Short
Keluarga yang Kuanggap Milikku, Ternyata Milik Orang Lain

Keluarga yang Kuanggap Milikku, Ternyata Milik Orang Lain

By:  MilesCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
2.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat sedang melihat pameran fotografi, ada orang yang menelanjangiku secara paksa dan mengikatku ke sebuah stan pameran untuk dijadikan model telanjang. Ratusan pria mengelilingiku dan tidak berhenti memotret. Foto-foto telanjangku beredar di seluruh dunia. Ketika keluargaku menemukan aku, aku meringkuk di sudut dengan gemetar. Selama lima hari, tatapan ratusan mata itu seperti pisau yang merobek jiwaku. Ketika suamiku bergegas menghampiri dan membungkusku dengan mantelnya, tangannya gemetar hebat hingga hampir tidak bisa mengancingkannya. Dia segera memberi perintah untuk menghancurkan seluruh aula pameran. Terbaring di atas tandu, dalam kesadaranku yang kabur, aku mendengar putri tiriku bertanya sambil menangis. "Ayah ... apa kita harus seperti ini? Dia ... dia sangat baik padaku ...." "Apa kamu sudah lupakan ibu kandungmu?" Suara suamiku terdengar menahan amarah saat berkata, "Thalia sudah merebut segala miliknya. Aku cuma mau tegakkan keadilan untuk ibumu!" Ternyata, semua kemalangan yang menimpaku disebabkan oleh mereka. Jadi, selama bertahun-tahun ini, apa yang kusebut rumah pada akhirnya adalah milik orang lain .... Aku hanyalah pencuri yang telah merebut keluarga orang. Berhubung semua ini tidak pernah menjadi milikku, aku ... akan mengembalikannya semua. Aku tidak menginginkan kalian lagi.

View More

Chapter 1

Bab 1 

"Ayah, kamu benar-benar nggak akan bawa Bibi Thalia ke rumah sakit? Tubuhnya panas banget .... Kalau begini terus, akan terjadi sesuatu!"

Suara putri tiriku terdengar gemetar saat dia dengan lembut menyentuh dahiku yang panas.

"Diam!" Brian menyela dengan tajam, "Pergi ke rumah sakit sekarang? Untuk dikerumuni wartawan? Keluarga Kurola nggak boleh ikut malu bersamanya!"

Maisie menghela napas pelan dan berujar, "Aku sayang Ibu, tapi ... aku juga sayang Bibi Thalia. Aku nggak mau dia mendapat masalah karena membuka jalan bagi Ibu, Ayah."

Gerakan Brian mengganti handuk es untukku terhenti sejenak.

"Bibimu ini berasal dari keluarga biasa dan konservatif. Dia nggak ngerti seni fotografi dan pasti nggak akan bekerja sama. Begitu pameran fotografi ini jadi sensasi dunia, 'Venus Kontemporer' ini akan berlutut dan berterima kasih kepada ibumu karena sudah beri dia kesempatan ini."

Maisie dengan lembut menyelimutiku. Suaranya terdengar lembut saat berujar, "Bibi Thalia, jangan salahkan kami. Kami cuma khawatir Bibi nggak akan bisa menerimanya ... lalu menghancurkan semua kerja keras Ibu selama bertahun-tahun."

Kemudian, hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar.

Suara pintu dikunci terdengar seperti pisau dingin yang menghancurkan secercah harapan terakhirku. Yang tersisa hanyalah keputusasaan yang membeku di ruangan ini.

Sekarang, aku akhirnya mengerti kenapa Maisie yang biasanya begitu patuh bersikeras pergi ke pameran fotografi bawah tanah hari itu. Ketika kami memasuki aula pameran, sekelompok orang tiba-tiba mengelilingi kami. Aku pikir mereka akan menyakitinya dan secara refleks melindunginya di belakangku ....

Tak kusangka, rencana ini disusun dengan cermat dan akulah satu-satunya mangsanya. Semua kehangatan yang kurasakan selama bertahun-tahun hanyalah sandiwara.

Pria yang pernah melamarku dengan segudang mawar merasa aku telah menggantikan posisi mantan istrinya. Di matanya, pernikahan dan hari-hari kebersamaan ini dicuri dari mantan istrinya. Sementara itu, aku hanyalah pencuri yang hina.

Sungguh absurd. Jelas-jelas, aku bertemu dengannya tiga tahun setelah perceraian mereka. Aku bukanlah pihak ketiga, tetapi malah harus menanggung hukuman yang paling kejam.

Dalam keadaan linglung, aku merasa seolah-olah kembali ke mimpi buruk yang mengerikan itu. Aku disuntik dengan obat penenang yang kuat, dibaringkan telanjang di depan semua orang sebagai pajangan. Aku tak bisa sadar, tetapi indraku menjadi sangat peka.

Setiap tatapan yang menyapu kulitku terasa jelas, tetapi tubuhku tetap lumpuh total. Tatapan-tatapan telanjang itu merayap di tubuhku seperti belatung. Mereka bahkan mengamati bagian-bagian tubuhku yang paling tersembunyi.

Indraku tak pernah setajam itu. Begitu tajam hingga aku bisa mendengar getaran halus bulu mataku sendiri. Aku ingin pingsan untuk melarikan diri, tetapi kesadaranku setajam pisau yang menusukku. Aku ingin melupakan penghinaan ini, tetapi setiap gambar terukir dengan mendalam di benakku dan tak terhapuskan.

Suara isak tangis Maisie sepertinya masih terngiang di telingaku. "Bibi Thalia, bertahanlah sebentar lagi. Pameran fotografi Ibu akan segera berakhir ...."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status