Home / Rumah Tangga / Menjadi Istri Duda Muda / 3. Istri tak dianggap

Share

3. Istri tak dianggap

Author: El Alfun27
last update publish date: 2024-08-29 22:03:19

Setelah selesai makan, Ana langsung membereskan piring bekas makanannya. Lalu dia beranjak pergi menuju kamarnya. Saat dibalik tembok, Ana menghentikan langkah ketika mendengar omongan Arka dengan bang Bewok.

"Tuan Arka. Gimana dengan kabar non Gisel? tanya bang Bewok.

Arka mematikan laptopnya, tanda kerjaan dia telah selesai. "Saya sudah putus kontak dengan dia, Bang," sahut Arka sambil menyesap kopi kesukaannya.

"Sebaiknya Tuan merahasiakan pernikahan Tuan ini dengan Ana," saran dari Bang Bewok untuk Arka.

"Tidak, tidak perlu dirahasiakan. Lagipula saya dengan Gisel sudah tidak ada hubungan sama sekali," ucap Arka yakın.

"Baik Tuan, jika itu kehendak Tuan. Saran saya, perlakukan Ana dengan baik. Dia gadis baik, hanya saja tidak beruntung dalam hal ekonomi," ucap bang Bewok.

"Saya hanya ingin Ana menjadi perawat untuk Gio. Masalah pernikahan, bisa dipikirkan lain kali," ujar Arka.

Meskipun kedua orang itu sebagat atasan dan bawahan. Namun bang Bewok sudah seperti kakak untuk Arka. Dia sangat mengenal karakter dari sang tuannya. Begitupun Arka juga menganggap bang bewok sebagai keluarganya sendiri.

Sementara Ana masih terdiam di balik tembok ruang tamu. Dia masih meresapi perbincangan Arka dan bang Bewok. Ada rasa sakit dalam hatinya saat mengetahui ucapan Arka.

“Pak Arka, ternyata saya dijadikan istri kedua? Meskipun saya hanya gadis desa yang dijual. Tapi saya juga punya harga diri. Saya gak pernah bermimpi akan menjadi istri kedua seperti ini. Lebih baik ceraikan saya saja pak,” ucap Ana menghampiri Arka dengan tangisan yang menyertai. Dia bisa menerima dijadikan baby sitter. Tapi kalau sampai harus jadi istri kedua. Rasanya dia tak ingin sama sekali.

Arka menoleh ke Ana. Dia mengerutkan dahi. Sepertinya Ana salah paham. Bang Bewok memilih pergi dari ruang tamu itu. Dia sangat menghargai privasi dari Arka. Dan sudah menjadi bagian dari tata Krama seorang bawahan kerja.

“Jaga ucapan kamu, Ana. Kamu saya beli untuk merawat putra saya,” ucap Arka.

“Setidaknya Pak Arka tidak menjadikan saya istri kedua. Saya sangat tidak suka dan tak pernah ingin jadi seorang madu,” lirih Ana dengan sisa suaranya.

“Kamu salah paham. Saya sudah bercerai dengan istri pertama saya,” ucap Arka lalu dia menaiki tangga ke lantai atas.

Ana pun terkesiap dibuatnya. Menjadi istri seorang dua bukanlah keinginan dia. Namun kenyataan itu harus dia terima. Mungkin Ana sempat berpikir kalau Arka masih telrihat muda. Dan awalnya Ana tak percaya kalau Gio itu anaknya. Tapi sekarang dia sudah sangat percaya.

Ana langsung kembali ke kamarnya dengan wajah menahan malu. Tidak pernah dia bayangkan kalau takdirnya akan berakhir di kehidupan seperti ini. Menjadi istri satu-satunya merupakan keinginan. Tapi menjadi istri dari seorang duda? Tidak pernah Ana bayangkan.

***

Sore harinya, Ana menemani Gio bermain. Anak kecil itu sudah mulai cukup mengenal Ana. Ana berusaha untuk menerima takdirnya meskipun terasa begitu sakit.

Tok tok tok

Ada suara ketukan pintu di kamar Ana. “Non,” panggil seorang perempuan.

Ana membuka pintu. “Siapa ya?” tanyanya.

“Saya bi Sri, pembantu disini,” ucap perempuan tua itu.

Ana pun keluar dari kamar setelah Gio merasa tertidur dengan lelap. “Ouhh, iya bi, perkenalkan saya Ana,” ucap Ana mencium tangan Bi Sri.

“Istri baru tuan Arka ya non,” ungkap bi Sri. Keduanya pun berjalan menuju dapur.

“Entahlah bi, saya pun bingung. Saya ini sebenarnya siapa sih,” ungkap Ana dengan kesal. Mengingat perlakuan Arka padanya.

“Sabar ya non, semoga nanti tuan Arka jatuh cinta beneran deh sama non Ana. Bi Sri doain,” ucap bi Sri tersenyum penuh saat berjalan di samping Ana.

“Aduh bi, kayaknya gak mungkin deh. Saya cuma dijadikan pengurus anak saja sama sama dia,” ucap Ana mengeluh.

"Non, jangan bicara seperti itu. Hati itu kan bisa berbolak balik. Siapa tau nanti Tuan Arka bisa mencintai non Ana dengan tulus," saran dari BI Sri mencoba menhibur Ana.

"Saya tidak tau Bi. Saya cuma ingin kehidupan saya lebih baik," ucap Ana termenung menatap kosong ke depannya.

Bi Sri merasa kasihan. Lalu Bi Sri mencoba menepuk bahu Ana dan memberinya semangat. "Non pasti bisa melalui ini semua," lirih bi Sri.

"Iya bi," ujar Ana mengangguk.

Mereka pun melanjutkan aktivitas di sore hari. Ana membantu bi Sri memasak untuk menu makan malam. Sementara Gio sudah tidur setelah kecapean bermain. Lalu Ana dan Bi Sri saling bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing.

Terdengar bunyi mobil memasuki rumah besar bak istana itu. Arka memasuki rumahnya dengan gagah. Tampilan dia sangat gentle, meskipun dia sudah duda tapi tetap saja membawa kharisma.

“Dimana Gio?” tanya Arka saat berpapasan Ana sedang bersama Bu Sri di dapur.

“Gio sudah tidur dari tadi, Pak, sesudah mandi. Mungkin dia kelelahan sehabis bermain,” tukas Ana.

“Ouh, baguslah,” ungkap Arka langsung menuju ke lantai atas.

“Sabar ya non, Tuan Arka sepertinya lagi banyak masalah. Dia memang suka tempramen,” ungkap bi Sri.

“Gak apa-apa Bi, lagian juga saya bukan siapa-siapa nya. Jadi gak masalah meski dicuekin macam apapun,” ungkap Ana tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih.

“Eh non, gak boleh ngomong gitu. Meskipun non itu gak dianggap istri. Setidaknya non Ana harus bisa menjalankan kewajiban seorang istri. Insya Allah pasti berkah kok non,” ucap bi Sri.

“Eum, ada benarnya juga sih bi,” ungkap Ana. Dia jadi berpikir hal lain mengenai saran dari perempuan paruh baya itu.

"Sebenarnya tuan Arka itu sangat baik kok non. Sama semua pekerja disini saja dia baik, apalagi sama non Ana yang sudah sah jadi istrinya. Pasti suatu hari nanti tuan Arka sadar," ucap bi Mirna.

"Semoga saja bi, saya hanya ingin merawat Gio dengan baik," ucao Ana yang juga diangguki oleh Bi Mirna.

Malam harinya, Ana pergi ke dapur. Yang dimana dapur langsung terhubung dengan tangga menuju ke lantai dua.

“Aduh, Tuan Arka selalu bisa memuaskan saya,” lirih seorang perempuan dari lantai dua.

Ana menghentikan langkahnya. Bulu kuduknya meremang. Jantungnya berdetak kencang.

“Jangan terlalu cepat, saya suka permainan pelan,” ucap Arka dengan suara serak basah.

"Enak tuan, sekali lagi," pinta perempuan itu lagi.

"Jangan menyesal telah menggoda saya," titah Arka meneruskan permainannya.

Ana terduduk ke lantai. Suara itu sangat jelas di indra pendengarannya. Air matanya luruh seketika. Baru dua hari saja dia disana sudah seperti ini.

“Aduh, ada apa ini? Kenapa hatiku merasa sangat sakit dibuatnya,” lirih Ana merutuki dirinya sendiri. Dia memukul-mukul sekujur tubuhnya.

“Saya sudah transfer,” ucap Arka menuruni anak tangga sambil menggandeng seorang perempuan berpakaian sexy.

“Oke tuan, terima kasih. Saya langsung pergi,” ucap perempuan itu menuruni tangga. Tanpa mempedulikan Ana yang sedang menangis di lantai.

“Kamu kenapa?” tanya Arka saat melihat Ana. Dia seperti orang yang tidak bersalah.

Ana pun beranjak dari lantai. Dia berdiri dengan nafas memburu. “Pak Arka, sepertinya saya tidak bisa melanjutkan perintah bapak. Tolong pulangkan saya ke kampung lagi. Saya masih ingin melanjutkan pendidikan,” ucap Ana dengan tegas. Pikirannya mulai kacau setelah mendengar suara- suara itu.

“Maksud kamu?" Tanya Arka mendekati Ana yang tengah kecewa.

"Sa- saya sepertinya tidak bisa menjadi perawat untuk Gio," ujar Ana menunduk. Dia sambil menghapus sisa air matanya.

"Lalu?" tanya Arka kembali. Dengan tanpa merasa bersalah sedikitpun.

"Barusan itu, istri pertama bapak?" tanya Ana mengalihkan topik. Meskipun ada rasa sadar diri untuk tak membahas hal yang bukan menjadi urusannya.

"Rekan kerja, kamu jangan ikut campur," ucap Arka dengan dingin.

"Tapi pak," tegur Ana.

"Jangan berharap banyak dari saya, Ana," peringat Arka membuat Ana tersadar. Arka langsung meninggalkan Ana yang masih mematung.

Apa yang akan Ana lakukan. Tetap bertahan atau memilih untuk pergi dari laki-laki seperti tuan Arka??

Bersambung …

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
ORTYA POI
anak polos harus punya suami yang lebih berpengalaman suasana hati tidak tenang setelah apa yang didengar
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Istri Duda Muda   237. Extra Part

    “Mas, sakit,” lirih Ana dengan nafas memburu. Dia mencengkram kedua tangan suaminya.“Tahan Nona Ana, sebentar lagi anaknya keluar,” ucap seorang bidan kandungan. Ana merintih dengan keras. Arka hanya bisa menangis dan menciumi sang istri. Mungkin hanya ini yang bisa dia lakukan.Huaa … huaa…Terdengar tangisan bayi yang baru keluar.“Anaknya sempurna, Tuan Arka,” ucap seorang perawat. Membersihkan bayi mungil itu dan memberikannya pada Arka.Setelah selesai dibersihkan dan urusannya semuanya kelar. Anak itu dipangku oleh Arka dibawa ke hadapan sang istri. “Lihat, anak kita cantik. Mirip dengan ibunya,” ujar Arka tersenyum bangga. Dia tetus mencium bayi perempuannya itu.“Haloo, anak cantik mana,” lirih Ana dengan suara pelan. Tangisannya menjadi saat bayi mungil itu tersenyum dengan mata yang masih tertutup.“Sayang, ini Mama kamu, nak,” ucap Arka tersenyum bahagia. Rona diwajahnya sangat tampak di bayi mungil nan cantik itu.“Sepertinya mirip kamu deh, Mas,” ucap Ana. Suaranya sem

  • Menjadi Istri Duda Muda   236. Last Partt

    Akhir dari kisah adalah ending yang ditunggu. Bagaimana kisah seorang remaja putri yatim piatu, yang tinggal satu atap dengan ibu tiri dan saudara tiri. Harus merasakan pahitnya dunia.“Ana, kamu ini hanya pembawa malapetaka. Seharusnya kamu juga ikut dengan ibumu itu, ke alam sana!” teriak Mirna melempar pakaian bersih milik Ana.“Ibu, maafkan Ana. Seharusnya Ana bekerja hari ini. Tapi Ana sedang pusing dan sedikit mual,” ucap Ana beralasan. Wajahnya pucat.“Makanya jangan kuliah, meskipun jalur beasiswa. Tetap saja kamu itu beban di rumah ini. Harusnya kamu fokus kerja saja. Beri aku uang, aku dan kakakmu butuh uang yang sangat banyak!” keluh Mirna menatap tajam ke arah Ana.Ana memegang kepalanya. Niat hati ingin istirahat. Malah harus mendapat kritikan tajam dari ibu tirinya. Alhasil kepalanya semakin pusing dan mual di perutnya bertambah.“Uuh, biarkan ana istirahat sejenak saja, Bu. Nanti kita bicarakan lagi,” lirih Ana. Dia beranjak lalu menutup pintu kamar dan menguncinya dari

  • Menjadi Istri Duda Muda   235

    Tasya terus saja mendumel perihal Delvan yang tak mengucapkan kata manis keoadanya tadi malam. Bahkan sampai Tasya sulit untuk memejamkan mata, seolah hatinya ingin selalu membersamai sang pacar.Mungkin hati Tasya juga sudah terpaut dengan sosok Delvan yang memikat. Tasya seakan di bius oleh asmara seketika, dan sampai jam menunjukkan pukul satu dini hari pun, barulah Tasya memejamkan matanya.Sementara sang sahabat sudah berada di alam mimpi sejak tadi, membiarkan Tasya seorang diri dalam kebingungan.Dan saat ini, Tasya terbangun dengan kepala pening. Alarm di nakasnya berbunyi bersahutan dengan alarm milik Clara. Memaksa Tasya untuk membuka matanya yang masih terlelap.Tasya meregangkan otot-otot lengannya. Mencoba mengatur nafas dan juga konsentrasi penuh agar bisa beraktivitas dengan benar. Sang sahabat sudah tidak ada disampingnya, terdengar percikan air di dalam kamar mandi.Setelah melakukan segala aktivitas, Tasya dan Clara menuju ke sekolahnya dengan Clara yang membawa moto

  • Menjadi Istri Duda Muda   234

    Tasya terdiam, mencoba menajamkan alat pendengaran nya dengan sebaik mungkin. Takut salah denger dengan pengakuan cowok di depannya itu."Gue butuh Lo, Tasya. Bisa?" Tatapan Delvan memusat pada Tasya. Tatapan yang penuh arti dan permohonan. Tatapan yang membuat siapapun bakal terpesona."Gu-gue gak tau, gue gak boleh pacaran, Van." Tolak Tasya dengan ucapan pelan. Tak ada nada ketus.Rasa khawatir mulai tumbuh kembali, Tasya hanya takut jika semuanya kembali seperti hari kemarin. Hari dimana Delvan mulai menjauhinya atau mungkin tak akan menganggapnya ada lagi."Bukan karena Lo gak suka cowok badbboy? Ouh iya, Lo suka cowok good boy. Maaf Sya, gue baru inget." Seolah tak ingin mengungkit sesuatu yang lebih sakit. Delvan bergumam seorang diri.Mencoba menyadarkan posisi dirinya yang tak diinginkan oleh gadis di depannya itu."Tapi gue bakal buktiin, meskipun gue badboy, gue pasti dapetin Lo, cewek good girl."Tasya terperanjat, lalu mencoba kembali menatap Delvan. "Van? Lo ngomong apa

  • Menjadi Istri Duda Muda   233

    Layla dan Abidzar sudah sampai di rumah mereka. Mereka tadi sudah menebus obat untuk wajah Layla."Masih perih?" Tanya Abidzar."Udah mendingan Mas, nanti juga sembuh kok setelah rutin pakai salep sama obat nya ini." Ucap Layla sambil melihatkan beberapa salep dan obat.Abidzar langsung mengangguk mendengar jawaban Layla. Dia terlihat sangat lemah."Layla." Panggilnya dengan suara serak.Layla menikah kemudian tersenyum, "Kenapa Mas Abi?""Aku mencintaimu." Ungkapnya.Layla semakin tersenyum, kata-kata dari Abidzar mampu membuat pipi nya merona."Sampai kapan Mas?" Tanya Layla sedikit menggoda Abidzar."Sampai kapanpun, Insya Allah." Ungkapnya yakin."Aku juga mencintai mu Mas Abidzar. Tolong jangan tinggalkan aku." Pinta Layla.Abidzar mengangguk mantab. Kemudian dia merentangkan tangannya. Layla langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Abidzar.Pelukan yang selalu menghangatkan, pelukan yang selalu menenangkan. Layla sangat menyukai moment seperti ini.Abidzar juga tidak mau

  • Menjadi Istri Duda Muda   232

    Abidzar pun meng iya kan permintaan istrinya itu, tapi dengan syarat rujak yang akan di beli nanti bukan rujak yang berada pedas. Abidzar melarang Layla melakukan hal itu, Layla tidak boleh mengonsumsi makanan pedas selama dia hamil.Mereka pun akhirnya pergi ke pesantren modern, lebih tepatnya di samping pesantren modern, karena disanalah kedai rujak buah itu nangkring."Pak, beli satu yang tidak pedas dan buahnya jangan yang kecut." Abidzar memberitahu kepada bapak penjual rujak itu.Mereka sudah sampai di samping pesantren modern, dan Abidzar langsung memesan rujak keinginan Layla. Meskipun Layla sempat tidak menyetujui permintaan Abidzar yang request buah tidak kecut, padahal kan Layla malah ingin buah yang amat kecut sekali.Bapak penjual rujak itu mengangguk, dia langsung memotong beberapa buah segar dan langsung di siram dengan bumbu rujak. Beruntung sekali sore ini sedang tidak ramai, jadi Abidzar dan Layla tidak perlu antri.Setelah selesai, Abidzar pun menyodorkan uang sehar

  • Menjadi Istri Duda Muda   111

    Isi surat Yusuf itu dapat terbaca dengan jelas, berupa tulisan tangan sendiri, surat itu tertulis begitu rapi.Hai, Layla.Maaf sebelumnya, seharusnya aku tidak mengirimkan surat ini untukmu, tapi aku hanya ingin memberitahukan kepadamu beberapa hal. Salam juga untuk Ustadz Abidzar.Pertama, maaf b

  • Menjadi Istri Duda Muda   110

    Debaran jantung Tasya bergemuruh, padahal suasana disekitarnya begitu menenangkan. Taman bunga yang bermacam, seolah menghipnotis pandangan agar selalu melihatnya.Delvan terlihat tidak baik-baik saja, tatapannya nanar. Pikirannya sudah entah kemana. Tasya hanya bisa melihat Delvan, tak mampu untuk

  • Menjadi Istri Duda Muda   98.

    "Minimal perempuan yang akan menjadi pendamping saya mirip ummah," ucap Fahri dengan tatapan cueknya."Kalo tipeku sih, setara dengan Siti Fatimah," gurau Kemal dengan candanya."No comment, nyatanya bermain game lebih menarik daripada bahas Masalah perempuan," kata Fatah pada kedua kakaknya.Kedua

  • Menjadi Istri Duda Muda   97.

    Permasalahan demi permasalahan kisah cinta untuk Gus kembar terjadi. Mulai dari hal yang serius sampai hal yang paling lucu. “Gimana rasanya ditembak sama cewek gammers dari UIN Semarang?” tanya Kemal menggoda Fatah yang tengah menggalau.Rasa malunya saat itu masih terngiang-ngiang sampai sekaran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status