang bertabur cahaya. Dekorasinya elegan, mewah, dan berkelas. Aroma bunga segar—mawar putih, peony merah muda, lily casablanca, anggrek, dan sedikit wangi lavender, menyebar lembut ke seluruh ruangan. Warna-warni bunga itu tersusun artistik, menghiasi setiap sudut dengan estetika yang memanjakan mata. Lampu kristal di langit-langit berkilau seperti bintang. Lalu muncul lah sosok yang paling ditunggu. Irenne, mempelai wanita. Ia melangkah perlahan, gaunnya memantulkan cahaya setiap kali ia bergerak. Gaun Victoria Swarovski yang ia kenakan diselimuti detail berlian kecil yang terjahit halus hingga ke ekor gaun. Di beberapa sisi, tersemat emas 18 karat, membingkai siluet tubuhnya dengan kemewahan yang lembut. Setiap orang yang melihatnya langsung t

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Anak Presdir   BAB 75. Peresmian Perusahaan Irenne.

    Seisi ruangan terperangah. Amy mundur satu langkah, wajahnya berubah pucat. "K—kamu bercanda, kan?" suaranya gemetar. "Sejak kapan aku suka bercanda?" Suara Edgar penuh tekanan. Edgar menunduk, suaranya meledak. "Aku tidak ingin hidup dengan seseorang yang hanya mengejar harta dan mempermalukan keluargaku." Amy memekik, "Tidak! Tidak, kamu tidak bisa! Edgar! EDGAR!" Namun Edgar tak lagi menoleh. Ia berjalan menghampiri Irenne, menyilangkan kedua tangan di dada, menunduk dalam. "Maafkan Papa, sekali lagi, maafkan Papa." Irenne terdiam, tidak berkata apa pun. Namun Arley memeluk kaki ibunya, menatap Edgar dengan bingung. Mark langsung bergerak, berdiri di depan Irenne dan Arley—melindungi mereka dari kerusuhan yang mungkin terjadi. Irenne langsung menggendong Arley. Amy sangat terpukul, tubuhnya seperti tersengat listrik ketika kata "cerai" meluncur dari bibir Edgar—suaminya sendiri. Dia kembali menghampiri Edgar. "kamu, kamu jadi belain Irenne?" suara Amy bergema,

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Anak Presdir   BAB 74. Pembukaan Perusahaan Kenneth yang Baru

    Seminggu kemudian, gedung baru itu berdiri megah dengan kaca bening yang memantulkan cahaya matahari siang. Di fasad depan, terpampang jelas tulisan “Irenne Vision Architecture”, sebuah nama yang kini menjadi kebanggaan sekaligus simbol perjalanan penuh luka dan keberanian. Hari itu, halaman gedung sudah dipadati para karyawan yang hadir untuk merayakan ulang tahun pertama perusahaan itu—ulang tahun yang menandai langkah besar Kenneth yang memulai semuanya dari nol kebangkrutan demi membangun masa depan untuk Irenne dan Arley. Dekorasi sederhana namun elegan terpajang di area lobi. Balon-balon putih, bunga putih, dan pita emas tergantung anggun, memberikan nuansa hangat namun tetap profesional. Di dekat panggung kecil, Laura berdiri dengan pakaian formal hitam-putih yang membuatnya tampak lebih dewasa dari biasanya. Ia tersenyum, kali ini tanpa ironi, tanpa ambiguitas. Ketika Laura, mendekat, ia langsung mengulurkan tangan pada pada Irenne. "Selamat atas ulang tahun pertama perusa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status