Se connecterSetelah kejadian memalukan dengan Henry dan Valery, ia hanya ingin pulang dan bersembunyi di balik selimut. Namun rencana itu buyar, karena Caspian masih ingin menyelesaikan urusan pernikahan mereka. Menuntun Alexa menuju butik terbesar di pusag kota, tempat yang biasa digunakan kalangan elite untuk memilih gaun pernikahan.
Ruangan itu terang, mewah dan penuh sutra menggantung dimana-mana. Alexa merasa canggung berada di tengah-tengah kilau kristal. Sementara tangannya masih gemetar akibat kejadian tadi. “Pilih yang kau suka,” ujar Caspian sambil duduk di sofa kulit hitam, menyilangkan kakinya dengan satu tangan yang menopang dagu. Nada suaranya terdengar normal, tapi Alexa tahu ia sedang menahan sesuatu. Alexa mencoba mengabaikan dengan berjalan ke deretan gaun putih yang memanjang. Ia menyentuh kain satin itu dengan hati-hati. “Aku tidak tahu mana yang bagus…” gumamnya pelan. “Ambil semuanya kalau perlu.” timpal Caspian datar. Alexa menghela napas, lelaki itu benar-benar tidak mengerti konsep sederhana seperti memilih pelan-pelan. Ia mencoba menarik salah satu gaun, tetapi gantungannya terlalu tinggi. Ia harus berjinjit, namun tetap tak bisa meraihnya. Saat ia hendak mencoba mengambilnya lagi, seseorang dari belakang mendekat. “Boleh saya bantu, Madam?” suara seorang laki-laki muda, pelayan butik. Alex tersenyum kecil, merasa lega. “Oh iya, boleh.” Pelayan itu mengambil gaunnya dengan cekatan. “Sangat cocok untuk anda.” katanya ramah. Alexa tersenyum, sedikit mengangguk. “Terima kasih.” balasnya. Di Belakang, sofa kulit berdecit keras, membuat keduanya menoleh. Caspian menatap Alexa tajam, gelap, pekat, memiliki kilatan berbahaya seperti api yang baru disulut. Alexa menelan salivanya sendiri. “Madam mau lihat gaun lainnya?” tanya pelayan itu sopan, mencoba menghiraukan Caspian. Alexa belum sempat menjawab ketika Caspian tiba-tiba berdiri. Langkahnya cepat, terlalu cepat. Ia menarik tangan Alexa dengan kasar namun terkendali, membuat pelayan itu terkejut dan mundur dua langkah. “A-ada apa, Tuan?” pelayan itu bertanya gugup. Caspian tidak menoleh. “Cari pekerjaan lain, kau tidak akan bekerja disini lagi!” Wajah Alexa pucat, “Caspian, dia tidak melakukan apa-apa.” Caspian hanya menggenggam tangan Alexa lebih keras, “Kita pergi!” Alexa terseret beberapa langkah ketika Caspian membawanya keluar dari butik. Napasnya tercekat, bukan karena sakit tapi karena syok. Ia hanya sempat melihat pelayan itu berdiri membeku di belakang mereka, sebelum pintu butik menutup. Caspian masuk ke mobil tanpa membukakan pintu untuk Alexa, ia hanya diam tak mengatakan apa-apa. Alexa masuk, dengan perasaan takut. Setelah Alexa benar-benar memasang seatbeltnya, Caspian mulai melajukan mobil dengan cepat. Alexa dapat melihat rahang pria itu mengeras, tangannya mencengkeram setir dengan kekuatan yang hampir merusak kulitnya. Alexa takut untuk bicara, ia juga takut untuk diam. Dan keduanya terasa sama-sama menakutkan. Hanya butuh sepuluh menit sampai akhirnya mobil berhenti di depan rumah besar mereka. Dengan gerbang tinggi, kamera pengawas, dan penjaga berseragam hitam yang langsung menunduk dalam. Caspian keluar tanpa menunggu Alexa. Ia berjalan cepat menuju pintu, napasnya berat. Alexa mengejarnya dengan langkah kecil dan ragu. “Caspian, tunggu! Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi–” Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena begitu pintu masuk tertutup, Caspian memutar tubuhnya cepat dan menarik Alexa masuk lebih dalam ke rumah. “Aww, kau menyakitiku Caspian.” Caspian tak menghiraukan, ia justru mendoronv Alexa ke dinding dengan kasar. Kedua tangannya mengunci tubuh Alexa, matanya penuh bara yang tidak dipahami Alexa. “Kau tersenyum padanya.” Suaranya rendah, serak dan penuh amarah yang terpendam. Alexa terdiam, itu saja? Apa hanya itu yang membuatnya menjadi seperti ini? “Aku hanya, dia–dia membantuku–” Alexa tak bisa melanjutkan kalimatnya ketika Caspian memegangi dagunya dengan kasar. Dia mengangkat wajah Alexa untuk menatap netra hazel itu. “Lepas-kan! K-kau me-nyakitiku, Cas-pian.” Alexa terbata, matanya menatap lurus ke mata Caspian yang terasa begitu menusuk. Caspian mendekatkan wajahnya, terlalu dekat sampai napasnya menyapu pipi Alexa. “Aku tak peduli apapun alasanmu, senyum itu milikku!” ucapnya tegas, dingin dan menghancurkan. Caspian kemudian melepaskan tangannya, menatap ke arah lain untuk menetralkan degup jantungnya. “Caspian, kau berlebihan.” pekik Alexa, yang sontak membuat bara itu menyala lagi di dadanya. “Berlebihan?” Caspian tertawa pendek, pahit. Ia mengepalkan tangannya, memukulkannya ke dinding. “Alexa, kau tidak mengerti betapa mudahnya dunia ini merebutmu dariku.” Ia menyentuh wajah Alexa dengan tangan yang kasar namun sedikit gemetar. “Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.” Alexa merinding mendengarnya, ada sesuatu dari suara Caspian. Itu bukan sekedar marah, bukan sekedar cemburu, tapi juga rasa takut. Rasa takut kehilangan. Sebelumnya, Alexa hanya melihat sisi dingin dan kejam Caspian. Tapi satu sisi lain muncul, dan itu yang paling berbahaya. Sisi ini bisa saja mengancam, karena muncul dari perasaan, bukan kekuasaan. Caspian tiba-tiba menarik tangan Alexa dan membawanya menuju kamar mereka. Langkahnya panjang, cepat dan intens seperti badai. Alexa benar-benar tidak mampu melawan, dan tidak berani. Pria itu membanting pintu begitu mereka berhasil masuk, membuat Alexa tersentak kaget. Jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetaran dan kakinya terasa lemas. “Caspian, tolong bicara baik-baik.” ucapnya penuh kehati-hatian. “Tidak ketika ada pria lain yang menyentuhmu!” jawabnya dingin. “Dia cuma pelayan, dia tidak–” “Tidak ada pria yang boleh menyentuhmu selain aku!” Caspian membentak, membuat Alexa gemetar. Gadis itu mundur dua langkah, tapi Caspian mengikutinya. Ada bara yang tak biasa dari tatapannya, napasnya memburu namun berat. Tanpa ba-bi-bu lagi, ia melepas jas dan melemparnya ke sembarang arah. Lalu menarik dasinya kasar, tanpa peduli rusak atau tidak. Gerakannya cepat seperti memberontak. “Caspian, berhenti! K-kau mau apa?” Caspian tak menjawab, ia hanya terus mendekat sampai Alexa benar-benar tak bisa mundul lagi. Dia terjebak diantara ranjang dan Caspian yang menggila. “Aku mau membuatmu mengerti.” tegasnya, wajahnya dingin. Alexa mencoba mencari celah untuk lari, tapi gerakan Caspian sangat cepat. Pria itu mendorong Alexa hingga terjatuh ke atas ranjang. Lalu sepersekian detik, ia berhasil mengurung tubuh Alexa di bawahnya. “Tolong lepaskan aku!” rintih Alexa, mencoba melepaskan diri dari kungkungan Caspian. Tapi, Caspian yang sudah menahan semuanya sejak pertama kali mereka bertemu, kini kehilangan kendali. Matanya menatap dengan intens, bibirnya sedikit terbuka dan pipinya memerah, seolah setiap tarikan napas membawa gelombang yang sulit ditahan. Dia tak menghiraukan rintihan Alexa, bibirnya dengan bringas mulai memagut bibir Alexa. Ciuman yang kasar, yang kemudian turun ke leher Alexa. Alexa memejamkan matanya karena takut, tapi juga ada sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ciuman Caspian mulai turun terlalu jauh, tangannya mulai aktif untuk membuka setiap kancing baju Alexa. Gadis itu menahan napasnya, jantung berdegup hebat. Diantara rasa takut, ada perasaan asing yang entah datang dari mana. Mungkin ini adalah akhirnya, Caspian yang sebentar lagi menjadi suaminya, akan merenggut kesucian itu sebelum mereka resmi menikah. Ucapannya beberapa hari lalu, hilang tertiup angin. Alexa takut, kecewa, marah diwaktu yang bersamaan. Kenapa Caspian ternyata seperti ini? “Aakkhhh” Alexa melenguh ketika benda asing masuk, menembus dinding yang selama ini ia jaga. “Sakit, Caspian.” Bersambung...Caspian menyeret Alexa masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Alexa, tidak sampai menyakitkan, tapi cukup kuat untuk menyampaikan satu hal: ia sedang tidak ingin dibantah.Alexa duduk kaku di kursi penumpang. Dadanya naik turun cepat, bukan karena lelah, melainkan karena kata-kata yang menumpuk di tenggorokannya sejak siang tadi. Sejak Caspian terlalu sibuk. Sejak ia merasa menjadi istri yang hanya hadir di sela jadwal pria itu.Mobil melaju cepat, terlalu cepat.Tak satu pun dari mereka berbicara sampai akhirnya gerbang rumah besar itu terbuka dan mobil berhenti di pelataran. Begitu pintu tertutup, Alexa menarik tangannya dari Caspian dan melangkah lebih dulu masuk.Langkahnya tegas. Tidak ragu.Begitu pintu utama tertutup, Alexa berbalik.“Berapa lama lagi aku harus seperti ini, Caspian?” suaranya bergetar, tapi bukan lemah. “Aku istrimu. Bukan dekorasi rumah yang kau tinggalkan setiap hari.”Caspian menutup pintu perlahan. Napasnya ditaha
Hari-hari setelah pernikahan berjalan terlalu… normal.Bukan normal yang menenangkan, melainkan normal yang terasa asing bagi Alexa. Tidak ada lagi sorot kamera, gaun-gaun mewah, atau bunga-bunga putih yang memenuhi setiap sudut hidupnya. Yang tersisa hanyalah rutinitas dan kesibukan Caspian yang semakin hari semakin menyita seluruh waktunya.Pagi-pagi buta, Caspian sudah meninggalkan rumah. Malam hari, ia pulang dengan wajah letih, jas yang belum sempat dilepas, dan ponsel yang terus bergetar tanpa henti. Alexa sering menunggunya di ruang makan, duduk rapi dengan makan malam yang mulai mendingin, hanya untuk akhirnya mendengar suara langkah kaki Caspian yang langsung menuju ruang kerja.Alexa berusaha memahami.Ia tahu, menikahi Caspian Maverick berarti menikahi dunia yang penuh tekanan, keputusan besar, dan tanggung jawab yang tidak main-main. Tapi tetap saja, hatinya bukan mesin. Ia butuh waktu, butuh kehadiran, butuh diyakinkan bahwa ia bukan hanya sekadar simbol di samping nama b
Dua minggu dilalui Alexa dengan penuh pertanyaan yang tak memiliki jawaban. Pagi ini, sinar matahari menembus jendela besar ballroom dengan lembut. Menari di permukaan marmer yang berkilau. Setiap sudut dihias dengan bunga-bunga putih dan pastel yang memantulkan cahaya, mencipatakan suasana manis yang tak hanya cantik untuk dilihat, tapi juga memabukkan bagi setiap tamu yang hadir. Alexa mematut diri di depan cermin, tubuhnya yang ramping dibalut gaun pengantin dengan renda tipis yang menjuntai hingga lantai. Setiap detail dihias sempurna, dari korset yang pas ditubuhnya hingga veil yang jatuh lembut menutupi bahunya. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan wajah cantik dan ekspresi tegang yang tersembunyi di balik senyum manisnya. Caspian berdiri tak jauh dari sana, mengenakan jas hitam elegan yang membuatnya terlihat lebih tegas dan memesona dari biasanya. Matanya tak lepas dari Alexa, memandang setiap gerak-geriknya dengan perhatian yang tidak biasa. Ia tahu, hari ini bukan sekada
Hujan malam itu telah reda, tapi udara tetap basah, membekas di kulit Alexa seperti jejak-jejak emosi yang belum ia lepaskan. Di dalam mobil Caspian, hanya ada suara putaran wiper dan detak jantungnya sendiri yang terasa begitu nyaring. Alexa menundukkan kepala, menahan air mata yang tak bisa lagi dibendung.“Kenapa ayah… kenapa harus seperti itu?” suaranya pecah, hampir seperti bisikan, namun terdengar begitu jelas di telinga Caspian.Caspian hanya menatapnya diam. Ia tak berkata apa-apa, hanya membiarkan Alexa melepaskan semua yang menumpuk di dadanya. Ia tahu, kata-kata terkadang tak cukup, hanya kehadiran yang bisa memberikan rasa aman.Alexa menutup wajahnya dengan kedua tangan, napasnya terengah. Ia merasa dunia runtuh, dunia yang selama ini ia kenal, yang seharusnya penuh rasa aman dari seorang ayah, kini berubah menjadi medan perang yang tak ia mengerti.Caspian meraih tangannya perlahan, tanpa paksaan, dan menggenggamnya. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk memberi sinya
Udara malam terasa dingin ketika mobil Caspian berhenti di depan gerbang tinggi kediaman keluarga Draxen. Rumah itu besar, kokoh, dipenuhi lampu-lampu besar yang terlihat megah. Tetapi bagi Alexa, rumah itu hanya tembok yang menyimpan trauma berlapis-lapis. “Kita bisa kembali jika kamu merasa tak siap.” ujar Caspian, mematikan mesin mobilnya sambil melirik Alexa. Alexa menatap gerbang itu beberapa detik, ada perasaan aneh yang berkecamuk dalam dadanya. Ia menghela napas dalam, “Aku harus menghadapinya.” Caspian mengangguk pelan. “Oke. Aku tunggu disini, panggil saja aku kapanpun kau butuh.” Alexa tak menjawab, ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Cahaya lampu teras menyambutnya, terang, dingin dan palsu. Caspian masih memperhatikan Alexa hingga punggung gadis itu hilang dibalik pintu besar rumah itu. Entah kenapa rahangnya mengeras, tempat ini layaknya jeruji emas untuk Alexa. Dan Caspian benci akan hal itu. Begitu masuk, Alexa langsung disambut dua orang yang tersenyum
“Brengsek!” Caspian melepaskan cekalannya, berjalan mundur untuk memberikan Alexa ruang bernapas. “Dia mau apa?” tanya-nya kemudian. Alexa menggigit bibir bawahnya, suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Aku tak tahu, dia mengirimiku pesan semalam, katanya ingin bertemu.” Caspian terdiam, ia tahu hubungan Alexa dengan ayahnya tidak baik. Sejak Alexa pindah ke rumah ini, tidak sekalipun ia menyebut nama ayahnya dengan nada hangat. Dan ia tahu—lebih dari apapun, bahwa Alexa pernah ditolak mentah-mentah oleh pria itu. Hari ketika Alexa pulang membawa kabar bahwa ia ingin mandiri, pria itu menatapnya seolah ia tidak layak dicintai. Caspian tidak pernah melupakan bagaimana Alexa menceritakannya sambil menahan napas agar suaranya tidak pecah. “Kenapa tiba-tiba?” Caspian bergumam. “Entah, aku takut. Ketakutan yang tak tahu karena alasan apa.” balas Alexa. Ia menatap Caspian, tatapan yang terlihat sangat rapuh. Berpikir sejenak, sebelum akhirnya berkata. “Em, apa kau bisa me-menganta







