Share

Bab 4

Author: Zeevana881
last update publish date: 2025-10-26 11:26:09

"Paman, ini tidak benar! Saya sudah mengakui semua kesalahan saya!!" ucap Karra ketika mobil itu akhirnya berhenti di sebuah mansion besar, dengan warna putih tulang mendominasi.

Max hanya membuang napas kasar lalu turun lebih dulu. Pria itu melangkah tanpa peduli pada gadis yang masih terlihat ketakutan di belakangnya.

"Ayo turun, Nona!" Kevin--asisten Max membukakan pintu. Karra melompat turun dan bersiap untuk kabur. Hanya saja, Kevin terlalu tangkas untuk dikelabui.

"Jangan buat Pak Max marah, Nona!" desah pria itu. Karra akhirnya tidak punya pilihan. Ia terpaksa melangkah mengikuti jejak Max, masuk ke dalam badan mansion.

Di sepanjang langkah, gadis itu hanya menemukan kemewahan. Semua tertata sempurna. Sedikit kekaguman membuat ketegangan itu mengendur, hingga akhirnya Karra melihat Max duduk di sebuah sofa panjang.

"Duduk!" perintah pria itu.

Dengan takut-takut, Karra pun duduk di hadapan Max.

"Berdiri!!"

"Ha?" Karra tidak mengerti, tapi ia tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh pria itu. Ia berdiri dan...

"Berputar!"

"Astaga!" Karra ingin mengumpat. Ia merasa seperti seekor anjing di hadapan tuannya.

"Ck, gayamu sama sekali tidak anggun! Kevin, panggilkan guru privat. Buat dia jadi perempuan berkelas dalam waktu satu minggu sebelum saya menikahinya!" Max kemudian berdiri, dan Kevin menyanggupi perintah sang tuan.

"T-tunggu, Paman. Menikah? S-saya barusan tidak salah dengar? Siapa yang akan menikah dengan siapa??" cecar Karra dengan wajah panik. Pria itu hanya melirik sekilas dan membuang napas kasar.

"Nanti kita bicarakan! Saya sedang lelah!" ucap pria itu. Max berbalik tapi Karra berlari mengejarnya. Gadis itu nekat meraih tangan Max yang besar.

"Paman!! S-saya mohon tolong katakan sesuatu, untuk apa saya di sini??"

"Harusnya kamu berterima kasih, kamu tidak saya siksa di penjara!" desis pria itu. Tanpa penjelasan lebih lanjut, Max melepas tangannya dengan kasar, kemudian berlalu.

"P-paman!!" Karra masih memanggil tapi percuma. Pria itu seolah tuli.

"Mari, Nona!" Suara Kevin membuat Karra menoleh dengan pandangan mengiba.

"Ayo, Nona!! Tolong jangan buat dia marah!" tambah Kevin. Karra terpaksa mengangguk, dan mengekor lagi. Kevin tidak lebih tinggi dari Max. Wajahnya juga tidak begitu seram. Karra pun membuang perasaan takut dan mencoba menenangkan dirinya di sepanjang langkah.

"Pak, Paman Max... tidak berencana menikahi saya, kan??" tanya gadis itu gugup. Tidak ada jawaban. Kevin pun terlihat gelisah sampai akhirnya mereka tiba di depan sebuah kamar.

"Istirahatlah di sini. Semua yang Nona butuhkan sudah ada di dalam. Siang nanti, akan ada seseorang yang datang. Tolong menurut. Pak Max ... paling senang dengan gadis penurut!"

Tanya di kepala Karra masih belum terjawab, dan asisten pribadi itu sudah berlalu dari hadapannya.

"Aku pasti salah dengar!" lirih gadis itu sebelum menutup pintu. Ya, Max sudah beristri, dan selama ini dia sangat mencintai istrinya. Mana mungkin pria itu berencana menikahi seorang Karra yang justru sudah membuat istrinya celaka?

*

Kamar itu cukup indah. Ada banyak pakaian di dalam lemari, lengkap dengan produk-produk kecantikan seharga jutaan yang selama ini hanya bisa Karra lihat di televisi. Gadis itu duduk di tepi tempat tidur, sambil menunggu takdir.

Lalu Karra teringat, ia masih membawa ponsel bututnya di dalam saku. Karra mengeluarkan benda itu dan membuka laman berita. Rupanya, desas desus kecelakaan yang dialami oleh Nyonya Draven sudah mereda.

"Wah... the power of money," lirih gadis itu. Seharusnya saat ini, mereka masih memberitakan Ghania. Perempuan itu bahkan belum terbangun dari koma.

Karra kemudian beralih membuka laman pesan. Satu pesan dari kontak 'Iblis' berharsil menarik perhatiannya.

["Kopermu kenapa tidak dibawa? Sudah aku periksa, tidak ada barang berharga dan karena ini pun tidak berguna bagi kami jadi sebaiknya kubuang saja di tempat pembuangan sampah!"]

"T-tidaak!!" Karra panik. Semua berkas dan barang miliknya ada di koper itu. Karra kemudian menghambur ke pintu, lalu mencoba membukanya.

Rupanya terkunci.

"Pak Kevin??? Paman Max?? T-tolong, saya harus pergi!!" teriak Karra sambil menggedor pintu kokoh berbahan kayu jati. Yang ada, tangannya justru merasa sakit.

"PAMAAN!!" Karra berteriak sekuat tenaga hingga beberapa saat kemudian, pintu itu terdorong ke arah dalam. Karra nyaris jatuh tersungkur.

"Jangan berisik!" sentak seseorang di hadapan Karra. Max tampak memakai pakaian santai. Rambutnya pun sedikit berantakan, dan... rupanya dia sangat tampan.

Karra mengerjap. Bukan waktunya mengagumi harimau besar ini.

"Paman, saya harus pulang. Berkas penting saya ... akan segera diangkut truk sampah!" Karra memperlihatkan foto di ponselnya. Foto yang baru saja dirikirim oleh Sonya si ibu tiri.

"Paman, saya masuk fakultas kedokteran itu dengan susah payah!! Sendirian!" tambah Karra karena Max tidak jua bereaksi.

"Dan kamu baru saja menyebabkan kecelakaan besar. Kamu pikir, kamu masih bisa kuliah di sana? Andai pihak kampus tahu siapa korban yang kamu buat menjadi koma, kamu pasti akan dikeluarkan dengan tidak hormat, Nona. Jadi, lupakan pendidikanmu!! Tugasmu di sini adalah, belajar jadi wanita berkelas!" Max kemudian menatap gadis itu dari atas sampai bawah.

"Kenapa tidak ganti pakaian?" sinisnya.

"T-tapi pakaian di dalam sana ... semuanya terbuka, Paman. Saya tidak terbiasa," cicit gadis itu.

"Biasakan!" perintah Max, dan Karra hanya bisa menelan saliva.

"Oh... b-baiklah!" Karra mundur, lalu berbalik menuju lemari pakaian yang berjejer rapi di sudut kamar itu. Ia mencari-cari pakaian yang sekiranya pantas. Menit demi menit berlalu, dan Karra belum jua menjatuhkan pilihan.

Karra terperanjat saat tangan Max tiba-tiba terulur di sampingnya.

"Ini!" perintah pria itu. Ia mengambil sebuah dress selutut berwarna merah menyala, dengan bagian dada yang cukup rendah.

"I-ini..." Karra terlihat ragu.

"Saya tidak akan memakanmu. Pakailah!!"

Batin Karra terus bertanya-tanya. Apa maksud pria ini? Apa jangan-jangan, Max akan menjualnya ke rumah bordil?

Karra melirik punggung pria itu. Max bahkan tidak berniat meninggalkan ruangan ini. Haruskah Karra berganti pakaian begitu saja, tanpa menyuruhnya keluar lebih dulu?

Akhirnya gadis itu melangkah ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya di sana.

"Jangan buang waktu saya lebih lama lagi," teriak pria itu. Tidak sampai lima menit kemudian, Karra akhirnya keluar dari sana. Max berbalik, lalu memandanginya dari atas sampai bawah.

"Lumayan juga!" Max membatin. Ukuran dadanya pun tidak mengecewakan. Kulitnya putih bersih. Hanya saja ... bekas luka di bagian bahunya sedikit mengganggu. Gaya rambutnya juga terlalu sederhana.

"Duduk!" Max menunjuk tempat tidur dengan dagunya.

"Astaga, bagaimana ini?" Karra membatin. Ia merasa sedang dipermalukan.

"Saya harap Paman tidak memaksa saya untuk... berbuat tidak senonoh!" ucap gadis itu sambil memainkan jemarinya.

Max menarik napas dalam, lalu mengawasi gadis itu sampai ia benar-benar duduk di tepi tempat tidur. Roknya sedikit tersingkap, mempertontonkan kaki jenjangnya yang indah. Max biasanya tidak pernah tergoda oleh perempuan lain, tap kali ini ia harus mengakui bahwa tubuhnya bereaksi.

"Kita akan menikah minggu depan!" ucap pria itu, datar.

"A-apa??" Karra terlonjak, sedangkan Max membuang muka, lalu memilih duduk di sebuah sofa. Tidak jauh dari Karra.

"Kamu benar. Saya ... sudah dikhianati habis-habisan."

"Lalu, Paman ingin membalas dendam dengan menikahi saya?" tebak gadis itu.

"Kamu pintar juga!" Max sedikit tersenyum. Dan itu adalah senyuman pertamanya untuk Karra. Gadis itu mengerjap lalu mengalihkan pandangan. Senyuman pria itu... rupanya cukup menyilaukan.

"Ini bukan pernikahan yang normal. Kamu hanya perlu menjadi perempuan bi nal di depan banyak orang, seolah sudah berhasil menggoda saya. Selebihnya ... kita hanya orang asing yang tidak mengenal satu sama lain."

"Tunggu!" Karra menginterupsi. "Perempuan bi nal? Jadi, Paman ingin saya terlihat seperti seorang wanita perusak rumah tangga, begitu?"

"Ya!" jawab Max santai. "Jatuh cinta lagi adalah hal yang wajar bagi seorang pria seperti saya. Saya tidak mau citra saya rusak di depan banyak orang. Kamu cukup bersikap seperti ja lang dan buat orang-orang menghujat dirimu. Lalu, kamu akan saya perkenalkan sebagai istri simpanan. Ini akan menyakitkan bagimu, dan juga bagi perempuan itu. Setidaknya ini lebih baik dari pada mendekam di penjara, bukan?"

Karra menggeleng lemah. Tidak, ia lebih baik mati di penjara dari pada di cap sebagai perempuan perusak rumah tangga.

"Maaf, Paman. Saya tidak mau!" tolaknya. "Mama saya meninggal tidak lama setelah papa menikah lagi. Ini pasti akan mengecewakan mendiang mama saya!!"

Max berdiri, lalu memandangi gadis itu. Karra tampak berkaca-kaca, hendak menangis.

"Saya tidak peduli," lirih Max. "Kamu yang membongkar rahasia perselingkuhan istri saya jadi..."

"Harusnya Paman berterima kasih!!" potong Karra dengan suara bergetar.

Max tersenyum sinis. "Berterima kasih? Pikirkan baik-baik. Jadi istri simpanan yang bi nal selama satu tahun dengan bayaran fantastis, atau ... kamu harus membayar ganti rugi semua kerusakan mobil istri saya seharga puluhan miliar, biaya operasi dan pengobatan istri saya, dan juga semua biaya yang sudah saya keluarkan untuk menurunkan berita kecelakaan itu dari semua portal berita. Total semuanya ada sekitar... delapan belas miliar."

Karra menelan saliva. Melacurkan diri pun, ia tidak akan pernah bisa mengumpulkan sebanyak itu.

"B-baiklah! Tapi... jangan salahkan saya kalau pada akhirnya, Paman jatuh cinta pada saya!"

Max tertawa. Dirinya? Jatuh cinta pada gadis bodoh ini??

"Jangan mimpi!!"

-----++-----

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 15

    Karra buru-buru memakai riasan tipis di wajah. Namun saat riasan itu selesai, hatinya meragu. Ruth Boynton--ibu kandung Max tempo hari pernah memberinya hadiah sebuah tamparan saat mereka bertemu pertama kali. Karra tentu saja merasa gugup. "Ayo, Nona! Nyonya besar tidak suka menunggu lama," mohon Pak Rudy. Pria itu mengiringi langkah Karra yang bimbang hingga mereka sampai di ruang tamu. Nyonya Ruth tampak duduk tenang di sana, namun sorot matanya terlihat begitu tajam. Tapi Karra salut, sebab wanita itu tetap berdiri menyambut kedatangannya. "Maaf menunggu lama, Nyonya. Saya... sedang tidak enak badan," lirih Karra sembari mengangguk sopan. "Saya tau," balas wanita itu. "Saya sudah dengar, kemarin... kamu diculik oleh Harris--sepupunya Ghania. Saya memang tidak membenarkan tindakannya tapi... Harris melakukan itu mungkin karena dia marah. Semua orang marah mengetahui Max menikah lagi, termasuk Harris. Jadi... saya harap kamu mau membujuk Max untuk segera mencabut laporannya di k

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 14

    Kevin menerobos masuk dan menghadang si penjahat wanita lebih dulu. Di tangan wanita itu masih terselip sebilah belati dan benda itu adalah tujuan utama Kevin kali ini. Rupanya tidak semudah yang Kevin bayangkan. Wanita itu mempunyai kemampuan bela diri yang mumpuni. "Kak, pergi!!" teriak wanita itu pada Harris. "Pergi??" sinis Max. "Dia tidak akan ke mana-mana!!" ucap Max seraya menghantam kaki Harris tepat di bagian pen, sama seperti yang Karra lakukan beberapa saat lalu. Harris kembali meraung, dan Max tidak membuang waktu lebih lama lagi untuk menyelamatkan gadisnya. Pria itu menggeram saat melihat luka di sudut bibir Karra. Karra terlepas, dan Max kembali menghajar Harris sampai pria itu terjatuh dari kursi roda. "Berhenti!!" Wanita bertubuh semampai itu berteriak histeris setelah melihat kakaknya terluka. Ia lengah, dan Kevin berhasil membekuknya. "Brengsek kalian!!" desis Kevin seraya mengikat tangan wanita itu. "Kalian yang brengsek!!" Si wanita malah membalas. "Peng

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 13

    Karra mengikuti langkah wanita di hadapannya dengan perasaan tak menentu. 'Memangnya... Max ingin aku melakukan apa?' batinnya. Gadis itu semakin tidak mengerti saat mereka sudah menapaki lorong panjang yang sangat sepi, entah langkah ini akan bermuara di mana. "Sebentar lagi kita sampai, Nyonya!" ucap wanita tambun di depan Karra seolah tahu mangsanya mulai merasa gelisah. Dan akhirnya Karra menghentikan langkah. Gadis itu yakin, ini tidak benar. "Nyonya?" "Sebentar!!" Karra mengangkat dagu dan memandangi wanita itu. Ia harus bersikap layaknya seorang nyonya muda. Mengeluarkan ponselnya, lalu Karra membuat panggilan ke kontak Kevin. Max mungkin akan marah jika diganggu jadi tidak ada salahnya Karra memastikan segala sesuatu melalui Kevin--asistennya. "Ya, Nyonya??" "Mas Kevin!! Si pemarah itu... sebenarnya ingin saya melakukan apa?" tanya Karra. Wajah wanita di hadapannya berubah mengeras. Karra belum sempat mendengar Kevin merespon, tapi seseorang sudah menghantam tengkukn

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 12

    "Jadi, Mas membawaku ke kantor untuk bertemu dengan laki-laki itu? Siapa namanya? Harris?" Karra bersuara setelah Max menutup rapat pintu ruangannya. Hanya ada mereka berdua, sebab Kevin sedang berjaga tepat di balik pintu. "Kurang lebih begitu!" jawab Max datar. "Saya ingin dia sedikit merasa terancam, jadi... mainkan peranmu. Ancam dia!" Karra menatap nanar. "Kenapa, kamu takut? Toh kodisi fisiknya masih seperti itu. Dia bukan lawan yang harus kamu takutkan!!" Max mengatakan itu sambil membuang pandangan ke arah foto pernikahannya yang terpajang di dinding. Foto itu sama persis seperti yang terpajang di rumah. "Baiklah!!" jawab Karra lirih. "Aku akan mengancamnya dengan penampilan seperti ini, dan... siapa tau dia tergoda. Biar aku pastikan sendiri sentuhan siapa yang lebih baik sampai-sampai Nyonya Ghania rela bertelanjang di dalam mobil, dengan dia!!" Mendengar itu, Max menoleh dengan rahang bertaut kuat. "K-kau..." "Kenapa?" Karra tertawa rendah. "Toh aku peremp

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 11

    Karra tersenyum samar setelah memeriksa kembali surat perjanjian yang baru saja ia buat. Tidak terlalu banyak, hanya beberapa poin penting.Pertama, pernikahan sialan ini hanya akan berlangsung selama satu tahun, dan Karra sudah menulis bayaran yang ia inginkan. Sepuluh miliar rupiah. Itu bukan jumlah yang akan memberatkan Maxime, Karra yakin itu.Kedua, berhubungan ranjang layaknya suami istri hanya akan dilakukan dalam keadaan suka sama suka. Karra sudah berpikir jauh saat ingin menuliskan ini. Ia tidak mau Max memaksanya secara sepihak. Lalu ke tiga, selama mereka terikat hubungan, Max harus melindungi Karra dari ayah dan ibu tirinya. Keempat, jika hubungan mereka sudah usai, Max tidak punya hak apa pun atas diri Karra begitu juga sebaliknya dan yang terakhir, hubungan ini boleh diakhiri sepihak oleh Max kapan pun ia mau. Lebih cepat lebih baik. Tapi setelah lewat masa satu tahun, kembali ke poin ke empat. Max tidak berhak memaksa.Pintu kamar terbuka, dan Karra langsung menemukan

  • Menjadi Istri Tawanan Paman CEO   Bab 10

    "Max brengsek!!" Karra mendesis. Aliran darahnya masih begitu laju walau Max sudah menutup pintu kamar mewah itu sejak lima menit lalu. Gadis itu bangkit, lalu meremas kuat seprai penuh kelopak bunga. Ia benci situasi ini. Ia tak berdaya atas dirinya sendiri. Nyatanya saat pria itu menyentuh, Karra justru... menikmatinya. "Aaaaaaaaaakkh!!!" Karra berteriak frustasi. Dirinya adalah gadis paling munafik di seluruh penjuru. Ia bukan hanya membenci Max tapi justru pada dirinya sendiri. "Nona?" Terdengar suara Pak Rudy dari balik pintu. Dan Karra sadar, penampilannya sangat tidak layak disaksikan oleh makhluk mana pun. "S-saya baik-baik saja, Pak!" teriaknya. Gegas ia melangkah menuju lemari, lalu menyambar asal sehelai gaun. Karra membawa pakaian berbahan satin halus itu ke kamar mandi, lalu mengguyur kepalanya dengan air dingin. Lama gadis itu berdiri di bawah pancuran air. Menghukum kemunafikan yang semakin tumbuh di dalam dirinya. 'Sudahlah, Karra. Kamu bukan malaikat. Nik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status