MasukTok! Tok! Tok!
“Non…!”
Terdengar suara ketukan pintu yang disusul dengan suara bi Inah terdengar dari balik pintu. Kayla yang tengah berbaring berpura-pura demam itu hanya terdiam tanpa menyahut ucapan bi Inah, Kayla tahu jika pasti bi Inah sedang disuruh oleh keluarga suaminya. Agar sandiwaranya ini semakin terlihat nyata Kayla sengaja meletakan kain basah di keningnya.
“Non, nyonya dan yang lain sudah menunggu di bawah.”
Benar saja dugaan Kayla jika bi Inah pasti disuruh untuk memanggilnya. Sesaat Kayla melirik ke arah jam di kamarnya yang mana kini telah menunjukan pukul 18:30.
“Masuk aja bi, pintunya gak dikunci.” Titah Kayla dengan sedikit berteriak. Ia sengaja menyuruh bi Inah masuk agar bisa melihat kondisinya saat ini.
Saat pintu kamar baru saja dibuka bi Inah langsung dibuat terkejut saat melihat Kayla yang sedang berbaring dengan kompresan berada di keningnya.
“Ya ampun non, non Kayla kenapa?” bergegas bi Inah mendekat.
“Aku lagi gak enak badan bi,” jawab Kayla, sambil memasang wajah lesu.
Bi Inah yang merasa khawatir hendak menyentuh wajah Kayla, namun hal itu segera Kayla tahan menggunakan tangannya.
“Aku hanya demam saja kok bi.”
“Aduh non, kenapa gak bilang sama bibi sih? Kan bisa bibi belikan obat. Atau kita periksa aja mau?” tanya bi Inah dengan paniknya.
Kayla tersenyum. Di dalam hatinya ia merasa sangat bersalah lantaran telah membohongi bi Inah, namun mau bagaimana lagi karena Kayla terpaksa harus melakukan ini.
“Gak usah bi, nanti juga akan sembuh sendiri kok. Aku mau minta tolong aja sampaikan pada mami dan yang lain jika aku lagi tidak enak badan dan gak bisa ikut ke acara pesta.”
“Baik non, bibi akan sampaikan sekarang. Bibi juga buatkan bubur ya?”
“Eh jangan bi.”
“Gak papa, bibi buatkan dulu.” Bi Inah dengan langkah tergesa-gesa segera keluar dari dalam kamar.
“Ais, kok malah begini sih.” Gumam Kayla.
Di lantai bawah Tamara yang sedang ngomel lantaran lama menunggu Kayla, pandangannya langsung teralihkan saat melihat bi Inah yang sedikit berlari menuruni anak tangga.
“Dimana Kayla, kenapa dia lama sekali?”
“Nyonya, non Kayla sedang demam, katanya dia gak bisa ikut.” Sahut bi Inah.
Mendengar itu Tamara memutar kedua matanya malas, “Halah, orang miskin itu pake acara sakit segala lagi!” gumam Tamara, “Pasti dia hanya beralasan saja, sudah biar saya yang memanggilnya.”
Dengan menahan rasa kesalnya Tamara bergegas pergi menuju kamar Kayla. Masuknya sang mertua yang tiba-tiba itu tidak membuat Kayla kaget karena dirinya sudah menebak hal ini akan terjadi.
“Enak banget ya masih tiduran begini begini disaat yang lain dari tadi sudah menunggu. Dasar tidak berguna!” sahut Tamara sambil berkacak pinggang.
“Aku lagi gak enak badan mam.”
“Halah!” Tamara menarik kasar selimut yang menutupi tubuh Kayla, “Sudah jangan banyak alasan segala, cepat ganti bajumu.” Tamara juga tidak segan-segan menarik kasar lengan Kayla agar segera bangun.
“Tapi mam…,”
“Gak usah tapi tapian, pokoknya kamu harus ikut. Cepat ganti pakaianmu!” tegas Tamara sebelum melangkah pergi.
Dengan pasrah Kayla pada akhirnya mau tidak mau harus ikut. Dirinya hanya bisa berharap jika nanti di acara pesta itu ia tidak dipermalukan oleh semua orang.
“Gimana mam, apa Kayla mau ikut?” tanya William.
Tamara menghempaskan bokongnya ke atas sofa, “Wanita miskin itu malah pake demam segala lagi, tapi mami sudah memaksanya dan dia mau ikut.”
“Baguslah kalau begitu, jadi nanti kita bisa menunjukan pada Darmawan dan keluarganya jika Alex memang benar telah menikah.” Wajah William tersenyum licik.
Tidak berselang lama terdengar suara langkah kaki yang membuat mereka bertiga serempak langsung sama-sama menoleh ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya mereka setelah melihat siapa yang kini sedang berjalan, hingga membuat mereka tanpa sadar langsung pada berdiri.
Kayla yang biasanya hanya selalu berpenampilan sederhana, kali ini tampak sangat berbeda. Kayla terlihat jauh lebih cantik dengan polesan make up tipis serta gaun biru muda yang melekat di tubuhnya. Rambutnya yang dibiarkan terurai kini sedikit berterbangan oleh hembusan angin.
“Apakah itu Kayla?” gumam Tamara. Saking tidak percayanya dengan apa yang dilihatnya, Tamara sampai mengucek-ngucek kedua matanya.
“Sepertinya iya, cantik sekali.” Jawab William tanpa sadar.
Alex sendiri sampai dibuat tertegun karena merasa terkesima dengan kecantikan Kayla, “Ternyata dia cantik juga!” batin Alex, sebelum kemudian berdesis, “Ck, apa yang telah aku katakan. Aku mengakui kecantikan gadis miskin ini? Yang benar saja.”
Kayla yang sudah tiba di dekat mereka, merasa heran dengan sikap kedua mertuanya yang terus menatapnya tanpa berkedip, hal itu juga membuat dirinya merasa sedikit malu.
“Ekhm!”
Deheman dari Alex itu langsung menyadarkan Tamara bersama William. Mereka juga sedikit terkejut saat menyadari jika Kayla sudah ada di dekatnya.
“Lama sekali! Sudah miskin nyusahin orang lain lagi. Sudah ayo kita berangkat sekarang, kalau sampai terlambat berarti gara-gara dia.” Ucap Tamara sambil menatap Kayla sinis.
Saat ditengah perjalanan, Kayla yang duduk di kursi belakang merasakan jika jantungnya kini berdebar kencang. Bukan karena sekarang ia duduk di samping suaminya, tetapi karena Kayla khawatir jika di pesta itu nantinya ia malah akan membuat semua orang malu. Kayla sebenarnya tidak begitu percaya diri sebab ia sadar jika statusnya hanyalah orang miskin.
Tamara yang duduk di kursi depan, menolehkan kepalanya ke belakang, “Heh, awas saja jika disana kamu sampai membuat keluarga kita malu! Kamu juga jangan mengatakan apapun terutama pernikahan kamu ini yang disebabkan pelunasan hutang ibumu.”
“Iya mam.” Jawab Kayla dengan kepala menunduk, menatap pada kedua tangannya yang kini sedang mempermainkan ujung gaunnya.
Tidak berselang lama mobil yang membawa mereka berempat itu telah tiba di depan salah satu rumah yang cukup besar. Dari dalam mobil Kayla memperhatikan begitu banyak orang-orang yang juga baru datang disana.
“Kayla, ayo cepat turun!”
Bentakan mami Tamara itu membuat Kayla tersentak dan buru-buru dirinya segera turun.
“Ayo cepat kita masuk. Alex, Kayla, ayah minta kalian harus seperti pasangan serasi karena bakal dilihat oleh banyak orang.” Titah William.
Satu tangan Alex langsung membuat setengah lingkaran di samping pinggangnya, “Pegangan.” Ucapnya sambil menatap Kayla dengan malas.
“Hah?” Kayla dibuat cengo untuk beberapa saat.
“Cepat.”
“Ah, iya.” Dengan ragu-ragu Kayla memeluk satu tangan Alex itu dan mereka pun mulai berjalan memasuki rumah.
“Lain kali saja ya, tan, soalnya aku lagi buru-buru sekali. Aku janji pasti akan mampir ke rumah tante kok!” tolak Olivia secara halus.“Yeah, jadi kamu gak bisa mampir ke rumah? sayang sekali… Tapi gak papa deh, asalkan kamu janji akan main ke rumah, akan tante tunggu loh. Soalnya banyak hal yang ingin tante tanyakan sama kamu,” Tamara tampak kecewa dengan penolakan itu namun dia masih tetap tersenyum.“Iya, tan, aku pasti akan mampir kok soalnya aku juga ingin bertemu dengan Alex!” jawab Olivia sambil terkekeh kecil, “Ya sudah kalau gitu aku pergi dulu ya tan,”Setelah itu Olivia melangkah pergi meninggalkan toko itu. Kayla yang dari tadi memperhatikan interaksi mereka berdua, sedikit merasa iri dengan sikap ibu mertuanya yang sangat berbeda jauh. Jika kepadanya mertuanya ini pasti akan bersikap kasar dan seolah tidak punya belas kasih, tapi berbeda pada wanita tadi yang sikapnya terlihat lemah lembut.Hal itu terbukti saat raut wajahnya kini langsung berubah masam setelah melihat k
“Kayla, nanti setelah ini kamu ikut saya!” ujar Tamara saat Kayla sedang menyiapkan sarapan untuk mereka semua.“Iya mam.” Jawab Kayla tanpa berani bertanya lagi karena takut jika nanti dirinya malah akan dimarahi.Setelah suami dan mertuanya laki-lakinya berangkat ke kantor, mami Tamara segera menyuruh dirinya untuk bersiap-siap. Kayla segera menuruti keinginan mertuanya itu, sambil mengganti pakaian di dalam benaknya ia bertanya-tanya kemana mami nya itu akan mengajaknya pergi.Kayla yang memang tidak terbiasa berdandan berlebih, ia hanya memakai make up seadanya seperti bedak dan lipstik saja. Namun walau begitu Kayla tampak terlihat cantik dan itu dipuji oleh bi Inah yang kebetulan berpapasan di anak tangga.“Ah bibi terlalu berlebihan, aku gak cantik kok.” Balas Kayla yang sebenarnya ia merasa senang dengan pujian itu.“Bibi heran sama tuan Alex kok dia gak melihat kamu ya, padahal kamu itu cantik loh. Tapi bibi yakin lama kelamaan juga pasti tuan Alex akan terbuka juga matanya d
“Bagus! Darimana saja kamu keluyuran sampai lupa pulang, sudah berasa jadi nyonya sekarang?”Baru juga Kayla tiba di rumah ia langsung disambut omelan dari mami mertuanya.“Aku tidak berasa jadi nyonya mam, aku juga keluar hanya sebentar ketemu temanku aja kok.” Jawab Kayla, mencoba menjelaskan.Tamara memutar matanya dengan malas, “Alasan, bilang aja kamu itu ingin jalan-jalan sambil memamerkan jika kamu adalah menantu saya pada semua orang diluar sana biar mereka pada tahu dan menganggap jika kamu itu orang hebat, iya kan?”“Aku tidak begitu mam. Jangankan memamerkan pada semua orang, temanku sendiri saja tidak aku beritahu.”“Baguslah, memang kamu itu tidak cocok menjadi menantu saya. Kamu hanya beruntung saja karena ibumu memiliki hutang hingga kamu bisa menikah dan tinggal di rumah saya ini. Orang miskin sepertimu itu tidak akan pernah bisa menjadi menantu saya untuk selamanya, ingat itu.”Kayla hanya menanggapinya dengan tersenyum. Sambil melangkah pergi menuju kamarnya Kayla me
“Kayla bagaimana kabar kamu? Sudah lama sekali kita gak pernah ketemu,” tanya wanita bernama Serlin sambil memeluk Kayla dengan begitu erat.“Kabar aku baik, kabar kamu sendiri gimana? Iya yah, terakhir kita ketemu itu saat lulus sekolah aja.” Balas Kayla.Wanita bernama Serlin itu tersenyum dan langsung mengajak Kayla untuk duduk. Kini mereka berdua sedang berada di sebuah taman, duduk di kursi besi yang ukurannya pas saja untuk mereka berdua tempati.“Kayla, aku kangen banget tau selama ini sama kamu. Di seberang aku selalu mencoba mencari cara untuk mendapatkan nomor kamu tapi susah karena semua teman-teman sekolah kita katanya gak ada satupun yang mempunyai nomor kamu.”Kayla terkekeh mendengar pengakuan Serlin. Memang sudah setahun ke belakang dirinya mengganti ponsel beserta nomornya sehingga wajar saja teman-teman sekolahnya tidak ada satupun yang memiliki nomornya.“Tapi kemarin kamu bisa menghubungiku itu dapat nomornya dari mana?” tanya Kayla yang teringat jika kemarin ada n
Pagi ini Kayla seperti biasa membantu bi Inah menyiapkan sarapan, dan setelah itu dirinya pergi menuju kamar Alex untuk membangunkannya.Tok! Tok! Tok!Beberapa kali Kayla mengetuk pintu kamar itu, “Mas, bangun. Sarapan dulu.”Tidak berselang lama pintu kamar pun terbuka. Alex menatap Kayla tajam lantaran merasa kesal tidurnya harus terganggu. Sedangkan Kayla yang ditatap seperti itu langsung menundukan kepala.“Mas, sarapan dulu. Mami dan ayah juga sudah menunggu di meja makan!”Tanpa mengucapkan sepatah katapun Alex langsung menutup pintu kamarnya dengan lumayan kencang.Brak!Kayla sampai dibuat tercekat dan langsung mengelus-elus dadanya yang kini sudah berdebar beberapa kali lipat, “Apa aku salah?” ucapnya pada dirinya sendiri.Baru saja berbalik badan untuk melangkah pergi, kedua telinganya samar-samar Kayla mendengar suara rincik air. Kayla langsung menebak jika suaminya pasti kini sedang mandi.“Seharusnya sebagai istri aku harus menyiapkan semua keperluan suamiku. Apa sekaran
Astri yang sedang duduk santai sambil menikmati mie instan di ruang tengah rumah sederhana peninggalan alm suaminya, dikejutkan dengan kedatangan Kayla kesana.Kedua mata Astri seketika melotot hingga mie yang sedang dikunyah di dalam mulutnya itu kembali ia muntahkan, “Kayla, apa-apaan kamu. Kenapa kamu datang kesini?” Astri langsung berdiri dari duduknya.Sambil menahan tangisnya Kayla berjalan mendekat dan bersimpuh di hadapan ibunya, “Bu, aku gak mau menikah dengan keluarga itu, mereka itu pada jahat bu, mereka selalu menghina dan merendahkan aku!” kata Kayla dengan suara lirih penuh permohonan.Mendengar itu Astri bukannya merasa iba dia malah menjambak rambut Kayla dengan kuat, hingga membuat si empunya langsung mengerang kesakitan.“Bangun.” Bentak Astri, seraya menarik rambut Kayla agar mau berdiri.“Bu, sakit bu…” air mata yang sedari tadi ia tahan kini tumpah juga. Niat hati pulang ke rumah agar bisa mendapatkan tempat aman, tapi nyatanya malah sama saja.“Kurang ajar. Kamu







