Share

23. Tapi Kenapa?

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-08-21 18:05:05

            Aldi menjambak rambutnya sendiri, meluapkan seluruh frustrasi yang menghantam dadanya. Jemarinya mencengkeram erat helai-helai hitam itu untuk mengikis rasa sesak yang melingkupi dadanya. Sementara di samping meja kerjanya, Dokter Hendra masih berdiri diam dengan kedua tangan saling bertautan di depan tubuh, menatap lantai dingin tanpa bersuara.

"Tapi kenapa? Kenapa Karina mau bunuh diri?"

    

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   26. Setelah Ini Bagaimana?

    Derap langkah sepatu itu mendengung teratur di sepanjang selasar yang lengang. Sosok tinggi tegap yang seminggu ini menghilang akhirnya muncul di balik belokan koridor. Aldi berjalan dalam balutan jas putihnya yang kaku. Wajahnya tampak lebih tirus, garis rahangnya melembut kusam, dan matanya meredup menyisakan aura dingin yang begitu tertutup. Sena menahan napas. Jemari tangannya meremas lipatan celana kain seragamnya di dalam saku."Turut berduka cita ya, Dokter Aldian..." bisik suster senior yang berdiri paling depan."Terima kasih," balas Aldi singkat. Suaranya serak dan berat, hampir tanpa ekspresi. Pria itu terus berjalan pelan, membalas anggukan prihatin dari setiap staf medis yang berbaris di sepanjang nurse station. Setiap ucapan duka ia te

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   25. Kabar Aldi

    Sepanjang sisa malam, keheningan ruang perawatan Arya terasa begitu menghimpit. Sena tak benar-benar memejamkan mata. Di atas sofa tempat gadis itu berbaring, jemarinya yang gemetar kaku tak henti mengetikkan baris pesan singkat ke nomor Aldi. Tak peduli walaupun apa yang dikirimkannya tak pernah benar-benar sampai lantaran nomor tersebut tidak aktif.[Dokter ada di mana?][Semua orang di rumah nyariin. Tolong kabarin saya kalau butuh bantuan.] Di layar kaca yang menyala remang di kegelapan, status pesan itu bergeming pada centang satu. Menyakitkan dan tanpa kepastian. Hingga saat bayang fajar mulai menyusup tipis dari celah tirai, getar pendek di genggamannya membuat dada Sena melompat kencang.[Pak Dokter udah pulang, Mbak. Baru aja. Kasihan banget. Bajunya basah kuyup.] Begitulah isi laporan Mbak Ami lewat baris teks. Sena memejamkan mata erat-erat, mengembuskan napas panjang yang tertahan sejak semalam. Ada rasa lega yang luar biasa

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   24. Belum Siap Kehilangan

    Satu per satu petugas medis yang tadi berada di sekitar brankar itu perlahan mundur dan berbalik badan. Hanya tersisa Sena yang masih terpaku di tempatnya. Gadis itu tetap menatap tak percaya pada apa yang baru saja dia dengar tadi. Hingga suara langkah yang semakin dekat membuat Sena terhenyak pelan. Aldi muncul dengan wajah pucat dan mata yang sudah memerah. Pria itu lantas mendekap erat tubuh Karina yang sudah bebas dari bantuan alat medis.“Jangan pulang ke rumah. Saya tidak mau keadaan semakin memburuk. Tolong mengertilah,” ucap Aldi setelah berangsur menegakkan badannya. Sena mendongak walaupun Aldi tidak menoleh ke arahnya. Permintaan barusan ia respon dengan anggukan pelan. “Baik, Dok. Sa-saya turut berduka.” Aldi hanya diam. Perlakuan yang membuat Sena cukup tahu diri hingga akhirnya dia bergegas meninggalkan ruangan tersebut.“Mbak Sena baik-baik aja ‘kan?” sapa Damar dengan suara berbisik begitu Sena muncul di ambang pintu r

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   23. Tapi Kenapa?

    Aldi menjambak rambutnya sendiri, meluapkan seluruh frustrasi yang menghantam dadanya. Jemarinya mencengkeram erat helai-helai hitam itu untuk mengikis rasa sesak yang melingkupi dadanya. Sementara di samping meja kerjanya, Dokter Hendra masih berdiri diam dengan kedua tangan saling bertautan di depan tubuh, menatap lantai dingin tanpa bersuara."Tapi kenapa? Kenapa Karina mau bunuh diri?" Pertanyaan Aldi keluar dengan suara tercekat, pecah di tengah keheningan ruangan yang membekukan. Pria itu menggeleng tak percaya. Wajahnya yang biasa dingin dan tegar kini menyisakan garis-garis kehancuran seorang suami yang mendadak kehilangan arah. Sementara itu, Sena duduk menunduk di kursi kayu berpelitur di pojok ruangan. Ia menatap Aldi dengan pandangan iba yang amat dalam

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   22. Tuduhan Aldi

    "Tim laboratorium menemukan konsentrasi obat pemicu henti jantung," ujar Aldi dengan suara datar. "Cairan itu disuntikkan langsung ke dalam kantung infus." Sena menggeleng pelan. Matanya membelalak seketika. Kedua tangannya perlahan naik menutup mulutnya, syok mendengar informasi tersebut.Aldi melanjutkan kalimatnya dengan nada yang makin menyudutkan. "Orang terakhir yang bersama Karina itu kamu. Kamu sengaja memperlambat tetesan infusnya 'kan agar efeknya tidak langsung terjadi?" Sena mengepal jemarinya kuat-kuat di sisi tubuh, menahan napas yang mendadak terasa menyengat di tenggorokan demi menjaga suaranya agar tidak pecah di depan Aldi."Dokter menuduh saya tanpa bukti," ucap Sena pelan. Sungguh ia tak menyangka akan dituding seperti itu. Matanya seketika berkaca-kaca."Siapa lagi kalau bukan kamu?" tekan Aldi.

  • Menjadi Istri Kedua Dokter Aldian   21. Niat Busuk?

    Sena bergegas menuju ruangan Karina. Namun, langkahnya seketika terhenti beberapa meter dari pintu kamar tersebut. Di sana, tim petugas medis sudah memenuhi ruangan dalam situasi darurat. Suara instruksi yang saling bersahutan, benturan instrumen logam, hingga bunyi nyaring monitor jantung terdengar memotong kesunyian lorong. Jadilah gadis itu menjauh dan memandang dari kejauhan. Sena memilih berdiri mematung di balik pilar koridor yang temaram. Dari balik celah pintu yang sedikit terbuka, ia menyaksikan tim medis berjuang menangani tubuh Karina yang sama sekali belum merespon pertolongan yang dilakukan. Hingga kemudian.."Tekanan darah mulai naik! Pulse kembali teraba!" seru salah satu perawat sembari menatap tajam layar monitor.Dokter penanggung jawab menyapu keringat di dahinya dengan lengan baju. "Bagus. Irama jantungnya sudah stabil. Pasang monitor portabel sekarang.""Segera koordinasi dengan tim lantai satu. Pindahkan pasien ke ruang ICU sek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status