Home / Romansa / Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder / Bab 34. RENCANA BALAS DENDAM?

Share

Bab 34. RENCANA BALAS DENDAM?

Author: Purple Rain
last update Petsa ng paglalathala: 2023-12-03 17:36:15

“Pfttt, ….!”

Semburan air keluar dari mulut Joshua saat Marissa bercerita tentang kekasih suaminya, Deniz. Ia mengambilkan selembar tisu pada temannya itu dengan wajah yang terpasang cemberut.

“Untung saja aku tidak tersedak,” ujar Joshua sambil meletakkan gelas di atas meja makan.

Marissa diam, tidak menyahut. Ia memilih untuk menghempaskan bobot tubuhnya pada sebuah kursi. Wajahnya lebih ditekuk dari biasanya. Buru-buru Joshua menghentikan lawakannya saat melihat perubahan gestur pada sahab
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   124. LIFE MUST GO ON

    ​Siang Hari, Apartemen Joanna​Joanna yang sedang merayakan kemenangan kecilnya, terkejut ketika pintu apartemennya digedor. Dia ditangkap tak lama setelah Kevin, sebagai istri yang tidak pernah diakui sekaligus kaki tangan utama dalam manipulasi data.​Dalam beberapa jam, nama Kevin dan Joanna menjadi berita utama di seluruh dunia, bukan sebagai pengusaha sukses, tetapi sebagai penjahat kelas dunia. Bursa Efek menangguhkan perdagangan saham VantaCorp, dan penyelidikan pun resmi dimulai.​Dua Bulan Kemudian, Pagi Hari yang Cerah​Marissa duduk di balkon apartemen mereka, menghirup udara segar. Di sampingnya, berita pagi di tablet menampilkan headline terakhir:​Keputusan Akhir: Kevin dan Joanna Dinyatakan Bersalah atas Tuduhan Federal, Dijatuhi Hukuman Penjara Berat.​Kevin dijatuhi hukuman 15 tahun penjara karena penipuan sekuritas dan manipulasi data yang mengakibatkan kerugian investor bernilai miliaran. Joanna, sebagai kaki tangan utama dalam manipulasi data internal, merebut peru

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   123. PEMBALASAN UNTUK MENGAKHIRI DENDAM

    ​Pukul 11:00 Pagi, Markas Genovua Tech​Deniz memarkir mobilnya dengan kasar dan langsung menuju kantornya. Dia melewati ruang-ruang kerja yang penuh dengan timnya yang bersemangat, tetapi pikirannya tertuju pada satu hal—pembalasan.​Dia bukan lagi Deniz yang percaya pada etika bisnis yang bersih. Kevin telah mengajarinya pelajaran yang brutal, bahwa benteng pribadi adalah titik terlemah. Sekarang dia akan meruntuhkan seluruh kemunafikan Kevin, satu demi satu.​Deniz memanggil kepala keamanan dan Kepala Tim Analisis Datanya, Tuan Hadi, untuk rapat darurat.​“Tuan Hadi, saya ingin Anda membuka kembali semua file, setiap data, dan setiap transaksi yang berkaitan dengan merger Genovua Tech dan VantaCorp beberapa tahun yang lalu,” perintah Deniz, matanya memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan. “Fokus pada semua akuisisi Kevin, terutama yang ada di luar negeri. Saya tidak mencari kesalahan akuntansi, saya mencari pencucian uang dan penipuan saham.”​Tuan Hadi mengerutkan kening. “Itu

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   122. MEREBUT KEMBALI POSISIKU

    ​Tiga Minggu Kemudian, Galeri Seni Kontemporer​Udara di Galeri Seni Kontemporer terasa dingin dan mewah, beraroma anggur putih dan parfum mahal. Ratusan tamu berpakaian elegan membanjiri aula, mata mereka menyapu karya-karya yang dipajang. Ini adalah acara pembukaan pameran seni bergengsi yang menampilkan seniman-seniman yang sedang naik daun dari seluruh Asia.​Di tengah hiruk pikuk itu, berdiri Marissa Sawyer. Ia tampak memukau dalam gaun malam berwarna gelap. Namun, perhatiannya tertuju pada tiga lukisan besar yang tergantung di dinding utama—karya-karyanya. Lukisan abstrak yang dipenuhi dengan warna-warna berani dan emosi mentah, mewakili perjalanan pribadinya dari kegelapan menuju harapan.​Deniz berdiri di sampingnya, memegang tangan istrinya erat-erat. Wajahnya berseri-seri bangga.​“Kau luar biasa, Sayang,” bisik Deniz di telinga Marissa. “Lihat, semua orang mencintai karya-karyamu.”​Deniz memang sedang berada di puncak. Genovua Tech telah pindah ke kantor baru yang berkilau

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   121. SERANGAN DI TITIK TERLEMAH

    Beberapa Jam Kemudian, Kantor Genovua Tech​Genovua Tech adalah anak perusahaan yang terlupakan, terletak di lantai paling bawah sebuah gedung tua milik perusahaan induk. Begitu masuk, Anda akan disambut oleh aroma kopi basi, debu di sudut-sudut, dan suara kipas komputer yang berisik.​Namun, di sore hari itu, aura tempat tersebut berubah total.​Deniz berdiri di tengah ruangan kecil itu, dikelilingi oleh sekitar dua puluh insinyur muda dan desainer yang tampak kelelahan namun bersemangat. Mereka adalah tim Genovua Tech—tim yang selama ini bekerja dalam bayang-bayang tanpa dana yang cukup, tetapi memiliki ide-ide inovatif tentang teknologi green energy dan sistem smart-grid.​“Selamat pagi,” sapa Deniz, suaranya tenang namun penuh otoritas. Ia sudah berganti pakaian menjadi kemeja kasual yang lebih santai.​“Tuan Deniz,” sapa pemimpin tim, seorang wanita bernama Luna, dengan wajah terkejut. Mereka tidak menyangka sang CEO akan datang secepat ini.​“Mulai hari ini, Genovua Tech bukan l

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   120. RENCANA KEVIN DI BALIK KEBAHAGIAAN MARISSA

    ​Apartemen, Pukul 07:00 Malam​Setelah badai emosi berlalu, keheningan yang penuh kebahagiaan menyelimuti kamar. Deniz tidak lagi mengenakan jas biru mudanya. Ia hanya memakai kaos putih dan celana piyama, duduk di tepi ranjang sambil memeluk Marissa yang bersandar di bahunya. Kotak mint itu tergeletak di karpet, terlupakan, digantikan oleh kenyataan yang jauh lebih berharga.​“Kenapa kamu tidak memberitahuku lebih awal?” tanya Deniz lembut, mengelus rambut Marissa.​Marissa mendongak, matanya masih sedikit bengkak karena tangisan bahagia. “Aku menunggu saat yang tepat, Mas. Aku nggak mau membebani pikiranmu dengan ini saat kamu sedang berjuang di kantor.”​Deniz mencium keningnya. “Sayang, kamu adalah alasan aku berjuang. Kamu bukan beban. Kamu adalah rumahku yang sesungguhnya.”​Ia kemudian bangkit. “Aku harus melakukan sesuatu. Kabar gembira ini butuh perayaan besar.”​“Tapi, Mas,”​”Sttt… aku nggak mau dengar alasan apa pun.”​Deniz meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat.​Li

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   119. CAHAYA BARU

    Kantor, Pukul 11:30 Pagi ​Ruang rapat direksi terasa seperti arena gladiator modern. Lampu kristal di langit-langit memantul pada permukaan meja mahoni yang mengkilap, menciptakan siluet tajam bagi 12 pasang mata yang menatap Deniz. Mereka adalah para veteran bisnis, pemegang saham yang kuat, dan juga para opportunist yang sigap dan tanggap jika terjadi bahaya sekecil apa pun. ​Kevin tidak hadir, tetapi kehadirannya terasa melalui ketegangan yang menggantung. “Dasar pecundang,” gumam Deniz. ​Deniz berdiri di ujung meja, menyandarkan tangan di permukaan meja. Tidak ada proyektor, tidak ada PowerPoint. Hanya dia, dan ketenangannya. Jas biru mudanya terlihat mencolok di antara setelan abu-abu tua dan hitam. Ia membiarkan keheningan itu berlarut selama beberapa detik, membiarkan detak jam dinding seolah menjadi hitungan mundur. ​“Selamat siang. Saya tahu mengapa kita semua ada di sini,” Deniz memulai, suaranya pelan tapi menusuk, “Kecemasan. Sebuah emosi yang disebarkan dengan sangat

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   114. MERCUSUAR

    Pagi itu, Pulau Seuni menyambut dengan kehangatan yang lembut. Angin timur yang dingin dari dua minggu lalu telah digantikan oleh semilir udara laut yang bersahabat, seolah alam pun merestui keputusan mereka. Tentu saja, keputusan itu tidak diumumkan dengan mudah.​Ketika mentari mulai meninggi dan

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   113. KEMBALI DENGAN SEMANGAT BARU

    Dua minggu berlalu, dan angin timur telah benar-benar menetap, membawa serta perubahan yang terasa lebih dalam dari sekadar iklim. Rumah Cahaya Eliza tidak pernah sesepi dulu; tawa Raka kini menjadi melodi tetap yang berbaur dengan deburan ombak. Luka di hati kecil itu mulai bergerak, perlahan menj

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   112. HIDUP TERUS BERJALAN

    Pagi pertama di musim angin timur datang dengan tenang. Langit bersih, seolah semalam hujan kecil yang turun hanya ingin menyapu sisa-sisa mimpi buruk yang sudah lama tak lagi mengusik Marissa. Udara terasa lebih segar dari biasanya, dan di kejauhan, garis cakrawala tampak seperti diselimuti kabut

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   110. SUNRISE

    Setelah makan siang yang terasa terlalu indah untuk diakhiri, Deniz dan Marissa berjalan perlahan di sepanjang dermaga. Langit mulai berwarna jingga lembut, dan matahari tampak seperti bola emas yang perlahan tenggelam ke pelukan laut. Marissa melepas sepatunya, membiarkan jemari kakinya menyentu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status