LOGINTawaran ramah dari Tantri mengudara seiring dengan usapan hangat di bahu Puspa.
Jika sanggup memilih, Puspa ingin sekali menepis halus dan mencari ribuan alasan untuk menolak.Namun pendar tulus di sepasang mata paruh baya itu terlampau pekat, mengunci lidah Puspa hingga tak sanggup melontarkan kata sanggahan.Tanpa memberi celah bagi Puspa untuk berkilah, Tantri langsung membayar satu buah semangka utuh pada sang pedagang.Wanita paruh baya itu dengan cerBelum sempat bibir Puspa merangkai jawapan atas permohonan tulus itu, daun pintu kamar VIP mendadak terdorong dari luar. Saras melangkah masuk dengan binar mata berseri-seri, tangannya melambai pelan seraya memegangi dada dengan raut wajah penuh kegembiraan. “Puspa, Jarren, bayi-bayinya mau datang!” seru Saras penuh antusias, tak sanggup menyembunyikan getaran bahagia di suaranya. “Ya Allah, mereka semua tampan-tampan sekali!” Jarren spontan berdiri tegak, merapikan letak kemejanya seraya mengambil beberapa langkah mendekati pintu. Senyum tipis yang sarat keharuan perlahan mengembang di bibir Puspa kala dua perawat berseragam merah muda melangkah masuk. Masing-masing mendorong satu keranjang bayi berisi dua sosok mungil berdampingan. “Selamat siang, Ibu Puspa, Bapak Jarren,” sapa salah seorang perawat dengan ramah. Atmosfer kamar inap yang tadinya riuh oleh emosi mendadak diliputi kehangatan ya
“Tidur saja nggak apa-apa, Ibu. Prosedur bedahnya sudah hampir selesai.” Dokter anestesi yang berdiri menatap monitor irama jantung di sisi ranjang tersenyum menenangkan. Bagaikan mendapat izin, seluruh pertahanan kesadaran Puspa meloloskan kendalinya. Kegelapan yang amat hangat dan damai seketika menyapu habis sisa rasa lelah wanita itu. Suara pendar pendingin udara yang mengalun lembut menjadi hal pertama yang menyapa indra pendengaran Puspa kala matanya perlahan terbuka. Langit-langit ruangan bernuansa krem yang luas dan lampu temaram menyadarkannya bahwa Puspa telah dipindahkan ke kamar perawatan kelas VIP. Sensasi hangat di punggung tangannya seketika menguat. Jarren yang duduk di kursi samping ranjang spontan menegakkan tubuh tegapnya. “Puspa? Kamu dengar aku, Sayang?” bisik Jarren lembut, menatap dalam ke iris mata istrinya. Puspa mengangguk sangat pelan, lalu mengedipkan kelopak matany
“A-apa, Mas?” bisik Puspa parau, tidak yakin dengan pendengarannya sendiri. Jarren tidak menarik kembali ucapannya. Pria itu justru mendaratkan keningnya di pelipis Puspa seraya merengkuh jemari istrinya yang membeku. “Aku cinta kamu, Mpus,” ulang Jarren tanpa ragu sedikit pun sambil menekankan setiap kata. “Sangat cinta.” Puspa hendak membuka bibirnya, menuntut penjelasan atas pengakuan yang hadir di detik-detik pertaruhan nyawa ini. Namun suara dokter spesialis dari balik tirai steril di batas dadanya memotong percakapan itu. “Ibu Puspa, berasa saya colek nggak?” tanya dokter santai. Puspa mengedipkan matanya, menyesuaikan fokus. “Enggak ... enggak berasa apa-apa, Dokter.” “Oke, Ibu, dibawa santai ya,” timpal sang dokter menenangkan. “Sekarang operasi sesar sudah sangat canggih. Nanti begitu dedek bayinya keluar semua dan Ibu pindah ke kamar rawat inap, Ibu sudah bisa jalan lag
Setetes keringat dingin meluncur melintasi pelipis Puspa, menyatu dengan ringisan pelan tatkala gelombang cinta dari sang buah hati kembali menghantam ulu hatinya.“Mas Jarren ke mana, Ma?” bisik Puspa di sela-sela usahanya mengatur napas, menatap Saras dengan binar mata yang sarat akan kecemasan.Saras menoleh, raut wajahnya memancarkan tingkat frustrasi yang tak kalah pekat. Jemarinya masih menempelkan ponsel di telinga sebelum akhirnya menurunkan benda pipih itu dengan helaan napas berat.“Harusnya dia di kantor, Sayang,” jawab Saras jujur, menyembunyikan getaran panik di suaranya. “Tapi Jarren, bahkan Dimas pun sama-sama sulit dihubungi dari tadi.”Puspa menggigit bagian dalam bibirnya erat-erat, memejamkan mata tatkala kekecewaan halus mulai merayap di celah-celah rasa sakitnya.Melihat kondisi menantunya yang semakin kepayahan, Saras membalikkan badan, menatap lurus ke dalam iris mata sang dokter. “Biar saya
Puspa terdiam. Tangan kirinya bergerak pelan mengusap sisi bibir dengan lembaran tisu, menahan gejolak emosi yang mendadak menyeruak di ulu hati. Saras menarik napas pendek yang terdengar amat berat. Manik matanya merebakkan pendar penyesalan. “Ucapan Mama waktu itu terlampau kejam, Puspa. Jarren benar, seharusnya Mama jadi orang yang paling mengerti kondisimu dibanding siapa pun di rumah itu. Kita ini sama-sama perempuan, sama-sama seorang ibu. Nggak akan ada satu pun ibu di dunia ini yang rela dipisahkan dari anak-anaknya.” Hati Puspa bergetar hebat. Dia menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan sudut matanya yang mendadak basah oleh lelehan bening. “Mama benar-benar minta maaf ya, Sayang.” Saras mempererat usapan tangannya di punggung jemari Puspa. Sebuah senyum penuh haru perlahan terukir di belah bibir Puspa. Dia mendongak, menatap paras paruh baya yang kini tak lagi memancarkan keangkuhan.
“Saya,” sahut Jarren cepat tanpa ragu.Puspa menoleh pelan, menatap suaminya dengan mata mendingin. “Aku belum bilang kamu harus mendampingiku, Mas.”Jarren mengatupkan bibirnya rapat. Rasa ingin menegaskan statusnya sebagai suami dan ayah dari anak-anak itu bergolak di dada, tetapi dia menahannya kuat-kuat. Jarren menarik napas pendek seraya menatap Puspa dengan binar memohon. “Aku tahu, tapi aku cuma berharap kamu mengizinkanku ada di sana.”Puspa memalingkan wajah kembali ke arah dokter tanpa memberikan persetujuan.Di pelataran rumah sakit, angin sore berembus dingin membawa aroma tanah basah. Dokter telah menetapkan tanggal persalinan yang tinggal menghitung hari.Jarren membantu Puspa duduk di kursi roda, lalu mendorongnya perlahan menuju mobil.Kali ini, Puspa tidak menolak bantuan itu karena stamina fisiknya memang telah terkuras habis.Saat tiba di samping pintu mobil, Jarren membungkukkan tubuhnya sed







