Share

Bab 5

Penulis: Zeevana881
last update Tanggal publikasi: 2025-10-29 00:11:49

Seminggu yang melelahkan sudah dilalui Karra bersama dua orang coach, tapi gadis itu tidak jua pandai bersikap seperti jalang. Ia memang sudah dibekali pakaian minim yang membuatnya terlihat lebih cantik. Namun sekali pandang, sebagai lelaki sejati Max tahu pasti bahwa Karra hanyalah seorang gadis bodoh.

"Hanya seperti itu?" sinis Max, dan bahu Karra luruh seketika.

"Keluar kalian!" Max mengibaskan tangan, mengusir dua orang wanita yang ia bayar mahal untuk mendidik calon istri simpanannya ini, sedangkan Karra hanya menunduk sambil menarik roknya yang minim.

Helaan napas Max membuat tengkuk gadis itu merinding. Terlebih pria itu berada tepat di belakangnya.

"Waktu kita tidak banyak! Kenapa kamu sebodoh ini?!" geram Max.

"M-maaf, Paman," lirih si gadis masih sambil menunduk.

"Pernah pacaran?" tanya Max dengan suaranya yang berat.

"P-pernah!!"

"Pernah having sex dengan gaya apa saja??"

"Ha?" Karra menoleh dan termangu. Pertanyaan macam apa itu? Dirinya baru 20 tahun. Belum sampai ke tahap itu.

Melihat reaksi si gadis, Max hanya menggelengkan kepala. Sepertinya ia sudah membuat kesalahan besar.

"Kamu payah! Jadi, rencana ini kita batalkan saja. Yang ada, keluarga saya akan tahu kalau kita sedang bersandiwara!" Max melepas dasinya dengan gerakan kasar, sedangkan gadis di hadapannya mulai terlihat gelisah.

"Batal? Maksud Paman..."

"Ya, batal. Kamu silahkan bayar ganti rugi kecelakaan, biaya rumah sakit dan juga semua barang yang sudah kamu pakai!"

"T-tunggu, mana bisa begitu??" Karra mendelik marah. Dan anehnya, melihat sorot mata gadis itu berubah menguat, Max jadi sedikit penasaran.

"Bisa, kalau saya memang ingin seperti itu. Nanti silahkah hubungi Kevin dan keluar dari rumah ini sekarang juga!!" Max melangkah ke pintu tapi sesuai dugaan, gadis itu segera menahannya.

"T-tunggu, Paman!" Karra merengek.

"Ck, apa lagi? Kamu benar-benar payah!!"

"Kasih saya satu kesempatan. Apa begini? Begini??" Karra memposisikan diri tepat di hadapan Max, lalu mencoba merapatkan tubuh mereka. Sepasang lengannya ia lingkarkan di leher Max yang kokoh.

Tatapan mata mereka bertemu dan... jantung Karra mulai tidak aman. Ia gadis normal dan Max adalah seorang pria matang dengan wajah dan postur tubuhnya yang sempurna.

"Ck, apa-apaan ini? Kamu pikir saya bercanda? Awas!! Masih banyak perempuan lain di luar sana! Saya juga bisa kerja sama dengan jalang sungguhan!"

"Saya masih perawan, Paman!!" bisik Karra. Kali ini, gadis itu berjinjit untuk mencapai titik di bawah telinga Max. "Saya... belum pernah disentuh siapa pun. Atau... Paman mau mengajarkan saya?"

Karra sedikit beringsut untuk melihat wajah pria itu. Max terdiam, dan tampak meneguk salivanya dengan susah payah.

"Oh ya?" Sebelah alis pria itu terangkat. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Karra yang ramping, lalu menekannya kuat.

"Ngh..." Karra sedikit bersuara kala dadanya juga ikut menempel dengan tubuh Max.

"Ya, saya belum pernah dengan siapa pun. Apa... saya boleh mencobanya dengan Paman saja??" Gadis itu menatap manja, lalu sedikit menggigit bibirnya. Max kembali menelan saliva dan pandangannya perlahan tertumbuk pada bibir mungil itu. Max merunduk, dan nyaris saja menciumnya. Tapi Karra malah menarik kepalanya menjauh.

"Apa begitu caranya?" Tatapan Karra kembali terlihat lugu.

"Sial!" desis Max dalam hati. Ia dorong gadis itu sampai nyaris terjungkal. Rupannya si bodoh ini hanya sedang mencoba kemampuan, bukan sungguh ingin menggoda Max.

"Apa sudah cukup nakal?? Ayolah, Paman!! Perempuan di luar sana belum tentu bersih. Mereka mungkin sudah sering having sex dengan berbagai jenis laki-laki. Kalau untuk kerja sama, saya bisa! Saya b-bersih." Karra sungguh takut andai Max meminta ganti rugi senilai belasan miliar. Biarlah ia menjadi gadis penurut seperti saran Kevin.

Max membuang napas kasar, lalu berdecak.

"Baiklah. Saya kasih waktu untuk berlatih dan kalau malam ini kamu berhasil... besok kita temui keluarga saya!!"

"Sungguh??" Mata lugu itu terlihat berbinar, seperti anak kucing.

"Hmm!" jawab Max singkat. Pria itu melonggaran kemejanya dan beranjak dari kamar itu. Ia harus pergi mengurus sesuatu sebelum mempersiapkan kejutan untuk keluarga istrinya, secepatnya.

"Paman tunggu!!" Karra kembali memanggil.

"Apa lagi?" Max menoleh. Aneh, mengapa gadis itu jadi terlihat semakin cantik? Apa benar dia masih perawan? Kepala Max mulai mempertanyakan sesuatu yang tidak penting.

"Bagaimana kondisi ... Nyonya Draven?" tanya Karra lirih. Kadang, gadis itu masih didera perasaan bersalah. Ia tidak dihukum, tidak dituntut apa pun, tapi malah hidup mewah di istana milik wanita itu. Barusan, Karra malah memeluk mesra suaminya.

"Apa dia sudah bangun?" tanya Karra dengan nada getir, dan Max menggeleng sebagai jawaban.

"Saya harap dia bangun di saat yang tepat!"

"Tapi ... bagaimana kalau dia tidak pernah bangun lagi??" tanya Karra sambil meremas ujung roknya. Gadis itu tidak sadar, pergerakannya justru membuat pakaiannya terangkat. Max mengerjap dan membuang pandangan.

"Kalau dia tidak bangun, kamu akan saya tawan seumur hidup. Jadi ... berdoalah yang banyak. Dia harus bangun, dan harus melihat sendiri, suaminya juga bisa bahagia dengan perempuan lain!!" Max sudah nyaris pergi tapi Karra masih saja bicara.

"Kenapa Paman tidak cari saja perempuan yang benar-benar Paman sukai?"

"Oke, saya akan cari dan perjanjian kita batal!!"

"B-bukan begitu. Saya hanya penasaran!!" Karra tersenyum aneh, menampakkan barisan giginya yang rapi.

Akhirnya pria itu benar-benar pergi. Karra terduduk di tepian tempat tidur, dan menggelengkan kepalanya. Ia masih saja berdebar bila mengingat kejadian beberapa saat lalu, ketika tubuhnya menempel dengan tubuh kokoh pria itu.

"Apa begitu rasanya... berpelukan dengan laki-laki tampan?" Karra mengigit bibir. Nalurinya sebagai seorang gadis sepertinya mulai terpanggil.

"Astaga, apa aku sudah jadi jalang??"

*

Malamnya, Karra hanya duduk sambil menatap ponsel. Ia membuka laman pesan group teman-teman sekelasnya. Mereka semua membicarakan dirinya yang sudah menghilang selama beberapa waktu. Rupanya ada juga yang khawatir. Gadis itu pun tersenyum getir.

"Bagaimana dengan koperku, apa benar-benar sudah dibuang?" Karra membanting punggungnya ke tempat tidur. Dress tipis yang ia pakai seketika tersingkap. Bertepatan dengan itu, Max datang tanpa mengetuk pintu. Pria itu tanpa sadar menahan napasnya.

"Paman?" Karra terduduk.

"Bisa berhenti memanggilku Paman?" sinis Max. Pria itu mendekat tanpa berkedip. Ia terus memandangi Karra yang sibuk membenarkan pakaiannya.

"Lakukan lagi, menjadi jalang!" pinta Max dengan nada dingin, tapi sorot matanya tidak bisa lepas dari gadis itu..

Karra berdiri. Mendekat, lalu melingkarkan tangan di leher pria itu lagi, seperti tadi siang.

"Mas dari mana?" tanya Karra dengan nada manis. Masih canggung, tapi anehnya Max tidak protes. Pria itu juga memeluk pinggul ramping Karra seperti beberapa jam yang lalu, hingga ia dapat merasakan lekuk tubuh gadis itu. Hangat, dan lembut.

"Saya dari ... rumah sakit!"

"Istri Mas sudah ada perkembangan??" Kali ini Karra juga berjinjit, dan meniupkan napasnya di leher Max yang putih.

"Hmm, dia sedikit merespon."

Karra berhenti. Ia jadi takut membayangkan apa yang akan terjadi jika wanita itu bangun dan memergoki mereka.

"Kenapa berhenti?" protes pria itu. Matanya memandang Karra tidak suka.

"Ng... aku... cuma takut." Gadis itu kembali memeluk Max. Kali ini sedikit lebih berani dari sebelumnya.

"Takut?" Pria itu menyelami mata indah milik Karra dari jarak dekat.

"Hmm, aku takut dia bangun dan... aku tidak punya kesempatan untuk memeluk Mas lagi." Karra membalas pandangan itu. Ia mulai tahu kelemahan Max. Lehernya di bagian bawah telinga. Max memejamkan mata saat Karra terus mengusap bagian itu dengan ujung jari.

"Aku... ingin memiliki Mas untuk diriku sendiri! Bukan untuk berbagi!" bisik Karra. Lalu, ia mencoba sedikit menggoda daun telinga pria itu. Karra mendaratkan bibirnya di sana, juga ujung lidahnya yang basah.

Max terus memejamkan mata. "Good!" ucapnya seraya menarik napas dalam. "Teruskan!"

Karra bimbang. Bagaimana ini? Ia perlahan turun menuju leher Max yang kokoh, membuat sedikit kecupan di sana.

"Mas tau, apa yang paling aku suka dari kamu?" tanya Karra.

"Hmm, apa itu??"

"Wangimu! Kamu wangi sekali!" Karra terus menggoda di sana, dan tanpa sadar bahwa ia tengah bersungguh-sungguh dengan semua yang ia lakukan. Ia tidak berbohong. Ia memang suka dengan aroma tubuh Max..

"Aku juga suka ini!!" Karra mengangkat wajahnya, lalu menyentuh bibir pria itu dengan ujung jari. "Apa sudah cukup? Apa sudah seperti jalang??"

Bukannya menyahut, pria itu malah merunduk dan... melumat habis bibir Karra. Gadis itu terkejut, ini di luar dugaan. Ini ciuman pertamanya, dan Max mengambilnya begitu saja.

Akhirnya Karra mencoba memejamkan mata. Mempelajari rasa yang tercipta saat bibir lembut pria itu mempermainkan kewarasannya perlahan.

"Teruskan!" bisik Max seraya membalas godaan Karra sebelumnya. Pria itu juga mulai mempermainkan daun telinga Karra.

"Ah.... P-paman, ini sudah di luar batas!!" Gadis itu menggeliat di dalam kungkungan Max. Tapi pria itu malah makin menggila. Tangan Max mulai menyusup di bawah gaunnya.

"Paman, j-jangan!! Aahh!!"

-----++-----

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 15

    Karra buru-buru memakai riasan tipis di wajah. Namun saat riasan itu selesai, hatinya meragu. Ruth Boynton--ibu kandung Max tempo hari pernah memberinya hadiah sebuah tamparan saat mereka bertemu pertama kali. Karra tentu saja merasa gugup. "Ayo, Nona! Nyonya besar tidak suka menunggu lama," mohon Pak Rudy. Pria itu mengiringi langkah Karra yang bimbang hingga mereka sampai di ruang tamu. Nyonya Ruth tampak duduk tenang di sana, namun sorot matanya terlihat begitu tajam. Tapi Karra salut, sebab wanita itu tetap berdiri menyambut kedatangannya. "Maaf menunggu lama, Nyonya. Saya... sedang tidak enak badan," lirih Karra sembari mengangguk sopan. "Saya tau," balas wanita itu. "Saya sudah dengar, kemarin... kamu diculik oleh Harris--sepupunya Ghania. Saya memang tidak membenarkan tindakannya tapi... Harris melakukan itu mungkin karena dia marah. Semua orang marah mengetahui Max menikah lagi, termasuk Harris. Jadi... saya harap kamu mau membujuk Max untuk segera mencabut laporannya di k

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 14

    Kevin menerobos masuk dan menghadang si penjahat wanita lebih dulu. Di tangan wanita itu masih terselip sebilah belati dan benda itu adalah tujuan utama Kevin kali ini. Rupanya tidak semudah yang Kevin bayangkan. Wanita itu mempunyai kemampuan bela diri yang mumpuni. "Kak, pergi!!" teriak wanita itu pada Harris. "Pergi??" sinis Max. "Dia tidak akan ke mana-mana!!" ucap Max seraya menghantam kaki Harris tepat di bagian pen, sama seperti yang Karra lakukan beberapa saat lalu. Harris kembali meraung, dan Max tidak membuang waktu lebih lama lagi untuk menyelamatkan gadisnya. Pria itu menggeram saat melihat luka di sudut bibir Karra. Karra terlepas, dan Max kembali menghajar Harris sampai pria itu terjatuh dari kursi roda. "Berhenti!!" Wanita bertubuh semampai itu berteriak histeris setelah melihat kakaknya terluka. Ia lengah, dan Kevin berhasil membekuknya. "Brengsek kalian!!" desis Kevin seraya mengikat tangan wanita itu. "Kalian yang brengsek!!" Si wanita malah membalas. "Peng

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 13

    Karra mengikuti langkah wanita di hadapannya dengan perasaan tak menentu. 'Memangnya... Max ingin aku melakukan apa?' batinnya. Gadis itu semakin tidak mengerti saat mereka sudah menapaki lorong panjang yang sangat sepi, entah langkah ini akan bermuara di mana. "Sebentar lagi kita sampai, Nyonya!" ucap wanita tambun di depan Karra seolah tahu mangsanya mulai merasa gelisah. Dan akhirnya Karra menghentikan langkah. Gadis itu yakin, ini tidak benar. "Nyonya?" "Sebentar!!" Karra mengangkat dagu dan memandangi wanita itu. Ia harus bersikap layaknya seorang nyonya muda. Mengeluarkan ponselnya, lalu Karra membuat panggilan ke kontak Kevin. Max mungkin akan marah jika diganggu jadi tidak ada salahnya Karra memastikan segala sesuatu melalui Kevin--asistennya. "Ya, Nyonya??" "Mas Kevin!! Si pemarah itu... sebenarnya ingin saya melakukan apa?" tanya Karra. Wajah wanita di hadapannya berubah mengeras. Karra belum sempat mendengar Kevin merespon, tapi seseorang sudah menghantam tengkukn

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 12

    "Jadi, Mas membawaku ke kantor untuk bertemu dengan laki-laki itu? Siapa namanya? Harris?" Karra bersuara setelah Max menutup rapat pintu ruangannya. Hanya ada mereka berdua, sebab Kevin sedang berjaga tepat di balik pintu. "Kurang lebih begitu!" jawab Max datar. "Saya ingin dia sedikit merasa terancam, jadi... mainkan peranmu. Ancam dia!" Karra menatap nanar. "Kenapa, kamu takut? Toh kodisi fisiknya masih seperti itu. Dia bukan lawan yang harus kamu takutkan!!" Max mengatakan itu sambil membuang pandangan ke arah foto pernikahannya yang terpajang di dinding. Foto itu sama persis seperti yang terpajang di rumah. "Baiklah!!" jawab Karra lirih. "Aku akan mengancamnya dengan penampilan seperti ini, dan... siapa tau dia tergoda. Biar aku pastikan sendiri sentuhan siapa yang lebih baik sampai-sampai Nyonya Ghania rela bertelanjang di dalam mobil, dengan dia!!" Mendengar itu, Max menoleh dengan rahang bertaut kuat. "K-kau..." "Kenapa?" Karra tertawa rendah. "Toh aku peremp

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 11

    Karra tersenyum samar setelah memeriksa kembali surat perjanjian yang baru saja ia buat. Tidak terlalu banyak, hanya beberapa poin penting.Pertama, pernikahan sialan ini hanya akan berlangsung selama satu tahun, dan Karra sudah menulis bayaran yang ia inginkan. Sepuluh miliar rupiah. Itu bukan jumlah yang akan memberatkan Maxime, Karra yakin itu.Kedua, berhubungan ranjang layaknya suami istri hanya akan dilakukan dalam keadaan suka sama suka. Karra sudah berpikir jauh saat ingin menuliskan ini. Ia tidak mau Max memaksanya secara sepihak. Lalu ke tiga, selama mereka terikat hubungan, Max harus melindungi Karra dari ayah dan ibu tirinya. Keempat, jika hubungan mereka sudah usai, Max tidak punya hak apa pun atas diri Karra begitu juga sebaliknya dan yang terakhir, hubungan ini boleh diakhiri sepihak oleh Max kapan pun ia mau. Lebih cepat lebih baik. Tapi setelah lewat masa satu tahun, kembali ke poin ke empat. Max tidak berhak memaksa.Pintu kamar terbuka, dan Karra langsung menemukan

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 10

    "Max brengsek!!" Karra mendesis. Aliran darahnya masih begitu laju walau Max sudah menutup pintu kamar mewah itu sejak lima menit lalu. Gadis itu bangkit, lalu meremas kuat seprai penuh kelopak bunga. Ia benci situasi ini. Ia tak berdaya atas dirinya sendiri. Nyatanya saat pria itu menyentuh, Karra justru... menikmatinya. "Aaaaaaaaaakkh!!!" Karra berteriak frustasi. Dirinya adalah gadis paling munafik di seluruh penjuru. Ia bukan hanya membenci Max tapi justru pada dirinya sendiri. "Nona?" Terdengar suara Pak Rudy dari balik pintu. Dan Karra sadar, penampilannya sangat tidak layak disaksikan oleh makhluk mana pun. "S-saya baik-baik saja, Pak!" teriaknya. Gegas ia melangkah menuju lemari, lalu menyambar asal sehelai gaun. Karra membawa pakaian berbahan satin halus itu ke kamar mandi, lalu mengguyur kepalanya dengan air dingin. Lama gadis itu berdiri di bawah pancuran air. Menghukum kemunafikan yang semakin tumbuh di dalam dirinya. 'Sudahlah, Karra. Kamu bukan malaikat. Nik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status