Mag-log inhari ini aku upload pagi semua yaaa. nanti malam jangan dicariin. besok up kapan? belum tau, coba tanya aku besok ꒰⑅ᵕ༚ᵕ꒱˖♡
“Kamu biasanya nggak peduli pendapat orang lain,” sahut Jarren santai, tangannya tetap berada di atas kemudi saat mobil melintasi pekarangan rumah utama yang luas.Puspa menghembuskan napas panjang, menatap bayangan pohon-pohon peneduh yang terpantul di kaca jendela.“Soal penerimaan dalam keluarga, aku kurang percaya diri,” aku Puspa jujur.Tanpa perlu penjelasan lebih jauh, Jarren langsung mengerti kepedihan yang tersirat dalam nada suara istrinya.Wanita di sampingnya ini memang memiliki ayah, ibu, dan seorang kakak.Namun tidak ada satu pun dari mereka yang layak dipanggil keluarga, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat bersandar justru menjadi sumber luka bagi Puspa.“Sekalipun ini hanya pernikahan sementara,” lanjut Puspa lirih, mengusap lembut perutnya yang berbalut blazer longgar.Rahang Jarren seketika mengeras. Ada sengatan tidak nyaman yang mendadak menghantam dadanya mendengar frasa itu meluncur begitu mudah dari bibir Puspa. Namun wanita itu terlalu sibuk dengan gel
Dua lengan kekar Jarren melingkar sempurna di pinggang Puspa. Tanpa peringatan, pria itu mengangkat tubuh istrinya begitu mudah, mendudukkannya di atas meja dapur granit yang dingin. Sebelum Puspa sempat protes, Jarren membuka kedua kaki wanita itu, lalu menyusup berdiri tegas di antaranya. “Mas!” Puspa terkesiap. Jarren tidak membalas. Pria itu justru menunduk, mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di permukaan perut Puspa yang tertutup daster tipis. “Awalnya aku sengaja undang mereka buat ketemu kamu,” bisik Jarren. Puspa mendaratkan kedua telapak tangannya di atas bahu polos Jarren yang masih licin oleh bulir keringat usai berolahraga. Sensasi hangat dan sedikit basah merambat ke jemari Puspa. “Awalnya begitu, lalu akhirnya?” tanya Puspa pelan, menatap lurus manik mata suaminya dalam jarak beberapa sentimeter. Jarren menengadah. Posisi wajah Puspa yang kini sedikit lebih tinggi membuat pria itu harus mendongak tipis, memamerkan garis rahangnya yang tegas.
“Jangan bercanda, Jarren,” cetus Puspa tajam. Mata wanita itu menyipit, meneliti setiap senti garis wajah Jarren. Namun tidak ada selapis pun raut jahil, tengil, atau guratan humor yang biasanya bertengger di sana. Rahang Jarren justru mengeras dengan pendar mata yang teramat intens. “Aku nggak bercanda, Mpus,” sahut Jarren. Kernyitan di dahi Puspa semakin dalam. “Terus kenapa kalian sampai berantem karena aku?” Puspa memiringkan kepalanya, menatap Jarren lekat-lekat. Jarren mendengkus pelan, mengalihkan pandangannya sekilas sebelum kembali mengunci manik mata Puspa. “Rangga minta aku buat jauhin kamu, terus aku nggak mau.” Puspa membisu. Tidak ada sepatah kata pun yang lolos dari bibirnya, tidak juga ada perubahan pada raut wajahnya yang diliputi kebingungan. “Saat itu kan Rangga lagi gigih banget deketin kamu,” lanjut Jarren, bibirnya mengukir tawa sinis tatkala memori lama itu berputar di kepalanya. “Jadi dia anggap kehadiran aku adalah gangguan buat dia.” Puspa
Puspa memperhatikan raut wajah suaminya itu dengan datar. Jarren melirik Puspa sekilas lewat sudut matanya, menyadari keheningan aneh yang menyelimuti istrinya. “Iya, Mas. Aku ngerti maksudmu,” balas Puspa akhirnya. “Aku cuma merasa nggak tega karena Sena masih kecil dan sekarang sedang sakit. Tapi aku nggak akan memaksa.” Jarren membuang napas kasar. Jemarinya masih mencengkeram kemudi terlalu kuat. “Lain kali, kamu seharusnya langsung bilang ke aku kalau Rangga datang mencari kamu.” Balasan pria itu masih terdengar tajam, menyengat di udara kabin yang sempit. Puspa menarik napas panjang. Kehangatan yang tadi sempat membelai dadanya kini berganti menjadi letupan kekesalan. “Bisa biasa saja nggak?” tanya Puspa dengan sedikit ketus. “Ini aku juga bilang, kok. Kak Rangga yang datang tanpa aku undang, bukan aku yang ngundang atau sengaja meresponsnya. Justru dia datang karena dia sudah nggak bisa menghubungi aku lewat telepon atau chat.” “Kamu blokir dia?” Jarren menoleh sejenak,
Bola mata Puspa menyipit, menatap Rangga tidak percaya. Rangga menarik napas panjang. “Aku sungguh-sungguh, Puspa. Kalau kamu nggak percaya, kamu boleh ajak Jarren. Aku nggak akan macam-macam.” Pria itu memasang raut memohon yang teramat pasrah. Dada Puspa berdesir hebat. Senyuman tipis anak laki-laki itu mendadak terbayang di pelupuk mata Puspa. Wanita itu menghela napas berat, mencoba menetralkan degup jantungnya yang masih tak beraturan. “Sakit apa?” tanya Puspa akhirnya, sedikit melunak. “Demam berdarah,” sahut Rangga lirih. “Trombositnya turun drastis dari kemarin malam.” Hati Puspa sebagai calon ibu seketika bergejolak hebat. Meski masa kerjanya sebagai guru privat Sena terbilang singkat dan berakhir canggung, kepedulian serta rasa iba Puspa pada anak itu tidak pernah benar-benar padam. “Kak Rangga tahu kan, seharusnya Kakak hubungi ibunya Sena?” cecar Puspa, menatap Rangga lurus-lurus. “Walau hubungan kalian buruk, Sena tetap anaknya. Dia butuh perhatian ibu kandungnya
“Mengaku saja, Bu Guru,” bisik Jarren, tangannya terulur mencolek gemas ujung hidung Puspa. Melihat raut penuh kemenangan di wajah suaminya, Puspa berusaha mati-matian menahan kedut di sudut bibirnya demi memasang ekspresi datar. Namun binar di mata Puspa tak mampu berbohong. Puspa memalingkan wajah ke arah lain, memutus kontak mata itu. “Aku nggak bilang enggak sih, Mas,” sahut Puspa pelan, akhirnya menyerah. Jarren tertawa renyah. Pria itu mengangkat salah satu sudut bibirnya tinggi-tinggi, lalu merengkuh tubuh Puspa ke dalam pelukan hangat. Puspa tersentak kaget. Namun baru saja senyum geli hendak mekar di bibirnya, roda single bed tempat mereka berbaring mendadak menggeser. Ranjang rakitan itu terpisah seketika oleh dorongan tubuh Jarren. “Mas, hati-hati!” jerit Puspa panik, menyambar lengan jas Jarren erat-erat. “Iya, iya!” Jarren menyelesaikan sisa tawanya, menahan posisi tubuhnya agar tidak merosot. Pria itu buru-buru melepaskan pelukannya, lalu mendorong kembali ranj







